Pernahkah kita mendengar istilah “ahlul
bait”. Atau istilah “habib”? Jika iya, tahukah Anda apa artinya? Siapa dan
bagaimana kedudukan mereka dalam agama kita?
Di bulan Muharram seperti ini, sebuah
kelompok yang menamakan dirinya sebagai kelompok Syi’ah, biasanya menyelenggarakan
seremonial duka cita mengenang wafatnya salah seorang ahlul bait nabi r , yaitu
Husain bin Ali t, dengan ratapan dan tangisan yang sungguh jauh dari
tuntunan agama kita yang suci.
Di sini, kita tidak akan membahas secara panjang lebar
berkaitan dengan seremonial mungkar tersebut di atas. Tetapi, yang akan kita bahas
adalah penjelasan ilmiah berdasarkan al-Qur’an dan sunnah dalam memahami “ahlul
bait” Rasulullah r
dan kedudukan mereka. Hal ini bertujuan agar kita tidak terjatuh dalam aqidah
menyimpang berkaitan dengan sikap pengagungan dan penghormatan kita kepada mereka.
Kita sering mendengar istilah “habib”. Nah,
habib ini adalah gelar yang dinisbatkan (dilekatkan)
secara khusus kepada keturunan Nabi Muhammad r. Artinya,
jika seseorang disebut “habib” maka ia diakui sebagai “ahlul bait” Nabi r. Benarkah
demikian?
Siapakah Ahlul Bait?
Di antara bentuk kecintaan kepada Rasulullah r adalah
mencintai orang-orang dekat beliau r . Mereka adalah para
shahabat dan ahlul bait beliau r .
Ahlul bait atau al ‘ithrah
adalah keluarga Rasulullah r yang beriman. Dalam
kitab Syarh Ta’limul Muta’allim karya Syaikh Ibrahim bin Ismail rahimahullah
(salah seorang ulama Madzhab Syafi’i), beliau mengatakan, (ahlul bait
adalah) : “Keluarga Nabi r dari sisi
nasab adalah keturunan Ali, Abbas, Ja’far, Aqil (putra Abu Thalib), dan Haris
bin Abdul Muthalib.” (Syarh Ta’limul Muta’allim, Hal. 3).
Kemudian, termasuk juga ahlul bait
berdasarkan dalil al-Qur’an, adalah para istri Nabi r.
Sebagaimana firman Allah I, artinya
: “Hai isteri-isteri Nabi, kamu
sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka
janganlah kamu gemulai dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada
penyakit (nafsu) dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik dan hendaklah
kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti
orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan
taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan
dosa dari kamu wahai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”
(QS. Al-Ahzab: 32-33).
Ikrimah rahimahullah (salah satu ahli
tafsir murid Ibnu Abbas t) mengatakan, “Siapa yang ingin mengetahui ahlul bait beliau, sesungguhnya
ayat ini turun tentang para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6:411).
Kedudukan dan Keutamaan Ahlul Bait
Ahlul bait memiliki beberapa keutamaan yang
diabadikan dalam al-Qur`an dan Sunnah r. Di antaranya adalah :
1. Allah I membersihkan mereka dari kejelekan. Allah I berfirman, artinya : “Sesungguhnya
Allah bermaksud hendak menghilangkan kejelekan dari kalian wahai ahlul bait dan
membersihkan kalian dengan sebersih-bersihnya (dari dosa).” (QS. Al-Ahzab: 33).
2. Rasulullah saw memerintahkan umatnya untuk
berpegang teguh dengan ahlul bait, sebagaimana sabda beliau r , artinya :
“Sungguh aku tinggalkan untuk kalian sesuatu, yang apabila kalian berpegang
teguh dengannya niscaya kalian tidak akan tersesat sepeninggalku. Salah satunya
lebih besar daripada yang lainnya yaitu; kitabullah, tali Allah yang terbentang
dari langit ke bumi, dan berikutnya adalah ‘itrati, yaitu ahlul baitku.
Keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya mendatangiku di telaga. Maka
lihatlah bagaimana kalian menjaga dan memperhatikan keduanya sepeninggalku.”
(HR. Ahmad dan At-Tirmidzi).
Makna berpegang dengan ahlul bait adalah
mencintai mereka, menghormati mereka, menjalankan petunjuk mereka dan mengambil
pelajaran dari perjalanan hidup mereka, selama tidak menyelisihi Al-Qur`an dan
As-Sunnah. (Tuhfatul Ahwadzi 10/178)
3. Nasab ahlul bait merupakan nasab yang
paling mulia dan pilihan. Rasulullah r bersabda, artinya : “Sesungguhnya Allah
memilih Nabi Ismail dan memilih Kinanah dari keturunan Isma’il serta memilih
Quraisy dari keturunan Kinanah. Allah juga memilih Bani Hasyim dari Quraisy dan
memilih aku dari keturunan Bani Hasyim.” (HR. Muslim)
4. Nasab mereka tidak terputus hingga hari
kiamat. Rasulullah r bersabda, artinya : “Semua sebab dan nasab
akan terputus pada hari kiamat kecuali sebabku dan nasabku.” (HR. ath-Thabarani)
Sikap yang Benar Terhadap Ahlul Bait
Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad hafizhahullahu
ta’alaa, salah seorang ulama Madinah yang terkemuka pada masa ini berkata :
“Ahlus sunnah wal jama’ah (mereka yang
berpegang teguh kepada sunnah Rasulullah r) dalam seluruh
permasalahan akidah selalu mengambil jalan pertengahan antara ekstrim kiri dan
ekstrim kanan, demikian pula antara sikap berlebih-lebihan dan sikap
meremehkan. Termasuk akidah terhadap ahlul bait, mereka mencintai setiap muslim
dan muslimah yang termasuk keturunan Abdul Muththalib.
Demikian pula para istri Nabi r. Ahlus
sunnah mencintai, menyanjung, dan menempatkan mereka pada kedudukan yang mulia
dengan penuh keadilan, bukan karena hawa nafsu atau serampangan. Ahlu sunnah
mengakui keutamaan ahlul bait, karena pada diri-diri mereka terdapat kemuliaan
iman sekaligus kemuliaan nasab.
Kalau ada di kalangan para sahabat yang
termasuk ahlul bait, maka Ahlus sunnah mencintainya karena keimanan dan
ketakwaannya, berikutnya karena posisinya sebagai shahabat Nabi, dan terlebih
lagi termasuk bagian dari keluarga beliau r. Adapun selain dari
kalangan shahabat namun termasuk dari ahlul bait, maka Ahlus sunnah
mencintainya karena keimanan dan ketakwaannya, serta karena dirinya termasuk
bagian dari keluarga Nabi r. Ahlus sunnah memandang
bahwa kemuliaan nasab mengikuti kemulian iman. Barangsiapa yang Allah I kumpulkan pada dirinya dua kriteria mulia tersebut (kemuliaan iman dan
nasab), maka telah terkumpul pada dirinya dua kebaikan. Barangsiapa tidak ada
pada dirinya kemuliaan iman, maka sebatas kemuliaan nasab, tetapi itu tidak
bermanfaat baginya sama sekali. Kerana Allah I berfirman, artinya : “Orang yang
paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa.” (QS. Al-Hujurat:
13).
Rasulullah r di penghujung hadits Abu Hurairah t yang panjang beliau r bersabda,
artinya : “Barangsiapa yang lambat (tidak bersemangat) dalam amalnya,
sungguh garis nasabnya tidak akan bisa membantunya.” (HR. Muslim) (Lihat Fadhlu Ahlil Bait).
Beliau r juga bersabda,artinya :
“Wahai kaum Quraisy! Berusahalah untuk diri-diri kalian, aku tidak bisa
menjamin kalian dari adzab Allah sedikit pun. Wahai ‘Abbas bin Abdul
Muththalib! Aku tidak bisa menjaminmu dari adzab Allah sedikit pun. Wahai
Shafiyyah, bibi Rasulullah! Aku tidak bisa menjaminmu dari adzab Allah sedikit
pun. Wahai Fathimah bintu Muhammad! Mintalah harta kepadaku sekehendakmu, namun
aku tidak bisa menjaminmu dari adzab Allah sedikit pun.” (HR. Bukhari).
Pengakuan Tanpa Bukti
Sungguh telah banyak orang yang mengaku
dirinya bagian dari keturunan Nabi r. Jika memang benar
penyandaran dan pengakuan tersebut dan ia seorang yang beriman, maka berarti
Allah I telah
menggabungkan pada dirinya kemuliaan nasab dan kemuliaan iman. Namun jika ia
hanya sekedar mengklaim atau mengaku-ngaku padahal sebenarnya ia bukan ahlul
bait, maka ia telah melakukan perbuatan yang haram, yaitu mengklaim/mengakui
sesuatu yang tidak dimilikinya. Nabi r bersabda, artinya : ”Orang yang
mengaku-ngaku sesuatu yang tidak dimilikinya bagaikan memakai dua pakaian
kedustaan.” (HR. Muslim).
Demikian pula, Nabi r telah
melarang seseorang menasabkan dirinya kepada selain nasabnya sendiri,
sebagaimana dalam sabda beliau : “Tidak ada seorangpun yang mengaku
(menyandarkan diri) kepada selain ayahnya, padahal dia tahu (kalau orang
tersebut bukan ayahnya), melainkan telah kufur dan seseorang yang mengaku-ngaku
keturunan dari suatu kaum, padahal tidak ada keterkaitan nasab dengan mereka,
maka hendaknya mempersiapkan tempat duduknya (di hari kiamat) dari api neraka.”
(HR. Bukhari dan Muslim) (Lihat Fadhlu Ahlil Bait).
Dogma Syiah yang Dusta
Pengakuan Syiah bahwa mereka mencintai ahlul
bait, kelompok yang berpihak kepada ahlul bait adalah klaim dusta. Justru
merekalah orang yang membenci ahlul bait. Hanya saja, karena kultus mereka
kepada keturunan Ali bin Abi Thalib, banyak masyarakat yang tertipu dengan
klaim mereka.
Mereka sangat mengkultuskan keluarga Ali t, namun membenci para istri Nabi r dan keturunan Abbas bin Abdul Muthalib. Bukti
bahwa mereka sangat membenci istri Nabi r adalah doa buruk mereka
bahwa para istri beliau, terutama Aisyah dan Hafshah, kekal di neraka. Wal’iyadzu
billah.
Ahlul Bait menurut orang Syiah hanyalah
sahabat Ali, kemudian anaknya, Hasan bin Ali dan putrinya yaitu Fatimah, mereka
dengan terang-terangan mengatakan bahwa semua pemimpin kaum muslimin selain Ali
dan Hasan adalah thogut walaupun mereka menyeruh kepada kebenaran. Orang Syiah
menganggap bahwa Khulafaur rasyidin adalah para perampas kekuasaan Ahlul Bait
sehingga mereka mengkafirkan semua Khalifah, bahkan semua pemimpin kaum
muslimin [Lihat Ushul madhab Syiah karya Dr. nahir bin Abdillah
bin Ali Al-qafary : 1/735-758].
Maka kita katakan bahwa membatasi Ahlul bait
itu hanya terbatas pada Ali, Hasan bin Ali serta Fatimah, yang keduanya adalah
anak sahabat Ali tadalah merupakan batasan yang tidak ada sandaran yang benar baik dari al-Quran
maupun as sunnah.
Anggapan ini sebenarnya hanyalah muncul dari
hawa nafsu orang-orang Syiah karena dendam dan kedengkian mereka terhadap Islam
dan Ahlul Bait Rasulullah r sehingga orang- orang
Syiah sejak zaman sahabat tidak menginginkan kejayaan Islam dan kaum muslimin,
merongrong Islam dan ingin menghancurkannya dengan salah satu cara yaitu berlindung di balik slogan cinta ahli bait
Rasulullah r .
Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu
a’lam.
Maraji’ :
· Mengenal Ahlul Bait Nabi, Ahmad Hamidin As-Sidawy. Majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun V/1422H/2001M.
· Ahlul Bait Menurut Ahlussunnah, Ammi Nur Baits. [http:// konsultasisyariah.com].
· Kedudukan Ahlul Bait, Abdullah
Imam. [http:// buletin-alilmu.com].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar