Januari 31, 2013

Banjir dan Kemaksiatan

Banjir, salah satu bentuk bencana alam yang baru saja melanda sebagian wilayah kota Makassar, bahkan ibukota negara saat ini di Jakarta.

Kebanyakan manusia di zaman ini hanya menjadikan perkara-perkara lahir yang kasat mata sebagai barometer dalam menilai berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar kita. Kebanyakan manusia menilai bahwa banjir hanya terjadi karena tersumbatnya sungai sebagai aliran air, bobolnya tanggul, curah hujan yang tinggi, dan lainnya.

Salahkah? Hal ini jelas tidak salah. Namun sayangnya, pernahkah kita tergerak untuk memahami hakekat yang tersembunyi dari setiap kejadian, di balik yang tampak secara kasat mata? Lupakah kita terhadap kerusakan-kerusakan yang tidak kasat mata namun lebih parah dan fatal akibat buruknya?

Allah I berfirman (artinya) : “Mereka hanya mengetahui yag lahir (nampak) dari kehidupan dunia, sedangkan terhadap (kehidupan) akhirat mereka lalai(QS. Ar-Ruum : 70).
Dalam sebuah firmanNya, Allah I  juga telah mengingatkan kita (artinya) : “Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan akibat perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar-Ruum : 41).


Dalam ayat yang mulia di atas, Allah I menyatakan bahwa penyebab utama semua kerusakan yang di muka bumi dengan berbagai bentuknya adalah karena perbuatan buruk dan maksiat yang dilakukan oleh manusia.

Imam Abul 'Aliah ar-Riyahi rahimahullah bekata : “Barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah di muka berarti dia telah berbuat kerusakan di muka bumi, karena bumi dan langit itu baik karenasebab ketataan (kepada Allah I ) (Dinukil oleh Imam Ibnu Kastir dalam tafsir beliau (3/576)).
Dalam ayat lain, Allah I berfirman (artinya) : “Dan musibah apa saja yang menimpa kamu maka itu disebabkan leh perbuatan (dosa)mu sendiri(QS. Asy-Syuura : 30).

Syaikh Abdurrahman As-Sa'di rahimahullah menafsirkan ayat ini dan berkata : “Allah I memberitakan bahwa semua musibah yang menimpa manusia, baik pada diri, harta maupun anak-anak mereka, serta pada apa yang mereka sukai, tidak lain sebabnya adalah perbuatan – perbuatan buruk (maksiat) yang pernah mereka lakukan” (Lihat Tafsir Karimir Rahman hal. 759).

Tak terkecuali dalam hal ini, musibah dan kerusakan yang terjadi dalam rumah tangga, hubungan tidak harmonis antara suami isteri, pertengkaran, kedurkahan anak dan lainnya. Makanya sebagian salaf (ulama terdahulu) pernah berkata : “Sungguh ketika aku bermaksiat kepada Allah I , maka aku melihat (pengaruh buruk) perbuatan maksiat tersebut pada tingkah laku isteriku” (Dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam al-Da'u wad Dawa' hal.68).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata : “Tujuan Allah I menciptakan manusia dan menempatkan mereka di bumi serta melimpahkan rezeki kepada mereka agar bisa menopang mereka dalam melaksanakan ketaatan dan beribadah kepada Allah I. Jika mereka melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ketaatan kepada Allah I (maksiat) berarti mereka telah berusaha merusak dan menghancurkan tujuan utama penciptaan bumi” (Lihat Tafsir Karimir Rahman hal.42).

Makanya, kematian seorang pelaku maksiat merupakan sebab utama penurunan angka kerusakan di bumi. Rasulullah r bersabda (artinya) : “(Kematian) seorang hamba yang fajir (banyak berbuat maksiat) akan menjadikan manusia, negeri pepohonan dan binatan terlepas (terhindar dari kerusakan akibat perbuatan maksiatnya)” (HR. Bukhari dan Muslim).

Syirik dan Bid'ah Adalah Sebab Kerusakan Terbesar 

Apakah bentuk maksiat dan kezhaliman terbesar? Jawabannya adalah syirik. Karena ia adalah dosa yang paling besar di sisi Allah I , maka kerusakan yang ditimbulkannya pun sangat besar, bahkan menjadi sebab utama kerusakan di muka bumi.

Imam Qatadah dan As-Suddi rahimahumallahu berkata : “Kerusakan (yang sesungguhnya) adalah perbuatan syirik. Inilah kerusakan yang paling besar” (Dinukil oleh Imam Qurtubi dalam tafsir beliau 14/40).

Demikian pula perbuatan bid'ah. Semua seruan dakwah yang bertentangan dengan petunjuk Rasulullah r pada hakekatnya merupakan sebab terjadinya kerusakan di bumi.

Imam Abu Bakar Ibnu 'Ayyasy al-Kufi rahimahullah ketika ditanya tentang makan firman Allah I (artinya) : “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi, sesudah Allah memperbaikinya...”(QS. Al-A'raf : 56), beliau mengatakan : “Sesungguhnya Allah mengutus Nabi Muhammad r kepada umat manusia, (ketika) mereka dalam keadaan rusak. Lalu Allah I  memperbaiki (keadaan) mereka dengan (petunjuk yang dibawa) Nabi Muhammad r. Sehingga orang yang mengajak (manusia) kepada selain petunjuk yang dibawa Nabi r berarti dia temasuk orang-orang yang melakukan kerusakan di bumi” (Lihat Tafsir Ibni Abi Hatim ar-Razi 6/74).

Taqwa, Sebab Kesejahteraan dan Keselamatan

Solusi utama untuk menghindari dan memperbaiki kerusakan atau bencana di muka bumi adalah bertaubat dengan benar (nasuha) dan kembali kepada ketaatan kepada Allah I Sang Penguasa.

Rasulullah r bersabda (artinya) : “Orang yang telah bertaubat (dengan sungguh-sungguh) dari perbuatan dosa seperti orang yang tidak punya dosa (sama sekali)(HR. Ibnu Majah No.4250, dihasankan oleh Syaikh al-Albani).

Inilah makna yang diisyaratkan dalam firman Allah I di atas : “..supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)(QS. Ar-Ruum : 41).

Maka, ketika manusia kembali kepada petunjuk Allah I dan RasulNya r, keberkahan di langit dan di bumi akan hadir bagi kelangsungan hidup manusia.

Ingatkah kita tentang berita Nabi di akhir zaman nanti, ketika Nabi Isa alaihissalam turun, belau akan berhukum dengan syariat yang suci ini pada masa tersebut. Beliau akan membunuh babi, mematahkan salib dan menghapus jizyah (upeti) sehingga tidak ada pilihan lain kecuali masuk Islam. Dan di zaman itu, tatkalah Allah I telah membinasakan Dajjal dan para pengikutnya serta Ya'juj dan Ma'juj, maka dikatakanlah kepada bumi, “Keluarkanlah berkahmu”. Maka satu buah delima bisa dimakan oleh sekelompok besar manusia dan mereka bisa berteduh di bawah naungan kulitnya. Dan susu seekor unta mampu mencukupi sekumpulan manusia. Semua itu tidak lain disebabkan berkah penerapa syariat Muhammad r. Maka setiap kali keadilan ditegakkan, akan semakin banyaklah berkah dan kebaikan.

Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan : “Rasullullah r pernah melewati kampung kaum Tsamud, beliau melarang mereka (para sahabat) melewati kampung tersebut kecuali dengan menangis. Beliau juga melarang meminum airnya, menimba sumur-sumurnya, hingga beliau memerintahkan agar menggunakan air yang mereka bawa untuk mengadon gandum, karena maksiat kaum Tsamud ini telah memengaruhi air di sana. Sebagaimana halnya pengaruh dosa yang mengakibatkan berkurangnya hasil panen buah-buahan”.

Imam Ahmad rahimahullah telah menyebutkan dalam Musnadnya, bahwa telah ditemukan dalam gudang milik Bani Umayyah sebutir gandum yang besarnya seperti sebutir kurma. Gandum itu ditemukan dalam sebuah kantung yang bertuliskan “Biji gandum ini tumbuh pada masa keadilan ditegakkan”. Subhanallah...

Nah, barangkali ada yang masih ragu dan bertanya, apakah hubungan dan sangkut paut antara maksiat dan fenomena kerusakan atau perubahan alam?

Jawabnya, ya bisa saja. Selain dengan penjelasan ayat-ayat Allah I  sebagaimana telah disebutkan di atas, tahukah kita apa warna dari Hajar Aswad saat ini? Rasulullah r bersabda (artinya) : “Hajar Aswad turun dari syurga lebih putih daripada salju, lalu menjadi hitam karena dosa-dosa anak Adam” (HR. Tirmidzi I/166, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani).

Mari Menjaga Lingkungan

Setelah bertaubat dan kembali ke jalan Allah I maka wajib bagi kita untuk selanjutnya menjaga dan melestarikan lingkungan.

Islam adalah agama yang sangat memperhatikan lingkungan. Buktinya, perintah Nabi r untuk menyingkirkan gangguan di jalan yang beliau r jadikan sebagai salah satu cabang keimanan, perintah beliau r untuk menanam pohon walaupun esok akan datang hari kiamat, bahkan beliau r memotivasi umatnya agar gemar menanam pohon sebagaimana dalam sabdanya (artinya) : “Muslim mana saja yang menanam sebuah pohon lalu ada orang atau hewan yang memakan dari pohon tersebut, niscaya akan dituliskan baginya sebagai pahala sedekah” (HR. Bukhari).

Demikian yang dapat kami tuliskan. Semoga Allah I senantiasa menjaga negeri kita dari bencana dan musibah, tentu setelah kita menjaga hak-hak Allah I, dengan tidak syirik kepadaNya, taat terhadap segala perintah dan menjauhi laranganNya, serta senantisa berada di atas petunjuk rasulNya.

“Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu”, demikian pesan Sang Nabi r kepada kita semua.

Wallahul Muwaffiq.

Maraji' : Majalah As-Sunnah Edisi No.1/Tahun XIV Rabi' Ats-Tsani 1431 H/2010 M

1 komentar:

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...