Maret 08, 2013

Jika Dipuji Orang

Di antara fenomena umum yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari adalah fenomena pujian.

Sebagian orang mungkin sangat senang akan pujian sehingga yang diharap-harapkannya adalah pujian orang lain. Dalam tataran praktis, pujian dapat diklasifikasikan dalam tiga bentuk: pujian yang diucapkan untuk mengharapkan sesuatu dari orang yang dipuji, pujian yang sifatnya hanya basa-basi belaka, serta pujian yang diucapkan sebagai ekspresi kekaguman.

Bila disikapi secara sehat dan proporsional, pujian bisa menjadi hal positif yang dapat memotivasi kita agar terus meningkatkan diri. Namun kenyataannya –dan ini yang paling sering terjadi- adalah pujian justru membuat kita terbuai, lepas kontrol, dan seterusnya. Semakin sering orang lain memuji kita, maka semakin besar potensi kita untuk terlena, besar kepala, serta hilang kendali diri.

Padahal Allah I mengingatkan dalam firmanNya (artinya) : "Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa orang yang bertakwa” (Qs. Al-Najm; 32)

Ibnu ‘Ajibah rahimahullah mengatakan, “Janganlah engkau tertipu dengan pujian orang lain yang menghampirimu. Sesungguhnya mereka yang memuji tidaklah mengetahui dirimu sendiri kecuali yang nampak saja bagi mereka. Sedangkan engkau sendiri yang mengetahui isi hatimu. Ada ulama yang mengatakan, “Barangsiapa yang begitu girang dengan pujian manusia, syaithan pun akan merasuk dalam hatinya.” (Lihat Iqazhul Himam Syarh Matn Al-Hikam, Ibnu ‘Ajibah, hal. 159, Mawqi’ Al Qaroq, Asy-Syamilah).

Berusaha Ikhlash, Tidak Mengharap Pujian

Abul Qosim pernah mengatakan, “Ikhlas adalah membersihkan amalan dari komentar manusia.” Dzun-Nuun menyebutkan tiga tanda ikhlas : (1)Tetap merasa sama antara pujian dan celaan orang lain ; (2) Melupakan amalan kebajikan yang dulu pernah diperbuat ; (3) Mengharap balasan dari amalan di akhirat (dan bukan di dunia) (Lihat At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an, An-Nawawi).

Dalam hadits qudsi disebutkan (artinya) : “Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: Aku sama sekali tidak butuh pada sekutu dalam perbuatan syirik. Barangsiapa yang menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya (artinya: tidak menerima amalannya) dan perbuatan syiriknya (HR. Muslim no. 2985).

Imam Nawawi rahimahullah menuturkan, “Amalan seseorang yang berbuat riya’ (tidak ikhlas), itu adalah amalan batil yang tidak berpahala apa-apa, bahkan ia akan mendapatkan dosa” (Syarh Shahih Muslim, 18: 115).

Hati-hati pula dengan sifat ujub, yaitu takjub pada diri sendiri. Dalam hadits yang ma’ruf disebutkan (artinya) : “Tiga hal yang membawa pada jurang kebinasaan: (1) tamak lagi kikir, (2) mengikuti hawa nafsu (yang selalu mengajak pada kejelekan), dan (3) ujub (takjub pada diri sendiri).” (HR. Abdur Rozaq 11: 304. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shahihul Jaami’ 3039).

Bahkan ujub juga dapat merusak amalan kebaikan. Sebagian ulama salaf, di antaranya Sa’id bin Jubair berkata, “Sesungguhnya ada seorang hamba yang beramal kebaikan malah ia masuk neraka. Sebaliknya ada pula yang beramal kejelekan malah ia masuk surga. Yang beramal kebaikan tersebut, ia malah merasa ujub (bangga dengan amalnya), lantas ia pun berbangga diri, itulah yang mengakibatkan ia masuk neraka. Ada pula yang beramal kejelekan, namun ia senantiasa takut dan ia iringi dengan taubat, itulah yang membuatnya masuk surga.” (Majmu’ Al Fatawa, 10: 294)

Maka, jika kita sedang melakukan suatu amalan maka hendaklah kita tidak bercita-cita ingin mendapatkan pujian makhluk.

Cukuplah Allah I saja yang memuji amalan kebaikan kita. Dan seharusnya yang dicari adalah ridha Allah I , bukan komentar dan pujian manusia.

Kategori Memuji Orang Lain

Syaikh Muhammad Ibnu 'Utsaimin rahimahullah di dalam Syarah Riyadhush Shalihin ketika menjelaskan “apakah diperbolehkan seseorang memuji orang lain atas sesuatu yang memang ada pada diri orang itu, ataukah tidak boleh?”, beliau mengatakan :

Permasalahan ini tergantung pada beberapa keadaan :

1. Pertama, apabila di dalam pujian tersebut terkandung kebaikan dan adanya dorongan untuk memiliki sifat yang terpuji dan berakhlaq mulia, maka hal ini tidak mengapa dikarenakan adanya dorongan tersebut. Apabila Anda melihat seseorang yang mulia, pemberani, mengutamakan orang lain dan suka berbuat baik kepada orang lain, kemudian Anda menyebutkan kebaikan-kebaikan tersebut di depannya dalam rangka untuk memberikan dorongan dan dukungan sehingga orang tersebut akan senantiasa menjaga sifat-sifat itu tetap ada pada dirinya, maka hal ini adalah sebuah kebaikan, dan sesuai dengan firman Allah Ta'ala (artinya) : “dan tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan taqwa”.

2. Kedua, Anda memuji seseorang dalam rangka menjelaskan kedudukannya yang utama di antara manusia, menyebarkannya supaya manusia menghormatinya sebagaimana yang diperbuat oleh Nabi r terhadap Abu Bakar dan 'Umar radhiallahu anhuma.
Maka yang demikian ini tidak mengapa.

3. Ketiga, seseorang memuji orang lain secara berlebihan sehingga mensifati dengan sesuatu yang tidak sesuai dengan keadaannya. Hal ini terlarang dan merupakan satu bentuk kedustaan dan penipuan. Misalnya seseorang memuji kepada seorang pemimpin atau pejabat atau yang semisal dengan mereka, di mana sebenarnya mereka tidak pantas mendapatkan pujian itu karena memang tidak memiliki sifat-sifat yang terpuji. Maka ini hukumnya haram dan juga terdapat bahaya bagi orang yang dipuji.

4. Kempat, pujian kepada seseorang yang sesuai dengan keadaannya, akan tetapi dikhawatirkan orang yang dipuji itu akan tertipu oleh dirinya sendiri, merasa dirinya memiliki keutamaan dan ketinggian dibanding orang lain. Hal ini hukumnya juga haram.

Berhati-hati Memuji Orang Lain

Berdasarkan poin 4 di atas, maka wajib kita untuk berhati-hati dalam memuji orang lain. Dalam banyak riwayat disebutkan celaan dan peringatan akan hal ini.

Diriwayatkan dari Abu Bakrah t, ia menceritakan bahwa ada seorang pria yang disebutkan di hadapan Rasulullah r , lalu seorang hadirin memuji orang tersebut. Rasulullah r bersabda (artinya) : “Celaka engkau, engkau telah memotong leher temanmu (berulang kali beliau mengucapkan perkataan itu). Jika salah seorang di antara kalian terpaksa/harus memuji, maka ucapkanlah, ”'Saya kira si fulan demikian kondisinya." -Jika dia menganggapnya demikian-. Adapun yang mengetahui kondisi sebenarnya adalah Allah dan  janganlah mensucikan seorang di hadapan Allah.” (HR. Bukhari).

Abu Musa t berkata, Rasulullah r  mendengar seorang pria berlebih-lebihan dalam memuji seseorang. Rasulullah r lalu bersabda (artinya) : “Kalian telah membinasakan atau mematahkan punggung orang itu” (HR. Bukhari).

Diriwayatkan pula dari Ibrahim At-Taimiy dari ayahnya, ia berkata, "Kami duduk bersama Umar t. Lalu ada seorang pria memuji orang lain yang berada di hadapannya. Umar t lalu berkata, "Engkau telah menyembelih orang itu, semoga Allah menyembelihmu.”(Hasan secara sanad). Bahkan dalam suatu kesempatan, Umar t juga pernah berkata, "Pujian itu adalah penyembelihan.”(Shahih secara sanad).

Dari beberapa riwayat di atas, maka jika kita “terpaksa” dan “terlanjur” memuji orang lain, hendaknya tidak memuji di depannya, melainkan ketika dia tidak berada di tempat atau waktu ketika kita memujinya. Wallahu a’lam.

Bagaimana Dengan Memuji Diri Sendiri?

Syaikh Muhammad Ibnu 'Utsaimin rahimahullah dalam Kitab Al-Manahil Lafzhiyah menyebutkan, dalam hal ini terbagi dalam empat kondisi:

Pertama, itu dimaksudkan untuk tahadduts (menyebut-nyebut) nikmat Allah I yang diberikan kepadanya,


yaitu perlindungan berupa iman dan keteguhan.

Kedua, itu dimaksudkan untuk memotivasi orang-orang sebaya dan teman-temannya dengan sesuatu yang ia miliki.

Dua kondisi di atas adalah sesuatu yang terpuji sebab keduanya termasuk niat yang baik.

Ketiga, itu dimaksudkan untuk berbangga-bangga dan sombong atas Allah karena keimanan dan keteguhannya dan ini tidak boleh.

Keempat, itu dimaksudkan hanya sekedar kabar keimanan dan keteguhan dirinya dan ini boleh, akan tetapi yang utama adalah meninggalkannya.

Doa Ketika Dipuji

Selalu mawas diri agar tidak sampai terbuai oleh pujian yang dikatakan orang adalah hal yang wajib dilakukan oleh setiap muslim. Rasulullah r telah mengajarkan kita sebuah doa, setiap kali ada yang memuji kita :  “ALLAHUMMA LAA TU’AA KHIDZNIY BIMAA YAQUULUUN WAGHFIRLIY MAA LAA YA’LAMUUN WAJ’ALLIY KHAIRAN MIMMAA YAZHUNNUUN”

(Ya Allah, semoga Engkau tidak menghukumku karena apa yang mereka katakan. Ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui. Dan jadikanlah aku lebih baik daripada yang mereka perkirakan). (HR. Bukhari)
Juga doa serupa pernah diucapkan oleh sahabat yang mulia, Abu Bakar t :
ALLAHUMMA ANTA A’LAMU MINNI BI NAFSIY, WA ANAA A’LAMU BI NAFSII MINHUM. ALLAHUMMAJ ‘ALNIY KHOIROM MIMMAA YAZHUNNUUN, WAGH-FIRLIY MAA LAA YA’LAMUUN, WA LAA TU-AAKHIDZNIY BIMAA YAQUULUUN

(Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka] (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 4: 228, no.4876. Lihat Jaami’ul Ahadits, Jalaluddin As Suyuthi, 25: 145, Asy-Syamilah).

Lewat doa ini, Nabi r mengajarkan bahwa pujian adalah perkataan orang lain yang berpotensi menjerumuskan kita. Ibaratnya, orang lain yang mengupas nangka, tapi kita yang kena getahnya. Orang lain yang melontarkan ucapan, tapi malah kita yang terjerumus menjadi besar kepala dan lepas kontrol. Wallahul Musta’an.

Ya Allah, bersihkanlah diri kami dari sifat tidak ikhlas dan merasa takjub pada diri sendiri. Jadikanlah kami lebih baik daripada yang mereka nilai dan janganlah siksa kami karena pujian mereka.

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

Wallahu ‘Alam.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...