Tak terasa, waktu terus
berputar, menyisakan pahala atau dosa yang telah kita torehkan dalam panggung
kehidupan ini. Hari berganti hari, masih saja Allah I Yang Maha Kasih kepada hambaNya memberi
kita kesempatan untuk terus mengumpulkan bekal di hari perjumpaannya kelak.
Allah I dengan kehendakNya, menjadikan sebagian waktu yang ada lebih mulia
dibanding yang lainnya. Bulan ramadhan yang baru saja lewat, menyisakan
kenangan manis di benak kita. Disusul bulan Syawal yang menjanjikan pahala
sempurna terhadap puasa yang telah ditunaikan. Nah, tidak sampai di situ, beberapa hari yang akan
datang, bulan haji kan segera hadir.
Tahukah Anda bahwa ada
hari-hari di bulan tersebut yang menyimpan keutamaan besar yang tidak pantas
kita lewatkan begitu saja? Kapankah itu? Hari –
hari tersebut adalah 10 hari di awal bulan ini. Dalam sebuah hadits yang
diriwayatkan oleh sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah r bersabda,
artinya, “Tidak ada satu amal sholeh yang lebih
dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini
(yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para
sahabat bertanya : “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi r menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang
berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali
satupun.“ (HR. Abu Daud dan lainnya. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala
berfirman, artinya, “Dan
demi malam yang sepuluh.” (QS. Al Fajr : 2).
Di sini Allah I menggunakan kalimat sumpah. Ini
menunjukkan keutamaan sesuatu yang disebutkan dalam sumpah. (Lihat Taisir
Karimir Rahman, ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, Muassasah
Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1420 H, hal. 923).
Makna ayat ini, ada empat
tafsiran dari para ulama yaitu : sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah, sepuluh
hari terakhir bulan Ramadhan, sepuluh hari pertama bulan Ramadhan dan sepuluh
hari pertama bulan Muharram. (Zaadul Masiir,
Ibnul Jauziy, Al Maktab Al Islami, cetakan ketiga, 1404, 9/103-104).
Malam (lail) kadang juga
digunakan untuk menyebut hari (yaum), sehingga
ayat tersebut bisa dimaknakan sepuluh hari Dzulhijah. (Lihat Tafsir Juz ‘Amma, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah,
cetakan tahun 1424 H, hal. 159).
Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan
bahwa tafsiran yang menyebut sepuluh hari Dzulhijah, itulah yang lebih tepat. Pendapat
ini dipilih oleh mayoritas pakar tafsir dari
para salaf dan
selain mereka, juga menjadi pendapat Ibnu ‘Abbas. (Lihat Latho-if
Al Ma’arif,
Ibnu Rajab Al Hambali, Al Maktab Al Islamiy, cetakan pertama, tahun 1428 H,
hal. 469)
Lantas, manakah yang lebih utama, apakah 10
hari pertama Dzulhijah ataukah 10 malam terakhir bulan Ramadhan?
Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan
penjelasan yang bagus tentang hal ini dalam kitabnya Zaadul Ma’ad : “Sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan lebih
utama dari sepuluh malam pertama dari bulan Dzulhijjah. Dan sepuluh hari
pertama Dzulhijah lebih utama dari sepuluh hari terakhir Ramadhan.
Dari penjelasan keutamaan seperti ini, hilanglah kerancuan yang ada. Jelaslah
bahwa sepuluh hari terakhir Ramadhan lebih
utama ditinjau dari malamnya. Sedangkan sepuluh hari pertama Dzulhijah lebih
utama ditinjau dari hari (siangnya) karena di dalamnya terdapat hari nahr (qurban),
hari ‘Arofah dan terdapat hari tarwiyah (8 Dzulhijjah).” (Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim, Muassasah Ar Risalah,
cetakan ke-14, 1407, 1/35)
Amalan
Utama di Awal Dzulhijah
Beberapa amalan yang
dapat dilakukan memanfaat ketamaan hari – hari ini :
Pertama : Puasa
Disunnahkan untuk memperbanyak puasa dari tanggal 1
hingga 9 Dzulhijah karena Nabi r mendorong kita untuk beramal sholeh ketika itu dan puasa adalah sebaik-baiknya
amalan sholeh.
Sebuah hadits, dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya,
beberapa istri Nabi r mengatakan, artinya, “Rasulullah r biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada
hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulanny (Yang jadi patokan di sini adalah bulan Hijriyah, bukan
bulan Masehi ), …” (HR.
Abu Daud no. 2437. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Di antara sahabat yang mempraktekkan puasa
selama sembilan hari awal Dzulhijah adalah Ibnu ‘Umar. Ulama lain seperti
Al-Hasan Al-Bashri, Ibnu Sirin dan Qotadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa
pada hari-hari tersebut. Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama. (Liha t Latho-if
Al Ma’arif,
hal. 459).
Yang termasuk amalan sholeh juga adalah
bertakbir, bertahlil, bertasbih, bertahmid, beristighfar, dan memperbanyak
do’a. Disunnahkan untuk mengangkat (mengeraskan) suara ketika bertakbir di
pasar, jalan-jalan, masjid dan tempat-tempat lainnya.
Imam Bukhari rahimahullah menyebutkan,
Ibnu ‘Abbas berkata, “Berdzikirlah kalian pada Allah di hari-hari yang
ditentukan yaitu 10 hari pertama Dzulhijah dan juga pada hari-hari
tasyriq.” Ibnu
‘Umar dan Abu Hurairah pernah keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama
Dzulhijah, lalu mereka bertakbir, lantas manusia pun ikut bertakbir.
Muhammad bin ‘Ali pun bertakbir setelah
shalat sunnah. (Dikeluarkan
oleh Bukhari tanpa sanad (mu’allaq), pada Bab “Keutamaan beramal di hari
tasyriq”).
Catatan :
Perlu diketahui bahwa takbir itu ada dua
macam, yaitu takbir muthlaq (tanpa
dikaitkan dengan waktu tertentu) dan takbir muqayyad (dikaitkan
dengan waktu tertentu). Takbir yang dimaksudkan dalam penjelasan di atas adalah
sifatnya muthlaq, artinya tidak dikaitkan pada waktu dan tempat
tertentu. Jadi boleh dilakukan di pasar, masjid, dan saat berjalan. Takbir
tersebut dilakukan dengan mengeraskan suara khusus bagi laki-laki.
Sedangkan ada juga takbir yang sifatnya muqayyad, artinya
dikaitkan dengan waktu tertentu yaitu dilakukan setelah shalat wajib
berjama’ah.
Takbir muqoyyad bagi orang yang tidak berhaji dilakukan mulai dari shalat Shubuh pada hari ‘Arafah
(9 Dzulhijah) hingga waktu ‘Ashar pada hari tasyriq yang terakhir. Adapun
bagi orang yang berhaji dimulai dari shalat Zhuhur hari Nahr (10
Dzulhijah) hingga hari tasyriq yang terakhir.
Cara bertakbir adalah dengan ucapan : Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa
ilaha illallah, Wallahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd.
Dan yang sesuai sunnah adalah bertakbir
dengan sendiri – sendiri, tidak dilakukan secara berjamaah atau dipimpin oleh
seseorang. Wallahu a’lam.
Ketiga : Menunaikan Haji dan
Umroh
Yang paling afdhal
ditunaikan di sepuluh hari pertama Dzulhijah adalah menunaikan haji ke Baitullah.
Keempat : Memperbanyak Amalan
Sholeh
Sebagaimana hadits Ibnu ‘Abbas yang kami
sebutkan di atas, dari situ menunjukkan dianjurkannya memperbanyak amalan sunnah seperti shalat, sedekah,
membaca Al-Qur’an, dan beramar ma’ruf nahi mungkar dan amalan sholeh lainnya.
Kelima: Berqurban
Yaitu
menyembelih hewan qurban sesua dengan syarat dan cara yang telah dituntunkan
oleh Allah I dan Rasulullah r (Insya Allah Anda dapat membaca penjelasan
secara panjang lebar di buku Pandua Qurban yang akan dibagikan nanti – Lihat
Pamflet).
Keenam : Bertaubat
Termasuk yang ditekankan pula di awal
Dzulhijah adalah bertaubat dari berbagai dosa dan maksiat serta
meninggalkan tindak zholim terhadap sesama.
Intinya, keutamaan sepuluh hari awal
Dzulhijah berlaku untuk amalan apa saja, tidak terbatas pada amalan tertentu,
sehingga amalan tersebut bisa shalat,
sedekah, membaca Al Qur’an, dan amalan sholih lainnya. (Lihat Tajridul Ittiba’, Syaikh Ibrahim bin ‘Amir Ar
Ruhailiy, Dar Al Imam Ahmad, hal. 116, 119-121).
Maka, sudah seharusnya setiap
muslim menyibukkan diri di hari-hari tersebut dengan melakukan ketaatan pada
Allah, dengan melakukan amalan wajib, dan menjauhi larangan Allah I.
Wallahu A’lam.
(Cuplikan Isi Buku Panduan Qurban,
Meraih Taqwa Dengan Ibadah Qurban Sesuai Tuntunan al-Qur’an dan Sunnah, yang
akan segera terbit, Insya Allah).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar