Maret 28, 2013

Lidah, Memang Tak Bertulang

Lidah itu memang lunak tidak bertulang. Tapi dampak dan “rasanya bisa keras seperti tulang, bahkan lebih.  Seorang yang tidak menguasai ilmu beladiri pun bisa bersilat lidah.

Lidah itu tajam laksana pedang bahkan ia adalah pedang bermata dua. Jika luka tersayat pedang tidaklah susah untuk diobati. Tetapi hati yang terluka ditikam kata-kata, kemana kita hendak mecari penawarnya? Entah berapa banyak persaudaraan terputus ditebas lidah laksana pedang tadi.

Padahal Rasulullah r ketika ditanya siapa muslim yang paling afdhal? Beliau r menjawab (artinya) : “Orang yang selamat kaum muslimin dari lisan dan tanganya” [HR. Bukhari dan Muslim].

Lidah itu berbisa bagai lidah ular yang bercabang dua. Ia bisa berbahaya bagi pemiliknya dan lawan bicaranya. Lidah bisa menjadi binatang buas yang bahkan memangsa tuannya sendiri. Makanya, ada ungkapan bijak yang berbunyi : “mulutmu harimaumu”.

Sebuah hadits dari Abu Hurairah t bahwasanya ia mendengar Nabi r berkata (artinya) :  “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang dia tidak tahu apakah itu baik atau buruk,ternyata menggelincirkannya ke dalam neraka lebih jauh dari antara timur dan barat”.

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Ketahuilah, bahwasanya seyogyanya bagi setiap hamba hendaklah ia menjaga lisannya dari seluruh ucapan kecuali ucapan yang ada maslahat padanya. Apabila berbicara atau diam sama maslahatnya, maka yang sesuai sunnah adalah memilih diam. Karena terkadang ucapan yang mubah dapat menyeret kepada yang haram atau makruh, bahkan galibnya inilah yang terjadi, dan keselamatan tidak ada yang bisa menyamai harganya” [Lihat Al-Adzkar Imam An-Nawawi (1/332)].

Nabi r bersabda (artinya) :  “Termasuk di antara baiknya islam(nya) seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak berguna baginya” [HR. At-Tirmidzi (2318)].

Seorang muslim, ketika dia hendak berbicara,  hendaknya ia menimbang apakah berguna atau tidak? Jika tidak berguna dia memilih diam.

Jika ternyata berguna dia menimbang lagi, apakah jika dia diam manfaatnya lebih besar dari pada berbicara?

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Jika seseorang berbicara hendaklah ia memikirkan sebelum mengucapkannya, jika nyata maslahatnya ia berbicara dan jika ia ragu, ia diam sampai jelas maslahatnya” [Lihat Al-Adzkar oleh Imam An-Nawawi (1/332)].

Beliau juga pernah menasehati sahabat yang juga muridnya, “Janganlah kamu berbicara dalam perkara yang tidak berguna bagimu. Sesungguhnya jika engkau mengucapkan satu kata, ia akan menguasaimu dan engkau tidak bisa menguasainya” [Lihat Al-Adzkar oleh Imam An-Nawawi (1/335)].

Lidah adalah duta hati, jika engkau ingin mengetahui hati seseorang, lihatlah apa yang biasa dia ucapkan. Sesungguhnya itu akan menyingkap apa yang dihatinya, suka atau tidak suka.

Karena lidah itu itu seperti kuali yang mendidih, lidah adalah sendoknya. Perhatikanlah ketika seseorang berbicara, sesungguhnya ia sedang menyendokkan isi hatinya kepadamu, dengan  beragam rasa, pahit, manis, asam, pedas dan lainnya. Sebagaimana engkau bisa merasakan masakan dalam kuali dengan lidah. Engkau juga bisa merasakan hati lawan bicaramu dengan gerak lidahnya ketika bertutur-kata.

Sungguh mengherankan, seseorang bisa dengan mudah menjaga dirinya dari memakan yang haram, berbuat zalim, zina, mencuri, meminum khamar dan dari memandang yang haram, tetapi tidak bisa menahan gerak lidahnya yang lunak tidak bertulang. Bahkan seseorang yang zahirnya ta’at, berwibawa, sopan tetapi dia membiarkan lidahnya mengucapkan kalimat yang dianggapnya sepele padahal satu kalimat itu saja cukup untuk mencampakkannya ke dalam neraka.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Jundub t, ia berkata, Rasulullah r bersabda (artinya), ‘Seseorang berkata, ‘Demi Allah, Allah tidak mengampuni si fulan’. Maka Allah I  berkata, “Siapa orang yang lancang mendahuluiku mengatakan bahwa Aku tidak mengampuni fulan? Sesungguhnya Aku telah mengampuni si fulan dan Aku hapus amalanmu”.

Subhanallah... Satu kalimat saja yang dianggapnya remeh menghapuskan amal-amalnya. Hilanglah sholat yang dulu dikerjakannya. Lenyaplah puasa yang dulu ditunaikannya. Sirnalah zakat, qiyam dan amal kebajikannya. Karena kelancangan lidahnya mendahului apa yang menjadi hak Allah I.

Dahulu, para salafus shalih sangat menjaga lidah mereka. Setiap saat mereka meng-hisab kalimat yang mereka ucapkan.

Ibnu Buraidah rahimahullah berkata, “Aku melihat Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma memegang lidahnya lalu berkata, ‘Katakanlah yang baik engkau pasti beruntung. Atau diamlah dari keburukan engkau pasti selamat’. Maka ditanyakan kepadanya, ‘Kenapa engkau mengucapkan ini?’. Ia menjawab, “Aku dengar, bahwasanya seorang manusia tidak lebih menyesal dan marah kepada anggota tubuhnya selain dari pada lidahnya kecuali orang yang mengucapkan kata-kata yang baik atau menukilkan yang baik dengan lidahnya”.

Yunus bin ‘Ubaid rahimahullah berkata, “Aku tidak melihat seseorang yang lidahnya terjaga melainkan aku melihatnya pula pada seluruh amalannya. Dan seorang yang rusak tutur katanya melainkan aku melihatnya tampak pada seluruh amalanya”.

Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berpetuah, “Barangsiapa yang menganggap perkataannya bagian dari amalnya, niscaya sedikit perkataannya pada sesuatu yang tidak bermanfaat”.

Abu Hatim rahimahullah berkata, “Wajib bagi orang yang berakal agar berlaku adil kepada telinga dan mulutnya. Dia harus tahu, bahwa ia diberi dua telinga dan satu mulut adalah agar ia lebih banyak mendengar dari pada berbicara. Karena kalau dia berbicara bisa jadi dia akan menyesali dan apabila tidak berbicara dia tidak menyesal. Dan dia akan lebih mudah membantah apa yang tidak dia ucapkan dari pada membantah apa yang telah dia ucapkan”.

Dulu, sebagian ulama tidak menerima hadits dari orang-orang yang berbicara atau mengucapkan kalimat-kalimat yang tidak patut.
Namun, di balik itu semua, lidah juga dapat menyebabkan dua petaka besar, jika seseorang selamat dari yang satunya belum tentu selamat dari yang berikutnya. Dua petaka atau bencana itu adalah : petaka berbicara dan petaka diam.

Seorang yang bungkam dan mendiamkan kebenaran adalah setan yang bisu, bermaksiat kepada Allah I , bermuka dua dan menjilat , jika dia tidak mengkhawatirkan bahaya atas dirinya.

Dan orang yang mengucapkan perkataan yang batil adalah setan yang berbicara, bermaksiat kepada Allah I dengan kata-kata yang ia ucapkan.

Adapun orang-orang yang berjalan di atas jalan yang lurus – semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan mereka – berada di antara dua petaka tersebut. Mereka menahan lidah mereka dari perkataan yang batil dan melepaskannya untuk sesuatu yang mendatangkan manfaat kepada mereka di akhirat. Oleh karena itu, kita tidak adakan dapatkan salah seorang mereka melontarkan kata-kata yang tidak mendatangkan manfaat apalagi yang bisa membahayakan di akhirat.

Rasulullah r bersabda (artinya) : “Bukanlah seorang mukmin itu suka mencela, melaknat, berkata yang keji dan kotor” [HR. Bukhari dan lainnya].

Seorang hamba, bisa jadi di hari kiamat datang membawa kebaikan sebesar gunung, lalu dia dapatkan ternyata lidahnya telah memusnahkan semuanya. Atau sebaliknya, dia datang membawa kesalahan yang banyak ternyata lidahnya menghapusnya karena dia banyak berdzikir dan yang berkaitan dengannya.

Ketika seseorang datang kepada Nabi r lalu berkata, “Hai Rasulullah nasehatilah aku’”. Rasul r bersabda (artinya) : “Jika engkau berdiri dalam shalatmu, maka shalatlah seolah-olah itu shalat terakhirmu. Dan janganlah engkau mengucapkan kalimat yang esok membuatmu menyesal dan bulatkanlah bersungguh-sungguhlah memutus harapan terhadap apa yang ada ditengan manusia”[HR. Ahmad dan Baihaqi dan dishohihkan oleh Al-Albani (Shahih Al-Jami’ no. 742)].

Kalau saja setiap kita memegang tiga wasiat ini; sholat dengan khusyu’, menjaga lidah, dan     menggantungkan harapan hanya kepada Allah, niscaya keberuntungan menyertai langkahnya.

Oleh karena itu ketika Uqbah bin Amir bertanya kepada Rasulullah, “Apa keselamatan itu?”. Maka Rasulullah r menjawab (artinya) : “Tahanlah lidahmu dan jadikanlah rumahmu lapang bagimu, serta tangisilah kesalahanmu” [HR. Abdullah bin Al-Mubaarok dalam Az-Zuhud (no.134), Ahmad (5/259) dan At-Tirmidzi (2/65) (Ash-Shohihah 2/581).].

Semoga Allah menjaga kita semua dari petaka lidah … Semoga Allah menguatkan kita untuk menyuarakan kebenaran... Semoga Allah menguatkan kita untuk menahan lidah dari kebatilan, Amin.

Wallahu A’lam.

Maraji’ : “Lidah, Pedang Bermata Dua”, Abu Zubair dan lainnya

**************************************************
Begitulah Hidup

Di dalam hidup, banyak orang yang datang dan pergi. Allah telah menjumpakan kita dengan orang-orang yang Dia telah gariskan dalam catatan takdir
Mereka pun datang silih berganti.

Ada yang melintas dalam segmen singkat, namun membekas di hati. Ada yang telah lama berjalan beiringan, tetapi tak disadari arti kehadirannya. Ada pula yang begitu jauh di mata, sedangkan penampakannya melekat di hati.

Ada yang datang pergi begitu saja seolah tak pernah ada. Semua orang yang pernah singgah dalam hidup kita bagaikan kepingan puzzle yang saling melengkapi dan membentuk sebuah gambaran kehidupan. Maka sudah fitrah, bila ada pertemuan pasti ada perpisahan..

Di mana ada awal, pasti akan ada akhir. Akhir sebuah perjalanan, ia akan menjadi awal bagi perjalanan lainnya,,,

Sebuah perpisahan, ia akan menjadi awal pertemuan dengan sesuatu yang baru. Well, that’s life must be...

Kalau kita tidak bisa berjumpa lagi di dunia, semoga Allah I mengumpulkan kita di jannah (surga).

Bukankah Nabi r bersabda (artinya) :
Dua orang yang saling mencintai karena Allah. Mereka berkumpul dan berpisah dengan sebab cinta karena Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Yang kami harap, semoga persaudaraan kita tidak hanya di dunia, namun berakhir pula di jannah. Amin

Selamat Jalan Saudaraku
Ustadzuna al-Fadhil Sahaba Dg. Ampa (rahimahullah)

(Da’i Perintis Wahdah Islamiyah. Meninggal dalam kecelakaan lalu lintas di Bulukumba. Kami mengenalnya sebagai seorang shaleh, bersahaja, dan semangat dalam memperjuangkan tegaknya agama Allah I dengan amar ma’ruf dan nahi munkar. Semoga Allah I merahmati beliau dan menempatkannya pada derajat tertinggi di sisiNya. Amin ya Rabb). (Redaksi)

Maraji’ :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...