Januari 03, 2013

Perindu – Perindu Malam

Malam adalah saat yang penuh dengan keheningan dan ketenangan, sungguh ini waktu yang tepat untuk beristirahat menghilangkan kelelahan dan kepenatan menjalani hiruk pikuk dunia di siang hari.

Namun, di balik keheningan dan kesejukannya, al-Quran sebagai kalam Allah I, dalam beberapa ayatnya ketika berbicara soal malam, justru tidak berbicara tentang istirahat atau berdiam diri. Akan tetapi, berbicara tentang aktivitas, sebuah kerja dan amal yang agung. Apakah itu?

Di dalam al-Qur’an, Allah I  memerintahkan mengisi sebagian malam dengan mengoptimalkan berbagai aktivitas ibadah, seperti membaca al-Quran, sujud, rukuk, bertasbih, berdzikir, beristighfar, bermunajat, dan berdoa, khususnya degan qiyamullail.

Allah I  berfirman, artinya : "Hai orang yang berselimut (Muhammad). Bangunlah (untuk shalat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil, (yaitu) separuhnya atau kurang dari sedikit dari itu. Atau lebih dari (seperdua) itu, dan bacalah Alquran dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat untuk khusyu dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.'' (QS. al-Muzzammil : 1-6).

Manusia yang merindukan ketinggian dan kejayaan, niscaya menjadi para perindu –perindu malam. Betapa tidak, mereka menjadikan malam sebagai sumber energi menghadapi perjuangan dan kelelahan siang. Energi jiwa dengan menguatkan ikatan dengan Allah I Sang Penguasa. Energi raga dan pemikiran dengan dengan menghirup kesegaran udaranya.

Malam dijadikan madrasah untuk meneguhkan tekad, meneguhkan semangat, dan membuktikan kesungguhan yang meyakinkan.

Bagi mereka, malam dijadikan sebagai ajang pembuktian keikhlasan,kesungguhan pengabdian,

kesungguhan beramal walau tak seorang manusia pun yang menyaksikannya.

Pantas saja, bila para panglima perang Islam di zaman Rasulullah r memilih kualitas tentaranya dengan parameter mengerjakan qiyamullail.

Qiyamullail atau yang biasa disebut juga Shalat Tahajjud atau Shalat Malam adalah salah satu ibadah yang agung dan mulia , yang disyari’atkan oleh Allah I   sebagai ibadah nafilah atau ibadah sunnah.

Akan tetapi bila seorang hamba mengamalkannya dengan penuh kesungguhan, maka ia memiliki banyak keutamaan. Ya, memang berat, karena tidak setiap muslim sanggup melakukannya.

Ketahuilah...
Mereka yang menunaikannya, berarti telah mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana dalam firman-Nya, artinya : “Dan pada sebagian malam hari, shalat tahajjudlah kamu sebagai ibadah nafilah bagimu, mudah-mudahan Rabb-mu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra’:79).

Ketahuilah...
Qiyamullail adalah shalat yang paling afdhal setelah shalt fardhu. Rasulullah r

bersabda, artinya : “Shalat yang paling utama sesudah shalat fardhu adalah qiyamul lail (shalat di tengah malam)” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ketahuilah...
Qiyamul lail itu adalah kebiasaan orang-orang shalih dan calon penghuni surga. Allah I  berfirman, artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam taman-taman surga dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan oleh Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu (di dunia) adalah orang-orang yang berbuat kebaikan, (yakni) mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (QS. Adz-Dzariyat : 15-18).

Ketahuilah ...
Makruh hukumnya meninggalkan shalat malam bagi yang telah terbiasa mengerjakannya.

Rasulullah r bersabda kepada sahabat Abdullah bin Umar t,artinya : Sebaik-baik lelaki adalah Abdullah (yakni Abdullah bin Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhuma) seandainya ia shalat di waktu malam.” (HR Muslim).

Beliau r menasihati Abdullah ibnu Umar t : Wahai Abdullah, janganlah engkau menjadi seperti fulan, ia kerjakan shalat malam, lalu ia meninggalkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ketahuilah ...
Siapa yang menunaikan qiyamullail, dia akan terpelihara dari gangguan setan, dan ia akan bangun di pagi hari dalam keadan segar dan bersih jiwanya. Sebaliknya, siapa yang meninggalkan qiyamul lail, ia akan bangun di pagi hari dalam keadan jiwanya dililit kekalutan (kejelekan) dan malas untuk beramal shalih.

Suatu hari pernah diceritakan kepada Rasulullah r tentang orang yang tidur semalam suntuk tanpa mengingat untuk shalat, maka beliau r menyatakan: Orang tersebut telah dikencingi setan di kedua telinganya.” (Muttafaqun ‘alaih).

Rasulullah r juga menceritakan : “Setan mengikat pada tengkuk setiap orang diantara kalian dengan tiga ikatan (simpul) ketika kalian akan tidur. Setiap simpulnya ditiupkanlah bisikannya (kepada orang yang tidur itu): “Bagimu malam yang panjang, tidurlah dengan nyenyak.” Maka apabila (ternyata) ia bangun dan menyebut nama Allah Ta’ala (berdoa), maka terurailah (terlepas) satu simpul. Kemudian apabila ia berwudhu, terurailah satu simpul lagi. Dan kemudian apabila ia shalat, terurailah simpul yang terakhir. Maka ia berpagi hari dalam keadaan segar dan bersih jiwanya. Jika tidak (yakni tidak bangun shalat dan ibadah di malam hari), maka ia berpagi hari dalam keadaan kotor jiwanya dan malas (beramal shalih)” (Muttafaqun ‘alaih).

Ketahuilah...
Di malam hari itu ada satu waktu dimana Allah I akan mengabulkan doa orang yang berdoa, Allah I akan memberi sesuatu bagi orang yang meminta kepada-Nya, dan Allah akan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya bila ia memohon ampunan kepada-Nya.

Hal itu sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah r dalam sabda beliau, artinya : “Di waktu malam terdapat satu saat dimana Allah akan mengabulkan doa setiap malam.(HR Muslim No. 757).

Dalam riwayat lain disebutkan oleh beliau r, artinya : “Rabb kalian turun setiap malam ke langit dunia tatkala lewat tengah malam, lalu Ia berfirman: “Adakah orang yang berdoa agar Aku mengabulkan doanya?” (HR. Bukhari 3/25-26).

Dalam riwayat lain juga disebutkan, bahwa Allah I juga berfirman, artinya : “Barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku mengampuninya, siapa yang memohon (sesuatu) kepada-Ku, niscaya Aku pun akan memberinya, dan siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkannya.” Hal ini terus terjadi sampai terbitnya fajar (Tafsir Ibnu Katsir 3/54).

Kesungguhan Salafus Shalih untuk menegakkan Qiyamul lail

Disebutkan dalam sebuah riwayat, bahwa tatkala orang-orang sudah terlelap dalam tidurnya, Ibnu Mas’ud t justru mulai bangun untuk shalat tahajjud, sehingga terdengar seperti suara dengungan lebah (yakni Al-Qur’an yang beliau baca dalam shalat lailnya seperti dengungan lebah, karena beliau membaca dengan suara pelan tetapi bisa terdengar oleh orang yang ada disekitarnya), sampai menjelang fajar menyingsing.


Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah ditanya : “Mengapa orang-orang yang suka bertahajjud itu wajahnya paling bercahaya dibanding yang lainnya?”

Beliau menjawab : “Karena mereka suka berduaan bersama Allah Yang Maha Rahman, maka Allah menyelimuti mereka dengan cahaya-Nya.”

Abu Sulaiman rahimahullah berkata: “Malam hari bagi orang yang setia beribadah di dalamnya, itu lebih nikmat daripada permainan mereka yang suka hidup bersantai-santai. Seandainya tanpa adanya malam, sungguh aku tidak suka tinggal di dunia ini.”

Al-Imam Ibnu Al-Munkadir rahimahullah menyatakan : “Bagiku, kelezatan dunia ini hanya ada pada tiga perkara, yakni qiyamul lail, bersilaturrahmi dan shalat berjamaah.”

Al-Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah juga pernah menegaskan : “Sesungguhnya orang yang telah melakukan dosa, akan terhalang dari qiyamul lail.” Ada seseorang yang bertanya: “Aku tidak dapat bangun untuk untuk qiyamul lail, maka beritahukanlah kepadaku apa yang harus kulakukan?” Beliau menjawab : “Jangan engkau bermaksiat (berbuat dosa) kepada-Nya di waktu siang, niscaya Dia akan membangunkanmu di waktu malam.”(Tazkiyyatun Nufus, karya Dr Ahmad Farid).

Pembaca yang budiman, inilah beberapa keutamaan dan keindahan qiyamul lail. Sungguh, akan merasakan keindahannya bagi orang yang memang hatinya telah diberi taufik oleh Allah Ta’ala, dan tidak akan merasakan keindahannya bagi siapa pun yang dijauhkan dari taufik-Nya.

Semoga, kita semua termasuk di antara hamba-hamba-Nya yang diberi keutamaan menunaikan qiyamul lail secara istiqamah. Menjadi perindu-perindu malamNya.

Wallahu waliyyut taufiq.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...