Berani jujur,
hebat. Begitulah slogan sebuah lembaga pemerintah yang bertugas khusus dalam
pengentasan ketidakjujuran (baca:korupsi) di negeri ini. Betapa tidak, ketika
ketidakjujuran dan kedustaan telah menjadi suatu hal yang lumrah, ketika ketidakjujuran
dan kedustaan diumbar tanpa rasa
bersalah dan takut akan ganjaran dosa, maka munculnya segelintir orang yang
mampu jujur dalam kondisi itu adalah pantas menjadi orang hebat dan luar biasa.
Hebat di mata manusia, terlebih di mata Sang Pencipta, Allah I.
Islam adalah agama yang
mulia. Islam mengajarkan kepada seluruh umatnya untuk selalu jujur dalam setiap
keadaannya. Islam juga mengharamkan dan mencela ketidakjujuran dan dusta.
Allah I berfirman, “Hai
orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama
orang-orang yang benar” (QS. At-Taubah: 119).
Dalam hadits, Rasulullah r memerintahkan kita untuk
selalu jujur, dalam sabdanya, “Kalian wajib berlaku jujur. Sesungguhnya
kejujuran akan mengantarkan kepada kebajikan (ketakwaan) dan sesungguhnya
ketakwaan akan mengantarkan kepada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku
jujur dan selalu berusaha untuk jujur maka akan dicatat di sisi Allah sebagai
orang yang shiddiiq (yang sangat jujur). Kalian harus menjauhi kedustaan.
Sesungguhnya kedustaan itu akan mengantarkan kepada perbuatan dosa dan
sesungguhnya dosa itu akan mengantarkan kepada neraka. Jika seseorang
senantiasa berdusta dan selalu berusaha untuk berdusta, maka akan dicatat di
sisi Allah sebagai orang yang kadzdzaab (suka berdusta)” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dan terkhusus, terdapat
perintah untuk berlaku jujur bagi para pedagang atau pelaku bisnis, karena
memang tabiat ketidakjujuran dan kedustaan biasa ada di ranah ini. Dalam sebuah
riwayat dari Rifa’ah t, ia mengatakan bahwa ia
pernah keluar bersama Nabi r ke tanah lapang dan melihat manusia sedang
melakukan transaksi jual beli. Beliau r lalu menyeru, “Wahai para pedagang!”
Orang-orang pun memperhatikan seruan Rasulullah r sambil menengadahkan leher
dan pandangan mereka pada beliau r. Lalu Nabi r bersabda, “Sesungguhnya para pedagang akan
dibangkitkan pada hari kiamat nanti sebagai orang-orang fajir (jahat) kecuali
pedagang yang bertakwa pada Allah, berbuat baik dan berlaku jujur” (HR. Tirmidzi dan Ibnu
Majah, shahih dilihat dari jalur lain).
Artinya, ketika Nabi r menyebutkan golongan fajir
terlebih dahulu sebelum mengecualikannya, tersirat makna bahwa pada dasarnya
ketidakjujuran selalu menjadi ancaman dan godaan bagi para pelaku bisnis dan
hanya segelintir atau sedikit di antara mereka yang berhasil dan berani untuk
jujur dalam bisnisnya. Sehingga wajar tatkala Nabi r mengingatkan mereka bahwa
kelak di hari kiamat mereka akan dibangkitkan dalam sosok fajir (jahat)
jika tidak jujur dalam usahanya. Dan jika sosok ini yang muncul, tentu saja
adzab dan siksaan adalah lebih pantas baginya. Wal’iyadzu-billah.
Macam-macam Kejujuran
Jujur itu, dalam niat dan
kehendak. Ini kembali kepada keikhlasan. Kalau suatu amal tercampuri dengan
kepentingan dunia, maka akan merusak kejujuran niat, dan pelakunya bisa
dikatakan sebagai pendusta, sebagaimana kisah tiga orang yang dihadapkan kepada
Allah, yaitu seorang mujahid , seorang qari’ (pembaca Al-Qur’an) dan seorang
dermawan. Allah I akhirnya memasukkannya ke dalam neraka karena
menilai ketiganya telah berdusta, bukan pada perbuatan mereka tetapi pada niat
dan maksud mereka.
Jujur itu, dalam ucapan.
Wajib bagi seorang hamba menjaga lisannya, tidak berkata kecuali dengan benar.
Benar dalam ucapan merupakan jenis kejujuran yang paling tampak dan terang di
antara macam-macam kejujuran. Jujur dalam tekad dan memenuhi janji. Contohnya
seperti ucapan seseorang, “Jikalau Allah memberikan kepadaku harta, aku akan
membelanjakan semuanya di jalan Allah.” Maka yang seperti ini adalah tekad.
Terkadang benar, tetapi adakalanya juga ragu-ragu atau dusta. Hal ini
sebagaimana firman Allah I, “Dan
di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah, ‘Sesungguhnya jika
Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan
bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.’ Maka, setelah
Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karuniaNya, mereka kikir dengan
karunia itu dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi(kebenaran).”
(QS. At-Taubah: 75-76).
Jujur itu, ada dalam
perbuatan, yaitu seimbang antara lahiriah dan batin, hingga tidaklah berbeda
antara amal lahir dengan amal batin, sebagaimana dikatakan oleh Mutharrif rahimahullah,
“Jika sama antara batin seorang hamba dengan lahiriahnya, maka Allah I akan berfirman, ‘Inilah
hambaku yang benar (jujur).”
Keutamaan Sebuah Kejujuran
Ketika seseorang mampu
menjalankan perintah Allah I dan RasulNya r untuk menetapi kejujuran,
Islam tentu akan memberikan apresiasi dan keutamaan yang tinggi.
Pertama, jujur akan
mengantarkan ke surga. Sebagaimana hadits Rasulullah r di atas, “Sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan kepada
kebaikan dan kebaikan akan mengantarkan ke surga … dan sungguh kebohongan akan
mengatarkan kepada dosa, dan dosa akan mengantarkan kepada neraka .…” (HR. Bukhari dan Muslim). Allah I juga menegaskan hal ini dalam
firmanNya, “Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang
jujur dengan kejujuran mereka. Bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir
sungai-sungai, Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka
dan mereka rida terhadap Allah. Itulah keberuntungan yang paling besar“ (QS. Al-Maidah: 119).
Kedua, bagi orang yang
senantiasa berusaha jujur, maka ia akan mendapatkan ketenangan di dalam hatinya
dan kenyamanan dengan kejujuran yang telah ia lakukan. Berbeda halnya dengan
orang yang tidak jujur dan suka berdusta, hidup mereka tidak akan tenang dan
penuh dengan kebimbangan. Orang yang
terbiasa tidak jujur dan berdusta, maka untuk membenarkan kedustaannya dia akan
selalu berdusta, sehingga hidupnya dipenuhi dengan kedustaan. Sebuah dusta akan
memanggil dusta yang lainnya. Ia akan selalu dihantui dengan kedustaannya dan
takut hal itu akan terbongkar. Rasulullah r bersabda,
“Tinggalkanlah apa-apa yang meragukanmu dengan mengerjakan apa-apa yang
tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran adalah ketenangan dan sesungguhnya
kedustaan (akan mengantarkan kepada) keragu-raguan atau kebingungan.” (HR. Tirmidzi. Syaikh
Al-Albani menghukuminya shahih di dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi).
Ketiga, orang yang senantiasa
berusaha jujur akan disukai manusia. Abu Sufyan t pernah ditanya oleh Heraklius mengenai dakwah Rasulullah r. Abu Sufyan t menjelaskan bahwa di antara dakwahnya adalah mengajak berbuat jujur (HR. Bukhari dan Muslim). Rasulullah r terkenal sebagai manusia yang paling jujur.
Bahkan, sebelum kedatangan Islam, beliau sudah masyhur sebagai orang yang
jujur. Orang-orang kafir Makkah pun mengakui kejujuran Rasulullah r, sekalipun mereka tidak
beriman. Bahkan, mereka memberi gelar al-Amin (orang yang tepercaya)
kepada Rasulullah r. Selain itu, mereka selalu
menitipkan barang berharga kepada Rasul r. Ini adalah bukti bahwa sesungguhnya mereka
menyenangi beliau r karena kejujurannya, meskipun mereka tidak beriman kepadanya.
Keempat, khusus bagi seorang
pedagang yang senantiasa berusaha jujur, maka ia akan mendapatkan keberkahan
dalam perdagangannya. Rasulullah r menyatakan, “Penjual dan
pembeli memiliki hak khiyaar (pilih) selama mereka belum berpisah. Apabila
keduanya jujur dan saling menjelaskan, maka mereka akan diberkahi di dalam jual
beli mereka. Apabila mereka berdusta dan saling menyembunyikan (cacat) maka
akan dilenyapkan keberkahan jual beli mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kelima, orang yang
senantiasa berusaha jujur berpeluang mendapatkan kesyahidan, jika ia memintanya
juga dengan jujur. Menjadi orang yang mati dalam keadaan syahid adalah
cita-cita setiap mukmin yang sempurna keimanannya. Pada saat sekarang ini,
sangat susah untuk bisa menjadi orang yang mati dalam keadaan syahid di medan
pertempuran, karena syarat untuk berhijad sangatlah banyak dan tidak
sembarangan. Akan tetapi, Allah I tetap memberikan keutamaan
jihad untuk orang-orang yang menginginkan mati dalam keadaan syahid, jika orang
tersebut memiliki niat yang ikhlas dan jujur dari hatinya. Rasulullah r bersabda, “Barang siapa
yang meminta kepada Allah untuk dimatikan dalam keadaan syahid dengan jujur,
maka Allah akan menjadikannya berkedudukan seperti orang-orang yang mati syahid
walaupun dia mati di atas kasurnya” (HR. Muslim).
Keenam, sikap jujur akan
mendatangkan berbagai jalan keluar dan kelapangan. Ibnu Katsir rahimahullah ketika
menafsirkan surat At-Taubah ayat 119, beliau rahimahullah mengatakan,
“Berlaku jujurlah dan terus berpeganglah dengan sikap jujur.
Bersungguh-sungguhlah kalian menjadi orang yang jujur. Jauhilah perilaku dusta
yang dapat mengantarkan pada kebinasaan. Semoga kalian mendapati kelapangan dan
jalan keluar atas perilaku jujur tersebut.”
Ketujuh, orang yang
senantiasa berusaha jujur akan terhindar dari kemunafikan. Rasulullah r bersabda, “Tanda orang
munafik itu ada tiga, yaitu : jika dia berbicara dia dusta, jika dia berjanji
maka dia mengingkarinya dan jika dia dipercaya maka dia berkhianat” (HR.
Bukhari dan Muslim).
Dusta
yang Dibolehkan
Hukum
asal dari dusta adalah haram. Sebagaimana jujur adalah wajib. Sejatinya,
seseorang haram hukumnya berdusta dalam setiap keadaan. Akan tetapi, ada
beberapa keadaan, dimana seorang muslim boleh berdusta karena berdusta pada
saat itu memiliki maslahat (kebaikan) yang besar dalam kehidupan seorang
muslim. Nabi r bersabda, “Saya
tidak menganggap berdusta bagi (i) seorang yang mendamaikan di antara manusia,
dia mengatakan perkataan yang dia tidaklah menginginkan kecuali perdamaian,
(ii) seorang yang berkata (berdusta) di dalam peperangan dan (iii) seorang
lelaki yang berbicara kepada istrinya (tentang istrinya) dan seorang wanita
yang berbicara kepada suaminya (tentang suaminya)“ (HR. Abu
Dawud).
Para
ulama berbeda pendapat dalam memahami hadits di atas, apakah dusta pada ketiga
hal ini diperbolehkan secara mutlak, ataukah tetap tidak diperbolehkan. Namun
yang kuat, insyaaAllah adalah ketiga hal tersebut adalah dibolehkan untuk
sebuah kebutuhan. Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan di dalam kitabnya Al-Fath’
(VI/119), “Imam An-Nawawi mengatakan, pendapat yang tampak benar adalah
bolehnya berdusta pada ketiga hal tersebut. Akan tetapi, menggunakan bahasa
kiasan (tauriyah) itu lebih utama.”
Apa
itu tauriyah? Yang dimaksud dengan tauriyah adalah seseorang
mengatakan suatu perkataan, tetapi perkataan tersebut bisa dipahami berbeda
oleh orang-orang yang mendengarkannya, sedangkan orang yang mengatakannya
menginginkan makna yang lain dari perkataannya, sehingga dia tidak dikatakan
berdusta.
Contohnya,
ada orang zhalim yang mencari dan mengejar seseorang untuk membunuhnya,
kemudian orang yang dikejar berlari dan melewati seorang yang sedang duduk.
Kemudian orang zhalim tersebut bertanya kepada orang yang duduk tadi, “Apakah
kamu melihat orang yang berlari?” Orang yang duduk tadi pun mengatakan sambil
berdiri, “Semenjak saya berdiri di sini, saya tidak melihat seorang pun lewat di
depan saya.” Orang yang duduk tadi melakukan tauriyah, yang dia
maksudkan adalah semenjak berdiri dia tidak melihat seorang pun, tetapi ketika
dia duduk, dia melihatnya. Sedangkan yang dipahami oleh orang yang bertanya
adalah dari tadi orang tersebut tidak melihat orang yang dicarinya.
Akhirnya,
semoga Allah I senantiasa mencurahkan taufiqNya
kepada kita untuk mentepai kejujuran dalam setiap keadaan. Amin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar