Februari 01, 2016

Daurah Manajemen dan Kepemimpinan DPD Wahdah Islamiyah Gowa

[Gowa]. Dalam rangka untuk menggugah semangat dan meningkatkan profesionalisme para pengurus, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Wahdah Islamiyah mengadakan Daurah Manajemen dan Kepemimpinan selama dua hari, Sabtu-Ahad, 19-20 Rabiul Akhir 1437 H/30-31 Januari 2016 M. Kegiatan ini diselenggarakan di masjid Al-Mujahidin Bonto Ba’do yang juga menjadi Markas Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Somba Opu sebagai Organizing Committee kegiatan ini.

Daurah ini diikuti oleh 79 orang yang terdiri dari Pengurus Harian, Ketua, Sekretaris dan Bendahara seluruh Departemen/Lembaga, serta perwakilan dari seluruh DPC di Kabupaten yang telah terbentuk sebanyak 10 DPC.



Kegiatan ini dibuka langsung oleh Ketua DPD Wahdah Islamiyah Gowa, Ustadz A. Tajuddin SM. Dalam pemaparannya, beliau menghimbau kiranya para peserta dapat mengambil manfaat yang sebesar-besarnya dari kegiatan ini. Setelah pembukaan, Ketua Departemen Kaderisasi Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Wahdah Islamiyah, Ustadz Syamsuddin Kurru, S.Pd., tampil untuk membawakan materi pertama. Dalam materinya, beliau menyampaikan tentang kebijakan dan rekomendasi terkait Pola Kaderisasi Wahdah Islamiyah. Dalam kaderisasi, peran Murabbi menjadi penting dalam setiap tahapan kaderisasi yang dimulai pada proses perekrutan, penguatan dan penjagaan. Beliau juga menyampaikan bahwa perhatian yang lebih intensif dari unsur pimpinan terhadap peningkatan kualitas murabbi/murabbiyah baik tingkat pusat maupun daerah menjadi hal yang penting. Selain itu, maksimalisasi peran Korps Dai dan Murabbi (KDM) dalam menjaga komitmen para murabbi dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab pengkaderan, menjaga keseimbangan perhatian antara  peningkatan kualitas dan kuantitas kader  dan murabbi, menjadi hal-hal yang juga wajib diperhatikan.

Di hari kedua, Ustadz Ir. Iskandar Kato, M.M., selaku Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP Wahdah Islamiyah, membawakan materi Visi dan Misi Wahdah Islamiyah pada sesi pertama. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa visi organisasi ibarat kompas dalam menentukan arah organisasi, termasuk lembaga dakwah seperti Wahdah Islamiyah. Sedangkan misi merupakan garis-garis besar strategi untuk mencapai visi. Misi inilah yang kemudian dituangkan dalam bentuk program-program kerja baik yang bersifat jangka panjang, jangka menengah maupun jangka panjang. Tak lupa, beliau menyampaikan kesimpulan materi dengan sebuah sebuah ungkapan “Idza kunta tasiru bila hadaf fa kullu riyah munasabah” yang maknanya kurang lebih bahwa “Jika Anda berlayar tanpa tujuan yang jelas maka Anda akan berlayar ke mana arah angin bertiup”.

Pada sesi berikutnya, Ustadz Muhammad Yusran Anshar, Lc., M.A., membawakan materi tentang Kepemimpinan Dalam Islam. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan berbagai aspek tinjauan syariat terkait kepemimpinan, di antaranya hokum dan dalil mengangkatpemimpin, tujuan kepemimpinan, cara memilih pemimpin, syarat pemimpin, sifat, hak dan kewajiban seorang pemimpin. “Pada dasaranya, tujuan sebuah kepemimpinan adalah untuk penegakan syariat Allah Y dan mengatur urusan dunia demi tercapainya keadilan, persatuan dan memakmurkan bumi ini”, kata Direktur Ma’had ‘Aly Al-Wahdah (STIBA) Makassar ini. “Seorang pemimpin itu hendaknya senantiasa mengawasi dan mengontrol orang-orang yang dipimpinnya, bersikap lembut dan menasihati serta tidak mencari kesalahan orang-orang yang dipimpinnya, menjadi teladan yang baik bagi bawahannya, serta senantiasa bermusyawarah", pungkas beliau. Satu hal menarik dari sekian ungkapan beliau, yaitu bahwa rapat-rapat (musyawarah) yang kerap menjadi kesibukan kita dalam jama’ah dan terkadang menjadi rutinitas yang cukup melelahkan adalah salah satu bentuk ibadah, karena itu adalah bagian dari syariat Allah I.

Ustadz Shobaruddin tampil sebagai pemateri pada sesi ketiga di hari kedua kegiatan ini. Ustadz Shobaruddin menyampaikan materi Manajemen Rapat. Sebagai kelanjutan dari nasehat ustadz Yusran pada materi sebelumnya, Ustadz Shobaruddin menjelaskan secara panjang lebar bagaimana sebuah rapat dapat berlangsung secara efektif dan menghasilkan keputusan-keputusan yang diharapkan. Di awal pemaparannya, beliau menyampaikan urgensi sebuah rapat dalam sebuah jam’iyyah (organisasi). Saking pentingnya, kata beliau, rapat atau musyawarah ini menjadi salah satu nama surah dalam Al-Qur’an  yaitu Surah Asy-Syura dan juga disebutkan dalam salah ayatnya “Urusan mereka diputuskan dengan musyawarah antara mereka dan mereka menafkahkan rezeki yang Kami berikan kepada mereka” (ayat 38). Dalam ayat lainnya, Allah I juga berfirman, “Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabilah engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah, sesungguhnya Allah mencintai orang yang bertawakkal” (QS.Al-Imran :159). Beliau menyampaikan sebuah hadits, “Tidak kecewa orang yang istikharah (minta pilihan kepada Allah), tidak menyesal orang yang bermusyawarah, dan tidak melarat orang yang hemat.” (HR.  Ath-Thabarani dalam Ash-Shaghir dan Al-Ausath). “Bahkan, kata salah seorang sahabat Nabi r, Abu Hurairah t pernah berkata bahwa ia tidak pernah melihat orang yang paling banyak bermusyawarah dengan para sahabatnya selain Rasulullah r (HR. Bukhari)”, kata beliau. Ustadz Shobaruddin juga menyampaikan hal-hal yang penting untuk diperhatikan, di antaranya alasan mengapa kita harus rapat, kapan rapat itu harus dilakukan, jenis-jenis rapat dan hal-hal yang harus dihindari dalam sebuah rapat atau musyawarah.

Setelah rehat, Ustadz Ir. Taufan Jafri, Lc., M.H.I. tampail sebagai pemateri berikutnya. Dosen Ma’had ‘Aly Al-Wahdah (STIBA) Makassar ini menyampaikan materi Etos Kerja Dalam Islam. Menurut beliau, seorang muslim hendaknya selalu berupaya untuk memberikan yang terbaik bagi agama ini. “Menjaga keikhlasan niat dalam beramal dan bekerja adalah hal pokok yang harus dimiliki. Kekecewaan adalah hal yang biasa, karena toh kita beramal dan bekerja bukan untuk siapa-siapa melainkan hanya untuk Allah I”, beliau mengingatkan. Beda dengan sesi sebelumnya, materi kali ini sarat dengan wejangan-wejangan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Begitu menggugah dan menyegarkan ruhiyah para peserta.

Di sesi terakhir, Ustadz DR. Irwan Abbas, S.S., M. Hum., tampil menyampaikan materi Seni Berkomunikasi Dengan Orang Lain. Penyampaian materi ini bertujuan agar para peserta memahami seni berinterkasi dengan orang lain sehingga mampu memahami bahwa interaksi akan memberikan feedback yang berbeda-beda tergantung cara/metode yang digunakan meskipun pesan atau informasi yang disampaikan itu sama. Ustadz Irwan, yang juga dosen pada Universitas Khairun Ternate ini menegaskan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang dengan tabiatnya senang untuk menjalin hubungan dan membangun jarring pertemanan, sehingga seni berinterksi dengan orang lain menjadi amat penting. Ustadz Irwan juga memberikan langkah-langkah dan tips-tips agar komunikasi dan berinteraksi dengan orang lain dapat berjalan efektif. Hal ini penting, mengingat dakwah yang sarat dengan interaksi.

Mengakhiri kegiatan, Ustadz A. Tajuddin SM. memberikan sambutan sekaligus menutup kegiatan ini secara resmi. (azw/infokom).






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...