Di depan kita
bersama, beberapa pekan ke depan, tamu besar nan agung akan datang menghampiri
kita semua, insyaaAllah. Siapa dia? Tentunya, dia bukan pejabat tinggi. Bukan
pula raja. Juga bukan seorang kaya raya. Namun dia adalah tamu yang lebih agung
dari itu semua. Dia adalah bulan suci Ramadhan.
Bila waktunya tiba,
ia akan datang menemui setiap perindunya. Mengikuti kehendak Rabb-nya, ia penuh
setia hadir di tengah-tengah setiap jiwa yang tak kunjung habis dahaga
kerinduannya. Dahaga kerinduan untuk melewati setiap detaknya. Samudra
kecintaan demi melewati malam-malamnya yang syahdu, yang langit luasnya
memantulkan setiap baris kalamullah, yang setiap jengkal udaranya mengantarkan
doa-doa para hamba menembus langit dengan setiap lapisannya.
Sebagai orang
beriman, kiranya kita tidak lalai dalam menyambutnya, apalagi saat dia telah
benar-benar hadir dalam hari-hari kehidupan kita kelak. Ingatlah, hari-harinya
adalah musim ketaatan. Menyia-nyiakannya adalah kerugian yang teramat besar.
Padahal Allah I
menyuruh kita untuk berlomba-lomba dalam menyambut dan mengisinya. Allah I berfirman, “Dan untuk yang demikian itu hendaknya
orang berlomba-lomba.” (QS.Muthaffifin:26)
.
Bagaimana sikap yang
baik menyambut bulan ini? Ibarat bumi yang kering menyambut turunnya hujan,
ibarat seorang yang sedang sakit menyambut datangnya dokter, dan ibarat
seseorang yang menunggu kekasihnya yang sudah lama dinanti, berikut beberapa
poin yang mesti diperhatikan dalam rangka penyambutannya. Semoga Allah I senantiasa memberikan taufiqNya. Selamat membaca.
Banyak Berdoa
Kiranya Dapat Menemuinya
Yang utama,
hendaknya kita banyak berdoa kepada Allah I, agar Dia I kembali memberikan kesempatan kepada kita untuk
bertemu dengan bulan Ramadhan dalam kondisi sehat wal-afiat, sehingga kita bisa
melaksanakan ibadah dengan optimal baik berupa puasa, shalat, tilawah, sedekah,
dzikir dan amalan-amalan lainnya. Hal ini sebagaimana kebiasaan para salaf
(ulama terdahulu) yang senantiasa memohon kepada Allah I agar diberikan karunia berupa perjumpaan dengan bulan
Ramadhan dan berdoa agar Allah I kelak menerima amal mereka. Sehingga, jika nanti
telah tampak hilal bulan Ramadhan, kita disunnahkan untuk berdoa kepada Allah I dengan doa, “Allahumma
ahillahu 'alayna bil-amni wal-imaani was-salaamati wal-islaami wat-tawfiiqi
limaa tuhibbu wa tardhaa, Rabbana wa rabbukallah” (Ya Allah, terbitkanlah
bulan sabit itu untuk kami dengan aman dan dalam keimanan, dengan penuh
keselamatan dan dalam keislaman, dengan taufik agar kami melakukan yang disukai
dan diridhai oleh Rabbku dan Rabbmu, yaitu Allah.” (HR. Tirmidzi dan Ad-Darimi. Dishahihkan oleh Ibnu
Hayyan).
Mengapa kita mesti
berdoa memohon taufiq dari-Nya? Jawabannya, karena sesungguhnya semua amal
shalih yang kita lakukan semata-mata hanyalah karena kasih sayang dan
pertolongan dari Allah I.
Untuk itu, kita wajib memohon hal tersebut hanya kepada-Nya.
Bersyukur dan
Bergembira
Bersyukur dan memuji
Allah I
atas karunia Ramadhan yang kembali diberikan kepada kita adalah sebuah adab
yang mesti yang kita lakukan.
Imam Nawawi rahimahullah
dalam kitab Adzkar-nya berkata, ”Dianjurkan bagi setiap orang yang
mendapatkan kebaikan dan diangkat dari dirinya keburukan untuk bersujud kepada
Allah I
sebagai tanda syukur, dan memuji Allah I dengan pujian yang sesuai dengan keagungannya”.
Dan kita pun sadar
bahwa di antara nikmat terbesar yang diberikan Allah I kepada seorang hamba adalah ketika dia diberikan
kemampuan untuk melakukan ibadah dan ketaatan. Maka, ketika Ramadhan telah tiba
dan kita dalam kondisi yang aman, sehat wal afiat, dan mampu melaksanakan
segala bentuk ketaatan, maka kita wajib memuji Allah I sebagai bentuk syukur kita kepadaNya.
Setelah bersyukur,
kita pun wajib bergembira dengan kedatangan bulan Ramadhan. Rasulullah r senantiasa memberikan kabar
gembira kepada para shahabatnya setiap kali bulan Ramadhan datang. Dalam sebuah
haditsnya, Rasulullah r bersabda, “Telah datang kepada kalian bulan
Ramadhan, bulan yang penuh berkah, Allah telah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa,
pada bulan itu Allah membuka pintu-pintu syurga dan menutup pintu-pintu neraka”
(HR. Ahmad). Para salaf (ulama terdahulu) di kalangan sahabat, tabi’in, tabi’ut
tabi’in dan generasi setelahnya, sangat gembira dengan kedatangannya, bahkan
bagi mereka tidak ada kegembiraan yang paling besar selain kegembiraan karena
kedatangan bulan Ramadhan sebagai nikmat dari Allah I bagi para hambaNya, bulan kebaikan dan turunnya
rahmat dari Allah I.
Banyak Bertaubat
dan Beristighfar
Menyambut tamu agung
ini, hendaknya kita bertekad untuk meninggalkan dosa-dosa dan kejelekan, serta
bertaubat dengan sungguh-sungguh dari seluruh dosa, berhenti melakukannya serta
tidak mengulanginya lagi. Mengapa? Karena bulan Ramadhan adalah bulan taubat.
Barangsiapa yang tidak bertaubat di dalamnya, maka kapan lagi ia akan
bertaubat? Allah Ta’ala berfirman, “Dan bertaubatlah kalian semua kepada
Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung.” (QS. An-Nur: 31).
Syaikh Muhammad bin
Muhammad Mukhtar As-Syinqity hafidzahullah pernah ditanya, “Wahai
Syaikh, dengan amalan apa Anda menasehati saya dalam menyongsong datangnya
musim ketaatan?“ Syaikh menjawab, “Sebaik-baik amalan yang dapat dilakukan
dalam menyongsong datangnya musim ketaatan adalah memperbanyak istighfar. Sebab
dosa akan menghalangi seseorang dari taufiq Allah (untuk melaksanakan
ketaatan)”.
Mengapa taubat
menjadi penting? Jawabannya, karena ibadah dan amal shalih hanya mampu
dikerjakan dengan hati yang bersih dan kuat, sementara dosa-dosa membuat hati
kita kotor dan jiwa menjadi lemah.
Ibnu Katsir rahimahullah
berkata, “Barangsiapa yang menghiasi dirinya dengan amalan ini, yaitu
memperbanyak istighfar, maka Allah akan mempermudah rezekinya, memudahkan
urusannya dan menjaga kekuatan jiwa dan raganya.” Ibnul Qayyim rahimahullah
pernah mengatakan, “Bila engkau ingin berdo'a, sementara waktu begitu sempit,
padahal di dalam dadamu dipenuhi oleh begitu banyak hajat (kebutuhan), maka
jadikan seluruh isi do'amu berupa permohonan maaf kepada Allah. Karena bila Dia
memaafkanmu, maka semua keperluanmu akan dipenuhi oleh-Nya tanpa engkau
memintanya”.
Mengilmui
Ramadhan
Di antara poin yang
tak kalah pentingnya adalah mengerti dan memahami hukum-hukum Ramadhan. Wajib
bagi setiap mukmin dalam menyembah Allah I dilandasi dengan ilmu yang benar. Tidak ada alasan
bagi setiap mukmin untuk tidak mengetahui ilmu yang berkenaan dengan hal-hal
yang telah diwajibkan kepadanya. “Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim”,
demikian pesan nabi kita, Muhammad r. Puasa Ramadhan adalah sebuah kewajiban bagi setiap
mukmin yang telah memenuhi syarat-syaratnya. Maka, hukum untuk mengilmuinya pun
menjadi wajib. Ya, wajib bagi seorang hamba untuk mengetahui syarat-syaratnya,
rukun-rukunya, pembatal-pembatalnya, dan lainnya sebelum Ramadhan datang, agar
puasanya benar dan diterima oleh Allah I. Hendaknya kita belajar dan bertanya kepada para ahli
ilmu. Allah I
berfirman, “Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika
kamu tiada mengetahui”.(QS.Al-Anbiya’
: 7).
Bekal ini amat
penting agar ibadah kita menuai manfaat, berfaedah, dan tidak asal-asalan. Umar
bin ‘Abdul ‘Aziz rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang beribadah
kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada
mendatangkan kebaikan". Tidak tahu akan hukum puasa, bisa jadi puasa kita
rusak. Tidak tahu apa saja hal-hal yang disunnahkan saat puasa, kita bisa
kehilangan pahala yang banyak. Tidak tahu jika maksiat bisa mengurangi pahala
puasa, bisa jadi hanya mendapatkan lapar
dan dahaga saja saat puasa.
Ibnul Qayyim rahimahullah,
dalam bukunya Miftah Daris Sa’adah, berkata, “Orang yang beribadah tanpa
adanya ilmu bagai orang yang berjalan tanpa ada penuntun. Sudah dimaklumi bahwa
orang yang demikian akan mendapatkan kesulitan dan susah untuk selamat. Jika
pun ia bisa selamat, namun itu jarang.
Menurut orang yang berakal, ia tetap saja tidak terpuji bahkan pantas untuk
medapat celaan”.
Merancang Agenda
Ukhrawi dan Bertekad Kuat Mengaplikasikanya
Sebelum
kedatangannya, hendaknya kita merancang berbagai program agar memperoleh
kebaikan yang banyak di bulan Ramadhan. Untuk urusan dunia, sudah lumrah bagi
orang-orang untuk membuat perencanaan hidup yang detail. Tetapi tidak dengan
urusan akhiratnya. Masih sedikit di antara umat Islam yang telah memiliki rencana
program yang tertata rapi untuk program akhirantnya, termasuk selama Bulan
Ramadhan. Yang ada, umumnya berjalan apa adanya.
Hal ini tentu harus
diperbaiki. Tidak selayaknya di bulan yang penuh kemuliaan ini kita masih
menjalaninya dengan gaya hidup lama yang mungkin masih belum tertata rapi dalam
upaya peningkatan iman dan takwa. Upaya itu bisa dengan dilakukan dengan
program membaca al-Qur’an berikut terjemah dan tafsirnya, program hafalan
al-Qur’an, melaksanakan qiyamul-lail, bersedekah setiap hari, atau
melakukan berbagai macam amal shalih lainnya. Apabila tidak memiliki
perencanaan Ramadhan, boleh jadi Ramadhan akan dilalui tanpa makna. Tentu ini
satu kerugian besar.
Jadi, apabila kita
benar-benar bahagia atau bergembira dalam menyambut Ramadhan, sudah semestinya
kita memiliki program amal ibadah yang akan kita lakukan dengan penuh cinta
selama bulan suci Ramadhan.
Setelah rancangan
ukhrawi tersebut telah tersusun rapih dan matang, selanjutnya adalah setiap
kita hendaknya bertekad kuat untuk mengaplikasikannya. Barangsiapa jujur kepada
Allah I
dalam tekadnya itu maka Allah I akan membantunya dalam melaksanakan seluruh amalan
yang telah diagendakan dan memudahkannya melaksanakan aktifitas-aktifitas
kebaikan. Allah I
berfirman, “Tetapi jikalau mereka benar terhadap Allah, niscaya yang
demikian itu lebih baik bagi mereka”. (QS.Muhamad
: 21). Tekadkan dalam sanubari kita untuk
memaksimalkan setiap waktu di dalamnya, karena bisa jadi ramadhan kali ini
adalah kali terakhir bagi kita.
*****
Akhirnya, semoga
Allah I
menunjuki kita kepada sikap terbaik dalam menyambut bulan berkah ini. Dengan
curahan taufiqNya, semoga kita mampu memakmurkan Ramadhan dengan semestinya
sehingga saat keluar darinya terampuni pula semua dosa-dosa kita. Mari
bersegera untuk mempersiapkan diri! Jika dengan bulan Ramadhan saja kita masih
tidak tergerak untuk bersegera dalam kebaikan, nikmat besar manalagi yang akan
mampu mengubah nasib kita? Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar