Smartphone, demikian namanya. Alat komunikasi canggih
nan mungil itu demikian akrabnya di genggaman kebanyakan manusia hari ini di
dunia, termasuk di kalangan kaum muslimin. Bapak-bapak, Ibu-ibu, anak-anak,
laki-laki dan perempuan, semuanya menjadi penikmatnya.
Di rumah-rumah, jalan-jalan, toko-toko
dan angkutan umum bahkan pada tempat-tempat tersembunyi sekalipun, intensitas penggunaan
alat ini terlihat begitu tinggi. Saking tingginya, jika dirata-rata, mungkin
hampir setiap seperempat jam sekali, tangan-tangan penggunanya akan bergerak
mengambilnya, menyentuh layarnya, menggeser ke atas, ke bawah dan ke samping.
Jika kita melalukan survei, nampaknya
kita akan menemukan bahwa kebanyakan penggunanya adalah penikmat dan pembagi
berita-berita melalui perangkat browsing atau
social media yang terpasang pada alat
tersebut.
Padahal, sebagai
seorang muslim, sudahkah kita berusaha untuk selektif dalam memeriksa aktivitas
harian kita? Sudahkah kita berusaha memilah dan memilih jenis berita yang
memang penting untuk kita ketahui?
Sudahkah kita
berusaha membedakan antara keinginan dan kepentingan? Sudahkah kita punya skala
prioritas dalam mengurutkan tingkat kepentingan dan kebutuhan kita?
Jika memang berita-berita
tersebut menjadi sebuah kebutuhan, sudahkah kita memberikan perhatian yang
semestinya terhadap sebuah kebutuhan yang jauh lebih tinggi darinya, sebuah
kebutuhan yang sifatnya lebih kita butuhkan daripada air dan udara, dan dia
adalah Al-Quran?
Jika belum,
seyogyanya kita camkan sabda Nabi kita yang mulia, beliau rbersabda, “Sesungguhnya
Allah meninggikan derajat suatu kaum dengan (sebab berpegang teguh terhadap)
Kitab ini (Al-Qur`an) dan merendahkan kaum lainnya dengan (sebab menelantarkan)
Kitab ini” [HR. Muslim].
Sementara, salah
satu tujuan Al-Qur’an diturunkan adalah agar ia dibaca. Syaikh Muhammad Shalih
Al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Al-Qur`an
diturunkan untuk tiga tujuan, yaitu beribadah dengan membacanya, memahami makna
dan mengamalkannya” [http://www.ibnothaimeen.com].
Jika bagi banyak penggunanya,
mengikuti berita tentang penjelasan, keterangan ataupun klarifikasi dari isu
yang tidak jelas di smartphone
merupakan perkara yang sangat dibutuhkan, bagaimana dengan penjelasan atau
tafsir ayat Al-Quran yang kita baca setiap hari? Sudahkah hati kita merasa
lebih membutuhkannya melebihi kebutuhan semua di atas?
Jika belum, jangan
heran jika sepuluh menit membuka Facebook
milik teman atau rekan sejawat akan terasa kurang, namun sepuluh menit
untuk membuka dan membaca mushaf Al-Qur`an terasa lama. Sepuluh menit untuk
berkomentar di WhatsApp masih bisa
disempatkan, dua atau tiga kali bahkan lebih dalam sehari, namun sepuluh menit
untuk menghafal satu atau du ayat Al-Qur`an setiap harinya terasa tidak ada
kesempatan. Sepuluh menit Browsing atas
“tafsir” klarifikasi berita dari pernyataan politikus terasa kurang untuk
betul-betul bisa tahu yang sebenarnya, namun sepuluh menit mencari tafsir dari
firman Allah I
yang banyak tidak diketahui, terasa seolah-olah
bukan menjadi kebutuhan.
Kita khawatir,
keakraban kita dengan smartphone yang lebih tinggi dibandingkan
dengan Al-Qur’an, menjadi pernyataan diri secara tidak langsung
bahwa kita lebih mengutamakannya daripada Al-Qur’an. Barangkali, hal itu tidak
pernah terucapkan dengan lisan, namun sikap kita menunjukkan hal tersebut. Wal’iyadzu-billah.
Memang benar, kita
tidak menutup mata bahwa smartphone saat
ini memiliki banyak keunggulan teknologi yang sangat bermanfaat dalam kehidupan
kita. Berbagai kebutuhan komunikasi dengan pihak lain, menjadi sedemikian
mudahnya dengan alat ini.
Berkenaan dengan
kemajuan teknologi, tentu saja Islam bukan agama yang menutup diri darinya. Bahkan
Islam menganjurkan kita bersyukur karena ini adalah bagian nikmat Allah I kepada hamba-hambaNya. Akan tetapi, Islam telah
memberi batasan-batasan penggunakan teknologi agar tidak disalahgunakan.
Seperti smartphone,
hukum asal penggunaannya adalah mubah. Sebab, ia adalah media atau wasilah.
Dan dalam kaidah ushul fiqh, hukum wasilah atau sarana adalah sesuai atau
sama dengan hukum tujuan penggunaannya. Menghukumi media atau wasilah dengan
hukum haram secara mutlak atau halal secara mutlak adalah juga tidak benar.
Akan tetapi, semua akan berubah hukumnya sesuai dengan tujuan penggunaanya.
Jika digunakan untuk sesuatu yang haram maka hukum penggunaannya menjadi haram
dan jika digunakan untuk sesuatu yang halal maka hukumnya juga halal (mencakup
wajib dan sunnah).
Sayangnya, dalam
perkembangannya, smartphone yang banyak menawarkan fitur-fitur beragam,
banyak digunakan untuk perkara yang sia-sia dan menghabiskan waktu. Bahkan,
tidak sedikit orang menggunakannya untuk berbuat maksiat.
Generasi muda kaum
muslimin hari ini tumbuh menjadi generasi pecandunya. Betapa tidak, ketika
sedang makan, smartphone ada di tangan kiri kita. Ketika duduk-duduk
bersama keluarga dan kerabat untuk mejalin silaturrahim, smartphone
tidak absen dari genggaman kita. Ketika berbicara dengan ayah dan ibu, yang
wajib dihormati, kita sibuk mengutak-atik fitur-fitur smartphone sehingga
kita tidak lagi bisa menyimak nasehat-nasehat berharga dari mereka. Ketika
sedang berkendaraan, smartphone menjadi kesibukan kita, hingga kerap
mengganggu dan mengancam pengguna jalan lainnya. Bahkan, anak-anak kita pun
telah kehilangan kasih sayang dan perhatian, karena waktu untuk mereka, setelah
seharian bekerja, tersita oleh alat kecil mungil yang belum jelas apa tujuan ia
digunakan. Dan masih banyak lagi.
Adakah dari kita
yang mengingkari hal ini?
Bayangkan, berapa
banyak dari kita yang mendapatkan perubahan negatif dalam kehidupannya setelah
masuknya teknologi ini?
Berapa banyak
orang-orang yang tadinya di waktu antara maghrib-isya atau selepas shalat
subuh, menggunakan waktunya untuk mengulang-ulang hafalan Qur’annya atau
menelaah buku-buku agama untuk kemashlahatan agamanya, akhirnya tidak lagi dilakukan
karena kesibukan mengupdate status atau berita-berita di media sosial
melalui smartphone?
Berapa banyak, rumah
tangga yang akhirnya retak bahkan hancur hanya karena penyebaran secuil berita
tidak bertanggungjawab melalui smartphone?
Berapa banyak dari
kita yang ketika masuk ke dalam masjid yang seharusnya untuk berdzikir, i’tikaf
dan menuntut ilmu, semuanya menjadi buyar tatkala dalam pikirannya selalu
tertuju pada smartphone?
Berapa banyak orang
yang tidak lagi peduli dengan kondisi lingkungan sekitar karena sedang asyik berselancar
di dunia maya melalui sartphone canggihnya?
Berapa banyak?
Berapa banyak?
Ah, sudahlah. Saatnya
kita mengintrospeksi diri. Mari bersikap bijak dalam menggunakannya. Mari
merubah mindset terhadap keberadaan smartphone dalam kehidupan
kita.
Sungguh, tidak ada
masalah dengan smartphone. Yang masalah adalah kita, ketika menyikapinya
tidak dengan semestinya. Tidak dengan mengikuti batasan-batasan syariat dalam
penggunaannya.
Mari, jadikan ia
sebagai sarana untuk banyak meraup kebaikan dan keridhaan Allah I kelak di hari kiamat. Apalagi, ia pasti akan
ditanyakan oleh Allah I,
sebagaimana firmanNya, “Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada
hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)” (QS.
At-Takatsur: 8).
Abu Hazim rahimahullah
pernah berkata, “Setiap nikmat yang tidak digunakan untuk mendekatkan diri kepada
Allah I, itulah petaka” [Jami’ul
Ulum wal Hikam].
Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar