Februari 05, 2016

Waspada Aliran Sesat

Aliran sesat di negeri ini selalu menjadi perbincangan hangat. Mengingat dampaknya yang tidak sedikit, pemerintah melalui kementerian/lembaga terkait dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) terpaksa mengagendakan pertemuan khusus untuk membahasnya. Mengapa ada aliran sesat? Ya, begitulah. Allah I dengan hikmahNya, telah menciptakan segala sesuatu itu berpasang-pasangan. Ada hitam, ada putih. Ada manis, ada juga pahit. Ada terang, ada gelap. Ada kebaikan, ada pula keburukan. Dan tentu saja, jika ada jalan kebenaran, maka di sana pun ada jalan kesesatan. Inilah yang kemudian menjelma sebagai sebuah aliran, paham dan kepercayaan yang sesat.

Entah mengapa, ketika kata “sesat” itu diangkat, sebagian orang menjadi alergi dan tidak mau membahasnya. Seakan-akan bagi mereka, segala sesuatu itu adalah benar dan tidak ada yang salah. Padahal, jika kita jujur dan mau mengikuti petunjuk, Rasulullah r  sendiri seringkali mengisyaratkan adanya kesesatan dalam beragama. Tidak cukup sampai di situ, Rasulullah r pun senantiasa memperingatkan umatnya agar menjauhinya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabatnya Ibnu Mas’ud t, Rasulullah r pernah membuat garis dengan tangannya di tanah. Rasulullah r membuat sebuah garis dan berkata, “Ini adalah jalan yang lurus”. Kemudian, beliau r membuat beberapa garis di kanan-kirinya, lalu bersabda, “Ini semua adalah jalan-jalan yang sesat, pada masing-masing jalan ini ada setan-setan yang mengajak untuk masuk ke sana” (HR. Ahmad, An Nasa’i dan Ad-Darimi. Syaikh Al-Albani mengatakan hadits ini hasan (baik) dalam kitab Misykatul-Mashabih). Dari riwayat ini, jelas bahwa kesesatan itu perlu dijelaskan, perlu dipahami dan diketahui untuk dihindari.


Jalan Kesesatan Itu Banyak

Tentu kita sepakat, sesuatu dikatakan sesat bila ia tidak berjalan pada jalan yang benar. Seorang musafir yang berangkat dari kota A, berniat akan menuju ke kota B,  namun karena salah meniti jalan, ia malah sampai ke kota C. Dari sini, kita akan sepakat untuk mengatakan bahwa si musafir telah tersesat. Demikian juga dalam beragama, seseorang dikatakan sesat dalam beragama jika ia tidak menempuh jalan atau metode beragama yang benar. Jalan itu tidak lain adalah jalan di atas tuntunan Al-Qur’an, hadits dan pemahaman para sahabat.

Kesesatan dalam beragama memiliki bentuk, cara, metode dan pola kesesatan dalam beragama sangatlah beragam dan sangat mungkin akan terus bertambah dari waktu ke waktu, seiring dengan dinamika, perubahan dan perkembangan zaman. Hal ini tersirat dari hadits di atas dimana Rasulullah r mengisyaratkan jalan kebenaran dengan sebuah garis dan mengisyaratkan kesesatan dengan garis yang banyak.

Al-Qur’an al-Karim sebagai wahyu dari Allah I pun telah menegaskan hal ini. Ketika Allah I mengabarkan tentang jalan kebenaran, Allah I menggunakan lafadz mufrad (tunggal), misalnya firman Allah I dalam surah Al-Fatihah, “Tunjukkanlah kami shirath (jalan) yang lurus”. Di sini, kata “shirathun” disebutkan dalam bentuk tunggal, dimana bentuk jamaknya adalah “shuruthun”. Sebaliknya, ketika Allah I menyebutkan tentang jalan kesesatan, Allah I selalu menggunakan lafadz jamak. Misalnya firman Allah I, “Dan janganlah kamu mengikuti subul (jalan-jalan) mereka (karena jalan-jalan itu) akan memecah belah kamu dari jalan Allah.” (QS.Al An’am: 153). Di sini, kata “subulun” adalah bentuk jamak dari “sabiilun”. Dari penjelasan ini, nampak jelas bahwa jalan kebenaran hanyalah satu dan jalan kesesatan itu banyak dan beragam.

Apalagi, hal ini memang telah disinyalir oleh Rasulullah r 14 abad yang lalu dalam sabdanya, “Sesungguhnya barangsiapa yang masih hidup dari kalian setelahku niscaya dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafa’ Ar-Rasyidin yang mendapat petunjuk” (HR. Abu Dawud, Shahih Sunan Abi Dawud (no. 3851) dan lainnya).

Ciri Aliran Sesat

Jika ada yang bertanya, apa pentingnya kita mengenali ciri-cirinya? Untuk menjawabnya, sebuah sya’ir Arab pernah disebutkan seperti ini (yang artinya), “Aku mengenal keburukan bukan untuk berbuat keburukan. Namun aku mengenalnya agar bisa menjauhinya. Karena orang yang tidak mengenal keburukan, biasanya akan terjerumus ke dalamnya”. Jadi, dengan mengenali cirinya, kita bisa terhindar darinya.
Sebagaimana telah yang disebutkan bahwa kesesatan itu sangat beragam dan bermacam jumlahnya, maka tidak mungkin dan sulit bagi kami untuk menyampaikan semua ciri dari kesesatan yang terjadi di masa ini. Namun, kami akan menyebutkan beberapa ciri dari jalan kesesatan atau aliran sesat itu. Dan alhamdulillah, sebagian ciri dari aliran sesat yang ada di tanah air kita ini telah dirumuskan oleh MUI, sebagimana yang telah disebutkan dalam maklumatnya tentang 10 ciri aliran sesat, yaitu:
1.   Mengingkari rukun iman (Iman kepada Allah, Malaikat, Kitab Suci, Rasul, Hari Akhir, Qadha dan Qadar) dan mengingkari rukun Islam (Mengucapkan 2 Kalimat Syahadah, Shalat Wajib 5 Waktu, Puasa, Zakat, dan Haji)
2.   Meyakini dan atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dalil syar’i (Al-Quran dan As-Sunnah);
3.   Meyakini turunnya wahyu setelah Al Qur’an;
4.   Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Al-Qur’an;
5.   Melakukan penafsiran Al-Quran yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir;
6.   Mengingkari kedudukan hadits Nabi r sebagai sumber ajaran Islam;
7.   Menghina, melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul;
8.   Mengingkari Nabi Muhammad r sebagai Nabi dan Rasul terakhir;
9.   Merubah, menambah dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan oleh syari’ah, seperti haji tidak ke Baitullah, shalat fardhu tidak 5 waktu;
10. Mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar’i, seperti mengkafirkan seorang muslim hanya karena bukan kelompoknya.

(Lihat website MUI  http://www.mui.or.id/mui_in/hikmah.php?id=53).

Sepuluh poin yang dikemukakan oleh MUI ini bukan tanpa dasar, melainkan dilandasi oleh banyak dalil dari Al-Qur’an dan hadits serta bersesuaian dengan prinsip-prinsip Ahlussunnah Wal Jama’ah.
Selain ciri-ciri yang disebutkan di atas, terdapat pula beberapa ciri atau indikator aliran atau paham yang menyimpang dari kebenaran, di antaranya yaitu:

Sebagian aliran sesat memiliki amalan-amalan tertentu (khusus) yang nyeleneh (tidak berdasar). Misalnya, ada aliran sesat yang memerintahkan pengikutnya bersetubuh di depan pemimpinnya, atau aliran yang membolehkan shalat tanpa berwudhu. Dikatakan nyeleneh karena tidak ada dasarnya dari al-Qur’an, hadits atau contoh dari para sahabat. Padahal Rasulullah r melarang keras berbuat sesuatu dalam agama kecuali ada landasannya dari dalil. Beliau r  bersabda, “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim).

Sebagian aliran sesat menjanjikan pengampunan dosa dengan cara yang tidak berdasar. Misalnya, semua dosa terhapus dengan menyumbang infaq sebesar sekian juta kepada imam, atau semua dosa hangus jika ikut ‘hijrah’, atau semua dosa sirna jika berhasil mengajak sekian orang menjadi pengikut. Itulah yang dijanjikan sebagian aliran sesat. Padahal tentunya kita semua sepakat bahwa pengampunan dosa adalah kuasa Allah I. Jadi, perkara yang dapat menghapus dosa tentunya harus sesuai dengan yang ditetapkan oleh Allah I melalui al-Qur’an atau melalui lisan NabiNya r. Seperti, puasa Asyura’, Rasulullah r bersabda, “Puasa ’Asyura’ akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim). Juga amal-amal kebaikan, dapat menghapuskan dosa-dosa. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya amal-amal kebaikan menghapuskan amal-amal keburukan” (QS. Huud: 114). Namun, kepastian diampuni dan besarnya ampunan kembali kepada kehendak Allah I, sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, namun Allah mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Ia kehendaki” (QS. An Nisa: 48). Maka, jika ada sebuah aliran atau kerpercayaan yang meyakini adanya pengampunan dosa dengan cara-cara tertentu, tanpa didasari oleh landasan syariat dari al-Qur’an dan hadits, maka kita patut waspada, kiranya aliran tersebut telah menyimpang dari kebenaran.

Sebagian aliran sesat, mengajak untuk memberontak kepada pemerintah yang sah. Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Tidak halal memerangi penguasa muslim yang sah. Dan tidak halal bagi seorang pun untuk memberontak kepadanya. Orang yang memberontak dan memeranginya maka ia adalah ahli bid’ah yang telah keluar dari jalan kebenaran.” (Lihat Ushul As-Sunnah). Islam mengajarkan ummatnya agar patuh kepada penguasa, raja, perdana menteri atau sejenisnya dan tidak memberontak, meskipun ia adalah penguasa yang zhalim. Selama ia seorang muslim yang mengerjakan shalat. Jika ia seorang yang zhalim, maka kewajiban rakyat adalah memberi nasehat dengan cara yang baik, bukan memberontak dan tetap taat kepadanya pada hal-hal yang tidak bertentangan dengan syariat. Nabi r bersabda, “Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka.” (HR. Muslim). Maka, aliran-aliran yang memberontak pada pemerintah yang sah atau meyerukan pemberontakan dengan melakukan kudeta, gerakan bawah tanah, menyusun pemberontakan, mencaci-maki pemerintah, sesungguhnya telah melanggar wasiat Rasulullah r di atas.

Agar Terhindar Aliran Sesat

Rasulullah r bersabda, “Aku tinggalkan di tengah-tengah kalian dua hal, kalian tidak akan sesat jika berpegang teguh pada keduanya, yaitu Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnah (Hadits).” (HR. Hakim. Syaikh Al-Albani mengatakan hadits ini hasan (baik) dalam kitab Misykatul-Mashabih). Dari hadits ini jelaslah bahwa tips nabawiyah agar terhindar dari kesesatan adalah berpegang teguh terhadap Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah r. Bagaimana caranya? Yaitu dengan mempelajarinya, lalu mengamalkannya. Abu Bakar Ash-Shiddiq t berkata, “Tidaklah aku biarkan satupun yang Rasulullah r amalkan kecuali aku mengamalkannya karena aku takut jika meninggalkannya sedikit saja, aku akan menyimpang” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ilmu agama akan menjaga seseorang dari kemaksiatan dan kesesatan. Semakin tinggi ilmunya, semakin tebal perisainya terhadap kemaksiatan dan kesesatan. Sebagaimana perkataan para ulama kita terdahulu ketika membandingkan ilmu dan harta, “Ilmu akan menjaga pemiliknya di dunia dan di akhirat. Sementara harta tidak dapat menjagamu. Bahkan dirimulah yang menjaga harta-hartamu di dalam kotak dan lemari”. (Dinukil dari Kayfa Tatahammas fi Thalabil ‘Ilmi Asy Syar’i, Abul Qa’qa Alu Abdillah). Selain karena hukumnya wajib, dengan mempelajari ilmu agama, seseorang juga akan mampu mengetahui ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan Islam namun disamarkan seolah-olah merupakan ajaran Islam.

Setelah mempelajari agama, hendaknya kita banyak bergaul dengan ahlul ‘ilmi, yaitu orang-orang yang memiliki kapasitas ilmu agama yang baik, atau orang-orang yang semangat menuntut ilmu agama. Hal ini untuk menjaga dan membimbing kita bilamana terjatuh ke dalam kemaksiatan dan penyimpangan tanpa kita sadari. Sehingga, hendaknya kita tidak ragu untuk berkonsultasi dengan mereka, para ahlul ‘ilmi (ulama) atau ustadz yang terpercaya ketika menemukan sebuah keganjilan dalam praktek beragama.

Setiap kita, hendaknya menjadi insan yang ilmiah. Apa maksudnya? Yaitu, orang yang senantiasa kritis dengan melakukan sesuatu atas dasar yang kokoh. Terlebih dalam hal keyakinan, ibadah, dan hal-hal lain dalam beragama. Selama hal tersebut tidak memeiliki dasar yang kokoh, baik itu dari al-Qur’an, hadits, pemahaman para sahabat maupun para ulama, maka hendaknya kita tidak dengan mudah untu menerima apalagi mengamalkannya.

Setiap kita, hendaknya banyak berdoa memohon pertolongan kepada Allah I  agar dihindarkan dari kesesatan dan dimantapkan dalam kebenaran. Sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah r dalam doanya, “Yaa muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika (Ya Allah, Dzat Yang Membolak-balikan Hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu)” (HR. Muslim).

Dahulukan Nasehat

Rasulullah r bersabda, “Agama adalah nasehat” (HR.Bukhari dan Muslim). Maka, setiap kita hendaknya membudayakan sikap saling menasehati dalam kebaikan. Sehingga jika kita menemukan ciri-ciri aliran sesat sebagaimana yang telah disebutkan, kewajiban pertama adalah menasehati, bukan dengan langsung menyesat-nyesatkan, mencaci-maki, melakukan aksi anarkis apalagi memvonis kafir. Sebab, terjerumusnya seseorang dalam jalan kesesatan bisa jadi karena kebodohan atau keterpaksaan.

Olehnya, tulisan ini hadir sebagai bentuk nasehat, diiringi harapan besar agar kaum muslimin dapat terhindar dari jalan-jalan kesesatan dan bersatu di jalan kebenaran.

Wallahu waliyyut-taufiq.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...