Desember 31, 2014

Musibah Indonesia

Bangsa Indonesia seakan-akan tidak pernah henti dirundung musibah dan bencana. Belum hilang dari ingatan kita musibah dan bencana tanah longsor di pulau Jawa, disusul dengan banjir di beberapa daerah nusantara termasuk di ibukota Jakarta, kebakaran besar di salah satu tempat di Solo, dan yang terakhir adalah jatuhnya salah satu pesawat penumpang komersil yang hingga saat ini masih dalam proses penyelidikan. Seakan-akan semua makhluk Allah I ; tanah, air, api dan udara menampakkan keperkasaannya di bawah ketundukan Allah I, Sang Pencipta dan Penguasa semua makhluk-Nya.


Entah, musibah dan bencana apa lagi yang akan menimpa bangsa ini, karena kelihatannya bangsa ini juga sudah terbiasa dengan segala bencana, tanpa tahu (dan mungkin juga tidak mau tahu) apa kesalahan yang diperbuatnya sehingga bencana dan musibah tersebut terus datang menghampiri. Tak seorang pun tahu, kapan rentetan bencana ini akan berakhir. Tak seorang pun tahu, mengapa bencana dan musibah terus terjadi. Hanya Allah I  yang tahu.

Semuanya Adalah Takdir Allah I

Selama iman masih bersemayam di kandung badan, diikuti dengan dengan jantung yang masih terus berdetak, darah yang masih mengalir dan nafas yang masih saja berhembus, telah menjadi sebuah kemestian dari Sang Khalik, jika cobaan, rintangan, musibah, akan datang silih berganti menjumpai kita sesuai dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah I. Hal ini sebagaimana yang telah Allah I nyatakan dalam firman-Nya, artinya : “Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang- orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”  (QS. Al-Ankabut : 1-3).

Satu hal yang wajib kita imani pula adalah bahwa semua yang terjadi adalah takdir dan ketetapan Allah I. Allah I berfirman, artinya :Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah” (QS. Al-Hadid: 22).
Semuanya telah Allah I tentukan 50.000 tahun sebelum langit dan bumi diciptakan. Rasulullah r bersabda, artinya : “Allah telah menulis takdir-takdir seluruh makhluq (pada kitab lauh mahfudz) 50.000 (lima puluh ribu) tahun sebelum menciptakan langit dan bumi”  (HR. Muslim).

Dengan demikian, kita sadar bahwa gempa yang merobohkan rumah-rumah kita, tanah longsor yang mengubur harta-harta kita, banjir yang menghanyutkan segala apa yang ada di atasnya, api yang menghanguskan segala harta benda dan udara yang menghembuskan angin kencang, semuanya telah Allah I takdirkan. Tiada seorangpun yang mampu untuk mengelakkannya. Rasulullah r bersabda : “Ketahuilah wahai saudara-saudaraku kaum muslimin bahwa apa yang harus menimpamu tidak akan luput darimu, dan apa-apa yang luput darimu tidaklah akan menimpamu." (HR. Tirmidzi dari shahabat Ibnu Abbas).

Saat dilanda musibah, manusia akan menyadari keadaannya sebagai para hamba dan di bawah kekuasaan Allah I. Mereka semua tidak terlepas dari ketetapan dan pengaturan Allah, qadha dan takdir-Nya. Hal ini tersirat dari pengakuan orang-orang beriman sebagaimana dalam firman-Nya, artinya :  “Yaitu orang-orang yang, apabila ditimpa musibah, mengucapkan, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’ (sesungguhnya kami hanyalah milik Allah, dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami dikembalikan” (QS. Al-Baqarah: 156).

Olehnya, hanya kepada Allah I lah kita berlindung. Sebagaimana perintah Allah I  dalam firman-Nya, artinya : Katakanlah : Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal” (QS. At-Taubah : 51).

Setiap Takdir Ada Hikmahnya

Mungkin ada yang bertanya, mengapa Allah I menimpakan bencana kepada umat yang mengimani dan menyembah-Nya dalam ajaran yang benar dan hak? Mengapa bukan orang-orang kafir saja yang ditimpa bencana? Jawabnya adalah Allah I selalu menyimpan hikmah di balik setiap takdir-Nya. Ya, hikmah dan pelajaran yang banyak bagi mereka yang bersabar dan menyerahkan semuanya kepada Allah I yang telah mentakdirkan itu semua untuk hamba-Nya. Yang pasti, ada kebaikan yang tersembunyi dari setiap takdir tersebut. Allah I berfirman, artinya : Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal sesuatu itu amat baik bagi kalian. Boleh jadi pula kalian menyukai sesuatu, padahal sesuatu itu amat buruk untuk kalian; Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).

 Di antara hikmah yang bisa kita petik dari setiap musibah yang menimpa adalah :

1. Musibah akan Mendidik Jiwa dan Menyucikannya dari Dosa dan Kemaksiatan.
Allah Ta’ala berfirman, artinya :  “Apa saja musibah yang menimpa kamu maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30).

Dalam ayat ini, terdapat kabar gembira sekaligus ancaman jika kita mengetahui bahwa musibah yang kita alami adalah hukuman atas dosa-dosa kita. Rasulullah r  bersabda, artinya :  ”Tidak ada penyakit, kesedihan dan bahaya yang menimpa seorang mukmin hinggga duri yang menusuknya melain-kan Allah akan mengampuni kesalahan-kesalahannya dengan semua itu.”  (HR. Bukhari).

Rasulullah r bersabda, artinya : “Tidaklah seorang mukmin ditimpa oleh sakit terus-menerus, keletihan, penyakit, kesedihan, hingga gundah gulana yang menyusahkannya, kecuali bahwa dia akan digugurkan dari kesalahan-kesalahannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits lainnya, beliau r juga bersabda, artinya : “Cobaan senantiasa akan menimpa seorang mukmin, keluarga, harta dan anaknya hingga dia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai dosa.”

Sebagian ulama salaf berkata, “Kalau bukan karena musibah-musibah yang kita alami di dunia, niscaya kita akan datang di hari kiamat dalam keadaan pailit.”

2. Sebagai Parameter Kesabaran Seorang Hamba.
Sebagaimana dituturkan, bahwa seandainya tidak ada ujian maka tidak akan tampak keutamaan sabar. Apabila ada kesabaran maka akan muncul segala macam kebaikan yang menyertainya, namun jika tidak ada kesabaran maka akan lenyap pula kebaikan itu.

Anas t meriwayatkan sebuah hadits secara marfu’, artinya : “Sesungguhnya besarnya pahala tergantung pada besarnya cobaan. Jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan mengujinya dengan cobaan. Barang siapa yang ridha atas cobaan tersebut maka dia mendapat keridhaan Allah dan barang siapa yang berkeluh kesah (marah) maka ia akan mendapat murka Allah.”

Apabila seorang hamba bersabar dan imannya tetap tegar maka akan ditulis namanya dalam daftar orang-orang yang sabar. Apabila kesabaran itu memunculkan sikap ridha maka ia akan ditulis dalam daftar orang-orang yang ridha. Dan jikalau memunculkan pujian dan syukur kepada Allah I maka dia akan ditulis namanya bersama-sama orang yang bersyukur. Jika Allah I mengaruniai sikap sabar dan syukur kepada seorang hamba maka setiap ketetapan Allah I yang berlaku padanya akan menjadi baik semuanya.

Rasulullah r bersabda, artinya : “Sungguh menakjubkan kondisi seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Jika memperoleh kelapangan lalu ia bersyukur maka itu adalah baik baginya. Dan jika ditimpa kesempitan lalu ia bersabar maka itupun baik baginya (juga).”

4. Dapat Memurnikan Tauhid dan Menautkan Hati Kepada Allah I .
Wahab bin Munabbih rahimullah berkata, “Allah menurunkan cobaan supaya hamba memanjatkan do’a dengan sebab bala’ itu.” Dalam surat Fushilat ayat 51 Allah I berfirman, artinya :Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak berdo’a.”

Musibah dapat menyebabkan seorang hamba berdoa dengan sungguh-sungguh, tawakkal dan ikhlas dalam memohon. Dengan kembali kepada Allah I (inabah), seorang hamba akan merasakan manisnya iman, yang lebih nikmat dari lenyapnya penyakit yang diderita. Apabila seseorang ditimpa musibah baik berupa kefakiran, penyakit dan lainnya maka hendaknya hanya berdo’a dan memohon pertolongan kepada Allah I saja sebagaimana dilakukan oleh Nabi Ayyub ‘Alaihis Salam yang berdoa, “Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Rabbnya, ”(Ya Rabbku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”. (QS. Al-Anbiyaa : 83).

5. Memunculkan Berbagai Macam Ibadah yang Menyertainya.
Di antara ibadah yang muncul adalah ibadah hati berupa khasy-yah (rasa takut) kepada Allah I. Berapa banyak musibah yang menyebabkan seorang hamba menjadi istiqamah dalam agamanya, berlari mendekat kepada Allah I menjauhkan diri dari kesesatan.

6. Mengikis Sikap Sombong, Ujub dan Besar Kepala.
Jika seorang hamba kondisinya serba baik dan tak pernah ditimpa musibah maka biasanya ia akan bertindak melampaui batas, lupa awal kejadiannya dan lupa tujuan akhir dari kehidupannya. Akan tetapi ketika ia ditimpa sakit, mengeluarkan berbagai kotoran, bau tak sedap, dahak dan terpaksa harus lapar, kesakitan bahkan mati, maka ia tak mampu memberi manfaat dan menolak bahaya dari dirinya. Dia tak akan mampu menguasai kematian, terkadang ia ingin mengetahui sesuatu tetapi tak kuasa, ingin mengingat sesuatu namun tetap saja lupa. Tak ada yang dapat ia lakukan untuk dirinya, demikian pula orang lain tak mampu berbuat apa-apa untuk menolongnya. Maka apakah pantas baginya menyombongkan diri di hadapan Allah I dan sesama manusia?

7. Indikasi Bahwa Allah I Menghendaki Kebaikan.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah secara marfu’ bahwa Rasulullah r bersabda, artinya : ”Barang siapa yang dikehen-daki oleh Allah kebaikan maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya.” (HR. Bukhari). Seorang mukmin meskipun hidupnya sarat dengan ujian dan musibah namun hati dan jiwanya tetap sehat.

Akhirnya, hendaknya seorang hamba bersabar dan memuji Allah I ketika tertimpa musibah, sebab walaupun ia sedang terkena musibah sesungguhnya masih ada orang yang lebih susah darinya, dan jika tertimpa kefakiran maka pasti ada yang lebih fakir lagi.

Ali bin Abu Thalib t berkata :  “Tidaklah turun musibah kecuali dengan sebab dosa dan tidaklah musibah diangkat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali dengan bertobat.” (Kitab Al-Jawabul Kafi hal. 118).

Marilah kita kembali kepada Allah I dengan bertaubat dari segala dosa dan khilaf serta menginstropeksi diri kita masing-masing, apakah kita termasuk orang yang terkena musibah sebagai cobaan dan ujian keimanan kita  ataukah termasuk mereka- wal’iyadzubillah- yang sedang disiksa dan dimurkai oleh Allah I karena kita tidak mau beribadah dan banyak melanggar larangan-larangan-Nya.

Maraji’ :
Himah di Balik Musibah, Fariq bin Qaasim Anuz; dan lainnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...