Maret 22, 2013

Alasan Wanita Tidak Berhijab


Allah I telah mewajibkan hijab (baca : jilbab syar’i) atas setiap wanita demi melindungi kesuciannya dan menjaga kehormatannya serta menjadi pertanda bagi keimanannya.

Namun, ironisnya, penampakan yang hari ini menghiasi kehidupan kita adalah tersebarnya fenomena sufur (keberadaan wanita keluyuran di luar rumah) dan tabarruj (terbukanya aurat wanita, rambut, leher, wajah, lengan, kaki dan segala perhiasan dan dandanannya).

Sekali lagi, sangat disayangkan, fenomena tidak sehat ini telah menjadi ciri khas masyarakat Islam, meskipun pakaian islami masih tersebar di dalamnya.

Maka pertanyaannya adalah : Mengapa kaum muslimah memilih untuk tidak berhijab, menutup aurat dan melindungi harga diri, kesucian dan kehormatan?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ternyata ada beberapa alasan pokok, yang kalau kita cermati ternyata kesepuluh alasan itu sangat rapuh dan lemah.


Berikut ini beberapa alasan mereka beserta tanggapannya.

‘Saya belum yakin dengan hijab.’

Maka kita ajukan dua pertanyaan :

Pertama : Apakah mereka secara mendasar telah yakin dengan keberadaan Islam?

Jawabannya pasti “Ya”, karena ia mengucapkanLaa Ilaaha Illallah”. Ini berarti mereka telah yakin dengan aqidah Islam. Dan mereka juga telah mengucapkanMuhamadan Rasulullah, ini berarti mereka telah yakin dengan  syariat Islam. Jadi mereka telah menerima syariat Islam sebagai aqidah, syariat dan jalan hidup.

Kedua : Apakah hijab termasuk bagian dari syariat Islam dan kewajibannya?

Seandainya mereka ikhlas dan mencari kebenaran dalam masalah ini tentu mereka akan mengatakan “Ya”, karena Allah I yang kita imani sebagai satu-satunya sesembahan yang benar telah memerintahkan hijab didalam kitab suci-Nya, dan Rasul r yang kita imani sebagai utusan Allah telah memerintahkan hijab di dalam sunnahnya.
Saya telah yakin dan menerima kewajiban syariat hijab, akan tetapi ibu saya melarang saya untuk memakainya, kalau saya mendurhakainya pasti saya masuk neraka.”

Alasan ini telah dijawab oleh makhluk Allah yang paling mulia yaitu Rasulullah r  dalam ungkapannya yang sangat singkat dan bijak :
لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِيْ مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ
artinya : “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal mendurhakai sang pencipta.”

Kedudukan kedua orang tua terutama ibu adalah sangat tinggi dan luhur, bahkan Allah I menyandingkannya dengan perkara yang paling agung yaitu ibadah menyembah kepada-Nya dan bertauhid kepada-Nya, dalam banyak ayat sebagaimana firman Allah dalam QS. an-Nisa: 36.

Jadi taat kepada kedua orangtua tidak dibatasi oleh apapun kecuali satu hal yaitu jika keduanya memerintahkan untuk bermaksiat kepada Allah.

Nah, sekarang bagaimana Anda para wanita menjawabya?

“Udara panas di negeri kami, saya tidak tahan, bagaimana  jika saya memakai hijab?

Kepada orang-orang seperti ini Allah I  mengatakan (artinya) : “Katakanlah: “Api nereka Jahannam itu lebih sangat panas(nya) jikalau mereka mengetahui.” (QS. At-Taubah: 81).

Bagaimana bila engkau bayangkan antara panasnya negerimu dengan panasnya api jahannam?

Ketahuilah bahwa setan telah membelitmu dengan salah satu tipu dayanya yang rapuh agar engkau terbebas dari panasnya dunia menuju panasnya neraka.

Selamatkanlah dirimu dari jerat-jerat setan, jadikanlah teriknya matahari sebagai nikmat bukan sebagai siksa, karena ia mengingatkanmu kepada dahsyatnya adzab Allah I pada hari dimana panasnya melebihi penasnya dunia dengan berlipat-lipat ganda.

Saya takut bila saya berhijab sekarang maka suatu saat nanti saya akan melepaskannya sebab saya melihat banyak yang melakukan seperti itu.”

Kepadanya kita katakana : “Seandainya semua manusia berfikir dengan logika seperti ini tentu mereka meninggalkan agama ini secara total, tentu mereka telah meninggalkan shalat, karena sebagian mereka khawatir meninggalkannya. Tentu mereka juga tidak mau berpuasa karena banyak dari mereka khawatir jika suatu saat akan meninggalkannya … dst.

Tidakkah engkau perhatikan bagaimana sekali lagi setan menjerat engkau dengan jaring-jaringnya yang rapuh agar engkau meninggalkan cahaya hidayah?

Bukankah, Rasulullah r telah bersabda (artinya) : “Amal yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling langgeng meskipun sedikit.

“Saya khawatir, jika saya mengenakan pakaian syar’i, saya akan dicap sebagai kelompok tertentu, sedangkan saya tidak suka tahazzub (berpecah belah atas dasar fanatisme golongan).”

Sesungguhya di dalam Islam itu hanya ada dua hizb (kelompok) tidak ada yang lain. Keduanya disebutkan oleh Allah didalam kitab sucinya.

Hizb pertama disebut dengan hizbullah. Yaitu orang yang ditolong oleh Allah I kerena ia mentaati perintah-perintah-Nya dan manjauhi larangan-larangan-Nya. Kelompok kedua disebut hizbusysyaithan yaitu orang yang mendurhakai Allah I, mentaati setan dan banyak berbuat kerusakan dimuka bumi.

Ketika engkau mematuhi perintah Allah I yang di antaranya adalah hijab maka engkau tergabung dalam hizbullah yang beruntung. Dan ketika engkau bertabarruj menampakkan kecantikanmu maka engkau suka atau tidak suka, sadar atau tidak sadar telah naik di atas perahu setan bersama rombongan mereka dari kelompok munafiqin dan kuffar. Sungguh mereka adalah seburuk-buruk teman.

Nah, sekarang, di hizb mana engkau wahai Saudariku?

“Ada yang mengatakan kepada saya: “JIka engkau berhijab maka tidak ada laki-laki yang menikahimu.” Oleh karena itu saya tanggalkan dulu masalah hijab ini hingga saya menikah.”

Ukhti, sesungguhnya suami yang menginginkanmu keluar rumah dengan membuka aurat, dan bermaksiat kepada Allah I adalah suami yang tidak layak untukmu, suami yang tidak cemburu atas kehormatan Allah I, tidak cemburu atas dirimu, dan tidak menolongmu untuk dapat memasuki surga dan selamat dari neraka.

Sesungguhnya rumah tangga yang dibangun di atas dasar maksiat kepada Allah I dan di atas kemurkaan-Nya adalah pantas bagi Allah I untuk menulisnya sebagai keluarga yang sengsara di dunia dan akhirat.

Setelah itu, sesungguhnya pernikahan itu adalah nikmat dari Allah yang dianugerahkan kepada siapapun yang Dia kehendaki, betapa banyak wanita berhijab yang menikah, betapa banyak wanita yang safirah (sering keluar rumah) mutabarrijah (membuka aurat, kecantikannya) tidak menikah.

Apabila engkau mengatakan, bahwa sufurku dan tabarrujku adalah sarana bagi tujuan yang suci yaitu pernikahan, maka tujuan yang suci tidak menghalalkan cara-cara yang rusak dan maksiat dalam Islam. Apabila tujuan mulia maka saranapun harus mulia karena kaedah dalam Islam :
الْوَسَائِلُ لَهَا حُكْمُ الْمَقَاصِدِ
artinya : “Washilah (sarana) itu memiliki hukum seperti hukum maksud (tujuan)”.


Saya mengetahui bahwa hijab itu wajib, akan tetapi saya akan komitmen dengannya setelah Allah memberikan hidayah nanti.”

Tanyakan kepada ukhti ini, apa langkah-langkah yang ia tempuh agar mendapatkan hidayah dari Allah ini?!
Kita mengetahui bahwa Allah I menjadikan segala sesuatu itu ada sebabnya. Oleh karena itu orang yang sakit minum obat supaya sembuh, seorang musafir naik kereta atau kendaraan supaya sampai ketempat tujuan dst.

Apakah ukhti ini benar-benar jujur telah mengikuti jalan hidayah dan mengerahkan kemampuannya untuk sebab-sebab yang dapat mengantarkan kepada hidayah?

Seperti berteman dengan wanita-wantia shalihah, kerena mereka adalah sebaik-baik penolong untuk mendapatkan hidayah dan mempertahankannya, sehingga ia betul-betul komitmen dengan perintah-perintah Allah I , dan memakai hijab yang diperintahkan oleh Allah I  kepada wanita-wanita beriman.

“Belum waktunya saya memakai hijab, karena saya masih kecil, nanti kalau saya sudah besar dan sudah haji saya akan berhijab.”

Pernahkah engkau membaca firman Allah I yang artinya : Maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat pula memajukannya.” (Qs. al-A’raf: 34).

Tidak tahukah  engkau wahai Saudariku, jika Malaikat mencabut nyawa dengan tidak pandang bulu, besar ataupun kecil. Bisa saja ajal menjemputmu ketika engkau masih bermaksiat kepada Allah I dengan maksiat besar seperti ini; engkau melawan Allah dengan sufur dan tabarrujmu.
“Saya tidak berhijab karena mengamalkan firman Allah I  (artinya) : “Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah engkau menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).” (QS. al-Dhuha: 11).

Bagaimana saya harus menyembunyikan nikmat kecantikan yang telah Allah I berikan kepada saya seperti rambut yang lembut, paras yang cantik dan kulit yang indah?!

Kita katakan : Ukhti ini bersedia mengikuti firman Allah I dan komitmen dengan perintah Allah, tetapi sayang selama itu sesuai dengan hawa nafsunya dan menurut pemahaman yang semaunya. Dan meninggalkan perintah-perintah dari sumber yang sama ketika tidak bernafsu kepadanya, yaitu perintah berhijab pada QS. An-Nur: 31 dan QS. al-Ahzab: 59).

Sesungguhnya nikmat Allah I yang terbesar adalah nikmat iman dan hidayah. Lalu mengapa engkau tidak menampakkan dan memperbincangkan nikmat Allah I yang terbesar ini yang diantaranya adalah hijab syar’i.

“Ya Allah, janganlah Engkau simpangkan hati kami ini setelah Engkau berikan hidayah kepada kami dan anugerahkanlah kepada kami dari sisi-Mu sebuah rahmat, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemberi.”

Wallahu A’lam.

Maraji’ :
Majalah Qiblati Edisi 2 Tahun I

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...