Manusia,
sangat memerlukan sandaran yang dapat memberikan kekuatan kepada dirinya pada
saat dia lemah. Manusia, sangat membutuhkan pegangan ketika segala kekuatan di
luar dirinya tidak mampu lagi menopang dan menunjang dirinya. Di saat seperti
itu, tiada jalan selain menyandarkan sepenuhnya kepada kuasa Sang Penguasa,
setelah berupaya untuk berikhtiar dan berusaha semampunya. Di saat seperti itu
pula, tiada jalan selain dengan jalan mengadukan nasib dan keadaaannya kepada
Yang Maha Kuasa dalam mengatur dan menentukan jalan hidupnya sekaligus
menggenggam dan menguasai langit dan bumi beserta isinya. Dan, pengaduan itu
tidak lain berupa doa yang dipanjatkan kepadaNya.
Namun
dalam perjalanannya, seringkali sebuah doa terasa hambar ketika jawaban belum
mendatanginya. Seringkali, doa terasa salah ketika ia belum terkabulkan jua.
Hingga akhirnya, ada di antara kita yang berprasangka kepada Sang Khalik dengan
prasangka yang tak sepantasnya.
Bukankah
Allah telah berjanji bahwa “Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa,
ketika dia berdoa kepada-Ku” (QS. Al-Baqarah:186) dan “Mintalah
kepada-Ku, niscaya aku memberi ijabah kepada kalian” (QS. Ghafir:60)? Mengapa banyak doa kepadaNya yang tak kunjung
dikabulkan?” Begitulah kira-kira gumam kita.
Satu
prinsip penting yang harus kita pegang, bahwa semua firman Allah I adalah benar,
janji Allah I adalah benar, dan Dia I tidak akan
menyelisihi janjiNya. Kita harus yakini hal itu, apa pun keadaannya.
Selanjutnya,
terkait dengan janji Allah I pada ayat di
atas dan realita yang kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari, para ulama
telah memberikan jawabannya. Mereka berpendapat bahwa pada ayat di atas, Allah I berjanji
kepada orang yang berdoa dengan ijaabah atau istijaabah, bukan
dengan i’thaa’. Perlu dibedakan antara istijaabah (استجابة) atau ijaabah
(إجابة) dengan
i’thaa’ (إعطاء). Padanan kata ijaabah atau istijaabah
yang lebih tepat dalam bahasa kita bukan “memberi” atau “mewujudkan sesuai
dengan sesuatu yang diinginkan”, namun lebih umum dari itu. Kata “merespon”
merupakan kata yang lebih tepat untuk menerjemahkan dua kata tersebut. Yang
kita pahami dari kata “merespon”, tidak selalu dalam bentuk memberikan sesuatu
yang diinginkan. Sebatas memberikan perhatian yang baik, sudah bisa dinamakan
“merespon”.
Terkait
makna di atas, terkadang, Allah I telah
memberikan ijabah untuk doa kita, namun kita tidak tahu hakekat dan bentuk
ijabah tersebut. Karena “respon baik” terhadap doa bentuknya bermacam-macam.
Disebutkan dalam hadits, Nabi r bersabda, “Tidaklah
seorang muslim yang berdoa, dan doanya tidak berisi perbuatan dosa atau memutus
silaturahim, kecuali Allah akan memberikan salah satu di antara tiga balasan:
(1) Allah kabulkan doanya, (2) Allah hindarkan dirinya dari musibah yang
senilai dengan isi doanya, dan (3) Allah simpan dalam bentuk pahala untuknya di
akhirat” (HR.
Ahmad, Tirmidzi, dan Hakim; dinilai sahih oleh Syaikh Musthafa Al-Adawi).
Prinsip
lain yang harus kita pahami juga bahwa meskipun umumnya manusia berkeyakinan
bahwa sesuatu yang dia minta adalah hal terbaik untuknya, namun sejatinya itu
belum tentu baik untuknya dalam pengetahuan Allah I . Karena
itulah, terkadang, Allah I menahan doa kita, karena hal itu
lebih baik bagi kita, daripada Allah I memberikan
sesuatu yang kita inginkan. Allah I berfirman, “Bisa
jadi, kalian membenci sesuatu, padahal itu baik bagi kalian. Terkadang pula,
kalian mencintai sesuatu, padahal itu buruk bagi kalian. Allah mengetahui dan
kalian tidak mengetahui” (QS. Al-Baqarah:216).
Hal
ini penting untuk dipahami, agar kita tidak berburuk sangka kepada Allah I, ketika merasa
doa kita tidak kunjung dikabulkan. Kita harus selalu yakin bahwa Allah I lebih tahu hal
terbaik untuk kita, karena Dialah yang menciptakan manusia dan Dia adalah Dzat
yang Maha Sempurna ilmuNya. Sebagaimana layaknya produsen sebuah produk,
umumnya, dia lebih tahu bentuk perlakuan terbaik untuk produknya, dibandingkan
pengguna. Walillahi matsalul-a’la (bagi Allah I perumpamaan
yang lebih tinggi).
Percayalah,
Allah Maha Sayang dengan hambaNya. Hanya saja, tidak semua bentuk kasih sayang
Allah I telah kita ketahui. Tidak semua kasih
sayang-Nya, Dia wujudkan dalam bentuk rezeki. Tidak pula dalam bentuk doa yang
dikabulkan sesuai apa yang kita minta. Bersabarlah, barangkali belum saatnya
kesempatan itu kita dapatkan.
Dan
bahkan, sebagian ulama malah mengatakan bahwa yang dimaksud “doa” pada ayat di
atas adalah “ibadah”. Sehingga ketika Allah I berjanji untuk
mengabulkan doa dengan makna ibadah hambaNya, maka Allah I mengabulkannya
dengan memberikan pahala dari setiap ibadah yang diterima.
Apalagi,
jika kita perhatikan, sesungguhnya janji yang Allah I berikan adalah
janji bersyarat. Artinya, hanya doa-doa yang memenuhi syarat atau kondisi
tertentu yang akan dikabulkan oleh Allah I.
Mengapa
Belum Terkabul?
Jika
demikian keadaannya, tentu saja kita berhajat untuk tahu, mengapa doa terkadang
tidak atau belum terkabulkan? Untuk itu, mari kita simak beberapa poin berikut.
Pertama, bisa jadi
karena kita menyepelekan kekhusyukan dan perendahan diri di hadapan Allah I ketika berdoa.
Allah I berfirman, “Berdoalah kepada
Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut” (QS.
Al-A’raf:55).
Allah I juga berfirman, “Sesungguhnya,
mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) segala
kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan
mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (QS.
Al-Anbiya’:90).
Seseorang
yang berdoa seharusnya bersikap khusyuk, merendahkan diri di hadapan Allah I, tawadhu’ dan
menghadirkan hatinya. Semua ini merupakan adab-adab dalam berdoa. Seseorang
yang berdoa juga selayaknya memendam keinginan mendalam agar permohonannya
dikabulkan, dan dia hendaknya tak henti-henti meminta kepada Allah I. Seyogyanya,
dia selalu ingin menyempurnakan doanya dan memperbagus kalimat doanya, agar doa
tersebut terangkat menuju Al-Bari (Dzat yang Maha Mengadakan segala
sesuatu), dan itu dilakukannya hingga Allah I mengabulkan
doa itu.
Rasulullah
r bersabda, “Jika kalian
berdoa kepada Allah maka berdoalah kepada-Nya dengan penuh keyakinan bahwa doa
tersebut akan dikabulkan. Sesungguhnya, Allah tidaklah mengabulkan doa seorang
hamba, yang dipanjatkan dari hati yang lalai.” (HR. Ahmad.
Dinilai hasan (baik) oleh Al-Mundziri).
Kedua, bisa jadi
karena kita putus asa, merasa doanya tidak akan terkabul dan tergesa-gesa ingin
doanya segera terwujud. Sikap-sikap semacam ini merupakan penghalang
terkabulnya doa. Rasulullah r bersabda, “Doa yang dipanjatkan seseorang
di antara kalian akan dikabulkan selama dia tidak tergesa-gesa. Dirinya
berkata, ‘Aku telah berdoa namun tidak juga terkabul’ ” (HR. Bukhari
dan Muslim).
Hal
ini adalah biasa, karena umumnya manusia tidak sabar dengan keinginannya. Semua
berharap, sebisa mungkin, keinginannya bisa terwujud secara instan. Atau
minimal, tidak menunggu waktu yang lama. Prinsip semacam ini memberikan dampak
buruk ketika kita berdoa kemudian tidak kunjung dikabulkan.
Syaikh
Al-Mubarafuri menjelaskan bahwa Imam Al-Madzhari rahimahllah berkata, “Barangsiapa yang bosan dalam berdoa, maka
doanya tidak terkabulkan, sebab doa adalah ibadah, baik dikabulkan atau tidak,
seharusnya seseorang tidak boleh bosan beribadah. Tertundanya permohonan boleh
jadi belum waktunya doa itu dikabulkan karena segala sesuatu telah ditetapkan
waktu terjadinya. Sehingga, segala sesuatu yang belum waktunya, tidak akan
mungkin terjadi.
Ketiga, bisa jadi
kita berdoa untuk sebuah hal yang buruk berupa dosa atau kemaksiatan,
seperti berdoa agar bisa melakukan dosa,
agar bencana ditimpakan, atau supaya hubungan kekerabatan terputus. Rasulullah r bersabda, “Di muka bumi ini,
tidak ada seorang muslim pun yang memanjatkan doa kepada Allah melainkan Allah
pasti akan memberi hal yang dipintanya atau Allah akan memalingkannya dari
keburukan yang senilai dengan isi doanya, sepanjang dia tidak memohon doa yang
mengandung dosa atau pemutusan hubungan kekerabatan” (HR. Tirmidzi
dan Ahmad. Dinilai Hasan-Shahih (baik-kuat) oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah).
Kata
Syaikh Al-Mubarakfuri, “Yang dimaksud “tidak berdoa untuk sesuatu yang berdosa”
artinya berdoa untuk kemaksiatan seperti, “Ya Allah, takdirkan aku untuk bisa
membunuh si fulan”, sementara si fulan itu tidak berhak dibunuh atau “Ya Allah,
berilah aku rizki untuk bisa minum khamr”. Atau berdoa untuk memutus
silaturahim. Suatu contoh, “Ya Allah, jauhkanlah aku dari bapak dan ibuku serta
saudara-saudaraku”. Doa tersebut merupakan bentuk pengkhususan terhadap yang
umum”.
Keempat, bisa jadi
karena kita memasukkan sesuatu yang haram ke dalam perut atau memakai pakaian
yang haram. Rasulullah r menyebutkan, “Seorang lelaki yang lusuh lagi kumal karena lama bepergian mengangkat
tangan ke langit tinggi-tinggi dan berdoa, ‘Ya Rabbi, ya Rabbi, sementara
makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dagingnya tumbuh dari
yang haram, maka bagaimanakah doanya bisa terkabulkan ?” (HR.
Muslim).
Kelima, bisa jadi
karena kita tidak memanfaatkan doa di saat-saat utama untuk berdoa. Allah I menciptakan
waktu dengan kemuliaan yang berbeda-beda. Itulah sebabnya Allah I bersumpah atas
keberadaan jenis waktu yang berbeda. Ada sumpah demi masa, demi waktu dhuha,
demi malam, demi siang, dan lainnya. Selayaknya, kita berupaya untuk memanfaat waktu-waktu
tersebut untuk memanjatkan doa tulus kepadaNya, di antaranya : sepertiga malam
terakhir, tatkala berbuka puasa bagi orang yang berpuasa, pada saat perang
berkecamuk, sesaat pada hari Jumat (sebagian hadits menyebutkan di akhir-akhir
waktu Ashar), di antara adzan dan iqamah, pada waktu sujud dalam shalat, saat
sedang turun hujan, pada malam lailatul qadar, pada hari Arafah, dan
waktu-waktu lainnya sebagaimana yang disebutkan dalam hadits-hadits yang shahih
(kuat).
Tendensi Dunia
Semata
Selayaknya,
kita tidak terus berharap untuk mendapatkan dunia dengan ibadah (doa) yang kita
lakukan.
Meskipun
kita yakin bahwa di antara balasan yang Allah I berikan bagi orang yang beribadah
terkadang diwujudkan di dunia. Akan tetapi, jangan menjadikan ini sebagai
tujuan utama untuk melakukan ketaatan. Jika tidak, kita bisa tertuduh sebagai
orang yang tendensius dalam beribadah. Ya, kita beribadah hanya jika ada
imbalan dunia. Allah I berfirman, “Dan di antara manusia ada orang yang
menyembah Allah di pinggiran. Ketika ia memperoleh kebaikan (harta), dia
semakin yakin dengan ibadahnya, dan jika ia ditimpa bencana, berbaliklah ia ke
belakang (murtad). Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah
kerugian yang jelas” (QS.
Al-Hajj:11).
Tentunya,
kita tidak ingin termasuk orang yang Allah I sindir dalam ayat di atas. Orang yang melakukan
ketaatan karena tendensi dunia dan dunia. Sungguh, sangat disayangkan, ketika
ibadah yang kita lakukan hanya dibayar dengan balasan sekilas di dunia. Padahal,
balasan di akhirat juah lebih berharga.
Akhirnya,
marilah kita memperbanyak doa agar Dia tidak menolak doa kita, “Allahumma innii a’udzubika min ilmin laa
yanfa’ wa min qalbin laa yakhsya’ wa min nafsin laa tasba’ wa min da’watin laa
yustajaabu laha (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari ilmu
yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tidak
pernah puas, juga dari doa yang tidak terkabul)” (HR. Muslim).
Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar