November 24, 2015

Ketika Smartphone Menghiasi Hari

Smartphone, demikian namanya. Alat komunikasi canggih nan mungil itu demikian akrabnya di genggaman kebanyakan manusia hari ini di dunia, termasuk di kalangan kaum muslimin. Bapak-bapak, Ibu-ibu, anak-anak, laki-laki dan perempuan, semuanya menjadi penikmatnya.

Di rumah-rumah, jalan-jalan, toko-toko dan angkutan umum bahkan pada tempat-tempat tersembunyi sekalipun, intensitas penggunaan alat ini terlihat begitu tinggi. Saking tingginya, jika dirata-rata, mungkin hampir setiap seperempat jam sekali, tangan-tangan penggunanya akan bergerak mengambilnya, menyentuh layarnya, menggeser ke atas, ke bawah dan ke samping.

Jika kita melalukan survei, nampaknya kita akan menemukan bahwa kebanyakan penggunanya adalah penikmat dan pembagi berita-berita melalui perangkat browsing atau social media yang terpasang pada alat tersebut.


Padahal, sebagai seorang muslim, sudahkah kita berusaha untuk selektif dalam memeriksa aktivitas harian kita? Sudahkah kita berusaha memilah dan memilih jenis berita yang memang penting untuk kita ketahui?

Sudahkah kita berusaha membedakan antara keinginan dan kepentingan? Sudahkah kita punya skala prioritas dalam mengurutkan tingkat kepentingan dan kebutuhan kita?

Jika memang berita-berita tersebut menjadi sebuah kebutuhan, sudahkah kita memberikan perhatian yang semestinya terhadap sebuah kebutuhan yang jauh lebih tinggi darinya, sebuah kebutuhan yang sifatnya lebih kita butuhkan daripada air dan udara, dan dia adalah Al-Quran?

Jika belum, seyogyanya kita camkan sabda Nabi kita yang mulia, beliau rbersabda, “Sesungguhnya Allah meninggikan derajat suatu kaum dengan (sebab berpegang teguh terhadap) Kitab ini (Al-Qur`an) dan merendahkan kaum lainnya dengan (sebab menelantarkan) Kitab ini” [HR. Muslim].
Sementara, salah satu tujuan Al-Qur’an diturunkan adalah agar ia dibaca. Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Al-Qur`an diturunkan untuk tiga tujuan, yaitu beribadah dengan membacanya, memahami makna dan mengamalkannya” [http://www.ibnothaimeen.com].

Jika bagi banyak penggunanya, mengikuti berita tentang penjelasan, keterangan ataupun klarifikasi dari isu yang tidak jelas di smartphone merupakan perkara yang sangat dibutuhkan, bagaimana dengan penjelasan atau tafsir ayat Al-Quran yang kita baca setiap hari? Sudahkah hati kita merasa lebih membutuhkannya melebihi kebutuhan semua di atas?

Jika belum, jangan heran jika sepuluh menit membuka Facebook milik teman atau rekan sejawat akan terasa kurang, namun sepuluh menit untuk membuka dan membaca mushaf Al-Qur`an terasa lama. Sepuluh menit untuk berkomentar di WhatsApp masih bisa disempatkan, dua atau tiga kali bahkan lebih dalam sehari, namun sepuluh menit untuk menghafal satu atau du ayat Al-Qur`an setiap harinya terasa tidak ada kesempatan. Sepuluh menit Browsing atas “tafsir” klarifikasi berita dari pernyataan politikus terasa kurang untuk betul-betul bisa tahu yang sebenarnya, namun sepuluh menit mencari tafsir dari firman Allah I yang banyak tidak diketahui, terasa seolah-olah bukan menjadi kebutuhan.

Kita khawatir, keakraban kita dengan smartphone yang lebih tinggi dibandingkan dengan Al-Qur’an, menjadi pernyataan diri secara tidak langsung bahwa kita lebih mengutamakannya daripada Al-Qur’an. Barangkali, hal itu tidak pernah terucapkan dengan lisan, namun sikap kita menunjukkan hal tersebut. Wal’iyadzu-billah.

Memang benar, kita tidak menutup mata bahwa smartphone saat ini memiliki banyak keunggulan teknologi yang sangat bermanfaat dalam kehidupan kita. Berbagai kebutuhan komunikasi dengan pihak lain, menjadi sedemikian mudahnya dengan alat ini.

Berkenaan dengan kemajuan teknologi, tentu saja Islam bukan agama yang menutup diri darinya. Bahkan Islam menganjurkan kita bersyukur karena ini adalah bagian nikmat Allah I kepada hamba-hambaNya. Akan tetapi, Islam telah memberi batasan-batasan penggunakan teknologi agar tidak disalahgunakan.

Seperti smartphone, hukum asal penggunaannya adalah mubah. Sebab, ia adalah media atau wasilah. Dan dalam kaidah ushul fiqh, hukum wasilah atau sarana adalah sesuai atau sama dengan hukum tujuan penggunaannya. Menghukumi media atau wasilah dengan hukum haram secara mutlak atau halal secara mutlak adalah juga tidak benar. Akan tetapi, semua akan berubah hukumnya sesuai dengan tujuan penggunaanya. Jika digunakan untuk sesuatu yang haram maka hukum penggunaannya menjadi haram dan jika digunakan untuk sesuatu yang halal maka hukumnya juga halal (mencakup wajib dan sunnah).
Sayangnya, dalam perkembangannya, smartphone yang banyak menawarkan fitur-fitur beragam, banyak digunakan untuk perkara yang sia-sia dan menghabiskan waktu. Bahkan, tidak sedikit orang menggunakannya untuk berbuat maksiat.

Generasi muda kaum muslimin hari ini tumbuh menjadi generasi pecandunya. Betapa tidak, ketika sedang makan, smartphone ada di tangan kiri kita. Ketika duduk-duduk bersama keluarga dan kerabat untuk mejalin silaturrahim, smartphone tidak absen dari genggaman kita. Ketika berbicara dengan ayah dan ibu, yang wajib dihormati, kita sibuk mengutak-atik fitur-fitur smartphone sehingga kita tidak lagi bisa menyimak nasehat-nasehat berharga dari mereka. Ketika sedang berkendaraan, smartphone menjadi kesibukan kita, hingga kerap mengganggu dan mengancam pengguna jalan lainnya. Bahkan, anak-anak kita pun telah kehilangan kasih sayang dan perhatian, karena waktu untuk mereka, setelah seharian bekerja, tersita oleh alat kecil mungil yang belum jelas apa tujuan ia digunakan. Dan masih banyak lagi.

Adakah dari kita yang mengingkari hal ini?

Bayangkan, berapa banyak dari kita yang mendapatkan perubahan negatif dalam kehidupannya setelah masuknya teknologi ini?

Berapa banyak orang-orang yang tadinya di waktu antara maghrib-isya atau selepas shalat subuh, menggunakan waktunya untuk mengulang-ulang hafalan Qur’annya atau menelaah buku-buku agama untuk kemashlahatan agamanya, akhirnya tidak lagi dilakukan karena kesibukan meng­update status atau berita-berita di media sosial melalui smartphone?

Berapa banyak, rumah tangga yang akhirnya retak bahkan hancur hanya karena penyebaran secuil berita tidak bertanggungjawab melalui smartphone?

Berapa banyak dari kita yang ketika masuk ke dalam masjid yang seharusnya untuk berdzikir, i’tikaf dan menuntut ilmu, semuanya menjadi buyar tatkala dalam pikirannya selalu tertuju pada smartphone?

Berapa banyak orang yang tidak lagi peduli dengan kondisi lingkungan sekitar karena sedang asyik berselancar di dunia maya melalui sartphone canggihnya?

Berapa banyak? Berapa banyak?

Ah, sudahlah. Saatnya kita mengintrospeksi diri. Mari bersikap bijak dalam menggunakannya. Mari merubah mindset terhadap keberadaan smartphone dalam kehidupan kita.

Sungguh, tidak ada masalah dengan smartphone. Yang masalah adalah kita, ketika menyikapinya tidak dengan semestinya. Tidak dengan mengikuti batasan-batasan syariat dalam penggunaannya.

Mari, jadikan ia sebagai sarana untuk banyak meraup kebaikan dan keridhaan Allah I kelak di hari kiamat. Apalagi, ia pasti akan ditanyakan oleh Allah I, sebagaimana firmanNya, “Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)” (QS. At-Takatsur: 8).

Abu Hazim rahimahullah pernah berkata, “Setiap nikmat yang tidak digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah I, itulah petaka” [Jami’ul Ulum wal Hikam].
Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...