Bangsa Indonesia seakan-akan tidak pernah henti
dirundung musibah dan bencana. Belum hilang dari ingatan kita musibah dan
bencana tanah longsor di pulau Jawa, disusul dengan banjir di beberapa daerah
nusantara termasuk di ibukota Jakarta, kebakaran besar di salah satu tempat di
Solo, dan yang terakhir adalah jatuhnya salah satu pesawat penumpang komersil
yang hingga saat ini masih dalam proses penyelidikan. Seakan-akan semua makhluk
Allah I ; tanah, air, api dan udara menampakkan
keperkasaannya di bawah ketundukan Allah I, Sang Pencipta dan Penguasa semua
makhluk-Nya.
Entah, musibah dan bencana apa lagi yang akan menimpa
bangsa ini, karena kelihatannya bangsa ini juga sudah terbiasa dengan segala
bencana, tanpa tahu (dan mungkin juga tidak mau tahu) apa kesalahan yang
diperbuatnya sehingga bencana dan musibah tersebut terus datang menghampiri.
Tak seorang pun tahu, kapan rentetan bencana ini akan berakhir. Tak seorang pun
tahu, mengapa bencana dan musibah terus terjadi. Hanya
Allah I yang tahu.
Semuanya Adalah Takdir Allah I
Selama iman masih bersemayam di kandung
badan, diikuti dengan dengan jantung
yang masih terus berdetak, darah yang masih mengalir dan nafas yang masih saja berhembus, telah menjadi sebuah kemestian dari Sang Khalik, jika cobaan, rintangan,
musibah, akan datang silih
berganti menjumpai kita
sesuai dengan
apa yang telah ditetapkan oleh
Allah I. Hal ini sebagaimana yang telah Allah I
nyatakan dalam firman-Nya, artinya : “Alif
laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:
Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah
menguji orang- orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui
orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta” (QS. Al-Ankabut : 1-3).
Satu hal yang wajib kita imani pula adalah bahwa semua
yang terjadi adalah takdir dan ketetapan Allah I. Allah I berfirman, artinya : “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula)
pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum
Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah” (QS.
Al-Hadid: 22).
Semuanya telah
Allah I tentukan 50.000 tahun sebelum langit dan bumi diciptakan.
Rasulullah r bersabda, artinya : “Allah telah menulis takdir-takdir
seluruh makhluq (pada kitab lauh mahfudz) 50.000 (lima puluh ribu) tahun
sebelum menciptakan langit dan bumi” (HR. Muslim).
Dengan demikian, kita sadar bahwa gempa yang merobohkan rumah-rumah kita, tanah longsor yang mengubur harta-harta kita, banjir yang menghanyutkan segala apa yang ada di atasnya,
api yang menghanguskan segala harta benda dan udara yang menghembuskan angin kencang, semuanya
telah Allah I takdirkan. Tiada seorangpun yang mampu untuk mengelakkannya.
Rasulullah r
bersabda : “Ketahuilah wahai saudara-saudaraku kaum muslimin bahwa apa yang
harus menimpamu tidak akan luput darimu, dan apa-apa yang luput darimu tidaklah
akan menimpamu." (HR. Tirmidzi dari shahabat Ibnu Abbas).
Saat dilanda musibah,
manusia akan menyadari keadaannya sebagai para hamba dan di bawah kekuasaan
Allah I. Mereka semua tidak
terlepas dari ketetapan dan pengaturan Allah, qadha dan takdir-Nya. Hal ini
tersirat dari pengakuan orang-orang beriman sebagaimana dalam firman-Nya,
artinya : “Yaitu orang-orang yang,
apabila ditimpa musibah, mengucapkan, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’
(sesungguhnya kami hanyalah milik Allah, dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami
dikembalikan” (QS. Al-Baqarah: 156).
Olehnya, hanya kepada Allah I lah kita berlindung.
Sebagaimana perintah Allah I dalam firman-Nya, artinya : “Katakanlah
: Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh
Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang
yang beriman harus bertawakkal” (QS.
At-Taubah : 51).
Setiap Takdir Ada Hikmahnya
Mungkin ada yang bertanya,
mengapa Allah I menimpakan bencana kepada umat
yang mengimani dan menyembah-Nya dalam ajaran yang benar dan hak? Mengapa bukan
orang-orang kafir saja yang
ditimpa bencana? Jawabnya adalah Allah I
selalu menyimpan hikmah di balik setiap takdir-Nya. Ya, hikmah dan pelajaran yang banyak bagi mereka yang
bersabar dan menyerahkan semuanya kepada Allah I
yang telah mentakdirkan itu semua untuk
hamba-Nya. Yang pasti, ada kebaikan yang tersembunyi dari setiap
takdir tersebut. Allah I berfirman, artinya : “Boleh jadi kalian membenci
sesuatu, padahal sesuatu itu amat baik bagi kalian. Boleh jadi pula kalian
menyukai sesuatu, padahal sesuatu itu amat buruk untuk kalian; Allah
mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).
Di antara hikmah yang bisa kita petik dari
setiap musibah yang menimpa adalah
:
1. Musibah akan Mendidik
Jiwa dan Menyucikannya dari Dosa dan Kemaksiatan.
Allah Ta’ala berfirman,
artinya : “Apa saja musibah yang
menimpa kamu maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah
memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS.
Asy-Syura: 30).
Dalam ayat ini, terdapat
kabar gembira sekaligus ancaman jika kita mengetahui bahwa musibah yang kita
alami adalah hukuman atas dosa-dosa kita. Rasulullah r bersabda, artinya : ”Tidak ada penyakit, kesedihan dan bahaya
yang menimpa seorang mukmin hinggga duri yang menusuknya melain-kan Allah akan
mengampuni kesalahan-kesalahannya dengan semua itu.” (HR. Bukhari).
Rasulullah r
bersabda, artinya : “Tidaklah seorang mukmin ditimpa oleh sakit
terus-menerus, keletihan, penyakit, kesedihan, hingga gundah gulana yang
menyusahkannya, kecuali bahwa dia akan digugurkan dari kesalahan-kesalahannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam hadits lainnya,
beliau r juga
bersabda, artinya : “Cobaan senantiasa akan menimpa seorang mukmin, keluarga,
harta dan anaknya hingga dia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai
dosa.”
Sebagian ulama salaf
berkata, “Kalau bukan karena musibah-musibah yang kita alami di dunia,
niscaya kita akan datang di hari kiamat dalam keadaan pailit.”
2. Sebagai Parameter
Kesabaran Seorang Hamba.
Sebagaimana dituturkan,
bahwa seandainya tidak ada ujian maka tidak akan tampak keutamaan sabar.
Apabila ada kesabaran maka akan muncul segala macam kebaikan yang menyertainya,
namun jika tidak ada kesabaran maka akan lenyap pula kebaikan itu.
Anas t
meriwayatkan sebuah hadits secara marfu’, artinya : “Sesungguhnya besarnya
pahala tergantung pada besarnya cobaan. Jika Allah mencintai suatu kaum maka
Dia akan mengujinya dengan cobaan. Barang siapa yang ridha atas cobaan tersebut
maka dia mendapat keridhaan Allah dan barang siapa yang berkeluh kesah (marah)
maka ia akan mendapat murka Allah.”
Apabila seorang hamba
bersabar dan imannya tetap tegar maka akan ditulis namanya dalam daftar
orang-orang yang sabar. Apabila kesabaran itu memunculkan sikap ridha maka ia
akan ditulis dalam daftar orang-orang yang ridha. Dan jikalau memunculkan
pujian dan syukur kepada Allah I maka dia akan ditulis
namanya bersama-sama orang yang bersyukur. Jika Allah I mengaruniai sikap sabar dan
syukur kepada seorang hamba maka setiap ketetapan Allah I yang berlaku padanya akan
menjadi baik semuanya.
Rasulullah r bersabda, artinya
: “Sungguh menakjubkan kondisi seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya
adalah baik baginya. Jika memperoleh kelapangan lalu ia bersyukur maka itu
adalah baik baginya. Dan jika ditimpa kesempitan lalu ia bersabar maka itupun
baik baginya (juga).”
4. Dapat Memurnikan Tauhid
dan Menautkan Hati Kepada Allah I .
Wahab bin Munabbih rahimullah
berkata, “Allah menurunkan cobaan supaya hamba memanjatkan do’a dengan
sebab bala’ itu.” Dalam
surat Fushilat ayat 51 Allah I berfirman, artinya : “Dan apabila Kami
memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi
apabila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak berdo’a.”
Musibah dapat menyebabkan
seorang hamba berdoa dengan sungguh-sungguh, tawakkal dan ikhlas dalam memohon.
Dengan kembali kepada Allah I (inabah), seorang hamba akan
merasakan manisnya iman, yang lebih nikmat dari lenyapnya penyakit yang diderita.
Apabila seseorang ditimpa musibah baik berupa kefakiran, penyakit dan lainnya
maka hendaknya hanya berdo’a dan memohon pertolongan kepada Allah I saja sebagaimana dilakukan oleh Nabi
Ayyub ‘Alaihis Salam yang berdoa, “Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika
ia menyeru Rabbnya, ”(Ya Rabbku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan
Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”. (QS. Al-Anbiyaa : 83).
5. Memunculkan Berbagai
Macam Ibadah yang Menyertainya.
Di antara ibadah yang
muncul adalah ibadah hati berupa khasy-yah (rasa takut) kepada Allah I.
Berapa banyak musibah yang menyebabkan seorang hamba menjadi istiqamah dalam
agamanya, berlari mendekat kepada Allah I menjauhkan diri dari
kesesatan.
6. Mengikis Sikap Sombong,
Ujub dan Besar Kepala.
Jika seorang hamba
kondisinya serba baik dan tak pernah ditimpa musibah maka biasanya ia akan
bertindak melampaui batas, lupa awal kejadiannya dan lupa tujuan akhir dari
kehidupannya. Akan tetapi ketika ia ditimpa sakit, mengeluarkan berbagai kotoran,
bau tak sedap, dahak
dan terpaksa harus lapar, kesakitan bahkan mati, maka ia tak mampu memberi
manfaat dan menolak bahaya dari dirinya. Dia tak akan mampu menguasai kematian,
terkadang ia ingin mengetahui sesuatu tetapi tak kuasa, ingin mengingat sesuatu
namun tetap saja lupa. Tak ada yang dapat ia lakukan untuk dirinya, demikian
pula orang lain tak mampu berbuat apa-apa untuk menolongnya. Maka apakah pantas
baginya menyombongkan diri di hadapan Allah I dan sesama manusia?
7. Indikasi Bahwa Allah I
Menghendaki Kebaikan.
Diriwayatkan dari Abu
Hurairah secara marfu’ bahwa Rasulullah r
bersabda, artinya : ”Barang siapa yang dikehen-daki oleh Allah kebaikan maka
Allah akan menimpakan musibah kepadanya.” (HR. Bukhari).
Seorang mukmin meskipun hidupnya sarat dengan ujian dan musibah namun hati dan
jiwanya tetap sehat.
Akhirnya, hendaknya seorang
hamba bersabar dan memuji Allah I
ketika tertimpa musibah, sebab walaupun ia sedang terkena musibah sesungguhnya
masih ada orang yang lebih susah darinya, dan jika tertimpa kefakiran maka
pasti ada yang lebih fakir lagi.
Ali bin Abu Thalib t
berkata : “Tidaklah turun musibah
kecuali dengan sebab dosa dan tidaklah musibah diangkat oleh Allah Subhanahu wa
Ta’ala kecuali dengan bertobat.” (Kitab Al-Jawabul Kafi
hal. 118).
Marilah kita kembali kepada
Allah I dengan bertaubat dari
segala dosa dan khilaf serta menginstropeksi diri kita masing-masing, apakah
kita termasuk orang yang terkena musibah sebagai cobaan dan ujian keimanan
kita ataukah termasuk mereka- wal’iyadzubillah-
yang sedang disiksa dan dimurkai oleh Allah I
karena kita tidak mau beribadah dan banyak melanggar larangan-larangan-Nya.
Maraji’ :
Himah di Balik Musibah,
Fariq bin Qaasim Anuz; dan lainnya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar