Ketika kau masih kanak-kanak
Bagiku kau laksana kawan sejati
Dengan wudhu, aku, kau sentuh
Dalam keadaan suci aku kau pegang
Kau junjung, kau pelajari
Setiap hari, aku, kau baca dengan suara lirih
Bagiku kau laksana kawan sejati
Dengan wudhu, aku, kau sentuh
Dalam keadaan suci aku kau pegang
Kau junjung, kau pelajari
Setiap hari, aku, kau baca dengan suara lirih
atau bahkan dengan lantangnya
Kini, engkau telah dewasa, bahkan
kian matang
Atau telah beranak sebagaimana kau
kecil dulu
Namun, nampaknya kini, engkau sudah tak berminat lagi padaku
Barangkali, menurutmu, aku hanya bacaan usang
Yang menjadi bagian sejarah kanak-kanakmu dulu
Aku, barangkali, hanya bacaan yang menurutmu tidak menambah pengetahuan dan wawasan sama sekali
Namun, nampaknya kini, engkau sudah tak berminat lagi padaku
Barangkali, menurutmu, aku hanya bacaan usang
Yang menjadi bagian sejarah kanak-kanakmu dulu
Aku, barangkali, hanya bacaan yang menurutmu tidak menambah pengetahuan dan wawasan sama sekali
Kini, aku kau simpan, sedemikian
rapihnya
Rapih, rapih sekali
Hingga kadang engkau bahkan lupa, di mana menyimpannya
Atau mungkin aku sudah kau anggap sekedar penghias rumah, pelengkap koleksi buku-bukumu
Atau kadangkala, aku kau jadikan mas kawin, bagimu dan bagi yang lain
Agar engkau dianggap bertaqwa
Atau aku kau buat penangkal bencana, untuk menakuti hantu, setan, tuyul, jin dan sebangsanya
Rapih, rapih sekali
Hingga kadang engkau bahkan lupa, di mana menyimpannya
Atau mungkin aku sudah kau anggap sekedar penghias rumah, pelengkap koleksi buku-bukumu
Atau kadangkala, aku kau jadikan mas kawin, bagimu dan bagi yang lain
Agar engkau dianggap bertaqwa
Atau aku kau buat penangkal bencana, untuk menakuti hantu, setan, tuyul, jin dan sebangsanya
Aduh, mudah-mudahan bukan untuk
itu
Kini aku tersingkir
Sendiri,kesepian
Di atas atau di dalam lemari
Sendiri,kesepian
Di atas atau di dalam lemari
Di sudut-sudut ruang, kau acuhkan aku
Padahal dulu, pagi-pagi sekali
Surat-surat yang ada padaku kau
baca beberapa halaman
Sorenya, kembali aku kau baca
Sorenya, kembali aku kau baca
Ramai-ramai,dengan teman-temanmu di
surau
Kini, pagi-pagi
Engkau membaca koran pagi
Engkau membaca koran pagi
Atau menonton berita pagi di TV
Sambil minum kopi,di waktu senggang
Kau sempatkan membaca buku karangan manusia
Yang sesekali kau bahas dan jadikan topik
perbincangan dengan kolega-kolegamu
Sambil minum kopi,di waktu senggang
Kau sempatkan membaca buku karangan manusia
Yang sesekali kau bahas dan jadikan topik
perbincangan dengan kolega-kolegamu
Sementara aku
Adalah rangkaian ayat-ayat cinta dari Sang Maha Pencipta
Namun , kau sampai hati mencampakkannya
Mengabaikannya, melupakannnya
Adalah rangkaian ayat-ayat cinta dari Sang Maha Pencipta
Namun , kau sampai hati mencampakkannya
Mengabaikannya, melupakannnya
Saat berangkat kerja
Kadang kau lupa untuk sekedar membaca pembuka
surat-suratku
"Bismillahirrahmaanirrahiim"
"Bismillahirrahmaanirrahiim"
Di perjalanan
Engkau pun asyik menikmati musik-musik duniawi
Tidak ada lagi kaset yang berisi ayat-ayat cinta dari Rabb-mu
Engkau pun asyik menikmati musik-musik duniawi
Tidak ada lagi kaset yang berisi ayat-ayat cinta dari Rabb-mu
Tidak ada aku, untuk kau baca sebelum dan
saat bekerja
Aku pun tidak lagi menjadi pelipur penat batin di tengah-tengah kesibukan harimu
Engkau terlalu sibuk kini
Dengan segala urusan dunia yang melenakanmu
Benarlah dugaanku, bahwa engkau kini sudah benar-benar melupakanku
Aku pun tidak lagi menjadi pelipur penat batin di tengah-tengah kesibukan harimu
Engkau terlalu sibuk kini
Dengan segala urusan dunia yang melenakanmu
Benarlah dugaanku, bahwa engkau kini sudah benar-benar melupakanku
Akhirnya, waktu pun terus bergulir
Aku semakin terlihat kusam di tempatnya
Bersimbah debu, atau bahkan dimakan kutu
Seingatku
Hanya sesekali kini kau sentuh aku
Di awal Ramadhan dahulu, dan itupun hanya beberapa lembar dariku saja
Bacaanmu pun tak lagi semerdu dulu
Lafadzmu pun terasa kaku
Engkau kini membacaku dengan terbata-bata
Padahal, setiap waktu yang mengalir
Mengantarkanmu semakin cepat ke liang kubur
Lafadzmu pun terasa kaku
Engkau kini membacaku dengan terbata-bata
Padahal, setiap waktu yang mengalir
Mengantarkanmu semakin cepat ke liang kubur
Duhai,temanku dahulu
Apakah koran, TV, radio dan komputer, dapat memberimu syafa’at
Saat engkau sendiri di dalam kubur, menanti tibanya hari kiamat
Saat engkau diperiksa oleh para malaikat
pesuruh-Nya
Apakah koran, TV, radio dan komputer, dapat memberimu syafa’at
Saat engkau sendiri di dalam kubur, menanti tibanya hari kiamat
Saat engkau diperiksa oleh para malaikat
pesuruh-Nya
Ingatlah, ayat-ayatNya yang ada padaku, yang dapat menyelamatkanmu
Seandainyalah kau baca aku selalu
Kau resapi dan amalkan, niscaya aku akan
datang menolongmu
Seandainyalah kau baca aku selalu
Kau resapi dan amalkan, niscaya aku akan
datang menolongmu
Duhai, sahabatku dahulu
Peganglah aku lagi, bacalah aku lagi
setiap hari
Karena di dalamnya ada lafadz-lafadz cinta dari Penciptamu
Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha
Mengetahui dari Sang Penguasa alam semesta
Duhai, sahabatku
Sentuhlah aku kembali, seperti dulu
Baca dan pelajarilah aku lagi
Di setiap datangnya pagi dan petang
Seperti dulu,dulu sekali,di surau itu
setiap hari
Karena di dalamnya ada lafadz-lafadz cinta dari Penciptamu
Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha
Mengetahui dari Sang Penguasa alam semesta
Duhai, sahabatku
Sentuhlah aku kembali, seperti dulu
Baca dan pelajarilah aku lagi
Di setiap datangnya pagi dan petang
Seperti dulu,dulu sekali,di surau itu
Hafalkanlah aku kembali
Seperti dahulu kau hafalkan beberapa surah
pendek dariku sebagai tugas dari para ustadzmu di surau
Jangan kau biarkan aku dalam sepi yang bisu
Karena aku ada, untuk menuntun jalanmu
Akulah panduan hidup dari Sang Maha Hidup
Aku yang akan memberimu keindahan hidup sejati dunia-akhirat .....
Karena aku ada, untuk menuntun jalanmu
Akulah panduan hidup dari Sang Maha Hidup
Aku yang akan memberimu keindahan hidup sejati dunia-akhirat .....
***********************************
Itulah, ungkapan “curahan hati” al-Qur’an kini. Duhai, andai saja al-Qur’an bisa bicara. Namun, itu hanyalah untaian kata dari manusia. Karena sungguh Al-Qur’an bukanlah makhluk yang dapat berkata, berbicara, seperti kita manusia. Al-Qur’an ada firman Allah I .
Cukuplah
untaian kata tersebut mampu menjadi nasehat
dan renungan kepada kita sekalian.
Ingatlah,
ketika Allah I berfirman,
artinya : “Itulah ayat-ayat Allah, Kami bacakan ayat-ayat itu kepadamu
dengan benar; dan tiadalah Allah berkehendak untuk menganiaya hamba-hamba-Nya”.
(QS:3:108).
Tahukah kita, para pendahulu (salaf) kita yang shalih sangat
bersungguh-sungguh dalam memperbanyak membaca al-Qur`an, karena
mengharapkan keutamaan dan pahala yang begitu besar, serta karena cinta
terhadap Kitabullah dan mendapatkan kenikmatan dengan membacanya.
Imam Abdurrahman al-Auza'i rahimahullah berkata :
'Ada lima perkara yang selalu dipegang para sahabat nabi dan para tabi'in yang
mengikuti langkah mereka dalam kebaikan: Selalu bersama jama'ah kaum muslimin,
mengikuti sunnah, memakmurkan masjid, membaca al-Qur`an dan jihad fi
sabilillah."
Di antara para sahabat yang masyhur selalu bersama
al-Qur`an adalah Utsman bin Affan t, sehingga diriwayatkan
bahwa beliau pernah berkata: 'Jikalau hati kamu bersih niscaya kamu tidak
pernah kenyang dari Kalamullah."
Mengapa mereka bisa seperti itu? Ya, karena
Allah I menghilangkan rasa jemu dan bosan dari pembaca
dan pendengarnya dengan keikhlasan dan kebenaran iman, dengan memberikan
kemudahan membaca dan mendengarnya.
Firman Allah I , artinya : “Dan sesungguhnya telah Kami
mudahkan al-Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran”
(QS. al- Qamar:17).
Ibnu Abbas t berkata : 'Kalau bukan karena
kemudahan yang diberikan Allah I kepada manusia niscaya tidak ada
seorang pun yang bisa membaca Kalamullah. [Lihat:
ad-Durrul Mantsur 7/676].
Hasan al-Bashri rahimahullah berkata :
"Carilah kenikmatan dalam tiga perkara : shalat, al-Qur`an dan doa. Jika
kamu mendapatkannya maka pujilah Allah I atas hal itu, dan jika kamu tidak mendapatkannya maka ketahuilah bahwa
pintu kebaikan telah ditutup atasmu." [HR. al-Baihaqi
dalam Syu'abul Iman no. 7226].
Para pendahulu kita yang shalih pun, tidak
hanya memberi perhatian terhadap membaca al-Qur`an lewat mushhaf, mereka juga
berlomba-lomba dalam menghapalnya.
Di antara keutamaan menghapal al-Qur`an adalah
hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas t, ia berkata, 'Rasulullah r bersabda : "Sesungguhnya orang
yang tidak ada sedikitpun al-Qur`an di dalam rongganya, ia seperti rumah yang
runtuh." [HR.
Tirmidzi 2910].
Dan beliau r mengutamakan di antara para sahabatnya
menurut kadar hapalan al-Qur`an mereka, apabila mengutus pasukan beliau r mengangkat imam dalam shalat bagi yang paling
banyak hapalannya, mengedepankan di liang lahat bagi yang paling banyak
hapalannya.
Keutamaan lainnya, dalam
sebuah hadits Abdullah bin ‘Amr t, Rasulullah r bersabda, artinya : “Dikatakan kepada orang yang membaca (menghafalkan) Al Qur’an nanti : ‘Bacalah dan naiklah serta tartillah sebagaimana engkau di
dunia mentartilnya. Karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca (hafal).” (HR. Abu Daud no. 1464 dan Tirmidzi
no. 2914, shahih kata Syaikh Al Albani).
Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah berkata, “Hadits di atas menunjukkan
keutamaan khusus bagi yang menghafalkan Al-Qur’an dengan hatinya, bukan yang
sekedar membaca lewat mushaf. Karena
jika sekedar membaca saja dari mushaf, tidak ada beda dengan yang lainnya baik
sedikit atau banyak yang dibaca. Keutamaan yang bertingkat-tingkat adalah
bagi yang menghafal Al-Qur’an dengan hatinya. Dari hafalan
ini, bertingkat-tingkatlah kedudukan mereka di surga sesuai dengan banyaknya
hafalannya....” (Al Fatawa Al Haditsiyah, 156).
Wallahu
A’lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar