Dalam keseharian,
kita sering mendengar kata “hidayah”. Nyaris seluruh muballig, selalu
mengingatkan kita akan urgensi hidayah melalui mimbar-mimbar mereka. “Semoga
Allah senantiasa memberikan hidayah kepada kita semua”, begitu doa yang biasa
dipanjatkan. Atau dalam kesempatan lain, kita kerap mendapati, ketika seorang
muslimah yang belum berjilbab ditanya, “Kapan mau berjilbab?”, sebagian akan
berkata, “Nanti, setelah dapat hidayah”. Atau, ketika sebagian saudara muslim
(pria) kita ditanya, “Mengapa tidak melaksanakan shalat jama’ah di masjid
secara rutin?”.
Tahukah kita, apa dan
bagaimana hakikat hidayah itu? Benarkah kita telah memohon hidayah itu dengan
sebenar-benar permintaan? Apakah hidayah akan turun begitu saja dan cukup
dengan menunggunya saja tanpa usaha? Kapankah saat dimana hidayah itu akan
turun menyapa kita? Untuk menjawabnya, marilah kita simak beberapa penjelasan
berikut.
Makna dan Jenis Hidayah
Secara bahasa
“hidayah” berarti ar-rasyaad (bimbingan)
dan ad-dalaalah (dalil atau petunjuk)
[Lihat Kitab Al-Qaamuushul Muhiith, hal.
1733]. Adapun secara syar’i atau istilah,
Ibnul Qayyim rahimahullah [dalam Kitab Bada-i’ul Fawa’id (2/271-273)] mendefinisikan hidayah dengan membagi hidayah tersebut
menjadi empat macam :
Pertama, hidayah al-aammah,
yaitu hidayah yang bersifat umum dan diberikan oleh Allah I kepada semua makhluk. Allah I berfirman, “Musa berkata : “Rabb kami (Allah Taala)
ialah (Rabb) yang telah memberikan kepada setiap makhluk bentuk kejadiannya,
kemudian memberinya hidayah” (QS.
Thaahaa: 50).
Inilah hidayah
(petunjuk) yang Allah I berikan kepada semua makhluk dalam hal yang
berhubungan dengan kelangsungan dan kemaslahatan hidup mereka dalam
urusan-urusan dunia yaitu hidayah dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat dan
menjauhi hal-hal yang membinasakan untuk kelangsungan hidup di dunia, seperti
seseorang yang akan mencari makan ketika ia lapar dan sebagainya.
Kedua, hidayah al-irsyaad,
yaitu hidayah yang berupa penjelasan-penjelasan dan keterangan-keterangan
tentang jalan yang baik dan jalan yang buruk, jalan keselamatan dan jalan
kebinasaan. Hidayah jenis inilah yang mampu dilakukan oleh manusia, yaitu
dengan memberikan petunjuk, bimbingan dan pedoman melalui dakwah atau seruan
kepada manusia ke jalan Allah I dan memperingatkan
jalan yang salah, baik melalui lisan, tulisan, media dan sebagainya. Hidayah
inilah yang dibawa oleh para Nabi r dan penyeru
kebenaran. Allah I berfirman, “Adapun
kaum Tsamud, mereka telah Kami beri petunjuk, tetapi mereka lebih menyukai
kebutaan (kesesatan) daripada petunjuk” (QS.
Fushshilat: 17).
Meskipun hidayah
jenis ini berisi petunjuk dan bimbingan, namun hidayah jenis ini belumlah
menjadi hidayah yang sempurna (yaitu hidayah jenis berikutnya) yang mampu
melahirkan amalan dan ketundukan kepada petunjuk Allah I. Meskipun tentu saja, hidayah ini merupakan sebab yang
besar untuk membuka hati manusia agar dapat memperoleh hidayah sempurna
tersebut.
Artinya, hidayah al-irsyad yang diterima oleh seseorang
tidak serta merta melahirkan hidayah untuk mengamalkannya. Sebagaimana sebagian
umat para Nabi alaihissalam yang
masih belum mampu melaksanakan agama mereka dengan benar, meskipun hidayah al-irsyaad telah mereka dapatkan dari
para Nabi. Contohnya di sekitar kita, berapa banyak yang belum melaksanakan
kewajiban shalat, padahal berbagai petunjuk dan bimbingan telah didengarkan?
Ketiga, hidayah at-taufiiq,
yaitu hidayah berupa ilham dalam hati manusia untuk mengikuti jalan yang benar
dan kelapangan dada untuk menerima kebenaran serta memilihnya. Inilah hidayah
sempurna yang akan menjadikan orang yang meraihnya akan mengikuti petunjuk
Allah Ta’ala. Untuk memperoleh hidayah jenis ini, hanya Allah I yang berkuasa dan berkehendak untuk menganugerahkannya
kepada hamba-hamba-Nya yang Ia pilih. Allah I berfirman, “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang
dikehendaki-Nya dan memberi hidayah (taufik) kepada siapa yang dikehendaki-Nya”
(QS. Faathir: 8).
Bahkan, seorang Nabi
pun tidak mampu menganugerahkan hidayah jenis ini kepada seseorang yang menjadi
objek dakwah dan seruan mereka melalui hidayah al-irsyaad di atas. Allah I
menyebutkan tentang Nabi-Nya r, “Jika engkau (wahai Muhammad) sangat mengharapkan agar mereka mendapat
petunjuk, maka sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang yang
disesatkan-Nya dan mereka tidak mempunyai penolong” (QS an-Nahl: 37).
Keempat, puncak hidayah, yaitu hidayah kepada Surga dan Neraka
ketika penghuninya digiring kepadanya. Allah I berfirman
tentang ucapan penghuni Surga ketika measuki surga, “Segala puji bagi Allah yang telah memberi hidayah kami ke (Surga) ini,
dan kami tidak akan mendapat hidayah (ke Surga) kalau sekiranya Allah tidak
menunjukkan kami ” (QS. al-A’raaf:
43).
Dari keempat hidayah
di atas, jelas bagi kita bahwa hidayah yang senantiasa kita harapkan dalam
kehidupan ini adalah hidayah jenis ketiga yaitu hidayah at-taufiiq, dimana salah satu jalan besar untuk mendapatkannya
yaitu dengan meraih hidayah jenis kedua, hidayah al-irsyaad. Sedangkan untuk kehidupan akhirat, tentu saja kita
mengharapkan puncak hidayah di surga kelak, dimana jalannya adalah dengan
rahmat Allah I yang akan diraih melalui amal shalih yang lahir dari
hidayah at-taufiiq itu sendiri.
Berdoa Mendapatkan Hidayah At-Taufiiq
Jika demikian halnya,
bahwa inti dan hakikat hidayah adalah taufik dari Allah I semata sebagaimana penjelasan di atas, maka apakah
sebab utama yang dapat menurunkan hidayah at-taufiiq
tersebut? Jawabannya adalah doa. Ya, berdoa dan memohon hidayah tersebut kepada
Allah I merupakan sebab yang paling utama untuk
mendapatkannya.
Dalam surah
Al-Fatihah, Allah I yang Maha Sempurna rahmat dan kebaikannya,
memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk selalu berdoa memohon hidayah taufik
kepada-Nya, dengan berdoa, “Ihdinaa-sh-shiraatal-mustaqiim”
yang artinya “Tunjukilah kepada kami
hidayah ke jalan yang lurus)”. Syaikh Abdur Rahman as-Sa’di rahimahullah berkata, “Doa (dalam ayat
ini) termasuk doa yang paling menyeluruh dan bermanfaat bagi manusia, oleh
karena itu, wajib bagi setiap muslim untuk berdoa kepada-Nya dengan doa ini di
setiap rakaat dalam shalatnya, karena kebutuhannya yang sangat besar terhadap
hal tersebut” [Lihat Taisiirul Kariimir
Rahmaan, hal. 39].
Dalam sebuah hadits qudsi,
Allah I berfirman, “Wahai
hamba-hamba-Ku, kalian semua tersesat kecuali orang yang Aku beri petunjuk,
maka mintalah petunjuk kepada-Ku niscaya Aku akan berikan petunjuk kepada
kalian” [HR. Muslim].
Sebaliknya,
keengganan atau ketidak-sungguhan untuk berdoa kepada Allah I untuk memohon hidayah-Nya merupakan sebab besar yang
menjadikan seorang manusia terhalangi dari hidayah taufik-Nya. Bahkan, Allah I sangat murka terhadap orang yang enggan berdoa dan
memohon kepada-Nya, sebagaimana sabda Rasulullah r, “Sesungguhnya barangsiapa yang enggan untuk
memohon kepada Allah maka Dia akan murka kepadanya” [HR. Tirmidzi dan Hakim. Dinyatakan hasan (baik) oleh
Syaikh al-Albani].
Tidak Bersandar Kepada Diri Sendiri
Terkadang, kita
terlalu mengandalkan kemampuan diri sendiri, khususnya dalam melakukan berbagai
bentuk amalan. Ketika kita mampu berpuasa penuh di bulan Ramadhan, mungkin kita
merasa bahwa kita memang mampu untuk itu. Ketika kita mampu untuk rutin shalat
berjama’ah di masjid, mungkin kita merasa bahwa kita memang mampu untuk itu.
Ketika kita mampu meninggalkan khamr
atau minuman keras, mungkin kita merasa bahwa kita memang mampu untuk itu.
Semuanya disandarkan pada kemampuan diri kita sendiri semata. Padahal kita lupa
bahwa segala bentuk kebaikan yang kita lakukan dan keburukan yang kita
tinggalkan sesungguhnya adalah taufik dan kemudahan dari Allah I.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Kita yakin bahwa
semua kebaikan (amal shalih yang kita lakukan) adalah termasuk nikmat Allah
(karena Dia-lah yang memberi kemudahan kepada kita untuk bisa melakukannya),
sehingga kita akan selalu mensyukuri nikmat tersebut dan bersungguh-sungguh
merendahkan diri serta memohon kepada Allah agar Dia tidak memutuskan nikmat
tersebut dari diri kita. Sebagaimana (kita yakin) bahwa semua keburukan (amal
jelek yang kita lakukan) adalah karena hukuman dan berpalingnya Allah dari
kita, sehingga kita akan memohon dengan sungguh-sungguh kepada Allah agar
menghindarkan diri kita dari semua perbuatan buruk tersebut, dan agar Dia tidak
menyandarkan (urusan) kita dalam melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan
kepada diri kita sendiri” [Lihat Kitab Al
Fawa-id, hal. 33].
Inilah yang terungkap
dalam doa yang diucapkan oleh Rasulullah r, “(Ya Allah), jadikanlah baik semua urusanku
dan janganlah Engkau membiarkan diriku bersandar kepada diriku sendiri
(meskipun cuma) sekejap mata” [HR.
an-Nasa-i dan al-Hakim. Dinyatakan hasan (baik) oleh Syaikh al-Albani)].
Oleh karena inilah,
di antara kunci untuk mendapatkan hidayah at-taufiiq
dari-Nya adalah dengan selalu bersandar dan bergantung kepada Allah I dalam meraihnya dan bukan bersandar kepada kemampuan
diri sendiri. Ketika kita mampu untuk berbuat baik, yakinilah bahwa Allah I lah yang memudahkannya bagi kita. Ketika kita mampu
meninggalkan maksiat kepada-Nya, yakinilah bahwa Allah I lah yang memudahkannya untuk kita. Jangan pernah
menyandarkan semuanya kepada diri sendiri.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Jika semua
kebaikan asalnya (dengan) taufik yang itu adanya di tangan Allah (semata) dan
bukan di tangan manusia, maka kunci (untuk membuka pintu) taufik adalah
(selalu) berdoa, menampakkan rasa butuh, sungguh-sungguh dalam bersandar,
(selalu) berharap dan takut (kepada-Nya)” [Lihat
Kitab Al Fawa-id, hal. 33].
Berlapang Dada
Bisa jadi, ketika
kita belum mampu mengamalkan berbagai aturan dalam agama ini karena hidayah at-taufiiq itu belum kita dapatkan, hal
itu disebabkan karena kita tidak atau belum mampu melapangkan hati untuk menerima
Islam sepenuhnya dan meyakininya sebagai kebutuhan manusia lahir dan batin yang
sempurna. Allah I berfirman, “Barangsiapa
yang Allah kehendaki, untuk Allah berikan petunjuk kepadanya, niscaya Dia
melapangkan dadanya untuk (menerima agama) Islam. Dan barangsiapa yang
dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi
sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan
siksa kepada orang-orang yang tidak beriman” (QS. al-An’aam: 125).
Ayat ini menunjukkan
bahwa tanda kebaikan dan petunjuk Allah Ta’ala bagi seorang hamba adalah dengan
Allah Ta’ala menjadikan dadanya lapang dan lega menerima Islam, maka hatinya
akan diterangi cahaya iman, hidup dengan sinar keyakinan, sehingga jiwanya akan
tentram, hatinya akan mencintai amal shalih sehingga jiwanya akan senang
mengamalkan ketaatan, bahkan merasakan kelezatannya dan tidak merasakannya
sebagai beban yang memberatkan [Lihat
Kitab Taisiirul Kariimir Rahmaan, hal. 272].
Jika kita seorang
muslimah yang belum mampu mengenakan pakaian atau busana muslimah yang
semestinya dikenakan sesuai syariat, cobalah untuk melapangkan hati untuk
menerima bahwa Islam memang telah mengaturnya. Jika kita seorang muslim yang
belum mampu untuk menunaikan kewajiban sebagaimana yang diatur oleh syariat,
cobalah untuk melapangkan dada untuk memahami bagaimana hikmah yang agung
ketika syariat ini menetapkannya. Dengan begitu, mudah-mudahan Allah I dengan kemurahan-Nya akan mencurah hidayah at-taufiiq kepada mereka sehingga mampu
untuk mengamalkan dan melaksanakan syariat sesuai kehendak-Nya.
Bersungguh-sungguhlah
Jangan lupa, bahwa
hidayah yang sempurna hanya diperoleh dengan kesungguhan dalam mengambil
sebab-sebab hidayah itu datang. Allah I berfirman, “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh
untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka
jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang
berbuat kebaikan” (QS. al-‘Ankabuut:
69).
Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah
rahimahullah berkata, “(Dalam ayat
ini) Allah I menggandengkan hidayah (dari-Nya) dengan perjuangan
dan kesungguhan (manusia). Maka orang yang paling sempurna (mendapatkan)
hidayah (dari Allah Ta’ala) adalah orang yang paling besar perjuangan dan
kesungguhannya” [Lihat Kitab Al-Fawaa’id,
hal. 59]..
Penutup
Oleh karena itu,
dapat kita pahami bahwa hidayah sesungguhnya yang kita minta kepada Allah I adalah hidayah at-taufiq.
Adapun, pernyataan-pernyataan yang mengkambing-hitamkan hidayah dari sebagian
kita yang belum mampu melaksanakan syariat ini secara sempurna seperti
contoh-contoh di bagian pendahuluan di atas adalah pernyataan yang tidak
sepenuhnya benar dan menjadi argumentasi yang rapuh.
Jika yang mereka
maksudkan adalah hidayah dalam bentuk hidayah al-irsyaad, maka tentu saja hal tersebut adalah keliru karena
sebagian besar di antara mereka hampir pasti telah mendapatkannya dari berbagai
aturan, petunjuk dan bimbingan syariat melalui para muballig, media dan
corong-corong dakwah lainnya. Namun jika yang mereka maksudkan adalah hidayah
dalam bentuk hidayah at-taufiiq, maka
mungkin saja benar, karena memang hidayah at-taufiiq
adalah anugerah dari Allah I semata, namun bisa
dicari, diusahakan dan diupayakan.
Wallahu a’lam.
.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar