Desember 02, 2016

Saat Diam, Saat Bicara

Laisa kullu maa yu’lamu yuqalu, likulli maqaamin maqaalun. Tidak semua yang diketahui itu harus terucapkan, sebab setiap kondisi dan keadaan itu mempunyai perkataan yang tepat. Begitulah peribahasa indah Arab yang patut untuk terus didengungkan di hari-hari ini.  

Ini adalah sebuah nasehat penting bagi siapa saja yang diberi karunia ilmu dari Allah I. Sebab nampaknya memang sulit untuk dipungkiri bahwa mengetahui saja tidaklah cukup. Mengapa? Karena agar pengetahuan itu jatuh di tempat yang tepat, kita membutuhkan pemahaman. Inilah yang disebut oleh para ulama kita dengan istilah Fiqh. Di antara bentuk kefaqihannya adalah kemampuan untuk menggunakan lisan sebagai anugerah dan nikmat terbesar dalam diri seorang hamba.


Anugerah lisan yang fasih terkadang membuat pemiliknya terbuai. Lisan yang tidak bertulang itu, kerap memberikan dampak dan rasa yang keras seperti tulang, bahkan lebih.  Ia pun kerap laksana pedang. Jika luka tersayat pedang tidaklah susah untuk diobati. Tetapi hati yang terluka karena sayatannya, kemana kita hendak mencari penawarnya?

Padahal Rasulullah r ketika ditanya siapa muslim yang paling afdhal? Beliau r menjawab, “Orang yang selamat kaum muslimin dari lisan dan tangannya” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam kesempatan lainnya, Rasulullah r juga mengingatkan, “Barangsiapa yang dapat menjamin untukku lisan dan kemaluannya, aku akan menjamin surga untuknya” (HR. Ahmad).

Sebuah hadits dari Abu Hurairah t bahwasanya ia mendengar Nabi r berkata, “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang dia tidak tahu apakah itu baik atau buruk, ternyata menggelincirkannya ke dalam neraka lebih jauh dari antara timur dan barat”.

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Ketahuilah, bahwasanya seyogyanya bagi setiap hamba hendaklah ia menjaga lisannya dari seluruh ucapan kecuali ucapan yang ada maslahat padanya. Apabila berbicara atau diam sama maslahatnya, maka yang sesuai sunnah adalah memilih diam. Karena terkadang ucapan yang mubah dapat menyeret kepada yang haram atau makruh, bahkan asalnya inilah yang terjadi, dan keselamatan tidak ada yang bisa menyamai harganya” (Lihat Al-Adzkar Imam An-Nawawi (1/332).

Nabi r bersabda, “Termasuk di antara baiknya islam(nya) seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak berguna baginya” (HR. Tirmidzi (2318).

Nabi r juga bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia bicara yang baik (bermanfaat) atau diam” (HR. Bukhari dan Muslim).

Seorang muslim, ketika dia hendak berbicara,  hendaknya ia menimbang apakah berguna atau tidak? Jika tidak berguna, hendaknya dia memilih diam. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Jika seseorang berbicara hendaklah ia memikirkan sebelum mengucapkannya, jika nyata maslahatnya, ia berbicara dan jika ia ragu, ia diam sampai jelas maslahatnya” (Lihat Al-Adzkar oleh Imam An-Nawawi (1/332). Beliau rahimahullah juga pernah menasehati sahabat yang juga muridnya, “Janganlah kamu berbicara dalam perkara yang tidak berguna bagimu. Sesungguhnya jika engkau mengucapkan satu kata, ia akan menguasaimu dan engkau tidak bisa menguasainya” (Lihat Al-Adzkar oleh Imam An-Nawawi (1/335).

Lidah adalah duta hati, jika engkau ingin mengetahui hati seseorang, lihatlah apa yang biasa dia ucapkan. Sesungguhnya itu akan menyingkap apa yang dihatinya, suka atau tidak suka.

Hati itu seperti kuali yang mendidih, lidah adalah sendoknya. Perhatikanlah ketika seseorang berbicara, sesungguhnya ia sedang menyendokkan isi hatinya kepadamu, dengan  beragam rasa, pahit, manis, asam, pedas dan lainnya. Sebagaimana engkau bisa merasakan masakan dalam kuali dengan lidah, engkau juga bisa merasakan hati lawan bicaramu dengan gerak lidahnya ketika bertutur-kata.

Sungguh mengherankan, seseorang bisa dengan mudah menjaga dirinya dari memakan yang haram, berbuat zalim, zina, mencuri, meminum khamar dan dari memandang yang haram, tetapi tidak bisa menahan gerak lidahnya yang lunak tidak bertulang itu. Bahkan seseorang yang zhahirnya dikenal ta’at, berwibawa dan sopan, tetapi dia membiarkan lidahnya mengucapkan kalimat yang dianggapnya sepele padahal satu kalimat itu saja cukup untuk mencampakkannya ke dalam neraka.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Jundub t, ia berkata, Rasulullah r bersabda, “Seseorang berkata, ‘Demi Allah, Allah tidak mengampuni si fulan’. Maka Allah I  berkata, “Siapa orang yang lancang mendahuluiku mengatakan bahwa Aku tidak mengampuni fulan? Sesungguhnya Aku telah mengampuni si fulan dan Aku hapus amalanmu”.

Subhanallah. Satu kalimat saja yang dianggapnya remeh, ternyata menghapuskan amal-amalnya. Hilanglah shalat yang dulu dikerjakannya. Lenyaplah puasa yang dulu ditunaikannya. Sirnalah zakat, qiyam dan amal kebajikannya. Karena kelancangan lidahnya mendahului apa yang menjadi hak Allah I.

Dahulu, para pendahulu yang shalih (salafus shalih) di kalangan para sahabat, tabi’in, atba’ at-tabi’in dan para ulama yang mengikuti mereka,  sangat menjaga lidah mereka. Setiap saat mereka menghisab kalimat yang mereka ucapkan.

Ibnu Buraidah rahimahullah berkata, “Aku melihat Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma memegang lidahnya lalu berkata, ‘Katakanlah yang baik engkau pasti beruntung. Atau diamlah dari keburukan engkau pasti selamat’. Maka ditanyakan kepadanya, ‘Kenapa engkau mengucapkan ini?’. Ia menjawab, “Aku dengar, bahwasanya seorang manusia tidak lebih menyesal dan marah kepada anggota tubuhnya selain dari pada lidahnya kecuali orang yang mengucapkan kata-kata yang baik atau menukilkan yang baik dengan lidahnya”.

Yunus bin ‘Ubaid rahimahullah berkata, “Aku tidak melihat seseorang yang lidahnya terjaga melainkan aku melihatnya pula pada seluruh amalannya. Dan seorang yang rusak tutur katanya melainkan aku melihatnya tampak pada seluruh amalannya”.

Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berpetuah, “Barangsiapa yang menganggap perkataannya bagian dari amalnya, niscaya sedikit perkataannya pada sesuatu yang tidak bermanfaat”.

Abu Hatim rahimahullah berkata, “Wajib bagi orang yang berakal agar berlaku adil kepada telinga dan mulutnya. Dia harus tahu, bahwa ia diberi dua telinga dan satu mulut adalah agar ia lebih banyak mendengar dari pada berbicara. Karena kalau dia berbicara bisa jadi dia akan menyesali dan apabila tidak berbicara dia tidak menyesal. Dan dia akan lebih mudah membantah apa yang tidak dia ucapkan dari pada membantah apa yang telah dia ucapkan”.

Di balik itu semua, lidah juga dapat menyebabkan dua petaka besar, jika seseorang selamat dari yang satunya belum tentu selamat dari yang berikutnya. Dua petaka atau bencana itu adalah petaka berbicara dan petaka diam.

Sikap bungkam dan mendiamkan kebenaran adalah sebuah petaka. Begitupula, orang yang mengucapkan perkataan yang batil pun adalah sebuah petaka.

Orang-orang yang berjalan di atas jalan yang lurus, semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan mereka, berada di antara dua petaka tersebut. Mereka menahan lidah mereka dari perkataan yang batil dan melepaskannya untuk sesuatu yang mendatangkan manfaat kepada mereka di akhirat. Oleh karena itu, kita tidak adakan dapatkan salah seorang mereka melontarkan kata-kata yang tidak mendatangkan manfaat apalagi yang bisa membahayakan di akhirat. Rasulullah r bersabda, “Bukanlah seorang mukmin itu yang  suka mencela, melaknat, berkata yang keji dan kotor” (HR. Bukhari).

Seorang hamba, bisa jadi di hari kiamat datang membawa kebaikan sebesar gunung, lalu dia dapatkan ternyata lidahnya telah memusnahkan semuanya. Atau sebaliknya, dia datang membawa kesalahan yang banyak ternyata lidahnya menghapusnya karena dia banyak berdzikir dan yang berkaitan dengannya.

Ketika seseorang datang kepada Nabi r  lalu berkata, “Wahai Rasulullah, nasehatilah aku”. Rasul r bersabda  “Jika engkau berdiri dalam shalatmu, maka shalatlah seolah-olah itu shalat terakhirmu. Dan janganlah engkau mengucapkan kalimat yang esok membuatmu menyesal dan bersungguh-sungguhlah memutus harapan terhadap apa yang ada di tangan manusia” (HR. Ahmad dan Baihaqi dan dishahihkan oleh Al-Albani (Shahih Al-Jami’ no. 742).

Kalau saja setiap kita memegang tiga wasiat ini; shalat dengan khusyu’, menjaga lidah, dan     menggantungkan harapan hanya kepada Allah, niscaya keberuntungan menyertai langkahnya.

Sekali lagi, dengan lisan, seorang hamba bisa mencapai derajat yang tertinggi, bahkan mendapat karunia yang amat agung di sisi Allah I. Namun sebaliknya, dengan lisan pula seorang hamba jatuh tersungkur ke dalam jurang kehinaan yang sedalam-dalamnya.

Rasulullah r bersabda, “Sesungguhnya seseorang mengucapkan kalimat dari keridhaan Allah yang tidak diperhatikannya, namun Allah mengangkatnya disebabkan kalimat itu beberapa derajat, dan sesungguhnya seorang hamba mengucapkan kalimat dari kemurkaan Allah yang tidak di-perhatikannya, sehingga Allah melemparkannya disebabkan kalimat itu ke dalam Neraka Jahanam.” (HR. Bukhari).

Rasulullah r bersabda, “Apakah ada yang menjerumuskan manusia dengan wajah-wajah mereka (terseret) selain hasil dari lidah mereka?” (HR. Tirmidzi).

“Sesungguhnya seseorang dari kalian berkata dengan perkataan yang diridhai Allah, dia tidak menyangka bahwa kalimat itu bisa sampai pada apa yang dicapai (oleh kalimat itu), kemudian Allah mencatat baginya disebabkan kalimat itu pada keridhaanNya sampai hari dia bertemu denganNya.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, An-Nasa’I dan Ibnu Hibban dari sahabat Bilal bin Harits t).

Oleh karena itu, ketika Uqbah bin Amir t bertanya kepada Rasulullah, “Apa keselamatan itu?”. Maka Rasulullah r  menjawab, “Tahanlah lidahmu dan jadikanlah rumahmu lapang bagimu, serta tangisilah kesalahanmu” (HR. Abdullah bin Al-Mubarak dalam Az-Zuhud (no.134), Ahmad (5/259) dan At-Tirmidzi (2/65) (Ash-Shahihah 2/581).

Semoga Allah menjaga kita semua dari petaka lidah. Semoga Allah menguatkan kita untuk menyuarakan kebenaran. Semoga Allah menguatkan kita untuk menahan lidah dari kebatilan, Amin. Wallahu A’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...