September 22, 2023

Begini Etika Seorang Pedagang Muslim (Bagian Pertama)

Kesempurnaan Islam sebagai agama yang diridai-Nya, sesungguhnya merupakan nikmat agung yang mesti untuk terus dipelajari, dipahami, diamalkan, dan disebarkan ke seluruh umat manusia. Di antara bagian kesempurnaan itu adalah bimbingan Islam bagi umatnya dalam berbisnis dan berdagang. Islam telah memberikan petunjuk berupa prinsip dan etika yang mesti diperhatikan oleh seorang pebisnis muslim. Tujuannya adalah agar aktivitas bisnis tersebut senantiasa berada dalam koridor Islam dan petunjuk dari Sang Pencipta.

Berikut beberapa prinsip dan etika yang mesti untuk diketahui, dipahami, dan diamalkan oleh seorang pedagang muslim. 

Pertama, niat yang lurus.

Niat adalah ruh, inti dan pondasi sebuah amal. Suatu amal akan selalu mengikutinya. Jika niatnya benar, maka amalnya pun benar. Jika rusak niatnya, maka amalnya juga akan rusak. Rasulullah ṣallalāhu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya), “Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya. Dan setiap orang sesuai dengan apa yang ia niatkan”. (H.R. Muslim). Dengan demikian, seseorang tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali sesuai dengan apa yang ia niatkan. Hal ini tidak terbatas pada masalah ibadah, akan tetapi ia juga mencakup bab muamalah, adat istiadat, hal-hal yang mubah, dan lain-lain. Semua amalan bisa berubah posisinya karena sebab niat. Ia bisa dianggap sebagai ibadah dan termasuk amal yang mendekatkan diri pada Allah, bisa pula sebaliknya, tergantung niatnya.

Olehnya, jika seorang pedagang atau pekerja muslim yang berdagang atau bekerja dengan niat mencari rezeki untuk kebaikan dirinya dan keluarganya dengan memelihara diri dari hal-hal yang haram, mencukupkan diri dengan yang halal, dan menjadikannya sebagai sarana untuk menyambung hubungan silaturahmi dan menolong sesama, maka aktivitas bisnisnya, insyaallah, akan dinilai sebagai sebuah ibadah yang mulia  di sisi Allah Ta’ālā. Alhasil, suatu amalan yang dilakukan oleh seseorang akan menjadi variatif dari segi hukumnya, nilai kandungan moralnya, juga balasannya. Semuanya tergantung pada niat yang dimilikinya.

Islam menjadikan amal manusia sebagai lahan ibadah. Setiap pedagang muslim dituntut agar aktivitas ekonominya berorientasi pada rida Allah semata. Semakin besar keikhlasan seorang entrepreneur dalam menghadirkan niat dalam setiap usahanya, maka pertolongan dan bantuan Allah Ta’ālā akan semakin mengalir. Begitu juga, semakin banyak niat kebaikan yang ditanamkan dalam usaha, semakin banyak pula kebaikan yang akan dituai. Niat –sebagaimana sering dikatakan orang– adalah bisnisnya para ulama. Karena pahala dari satu amal kebajikan bisa bertambah menjadi berkali-kali lipat karena tergabungnya berbagai macam niat tulus dalam satu waktu. Hal itu amatlah mudah bagi orang yang diberi kemudahan oleh Allah! Tentu saja, hal ini menjadi impian dan pengharapan setiap pedagang muslim, bukan? Olehnya, mari hadirkan niat yang tulus itu. Sekarang!

Kedua, mengimani qada dan takdir Allah, disertai sikap selalu bersyukur.

Iman terhadap takdir Allah Ta’ālā, baik ketentuan yang baik atau yang buruk, manis atau pahit merupakan pondasi dasar keimanan. Tidak akan sempurna keimanan seseorang tanpa mengimani takdir-Nya. Seorang entrepreneur muslim, wajib mengimani hal ini dengan keimanan yang dalam, bahwa semua hal yang telah ditetapkan, tidak akan meleset darinya. Sesuatu yang tidak ditetapkan, pun tidak akan mungkin bisa menimpanya. Semua bentuk manfaat dan bahaya telah digariskan oleh Allah Ta’ālā. Dengan demikian, jika ada keuntungan dalam hartanya, maka seorang pedagang muslim akan bersyukur. Jika ia mengalami nasib sebaliknya, maka ia akan tetap rida, tenang, dan damai hatinya. Karena ia meyakini bahwa Allah Ta’ālā tidaklah menetapkan sesuatu, kecuali di dalamnya ada kemaslahatan. Allah menganugerahkan harta pada hamba yang Dia cintai dan yang tidak Dia cintai. Juga, mempersempit rezeki pada hamba yang Dia cintai dan yang tidak Dia cintai. Rezeki setiap pedagang tidak akan tertukar. Semuanya sudah digariskan, jauh sebelum pedagang itu berdagang. Setiap pedagang muslim wajib mengimaninya.

Ketiga, memiliki etos kerja yang tinggi 

Seorang entrepreneur muslim dituntut untuk mengambil “sebab” dalam mencari rezeki dan mengembangkan harta dibarengi dengan semangat tawakal kepada Allah Ta’ālā. Allah, Zat yang memberi rezeki kepada burung-burung setiap pagi dan sore, tentu sangat mampu memberi rezeki kepada manusia. Dialah Allah yang menundukkan segala sesuatu, yang menjalankan segala sesuatu, yang mendatangkan semua sebab di dunia ini. Inilah yang diisyaratkan oleh Rasulullah dalam sebuah hadisnya (artinya), “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, maka pasti kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki, yang berangkat di pagi hari dalam keadaan kosong, kemudian kembali di sore hari dalam keadaan kenyang.” (H.R. Tirmiżī).

Islam sangat mencela sifat atau karakter pemalas dan menutup semua bentuk ketergantungan hidup dengan orang lain. Rasulullah bersabda (artinya), “Tidaklah sikap meminta-minta terdapat pada diri seseorang di antara kalian kecuali ia bertemu dengan Allah sementara di wajahnya tidak ada secuil daging pun.” (H.R. Bukhari dan Muslim). Sufyān al-Tsaurī raḥimahullāh berkata, “Aku meninggalkan harta kekayaan sepuluh ribu dirham yang nanti dihisab oleh Allah, lebih aku cintai daripada aku hidup meminta-minta dan menjadi beban orang lain.” (Jamī’ Bayānul ‘Ilmi wa Faḍlihi, Ibnu Abdul Bar, juz 2 hal. 33). Sebaliknya, Islam justru memuji orang-orang yang mampu bersabar dan menahan diri dengan tidak meminta uluran tangan orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidup karena tindakan tersebut akan menimbulkan berbagai macam keburukan dan kemunduran dalam kehidupan.

Cobalah renungkan kehidupan para nabi dan rasul Allah, mereka telah memberikan contoh dan teladan mulia dalam menyeimbangkan kepentingan penyebaran risalah –yang menjadi tugasnya- dan mencari nafkah. Lihatlah, Nabi Zakaria menjadi tukang kayu, nabi Idris menjahit pakaian dan nabi Daud membuat baju perang. Mereka bekerja untuk bisa hidup mandiri sebagai utusan Allah. Tugas mereka dalam risalah dakwah tidak melalaikan mereka mengais rizki yang halal untuk menafkahi keluarganya. Olehnnya, berusaha untuk mencari nafkah yang baik dan bersih, khususnya melalui dunia usaha dan perdagangan, adalah satu bentuk kemuliaan. Bukankah Rasulullah dan para sahabatnya adalah pedagang? Bahkan ketika Nabi ditanya, “Wahai Rasulullah, pekerjaan apa yang paling baik?” Rasulullah menjawab (artinya), “Pekerjaan yang dilakukan seseorang dengan tangannya dan juga setiap perdagangan yang mabrur (baik).” (H.R. Baihaqi dalam Al-Kubra 5/263, dishahihkan Al-Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 607).

Keempat, jujur dan amanah.

Jujur adalah sifat utama dan akhlak muslim yang tinggi nilainya. Seorang pengusaha muslim hendaknya memegang teguh akhlak mulia ini dalam setiap urusan dan persoalan. Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda (artinya), “Hendaklah kalian berlaku jujur, sebab kejujuran itu akan mengantarkan kepada kebaikan. Dan kebaikan itu akan mengantarkan ke dalam surga. Dan seseorang senantiasa berlaku jujur, dan membiasakan diri dengan kejujuran, hingga dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur.” (H.R. Bukhari dan Muslim). Di antara bentuk kejujuran dalam bisnis adalah seorang pedagang berkomitmen dengan memberikan penjelasan yang transparan kepada konsumen –dalam proses jual beli- tentang barang-barangnya hingga menjadikan konsumen merasa yakin dan puas untuk membelinya. Cara inilah yang akan membawa keberkahan di sisi Allah Ta’ālā. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda (artinya), “Kedua orang yang melakukan transaksi jual beli boleh memilih selama mereka belum berpisah. Jika mereka berdua jujur dan menjelaskan dengan jelas (keadaan barang dagangannya, pent), maka Allah memberkahi jual beli mereka. Dan jika mereka berdusta dan menyembunyikan sesuatu, maka Allah mencela dan tidak memberkahi jual beli mereka.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Sifat amanah juga merupakan hal yang wajib dimilki oleh setiap pengusaha muslim. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Tidaklah Rasulullah menasehati kami kecuali beliau berpesan, “Tidaklah beriman seseorang yang tidak bisa amanah dan tidaklah dianggap beragama orang yang tidak bisa memegang perjanjian.” (H.R. Ahmad. Syu’aib al-Arnauth menilai hadits ini “hasan”). Termasuk dalam makna amanah adalah seorang pedagang mengatakan cacat dari barang yang dia jual kepada pembelinya, bila memang ada cacatnya. Diriwayatkan, bahwa Jarir al-Bajali radhiyallahu ‘anhu bila hendak menjual barang dagangannya kepada pembeli, dia meneliti barang-barangnya terlebih dahulu. Kemudian beliau memilahkannya dan mengatakan, “Jika Anda mau, maka belilah barang ini. Jika tidak, maka tinggalkanlah.” Kemudian orang tersebut mengatakan, “Semoga Allah merahmatimu. Sesungguhnya jika engkau melakukan ini, maka barang daganganmu tidak akan habis.” Lalu beliau menjawab, “Sesungguhnya kami telah berbai’at kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam untuk saling menasehati kepada sesama muslim.” (H.R. ath-Thabrani ). Dari Uqbah bin Amir radhiyallahu anhu, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda (artinya), “Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya. Tidak halal bagi seorang muslim untuk menjual barang yang cacat kepada saudaranya tanpa memberitahukan cacatnya.” (H.R. Ibnu Majah).

Pada prinsipnya, menawarkan barang kepada pembeli dengan menyembunyikan cacat yang ada pada barang tersebut tidaklah akan menambah rezeki seseorang. Harta tidak akan bertambah dengan berlaku khianat sebagaimana juga tidak akan berkurang karena berlaku jujur. Satu rupiah yang diberkahi oleh Allah –dan barangkali ia akan menjadi sebab kebahagiaannya di dunia dan akhirat- jauh lebih baik daripada jutaan rupiah yang dicela dan dijauhkan dari berkah yang barangkali menjadi sebab kehancuran bagi pemiliknya di dunia dan akhirat.

Orang yang berakal tentu lebih tahu bahwa keuntungan akhirat adalah keuntungan hakiki nan abadi. Dan hal itu jauh lebih baik daripada keuntungan dunia dan seisinya. Keuntungan harta dunia hanya akan habis dengan habisnya umur manusia, sementara kezhaliman seseorang dan dosanya akan tetap abadi. Dan sumber kebaikan itu hanya ada pada keselamatan agama.

(Bersambung)

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...