Juni 15, 2012

Agar Ikhlas Dalam Setiap Amal

Seringkali kita terbentur dengan sulitnya menghadirkan keikhlasan dalam setiap amal. Padahal ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya amalan, di samping keharusan amalan tersebut mencocoki contoh dari Sang Nabi r.

Ikhlas di sini bukanlah “ikhlas” dengan makna “rela atau ridha” sebagaimana istilah yang biasa kita gunakan sehari – hari. Bukan itu!

Tapi ikhlas di sini adalah memurnikan amalan dan ibadah hanyalah kepada Allah I satu – satunya, tidak kepada yang lainnya.

Dalam setiap kesempatannya, setan akan senantiasa menggoda manusia untuk merusak agar melenceng dari keikhlasan yang sesungguhnya. Seorang mukmin akan senantiasa berjihad dengan musuhnya, iblis, sampai dia menemui Rabb-nya di atas keimanan kepadaNya dan keikhlasan di setiap amal yang dikerjakannya.

Syaikh DR. Abdul Muhsin Al-Qasim, beliau adalah  salah seorang imam dan khatib Masjid Nabawi saat ini, memberikan tips di antara faktor yang dapat mendorong seorang untuk berlaku ikhlas. Kami tuliskan secara singkat kepada para pembaca sekalian. Semoga bermanfaat.

Berdo’a

Hidayah berada di tangan Allah I dan hati para hamba berada di antara dua jari Allah I. Dia membolak-balikkannya sesuai kehendakNya. Oleh karena itu, mohonlah perlindungan kepadaNya, Dzat yang ditanganNya-lah hidayah berada, tampakkanlah hajat dan kefakiranmu kepadaNya. mintalah selalu kepadaNya agar Dia memberikan keikhlasan kepadamu. Do’a yang sering dipanjatkan oleh Umar bin Khaththab t  adalah do’a berikut :
Ya Allah, jadikanlah seluruh amalku sebagai amal yang shalih, Ikhlas karena mengharap Wajah-Mu, dan janganlah jadikan di dalam amalku bagian untuk siapapun.”

Menyembunyikan Amal

Amal yang tersembunyi -meskipun memang amal tersebut patut disembunyikan-, lebih layak diterima di sisiNya dan hal tersebut merupakan indikasi kuat bahwa amal tersebut dikerjakan dengan ikhlas.

Seorang mukhlis yang jujur senang menyembunyikan berbagai kebaikannya sebagaimana dia suka apabila keburukannya tidak terkuak.

Hal ini sebagaimana diutarakan oleh Nabi r, artinya : Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah ta’ala dalam naunganNya pada hari dimana tidak ada naungan selain naungan-Nya... (salah satunya) ; seorang pria yang bersedekah kemudian dia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang telah disedekahkan oleh tangan kanannya”      (HR. Bukhari dan Muslim).

Bisyr bin Harits rahimahullah mengatakan, “Janganlah engkau beramal untuk diingat. Sembunyikanlah kebaikan sebagaimana engkau menyembunyikan keburukan. Shalat nafilah yang dikerjakan pada malam hari lebih utama daripada shalat sunnah pada siang hari, demikian pula beristighfar di waktu sahur daripada waktu selainnya, dikarenakan pada saat itu merupakan waktu yang lebih mendukung untuk menyembunyikan dan mengikhlaskan amal.”

Melihat Amal Orang Shalih yang Berada di Atasmu

Janganlah Anda memperhatikan amalan orang yang sezaman dengan Anda, yaitu orang berada di bawahmu dalam hal berbuat kebaikan. Perhatikan dan jadikanlah para nabi dan orang shalih terdahulu sebagai panutan Anda. Allah I  berfirman, artinya : “Mereka Itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, Maka ikutilah petunjuk mereka (QS. Al-An’am : 90).

Bacalah biografi para ulama, ahli ibadah, dan zuhhad (orang yang zuhud), karena hal itu lebih mampu untuk menambah keimanan di dalam hati.
Menganggap Remeh Amalan

Penyakit yang sering melanda hamba adalah ridha (puas) dengan dirinya. Setiap orang yang memandang dirinya sendiri dengan pandangan ridha, maka hal itu akan membinasakannya.

Setiap orang yang ujub akan amal yang telah dikerjakannya, maka keikhlasan sangat sedikit menyertai amalannya, atau bahkan tidak ada sama sekali keikhlasan dalam amalnya, dan bisa jadi amal shalih yang telah dikerjakan tidak bernilai.

Sa’id bin Jubair t mengatakan, “Seorang bisa masuk surga berkat dosanya  dan seorang bisa masuk neraka berkat kebaikannya. Maka ada yang bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi?” Sa’id t menjawab, “Pria tadi mengerjakan kemaksiatan namun dirinya senantiasa takut akan siksa Allah atas dosa yang telah dikerjakannya, sehingga tatkala bertemu Allah, Dia mengampuninya dikarenakan rasa takutnya kepada Allah. Pria yang lain mengerjakan suatu kebaikan, namun dia senantiasa ujub (bangga) dengan amalnya tersebut, sehingga tatkala bertemu Allah, dia pun dimasukkan ke dalam neraka Allah.”

Khawatir Amal Tidak Diterima

Khawatirlah terhadap setiap amal shalih yang telah Anda perbuat. Apabila Anda telah mengerjakannya, tanamkanlah rasa takut, khawatir jika amal tersebut tidak diterima. Di antara do’a yang dipanjatkan para salaf :
 Ya Allah kami memohon kepada-Mu amal yang shalih dan senantiasa terpelihara.”

Di antara bentuk keterpeliharaan amal shalih adalah amal tersebut tidak disertai dengan rasa ujub dan bangga dengan amal tersebut, namun justru amal shalih terpelihara dengan adanya rasa takut dalam diri seorang bahwa amal yang telah dikerjakannya tidak serta merta diterima olehNya.

Allah I berfirman, artinya : “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian) mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. dan Sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu.(QS. An Nahl: 92).

Imam Ahmad dan Tirmidzi telah meriwayatkan hadits dari Ummul Mukminin, 'Aisyah radhiyallahu 'anha. Dia bertanya kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah , mengenai ayat :
"Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka." (QS. Al-Mukminun : 60),
“ Apakah mereka yang tersebut dalam ayat itu adalah orang-orang yang melakukan tindak pencurian, perzinaan, dan meminum khamr, hingga mereka takut kepada Allah (atas kemaksiatan yang telah dikerjakannya)? Nabi r  pun menjawab, "Bukan, wahai putri Ash- Shiddiq. Akan tetapi, mereka adalah orang yang menunaikan shalat, puasa, dan sedekah, namun mereka khawatir apabila amalan tersebut tidak diterima olehNya."

Maka, sungguh keikhlasan memerlukan mujadahah (perjuangan) yang dilakukan sebelum, ketika, dan setelah beramal !

Tidak Terpengaruh Perkataan Manusia atas Amalan yang Telah Dikerjakan

Seorang yang diberi taufik oleh Allah Ta’ala tidaklah terpengaruh oleh pujian manusia apabila mereka memujinya atas kebaikan yang telah dilakukannya. Apabila dia mengerjakan ketaatan, maka pujian yang dilontarkan oleh manusia hanya akan menambah ketawadhu’an dan rasa takut kepada Allah. Dia yakin bahwa pujian manusia kepada dirinya merupakan fitnah baginya, sehingga dia pun berdo’a kepada Allah Ta’ala agar menyelamatkan dirinya dari fitnah tersebut. Dia tahu bahwa hanya Allah semata, yang pujianNya bermanfaat dan celaanNya semata yang mampu memudharatkan hamba.

Ibnul Jauzi rahimahullah mengatakan, "Meninggalkan perhatian makhluk dan tidak mencari-cari kedudukan di hati mereka dengan beramal shalih, mengikhlaskan niat, dan menyembunyikan amal merupakan faktor yang mampu meninggikan derajat orang yang mulia."

Sadar bahwa Manusia Bukanlah Pemilik Surga dan Neraka

Apabila hamba mengetahui manusia yang menjadi faktor pendorong untuk melakukan riya’ (ingin dilihat) akan berdiri bersamanya di padang Mahsyar dalam keadaan takut dan telanjang, dia akan mengetahui bahwasanya memalingkan niat ketika beramal kepada mereka tidaklah akan mampu meringankan kesulitan yang dialaminya di padang Mahsyar. Bahkan mereka akan mengalami kesempitan yang sama dengan dirinya.

Apabila Anda telah mengetahui hal itu, niscaya Anda akan mengetahui bahwa mengikhlaskan amal adalah benar adanya, tidak sepatutnya amalan ditujukan kecuali kepada Dzat yang memiliki surga dan neraka.

Oleh karena itu, seorang mukmin wajib meyakini bahwa manusia tidaklah memiliki surga sehingga mereka mampu memasukkan Anda ke dalamnya. Demikian pula, mereka tidaklah mampu untuk mengeluarkan Anda dari neraka apabila Anda meminta mereka untuk mengeluarkan Anda. Bahkan apabila seluruh umat manusia, dari nabi Adam hingga yang terakhir, berkumpul dan berdiri di belakang Anda, mereka tidaklah mampu untuk menggiring Anda ke dalam surga meski selangkah. Dengan demikian, mengapa Anda mesti riya di hadapan mereka, padahal mereka tidak mampu memberikan apapun kepada Anda?

Rasulullah r bersabda, artinya : “Barangsiapa yang berbuat riya, maka Allah akan menyingkap niat (buruknya) itu di hadapan manusia” (HR. Muslim).

Ingatlah Anda Sendirian di Dalam Kubur

Jiwa akan merasa tenang dengan mengingat perjalanan yang akan dilaluinya di akhirat. Apabila hamba meyakini bahwa dirinya akan dimasukkan ke dalam liang lahat sendiri, tanpa seorang pun menemani, dan tidak ada yang bermanfaat bagi dirinya selain amal shalih, dan dia yakin bahwa seluruh manusia,  tidak akan mampu menghilangkan sedikit pun, azab kubur yang diderita, maka dengan demikian hamba akan menyakini bahwa tidak ada yang mampu menyelematkannya melainkan mengkihlaskan amal kepada Sang Pencipta I semata.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, "Persiapan yang benar untuk bertemu dengan Allah merupakan salah satu faktor yang paling bermanfaat dan paling ampuh bagi hamba untuk merealisasikan keistiqamahan diri. Karena setiap orang yang mengadakan persiapan untuk bertemu dengan-Nya, hatinya akan terputus dari dunia dan segala isinya."

Demikian, semoga Anda, kami dan kita mampu menghadirkan keikhlasan dalam setiap amalan. Wallahul Muwaffiq.

[Sumber : Khuthuwaat Ila As-sa’adah karya DR. Abdul Muhsin Al-Qasim, disadur dan disesuaikan tanpa mengubah esensi oleh Redaksi].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...