Allah
I dengan hikmah
dan keadilan-Nya yang sempurna telah memuliakan sebagian hamba-Nya di atas
sebagian lainnya. Di antara sebab Allah I memuliakan sebagian hamba-Nya tersebut adalah karena
ilmu, amal, kesabaran, keikhlasan, dan keimanan yang dimilikinya. Dengan
sebab-sebab itulah, Allah I memuliakan
para ulama, yaitu orang-orang yang berilmu tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah
sehingga menjadi orang-orang yang takut kepada Rabb-Nya.
Di
antara bentuk pemuliaan Allah I
atas ahli ilmu (ulama) yaitu Allah I menjadikan
mereka sebagai saksi atas perkara yang paling agung dan mulia, yaitu
keesaan-Nya, dan menggandengkan persaksian mereka dengan persaksian-Nya dan
persaksian para malaikat. Allah I
berfirman, “Allah mempersaksikan
bahwasanya tidak ada sembahan yang haq selain Dia, Yang menegakkan keadilan.
Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu).
Tak ada sembahan yang haq selain Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”
(QS.
Ali Imran: 18).
Terhadap ayat ini, Imam al-Qurthubi rahimahullah
mengatakan, “Pada ayat ini terdapat dalil yang menunjukkan keutamaan ilmu
dan kemuliaan ulama. Seandainya ada orang yang lebih mulia daripada ulama,
niscaya Allah I akan
menggandengkan mereka dengan nama-Nya dan nama para malaikat-Nya.”
Selain
itu, betapa Allah I memuliakan
para ulama, Allah I juga mengangkat
derajat orang-orang beriman yang berilmu di atas derajat orang-orang beriman namun
tidak berilmu, meskipun kedua-duanya tetap memiliki keutamaan. Hal ini terlihat
dari firman-Nya, “Allah akan meninggikan
orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujaadilah :
11). Maknanya ialah bahwa Allah I mengangkat derajat
orang-orang yang beriman di atas orang-orang yang tidak beriman, kemudian Allah
I mengangkat derajat orang-orang beriman yang
memiliki ilmu di atas orang-orang yang beriman saja (tanpa ilmu). Artinya, para
ulama adalah golongan yang telah mengumpulkan iman dan ilmu, sehingga Allah I
mengangkat kedudukannya beberapa derajat dengan sebab keimanannya dan dengan
sebab ilmunya beberapa derajat lagi.
Olehnya, dengan berbagai kemuliaan dan keutamaan mereka, maka kita
wajib untuk memuliakan dan menghormati mereka sebagaimana Allah I
dan Rasul-Nya telah menjadikan mereka terhormat dan mulia. Rasulullah r bersabda, “Bukan termasuk golongan kami orang yang
tidak menyayangi yang kecil dari kami dan tidak menghormati yang tua dari kami,
tidak menyuruh yang ma’ruf dan tidak mencegah dari perbuatan munkar, serta
tidak mengenal hak orang yang alim (ulama) dari kami”. (HR.
Ahmad 1/257, at-Tirmidzi 1986, dan Ibnu Hibban 1913).
Thawus bin Kaisan rahimahullah
berkata, “Menghormati empat orang ini termasuk sunnah, yaitu ulama, orangtua,
penguasa, dan orang yang dituakan (sesepuh)” (Disebutkan oleh al-Baghawi dalam Syarh
Sunnah 13/43). Bahkan, memuliakan
ulama karena ilmu dan al-Qur’an yang dihapalnya merupakan pengagungan terhadap
Allah I. Rasulullah r bersabda, “Termasuk
mengagungkan Allah I (yaitu) menghormati muslim yang sudah
tua, menghormati penghapal al-Qur’an yang tidak berlebihan padanya dan tidak
kurang, dan menghormati pemerintah yang adil.” (HR. Abu Daud 4843). Tentang pengagungan terhadap syiar-syiar Allah I ini, Allah I berfirman, “Barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, sesungguhnya itu timbul dari
ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32). Artinya, penghormatan kepada ulama
sebagai bentuk pengagungan syi’ar Allah I adalah indikasi ketakwaan kita kepada Allah I.
Bentuk
Penghormatan dan Pemuliaan Kepada Ulama
Setelah
kita memahami tentang wajibnya menghormati dan memuliakan para ulama karena
kedudukannya, maka langkah berikutnya adalah merealisasikan keyakinan tersebut
dalam bentuk amal. Di antara bentuk amal yang dapat kita lakukan adalah sebagai
beikut :
Pertama, bersyukur
(berterima kasih) kepada mereka. Mengapa? Karena berkat keikhlasan dan
kesabaran mereka dalam berdakwah, ilmu Al-Qur’an dan As-Sunnah pun tersebar
hingga sampai kepada kita. Kita bisa mengetahui akidah yang benar dan beribadah
dengan tata cara yang benar. Sudah semestinya, kita bersyukur kepada Allah I dengan berterima
kasih kepada mereka. Rasulullah r
bersabda, “Tidak akan bersyukur kepada
Allah I,
orang yang tidak berterima kasih kepada orang lain.” (HR.
Abu Dawud no. 4177, lihat Ash-Shahihah no. 416). Yahya bin Mu’adz Ar-Razi t berkata, “Para
ulama lebih mengasihi dan menyayangi umat Muhammad r daripada ayah
dan ibu mereka.” Beliau ditanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi?” Beliau
menjawab, “Bapak dan ibu mereka melindungi mereka dari api dunia, sedangkan
para ulama melindungi mereka dari api akhirat.” (Lihat Mukhtashar Nashihat Ahlil Hadits hlm.
167).
Kedua, menaati
mereka dalam kebaikan. Allah I
berfirman, “Wahai orang-orang yang
beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya), dan ulil amri di antara
kalian.” (QS. An-Nisa’: 59).
Syaikh
Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul hafizhahullah
mengatakan, “Yang dimaksud ulil amri (dalam ayat ini) adalah umara’ (para penguasa) dan ulama. Karena
itu, ketaatan kepada ulama itu mengikuti ketaatan kepada Allah I dan Rasul-Nya,
sedangkan ketaatan kepada para penguasa mengikuti ketaatan kepada para ulama.
Pintu ketidaktaatan terhadap para penguasa dan pemimpin tergantung kepada para
ulama, sehingga apabila hak-hak para ulama ditelantarkan niscaya hak-hak para
penguasa akan hilang pula. Bila hak-hak para ulama dan umara’ hilang, umat manusia tidak akan menaati mereka, padahal
hidup dan baiknya ulama adalah penentu kehidupan dan kebaikan alam ini. Apabila
hak-hak para ulama tidak dipedulikan, akan hilang hak-hak para umara. Dan
ketika hak-hak para ulama dan umara’ hilang,
hancurlah kehidupan alam semesta!” (Lihat Makanatul ‘Ilmi wal ‘Ulama, hlm. 16—17).
Ketiga, mengikuti
bimbingan dan arahan mereka. Ibnu Mas’ud t berkata, “Rasulullah r membuat sebuah
garis yang lurus lalu bersabda, “Ini
adalah jalan Allah.” Kemudian beliau r membuat beberapa garis di sebelah kanan dan kiri
garis lurus itu lalu bersabda, “Ini
adalah jalan-jalan yang bercabang (darinya). Pada setiap jalan ini ada setan
yang mengajak kepadanya.” Beliau r lalu membaca firman Allah I, “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini
adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti
jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari
jalan-Nya….” (QS. Al-An’am: 153) (HR. Ahmad no.
3928).
Terhadap
hadits ini, Syaikh Muhammad Bazmul hafizhahullah
mengatakan, “Barang siapa yang mengikuti para ulama berarti dia mengikuti jalan
yang lurus. Adapun yang menyelisihi ulama dan tidak memedulikan hak-hak mereka
berarti dia telah keluar (dan mengikuti) jalan setan. Dia telah memisahkan diri
dari jalan yang lurus, yaitu jalan Rasul-Nya n dan yang ditempuh para sahabat.”
(Lihat
Makanatul ‘Ilmi wal ‘Ulama, hlm. 18).
Keempat, mengembalikan
urusan umat kepada mereka. Allah I berfirman, “Maka
bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan (ulama) jika kamu tidak
mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43). Allah I juga berfirman,
“Apabila datang kepada mereka suatu
berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Kalau
mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri di antara mereka, tentulah
orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari
mereka (Rasul dan ulil amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah
kepada kalian, tentulah kalian mengikuti setan kecuali sebagian kecil saja (di
antara kalian).” (QS. An-Nisa: 83).
Terhadap
ayat ini, Syaikh As-Sa’di rahimahullah
berkata, “Selayaknya apabila ada sebuah urusan penting dan menyangkut orang
banyak—terkait keamanan dan kebahagiaan orang-orang beriman, ataupun
kekhawatiran akan sebuah musibah yang menimpa mereka— hendaknya mereka
menelitinya dan tidak tergesa-gesa menyebarkannya. Bahkan, semestinya mereka
mengembalikannya kepada Rasulullah r (semasa hidup beliau) dan kepada ulil amri, yaitu
orang-orang yang ahli dalam menentukan pendapat, berilmu, peduli, dan tenang. Apabila
terjadi pembahasan suatu urusan yang penting, sepantasnya yang terlibat adalah
orang-orang yang ahli dalam urusan tersebut. Urusan tersebut diserahkan kepada
mereka, sedangkan orang lain tidak boleh mendahului mereka, karena sikap ini
lebih mendekati kebenaran dan lebih selamat”. (Lihat Tafsir As-Sa’di hlm. 190).
Kelima, menjaga
kehormatan mereka. Dengan kedudukan ulama yang begitu vital dan mulia di
tengah-tengah umat, maka menjaga kehormatannya menjadi sebuah keniscayaan. Mengapa?
Karena membela kehormatan ulama adalah membela agama itu sendiri. Syaikh
Utsaimin rahimahullah pernah berkata,
“Mengghibah ulama adalah memberikan mudharat kepada Islam seluruhnya. Karena
umat akan tidak percaya lagi kepada ulama lalu mereka akan meninggalkan fatwa
para ulama dan lepaslah mereka dari agama.”
Syaikh
Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata,
“Memuliakan para ulama adalah sebuah kewajiban. Karena mereka adalah pewaris
para nabi. Sikap meremehkan ulama yang mereka lakukan termasuk perendahan
terhadap kedudukan mereka, perendahan terhadap warisan Nabi r dan perendahan
terhadap ilmu yang mereka miliki. Jika
kita tidak memiliki kepercayaan pada para ulama, lalu kepada siapakah kita akan
menaruh kepercayaan? Jika kepercayaan terhadap para ulama telah hilang, lalu
kepada siapakah kaum muslimin meminta solusi dalam menyelesaikan
masalah-masalahnya dan meminta penjelasan tentang hukum-hukum syari’at? Tatkala
hal itu telah terjadi, maka akan terjadi kekacauan dan kebingungan dalam umat”.
Ibnu
‘Asakir rahimahullah berkata,
“Ketahuilah, bahwa daging–daging ulama itu beracun, dan sudah diketahui akan
kebiasaan Allah dalam membongkar tirai orang-orang yang meremehkan atau
merendahkan mereka, dan sesungguhnya barang siapa yang melepaskan lidahnya
untuk mencela ulama maka Allah I
akan mengujinya dengan kematian hati sebelum ia mati.” Syaikh Awad Ar-Ruasti
menjelaskan tentang makna perkataan ini, “Siapa yang suka berbicara tentang aib
para ulama, maka dia layaknya memakan daging para ulama yang mengandung racun,
akan sakit hatinya, bahkan dapat mematikan hatinya.”
Kalangan
yang memusuhi syariat agama ini menggunakan berbagai cara untuk menghancurkan
Islam. Salah satu caranya adalah dengan menggugat otoritas ulama. Mereka
mengetahui bahwa pokok dari tegak dan terpeliharanya agama ini adalah
keberadaan para ulama yang dihormati dan ditaati. Maka mereka menyebarkan
pemikiran bahwa tidak ada yang boleh dan bisa menjadi pihak yang otoritatif
dalam memahami agama ini. Semua orang berhak dan bisa memahami dan menafsirkan
agama sesuai kehendaknya. Bahwa semua faham dan tafsir adalah benar dan tidak
ada yang paling benar atau satu-satunya yang benar. Dan seterusnya. Begitulah, mereka mencoba menggugat kedudukan
para ulama di tengah umat. Sehingga, ketika umat terpengaruh oleh paham dan
propaganda mereka, umat pun akan merendahkan ulama dan mencampakkan fatwa dan
pandangan para ulama. Wallahul-musta’an.
Ketika
Merendahkan dan Mendurhakai Para Ulama
Rasulullah
r telah
mengingatkan dalam sabdanya, “Sesungguhnya
Allah tidaklah mencabut ilmu begitu saja dari diri para ulama, akan tetapi
Allah mencabut ilmu dengan matinya para ulama, sehingga jika tidak tersisa
seorang ulama-pun, maka masyarakat akan mengambil orang-orang bodoh sebagai
pemimpin, jika mereka ditanya mereka menjawab tanpa ilmu, sehingga mereka sesat
dan menyesatkan. ” (HR. Bukhari).
Rasulullah
r juga bersabda,
“Apabila kalian berjual-beli dengan
sistem ‘inah (salah satu bentuk transaksi ribawi), telah mengambil ekor-ekor
sapi, dan lebih senang dengan pertanian kalian hingga kalian meninggalkan jihad
(di jalan Allah), niscaya Allah akan menimpakan kehinaan terhadap kalian. Allah
I tidak akan
mencabutnya hingga kalian kembali kepada agama kalian”. (HR.
Abu Dawud no. 3003).
Syaikh
Muhammad Bazmul hafizhahullah mengatakan,
“Tidak ada jalan untuk kembali kepada agama yang mulia ini melainkan dengan
bimbingan ulama. Apabila umat tidak memedulikan hak-hak ulama dan tidak merujuk
kepada mereka, bahkan merasa tidak membutuhkan mereka, mereka akan mengangkat
orang-orang yang bodoh sebagai pemimpin. Bagaimana mereka akan kembali kepada
agama mereka? Bagaimana pula mereka bisa keluar dari kehinaan dan kerendahan
tanpa bimbingan ulama?” (Lihat Makanatul ‘Ilmi wal ‘Ulama, hlm. 26).
Akhirnya,
kita memohon kepada Allah I kiranya Dia dengan kelembutan-Nya senantiasa membimbing
kita untuk selalu memuliakan, menghormati, dan memberikan hak-hak para ulama. Semoga
Allah I senantiasa menganugerahkan
kebaikan dan keberkahan kepada bangsa ini ketika kita mampu menghargai dan
menghormati para ulama.
Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar