Setelah dua bulan lebih,
buletin kita tercinta tidak menjumpai para pembaca sekalian, alhamdulillah
berkat taufiq dan kemudahan dari Allah I, kali ini kami kembali hadir menyajikan kajian ilmu dinul
Islam, warisan nabi kita yang mulia, Muhammad r.
Semoga kehadirannya dapat
menyegarkan dan menambah khazanah keilmuan kita. Dan yang pasti, semoga dapat
mengobati kerinduan para pembaca sekalian. Ya, semoga saja!
*********
Tidak semua manusia dipilih oleh Allah untuk
kembali ke jalan yang lurus dan mengenal manhaj yang benar. Tidak semua orang
dipilih dan dimudahkan oleh Alah untuk memahami agama ini dengan pehamaman yang
benar sesuai dengan apa yang dipahami oleh Rasulullah r dan para
sahabatnya. Tidak semua. Karena masih saja, sampai hari ini kita dapati
sebagian kaum muslimin masih merasa nyaman dengan kekeliruannya, kesesatannya
dan kebodohannya.
Maka saat Allah menuntun hidup kita untuk
berjalan, berbuat, bekerja, berpikir, dan berbicara sesuai dengan manhaj salaf
(pendahulu) yang shalih, itu berarti ada nikmat yang tak terkira besarnya yang
harus kita syukuri. Ya, karena sadar atau tidak, sebenarnya kita telah menjadi pilihan-pilihan Allah di bumi.
Di saat banyak saudara-saudari muslim kita yang
sadar untuk memperjuangkan Islam dengan manhaj dan metode apa saja, kita
disadarkan oleh Allah bahwa “generasi akhir ummat ini tidak akan menjadi
generasi yang shaleh dan jaya kecuali dengan jalan yang ditempuh oleh generasi
awalnya” (La yashluhu akhiru hadzihil ummah illa bima shaluha bihi awwaluha).
Demikian kata hikmah dari ulama kita. Kita pun berupaya untuk bergerak dan
memperjuangkan agama ini sesuai kapasitas kita, tidak menyimpang dari dasar dan
pijakan para generasi awal Islam, para sahabat, tab’in, atba’ at-tabi’in dan
ulama yang mengikuti mereka.
Dampaknya, kita pun merasakan keizzahan (kemuliaan) yang luar biasa
dahsyatnya dalam diri kita. Kita bangga berpenampilan sebagai salah
seorang ikhwan atau aktivis Islam,
dengan ciri dan karakteristik lahiriyah yang shaleh. Memelihara sunnah dalam berpakaian, memelihara syiar
dan ibadah-ibadah mahdhah dan sunnah lainnya. Kita juga merasa mulia saat mewujud
sebagai salah satu bagian dari komunitas akhawat, juga dengan ciri dan karakteristik lahiriyah yang
shalehah. Menjaga aurat dengan pakaian muslimah yang sempurna, menjaga
pergaulan terhadap para lelaki bukan mahramnya dan lainnya.
Salahkah? Sampai di sini
mungkin tidak ada masalah. Bahkan semoga hal
tersebut menjadi alamat kebaikan buat kita di sisi Allah.
Hanya saja, seringkali keizzahan itu melanggar batas-batas yang semestinya. Keizzahan
itu seringkali menyeret kita menjadi merasa shaleh sendiri dan memandang rendah
orang lain yang berada di luar komunitas keshalehan kita. Mungkin tidak
terungkapkan dengan kata-kata, tapi ia bersembunyi dalam gerakan-gerakan hati
kita. Bahkan lebih parah lagi, obsesi keshalehan kita yang begitu tinggi
membuat kita memandang orang lain “yang belum shaleh” sebagai makhluk-makhluk
yang sudah tidak punya harapan lagi. Makhluk yang pantas menjadi gelap karena
dosa dan kemaksiatannya.
Kita sering menjadi “buta” tiba-tiba hingga
tidak lagi melihat ada celah buat mereka untuk kembali. Kita lupa, bahwa setiap
orang sesungguhnya punya setitik kebaikan itu dalam dirinya. Kita lupa bahwa setiap orang
sesungguhnya punya asa untuk mewujud sebagai orang yang baik, karena celah itu
selalu ada untuk dilalui berkas cahaya.
*********
Terdapat sebuah kisah
yang sungguh dapat menggugah kita tentang hal ini. Sebuah kisah
yang benar-benar menampar kesombongan kita yang bersembunyi di balik keshalehan
lahiriah kita. Kisah ini sendiri adalah kisah nyata yang dialami oleh seorang
ulama Ahlussunnah, Syekh Ahmad bin Abdurrahman Ash-Shuwayyan, yang diungkapnya
dalam buku berjudul Fi al-Bina’ al-Da’wy. Biarlah beliau sendiri yang
mengisahkannya...
*********
Hari itu saya kembali dari sebuah perjalanan
yang panjang. Dan di pesawat, Allah menakdirkan saya untuk duduk di samping
sekelompok pemuda yang nampaknya senang sekali berfoya-foya dan berhura-hura.
Tawa mereka sangat keras. Dan kegaduhan mereka pun semakin lama semakin
menjadi-jadi. Kabin pesawat pun dengan cepat menjadi ruangan yang dipenuhi asap
rokok mereka. Dan tampaknya sudah menjadi hikmah Allah bahwa pesawat itu
benar-benar penuh, hingga tidak memungkinkan bagi saya untuk mencari tempat
duduk lain.
Saya berusaha keras untuk lari dari
‘kesempitan’ ini dengan tidur. Tapi, mustahil dan sangat mustahil saya bisa
tidur dalam suasana seperti itu. Maka ketika kegaduhan itu semakin membuat
kejengkelan saya memuncak, saya pun mengeluarkan mushaf al-Qur’an, lalu
membacanya dengan suara yang rendah. Ternyata, tidak lama kemudian sebagian
dari anak-anak muda itupun mulai tenang. Sementara sebagian yang lain mulai
membaca surat kabar, dan adapula yang mulai tidur dengan lelap.
Namun, tiba-tiba, salah seorang dari mereka
berbicara dengan suara keras –dan ia duduk tepat di samping saya!- :
“Cukup!…Cukup!”
Saya menduga suara saya terlalu keras hingga
mengganggunya. Saya meminta maaf padanya. Saya pun kembali melanjutkan bacaan
saya dengan suara yang membisik hingga hanya saya sendirilah yang mendengarnya.
Tapi saya lihat ia menutupi kepalanya dengan kedua tangannya. Duduknya gelisah.
Tidak pernah diam dan terus bergerak. Hingga ia kemudian mengangkat kepalanya
dan berkata dengan penuh emosi : “Tolong! Cukuplah sudah! Cukup! Saya sudah
tidak bisa bersabar lagi!”
Ia kemudian berdiri dari tempat duduknya, lalu
menghilang selama beberapa lama. Tidak lama kemudian ia kembali lagi,
mengucapkan salam kepada saya sembari meminta maaf. Ia terdiam. Dan saya tidak
tahu apa sebenarnya yang telah terjadi. Tapi sejenak kemudian ia menoleh pada
saya, dan matanya basah oleh air mata. Ia berkata sambil berbisik: “Tiga tahun
lamanya, bahkan lebih… Aku tak pernah
meletakkan keningku di tanah…Aku tak pernah membaca satu ayat pun! Dan…satu
bulan penuh ini aku habiskan dalam perjalanan ini… tidak satupun kemaksiatan
yang tidak kukerjakan. Hingga aku pun melihatmu membaca al-Qur’an…Tiba-tiba
saja dunia menjadi gelap di hadapanku…dadaku sesak…Aku merasa seperti tercekik.
Iya, aku merasakan setiap ayat yang engkau baca menhantam tubuhku bagai
cambuk..! Aku berkata pada diriku sendiri : Sampai kapan kelalaian
ini?! Kemana aku akan berjalan di jalan ini?! Lalu apa setelah semua kelalaian
dan kesenangan ini?! Hingga aku pun segera lari ke kamar kecil. Anda tahu
kenapa?! Karena aku merasa sangat ingin menangis. Dan aku tidak menemukan
tempat sembunyi dari pandangan orang lain selain di tempat itu!!”
Demikian ia berbicara padaku…Aku pun
menyampaikan kalimat-kalimat seputar taubat dan kembali pada Allah…Dan ia pun
terdiam.
Ketika pesawat mendarat di bumi, pemuda itu
menghentikanku. Nampak sekali ia ingin menjauh dari teman-temannya. Ia bertanya
padaku, dan wajahnya menampakkan air muka yang sangat serius: “Menurut Anda,
apakah Allah masih berkenan menerima taubatku?”
Aku berkata padanya : “Jika engkau jujur dan
sungguh-sungguh ingin kembali pada Allah, maka Allah akan mengampuni dosa
apapun.” “Tapi aku telah
melakukan terlalu banyak dosa…dosa-dosa yang begitu besar…,” ujarnya.
“Apakah engkau pernah mendengar firman
Allah: “Katakanlah: Wahai hamba-hambaKu yang telah melampaui batas atas
diri mereka, janganlah kalian putus asa akan rahmat Allah, sesungguhnya Allah
akan mengampuni semua dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi
Maha Pengasih.” (QS. Az-Zumar:53)?” ujarku.
Kulihat wajahnya tersenyum penuh
kebahagiaan. Kedua matanya berkaca dipenuhi air mata. Ia lalu mengucapkan
selamat tinggal, dan pergi berlalu…
*********
Maha suci Allah yang
Maha Agung!
Begitulah manusia.
Sejauh dan setinggi apapun kedurhakaan yang telah ia lalui, tapi selalu saja
ada celah kebaikan dalam jiwanya. Andai saja kita dapat berusaha sampai
ke sana, lalu menyianginya dengan cinta, ia akan tumbuh dengan izin Allah. Karena setiap kita lahir di atas
fitrah.
Akhirnya
wahai saudara – saudariku ...
Kisah
ini seharusnya membuat kita sadar untuk segera mereview kembali rasa izzah akan
keikhwanan dan keakhawatan kita. Melihat kembali kebanggaan dan
rasa kemuliaan kita setelah Alah memberikan hidayahNya. Jika tidak, bisa jadi saat izzah itu
menjelma menjadi kesombongan. Jika itu yang terjadi mak ia tidak lagi perlu
dibanggakan. Kebanggaan semacam itu hanya membuat kita meremehkan manusia lain,
yang boleh jadi saat hidayah Allah bersemayam di hatinya, ia akan menjejakkan
kakinya di surga terlebih dulu dibanding kita. “Izzah” seperti itu hanya akan menyebabkan
kita menjadi penghalang manusia untuk meraih hidayah Allah. Wallahul
musta’an.
*) Diambil dan disadur
dengan perubahan dari redaksi dari tulisan : “Karena Setiap Orang Menyimpan
Setitik Kebaikan Dalam Jiwanya”, Oleh Muhammad Ihsan Zainuddin, Lc., M.Si.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar