Laisa kullu maa
yu’lamu yuqalu, likulli maqaamin maqaalun. Tidak semua yang diketahui
itu harus terucapkan, sebab setiap kondisi dan keadaan itu mempunyai perkataan
yang tepat. Begitulah peribahasa indah Arab yang patut untuk terus didengungkan
di hari-hari ini.
Ini
adalah sebuah nasehat penting bagi siapa saja yang diberi karunia ilmu dari
Allah I. Sebab
nampaknya memang sulit untuk dipungkiri bahwa mengetahui saja tidaklah cukup.
Mengapa? Karena agar pengetahuan itu jatuh di tempat yang tepat, kita
membutuhkan pemahaman. Inilah yang disebut oleh para ulama kita dengan istilah
Fiqh. Di antara bentuk kefaqihannya adalah kemampuan untuk menggunakan lisan
sebagai anugerah dan nikmat terbesar dalam diri seorang hamba.
Anugerah
lisan yang fasih terkadang membuat pemiliknya terbuai. Lisan yang tidak
bertulang itu, kerap memberikan dampak dan rasa yang keras seperti tulang,
bahkan lebih. Ia pun kerap laksana
pedang. Jika luka tersayat pedang tidaklah susah untuk diobati. Tetapi hati
yang terluka karena sayatannya, kemana kita hendak mencari penawarnya?
Padahal
Rasulullah r ketika
ditanya siapa muslim yang paling afdhal? Beliau r menjawab, “Orang yang selamat kaum muslimin dari lisan dan tangannya” (HR.
Bukhari dan Muslim). Dalam
kesempatan lainnya, Rasulullah r
juga mengingatkan, “Barangsiapa yang
dapat menjamin untukku lisan dan kemaluannya, aku akan menjamin surga untuknya”
(HR. Ahmad).
Sebuah
hadits dari Abu Hurairah t bahwasanya ia
mendengar Nabi r berkata, “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu
kata yang dia tidak tahu apakah itu baik atau buruk, ternyata
menggelincirkannya ke dalam neraka lebih jauh dari antara timur dan barat”.
Imam
An-Nawawi rahimahullah menjelaskan,
“Ketahuilah, bahwasanya seyogyanya bagi setiap hamba hendaklah ia menjaga lisannya
dari seluruh ucapan kecuali ucapan yang ada maslahat padanya. Apabila berbicara
atau diam sama maslahatnya, maka yang sesuai sunnah adalah memilih diam. Karena
terkadang ucapan yang mubah dapat menyeret kepada yang haram atau makruh,
bahkan asalnya inilah yang terjadi, dan keselamatan tidak ada yang bisa
menyamai harganya” (Lihat Al-Adzkar Imam An-Nawawi
(1/332).
Nabi
r bersabda, “Termasuk di antara baiknya islam(nya)
seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak berguna baginya” (HR.
Tirmidzi (2318).
Nabi
r juga
bersabda, “Barangsiapa yang beriman
kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia bicara yang baik (bermanfaat) atau
diam” (HR. Bukhari dan Muslim).
Seorang
muslim, ketika dia hendak berbicara,
hendaknya ia menimbang apakah berguna atau tidak? Jika tidak berguna,
hendaknya dia memilih diam. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Jika seseorang berbicara hendaklah ia
memikirkan sebelum mengucapkannya, jika nyata maslahatnya, ia berbicara dan
jika ia ragu, ia diam sampai jelas maslahatnya” (Lihat Al-Adzkar oleh Imam
An-Nawawi (1/332). Beliau
rahimahullah juga pernah menasehati
sahabat yang juga muridnya, “Janganlah kamu berbicara dalam perkara yang tidak
berguna bagimu. Sesungguhnya jika engkau mengucapkan satu kata, ia akan
menguasaimu dan engkau tidak bisa menguasainya” (Lihat
Al-Adzkar oleh Imam An-Nawawi (1/335).
Lidah
adalah duta hati, jika engkau ingin mengetahui hati seseorang, lihatlah apa
yang biasa dia ucapkan. Sesungguhnya itu akan menyingkap apa yang dihatinya,
suka atau tidak suka.
Hati
itu seperti kuali yang mendidih, lidah adalah sendoknya. Perhatikanlah ketika
seseorang berbicara, sesungguhnya ia sedang menyendokkan isi hatinya kepadamu,
dengan beragam rasa, pahit, manis, asam,
pedas dan lainnya. Sebagaimana engkau bisa merasakan masakan dalam kuali dengan
lidah, engkau juga bisa merasakan hati lawan bicaramu dengan gerak lidahnya
ketika bertutur-kata.
Sungguh
mengherankan, seseorang bisa dengan mudah menjaga dirinya dari memakan yang
haram, berbuat zalim, zina, mencuri, meminum khamar dan dari memandang yang
haram, tetapi tidak bisa menahan gerak lidahnya yang lunak tidak bertulang itu.
Bahkan seseorang yang zhahirnya dikenal ta’at, berwibawa dan sopan, tetapi dia
membiarkan lidahnya mengucapkan kalimat yang dianggapnya sepele padahal satu
kalimat itu saja cukup untuk mencampakkannya ke dalam neraka.
Dalam
sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Jundub t, ia berkata,
Rasulullah r bersabda, “Seseorang berkata, ‘Demi Allah, Allah tidak
mengampuni si fulan’. Maka Allah I berkata,
“Siapa orang yang lancang mendahuluiku mengatakan bahwa Aku tidak mengampuni
fulan? Sesungguhnya Aku telah mengampuni si fulan dan Aku hapus amalanmu”.
Subhanallah. Satu kalimat
saja yang dianggapnya remeh, ternyata menghapuskan amal-amalnya. Hilanglah shalat
yang dulu dikerjakannya. Lenyaplah puasa yang dulu ditunaikannya. Sirnalah
zakat, qiyam dan amal kebajikannya. Karena kelancangan lidahnya mendahului apa
yang menjadi hak Allah I.
Dahulu,
para pendahulu yang shalih (salafus shalih) di kalangan para sahabat, tabi’in, atba’ at-tabi’in dan para ulama
yang mengikuti mereka, sangat menjaga
lidah mereka. Setiap saat mereka menghisab kalimat yang mereka ucapkan.
Ibnu
Buraidah rahimahullah berkata, “Aku
melihat Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma
memegang lidahnya lalu berkata, ‘Katakanlah yang baik engkau pasti beruntung.
Atau diamlah dari keburukan engkau pasti selamat’. Maka ditanyakan kepadanya,
‘Kenapa engkau mengucapkan ini?’. Ia menjawab, “Aku dengar, bahwasanya seorang
manusia tidak lebih menyesal dan marah kepada anggota tubuhnya selain dari pada
lidahnya kecuali orang yang mengucapkan kata-kata yang baik atau menukilkan
yang baik dengan lidahnya”.
Yunus
bin ‘Ubaid rahimahullah berkata, “Aku
tidak melihat seseorang yang lidahnya terjaga melainkan aku melihatnya pula
pada seluruh amalannya. Dan seorang yang rusak tutur katanya melainkan aku
melihatnya tampak pada seluruh amalannya”.
Fudhail
bin ‘Iyadh rahimahullah berpetuah,
“Barangsiapa yang menganggap perkataannya bagian dari amalnya, niscaya sedikit
perkataannya pada sesuatu yang tidak bermanfaat”.
Abu
Hatim rahimahullah berkata, “Wajib
bagi orang yang berakal agar berlaku adil kepada telinga dan mulutnya. Dia
harus tahu, bahwa ia diberi dua telinga dan satu mulut adalah agar ia lebih
banyak mendengar dari pada berbicara. Karena kalau dia berbicara bisa jadi dia
akan menyesali dan apabila tidak berbicara dia tidak menyesal. Dan dia akan
lebih mudah membantah apa yang tidak dia ucapkan dari pada membantah apa yang
telah dia ucapkan”.
Di
balik itu semua, lidah juga dapat menyebabkan dua petaka besar, jika seseorang
selamat dari yang satunya belum tentu selamat dari yang berikutnya. Dua petaka
atau bencana itu adalah petaka berbicara dan petaka diam.
Sikap
bungkam dan mendiamkan kebenaran adalah sebuah petaka. Begitupula, orang yang
mengucapkan perkataan yang batil pun adalah sebuah petaka.
Orang-orang
yang berjalan di atas jalan yang lurus, semoga Allah memasukkan kita ke dalam
golongan mereka, berada di antara dua petaka tersebut. Mereka menahan lidah
mereka dari perkataan yang batil dan melepaskannya untuk sesuatu yang
mendatangkan manfaat kepada mereka di akhirat. Oleh karena itu, kita tidak
adakan dapatkan salah seorang mereka melontarkan kata-kata yang tidak
mendatangkan manfaat apalagi yang bisa membahayakan di akhirat. Rasulullah r bersabda, “Bukanlah seorang mukmin itu yang suka mencela, melaknat, berkata yang keji dan
kotor” (HR. Bukhari).
Seorang
hamba, bisa jadi di hari kiamat datang membawa kebaikan sebesar gunung, lalu
dia dapatkan ternyata lidahnya telah memusnahkan semuanya. Atau sebaliknya, dia
datang membawa kesalahan yang banyak ternyata lidahnya menghapusnya karena dia
banyak berdzikir dan yang berkaitan dengannya.
Ketika
seseorang datang kepada Nabi r
lalu berkata, “Wahai Rasulullah,
nasehatilah aku”. Rasul r bersabda “Jika
engkau berdiri dalam shalatmu, maka shalatlah seolah-olah itu shalat
terakhirmu. Dan janganlah engkau mengucapkan kalimat yang esok membuatmu
menyesal dan bersungguh-sungguhlah memutus harapan terhadap apa yang ada di tangan
manusia”
(HR. Ahmad dan Baihaqi dan dishahihkan oleh Al-Albani
(Shahih Al-Jami’ no. 742).
Kalau
saja setiap kita memegang tiga wasiat ini; shalat dengan khusyu’, menjaga
lidah, dan menggantungkan harapan
hanya kepada Allah, niscaya keberuntungan menyertai langkahnya.
Sekali
lagi, dengan lisan, seorang hamba bisa mencapai derajat yang tertinggi, bahkan
mendapat karunia yang amat agung di sisi Allah I. Namun sebaliknya, dengan lisan pula
seorang hamba jatuh tersungkur ke dalam jurang kehinaan yang sedalam-dalamnya.
Rasulullah
r bersabda, “Sesungguhnya seseorang mengucapkan kalimat
dari keridhaan Allah yang tidak diperhatikannya, namun Allah mengangkatnya
disebabkan kalimat itu beberapa derajat, dan sesungguhnya seorang hamba
mengucapkan kalimat dari kemurkaan Allah yang tidak di-perhatikannya, sehingga
Allah melemparkannya disebabkan kalimat itu ke dalam Neraka Jahanam.” (HR.
Bukhari).
Rasulullah
r bersabda, “Apakah ada yang menjerumuskan manusia
dengan wajah-wajah mereka (terseret) selain hasil dari lidah mereka?” (HR.
Tirmidzi).
“Sesungguhnya
seseorang dari kalian berkata dengan perkataan yang diridhai Allah, dia tidak
menyangka bahwa kalimat itu bisa sampai pada apa yang dicapai (oleh kalimat
itu), kemudian Allah mencatat baginya disebabkan kalimat itu pada keridhaanNya
sampai hari dia bertemu denganNya.” (HR. Ahmad,
Tirmidzi, An-Nasa’I dan Ibnu Hibban dari sahabat Bilal bin Harits t).
Oleh
karena itu, ketika Uqbah bin Amir t bertanya kepada Rasulullah, “Apa keselamatan
itu?”. Maka Rasulullah r menjawab, “Tahanlah
lidahmu dan jadikanlah rumahmu lapang bagimu, serta tangisilah kesalahanmu”
(HR.
Abdullah bin Al-Mubarak dalam Az-Zuhud (no.134), Ahmad (5/259) dan At-Tirmidzi
(2/65) (Ash-Shahihah 2/581).
Semoga
Allah menjaga kita semua dari petaka lidah. Semoga Allah menguatkan kita untuk
menyuarakan kebenaran. Semoga Allah menguatkan kita untuk menahan lidah dari
kebatilan, Amin. Wallahu A’lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar