Januari 29, 2016

Doa Tak Kunjung Terkabul

Manusia, sangat memerlukan sandaran yang dapat memberikan kekuatan kepada dirinya pada saat dia lemah. Manusia, sangat membutuhkan pegangan ketika segala kekuatan di luar dirinya tidak mampu lagi menopang dan menunjang dirinya. Di saat seperti itu, tiada jalan selain menyandarkan sepenuhnya kepada kuasa Sang Penguasa, setelah berupaya untuk berikhtiar dan berusaha semampunya. Di saat seperti itu pula, tiada jalan selain dengan jalan mengadukan nasib dan keadaaannya kepada Yang Maha Kuasa dalam mengatur dan menentukan jalan hidupnya sekaligus menggenggam dan menguasai langit dan bumi beserta isinya. Dan, pengaduan itu tidak lain berupa doa yang dipanjatkan kepadaNya.

Namun dalam perjalanannya, seringkali sebuah doa terasa hambar ketika jawaban belum mendatanginya. Seringkali, doa terasa salah ketika ia belum terkabulkan jua. Hingga akhirnya, ada di antara kita yang berprasangka kepada Sang Khalik dengan prasangka yang tak sepantasnya.


Bukankah Allah telah berjanji bahwa “Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa, ketika dia berdoa kepada-Ku” (QS. Al-Baqarah:186) dan “Mintalah kepada-Ku, niscaya aku memberi ijabah kepada kalian” (QS. Ghafir:60)?  Mengapa banyak doa kepadaNya yang tak kunjung dikabulkan?” Begitulah kira-kira gumam kita.

Satu prinsip penting yang harus kita pegang, bahwa semua firman Allah I adalah benar, janji Allah I adalah benar, dan Dia I tidak akan menyelisihi janjiNya. Kita harus yakini hal itu, apa pun keadaannya.

Selanjutnya, terkait dengan janji Allah I pada ayat di atas dan realita yang kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari, para ulama telah memberikan jawabannya. Mereka berpendapat bahwa pada ayat di atas, Allah I berjanji kepada orang yang berdoa dengan ijaabah atau istijaabah, bukan dengan i’thaa’. Perlu dibedakan antara istijaabah (استجابة) atau ijaabah (إجابة) dengan i’thaa’ (إعطاء). Padanan kata ijaabah atau istijaabah yang lebih tepat dalam bahasa kita bukan “memberi” atau “mewujudkan sesuai dengan sesuatu yang diinginkan”, namun lebih umum dari itu. Kata “merespon” merupakan kata yang lebih tepat untuk menerjemahkan dua kata tersebut. Yang kita pahami dari kata “merespon”, tidak selalu dalam bentuk memberikan sesuatu yang diinginkan. Sebatas memberikan perhatian yang baik, sudah bisa dinamakan “merespon”.

Terkait makna di atas, terkadang, Allah I telah memberikan ijabah untuk doa kita, namun kita tidak tahu hakekat dan bentuk ijabah tersebut. Karena “respon baik” terhadap doa bentuknya bermacam-macam. Disebutkan dalam hadits, Nabi r bersabda, “Tidaklah seorang muslim yang berdoa, dan doanya tidak berisi perbuatan dosa atau memutus silaturahim, kecuali Allah akan memberikan salah satu di antara tiga balasan: (1) Allah kabulkan doanya, (2) Allah hindarkan dirinya dari musibah yang senilai dengan isi doanya, dan (3) Allah simpan dalam bentuk pahala untuknya di akhirat” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Hakim; dinilai sahih oleh Syaikh Musthafa Al-Adawi).

Prinsip lain yang harus kita pahami juga bahwa meskipun umumnya manusia berkeyakinan bahwa sesuatu yang dia minta adalah hal terbaik untuknya, namun sejatinya itu belum tentu baik untuknya dalam pengetahuan Allah I . Karena itulah, terkadang, Allah I menahan doa kita, karena hal itu lebih baik bagi kita, daripada Allah I memberikan sesuatu yang kita inginkan. Allah I berfirman, “Bisa jadi, kalian membenci sesuatu, padahal itu baik bagi kalian. Terkadang pula, kalian mencintai sesuatu, padahal itu buruk bagi kalian. Allah mengetahui dan kalian tidak mengetahui” (QS. Al-Baqarah:216).

Hal ini penting untuk dipahami, agar kita tidak berburuk sangka kepada Allah I, ketika merasa doa kita tidak kunjung dikabulkan. Kita harus selalu yakin bahwa Allah I lebih tahu hal terbaik untuk kita, karena Dialah yang menciptakan manusia dan Dia adalah Dzat yang Maha Sempurna ilmuNya. Sebagaimana layaknya produsen sebuah produk, umumnya, dia lebih tahu bentuk perlakuan terbaik untuk produknya, dibandingkan pengguna. Walillahi matsalul-a’la (bagi Allah I perumpamaan yang lebih tinggi).

Percayalah, Allah Maha Sayang dengan hambaNya. Hanya saja, tidak semua bentuk kasih sayang Allah I telah kita ketahui. Tidak semua kasih sayang-Nya, Dia wujudkan dalam bentuk rezeki. Tidak pula dalam bentuk doa yang dikabulkan sesuai apa yang kita minta. Bersabarlah, barangkali belum saatnya kesempatan itu kita dapatkan.

Dan bahkan, sebagian ulama malah mengatakan bahwa yang dimaksud “doa” pada ayat di atas adalah “ibadah”. Sehingga ketika Allah I berjanji untuk mengabulkan doa dengan makna ibadah hambaNya, maka Allah I mengabulkannya dengan memberikan pahala dari setiap ibadah yang diterima.

Apalagi, jika kita perhatikan, sesungguhnya janji yang Allah I berikan adalah janji bersyarat. Artinya, hanya doa-doa yang memenuhi syarat atau kondisi tertentu yang akan dikabulkan oleh Allah I.

Mengapa Belum Terkabul?

Jika demikian keadaannya, tentu saja kita berhajat untuk tahu, mengapa doa terkadang tidak atau belum terkabulkan? Untuk itu, mari kita simak beberapa poin berikut.

Pertama, bisa jadi karena kita menyepelekan kekhusyukan dan perendahan diri di hadapan Allah I ketika berdoa. Allah I berfirman, “Berdoalah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut” (QS. Al-A’raf:55). Allah I juga berfirman, “Sesungguhnya, mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) segala kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’:90).

Seseorang yang berdoa seharusnya bersikap khusyuk, merendahkan diri di hadapan Allah I, tawadhu’ dan menghadirkan hatinya. Semua ini merupakan adab-adab dalam berdoa. Seseorang yang berdoa juga selayaknya memendam keinginan mendalam agar permohonannya dikabulkan, dan dia hendaknya tak henti-henti meminta kepada Allah I. Seyogyanya, dia selalu ingin menyempurnakan doanya dan memperbagus kalimat doanya, agar doa tersebut terangkat menuju Al-Bari (Dzat yang Maha Mengadakan segala sesuatu), dan itu dilakukannya hingga Allah I mengabulkan doa itu.

Rasulullah r bersabda, “Jika kalian berdoa kepada Allah maka berdoalah kepada-Nya dengan penuh keyakinan bahwa doa tersebut akan dikabulkan. Sesungguhnya, Allah tidaklah mengabulkan doa seorang hamba, yang dipanjatkan dari hati yang lalai.” (HR. Ahmad. Dinilai hasan (baik) oleh Al-Mundziri).

Kedua, bisa jadi karena kita putus asa, merasa doanya tidak akan terkabul dan tergesa-gesa ingin doanya segera terwujud. Sikap-sikap semacam ini merupakan penghalang terkabulnya doa. Rasulullah r  bersabda, “Doa yang dipanjatkan seseorang di antara kalian akan dikabulkan selama dia tidak tergesa-gesa. Dirinya berkata, ‘Aku telah berdoa namun tidak juga terkabul’ ” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hal ini adalah biasa, karena umumnya manusia tidak sabar dengan keinginannya. Semua berharap, sebisa mungkin, keinginannya bisa terwujud secara instan. Atau minimal, tidak menunggu waktu yang lama. Prinsip semacam ini memberikan dampak buruk ketika kita berdoa kemudian tidak kunjung dikabulkan.

Syaikh Al-Mubarafuri menjelaskan bahwa Imam Al-Madzhari rahimahllah berkata, “Barangsiapa yang bosan dalam berdoa, maka doanya tidak terkabulkan, sebab doa adalah ibadah, baik dikabulkan atau tidak, seharusnya seseorang tidak boleh bosan beribadah. Tertundanya permohonan boleh jadi belum waktunya doa itu dikabulkan karena segala sesuatu telah ditetapkan waktu terjadinya. Sehingga, segala sesuatu yang belum waktunya, tidak akan mungkin terjadi.

Ketiga, bisa jadi kita berdoa untuk sebuah hal yang buruk berupa dosa atau kemaksiatan, seperti  berdoa agar bisa melakukan dosa, agar bencana ditimpakan, atau supaya hubungan kekerabatan terputus. Rasulullah r bersabda, “Di muka bumi ini, tidak ada seorang muslim pun yang memanjatkan doa kepada Allah melainkan Allah pasti akan memberi hal yang dipintanya atau Allah akan memalingkannya dari keburukan yang senilai dengan isi doanya, sepanjang dia tidak memohon doa yang mengandung dosa atau pemutusan hubungan kekerabatan” (HR. Tirmidzi dan Ahmad. Dinilai Hasan-Shahih (baik-kuat) oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah).

Kata Syaikh Al-Mubarakfuri, “Yang dimaksud “tidak berdoa untuk sesuatu yang berdosa” artinya berdoa untuk kemaksiatan seperti, “Ya Allah, takdirkan aku untuk bisa membunuh si fulan”, sementara si fulan itu tidak berhak dibunuh atau “Ya Allah, berilah aku rizki untuk bisa minum khamr”. Atau berdoa untuk memutus silaturahim. Suatu contoh, “Ya Allah, jauhkanlah aku dari bapak dan ibuku serta saudara-saudaraku”. Doa tersebut merupakan bentuk pengkhususan terhadap yang umum”.

Keempat, bisa jadi karena kita memasukkan sesuatu yang haram ke dalam perut atau memakai pakaian yang haram. Rasulullah r   menyebutkan, “Seorang lelaki yang lusuh lagi kumal karena lama bepergian mengangkat tangan ke langit tinggi-tinggi dan berdoa, ‘Ya Rabbi, ya Rabbi, sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dagingnya tumbuh dari yang haram, maka bagaimanakah doanya bisa terkabulkan ?” (HR. Muslim).

Kelima, bisa jadi karena kita tidak memanfaatkan doa di saat-saat utama untuk berdoa. Allah I menciptakan waktu dengan kemuliaan yang berbeda-beda. Itulah sebabnya Allah I bersumpah atas keberadaan jenis waktu yang berbeda. Ada sumpah demi masa, demi waktu dhuha, demi malam, demi siang, dan lainnya. Selayaknya, kita berupaya untuk memanfaat waktu-waktu tersebut untuk memanjatkan doa tulus kepadaNya, di antaranya : sepertiga malam terakhir, tatkala berbuka puasa bagi orang yang berpuasa, pada saat perang berkecamuk, sesaat pada hari Jumat (sebagian hadits menyebutkan di akhir-akhir waktu Ashar), di antara adzan dan iqamah, pada waktu sujud dalam shalat, saat sedang turun hujan, pada malam lailatul qadar, pada hari Arafah, dan waktu-waktu lainnya sebagaimana yang disebutkan dalam hadits-hadits yang shahih (kuat).

Tendensi Dunia Semata

Selayaknya, kita tidak terus berharap untuk mendapatkan dunia dengan ibadah (doa) yang kita lakukan.

Meskipun kita yakin bahwa di antara balasan yang Allah I berikan bagi orang yang beribadah terkadang diwujudkan di dunia. Akan tetapi, jangan menjadikan ini sebagai tujuan utama untuk melakukan ketaatan. Jika tidak, kita bisa tertuduh sebagai orang yang tendensius dalam beribadah. Ya, kita beribadah hanya jika ada imbalan dunia. Allah I berfirman, “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah di pinggiran. Ketika ia memperoleh kebaikan (harta), dia semakin yakin dengan ibadahnya, dan jika ia ditimpa bencana, berbaliklah ia ke belakang (murtad). Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang jelas” (QS. Al-Hajj:11).

Tentunya, kita tidak ingin termasuk orang yang Allah I sindir dalam ayat di atas. Orang yang melakukan ketaatan karena tendensi dunia dan dunia. Sungguh, sangat disayangkan, ketika ibadah yang kita lakukan hanya dibayar dengan balasan sekilas di dunia. Padahal, balasan di akhirat juah lebih berharga.

Akhirnya, marilah kita memperbanyak doa agar Dia tidak menolak doa kita, “Allahumma innii a’udzubika min ilmin laa yanfa’ wa min qalbin laa yakhsya’ wa min nafsin laa tasba’ wa min da’watin laa yustajaabu laha (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tidak pernah puas, juga dari doa yang tidak terkabul)” (HR. Muslim).


Wallahu a’lam.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...