[Gowa]. Dalam rangka untuk
menggugah semangat dan meningkatkan profesionalisme para pengurus, Dewan
Pimpinan Daerah (DPD) Wahdah Islamiyah mengadakan Daurah Manajemen dan
Kepemimpinan selama dua hari, Sabtu-Ahad, 19-20 Rabiul Akhir 1437 H/30-31
Januari 2016 M. Kegiatan ini diselenggarakan di masjid Al-Mujahidin Bonto Ba’do
yang juga menjadi Markas Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Somba Opu sebagai Organizing Committee kegiatan ini.
Daurah ini diikuti oleh 79 orang
yang terdiri dari Pengurus Harian, Ketua, Sekretaris dan Bendahara seluruh
Departemen/Lembaga, serta perwakilan dari seluruh DPC di Kabupaten yang telah
terbentuk sebanyak 10 DPC.
Kegiatan ini dibuka langsung oleh
Ketua DPD Wahdah Islamiyah Gowa, Ustadz A. Tajuddin SM. Dalam pemaparannya,
beliau menghimbau kiranya para peserta dapat mengambil manfaat yang
sebesar-besarnya dari kegiatan ini. Setelah pembukaan, Ketua Departemen
Kaderisasi Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Wahdah Islamiyah, Ustadz Syamsuddin
Kurru, S.Pd., tampil untuk membawakan materi pertama. Dalam
materinya, beliau menyampaikan tentang kebijakan dan rekomendasi terkait Pola
Kaderisasi Wahdah Islamiyah. Dalam kaderisasi, peran Murabbi menjadi penting dalam
setiap tahapan kaderisasi yang dimulai pada proses perekrutan, penguatan dan
penjagaan. Beliau juga menyampaikan bahwa perhatian yang lebih intensif dari unsur pimpinan terhadap peningkatan
kualitas murabbi/murabbiyah baik tingkat pusat maupun daerah menjadi hal yang
penting. Selain itu, maksimalisasi peran Korps Dai dan Murabbi (KDM) dalam
menjaga komitmen para murabbi dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab
pengkaderan, menjaga keseimbangan
perhatian antara peningkatan kualitas
dan kuantitas kader dan murabbi, menjadi
hal-hal yang juga wajib diperhatikan.
Di hari kedua, Ustadz Ir. Iskandar
Kato, M.M., selaku Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP Wahdah Islamiyah,
membawakan materi Visi dan Misi Wahdah Islamiyah pada sesi pertama. Dalam
pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa visi organisasi ibarat kompas dalam
menentukan arah organisasi, termasuk lembaga dakwah seperti Wahdah Islamiyah. Sedangkan
misi merupakan garis-garis besar strategi untuk mencapai visi. Misi inilah yang
kemudian dituangkan dalam bentuk program-program kerja baik yang bersifat
jangka panjang, jangka menengah maupun jangka panjang. Tak lupa, beliau menyampaikan
kesimpulan materi dengan sebuah sebuah ungkapan “Idza kunta tasiru bila hadaf
fa kullu riyah munasabah” yang maknanya kurang lebih bahwa “Jika Anda berlayar
tanpa tujuan yang jelas maka Anda akan berlayar ke mana arah angin bertiup”.
Pada sesi berikutnya, Ustadz Muhammad Yusran Anshar,
Lc., M.A., membawakan materi tentang Kepemimpinan Dalam Islam. Dalam
pemaparannya, beliau menjelaskan berbagai aspek tinjauan syariat terkait
kepemimpinan, di antaranya hokum dan dalil mengangkatpemimpin, tujuan
kepemimpinan, cara memilih pemimpin, syarat pemimpin, sifat, hak dan kewajiban
seorang pemimpin. “Pada dasaranya, tujuan sebuah kepemimpinan adalah untuk penegakan syariat Allah Y dan mengatur urusan dunia demi tercapainya
keadilan, persatuan dan memakmurkan bumi ini”, kata Direktur
Ma’had ‘Aly Al-Wahdah (STIBA) Makassar ini. “Seorang pemimpin itu hendaknya senantiasa mengawasi
dan mengontrol orang-orang yang dipimpinnya, bersikap lembut dan menasihati
serta tidak mencari kesalahan orang-orang yang dipimpinnya, menjadi teladan
yang baik bagi bawahannya, serta senantiasa
bermusyawarah", pungkas beliau. Satu hal menarik dari sekian ungkapan beliau,
yaitu bahwa rapat-rapat (musyawarah) yang kerap menjadi kesibukan kita dalam
jama’ah dan terkadang menjadi rutinitas yang cukup melelahkan adalah salah satu
bentuk ibadah, karena itu adalah bagian dari syariat Allah I.
Ustadz Shobaruddin tampil sebagai pemateri pada sesi
ketiga di hari kedua kegiatan ini. Ustadz Shobaruddin menyampaikan materi
Manajemen Rapat. Sebagai kelanjutan dari nasehat ustadz Yusran pada materi
sebelumnya, Ustadz Shobaruddin menjelaskan secara panjang lebar bagaimana
sebuah rapat dapat berlangsung secara efektif dan menghasilkan keputusan-keputusan
yang diharapkan. Di awal pemaparannya, beliau menyampaikan urgensi sebuah rapat
dalam sebuah jam’iyyah (organisasi). Saking pentingnya, kata beliau, rapat atau
musyawarah ini menjadi salah satu
nama surah dalam Al-Qur’an yaitu Surah
Asy-Syura dan juga disebutkan dalam salah ayatnya “Urusan mereka diputuskan
dengan musyawarah antara mereka dan mereka menafkahkan rezeki yang Kami berikan
kepada mereka” (ayat 38). Dalam ayat lainnya, Allah I juga berfirman, “Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabilah
engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah, sesungguhnya
Allah mencintai orang yang bertawakkal” (QS.Al-Imran :159). Beliau
menyampaikan sebuah hadits, “Tidak kecewa
orang yang istikharah (minta pilihan kepada Allah), tidak menyesal orang yang
bermusyawarah, dan tidak melarat orang yang hemat.” (HR. Ath-Thabarani dalam Ash-Shaghir dan
Al-Ausath). “Bahkan, kata salah seorang sahabat Nabi r, Abu Hurairah t pernah berkata bahwa ia tidak pernah melihat orang yang paling banyak
bermusyawarah dengan para sahabatnya selain Rasulullah r
(HR. Bukhari)”, kata beliau. Ustadz
Shobaruddin juga menyampaikan hal-hal yang penting untuk diperhatikan, di
antaranya alasan mengapa kita harus rapat, kapan rapat itu harus dilakukan, jenis-jenis
rapat dan hal-hal yang harus dihindari dalam sebuah rapat atau musyawarah.
Setelah rehat, Ustadz Ir. Taufan
Jafri, Lc., M.H.I. tampail sebagai pemateri berikutnya. Dosen Ma’had ‘Aly Al-Wahdah (STIBA) Makassar ini menyampaikan materi Etos
Kerja Dalam Islam. Menurut beliau, seorang muslim hendaknya selalu berupaya
untuk memberikan yang terbaik bagi agama ini. “Menjaga keikhlasan niat dalam
beramal dan bekerja adalah hal pokok yang harus dimiliki. Kekecewaan adalah hal
yang biasa, karena toh kita beramal dan bekerja bukan untuk siapa-siapa
melainkan hanya untuk Allah I”, beliau mengingatkan. Beda dengan sesi sebelumnya, materi kali ini
sarat dengan wejangan-wejangan tazkiyatun
nafs (penyucian jiwa). Begitu menggugah dan menyegarkan ruhiyah para
peserta.
Di sesi terakhir, Ustadz DR.
Irwan Abbas, S.S., M. Hum., tampil menyampaikan materi Seni Berkomunikasi
Dengan Orang Lain. Penyampaian materi ini bertujuan agar para peserta memahami
seni berinterkasi dengan orang lain sehingga mampu memahami bahwa interaksi
akan memberikan feedback yang
berbeda-beda tergantung cara/metode yang digunakan meskipun pesan atau
informasi yang disampaikan itu sama. Ustadz Irwan, yang juga dosen pada Universitas Khairun Ternate ini menegaskan bahwa manusia
adalah makhluk sosial yang dengan tabiatnya senang untuk menjalin hubungan dan
membangun jarring pertemanan, sehingga seni berinterksi dengan orang lain
menjadi amat penting. Ustadz Irwan juga memberikan langkah-langkah dan
tips-tips agar komunikasi dan berinteraksi dengan orang lain dapat berjalan
efektif. Hal ini penting, mengingat dakwah yang sarat dengan interaksi.
Mengakhiri kegiatan, Ustadz A.
Tajuddin SM. memberikan sambutan sekaligus menutup kegiatan ini secara resmi.
(azw/infokom).


Tidak ada komentar:
Posting Komentar