Di antara
fenomena umum yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari adalah fenomena
pujian.
Sebagian orang
mungkin sangat senang akan pujian sehingga yang diharap-harapkannya adalah
pujian orang lain. Dalam tataran praktis, pujian dapat
diklasifikasikan dalam tiga bentuk: pujian yang diucapkan untuk mengharapkan
sesuatu dari orang yang dipuji, pujian yang sifatnya hanya basa-basi belaka,
serta pujian yang diucapkan sebagai ekspresi kekaguman.
Bila disikapi
secara sehat dan proporsional, pujian bisa menjadi hal positif yang dapat
memotivasi kita agar terus meningkatkan diri. Namun kenyataannya –dan ini yang
paling sering terjadi- adalah pujian justru membuat kita terbuai, lepas
kontrol, dan seterusnya. Semakin sering orang lain memuji kita, maka semakin
besar potensi kita untuk terlena, besar kepala, serta hilang kendali diri.
Padahal Allah I mengingatkan dalam firmanNya
(artinya) : "Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang
paling mengetahui siapa orang yang bertakwa” (Qs. Al-Najm; 32)
Ibnu ‘Ajibah rahimahullah
mengatakan, “Janganlah engkau tertipu dengan pujian orang lain yang
menghampirimu. Sesungguhnya mereka yang memuji tidaklah mengetahui dirimu
sendiri kecuali yang nampak saja bagi mereka. Sedangkan engkau sendiri yang
mengetahui isi hatimu. Ada ulama yang mengatakan, “Barangsiapa yang begitu
girang dengan pujian manusia, syaithan pun akan merasuk dalam hatinya.” (Lihat
Iqazhul Himam Syarh Matn Al-Hikam, Ibnu ‘Ajibah, hal. 159, Mawqi’ Al Qaroq,
Asy-Syamilah).
Berusaha
Ikhlash, Tidak Mengharap Pujian
Abul Qosim
pernah mengatakan, “Ikhlas adalah membersihkan amalan dari komentar manusia.”
Dzun-Nuun menyebutkan tiga tanda ikhlas : (1)Tetap merasa sama antara pujian
dan celaan orang lain ; (2) Melupakan amalan kebajikan yang dulu pernah
diperbuat ; (3) Mengharap balasan dari amalan di akhirat (dan bukan di dunia) (Lihat
At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an, An-Nawawi).
Dalam hadits
qudsi disebutkan (artinya) : “Allah Tabaraka
wa Ta’ala berfirman: Aku sama sekali tidak butuh pada sekutu dalam perbuatan
syirik. Barangsiapa yang menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku akan
meninggalkannya (artinya: tidak menerima amalannya) dan perbuatan syiriknya (HR.
Muslim no. 2985).
Imam Nawawi rahimahullah
menuturkan, “Amalan seseorang yang berbuat riya’ (tidak ikhlas), itu adalah
amalan batil yang tidak berpahala apa-apa, bahkan ia akan mendapatkan dosa” (Syarh
Shahih Muslim, 18: 115).
Hati-hati pula
dengan sifat ujub, yaitu takjub pada diri sendiri. Dalam hadits yang ma’ruf
disebutkan (artinya) : “Tiga hal yang membawa pada jurang kebinasaan: (1)
tamak lagi kikir, (2) mengikuti hawa nafsu (yang selalu mengajak pada
kejelekan), dan (3) ujub (takjub pada diri sendiri).” (HR.
Abdur Rozaq 11: 304. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat
Shahihul Jaami’ 3039).
Bahkan ujub juga
dapat merusak amalan kebaikan. Sebagian ulama salaf, di antaranya Sa’id bin
Jubair berkata, “Sesungguhnya ada seorang hamba yang beramal kebaikan malah
ia masuk neraka. Sebaliknya ada pula yang beramal kejelekan malah ia masuk
surga. Yang beramal kebaikan tersebut, ia malah merasa ujub (bangga dengan
amalnya), lantas ia pun berbangga diri, itulah yang mengakibatkan ia masuk
neraka. Ada pula yang beramal kejelekan, namun ia senantiasa takut dan ia
iringi dengan taubat, itulah yang membuatnya masuk surga.” (Majmu’
Al Fatawa, 10: 294)
Maka, jika
kita sedang melakukan suatu amalan maka hendaklah kita tidak bercita-cita ingin
mendapatkan pujian makhluk.
Cukuplah Allah
I saja yang
memuji amalan kebaikan kita. Dan seharusnya yang dicari adalah ridha Allah I ,
bukan komentar dan pujian manusia.
Kategori Memuji Orang Lain
Syaikh
Muhammad Ibnu 'Utsaimin rahimahullah di dalam Syarah Riyadhush
Shalihin ketika menjelaskan “apakah diperbolehkan seseorang memuji orang
lain atas sesuatu yang memang ada pada diri orang itu, ataukah tidak boleh?”,
beliau mengatakan :
Permasalahan
ini tergantung pada beberapa keadaan :
1. Pertama,
apabila di dalam pujian tersebut terkandung kebaikan dan adanya dorongan untuk
memiliki sifat yang terpuji dan berakhlaq mulia, maka hal ini tidak mengapa
dikarenakan adanya dorongan tersebut. Apabila Anda melihat seseorang yang
mulia, pemberani, mengutamakan orang lain dan suka berbuat baik kepada orang
lain, kemudian Anda menyebutkan kebaikan-kebaikan tersebut di depannya dalam
rangka untuk memberikan dorongan dan dukungan sehingga orang tersebut akan
senantiasa menjaga sifat-sifat itu tetap ada pada dirinya, maka hal ini adalah
sebuah kebaikan, dan sesuai dengan firman Allah Ta'ala (artinya) : “dan
tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan taqwa”.
2. Kedua, Anda
memuji seseorang dalam rangka menjelaskan kedudukannya yang utama di antara
manusia, menyebarkannya supaya manusia menghormatinya sebagaimana yang
diperbuat oleh Nabi r
terhadap Abu Bakar dan 'Umar radhiallahu anhuma.
Maka yang
demikian ini tidak mengapa.
3. Ketiga,
seseorang memuji orang lain secara berlebihan sehingga mensifati dengan sesuatu
yang tidak sesuai dengan keadaannya. Hal ini terlarang dan merupakan satu
bentuk kedustaan dan penipuan. Misalnya seseorang memuji kepada seorang
pemimpin atau pejabat atau yang semisal dengan mereka, di mana sebenarnya
mereka tidak pantas mendapatkan pujian itu karena memang tidak memiliki
sifat-sifat yang terpuji. Maka ini hukumnya haram dan juga terdapat bahaya bagi
orang yang dipuji.
4. Kempat,
pujian kepada seseorang yang sesuai dengan keadaannya, akan tetapi
dikhawatirkan orang yang dipuji itu akan tertipu oleh dirinya sendiri, merasa
dirinya memiliki keutamaan dan ketinggian dibanding orang lain. Hal ini
hukumnya juga haram.
Berhati-hati
Memuji Orang Lain
Berdasarkan
poin 4 di atas, maka wajib kita untuk berhati-hati dalam memuji orang lain.
Dalam banyak riwayat disebutkan celaan dan peringatan akan hal ini.
Diriwayatkan
dari Abu Bakrah t, ia menceritakan bahwa ada seorang
pria yang disebutkan di hadapan Rasulullah r , lalu
seorang hadirin memuji orang tersebut. Rasulullah r bersabda
(artinya) : “Celaka engkau, engkau telah memotong leher temanmu (berulang
kali beliau mengucapkan perkataan itu). Jika salah seorang di antara kalian
terpaksa/harus memuji, maka ucapkanlah, ”'Saya kira si fulan demikian
kondisinya." -Jika dia menganggapnya demikian-. Adapun yang mengetahui
kondisi sebenarnya adalah Allah dan
janganlah mensucikan seorang di hadapan Allah.” (HR.
Bukhari).
Abu Musa t
berkata, Rasulullah r mendengar seorang pria berlebih-lebihan dalam
memuji seseorang. Rasulullah r
lalu bersabda (artinya) : “Kalian telah membinasakan atau mematahkan
punggung orang itu” (HR. Bukhari).
Diriwayatkan
pula dari Ibrahim At-Taimiy dari ayahnya, ia berkata, "Kami duduk bersama
Umar t.
Lalu ada seorang pria memuji orang lain yang berada di hadapannya. Umar t
lalu berkata, "Engkau telah menyembelih orang itu, semoga Allah
menyembelihmu.”(Hasan
secara sanad). Bahkan dalam suatu kesempatan, Umar t
juga pernah berkata, "Pujian itu adalah penyembelihan.”(Shahih
secara sanad).
Dari beberapa
riwayat di atas, maka jika kita “terpaksa” dan “terlanjur” memuji orang lain,
hendaknya tidak memuji di depannya, melainkan ketika dia tidak berada di tempat
atau waktu ketika kita memujinya. Wallahu a’lam.
Bagaimana Dengan
Memuji Diri Sendiri?
Syaikh Muhammad
Ibnu 'Utsaimin rahimahullah dalam Kitab Al-Manahil Lafzhiyah menyebutkan,
dalam hal ini terbagi dalam empat kondisi:
Pertama, itu
dimaksudkan untuk tahadduts (menyebut-nyebut) nikmat Allah I yang diberikan kepadanya,
yaitu
perlindungan berupa iman dan keteguhan.
Kedua, itu
dimaksudkan untuk memotivasi orang-orang sebaya dan teman-temannya
dengan sesuatu yang ia miliki.
Dua kondisi di
atas adalah sesuatu yang terpuji sebab keduanya termasuk niat yang baik.
Ketiga, itu
dimaksudkan untuk berbangga-bangga dan sombong atas Allah karena keimanan dan keteguhannya
dan ini tidak boleh.
Keempat, itu
dimaksudkan hanya sekedar kabar keimanan dan keteguhan dirinya dan ini boleh,
akan tetapi yang utama adalah meninggalkannya.
Doa Ketika
Dipuji
Selalu mawas
diri agar tidak sampai terbuai oleh pujian yang dikatakan orang adalah hal yang
wajib dilakukan oleh setiap muslim. Rasulullah r telah
mengajarkan kita sebuah doa, setiap kali ada yang memuji kita : “ALLAHUMMA
LAA TU’AA KHIDZNIY BIMAA YAQUULUUN WAGHFIRLIY MAA LAA YA’LAMUUN WAJ’ALLIY
KHAIRAN MIMMAA YAZHUNNUUN”
(Ya Allah, semoga Engkau tidak menghukumku karena
apa yang mereka katakan. Ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui. Dan
jadikanlah aku lebih baik daripada yang mereka perkirakan). (HR.
Bukhari)
Juga doa serupa
pernah diucapkan oleh sahabat yang mulia, Abu Bakar t :
ALLAHUMMA ANTA
A’LAMU MINNI BI NAFSIY, WA ANAA A’LAMU BI NAFSII MINHUM. ALLAHUMMAJ ‘ALNIY
KHOIROM MIMMAA YAZHUNNUUN, WAGH-FIRLIY MAA LAA YA’LAMUUN, WA LAA TU-AAKHIDZNIY
BIMAA YAQUULUUN
(Ya Allah,
Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih
mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya
Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku
terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan
perkataan mereka] (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman,
4: 228, no.4876. Lihat Jaami’ul Ahadits, Jalaluddin As Suyuthi, 25: 145, Asy-Syamilah).
Lewat doa ini,
Nabi r
mengajarkan bahwa pujian adalah perkataan orang lain yang berpotensi
menjerumuskan kita. Ibaratnya, orang lain yang mengupas nangka, tapi kita yang
kena getahnya. Orang lain yang melontarkan ucapan, tapi malah kita yang
terjerumus menjadi besar kepala dan lepas kontrol. Wallahul Musta’an.
Ya Allah,
bersihkanlah diri kami dari sifat tidak ikhlas dan merasa takjub pada diri sendiri. Jadikanlah kami lebih baik daripada yang mereka nilai dan
janganlah siksa kami karena pujian mereka.
Hanya Allah yang
memberi taufik dan hidayah.
Wallahu ‘Alam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar