Lidah itu
memang lunak tidak bertulang. Tapi dampak dan “rasa”nya
bisa keras seperti tulang, bahkan lebih. Seorang yang tidak menguasai ilmu beladiri
pun bisa bersilat lidah.
Lidah itu
tajam laksana pedang bahkan ia adalah pedang bermata dua. Jika luka tersayat
pedang tidaklah susah untuk diobati. Tetapi hati yang terluka ditikam
kata-kata, kemana kita hendak mecari penawarnya? Entah berapa banyak
persaudaraan terputus ditebas lidah laksana pedang tadi.
Padahal
Rasulullah r
ketika ditanya siapa muslim yang paling afdhal? Beliau r menjawab
(artinya) : “Orang yang selamat kaum muslimin dari lisan dan tanganya” [HR.
Bukhari dan Muslim].
Lidah itu
berbisa bagai lidah ular yang bercabang dua. Ia bisa berbahaya bagi pemiliknya
dan lawan bicaranya. Lidah bisa menjadi binatang buas yang bahkan memangsa
tuannya sendiri. Makanya, ada ungkapan bijak yang berbunyi : “mulutmu
harimaumu”.
Sebuah hadits
dari Abu Hurairah t bahwasanya ia mendengar Nabi r berkata
(artinya) : “Sesungguhnya seorang
hamba mengucapkan satu kata yang dia tidak tahu apakah itu baik atau
buruk,ternyata menggelincirkannya ke dalam neraka lebih jauh dari antara timur
dan barat”.
Imam An-Nawawi
rahimahullah menjelaskan, “Ketahuilah, bahwasanya seyogyanya bagi setiap
hamba hendaklah ia menjaga lisannya dari
seluruh ucapan kecuali ucapan yang ada maslahat padanya. Apabila berbicara atau
diam sama maslahatnya, maka yang sesuai sunnah adalah memilih diam. Karena
terkadang ucapan yang mubah dapat menyeret kepada yang haram atau makruh,
bahkan galibnya inilah yang terjadi, dan keselamatan tidak ada yang bisa
menyamai harganya” [Lihat Al-Adzkar Imam An-Nawawi (1/332)].
Nabi r bersabda
(artinya) : “Termasuk di antara
baiknya islam(nya) seseorang adalah meninggalkan
apa-apa yang tidak berguna baginya” [HR.
At-Tirmidzi (2318)].
Seorang
muslim, ketika dia hendak berbicara, hendaknya ia
menimbang apakah berguna atau tidak? Jika tidak berguna dia memilih diam.
Jika ternyata
berguna dia menimbang lagi, apakah jika dia diam manfaatnya lebih besar dari
pada berbicara?
Imam
Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Jika seseorang berbicara hendaklah ia
memikirkan sebelum mengucapkannya, jika nyata maslahatnya ia berbicara dan jika
ia ragu, ia diam sampai jelas maslahatnya” [Lihat
Al-Adzkar oleh Imam An-Nawawi (1/332)].
Beliau juga
pernah menasehati sahabat yang juga muridnya, “Janganlah kamu berbicara dalam
perkara yang tidak berguna bagimu. Sesungguhnya jika engkau mengucapkan satu
kata, ia akan menguasaimu dan engkau tidak bisa menguasainya” [Lihat
Al-Adzkar oleh Imam An-Nawawi (1/335)].
Lidah adalah
duta hati, jika engkau ingin mengetahui hati seseorang, lihatlah apa yang biasa
dia ucapkan. Sesungguhnya itu akan menyingkap apa yang dihatinya, suka atau
tidak suka.
Karena lidah
itu itu seperti kuali yang mendidih, lidah adalah sendoknya. Perhatikanlah
ketika seseorang berbicara, sesungguhnya ia sedang menyendokkan isi hatinya
kepadamu, dengan beragam rasa, pahit, manis,
asam, pedas dan lainnya. Sebagaimana engkau bisa merasakan masakan dalam kuali
dengan lidah. Engkau juga bisa merasakan hati lawan bicaramu dengan gerak
lidahnya ketika bertutur-kata.
Sungguh
mengherankan, seseorang bisa dengan mudah menjaga dirinya dari memakan yang
haram, berbuat zalim, zina, mencuri, meminum khamar dan dari memandang yang
haram, tetapi tidak bisa menahan gerak lidahnya yang lunak tidak bertulang. Bahkan
seseorang yang zahirnya ta’at, berwibawa, sopan tetapi dia membiarkan lidahnya
mengucapkan kalimat yang dianggapnya sepele padahal satu kalimat itu saja cukup
untuk mencampakkannya ke dalam neraka.
Dalam sebuah
hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Jundub t, ia berkata, Rasulullah r bersabda
(artinya), ‘Seseorang berkata, ‘Demi Allah, Allah tidak mengampuni si
fulan’. Maka Allah I berkata, “Siapa orang yang lancang
mendahuluiku mengatakan bahwa Aku tidak mengampuni fulan? Sesungguhnya Aku
telah mengampuni si fulan dan Aku hapus amalanmu”.
Subhanallah... Satu
kalimat saja yang dianggapnya remeh menghapuskan amal-amalnya. Hilanglah sholat yang dulu
dikerjakannya. Lenyaplah puasa yang dulu ditunaikannya. Sirnalah
zakat, qiyam dan amal kebajikannya. Karena kelancangan lidahnya
mendahului apa yang menjadi hak Allah I.
Dahulu, para
salafus shalih sangat menjaga lidah mereka. Setiap saat mereka meng-hisab
kalimat yang mereka ucapkan.
Ibnu Buraidah rahimahullah berkata, “Aku melihat Ibnu Abbas radhiyallahu
anhuma memegang lidahnya lalu berkata, ‘Katakanlah yang baik engkau pasti
beruntung. Atau diamlah dari keburukan engkau pasti selamat’. Maka ditanyakan
kepadanya, ‘Kenapa engkau mengucapkan ini?’. Ia menjawab, “Aku dengar,
bahwasanya seorang manusia tidak lebih menyesal dan marah kepada anggota
tubuhnya selain dari pada lidahnya kecuali orang yang mengucapkan kata-kata
yang baik atau menukilkan yang baik dengan lidahnya”.
Yunus bin
‘Ubaid rahimahullah berkata, “Aku tidak
melihat seseorang yang lidahnya terjaga melainkan aku melihatnya pula pada
seluruh amalannya. Dan seorang yang rusak tutur katanya melainkan aku
melihatnya tampak pada seluruh amalanya”.
Fudhail bin
‘Iyadh rahimahullah berpetuah,
“Barangsiapa yang menganggap perkataannya bagian dari amalnya, niscaya sedikit
perkataannya pada sesuatu yang tidak bermanfaat”.
Abu Hatim rahimahullah
berkata, “Wajib bagi orang yang berakal agar berlaku adil kepada telinga dan
mulutnya. Dia harus tahu, bahwa ia diberi dua telinga dan satu mulut adalah
agar ia lebih banyak mendengar dari pada berbicara. Karena kalau dia berbicara
bisa jadi dia akan menyesali dan apabila tidak berbicara dia tidak menyesal.
Dan dia akan lebih mudah membantah apa yang tidak dia ucapkan dari pada
membantah apa yang telah dia ucapkan”.
Dulu, sebagian
ulama tidak menerima hadits dari orang-orang yang berbicara atau mengucapkan
kalimat-kalimat yang tidak patut.
Namun, di
balik itu semua, lidah juga dapat menyebabkan dua petaka besar, jika seseorang
selamat dari yang satunya belum tentu selamat dari yang berikutnya. Dua petaka
atau bencana itu adalah : petaka berbicara dan petaka diam.
Seorang yang
bungkam dan mendiamkan kebenaran adalah setan yang bisu, bermaksiat kepada
Allah I ,
bermuka dua dan menjilat , jika dia tidak mengkhawatirkan bahaya atas dirinya.
Dan orang yang
mengucapkan perkataan yang batil adalah setan yang berbicara, bermaksiat kepada
Allah I dengan
kata-kata yang ia ucapkan.
Adapun
orang-orang yang berjalan di atas jalan yang lurus – semoga Allah memasukkan
kita ke dalam golongan mereka – berada di antara dua petaka tersebut. Mereka
menahan lidah mereka dari perkataan yang batil dan melepaskannya untuk sesuatu
yang mendatangkan manfaat kepada mereka di akhirat. Oleh karena itu, kita tidak
adakan dapatkan salah seorang mereka melontarkan kata-kata yang tidak mendatangkan
manfaat apalagi yang bisa membahayakan di akhirat.
Rasulullah r bersabda
(artinya) : “Bukanlah seorang mukmin itu suka mencela, melaknat, berkata
yang keji dan kotor” [HR. Bukhari dan lainnya].
Seorang hamba,
bisa jadi di hari kiamat datang membawa kebaikan sebesar gunung, lalu dia
dapatkan ternyata lidahnya telah memusnahkan semuanya. Atau sebaliknya, dia
datang membawa kesalahan yang banyak ternyata lidahnya menghapusnya karena dia
banyak berdzikir dan yang berkaitan dengannya.
Ketika
seseorang datang kepada Nabi r
lalu berkata, “Hai Rasulullah nasehatilah aku’”. Rasul r bersabda
(artinya) : “Jika engkau berdiri dalam shalatmu, maka shalatlah seolah-olah
itu shalat terakhirmu. Dan janganlah engkau mengucapkan kalimat yang esok
membuatmu menyesal dan bulatkanlah bersungguh-sungguhlah memutus harapan
terhadap apa yang ada ditengan manusia”[HR. Ahmad dan
Baihaqi dan dishohihkan oleh Al-Albani (Shahih Al-Jami’ no. 742)].
Kalau saja
setiap kita memegang tiga wasiat ini; sholat dengan khusyu’, menjaga lidah,
dan menggantungkan harapan hanya
kepada Allah, niscaya keberuntungan menyertai langkahnya.
Oleh karena
itu ketika Uqbah bin Amir bertanya kepada Rasulullah, “Apa keselamatan itu?”.
Maka Rasulullah r
menjawab (artinya) : “Tahanlah lidahmu dan jadikanlah rumahmu lapang bagimu,
serta tangisilah kesalahanmu” [HR. Abdullah bin Al-Mubaarok
dalam Az-Zuhud (no.134), Ahmad (5/259) dan At-Tirmidzi (2/65) (Ash-Shohihah
2/581).].
Semoga Allah
menjaga kita semua dari petaka lidah … Semoga
Allah menguatkan kita untuk menyuarakan kebenaran... Semoga Allah menguatkan kita untuk
menahan lidah dari kebatilan, Amin.
Wallahu A’lam.
Maraji’ : “Lidah, Pedang Bermata Dua”, Abu Zubair dan
lainnya
**************************************************
Begitulah
Hidup
Di dalam hidup, banyak
orang yang datang dan pergi. Allah telah
menjumpakan kita dengan orang-orang yang Dia telah gariskan dalam catatan
takdir
Mereka pun datang silih
berganti.
Ada yang melintas dalam
segmen singkat, namun membekas di hati. Ada yang
telah lama berjalan beiringan, tetapi tak disadari arti kehadirannya. Ada pula
yang begitu jauh di mata, sedangkan penampakannya melekat di hati.
Ada yang datang pergi
begitu saja seolah tak pernah ada. Semua orang
yang pernah singgah dalam hidup kita bagaikan kepingan puzzle yang
saling melengkapi dan membentuk sebuah gambaran kehidupan. Maka sudah
fitrah, bila ada pertemuan pasti ada perpisahan..
Di mana ada awal, pasti
akan ada akhir. Akhir sebuah
perjalanan, ia akan menjadi awal bagi perjalanan lainnya,,,
Sebuah
perpisahan, ia akan menjadi awal pertemuan dengan sesuatu yang baru. Well,
that’s life must be...
Kalau kita
tidak bisa berjumpa lagi di dunia, semoga
Allah I mengumpulkan
kita di jannah (surga).
Bukankah Nabi r bersabda
(artinya) :
“Dua orang
yang saling mencintai karena Allah. Mereka berkumpul dan berpisah dengan sebab
cinta karena Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
“Engkau akan
bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Yang kami
harap, semoga persaudaraan kita tidak hanya di dunia, namun berakhir pula di
jannah. Amin
Selamat Jalan
Saudaraku
Ustadzuna
al-Fadhil Sahaba Dg. Ampa (rahimahullah)
(Da’i Perintis
Wahdah Islamiyah. Meninggal dalam kecelakaan lalu lintas di Bulukumba. Kami mengenalnya sebagai seorang shaleh, bersahaja, dan semangat dalam
memperjuangkan tegaknya agama Allah I dengan amar ma’ruf dan nahi munkar.
Semoga Allah I merahmati
beliau dan menempatkannya pada derajat tertinggi di sisiNya. Amin ya Rabb). (Redaksi)
Maraji’
:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar