Desember 18, 2014

Intoleransi dan Kebiasaan Ikut-ikutan

Kata Christmas (Natal) yang diartikan sebagai Mass of Christ atau disingkat dengan Christ-Mass adalah sebuah hari dirayakannya kelahiran “Yesus”. Biasanya rutin dilaksanakan setiap tanggal 25 Desember pada tiap tahunnya. Berbagai aktivitas pun dilakukan untuk memperingati hari ini seperti doa bersama, pesta, pohon natal, dan sejenisnya.


Tahukah kita, ternyata perintah untuk menyelenggarakan Natal (asalnya) tidak pernah ada dalam Bibel (kitab suci kaum nasrani atau kristen)? Perayaan Natal baru masuk dalam ajaran Kristen Katolik pada abad ke-4 M. Dan peringatan inipun sebenarnya merupakan hasil dari proses Sinkretisme (penggabungan dua agama) antara Kristen Katolik dan juga budaya Paganis Politheisme Imperium Romawi pada saat itu. Ketika Kaisar Konstantin menjadi penganut Kristen Katolik, ia tetap tidak mampu meninggalkan adat atau kepercayaannya terhadap budaya paganisnya. Karena itulah, agar agama Katolik bisa diterima dan masuk ke tengah-tengah masyarakat Romawi maka dilakukanlah proses Sinkretisme tadi yakni dengan cara menyatukan perayaan kelahiran dari Sun of God (Dewa Matahari) dengan kelahiran Son of God (Yesus). Kemudian pada konsili (pertemuan) tahun 325, Kaisar Konstantin memutuskan untuk menetapkan bahwa tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran dari Yesus. Sesudah Kaisar Konstantin memeluk agama Katolik dan melakukan penyatuan kedua agama melalui proses Sinkretisme tadi, maka rakyat pun beramai-ramai memeluk agama Katolik. Bisa dikatakan ini adalah sebuah prestasi gemilang dari hasil proses Sinkretisme oleh Kaisar Konstantin dengan agama Paganisme Politheisme nenek moyang mereka. Pada akhirnya semenjak tahun 1100M, Natal telah menjadi perayaan keagamaan terpenting di banyak negara-negara Eropa.

Budaya Latah

Sudah menjadi kebiasaan (atau tidak berlebihan jika kita mengatakannya sebagai budaya yang mengakar dan menyebar di rakyat Indonesia) bahwa pesta atau perayaan terhadap momen itu menjadi sangat penting. Tidak hanya sampai di situ, rakyat Indonesia juga sangat terbiasa bahkan terbudayakan untuk memperingati berbagai hari-hari perayaan walau itu berasal dari asing.

Misalkan saja, ketika kita masuk di pertengahan bulan Desember yakni pekan-pekan terakhir jelang 25 Desember, hari perayaan Natal, kita bisa merasakan atmosfir yang terbentuk di sekitar kita ditujukan untuk memperingati dan menyambut datangnya perayaan Natal. Di jalan-jalan penuh dengan iklan ucapan selamat Natal, pergi ke pusat perbelanjaan maka kita disuguhi dengan suasana menyambut Natal seperti Santa Klaus, lagu-lagu rohani Kristen, dekorasi pohon Natal yang dihiasi dengan hiasan sedemikian rupa, dan lainnya. Bahkan media pun tidak lupa untuk mem-blow up perayaan Natal ini sedemikian rupa. Disuguhilah masyarakat Indonesia dengan film-film bernuansa Kristen dan Paganisme  Politheisme.

Kemudian ketika di akhir tahun, jelang tanggal 1 Januari, kita mendengar bagaimana ramainya orang membicarakan apa yang ingin ia lakukan ketika tahun baru nanti, berpesta-pora menyambut tahun baru. Tahun baru memang dikatakan sebagai sebuah hari suci bagi umat Kristen di seluruh penjuru dunia. Setiap tahun baru, banyak orang di seluruh penjuru dunia keluar dari rumahnya kemudian meniupkan terompet, menyalakan kembang api, berpesta pora, dan mengucapkan “Happy New Year”.

Inilah fakta yang memprihatinkan dari sebuah bangsa yang super-latah. Bangsa yang super-latah ini akan sangat mengagungkan kebudayaan-kebudayaan dari asing yang dianggapnya sebagai negeri maju dan berjaya, maka kemudian begitu mudahnya larut dengan budaya Natal, tahun baru, valentine, April mob, dan lainnya ke negeri kita. Hingga akhirnya negeri ini pun mungkin pantas dikatakan sebagai sebuah negeri yang terjajah, tidak dijajah secara fisik namun tentu dijajah secara pemikiran. Benarlah jika dikatakan bahwa negeri yang terjajah akan mengikuti apapun yang dilakukan oleh negeri yang menjajahnya, termasuk kebudayaannya.

Mari kita pikirkan, adakah hubungan antara mencontoh perayaan-perayaan itu semua dengan kemajuan yang mungkin bisa diperoleh oleh negeri kita? Tentu sama sekali tidak ada hubungannya. Lalu mengapa tetap dilakukan oleh rakyat Indonesia? Wallahul-musta’an.

Intoleransi-kah?

Natal merupakan perayaan yang seharusnya dikhususkan hanya untuk kaum-kaum nasrani. Namun di Indonesia, ini berbeda. Berkat budaya latah dan pemikiran-pemikiran ‘nyeleneh’ dari segelintir orang maka Natal pun diopinikan sebagai sebuah ritual bersama bagi seluruh rakyat Indonesia, tanpa melihat ia seorang yang beragama Kristen atau tidak.

Entah karena ketidaktahuan atau kesengajaan yang sengaja dilakukan dengan berbagai tujuan politis dan jabatan, sebagaian pejabat dan orang-orang katanya terkemuka di negeri ini menyeru untuk ikut meramaikannya. Ironis sekali. Yang pasti, hal ini bisa mengedukasi pendangkalan aqidah umat muslim.

Umat muslim pun diseru untuk mengucapkan “Selamat Natal” dan bila perlu juga ikut merayakan dan memfasilitasi perayaannya. Ya, semua itu dibungkus dengan pujian menyesatkan bahwa umat muslim adalah umat yang tingkat toleransinya tinggi dan benar-benar nyata ikut berperan penting dalam menjaga kerukunan antarumat beragama. Ironisnya lagi, jika umat muslim tidak melakukannya maka cap anti non-muslim dan intoleran pun dilekatkan dengan sangat kuat.

Namun, kita tidak sadar. Mempromosikan perayaan ini dengan model sedemikian rupa dan memberlakukannya untuk dan agar diikuti oleh semua rakyat Indonesia baik ia beragama Kristen atau bukan, hakikatnya adalah tindakan intoleransi terhadap umat muslim. Ya, umat muslim-lah yang justru disikapi intoleransi oleh penganut agama lainnya.

Islam Menjaga Akidah dan Menghargai Non-Muslim

Dalam sebuah dialog menarik yang tersebar di berbagai situs internet, ada pelajaran yang sangat baik pada cuplikan dialog ini :

Muslim : Bagaimana Natalmu?
David  : Baik, kau tidak mengucapkan Selamat Natal padaku? .....
Muslim : Tidak, agama kami menghargai toleransi antaragama, termasuk agamamu, tapi masalah ini, agama saya melarangnya.
David  : Tapi kenapa, bukankah hanya sekedar kata-kata? Teman muslimku yang lain mengucapkannya padaku.
Muslim : Mungkin mereka belum mengetahuinya. David, kau bisa mengucapkan “dua kalimat syahadat”?
David : Oh tidak, saya tidak bisa mengucapkannya. Itu akan mengganggu kepercayaan saya.
Muslim : Kenapa? Bukankah hanya kata-kata? Ayo, ucapkanlah.
David  : Sekarang, saya mengerti.

Logika yang sederhana namun cerdas sang muslim, cukup menggambarkan kepada kita bagaimana seharusnya hubungan antara kedua umat yang berbeda keyakinan ini. Sementara hari ini banyak orang yang dianggap “tokoh” masyarakat level nasional dan lokal dari kalangan muslim,  tampil dengan gaya humanis, pluralis, wisdom, menjadi pahlawan, pemimpin hebat kemudian mengucapkan “Selamat Natal” kepada umat kristiani. Tentu ini menabrak tuntunan Allah I dan RasulNya r . Sosok muslim yang kehilangan jati diri, “muslim KTP” yang eksis terlepas dari pakem dan manhaj hidup yang digariskan oleh Rasulullah r.

Setidaknya, ada 4 (empat) alasan mengapa Islam melarang umatnya untuk mengucapkan “Selamat Natal” apalagi ikut merayakannya :

Pertama, hari Natal bukanlah perayaan kaum muslimin. Rasulullah r telah menjelaskan dengan sangat tegas bahwasanya perayaan bagi kau muslimin hanya ada dua, yakni ketika Idul Fitri dan Idul Adha. Anas bin Malik t berkata : “Ketika Rasulullah r datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa Jahiliyah. Maka beliau r berkata : “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian yaitu hari raya kurban (Idul Adha) dan hari raya Idul Fitri(HR. Ahmad).

Kedua, mengucapkan “Selamat Natal” dan ikut merayakannya bahkan memfasilitasinya saja sama dengan menyetujui kekufuran orang-orang yang merayakan natal. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “selamat” artinya terhindar dari bencana, aman sentosa; sejahtera tidak kurang suatu apa; sehat; tidak mendapat gangguan, kerusakan dsb;

Natal adalah sebuah perayaan kelahiran Yesus Kristus (Nabi Isa al-Masih u) yang dalam pandangan umat Kristen saat ini ia adalah anak Tuhan dan Tuhan anak serta meyakini ajaran Trinitas. Lalu bagaimana bisa seorang muslim yang bertolak belakang dan jelas berbeda pemahamannya mengenai Nabi Isa u, mendoakan kaum Kristen keselamatan atas apa yang mereka pahami tadi, padahal dengan sangat jelas Allah I menyatakan mereka sebagai orang kafir (QS. Al-Maidah : 72-75)?

Ketiga, merupakan sikap loyal (wala’) yang salah dan keliru. Loyal tidaklah sama dengan berbuat baik. Wala’ memiliki arti loyal, menolong, atau memuliakan orang yang kita cintai, sehingga apabila kita wala’ terhadap seseorang, akan tumbuh rasa cinta kepada orang tersebut. Oleh karena itulah, kekasih-kekasih Allah I disebut pula sebagai wali-wali Allah I.

Ketika kita mengucapkan “Selamat Natal”, hal itu tentu dapat menumbuhkan rasa cinta kita perlahan-lahan kepada mereka. Mungkin sebagian kita mengingkari, yang diucapkan hanya sekedar lisan saja. Namun, seorang muslim secara tegas diperintahkan untuk mengingkari sesembahan-sesembahan orang kafir (QS. Al-Mumtahanah : 4). Bahkan Rasulullah r pun dengan jelas mencontohkan kepada kita bagaimana beliau r dengan tegas mengingkari patung-patung sesembahan orang-orang kafir jahiliyah dan menghina dan menyampaikan bahwa yang patut disembah hanyalah Allah I  dan Dia I tidak perlu suatu perantara apapun.

Keempat, aktivitas mengucapkan “Selamat Natal”dan ikut merayakannya atau sekedar memfasilitasinya adalah aktivitas menyerupai orang kafir. Padahal Rasulullah r dengan tegas telah melarang kaum muslim untuk menyerupai kaum kafir. Sabda Rasulullah r : “ Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Alasan terpaksa karena pekerjaan atau takut dipecat menjadi alasan klasik yang kerap kali menjadi pembenaran untuk sebagian kaum muslimin demi melakukan aktivitas menyerupai kaum kafir tadi. Padahal rezeki setiap manusia bahkan hingga binatang dan tumbuhan, semuanya di tangan Allah I. Justru apakah demi beberapa lembar uang kita rela menggadaikan aqidah kita hingga kemudian kehilangan tempat di surga dan masuk ke neraka Allah I  yang siksanya luar biasa pedihnya. Sunguh, Allah I pasti akan mempermudah jalan hambaNya yang berusaha sekuat tenaga untuk taat pada aturanNya, termasuk mempermudah rezekinya.

Sekali lagi, bukan berarti Islam tidak toleran terhadap agama yang lain. Islam (hanyalah) melakukan sebuah tindakan penjagaan aqidah umatnya yang memang menjadi ruh dan pondasi dari agama itu sendiri. Islam tidak akan pernah memaksakan keyakinannya kepada pemeluk agama lain, bahkan sekedar mengganggunya. Karena sesungguhnya, tidak ada paksaan untuk masuk Islam dan meyakininya. Bahkan dalam sistem negara Islam yakni Khilafah Islamiyah yang menerapkan aturan Islam secara menyeluruh, mereka-mereka yang beragama selain Islam menerima perlakuan yang baik dan penghargaan yang luar biasa. Diperbolehkan bagi mereka melaksanakan keyakinan beragama mereka tanpa ada gangguan sedikitpun  , tentunya dengan aturan tertentu. Karena itu Islam adalah agama yang toleran dan paling menghargai agama selain Islam, namun tentu menolak pemahaman Pluralisme dan Sinkretisme yang merupakan pemahaman sesat dan tak layak diterima.

Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...