September 24, 2016

Berbakti Kepada Orangtua

Kedua orangtua adalah manusia yang paling berjasa dan utama bagi diri seseorang. Allah I  telah memerintahkan dalam berbagai ayatNya di dalam Al-Qur'an agar kita berbakti kepada mereka.

Dalam beberapa ayatNya, Allah I menyebutkan perintah tersebut beriringan dengan pentauhidan-Nya. Seakan-akan Allah I berpesan kepada kita bahwa kedudukan mereka adalah yang kedua setelah kita mentauhidkanNya. Setelah hak Allah I terpenuhi, maka hak terbesar setelahnya adalah hak kedua orangtua kita yang wajib untuk ditunaikan, baik ketika keduanya masih hidup atau telah wafat.

Bahkan, keridhaan mereka adalah penentu keridhaan Rabb kita, Allah I. Rasulullah r bersabda, “Keridhaan Rabb (Allah) ada pada keridhaan orang tua dan kemurkaan Rabb (Allah) ada pada kemurkaan orang tua” (HR. Tirmidzi. Lihat Silsilah Al-Hadits Ash-Shahiihah No. 516). Dan kedurhakaan kepada mereka adalah di antara dosa yang paling besar. Rasulullah r bersabda, “Maukah aku kabarkan kepada kalian mengenai dosa-dosa besar yang paling besar? Beliau r bertanya sampai 3 kali. Para sahabat berkata, “Tentu, ya, Rasulullah”. Rasulullah r bersabda, “Syirik kepada Allah dan durhaka kepada orangtua” (HR. Bukhari dan Muslim).
Berikut ini kami tuliskan beberapa poin terkait masalah tersebut. Selamat membaca. ****


Hak Orangtua Saat Hidup

Di antara hak orangtua ketika masih hidup adalah :

Pertama, orangtua berhak untuk ditaati selama perintahnya tidak dalam rangka tidak mendurhakai atau mempesekutukan Allah I. Allah I berfirman, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya” (QS. Luqman: 15).

Rasululah r bersabda, “Tidak ada ketaatan untuk mendurhakai Allah. Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam melakukan kebaikan” (HR. Bukhari  dan Muslim).

Kedua,  orangtua berhak untuk mendapat perilaku yang baik dan hormat. Allah I berfirman, “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tua ibu bapaknya” (QS. Al-Ahqaaf: 15).

Perintah berbuat baik ini lebih ditegaskan jika usia kedua orangtua semakin tua dan lanjut hingga kondisi mereka melemah dan sangat membutuhkan bantuan dan perhatian dari anaknya. Allah I berfirman, “Dan Rabb-mu telah memerintahkan supaya kami jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: 'Wahai, Rabb-ku, kasihilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil” (QS. Al-Israa': 23-24).

Dalam ayat ini, berbuat baik kepada Ibu Bapak merupakan perintah, dan perintah disini menunjukkan kewajiban, khususnya, karena terletak setelah perintah untuk beribadah dan meng-Esa-kan (tidak mempersekutukan) Allah, serta tidak didapatinya perubahan (kalimat dalam ayat tersebut) dari perintah ini (Lihat Al-Adaabusy Syar’iyyah 1/434).

Di dalam sebuah haditsnya, Rasulullah r bersabda, “Sungguh merugi, sungguh merugi, dan sungguh merugi orang yang mendapatkan kedua orang tuanya yang sudah renta atau salah seorang dari mereka kemudian hal itu tidak dapat memasukkannya ke dalam Surga” (HR. Muslim).

Ketiga, orangtua berhak untuk mendapat kata-kata yang lembut ketika kita berbicara kepada mereka. Berbicara dengan lembut merupakan kesempurnaan bakti kepada kedua orangtua dan merendahkan diri di hadapan mereka. Allah I berfirman, “Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” (QS. Al-Israa': 23). Oleh karena itu, berbicaralah kepada mereka berdua dengan ucapan yang lemah lembut dan baik serta dengan lafazh yang bagus.

Keempat, orangtua berhak untuk mendapat harta dari kita. Seorang laki-laki pernah menemui Nabi r dan berkata, “Ayahku ingin mengambil hartaku”. Maka Nabi r bersabda kepadanya, “Kamu dan hartamu milik ayahmu” (HR. Ahmad dan lainnya. Hadits ini tertera dalam kitab Shahiihul Jaami no. 1486). Oleh sebab itu, hendaknya seseorang tidak bersikap bakhil (kikir) terhadap orang yang menyebabkan keberadaan dirinya, memeliharanya ketika kecil dan lemah, serta telah berbuat baik kepadanya, yaitu orangtuanya.

Kelima, orangtua berhak dimintai izin. Wajib bagi kita untuk meminta izin mereka sebelum bepergian. Seorang laki-laki berhijrah dari negeri Yaman, kemudian Nabi r bertanya kepadanya, “Apakah kamu masih mempunyai kerabat di Yaman?” Laki-laki itu menjawab, "Masih, yaitu kedua orang tuaku”. Rasulullah r kembali bertanya, “Apakah mereka berdua mengizinkanmu (hijrah ke Madinah)?” Laki-laki itu menjawab,”Tidak”. Lantas, Nabi r bersabda, “Kembalilah kamu kepada mereka dan mintalah izin dari mereka. Jika mereka mengizinkan, maka kamu boleh ikut berjihad, namun jika tidak, maka berbaktilah kepada keduanya” (HR. Ahmad, Abu Dawud, al-Hakim dan ia menshahihkannya).

Seorang laki-laki mendatangi Rasulullah r  dan berkata, “Aku datang membai'atmu untuk hijrah dan kutinggalkan kedua orangtuaku dalam keadaan mereka menangisi kepergianku. Maka Nabi r bersabda, “Pulanglah dan buatlah mereka tertawa sebagaimana kamu telah membuat mereka menangis” (HR. Abu Dawud dan lainnya. Lihat kitab Shahiih Abi Dawud no. 2205).

Keenam, tidak mencela orangtua atau tidak menyebabkan mereka dicela orang lain. Mencela orangtua dan menyebabkan mereka dicela orang lain termasuk salah satu dosa besar. Rasulullah r bersabda, “Termasuk dosa besar adalah seseorang mencela orang tuanya." Para Sahabat bertanya, “Ya, Rasulullah, apa ada orang yang mencela orang tuanya?” Beliau menjawab, “Ada. Ia mencela ayah orang lain kemudian orang itu membalas mencela orang tuanya. Ia mencela ibu orang lain lalu orang itu membalas mencela ibunya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Hak Orangtua Setelah Wafat

Di antara hak orangtua setelah mereka meninggal adalah :

Pertama, menshalati mereka. Maksud menshalati di sini adalah tidak semata menshalati jenazah, tetapi lebih dari itu yaitu mendo'akan keduanya, karena shalat juga bermakna doa. Oleh karena itu, seorang anak hendaknya senantiasa mendo'akan kedua orang tuanya setelah mereka meninggal daripada ketika masih hidup. Apabila anak itu mendo'akan keduanya, niscaya kebaikan mereka berdua akan semakin bertambah. Rasulullah r bersabda, “Apabila manusia telah meninggal, maka terputuslah amalannya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendo'akan dirinya” (HR. Muslim). Termasuk di dalamnya adalah beristighfar untuk mereka. Allah I menceritakan kisah Ibrahim Alaihissalam dalam Al-Qur’an, dimana beliau berdoa, “Ya, Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku” (QS. Ibrahim: 41).
Kedua, menunaikan janji dan wasiat mereka, dan melanjutkan kebiasaan baiknya. Hendaknya seseorang menunaikan wasiat orangtua dan melanjutkan secara berkesinambungan amalan-amalan kebaikan yang dahulu pernah dilakukan keduanya. Sebab, pahala akan terus mengalir kepada mereka berdua apabila amalan kebaikan yang dulu pernah dilakukan dilanjutkan oleh anak mereka.

Ketiga, memuliakan teman mereka di masa hidupnya. Memuliakan teman kedua orangtua juga termasuk berbuat baik kepada orangtua. Ibnu Umar t pernah berpapasan dengan seorang Arab Badui di jalan menuju Makkah. Kemudian, Ibnu Umar t mengucapkan salam kepadanya dan mempersilakannya naik ke atas keledai yang ia tunggangi. Selanjutnya, ia juga memberikan sorbannya yang ia pakai. Ibnu Dinar berkata, “Semoga Allah memuliakanmu. Mereka itu orang Arab Badui dan mereka sudah biasa berjalan”. Ibnu Umar t berkata, “Sungguh dulu ayahnya adalah teman Umar bin al-Khaththab t (ayah Ibnu umar) dan aku pernah mendengar Rasulullah r bersabda, “Sesungguhnya bakti anak yang terbaik ialah seorang anak yang menyambung tali persahabatan dengan keluarga teman ayahnya setelah ayahnya tersebut meninggal” (HR. Muslim).

Keempat, menyambung tali silaturrahim dengan kerabat mereka. Hendaknya seseorang menyambung tali silaturrahim dengan semua kerabat yang silsilah keturunannya bersambung dengan ayah dan ibu, seperti paman dari pihak ayah dan ibu, bibi dari pihak ayah dan ibu, kakek, nenek, dan anak-anak mereka semua. Bagi yang melakukannya, berarti ia telah menyambung tali silaturahim kedua orangtuanya dan telah berbakti kepada mereka. Rasulullah r pernah bersabda, “Barang siapa ingin menyambung silaturahim ayahnya yang ada di kuburannya, maka sambunglah tali silaturahim dengan saudara-saudara ayahnya setelah ia meninggal” (HR. Ibnu Hibban no. 433. Lihat Shahiihul Jaami' no. 5960).

Keutamaan Berbakti Kepada Mereka

Berbakti kepada kedua orangtua tentu saja merupakan amalan yang sangat mulia. Allah I memberikan keutamaan yang besar bagi mereka yang mampu melakukannya.

Abdullah bin Mas’ud t pernah bertanya kepada Rasulullah r,  “Apakah amalan yang paling dicintai oleh Allah?” Rasulullah r bersabda, “Shalat tepat pada waktunya” Kemudian beliau bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Rasulullah r bersabda, “Berbuat baik kepada kedua orangtua”. Kemudian beliau bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Rasulullah r bersabda, “Berjihad di jalan Allah” (HR. Bukhari dan Muslim).

Berbakti kepada kedua orangtua, merupakan salah satu sebab diampuninya dosa. Allah I berfirman, “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya…”, kemudian dilannjutkan dengan ayat berikutnya, “Mereka itulah orang-orang yang kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga. Sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka” (QS. Al-Ahqaf 15-16).

Diriwayatkan oleh ibnu Umar t, bahwasannya seorang laki-laki datang kepada Rasulullah r  dan berkata, “Wahai Rasulullah sesungguhnya telah menimpa kepadaku dosa yang besar, apakah masih ada pintu taubat bagi saya?”, Maka Rasulullah r bersabda, “Apakah Ibumu masih hidup?”, dia berkata, “Tidak”. Rasulullah r bersabda, “Bagaimana dengan bibimu, masih hidup?”, dia berkata, “Ya”. Maka Rasulullah r bersabda, “Berbuat baiklah kepadanya”. (HR. Tirmidzi. Dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al Hakim. Lihat Jaami’ul Ushul (1/ 406).

Berbakti kepada kedua orangtua, juga termasuk sebab masuknya seseorang ke surga. Abu Hurairah t berkata, “Saya mendengar Rasulullah r bersabda, “Celakalah dia, celakalah dia”. Rasulullah r ditanya, “Siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah r bersabda, “Orang yang menjumpai salah satu atau kedua orang tuanya dalam usia lanjut kemudian dia tidak masuk surga” (HR. Muslim).

Dalam riwayat lainnya, Jaahimah t pernah datang kepada Rasulullah r dan berkata, “Wahai Rasulullah, saya ingin (berangkat) untuk berperang, dan saya datang (ke sini) untuk minta nasehat pada Anda”. Maka Rasulullah r bersabda, “Apakah kamu masih memiliki Ibu?” Dia berkata, “Ya”. Rasulullah r bersabda, “Tetaplah dengannya karena sesungguhnya surga itu dibawah telapak kakinya”. (HR. Nasa’i dan Ahmad. Lihat Shahihul Jaami No. 1248)

*************
Demikian. Semoga kita mampu berbakti kepada kedua orangtua, saat mereka masih hidup dan setelah meninggal dunia. Wallahu a’lam. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...