Aliran sesat di
negeri ini selalu menjadi perbincangan hangat. Mengingat dampaknya yang tidak
sedikit, pemerintah melalui kementerian/lembaga terkait dan Majelis Ulama
Indonesia (MUI) terpaksa mengagendakan pertemuan khusus untuk membahasnya.
Mengapa ada aliran sesat? Ya, begitulah. Allah I dengan hikmahNya, telah menciptakan
segala sesuatu itu berpasang-pasangan. Ada hitam, ada putih. Ada manis, ada
juga pahit. Ada terang, ada gelap. Ada kebaikan, ada pula keburukan. Dan tentu
saja, jika ada jalan kebenaran, maka di sana pun ada jalan kesesatan. Inilah
yang kemudian menjelma sebagai sebuah aliran, paham dan kepercayaan yang sesat.
Entah mengapa,
ketika kata “sesat” itu diangkat, sebagian orang menjadi alergi dan tidak mau
membahasnya. Seakan-akan bagi mereka, segala sesuatu itu adalah benar dan tidak
ada yang salah. Padahal, jika kita jujur dan mau mengikuti petunjuk, Rasulullah
r sendiri seringkali mengisyaratkan adanya
kesesatan dalam beragama. Tidak cukup sampai di situ, Rasulullah r pun senantiasa memperingatkan umatnya
agar menjauhinya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabatnya Ibnu
Mas’ud t, Rasulullah r pernah membuat garis dengan tangannya
di tanah. Rasulullah r membuat sebuah garis dan berkata, “Ini
adalah jalan yang lurus”. Kemudian, beliau r membuat beberapa garis di
kanan-kirinya, lalu bersabda, “Ini semua adalah jalan-jalan yang sesat, pada
masing-masing jalan ini ada setan-setan yang mengajak untuk masuk ke sana” (HR. Ahmad, An Nasa’i dan Ad-Darimi.
Syaikh Al-Albani mengatakan hadits ini hasan (baik) dalam kitab Misykatul-Mashabih).
Dari riwayat ini,
jelas bahwa kesesatan itu perlu dijelaskan, perlu dipahami dan diketahui untuk
dihindari.
Jalan Kesesatan
Itu Banyak
Tentu kita
sepakat, sesuatu dikatakan sesat bila ia tidak berjalan pada jalan yang benar.
Seorang musafir yang berangkat dari kota A, berniat akan menuju ke kota B, namun karena salah meniti jalan, ia malah
sampai ke kota C. Dari sini, kita akan sepakat untuk mengatakan bahwa si
musafir telah tersesat. Demikian juga dalam beragama, seseorang dikatakan sesat
dalam beragama jika ia tidak menempuh jalan atau metode beragama yang benar.
Jalan itu tidak lain adalah jalan di atas tuntunan Al-Qur’an, hadits dan
pemahaman para sahabat.
Kesesatan dalam
beragama memiliki bentuk, cara, metode dan pola kesesatan dalam beragama sangatlah
beragam dan sangat mungkin akan terus bertambah dari waktu ke waktu, seiring
dengan dinamika, perubahan dan perkembangan zaman. Hal ini tersirat dari hadits
di atas dimana Rasulullah r mengisyaratkan jalan kebenaran dengan
sebuah garis dan mengisyaratkan kesesatan dengan garis yang banyak.
Al-Qur’an al-Karim
sebagai wahyu dari Allah I pun telah menegaskan hal ini. Ketika Allah I mengabarkan tentang jalan kebenaran,
Allah I menggunakan lafadz mufrad (tunggal),
misalnya firman Allah I dalam surah Al-Fatihah, “Tunjukkanlah kami
shirath (jalan) yang lurus”. Di sini, kata “shirathun” disebutkan dalam
bentuk tunggal, dimana bentuk jamaknya adalah “shuruthun”. Sebaliknya,
ketika Allah I menyebutkan tentang jalan kesesatan, Allah I selalu menggunakan lafadz jamak.
Misalnya firman Allah I, “Dan janganlah kamu mengikuti subul
(jalan-jalan) mereka (karena jalan-jalan itu) akan memecah belah kamu dari
jalan Allah.” (QS.Al An’am:
153). Di sini, kata “subulun”
adalah bentuk jamak dari “sabiilun”. Dari penjelasan ini, nampak jelas
bahwa jalan kebenaran hanyalah satu dan jalan kesesatan itu banyak dan beragam.
Apalagi, hal ini
memang telah disinyalir oleh Rasulullah r 14 abad yang lalu dalam sabdanya, “Sesungguhnya
barangsiapa yang masih hidup dari kalian setelahku niscaya dia akan melihat
perselisihan yang banyak. Maka wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan
Sunnahku dan Sunnah Khulafa’ Ar-Rasyidin yang mendapat petunjuk” (HR. Abu Dawud, Shahih Sunan Abi Dawud
(no. 3851) dan lainnya).
Ciri Aliran Sesat
Jika ada yang
bertanya, apa pentingnya kita mengenali ciri-cirinya? Untuk menjawabnya, sebuah
sya’ir Arab pernah disebutkan seperti ini (yang artinya), “Aku mengenal
keburukan bukan untuk berbuat keburukan. Namun aku mengenalnya agar bisa
menjauhinya. Karena orang yang tidak mengenal keburukan, biasanya akan
terjerumus ke dalamnya”. Jadi, dengan mengenali cirinya, kita bisa terhindar
darinya.
Sebagaimana telah
yang disebutkan bahwa kesesatan itu sangat beragam dan bermacam jumlahnya, maka
tidak mungkin dan sulit bagi kami untuk menyampaikan semua ciri dari kesesatan yang
terjadi di masa ini. Namun, kami akan menyebutkan beberapa ciri dari jalan
kesesatan atau aliran sesat itu. Dan alhamdulillah, sebagian ciri dari aliran
sesat yang ada di tanah air kita ini telah dirumuskan oleh MUI, sebagimana yang
telah disebutkan dalam maklumatnya tentang 10 ciri aliran sesat, yaitu:
1. Mengingkari rukun
iman (Iman kepada Allah, Malaikat, Kitab Suci, Rasul, Hari Akhir, Qadha dan
Qadar) dan mengingkari rukun Islam (Mengucapkan 2 Kalimat Syahadah, Shalat
Wajib 5 Waktu, Puasa, Zakat, dan Haji)
2. Meyakini dan atau
mengikuti akidah yang tidak sesuai dalil syar’i (Al-Quran dan As-Sunnah);
3. Meyakini turunnya
wahyu setelah Al Qur’an;
4. Mengingkari
otentisitas dan atau kebenaran isi Al-Qur’an;
5. Melakukan
penafsiran Al-Quran yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir;
6. Mengingkari
kedudukan hadits Nabi r sebagai sumber ajaran Islam;
7. Menghina,
melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul;
8. Mengingkari Nabi
Muhammad r sebagai Nabi dan Rasul terakhir;
9. Merubah, menambah
dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan oleh syari’ah,
seperti haji tidak ke Baitullah, shalat fardhu tidak 5 waktu;
10. Mengkafirkan
sesama muslim tanpa dalil syar’i, seperti mengkafirkan seorang muslim hanya
karena bukan kelompoknya.
(Lihat website
MUI
http://www.mui.or.id/mui_in/hikmah.php?id=53).
Sepuluh poin yang
dikemukakan oleh MUI ini bukan tanpa dasar, melainkan dilandasi oleh banyak
dalil dari Al-Qur’an dan hadits serta bersesuaian dengan prinsip-prinsip
Ahlussunnah Wal Jama’ah.
Selain ciri-ciri
yang disebutkan di atas, terdapat pula beberapa ciri atau indikator aliran atau
paham yang menyimpang dari kebenaran, di antaranya yaitu:
Sebagian aliran
sesat memiliki amalan-amalan tertentu (khusus) yang nyeleneh (tidak
berdasar). Misalnya, ada aliran sesat yang memerintahkan pengikutnya bersetubuh
di depan pemimpinnya, atau aliran yang membolehkan shalat tanpa berwudhu. Dikatakan
nyeleneh karena tidak ada dasarnya dari al-Qur’an, hadits atau contoh
dari para sahabat. Padahal Rasulullah r melarang keras berbuat sesuatu dalam
agama kecuali ada landasannya dari dalil. Beliau r bersabda, “Barangsiapa melakukan suatu
amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim).
Sebagian aliran
sesat menjanjikan pengampunan dosa dengan cara yang tidak berdasar. Misalnya, semua
dosa terhapus dengan menyumbang infaq sebesar sekian juta kepada imam, atau semua
dosa hangus jika ikut ‘hijrah’, atau semua dosa sirna jika berhasil mengajak
sekian orang menjadi pengikut. Itulah yang dijanjikan sebagian aliran sesat.
Padahal tentunya kita semua sepakat bahwa pengampunan dosa adalah kuasa Allah I. Jadi, perkara yang dapat menghapus
dosa tentunya harus sesuai dengan yang ditetapkan oleh Allah I melalui al-Qur’an atau melalui lisan
NabiNya r. Seperti, puasa Asyura’, Rasulullah r bersabda, “Puasa ’Asyura’ akan
menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim). Juga amal-amal kebaikan, dapat menghapuskan
dosa-dosa. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya amal-amal kebaikan
menghapuskan amal-amal keburukan” (QS. Huud: 114). Namun, kepastian diampuni dan besarnya
ampunan kembali kepada kehendak Allah I, sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya
Allah tidak mengampuni dosa syirik, namun Allah mengampuni dosa selain syirik
bagi siapa yang Ia kehendaki” (QS. An Nisa: 48). Maka, jika ada sebuah aliran atau
kerpercayaan yang meyakini adanya pengampunan dosa dengan cara-cara tertentu,
tanpa didasari oleh landasan syariat dari al-Qur’an dan hadits, maka kita patut
waspada, kiranya aliran tersebut telah menyimpang dari kebenaran.
Sebagian aliran
sesat, mengajak untuk memberontak kepada pemerintah yang sah. Imam Ahmad rahimahullah
berkata, “Tidak halal memerangi penguasa muslim yang sah. Dan tidak halal
bagi seorang pun untuk memberontak kepadanya. Orang yang memberontak dan memeranginya
maka ia adalah ahli bid’ah yang telah keluar dari jalan kebenaran.” (Lihat Ushul As-Sunnah). Islam mengajarkan ummatnya agar patuh
kepada penguasa, raja, perdana menteri atau sejenisnya dan tidak memberontak,
meskipun ia adalah penguasa yang zhalim. Selama ia seorang muslim yang
mengerjakan shalat. Jika ia seorang yang zhalim, maka kewajiban rakyat adalah
memberi nasehat dengan cara yang baik, bukan memberontak dan tetap taat
kepadanya pada hal-hal yang tidak bertentangan dengan syariat. Nabi r bersabda, “Dengarlah dan ta’at
kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu.
Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka.” (HR. Muslim). Maka, aliran-aliran yang memberontak pada
pemerintah yang sah atau meyerukan pemberontakan dengan melakukan kudeta,
gerakan bawah tanah, menyusun pemberontakan, mencaci-maki pemerintah, sesungguhnya
telah melanggar wasiat Rasulullah r di atas.
Agar Terhindar Aliran
Sesat
Rasulullah r bersabda, “Aku tinggalkan di
tengah-tengah kalian dua hal, kalian tidak akan sesat jika berpegang teguh pada
keduanya, yaitu Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnah (Hadits).” (HR. Hakim. Syaikh Al-Albani
mengatakan hadits ini hasan (baik) dalam kitab Misykatul-Mashabih). Dari hadits ini jelaslah bahwa tips
nabawiyah agar terhindar dari kesesatan adalah berpegang teguh terhadap Al-Qur’an
dan Hadits Rasulullah r. Bagaimana caranya? Yaitu dengan
mempelajarinya, lalu mengamalkannya. Abu Bakar Ash-Shiddiq t berkata, “Tidaklah aku biarkan
satupun yang Rasulullah r amalkan kecuali aku mengamalkannya
karena aku takut jika meninggalkannya sedikit saja, aku akan menyimpang” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ilmu agama akan
menjaga seseorang dari kemaksiatan dan kesesatan. Semakin tinggi ilmunya,
semakin tebal perisainya terhadap kemaksiatan dan kesesatan. Sebagaimana
perkataan para ulama kita terdahulu ketika membandingkan ilmu dan harta, “Ilmu
akan menjaga pemiliknya di dunia dan di akhirat. Sementara harta tidak dapat
menjagamu. Bahkan dirimulah yang menjaga harta-hartamu di dalam kotak dan
lemari”. (Dinukil dari Kayfa
Tatahammas fi Thalabil ‘Ilmi Asy Syar’i, Abul Qa’qa Alu Abdillah). Selain karena hukumnya wajib, dengan
mempelajari ilmu agama, seseorang juga akan mampu mengetahui ajaran-ajaran yang
tidak sesuai dengan Islam namun disamarkan seolah-olah merupakan ajaran Islam.
Setelah
mempelajari agama, hendaknya kita banyak bergaul dengan ahlul ‘ilmi, yaitu
orang-orang yang memiliki kapasitas ilmu agama yang baik, atau orang-orang yang
semangat menuntut ilmu agama. Hal ini untuk menjaga dan membimbing kita
bilamana terjatuh ke dalam kemaksiatan dan penyimpangan tanpa kita sadari.
Sehingga, hendaknya kita tidak ragu untuk berkonsultasi dengan mereka, para ahlul
‘ilmi (ulama) atau ustadz yang terpercaya ketika menemukan sebuah keganjilan
dalam praktek beragama.
Setiap kita,
hendaknya menjadi insan yang ilmiah. Apa maksudnya? Yaitu, orang yang senantiasa
kritis dengan melakukan sesuatu atas dasar yang kokoh. Terlebih dalam hal
keyakinan, ibadah, dan hal-hal lain dalam beragama. Selama hal tersebut tidak
memeiliki dasar yang kokoh, baik itu dari al-Qur’an, hadits, pemahaman para
sahabat maupun para ulama, maka hendaknya kita tidak dengan mudah untu menerima
apalagi mengamalkannya.
Setiap kita,
hendaknya banyak berdoa memohon pertolongan kepada Allah I agar dihindarkan dari kesesatan dan
dimantapkan dalam kebenaran. Sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah r dalam doanya, “Yaa muqallibal
quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika (Ya Allah, Dzat Yang
Membolak-balikan Hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu)” (HR. Muslim).
Dahulukan Nasehat
Rasulullah r bersabda, “Agama adalah nasehat”
(HR.Bukhari dan
Muslim). Maka, setiap
kita hendaknya membudayakan sikap saling menasehati dalam kebaikan. Sehingga
jika kita menemukan ciri-ciri aliran sesat sebagaimana yang telah disebutkan,
kewajiban pertama adalah menasehati, bukan dengan langsung menyesat-nyesatkan,
mencaci-maki, melakukan aksi anarkis apalagi memvonis kafir. Sebab, terjerumusnya
seseorang dalam jalan kesesatan bisa jadi karena kebodohan atau keterpaksaan.
Olehnya, tulisan
ini hadir sebagai bentuk nasehat, diiringi harapan besar agar kaum muslimin dapat
terhindar dari jalan-jalan kesesatan dan bersatu di jalan kebenaran.
Wallahu
waliyyut-taufiq.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar