“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah,
sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”
Begitulah ayat mulia dari firman Allah di dalam surah Luqmān: 13. Ayat mulia ini mengabadikan petuah indah dari orang tua kepada anaknya. Namun tunggu dulu, petuah itu bukan petuah dari Ibu, tetapi dari ayah, seorang lelaki. Petuah indah itu adalah nasihat seorang ayah yang sedang menjalani tanggung jawab kelelakiannya sebagai seorang muslim dalam mendidik anaknya. Petuah itu mengalun dari hati seorang lelaki sejati bernama Luqmān al-Ḥakīm, yang sadar akan titah syariah bahwa kelelakiannya sebagai ayah bukan hanya untuk membuahi dan mencari nafkah, melainkan juga sebagai pendidik anak, pendidikan generasi.
Dalam sejumlah referensi Islam, ditemukan bahwa tokoh parenthood yang dominan adalah laki-laki. Dalam Al-Qur’an, Allah telah mengabarkan kisah-kisah tentang mendidik anak. Ada kisah Luqmān al-Ḥakīm yang mendidik anak dan keluarganya, ada kisah Ibrāhīm dengan putra kesayangannya, ada pula kisah ‘Imrān, Zakaria dan Ya’qūb yang berperan mendidik anak-anaknya. Semua kisah ini dilakukan oleh seorang ayah, seorang lelaki.
Lalu, ke mana ‘ayah-ayah’ itu kini? Ke mana ayah-ayah Luqmān, Ibrāhīm, Imrān, Zakaria dan Ya’qūb itu kini? Ke mana kaum lelaki dan sang ayah ketika narkoba mengepung anak-anaknya, ketika putranya tertangkap dalam huru-hara tawuran, atau ketika putrinya positif hamil di luar nikah? Yang tampak hanyalah para ibu yang tergopoh, tunggang-langgang mengemasi beribu masalah dengan kedua tangan halusnya, sementara sang suami duduk manis di beranda rumah, menikmati layanan sepulang kerja. Yang kelihatan, para ibu yang terpaksa memikul rasa pilu, tergopoh menjalani takdir sebagai seorang ‘istri modern’ masa kini, ketika sosok ‘ayah-ayah’ itu ‘hilang’ entah ke mana. Yang tersisa, tinggallah para suami yang telah mendegradasi perannya sebatas sebagai pencari nafkah keluarga belaka, sedangkan peran lainnya telah didelegasikan kepada sang istri. Kiprah di dunia publik kerap terasa lebih seksi dan bergengsi, hingga mereduksi peran besarnya yang asasi.