Seringkali kita terbentur dengan sulitnya menghadirkan
keikhlasan dalam setiap amal. Padahal ikhlas adalah salah satu syarat
diterimanya amalan, di samping keharusan amalan tersebut mencocoki contoh dari
Sang Nabi r.
Ikhlas di sini bukanlah “ikhlas” dengan makna “rela atau
ridha” sebagaimana istilah yang biasa kita gunakan sehari – hari. Bukan itu!
Tapi ikhlas di sini adalah memurnikan amalan dan ibadah
hanyalah kepada Allah I satu – satunya, tidak
kepada yang lainnya.
Dalam setiap kesempatannya, setan akan senantiasa menggoda manusia untuk
merusak agar melenceng
dari keikhlasan yang sesungguhnya. Seorang mukmin akan senantiasa berjihad
dengan musuhnya, iblis, sampai dia menemui Rabb-nya di atas keimanan kepadaNya
dan keikhlasan di setiap amal yang dikerjakannya.
Syaikh DR. Abdul Muhsin Al-Qasim, beliau adalah salah seorang imam dan khatib Masjid Nabawi
saat ini, memberikan tips di antara faktor yang dapat mendorong seorang untuk
berlaku ikhlas. Kami tuliskan secara singkat kepada para pembaca sekalian.
Semoga bermanfaat.
Hidayah berada di tangan Allah I dan hati para hamba berada di antara dua
jari Allah I. Dia membolak-balikkannya
sesuai kehendakNya. Oleh karena itu, mohonlah perlindungan kepadaNya, Dzat yang
ditanganNya-lah hidayah berada, tampakkanlah hajat dan kefakiranmu kepadaNya.
mintalah selalu kepadaNya agar Dia memberikan keikhlasan kepadamu. Do’a yang sering dipanjatkan oleh Umar
bin Khaththab t adalah do’a berikut :
“Ya Allah, jadikanlah seluruh amalku sebagai amal yang
shalih, Ikhlas karena mengharap Wajah-Mu, dan janganlah jadikan di dalam amalku
bagian untuk siapapun.”
Menyembunyikan Amal
Amal yang tersembunyi -meskipun memang amal tersebut patut
disembunyikan-, lebih layak diterima di sisiNya dan hal tersebut merupakan
indikasi kuat bahwa amal tersebut dikerjakan dengan ikhlas.
Seorang mukhlis yang jujur senang
menyembunyikan berbagai kebaikannya sebagaimana dia suka apabila keburukannya
tidak terkuak.
Hal ini sebagaimana diutarakan oleh Nabi r, artinya : “Ada
tujuh golongan yang akan dinaungi Allah ta’ala dalam naunganNya pada hari
dimana tidak ada naungan selain naungan-Nya... (salah satunya) ; seorang
pria yang bersedekah kemudian dia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya
tidak tahu apa yang telah disedekahkan oleh tangan kanannya” (HR. Bukhari dan Muslim).
Bisyr bin Harits
rahimahullah mengatakan, “Janganlah engkau beramal
untuk diingat. Sembunyikanlah kebaikan sebagaimana engkau menyembunyikan
keburukan. Shalat nafilah yang dikerjakan pada
malam hari lebih utama daripada shalat sunnah pada siang hari, demikian pula
beristighfar di waktu sahur daripada waktu selainnya, dikarenakan pada saat itu
merupakan waktu yang lebih mendukung untuk menyembunyikan dan mengikhlaskan
amal.”
Melihat Amal Orang Shalih yang Berada di
Atasmu
Janganlah Anda
memperhatikan amalan orang yang sezaman dengan Anda, yaitu orang berada di bawahmu dalam hal
berbuat kebaikan. Perhatikan dan jadikanlah para nabi dan orang shalih
terdahulu sebagai panutan Anda.
Allah I berfirman, artinya : “Mereka Itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah,
Maka ikutilah petunjuk mereka” (QS. Al-An’am : 90).
Bacalah biografi para ulama, ahli ibadah, dan zuhhad
(orang yang zuhud), karena hal itu lebih mampu untuk menambah keimanan di dalam
hati.
Menganggap Remeh Amalan
Penyakit yang sering melanda hamba adalah
ridha (puas) dengan dirinya. Setiap orang yang memandang dirinya sendiri dengan
pandangan ridha, maka hal itu akan membinasakannya.
Setiap orang yang ujub akan amal yang telah
dikerjakannya, maka keikhlasan sangat sedikit menyertai amalannya, atau bahkan
tidak ada sama sekali keikhlasan dalam amalnya, dan bisa jadi amal shalih yang
telah dikerjakan tidak bernilai.
Sa’id bin Jubair t mengatakan, “Seorang bisa masuk surga
berkat dosanya dan seorang bisa masuk
neraka berkat kebaikannya. Maka ada yang bertanya, “Bagaimana hal itu bisa
terjadi?” Sa’id t menjawab, “Pria tadi mengerjakan
kemaksiatan namun dirinya senantiasa takut akan siksa Allah atas dosa yang telah
dikerjakannya, sehingga tatkala bertemu Allah, Dia mengampuninya dikarenakan
rasa takutnya kepada Allah. Pria yang lain mengerjakan suatu kebaikan, namun
dia senantiasa ujub (bangga) dengan amalnya tersebut, sehingga tatkala bertemu
Allah, dia pun dimasukkan ke dalam neraka Allah.”
Khawatir Amal Tidak Diterima
Khawatirlah terhadap setiap amal shalih yang telah Anda perbuat. Apabila Anda telah mengerjakannya, tanamkanlah rasa
takut, khawatir jika amal tersebut tidak diterima. Di antara do’a yang dipanjatkan para salaf :
“Ya Allah kami memohon
kepada-Mu amal yang shalih dan senantiasa terpelihara.”
Di antara bentuk keterpeliharaan amal shalih adalah amal
tersebut tidak disertai dengan rasa ujub dan bangga dengan amal tersebut, namun
justru amal shalih terpelihara dengan adanya rasa takut dalam diri seorang
bahwa amal yang telah dikerjakannya tidak serta merta diterima olehNya.
Allah I berfirman,
artinya : “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan
benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu
menjadikan sumpah (perjanjian) mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan
adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya
Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. dan Sesungguhnya di hari kiamat akan
dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu.” (QS. An
Nahl: 92).
Imam Ahmad dan Tirmidzi telah meriwayatkan
hadits dari Ummul Mukminin, 'Aisyah radhiyallahu 'anha. Dia bertanya kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah , mengenai ayat :
"Dan orang-orang yang memberikan apa
yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa)
Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka." (QS. Al-Mukminun : 60),
“ Apakah mereka yang tersebut dalam ayat itu adalah
orang-orang yang melakukan tindak pencurian, perzinaan, dan meminum khamr, hingga
mereka takut kepada Allah (atas kemaksiatan yang telah dikerjakannya)? Nabi r pun menjawab, "Bukan, wahai putri Ash-
Shiddiq. Akan tetapi, mereka adalah orang yang menunaikan shalat, puasa, dan
sedekah, namun mereka khawatir apabila amalan tersebut tidak diterima
olehNya."
Maka, sungguh keikhlasan memerlukan mujadahah (perjuangan) yang dilakukan sebelum,
ketika, dan setelah beramal !
Tidak Terpengaruh Perkataan Manusia atas
Amalan yang Telah Dikerjakan
Seorang yang diberi taufik oleh Allah Ta’ala tidaklah
terpengaruh oleh pujian manusia apabila mereka memujinya atas kebaikan yang
telah dilakukannya. Apabila
dia mengerjakan ketaatan, maka pujian yang dilontarkan oleh manusia hanya akan
menambah ketawadhu’an dan rasa takut kepada Allah. Dia yakin bahwa pujian
manusia kepada dirinya merupakan fitnah baginya, sehingga dia pun berdo’a
kepada Allah Ta’ala agar menyelamatkan dirinya dari
fitnah tersebut. Dia tahu bahwa hanya Allah semata, yang pujianNya bermanfaat
dan celaanNya semata yang mampu memudharatkan hamba.
Ibnul Jauzi rahimahullah mengatakan, "Meninggalkan
perhatian makhluk dan tidak mencari-cari kedudukan di hati mereka dengan
beramal shalih, mengikhlaskan niat, dan menyembunyikan amal merupakan faktor
yang mampu meninggikan derajat orang yang mulia."
Sadar bahwa Manusia Bukanlah Pemilik Surga dan
Neraka
Apabila hamba mengetahui manusia yang menjadi faktor
pendorong untuk melakukan riya’ (ingin dilihat) akan berdiri bersamanya
di padang Mahsyar dalam keadaan takut dan telanjang, dia akan mengetahui
bahwasanya memalingkan niat ketika beramal kepada mereka tidaklah akan mampu
meringankan kesulitan yang dialaminya di padang Mahsyar. Bahkan mereka akan
mengalami kesempitan yang sama dengan dirinya.
Apabila Anda telah mengetahui hal itu, niscaya Anda akan
mengetahui bahwa mengikhlaskan amal adalah benar adanya, tidak sepatutnya amalan
ditujukan kecuali kepada Dzat yang memiliki surga dan neraka.
Oleh karena itu, seorang mukmin wajib meyakini bahwa
manusia tidaklah memiliki surga sehingga mereka mampu memasukkan Anda ke
dalamnya. Demikian pula, mereka tidaklah mampu
untuk mengeluarkan Anda dari neraka apabila Anda meminta mereka untuk mengeluarkan Anda. Bahkan apabila seluruh umat manusia, dari
nabi Adam hingga yang terakhir, berkumpul dan berdiri di belakang Anda, mereka tidaklah mampu untuk menggiring Anda ke dalam surga meski selangkah. Dengan demikian, mengapa Anda mesti riya’ di hadapan mereka, padahal mereka tidak mampu
memberikan apapun kepada Anda?
Rasulullah r bersabda, artinya : “Barangsiapa yang berbuat riya, maka Allah akan menyingkap niat (buruknya) itu di hadapan manusia” (HR. Muslim).
Ingatlah Anda Sendirian di Dalam Kubur
Jiwa akan merasa tenang dengan mengingat
perjalanan yang akan dilaluinya di akhirat. Apabila hamba meyakini bahwa
dirinya akan dimasukkan ke dalam liang lahat sendiri, tanpa seorang pun
menemani, dan tidak ada yang bermanfaat bagi dirinya selain amal shalih, dan
dia yakin bahwa seluruh manusia, tidak
akan mampu menghilangkan sedikit pun, azab kubur yang diderita, maka dengan
demikian hamba akan menyakini bahwa tidak ada yang mampu menyelematkannya
melainkan mengkihlaskan amal kepada Sang Pencipta I semata.
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, "Persiapan yang benar untuk bertemu
dengan Allah merupakan salah satu faktor yang paling bermanfaat dan paling
ampuh bagi hamba untuk merealisasikan
keistiqamahan diri. Karena setiap orang yang mengadakan persiapan untuk bertemu
dengan-Nya, hatinya akan terputus dari dunia dan segala isinya."
Demikian, semoga Anda, kami dan kita mampu menghadirkan
keikhlasan dalam setiap amalan. Wallahul Muwaffiq.
[Sumber : Khuthuwaat Ila As-sa’adah karya DR.
Abdul Muhsin Al-Qasim, disadur dan disesuaikan tanpa mengubah esensi oleh
Redaksi].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar