Kekeringan telah melanda berbagai
wilayah negeri tercinta. Sumber air menjadi semakin langka. Debu jalanan kian
menebal, menjadi sumber penyebaran penyakit kala diterpa angin. Batuk, pilek,
gatal-gatal menjadi secuil dampak dari kekeringan tersebut. Belum lagi, kabut
asap sebagai dampak kebakaran hutan di beberapa wilayah negeri tak kunjung
hilang karena diperparah dengan kondisi kering dan panas.
Demikianlah. Dengan hikmahNya, Allah I
tidak menjadikan kondisi hamba-hambaNya monoton berada dalam satu keadaan saja.
Dia I mengatur keadaan
mereka dengan silih berganti. Ada kalanya, Allah I
menjadikan negeri mereka berlimpah dengan air. Adakalanya Allah I
menahan air bagi mereka hingga kekeringan terjadi.
Allah I
berfirman, artinya : “Dan Kami akan
menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang
sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan” (QS.
Al-Anbiyaa’ : 35).
Air
Bagi Kehidupan
Manusia dan makhluk hidup lainnya tak
dapat hidup tanpa air. Dari air-lah semua itu menjadi hidup. Allah I
menyebutkannya dalam firmanNya, artinya : “Dan
dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup” (QS. Al-Anbiyaa’: 30).
Ketika Allah I
menjadikan air tersebut sebagai sumber kehidupan, dengan rahmatNya, Dia I
kemudian menurunkan air hujan ke bumi agar makhluk-makhlukNya dapat terus
melangsungkan kehidupannya. Allah I
menjelaskan hal ini dalam kitab-Nya yang mulia, artinya : “Dialah Yang menjadikan bumi sebagai
hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari
langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki
untukmu” (QS. Al-Baqarah: 22).
Air
Hujan Tak Kunjung Turun
Jika air berasal dari sisi Allah I,
maka Allah I juga berkuasa
untuk menahannya, sesuai kehendak dan hikmahNya.
Allah Ta’ala berfirman, artinya : “Apa saja yang Allah anugerahkan kepada
manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya;
dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup
melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS.
Fathir: 2).
Sebagian ulama seperti penulis tafsir Al-Jalalain mengatakan bahwa rahmat
yang dimaksudkan di sini adalah rizki dan hujan. Imam Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan bahwa sebagian
ulama menafsirkan rahmat dalam ayat di atas dengan hujan atau rizki. Mereka
mengatakan, “Hujan atau rizki yang Allah datangkan pada mereka, tidak ada satu
pun yang dapat menahannya. Jika Allah menahannya untuk turun, maka tidak ada
seorang pun yang dapat menurunkan hujan tersebut.”
Pertanyaan yang muncul kemudian
adalah, mengapa air hujan tersebut tertahan? Bukankah ia menjadi kebutuhan yang
mutlak bagi kehidupan?
Yang pasti, hujan tertahan bukan
karena habisnya perbendaharaan dan kekayaan Allah I.
Bukan pula karena Allah I ingin menyiksa
dan menyakiti hamba-hambaNya. Bukan demikian. Sungguh, Allah I
adalah Maha Baik terhadap hamba-hambaNya, mencurahkan kepada mereka kemurahanNya,
meliputi mereka dengan penjagaanNya dan memberikan rizki kepada mereka siang
dan malam.
Akan tetapi, hujan tertahan karena
suatu sebab yang justru datangnya dari hamba-hambaNya. Ya, dari hamba-hambaNya
yang hanya bisa mengambil dan tidak bisa bersyukur, bergembira dengan
kenikmatan-kenikmatan tanpa mengingat Sang Pemberi nikmat tersebut.
Sebab
Tertahannya Hujan
Dalam kitabnya yang berjudul “Fiy Bathnil-Huut”, Syaikh DR. Muhammad
Al-'Arifi hafizhahullah, seorang
ulama yang banyak menghabiskan waktunya untuk berdakwah di berbagai wilayah
mancanegara, menyebutkan sebuah kisah masyhur di zaman Nabi Musa alaihissalam dan Bani Israil.
Pada masa Nabi Musa alaihissalam, Bani Israil menderita
kekeringan parah akibat hujan tak kunjung turun. Nabi Musa alaihissalam dan rakyat Bani Israil kemudian menyertai beliau
mendirikan shalat meminta hujan. Mereka berkumpul di sebuah tempat, lalu berdoa
meminta hujan. Di antara isi doanya ialah, “Tuhanku, siramlah kami dengan air
hujan-Mu, taburkanlah kepada kami rahmat-Mu dan kasihanilah kami.”
Akan tetapi, hujan tetap tak kunjung
datang. Maka Allah I berfirman,
“Bagaimana Aku akan memberi hujan kepada kalian? Sementara di antara kalian ada
seorang hamba yang menantangKu dengan kemaksiatan-kemaksiatannya sejak 40 tahun.
Maka serulah di tengah-tengah manusia agar dia keluar dari tengah-tengah
kalian, karena dengan sebab dialah Aku tahan hujan untuk kalian.”
Lalu Musa alaihissalam menyeru di tengah-tengah kaumnya, “Wahai hamba yang
berbuat maksiat, yang telah menentang Allah sejak 40 tahun, keluarlah engkau
dari tengah-tengah kami, karena dengan sebab engkaulah kami dicegah dari
mendapat hujan.”
Maka hamba yang berbuat maksiat itu
melihat ke arah kanan dan kiri, tetapi ia tidak melihat seorangpun keluar. Maka
dia pun sadar bahwa dirinyalah yang dicari. Lalu ia berkata dalam hatinya,
“Jika aku keluar dari tengah-tengah kumpulan ini, nicsaya akan tercoreng
kehormatanku di kalangan Bani Israil, tetapi jika aku tetap diam bersama
mereka, mereka akan terhalang mendapatkan hujan karena aku.”
Hatinya merunduk, air matanya
berlinang. Dengan penuh penyesalan atas perbuatan-pebuatannya, ia berkata,
“Ilahi, aku telah durhaka kepadaMu selama 40 tahun dan Engkau menutupi aibku
serta menunda hukumanku. Sekarang aku datang kepadaMu dalam keadaan taat maka
terimalah taubatku.”
Ucapan orang tersebut belum selesai,
tiba-tiba awan gelap datang lalu menurunkan hujan. Maka Musa alaihissalam merasa heran dan berkata,
“Ilahi, Engkau turunkan hujan kepada kami, sementara tidak ada seorangpun yang
keluar di antara kami.” Maka Allah I
berfirman, “Wahai Musa, Aku telah turunkan hujan kepada kalian dengan sebab
taubatnya seorang yang tadinya Aku mencegah hujan karenanya.” Maka Musa alaihissalam berkata, “Ilahi tunjukkan
kepadaku hambaMu yang taat itu.” Dia I
berfirman, “Wahai Musa, sesungguhnya Aku tidak mempermalukannya ketika dia
maksiat kepadaKu. Maka apakah Aku akan mempermalukannya ketika ia taat
kepadaKu?”.
Nabi r
juga pernah bersabda di hadapan para sahabatnya tentang hal ini , “Jika suatu kaum enggan mengeluarkan zakat
dari harta-harta mereka, maka mereka akan dicegah dari mendapatkan hujan dari
langit. Sekiranya bukan karena binatang-binatang ternak, niscaya mereka tidak
diberi hujan.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam
Al-Kabir (13619). Syaikh Al-Albani rahimahullah
mengatakan bahwa hadits ini shahih).
“Dan
tidaklah suatu kaum enggan mengeluarkan zakat melainkan Allah akan menahan
hujan untuk mereka.” (Lihat Ash-Shahihah no. 107).
Agar
Hujan Segera Turun
Dari beberapa riwayat di atas, tahulah
kita bahwa sebab utama hujan tertahan adalah karena maksiat dan pelanggaran
terhadap aturan-aturan Allah I.
Sehingga bisa jadi, maksiat yang telah
kita lakukan selama ini, telah memberikan kontribusi pada sebab tersebut.
Apalagi di zaman tersebarnya berbagai bentuk kemaksiatan saat ini, ketika kita
mampu untuk tidak terjatuh ke dalam salah satu darinya, mungkin kita akan
terjatuh ke dalam bentuk yang lain. Wal’iyadzu-billah
Maka, tidak ada jalan yang lain,
selain bertaubat dan memohon ampun kepada Allah I.
Sekarang, Saudaraku!
Allah I
telah memperingatkan kita, melalui lisan Nabinya Nuh alaihissalam ketika ia berkata kepada kaumnya : “Maka aku katakan kepada
mereka, ”Mohonlah ampun kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun”.
Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan
harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula
di dalamnya) untukmu sungai-sungai” (QS. Nuh: 10-12).
Begitupula, Allah I
mengabarkan tentang ucapan Nabi Hud alaihissalam
: “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada
Rabbmu lalu taubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat
deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan
janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (QS. Hud: 52).
Istighfar,
Hujan Belum Juga Turun
Setelah beristighfar, Nabi kita
Muhammad r
juga mensyari’atkan kepada kita ketika hujan tak kunjung turun untuk melakukan
shalat Istisqa’, berdo’a di atas mimbar pada hari jum’at, berdo’a secara
pribadi pada waktu sujud atau penghujung akhir shalat, atau dalam keadaan apapun. Hal tersebut
disyari’atkan agar manusia kembali kepada Rabb mereka.
Namun, satu hal yang patut direnungkan
adalah bahwa istighfar bukan sekedar lafazh yang diucapkan oleh lisan. Begitu juga,
shalat Istisqa bukan sekedar adat yang dilakukan di negeri-negeri kaum Muslimin
sebagai kebiasaan. Akan tetapi, keduanya adalah taubat, penyesalan, ibadah dan
ketundukkan kepada Rabb semesta alam, serta perubahan dari suatu keadaan kepada
keadaan lain.
Dahulu, Nabi r
dan para Khulafa Rasyidin mengangkat tangannya meminta hujan, dan tidak berlalu
waktu yang lama melainkan terbentuklah awan, dan turunlah hujan mengaliri
lembah-lembah dan celah-celah pegunungan. Hal itu karena beliau r
jujur kepada Rabbnya.
Bagaimana dengan kita? Kita mengakui,
keadaan kita tidak seperti itu. Berlalu begitu banyak doa dan shalat Istisqa’,
namun hujan pun tak kunjung tercurah. Padahal, kita sadar dan tidak ragu bahwa
di antara orang-orang yang berdo’a dalam shalat tersebut juga ada ulama dan
orang-orang shalih. Mengapa?
Setelah mengedepankan prasangka
baik kepadaNya, seorang muslim yang
hatinya diberi cahaya oleh Allah r
seyogyanya melihat fenomena ini dengan perasaan takut kepadaNya.
Sudahkah kita merenungi, berapa banyak
mereka yang hadir dalam shalat Istisqa’, telah mempersiapkan diri dengan
persiapan yang sebenarnya, yaitu dengan bertaubat dan meninggalkan
kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa mereka? Berapa banyak yang menghadirinya layaknya pergi untuk rekreasi dan
tidak merubah keadaan mereka? Berapa banyak di antara mereka yang mengangkat
tangan untuk berdo’a, sementara
tangan-tangan tersebut masih berlumuran dengan riba atau memakan harta anak
yatim dan orang-orang lemah?
Begitujuga, apakah para rentenir (orang-orang
yang memakan riba) sudah berhenti dari memakan riba? Apakah orang yang
meninggalkan shalat di masjid sudah berhenti dari perbuatannya dan sudah shalat
bersama jama’ah? Apakah manusia sudah membersihkan rumah-rumah mereka dari
sarana-sarana yang merusak aqidah dan akhlak mereka? Apakah para wanita sudah
berhijab dan menutup aurat mereka? Apakah mereka sudah menyambung tali
kekerabatan (silaturrahim) di antara mereka? Apakah mereka sudah berbuat baik
terhadap tetangga mereka? Dan apakah orang kaya mereka sudah menunaikan zakat
hartanya?
Sementara, Allah Yang Maha Bijaksana
dan Maha Mengetahui berfirman, artinya : “Sesungguhnya
Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada
pada diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’d: 11).
Jika semuanya belum diwujudkan, bisa
jadi, inilah penyebabnya. Laa hawla wa laa quwwata illa billah.
Penutup
Olehnya, melalui risalah sederhana
ini, kami mengajak diri kami dan para pembaca sekalian, mari memperbaharui dan
menata ulang taubat dan istighfar kita kepada Allah I.
Taubat yang tulus dan jujur kepada Allah Sang Maha Pengampun.
Jika risalah ini dibaca oleh ratusan
atau bahkan ribuan orang dan sebagian besarnya kemudian memperbaharui taubatnya
kepada Allah I, kita berharap
semoga taubat-taubat tersebut akan berkumpul dan membumbung ke langit, mengetuk
dan membuka pintu langitNya, kiranya hujan segera turun membasahi bumi tercinta
disertai berkah dan manfaatnya yang berlimpah.
Setelah taubat, teruslah berdoa dan
bermohon kepadaNya. Sungguh, Dia Maha Dekat dan mengabulkan do’a orang-orang
yang meminta kepadaNya dan tidak akan rugi orang yang berharap kepadaNya.
Meskipun
yang pasti, hujan adalah ilmu ghaib dan hanya Allah I
yang menentukannya. Itu yang kita yakini. Rasulullah r
bersabda, “Kunci ilmu ghoib ada lima,
tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah Ta’ala. [1] Tidak ada seorang pun
yang mengetahui apa yangg terjadi keesokan harinya. [2] Tidak ada seorang pun
mengetahui apa yang terjadi dalam rahim. [3] Tidak ada satu jiwa pun yang mengetahui
apa yang ia lakukan besok. [4] Tidak ada satu jiwa pun yang mengetahui di
manakah ia akan mati. [5] Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan turunnya
hujan.”(HR. Bukhari no. 1039)
Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar