Mei 13, 2016

Saat Hidayah Menyapa

Dalam keseharian, kita sering mendengar kata “hidayah”. Nyaris seluruh muballig, selalu mengingatkan kita akan urgensi hidayah melalui mimbar-mimbar mereka. “Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah kepada kita semua”, begitu doa yang biasa dipanjatkan. Atau dalam kesempatan lain, kita kerap mendapati, ketika seorang muslimah yang belum berjilbab ditanya, “Kapan mau berjilbab?”, sebagian akan berkata, “Nanti, setelah dapat hidayah”. Atau, ketika sebagian saudara muslim (pria) kita ditanya, “Mengapa tidak melaksanakan shalat jama’ah di masjid secara rutin?”.

Tahukah kita, apa dan bagaimana hakikat hidayah itu? Benarkah kita telah memohon hidayah itu dengan sebenar-benar permintaan? Apakah hidayah akan turun begitu saja dan cukup dengan menunggunya saja tanpa usaha? Kapankah saat dimana hidayah itu akan turun menyapa kita? Untuk menjawabnya, marilah kita simak beberapa penjelasan berikut. 


Makna dan Jenis Hidayah
Secara bahasa “hidayah” berarti ar-rasyaad (bimbingan) dan ad-dalaalah (dalil atau petunjuk) [Lihat Kitab Al-Qaamuushul Muhiith, hal. 1733]. Adapun secara syar’i atau istilah, Ibnul Qayyim rahimahullah [dalam Kitab Bada-i’ul Fawa’id (2/271-273)] mendefinisikan hidayah dengan membagi hidayah tersebut menjadi empat macam :
Pertama, hidayah al-aammah, yaitu hidayah yang bersifat umum dan diberikan oleh Allah I kepada semua makhluk. Allah I berfirman, “Musa berkata : “Rabb kami (Allah Taala) ialah (Rabb) yang telah memberikan kepada setiap makhluk bentuk kejadiannya, kemudian memberinya hidayah” (QS. Thaahaa: 50).

Inilah hidayah (petunjuk) yang Allah I berikan kepada semua makhluk dalam hal yang berhubungan dengan kelangsungan dan kemaslahatan hidup mereka dalam urusan-urusan dunia yaitu hidayah dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat dan menjauhi hal-hal yang membinasakan untuk kelangsungan hidup di dunia, seperti seseorang yang akan mencari makan ketika ia lapar dan sebagainya.

Kedua, hidayah al-irsyaad, yaitu hidayah yang berupa penjelasan-penjelasan dan keterangan-keterangan tentang jalan yang baik dan jalan yang buruk, jalan keselamatan dan jalan kebinasaan. Hidayah jenis inilah yang mampu dilakukan oleh manusia, yaitu dengan memberikan petunjuk, bimbingan dan pedoman melalui dakwah atau seruan kepada manusia ke jalan Allah I dan memperingatkan jalan yang salah, baik melalui lisan, tulisan, media dan sebagainya. Hidayah inilah yang dibawa oleh para Nabi r dan penyeru kebenaran. Allah I berfirman, “Adapun kaum Tsamud, mereka telah Kami beri petunjuk, tetapi mereka lebih menyukai kebutaan (kesesatan) daripada petunjuk” (QS.  Fushshilat: 17).

Meskipun hidayah jenis ini berisi petunjuk dan bimbingan, namun hidayah jenis ini belumlah menjadi hidayah yang sempurna (yaitu hidayah jenis berikutnya) yang mampu melahirkan amalan dan ketundukan kepada petunjuk Allah I. Meskipun tentu saja, hidayah ini merupakan sebab yang besar untuk membuka hati manusia agar dapat memperoleh hidayah sempurna tersebut.

Artinya, hidayah al-irsyad yang diterima oleh seseorang tidak serta merta melahirkan hidayah untuk mengamalkannya. Sebagaimana sebagian umat para Nabi alaihissalam yang masih belum mampu melaksanakan agama mereka dengan benar, meskipun hidayah al-irsyaad telah mereka dapatkan dari para Nabi. Contohnya di sekitar kita, berapa banyak yang belum melaksanakan kewajiban shalat, padahal berbagai petunjuk dan bimbingan telah didengarkan?

Ketiga, hidayah at-taufiiq, yaitu hidayah berupa ilham dalam hati manusia untuk mengikuti jalan yang benar dan kelapangan dada untuk menerima kebenaran serta memilihnya. Inilah hidayah sempurna yang akan menjadikan orang yang meraihnya akan mengikuti petunjuk Allah Ta’ala. Untuk memperoleh hidayah jenis ini, hanya Allah I yang berkuasa dan berkehendak untuk menganugerahkannya kepada hamba-hamba-Nya yang Ia pilih. Allah I berfirman, “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi hidayah (taufik) kepada siapa yang dikehendaki-Nya” (QS. Faathir: 8).

Bahkan, seorang Nabi pun tidak mampu menganugerahkan hidayah jenis ini kepada seseorang yang menjadi objek dakwah dan seruan mereka melalui hidayah al-irsyaad di atas. Allah I menyebutkan tentang Nabi-Nya r, “Jika engkau (wahai Muhammad) sangat mengharapkan agar mereka mendapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya dan mereka tidak mempunyai penolong” (QS an-Nahl: 37).

Keempat, puncak hidayah, yaitu hidayah kepada Surga dan Neraka ketika penghuninya digiring kepadanya. Allah I berfirman tentang ucapan penghuni Surga ketika measuki surga, “Segala puji bagi Allah yang telah memberi hidayah kami ke (Surga) ini, dan kami tidak akan mendapat hidayah (ke Surga) kalau sekiranya Allah tidak menunjukkan kami (QS. al-A’raaf: 43).

Dari keempat hidayah di atas, jelas bagi kita bahwa hidayah yang senantiasa kita harapkan dalam kehidupan ini adalah hidayah jenis ketiga yaitu hidayah at-taufiiq, dimana salah satu jalan besar untuk mendapatkannya yaitu dengan meraih hidayah jenis kedua, hidayah al-irsyaad. Sedangkan untuk kehidupan akhirat, tentu saja kita mengharapkan puncak hidayah di surga kelak, dimana jalannya adalah dengan rahmat Allah I yang akan diraih melalui amal shalih yang lahir dari hidayah at-taufiiq itu sendiri.
   
Berdoa Mendapatkan Hidayah At-Taufiiq
Jika demikian halnya, bahwa inti dan hakikat hidayah adalah taufik dari Allah I semata sebagaimana penjelasan di atas, maka apakah sebab utama yang dapat menurunkan hidayah at-taufiiq tersebut? Jawabannya adalah doa. Ya, berdoa dan memohon hidayah tersebut kepada Allah I merupakan sebab yang paling utama untuk mendapatkannya.

Dalam surah Al-Fatihah, Allah I yang Maha Sempurna rahmat dan kebaikannya, memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk selalu berdoa memohon hidayah taufik kepada-Nya, dengan berdoa, “Ihdinaa-sh-shiraatal-mustaqiim” yang artinya “Tunjukilah kepada kami hidayah ke jalan yang lurus)”. Syaikh Abdur Rahman as-Sa’di rahimahullah berkata, “Doa (dalam ayat ini) termasuk doa yang paling menyeluruh dan bermanfaat bagi manusia, oleh karena itu, wajib bagi setiap muslim untuk berdoa kepada-Nya dengan doa ini di setiap rakaat dalam shalatnya, karena kebutuhannya yang sangat besar terhadap hal tersebut” [Lihat Taisiirul Kariimir Rahmaan, hal. 39].

Dalam sebuah hadits qudsi, Allah I berfirman, “Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua tersesat kecuali orang yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku niscaya Aku akan berikan petunjuk kepada kalian[HR. Muslim].

Sebaliknya, keengganan atau ketidak-sungguhan untuk berdoa kepada Allah I untuk memohon hidayah-Nya merupakan sebab besar yang menjadikan seorang manusia terhalangi dari hidayah taufik-Nya. Bahkan, Allah I sangat murka terhadap orang yang enggan berdoa dan memohon kepada-Nya, sebagaimana sabda Rasulullah r, “Sesungguhnya barangsiapa yang enggan untuk memohon kepada Allah maka Dia akan murka kepadanya” [HR. Tirmidzi dan Hakim. Dinyatakan hasan (baik) oleh Syaikh al-Albani].

Tidak Bersandar Kepada Diri Sendiri
Terkadang, kita terlalu mengandalkan kemampuan diri sendiri, khususnya dalam melakukan berbagai bentuk amalan. Ketika kita mampu berpuasa penuh di bulan Ramadhan, mungkin kita merasa bahwa kita memang mampu untuk itu. Ketika kita mampu untuk rutin shalat berjama’ah di masjid, mungkin kita merasa bahwa kita memang mampu untuk itu. Ketika kita mampu meninggalkan khamr atau minuman keras, mungkin kita merasa bahwa kita memang mampu untuk itu. Semuanya disandarkan pada kemampuan diri kita sendiri semata. Padahal kita lupa bahwa segala bentuk kebaikan yang kita lakukan dan keburukan yang kita tinggalkan sesungguhnya adalah taufik dan kemudahan dari Allah I.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Kita yakin bahwa semua kebaikan (amal shalih yang kita lakukan) adalah termasuk nikmat Allah (karena Dia-lah yang memberi kemudahan kepada kita untuk bisa melakukannya), sehingga kita akan selalu mensyukuri nikmat tersebut dan bersungguh-sungguh merendahkan diri serta memohon kepada Allah agar Dia tidak memutuskan nikmat tersebut dari diri kita. Sebagaimana (kita yakin) bahwa semua keburukan (amal jelek yang kita lakukan) adalah karena hukuman dan berpalingnya Allah dari kita, sehingga kita akan memohon dengan sungguh-sungguh kepada Allah agar menghindarkan diri kita dari semua perbuatan buruk tersebut, dan agar Dia tidak menyandarkan (urusan) kita dalam melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan kepada diri kita sendiri” [Lihat Kitab Al Fawa-id, hal. 33].

Inilah yang terungkap dalam doa yang diucapkan oleh Rasulullah r, “(Ya Allah), jadikanlah baik semua urusanku dan janganlah Engkau membiarkan diriku bersandar kepada diriku sendiri (meskipun cuma) sekejap mata” [HR. an-Nasa-i dan al-Hakim. Dinyatakan hasan (baik) oleh Syaikh al-Albani)].

Oleh karena inilah, di antara kunci untuk mendapatkan hidayah at-taufiiq dari-Nya adalah dengan selalu bersandar dan bergantung kepada Allah I dalam meraihnya dan bukan bersandar kepada kemampuan diri sendiri. Ketika kita mampu untuk berbuat baik, yakinilah bahwa Allah I lah yang memudahkannya bagi kita. Ketika kita mampu meninggalkan maksiat kepada-Nya, yakinilah bahwa Allah I lah yang memudahkannya untuk kita. Jangan pernah menyandarkan semuanya kepada diri sendiri. 

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Jika semua kebaikan asalnya (dengan) taufik yang itu adanya di tangan Allah (semata) dan bukan di tangan manusia, maka kunci (untuk membuka pintu) taufik adalah (selalu) berdoa, menampakkan rasa butuh, sungguh-sungguh dalam bersandar, (selalu) berharap dan takut (kepada-Nya)” [Lihat Kitab Al Fawa-id, hal. 33].

Berlapang Dada
Bisa jadi, ketika kita belum mampu mengamalkan berbagai aturan dalam agama ini karena hidayah at-taufiiq itu belum kita dapatkan, hal itu disebabkan karena kita tidak atau belum mampu melapangkan hati untuk menerima Islam sepenuhnya dan meyakininya sebagai kebutuhan manusia lahir dan batin yang sempurna. Allah I berfirman, “Barangsiapa yang Allah kehendaki, untuk Allah berikan petunjuk kepadanya, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (menerima agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman” (QS. al-An’aam: 125).

Ayat ini menunjukkan bahwa tanda kebaikan dan petunjuk Allah Ta’ala bagi seorang hamba adalah dengan Allah Ta’ala menjadikan dadanya lapang dan lega menerima Islam, maka hatinya akan diterangi cahaya iman, hidup dengan sinar keyakinan, sehingga jiwanya akan tentram, hatinya akan mencintai amal shalih sehingga jiwanya akan senang mengamalkan ketaatan, bahkan merasakan kelezatannya dan tidak merasakannya sebagai beban yang memberatkan [Lihat Kitab Taisiirul Kariimir Rahmaan, hal. 272].

Jika kita seorang muslimah yang belum mampu mengenakan pakaian atau busana muslimah yang semestinya dikenakan sesuai syariat, cobalah untuk melapangkan hati untuk menerima bahwa Islam memang telah mengaturnya. Jika kita seorang muslim yang belum mampu untuk menunaikan kewajiban sebagaimana yang diatur oleh syariat, cobalah untuk melapangkan dada untuk memahami bagaimana hikmah yang agung ketika syariat ini menetapkannya. Dengan begitu, mudah-mudahan Allah I dengan kemurahan-Nya akan mencurah hidayah at-taufiiq kepada mereka sehingga mampu untuk mengamalkan dan melaksanakan syariat sesuai kehendak-Nya.

Bersungguh-sungguhlah
Jangan lupa, bahwa hidayah yang sempurna hanya diperoleh dengan kesungguhan dalam mengambil sebab-sebab hidayah itu datang. Allah I berfirman, “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS. al-‘Ankabuut: 69).

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata, “(Dalam ayat ini) Allah I menggandengkan hidayah (dari-Nya) dengan perjuangan dan kesungguhan (manusia). Maka orang yang paling sempurna (mendapatkan) hidayah (dari Allah Ta’ala) adalah orang yang paling besar perjuangan dan kesungguhannya” [Lihat Kitab Al-Fawaa’id, hal. 59]..

Penutup
Oleh karena itu, dapat kita pahami bahwa hidayah sesungguhnya yang kita minta kepada Allah I adalah hidayah ­at-taufiq. Adapun, pernyataan-pernyataan yang mengkambing-hitamkan hidayah dari sebagian kita yang belum mampu melaksanakan syariat ini secara sempurna seperti contoh-contoh di bagian pendahuluan di atas adalah pernyataan yang tidak sepenuhnya benar dan menjadi argumentasi yang rapuh.

Jika yang mereka maksudkan adalah hidayah dalam bentuk hidayah al-irsyaad, maka tentu saja hal tersebut adalah keliru karena sebagian besar di antara mereka hampir pasti telah mendapatkannya dari berbagai aturan, petunjuk dan bimbingan syariat melalui para muballig, media dan corong-corong dakwah lainnya. Namun jika yang mereka maksudkan adalah hidayah dalam bentuk hidayah at-taufiiq, maka mungkin saja benar, karena memang hidayah at-taufiiq adalah anugerah dari Allah I semata, namun bisa dicari, diusahakan dan diupayakan.

Wallahu a’lam.  

.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...