Tidak ragu
lagi bahwa perumpamaan itu sangat indah dan mudah dicerna oleh akal karena akan
memudahkan kita untuk memahami suatu ungkapan.
Pada
kesempatan kali ini, kami mengajak para pembaca sekalian untuk merenungi dan
mempelajari bersama sebuah perumpamaan dalam al-Qur’an dan hadits tentang iman.
Dalam sebuah
hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar t,
beliau berkata, “Suatu hari, Rasulullah r bersabda
kepada para sahabatnya (artinya) : “Kabarkanlah kepadaku tentang sebuah
pohon yang perumpamaannya seperti seorang mukmin?’ Maka para sahabat pun
menyebutkan jenis-jenis pohon di badui.’ ” Ibnu Umar t
berkata, “Terlintas dalam benakku untuk menjawab ‘pohon kurma’, tetapi saya
segan menjawabnya karena banyak para sahabat yang lebih tua dariku. Tatkala
para sahabat diam, Rasulullah r bersabda
(artinya) : ‘Pohon itu adalah pohon kurma.’ ” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits ini
merupakan penjelasan dan tafsir terhadap firman Allah I
(artinya) : ”Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat
perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan
cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim
dengan seizin Tuhannya. Allah membuatperumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia
supaya mereka selalu ingat” (QS. Ibrahim : 24–25).
Penafsiran ini
ditegaskan oleh para ulama dari kalangan sahabat dan selain mereka. Imam
Tirmidzi meriwayatkan dari Syu’aib bin Habhab berkata, “Suatu saat kami berada
bersama Anas bin Malik, lalu disuguhkan kepada kami sebuah keranjang berisi
kurma, kemudian Anas mengatakan kepadaku, “Makanlah wahai Abu Aliyah karena
buah ini termasuk pohon yang disebutkan oleh Allah dalam Qur’an-Nya, lalu beliau
membacakan ayat QS. Ibrahim : 24–25”.
Pohon Kurma,
Sebuah Perumpamaan
Pohon kurma
mendapatkan keistimewaan ini sebagai perumpamaan seorang mukmin karena pohon
kurma adalah pohon yang sangat istimewa dan banyak manfaatnya.
Imam Abu Hatim
as-Sijistani berkata, “Pohon kurma adalah tuannya para
pohon, diciptakan dari tanah Nabi Adam. Allah telah menjadikannya sebagai
perumpamaan untuk kalimat laa ilaaha
illallah. Maka
sebagaimana laa ilaaha
illallah
adalah tuannya ucapan, demikian juga pohon kurma dia adalah tuannya pohon.”
Dan yang perlu
kita cermati bersama adalah tatkala Nabi r memberikan
perumpamaan seorang mukmin dengan pohon kurma, tentunya di sana ada sisi-sisi
kesamaan antara keduanya yang sangat penting untuk kita renungi karena hal itu
akan memberikan banyak manfaat bagi kita.
Pertama :
Pohon kurma pasti memiliki akar, batang, tangkai, daun, dan buahnya.
Al-Baghawi rahimahullah
berkata, “Hikmah perumpamaan iman dengan pohon kurma adalah karena pohon
itu harus memiliki tiga hal: akar, batang, dan tangkai. Demikian pula iman
tidak sempurna kecuali dengan tiga hal: membenarkan dalam hati, ucapan dengan
lisan, dan amalan anggota badan.”
Kedua :
Pohon kurma tidak bisa hidup dan tumbuh kecuali apabila disiram dengan air,
demikian juga seorang mukmin tidak hidup hatinya kecuali apabila disiram dengan
siraman rohani berupa wahyu. Oleh karena itu, ketika Allah I memperingatkan dari kerasnya hati,
setelah itu Allah I
berfirman (artinya) : “Ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya Allah
menghidupkan bumi sesudah matinya. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu
tanda-tanda kebesaran (Kami) supaya kamu memikirkannya” (QS. al-Hadid :
17).
Dalam ayat ini
terdapat isyarat bahwa sebagaimana Allah I
menghidupkan bumi dengan air dari kegersangan, demikian pula Allah I menghidupkan gersangnya hati dengan
wahyu. Namun, semua itu hanya dicermati oleh orang-orang yang memahami
ayat-ayat Allah I .
Rasulullah r bersabda
(artinya) : ”Sesungguhnya iman dalam hati seorang di antara kalian itu bisa
luntur/usang sebagaimana lunturnya pakaian, maka berdoalah kepada Allah untuk
memperbaharui iman dalam hati kalian”.
Ketiga :
Pohon kurma itu sangat kokoh dan kuat, demikian pula iman apabila mengakar
dalam hati seorang maka akan kokoh seperti gunung yang tak tergoyahkan sedikit pun.
Imam Auza’i rahimahullah
pernah ditanya tentang iman, apakah bisa bertambah? Beliau menjawab, “Ya,
bertambah sehingga seperti gunung.” Lalu ditanya, apakah bisa berkurang? Beliau
menjawab, “Ya, sehingga tidak tersisa sedikit pun.”
Keempat :
Pohon kurma tidak tumbuh di sembarangan tanah, tetapi hanya tanah yang subur
saja. Oleh karena itu, kurma tidak bisa tumbuh sama sekali di sebagian daerah,
kadang bisa tumbuh tetapi tak bisa berbuah, terkadang berbuah tetapi buahnya
kecil. Jadi tidak semua tanah cocok untuk pohon kurma.
Demikian
halnya dengan iman, ia tidak bisa tumbuh pada setiap hati manusia, tetapi hanya
pada hati seorang yang diberi hidayah oleh Allah I
dan dilapangkan dadanya dengan keimanan.
Kelima :
Pohon kurma terkadang dikelilingi oleh tumbuhan lainnya yang ada di sekitarnya
sehingga dapat mengganggu pertumbuhannya. Oleh karenanya, sang pemilik pohon
kurma harus selalu merawatnya dan membersihkan tumbuhan-tumbuhan lain yang
mengganggu pertumbuhannya.
Demikian juga
halnya dengan seorang mukmin dalam kehidupan ini, banyak sekali gangguan yang
melemahkan imannya. Oleh karenanya, seorang mukmin hendaknya selalu
berintrospeksi dan mengontrol imannya setiap saat dan berusaha semaksimal
mungkin untuk membersihkan segala virus dan kotoran yang dapat menodai hatinya.
Allah I berfirman
(artinya): “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami,
benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan
sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik” (QS.
al-’Ankabut : 69).
Keenam :
Pohon kurma adalah pohon yang penuh barokah sehingga setiap bagiannya
bermanfaat dan tidak ada satupun bagian yang tidak bisa dimanfaatkan, buahnya
jelas bermanfaat, batang kayunya untuk bangunan dan atap rumah, daunnya untuk penutup
dan atap rumah, bahkan biji kurma sekalipun bisa dimanfaatkan.
Demikian juga
halnya seorang mukmin, dia selalu berbarokah dalam setiap keadaan, dan selalu
bermanfaat bagi dirinya dan bagi orang lain sekalipun setelah meninggal dunia.
Ketujuh :
Pohon kurma itu berbeda-beda dan bertingkat-tingkat bentuknya, jenisnya,
buahnya, rasanya, sebagian lebih istimewa daripada yang lain.
Demikian pula
seorang mukmin, tingkatan iman mereka tidak sama, tetapi berbeda-beda antara
satu dengan lainnya. Allah I berfirman
(artinya) : “Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami
pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya
diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara
mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang
demikian itu adalah karunia yang amat besar” (QS. Fathir: 32).
Kedelapan :
Pohon kurma adalah pohon yang sangat sabar menghadapi angin yang kencang
menerpanya, berbeda dengan pohon-pohon lainnya yang goyang jika terkena angin
kencang bahkan mungkin ambruk. Demikian juga seorang mukmin, dia sabar
menghadapi angin musibah dan cobaan yang menimpanya, sabar dalam ketaatan
kepada Allah I , sabar dalam
meninggalkan kemaksiatan, dan sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan yang
tidak berkenan baginya.
Allah I berfirman (artinya) : “Dan sungguh
akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan,
kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada
orang-orang yang sabar (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka
mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang mendapat
keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah
orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. al-Baqarah: 155–157).
Kesembilan :
Pohon kurma itu semakin tua umurnya semakin enak rasa buahnya. Demikian juga
seorang mukmin, semakin tua umurnya maka akan semakin baik amal perbuatannya.
Sebuah hadits
dari Abdullah bin Busyr t, belia
berkata, “Ada seorang Arab badui mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, siapakah
manusia yang paling baik?’ Beliau r menjawab
(artinya) : “Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya.’ ”
Kesepuluh : Buah kurma termasuk buah-buahan yang sangat bermanfaat, ketika masih
basah yang disebut dengan ruthab bisa dijadikan buah dan manisan, dan ketika
kering yang disebut dengan tamr bisa sebagai makanan, dan manfaat lainnya yang
bermacam-macam.
Demikian halnya
dengan seorang mukmin, manfaat dan kebaikannya bermacam-macam. Dan sebagaimana
buah kurma itu manis rasanya, demikian halnya dengan keimanan, ada rasa manis
dan lezat yang dirasakan oleh orang yang kuat imannya. Rasulullah r bersabda
(artinya) : “Ada tiga hal yang apabila ada pada diri seorang maka dia akan
merasakan lezat/manisnya iman; apabila Allah dan rasul-Nya lebih dia cintai
daripada selain keduanya. Dan mencintai seorang dia tidak mencintainya kecuali
karena Allah. Dan orang yang takut untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana
dia tidak ingin dicampakkan ke dalam neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Demikianlah
beberapa sisi kesamaan antara pohon kurma dengan seorang mukmin. Semoga kita bisa belajar darinya.
Wallahu A’lam.
Maraji’ : Seorang
Mukmin Ibarat Pohon Kurma (Renungan Sebuah Perumpamaan). Prof. DR.
Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr hafizhahullah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar