Oktober 12, 2012

Mengingatkan : Hari – Hari Istimewa di Awal Dzulhijjah

Tak terasa, waktu terus berputar, menyisakan pahala atau dosa yang telah kita torehkan dalam panggung kehidupan ini. Hari berganti hari, masih saja Allah I  Yang Maha Kasih kepada hambaNya memberi kita kesempatan untuk terus mengumpulkan bekal di hari perjumpaannya kelak.

Allah I dengan kehendakNya, menjadikan sebagian waktu yang ada lebih mulia dibanding yang lainnya. Bulan ramadhan yang baru saja lewat, menyisakan kenangan manis di benak kita. Disusul bulan Syawal yang menjanjikan pahala sempurna terhadap puasa yang telah ditunaikan. Nah,  tidak sampai di situ, beberapa hari yang akan datang, bulan haji kan segera hadir.

Tahukah Anda bahwa ada hari-hari di bulan tersebut yang menyimpan keutamaan besar yang tidak pantas kita lewatkan begitu saja? Kapankah itu? Hari – hari tersebut adalah 10 hari di awal bulan ini. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah r bersabda, artinya, “Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya : “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi r  menjawab, Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun. (HR. Abu Daud dan lainnya. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).


Di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala berfirman, artinya, Dan demi malam yang sepuluh. (QS. Al Fajr : 2).

Di sini Allah I menggunakan kalimat sumpah. Ini menunjukkan keutamaan sesuatu yang disebutkan dalam sumpah. (Lihat Taisir Karimir Rahman, ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1420 H, hal. 923).

Makna ayat ini, ada empat tafsiran dari para ulama yaitu : sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah, sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, sepuluh hari pertama bulan Ramadhan dan sepuluh hari pertama bulan Muharram. (Zaadul Masiir, Ibnul Jauziy, Al Maktab Al Islami, cetakan ketiga, 1404, 9/103-104).

Malam (lail) kadang juga digunakan untuk menyebut hari (yaum), sehingga ayat tersebut bisa dimaknakan sepuluh hari Dzulhijah. (Lihat Tafsir Juz ‘Amma, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, cetakan tahun 1424 H, hal. 159).

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan bahwa tafsiran yang menyebut sepuluh hari Dzulhijah, itulah yang lebih tepat. Pendapat ini dipilih oleh mayoritas pakar tafsir dari para salaf dan selain mereka, juga menjadi pendapat Ibnu ‘Abbas.  (Lihat Latho-if Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, Al Maktab Al Islamiy, cetakan pertama, tahun 1428 H, hal. 469)

Lantas, manakah yang lebih utama, apakah 10 hari pertama Dzulhijah ataukah 10 malam terakhir bulan Ramadhan?

Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan penjelasan yang bagus tentang hal ini dalam kitabnya Zaadul Ma’ad : “Sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan lebih utama dari sepuluh malam pertama dari bulan Dzulhijjah. Dan sepuluh hari pertama Dzulhijah lebih utama dari sepuluh hari terakhir Ramadhan. Dari penjelasan keutamaan seperti ini, hilanglah kerancuan yang ada. Jelaslah bahwa sepuluh hari terakhir Ramadhan lebih utama ditinjau dari malamnya. Sedangkan sepuluh hari pertama Dzulhijah lebih utama ditinjau dari hari (siangnya) karena di dalamnya terdapat hari nahr (qurban), hari ‘Arofah dan terdapat hari tarwiyah (8 Dzulhijjah).” (Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim, Muassasah Ar Risalah, cetakan ke-14, 1407, 1/35)

Amalan Utama di Awal Dzulhijah
Beberapa amalan yang dapat dilakukan memanfaat ketamaan hari – hari ini :

Pertama : Puasa

Disunnahkan untuk memperbanyak puasa dari tanggal 1 hingga 9 Dzulhijah karena Nabi r mendorong kita untuk beramal sholeh ketika itu dan puasa adalah sebaik-baiknya amalan sholeh.

Sebuah hadits, dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi r  mengatakan, artinya, Rasulullah r biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulanny (Yang jadi patokan di sini adalah bulan Hijriyah, bukan bulan Masehi ), …” (HR. Abu Daud no. 2437. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Di antara sahabat yang mempraktekkan puasa selama sembilan hari awal Dzulhijah adalah Ibnu ‘Umar. Ulama lain seperti Al-Hasan Al-Bashri, Ibnu Sirin dan Qotadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari-hari tersebut. Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama. (Liha t Latho-if Al Ma’arif, hal. 459).

Kedua : Takbir dan Dzikir

Yang termasuk amalan sholeh juga adalah bertakbir, bertahlil, bertasbih, bertahmid, beristighfar, dan memperbanyak do’a. Disunnahkan untuk mengangkat (mengeraskan) suara ketika bertakbir di pasar, jalan-jalan, masjid dan tempat-tempat lainnya.

Imam Bukhari rahimahullah menyebutkan, Ibnu ‘Abbas berkata, “Berdzikirlah kalian pada Allah di hari-hari yang ditentukan yaitu 10  hari pertama Dzulhijah dan juga pada hari-hari tasyriq.” Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah pernah keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijah, lalu mereka bertakbir, lantas manusia pun ikut bertakbir.
Muhammad bin ‘Ali pun bertakbir setelah shalat sunnah. (Dikeluarkan oleh Bukhari tanpa sanad (mu’allaq), pada Bab “Keutamaan beramal di hari tasyriq”).

Catatan :
Perlu diketahui bahwa takbir itu ada dua macam, yaitu takbir muthlaq (tanpa dikaitkan dengan waktu tertentu) dan takbir muqayyad (dikaitkan dengan waktu tertentu). Takbir yang dimaksudkan dalam penjelasan di atas adalah sifatnya muthlaq, artinya tidak dikaitkan pada waktu dan tempat tertentu. Jadi boleh dilakukan di pasar, masjid, dan saat berjalan. Takbir tersebut dilakukan dengan mengeraskan suara khusus bagi laki-laki.

Sedangkan ada juga takbir yang sifatnya muqayyad, artinya dikaitkan dengan waktu tertentu yaitu dilakukan setelah shalat wajib berjama’ah.

Takbir muqoyyad bagi orang yang tidak berhaji dilakukan mulai dari shalat Shubuh pada hari ‘Arafah (9 Dzulhijah) hingga waktu ‘Ashar pada hari tasyriq yang terakhir. Adapun bagi orang yang berhaji dimulai dari shalat Zhuhur hari Nahr (10 Dzulhijah) hingga hari tasyriq yang terakhir.

Cara bertakbir adalah dengan ucapan : Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha illallah, Wallahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd.

Dan yang sesuai sunnah adalah bertakbir dengan sendiri – sendiri, tidak dilakukan secara berjamaah atau dipimpin oleh seseorang. Wallahu a’lam.

Ketiga : Menunaikan Haji dan Umroh

Yang paling afdhal ditunaikan di sepuluh hari pertama Dzulhijah adalah menunaikan haji ke Baitullah.

Keempat : Memperbanyak Amalan Sholeh

Sebagaimana hadits Ibnu ‘Abbas yang kami sebutkan di atas, dari situ menunjukkan dianjurkannya memperbanyak amalan sunnah seperti shalat, sedekah, membaca Al-Qur’an, dan beramar ma’ruf nahi mungkar dan amalan sholeh lainnya.

Kelima: Berqurban

Yaitu menyembelih hewan qurban sesua dengan syarat dan cara yang telah dituntunkan oleh Allah I dan Rasulullah r (Insya Allah Anda dapat membaca penjelasan secara panjang lebar di buku Pandua Qurban yang akan dibagikan nanti – Lihat Pamflet).

Keenam : Bertaubat

Termasuk yang ditekankan pula di awal Dzulhijah adalah bertaubat dari berbagai dosa dan maksiat serta meninggalkan tindak zholim terhadap sesama.

Intinya, keutamaan sepuluh hari awal Dzulhijah berlaku untuk amalan apa saja, tidak terbatas pada amalan tertentu, sehingga amalan tersebut bisa shalat, sedekah, membaca Al Qur’an, dan amalan sholih lainnya. (Lihat Tajridul Ittiba’, Syaikh Ibrahim bin ‘Amir Ar Ruhailiy, Dar Al Imam Ahmad, hal. 116, 119-121).


Maka, sudah seharusnya setiap muslim menyibukkan diri di hari-hari tersebut dengan melakukan ketaatan pada Allah, dengan melakukan amalan wajib, dan menjauhi larangan Allah I.

Wallahu A’lam.

(Cuplikan Isi Buku Panduan Qurban, Meraih Taqwa Dengan Ibadah Qurban Sesuai Tuntunan al-Qur’an dan Sunnah, yang akan segera terbit, Insya Allah).








Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...