Februari 19, 2016

Berani Jujur, Hebat!

Berani jujur, hebat. Begitulah slogan sebuah lembaga pemerintah yang bertugas khusus dalam pengentasan ketidakjujuran (baca:korupsi) di negeri ini. Betapa tidak, ketika ketidakjujuran dan kedustaan telah menjadi suatu hal yang lumrah, ketika ketidakjujuran dan kedustaan diumbar tanpa rasa bersalah dan takut akan ganjaran dosa, maka munculnya segelintir orang yang mampu jujur dalam kondisi itu adalah pantas menjadi orang hebat dan luar biasa. Hebat di mata manusia, terlebih di mata Sang Pencipta, Allah I.

Islam adalah agama yang mulia. Islam mengajarkan kepada seluruh umatnya untuk selalu jujur dalam setiap keadaannya. Islam juga mengharamkan dan mencela ketidakjujuran dan dusta.

Allah I berfirman, “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar” (QS. At-Taubah: 119). 

Dalam hadits, Rasulullah r memerintahkan kita untuk selalu jujur, dalam sabdanya, “Kalian wajib berlaku jujur. Sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan kepada kebajikan (ketakwaan) dan sesungguhnya ketakwaan akan mengantarkan kepada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan selalu berusaha untuk jujur maka akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang shiddiiq (yang sangat jujur). Kalian harus menjauhi kedustaan. Sesungguhnya kedustaan itu akan mengantarkan kepada perbuatan dosa dan sesungguhnya dosa itu akan mengantarkan kepada neraka. Jika seseorang senantiasa berdusta dan selalu berusaha untuk berdusta, maka akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang kadzdzaab (suka berdusta)” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dan terkhusus, terdapat perintah untuk berlaku jujur bagi para pedagang atau pelaku bisnis, karena memang tabiat ketidakjujuran dan kedustaan biasa ada di ranah ini. Dalam sebuah riwayat dari Rifa’ah t, ia mengatakan bahwa ia pernah keluar bersama Nabi r ke tanah lapang dan melihat manusia sedang melakukan transaksi jual beli. Beliau r lalu menyeru, “Wahai para pedagang!” Orang-orang pun memperhatikan seruan Rasulullah r sambil menengadahkan leher dan pandangan mereka pada beliau r. Lalu Nabi r bersabda, “Sesungguhnya para pedagang akan dibangkitkan pada hari kiamat nanti sebagai orang-orang fajir (jahat) kecuali pedagang yang bertakwa pada Allah, berbuat baik dan berlaku jujur” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, shahih dilihat dari jalur lain).

Artinya, ketika Nabi r menyebutkan golongan fajir terlebih dahulu sebelum mengecualikannya, tersirat makna bahwa pada dasarnya ketidakjujuran selalu menjadi ancaman dan godaan bagi para pelaku bisnis dan hanya segelintir atau sedikit di antara mereka yang berhasil dan berani untuk jujur dalam bisnisnya. Sehingga wajar tatkala Nabi r mengingatkan mereka bahwa kelak di hari kiamat mereka akan dibangkitkan dalam sosok fajir (jahat) jika tidak jujur dalam usahanya. Dan jika sosok ini yang muncul, tentu saja adzab dan siksaan adalah lebih pantas baginya. Wal’iyadzu-billah.

Macam-macam Kejujuran

Jujur itu, dalam niat dan kehendak. Ini kembali kepada keikhlasan. Kalau suatu amal tercampuri dengan kepentingan dunia, maka akan merusak kejujuran niat, dan pelakunya bisa dikatakan sebagai pendusta, sebagaimana kisah tiga orang yang dihadapkan kepada Allah, yaitu seorang mujahid , seorang qari’ (pembaca Al-Qur’an) dan seorang dermawan. Allah I akhirnya memasukkannya ke dalam neraka karena menilai ketiganya telah berdusta, bukan pada perbuatan mereka tetapi pada niat dan maksud mereka.

Jujur itu, dalam ucapan. Wajib bagi seorang hamba menjaga lisannya, tidak berkata kecuali dengan benar. Benar dalam ucapan merupakan jenis kejujuran yang paling tampak dan terang di antara macam-macam kejujuran. Jujur dalam tekad dan memenuhi janji. Contohnya seperti ucapan seseorang, “Jikalau Allah memberikan kepadaku harta, aku akan membelanjakan semuanya di jalan Allah.” Maka yang seperti ini adalah tekad. Terkadang benar, tetapi adakalanya juga ragu-ragu atau dusta. Hal ini sebagaimana firman Allah I,  “Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah, ‘Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.’ Maka, setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karuniaNya, mereka kikir dengan karunia itu dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi(kebenaran).” (QS. At-Taubah: 75-76).

Jujur itu, ada dalam perbuatan, yaitu seimbang antara lahiriah dan batin, hingga tidaklah berbeda antara amal lahir dengan amal batin, sebagaimana dikatakan oleh Mutharrif rahimahullah, “Jika sama antara batin seorang hamba dengan lahiriahnya, maka Allah I akan berfirman, ‘Inilah hambaku yang benar (jujur).”

Keutamaan Sebuah Kejujuran

Ketika seseorang mampu menjalankan perintah Allah I dan RasulNya r untuk menetapi kejujuran, Islam tentu akan memberikan apresiasi dan keutamaan yang tinggi.

Pertama, jujur akan mengantarkan ke surga. Sebagaimana hadits Rasulullah r di atas, Sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan kepada kebaikan dan kebaikan akan mengantarkan ke surga … dan sungguh kebohongan akan mengatarkan kepada dosa, dan dosa akan mengantarkan kepada neraka .…” (HR. Bukhari dan Muslim). Allah I juga menegaskan hal ini dalam firmanNya, “Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang jujur dengan kejujuran mereka. Bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan mereka rida terhadap Allah. Itulah keberuntungan yang paling besar“ (QS. Al-Maidah: 119).

Kedua, bagi orang yang senantiasa berusaha jujur, maka ia akan mendapatkan ketenangan di dalam hatinya dan kenyamanan dengan kejujuran yang telah ia lakukan. Berbeda halnya dengan orang yang tidak jujur dan suka berdusta, hidup mereka tidak akan tenang dan penuh dengan kebimbangan.  Orang yang terbiasa tidak jujur dan berdusta, maka untuk membenarkan kedustaannya dia akan selalu berdusta, sehingga hidupnya dipenuhi dengan kedustaan. Sebuah dusta akan memanggil dusta yang lainnya. Ia akan selalu dihantui dengan kedustaannya dan takut hal itu akan terbongkar. Rasulullah r  bersabda, “Tinggalkanlah apa-apa yang meragukanmu dengan mengerjakan apa-apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran adalah ketenangan dan sesungguhnya kedustaan (akan mengantarkan kepada) keragu-raguan atau kebingungan.” (HR. Tirmidzi. Syaikh Al-Albani menghukuminya shahih di dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi).

Ketiga, orang yang senantiasa berusaha jujur akan disukai manusia. Abu Sufyan t pernah ditanya oleh Heraklius mengenai dakwah Rasulullah r.  Abu Sufyan t menjelaskan bahwa di antara dakwahnya adalah mengajak berbuat jujur (HR. Bukhari dan Muslim). Rasulullah r  terkenal sebagai manusia yang paling jujur. Bahkan, sebelum kedatangan Islam, beliau sudah masyhur sebagai orang yang jujur. Orang-orang kafir Makkah pun mengakui kejujuran Rasulullah r, sekalipun mereka tidak beriman. Bahkan, mereka memberi gelar al-Amin (orang yang tepercaya) kepada Rasulullah r. Selain itu, mereka selalu menitipkan barang berharga kepada Rasul r. Ini adalah bukti bahwa sesungguhnya mereka menyenangi beliau r karena kejujurannya, meskipun mereka tidak beriman kepadanya.  
Keempat, khusus bagi seorang pedagang yang senantiasa berusaha jujur, maka ia akan mendapatkan keberkahan dalam perdagangannya.  Rasulullah r menyatakan, “Penjual dan pembeli memiliki hak khiyaar (pilih) selama mereka belum berpisah. Apabila keduanya jujur dan saling menjelaskan, maka mereka akan diberkahi di dalam jual beli mereka. Apabila mereka berdusta dan saling menyembunyikan (cacat) maka akan dilenyapkan keberkahan jual beli mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kelima, orang yang senantiasa berusaha jujur berpeluang mendapatkan kesyahidan, jika ia memintanya juga dengan jujur. Menjadi orang yang mati dalam keadaan syahid adalah cita-cita setiap mukmin yang sempurna keimanannya. Pada saat sekarang ini, sangat susah untuk bisa menjadi orang yang mati dalam keadaan syahid di medan pertempuran, karena syarat untuk berhijad sangatlah banyak dan tidak sembarangan. Akan tetapi, Allah I tetap memberikan keutamaan jihad untuk orang-orang yang menginginkan mati dalam keadaan syahid, jika orang tersebut memiliki niat yang ikhlas dan jujur dari hatinya. Rasulullah r bersabda, “Barang siapa yang meminta kepada Allah untuk dimatikan dalam keadaan syahid dengan jujur, maka Allah akan menjadikannya berkedudukan seperti orang-orang yang mati syahid walaupun dia mati di atas kasurnya” (HR. Muslim).

Keenam, sikap jujur akan mendatangkan berbagai jalan keluar dan kelapangan. Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan surat At-Taubah ayat 119, beliau rahimahullah mengatakan, “Berlaku jujurlah dan terus berpeganglah dengan sikap jujur. Bersungguh-sungguhlah kalian menjadi orang yang jujur. Jauhilah perilaku dusta yang dapat mengantarkan pada kebinasaan. Semoga kalian mendapati kelapangan dan jalan keluar atas perilaku jujur tersebut.”

Ketujuh, orang yang senantiasa berusaha jujur akan terhindar dari kemunafikan. Rasulullah r bersabda, “Tanda orang munafik itu ada tiga, yaitu : jika dia berbicara dia dusta, jika dia berjanji maka dia mengingkarinya dan jika dia dipercaya maka dia berkhianat” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dusta yang Dibolehkan

Hukum asal dari dusta adalah haram. Sebagaimana jujur adalah wajib. Sejatinya, seseorang haram hukumnya berdusta dalam setiap keadaan. Akan tetapi, ada beberapa keadaan, dimana seorang muslim boleh berdusta karena berdusta pada saat itu memiliki maslahat (kebaikan) yang besar dalam kehidupan seorang muslim. Nabi r bersabda, “Saya tidak menganggap berdusta bagi (i) seorang yang mendamaikan di antara manusia, dia mengatakan perkataan yang dia tidaklah menginginkan kecuali perdamaian, (ii) seorang yang berkata (berdusta) di dalam peperangan dan (iii) seorang lelaki yang berbicara kepada istrinya (tentang istrinya) dan seorang wanita yang berbicara kepada suaminya (tentang suaminya)“ (HR. Abu Dawud).

Para ulama berbeda pendapat dalam memahami hadits di atas, apakah dusta pada ketiga hal ini diperbolehkan secara mutlak, ataukah tetap tidak diperbolehkan. Namun yang kuat, insyaaAllah adalah ketiga hal tersebut adalah dibolehkan untuk sebuah kebutuhan. Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan di dalam kitabnya Al-Fath’ (VI/119), “Imam An-Nawawi mengatakan, pendapat yang tampak benar adalah bolehnya berdusta pada ketiga hal tersebut. Akan tetapi, menggunakan bahasa kiasan (tauriyah) itu lebih utama.”

Apa itu tauriyah? Yang dimaksud dengan tauriyah adalah seseorang mengatakan suatu perkataan, tetapi perkataan tersebut bisa dipahami berbeda oleh orang-orang yang mendengarkannya, sedangkan orang yang mengatakannya menginginkan makna yang lain dari perkataannya, sehingga dia tidak dikatakan berdusta.

Contohnya, ada orang zhalim yang mencari dan mengejar seseorang untuk membunuhnya, kemudian orang yang dikejar berlari dan melewati seorang yang sedang duduk. Kemudian orang zhalim tersebut bertanya kepada orang yang duduk tadi, “Apakah kamu melihat orang yang berlari?” Orang yang duduk tadi pun mengatakan sambil berdiri, “Semenjak saya berdiri di sini, saya tidak melihat seorang pun lewat di depan saya.” Orang yang duduk tadi melakukan tauriyah, yang dia maksudkan adalah semenjak berdiri dia tidak melihat seorang pun, tetapi ketika dia duduk, dia melihatnya. Sedangkan yang dipahami oleh orang yang bertanya adalah dari tadi orang tersebut tidak melihat orang yang dicarinya.

Akhirnya, semoga Allah I senantiasa mencurahkan taufiqNya kepada kita untuk mentepai kejujuran dalam setiap keadaan. Amin



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...