November 23, 2012

Mengenal Ahlul Bait Rasulullah

Pernahkah kita mendengar istilah “ahlul bait”. Atau istilah “habib”? Jika iya, tahukah Anda apa artinya? Siapa dan bagaimana kedudukan mereka dalam agama kita?

Di bulan Muharram seperti ini, sebuah kelompok yang menamakan dirinya sebagai kelompok Syi’ah, biasanya menyelenggarakan seremonial duka cita mengenang wafatnya salah seorang ahlul bait nabi r , yaitu Husain bin Ali t, dengan ratapan dan tangisan yang sungguh jauh dari tuntunan agama kita yang suci.

Di sini, kita tidak akan membahas secara panjang lebar berkaitan dengan seremonial mungkar tersebut di atas. Tetapi, yang akan kita bahas adalah penjelasan ilmiah berdasarkan al-Qur’an dan sunnah dalam memahami “ahlul bait” Rasulullah r dan kedudukan mereka. Hal ini bertujuan agar kita tidak terjatuh dalam aqidah menyimpang berkaitan dengan sikap pengagungan dan penghormatan kita kepada mereka.

Kita sering mendengar istilah “habib”. Nah, habib ini adalah  gelar yang dinisbatkan (dilekatkan) secara khusus kepada keturunan Nabi Muhammad r. Artinya, jika seseorang disebut “habib” maka ia diakui sebagai “ahlul bait” Nabi r. Benarkah demikian?


Siapakah Ahlul Bait?

Di antara bentuk kecintaan kepada Rasulullah r adalah mencintai orang-orang dekat beliau r . Mereka adalah para shahabat dan ahlul bait beliau r .  

Ahlul bait atau al ‘ithrah adalah keluarga Rasulullah r yang beriman. Dalam kitab Syarh Ta’limul Muta’allim karya Syaikh Ibrahim bin Ismail rahimahullah (salah seorang ulama Madzhab Syafi’i), beliau mengatakan, (ahlul bait adalah) : “Keluarga Nabi r dari sisi nasab adalah keturunan Ali, Abbas, Ja’far, Aqil (putra Abu Thalib), dan Haris bin Abdul Muthalib.” (Syarh Ta’limul Muta’allim, Hal. 3).

Kemudian, termasuk juga ahlul bait berdasarkan dalil al-Qur’an, adalah para istri Nabi r. Sebagaimana firman Allah I, artinya :  “Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu gemulai dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit (nafsu) dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu wahai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 32-33).

Ikrimah rahimahullah (salah satu ahli tafsir murid Ibnu Abbas t) mengatakan, “Siapa yang ingin mengetahui ahlul bait beliau, sesungguhnya ayat ini turun tentang para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6:411).

Kedudukan dan Keutamaan Ahlul Bait

Ahlul bait memiliki beberapa keutamaan yang diabadikan dalam al-Qur`an dan Sunnah r. Di antaranya adalah :

1. Allah I membersihkan mereka dari kejelekan. Allah I berfirman,  artinya : “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan kejelekan dari kalian wahai ahlul bait dan membersihkan kalian dengan sebersih-bersihnya (dari dosa).” (QS. Al-Ahzab: 33).

2. Rasulullah saw memerintahkan umatnya untuk berpegang teguh dengan ahlul bait, sebagaimana sabda beliau r , artinya : “Sungguh aku tinggalkan untuk kalian sesuatu, yang apabila kalian berpegang teguh dengannya niscaya kalian tidak akan tersesat sepeninggalku. Salah satunya lebih besar daripada yang lainnya yaitu; kitabullah, tali Allah yang terbentang dari langit ke bumi, dan berikutnya adalah ‘itrati, yaitu ahlul baitku. Keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya mendatangiku di telaga. Maka lihatlah bagaimana kalian menjaga dan memperhatikan keduanya sepeninggalku.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi).

Makna berpegang dengan ahlul bait adalah mencintai mereka, menghormati mereka, menjalankan petunjuk mereka dan mengambil pelajaran dari perjalanan hidup mereka, selama tidak menyelisihi Al-Qur`an dan As-Sunnah. (Tuhfatul Ahwadzi 10/178)

3. Nasab ahlul bait merupakan nasab yang paling mulia dan pilihan. Rasulullah r  bersabda, artinya : “Sesungguhnya Allah memilih Nabi Ismail dan memilih Kinanah dari keturunan Isma’il serta memilih Quraisy dari keturunan Kinanah. Allah juga memilih Bani Hasyim dari Quraisy dan memilih aku dari keturunan Bani Hasyim.” (HR. Muslim)

4. Nasab mereka tidak terputus hingga hari kiamat. Rasulullah r  bersabda, artinya : “Semua sebab dan nasab akan terputus pada hari kiamat kecuali sebabku dan nasabku.(HR. ath-Thabarani)

Sikap yang Benar Terhadap Ahlul Bait

Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad hafizhahullahu ta’alaa, salah seorang ulama Madinah yang terkemuka pada masa ini berkata :
“Ahlus sunnah wal jama’ah (mereka yang berpegang teguh kepada sunnah Rasulullah r) dalam seluruh permasalahan akidah selalu mengambil jalan pertengahan antara ekstrim kiri dan ekstrim kanan, demikian pula antara sikap berlebih-lebihan dan sikap meremehkan. Termasuk akidah terhadap ahlul bait, mereka mencintai setiap muslim dan muslimah yang termasuk keturunan Abdul Muththalib.

Demikian pula para istri Nabi r. Ahlus sunnah mencintai, menyanjung, dan menempatkan mereka pada kedudukan yang mulia dengan penuh keadilan, bukan karena hawa nafsu atau serampangan. Ahlu sunnah mengakui keutamaan ahlul bait, karena pada diri-diri mereka terdapat kemuliaan iman sekaligus kemuliaan nasab.

Kalau ada di kalangan para sahabat yang termasuk ahlul bait, maka Ahlus sunnah mencintainya karena keimanan dan ketakwaannya, berikutnya karena posisinya sebagai shahabat Nabi, dan terlebih lagi termasuk bagian dari keluarga beliau r. Adapun selain dari kalangan shahabat namun termasuk dari ahlul bait, maka Ahlus sunnah mencintainya karena keimanan dan ketakwaannya, serta karena dirinya termasuk bagian dari keluarga Nabi r. Ahlus sunnah memandang bahwa kemuliaan nasab mengikuti kemulian iman. Barangsiapa yang Allah I kumpulkan pada dirinya dua kriteria mulia tersebut (kemuliaan iman dan nasab), maka telah terkumpul pada dirinya dua kebaikan. Barangsiapa tidak ada pada dirinya kemuliaan iman, maka sebatas kemuliaan nasab, tetapi itu tidak bermanfaat baginya sama sekali. Kerana Allah I berfirman, artinya :  “Orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa.(QS. Al-Hujurat: 13).

Rasulullah r  di penghujung hadits Abu Hurairah t yang panjang beliau r bersabda, artinya : “Barangsiapa yang lambat (tidak bersemangat) dalam amalnya, sungguh garis nasabnya tidak akan bisa membantunya.(HR. Muslim) (Lihat Fadhlu Ahlil Bait).

Beliau r juga bersabda,artinya : “Wahai kaum Quraisy! Berusahalah untuk diri-diri kalian, aku tidak bisa menjamin kalian dari adzab Allah sedikit pun. Wahai ‘Abbas bin Abdul Muththalib! Aku tidak bisa menjaminmu dari adzab Allah sedikit pun. Wahai Shafiyyah, bibi Rasulullah! Aku tidak bisa menjaminmu dari adzab Allah sedikit pun. Wahai Fathimah bintu Muhammad! Mintalah harta kepadaku sekehendakmu, namun aku tidak bisa menjaminmu dari adzab Allah sedikit pun.” (HR. Bukhari).

Pengakuan Tanpa Bukti

Sungguh telah banyak orang yang mengaku dirinya bagian dari keturunan Nabi r. Jika memang benar penyandaran dan pengakuan tersebut dan ia seorang yang beriman, maka berarti Allah I telah menggabungkan pada dirinya kemuliaan nasab dan kemuliaan iman. Namun jika ia hanya sekedar mengklaim atau mengaku-ngaku padahal sebenarnya ia bukan ahlul bait, maka ia telah melakukan perbuatan yang haram, yaitu mengklaim/mengakui sesuatu yang tidak dimilikinya. Nabi r  bersabda, artinya : ”Orang yang mengaku-ngaku sesuatu yang tidak dimilikinya bagaikan memakai dua pakaian kedustaan.(HR. Muslim).

Demikian pula, Nabi r telah melarang seseorang menasabkan dirinya kepada selain nasabnya sendiri, sebagaimana dalam sabda beliau : “Tidak ada seorangpun yang mengaku (menyandarkan diri) kepada selain ayahnya, padahal dia tahu (kalau orang tersebut bukan ayahnya), melainkan telah kufur dan seseorang yang mengaku-ngaku keturunan dari suatu kaum, padahal tidak ada keterkaitan nasab dengan mereka, maka hendaknya mempersiapkan tempat duduknya (di hari kiamat) dari api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim) (Lihat Fadhlu Ahlil Bait).

Dogma Syiah yang Dusta

Pengakuan Syiah bahwa mereka mencintai ahlul bait, kelompok yang berpihak kepada ahlul bait adalah klaim dusta. Justru merekalah orang yang membenci ahlul bait. Hanya saja, karena kultus mereka kepada keturunan Ali bin Abi Thalib, banyak masyarakat yang tertipu dengan klaim mereka.

Mereka sangat mengkultuskan keluarga Ali t, namun membenci para istri Nabi r  dan keturunan Abbas bin Abdul Muthalib. Bukti bahwa mereka sangat membenci istri Nabi r adalah doa buruk mereka bahwa para istri beliau, terutama Aisyah dan Hafshah, kekal di neraka. Wal’iyadzu billah.

Ahlul Bait menurut orang Syiah hanyalah sahabat Ali, kemudian anaknya, Hasan bin Ali dan putrinya yaitu Fatimah, mereka dengan terang-terangan mengatakan bahwa semua pemimpin kaum muslimin selain Ali dan Hasan adalah thogut walaupun mereka menyeruh kepada kebenaran. Orang Syiah menganggap bahwa Khulafaur rasyidin adalah para perampas kekuasaan Ahlul Bait sehingga mereka mengkafirkan semua Khalifah, bahkan semua pemimpin kaum muslimin [Lihat Ushul madhab Syiah karya Dr. nahir bin Abdillah bin Ali Al-qafary : 1/735-758].

Maka kita katakan bahwa membatasi Ahlul bait itu hanya terbatas pada Ali, Hasan bin Ali serta Fatimah, yang keduanya adalah anak sahabat Ali tadalah merupakan batasan yang tidak ada sandaran yang benar baik dari al-Quran maupun as sunnah.

Anggapan ini sebenarnya hanyalah muncul dari hawa nafsu orang-orang Syiah karena dendam dan kedengkian mereka terhadap Islam dan Ahlul Bait Rasulullah r sehingga orang- orang Syiah sejak zaman sahabat tidak menginginkan kejayaan Islam dan kaum muslimin, merongrong Islam dan ingin menghancurkannya dengan salah satu cara yaitu  berlindung di balik slogan cinta ahli bait Rasulullah r .

Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

Maraji’ :
·  Mengenal Ahlul Bait Nabi, Ahmad Hamidin As-Sidawy. Majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun V/1422H/2001M.
·  Ahlul Bait Menurut Ahlussunnah, Ammi Nur Baits. [http:// konsultasisyariah.com].
·  Kedudukan Ahlul Bait, Abdullah Imam. [http:// buletin-alilmu.com].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...