Desember 18, 2024

Merenungi Rezeki Kita

Kali ini tentang rezeki. Rezeki bagaikan hujan yang tidak turun secara merata di muka bumi. Hujan, terkadang turun di daerah pegunungan, tapi tidak turun di padang sahara. Hujan, terkadang turun di daerah pedesaan, tapi tidak turun di tengah kota.

Demikianlah halnya rezeki, harta atau dunia secara umum. Allah Ta’ala tidak membagikannya secara merata kepada setiap orang. Ada yang kaya dan berkecukupan, ada pula yang miskin dan berkekurangan. Namun yang pasti, setiap makhluk yang berjalan di muka bumi telah diberi rezekinya. Allah Ta’ala berfirman (artinya), “Dan tidak ada satupun makhluk yang berjalan di muka bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya”. (QS. Huud: 6).

Hanya saja, ketika Allah Ta’ala melapangkan rezeki bagi sebagian hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya bagi sebagian yang lainnya, maka hal tersebut adalah untuk suatu hikmah dimana Allah Ta’ala sendiri yang mengetahuinya. Hal itu merupakan kebijaksanaan dari-Nya dan sesuai dengan ilmu-Nya tentang apa yang bermanfaat dan yang layak bagi hamba-hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman (artinya), “Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS. Al-Ankabuut : 62).

Rezeki, Sudah Diatur

Setiap orang, akan mendapati rezekinya secara penuh sesuai yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala dengan hikmah dan kekuasaan-Nya. Sehingga ketika Allah Ta’ala mencabut nyawanya, ia dalam keadaan telah memperoleh rezekinya secara penuh, tidak terkurangi sedikitpun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, “Wahai manusia bertakwalah kepada Allah dan pilihlah cara yang baik dalam mencari rezeki, karena tidaklah suatu jiwa akan mati hingga terpenuhi rezekinya, walau lambat rezeki tersebut sampai kepadanya, maka bertakwalah kepada Allah dan pilihlah cara yang baik dalam mencari rezeki, ambillah rezeki yang halal dan tinggalkanlah rezeki yang haram” (HR. Ibnu Majah. Syaikh Al-Albani menshahihkannya).

Selain sudah diatur, rezeki juga sudah dibagi dengan adil. Allah Ta’ala berfirman (artinya), “Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuraa: 27).

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Allah memberi rezeki kepada mereka sesuai dengan pilihan-Nya dan Allah selalu melihat manakah yang maslahat untuk mereka. Allah tentu yang lebih mengetahui manakah yang terbaik untuk mereka. Allah-lah yang memberikan kekayaan bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya. Dan Allah-lah yang memberikan kefakiran bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 553).

Jadi, semestinya setiap kita tidak lagi merasa hasad, iri dan dengki kepada yang lainnya, ketika rezeki kita nampak berbeda. Apa yang kita miliki, itulah yang terbaik untuk kita dan rezeki kita tak pernah tertukar. Jika kita mendapatkan harta ‘biasa’ dan yang lainnya mendapatkan harta ‘luar biasa’, tetap saja rezeki kita tak akan tertukar. Jika kita memiliki rumah sederhana dan yang lainnya memiliki rumah mewah bak istana, juga tetap saja rezeki kita tak akan tertukar. Termasuk pula jodoh. Jika jodoh adalah bagian dari rezeki, maka berlaku pula kaidah yang sama. Sosok itu telah tertulis namanya. Tiada tertukar, dan tiada salah tanggal.

Semestinya setiap kita tidak lagi merasa rendah diri ketika rezeki masih terasa terbatas.  Kemiskinan dan kekayaan bukanlah ukuran kemuliaan di sisi Rabb yang teramat mengangungkan. Mengapa? Hal ini karena kemuliaan hanya ditentukaan dari ketakwaan. Bahkan, kekayaan rezeki dalam materi bisa saja membawa akibat di akhirat yang tidak terkirakan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda menghibur mereka-mereka yang miskin dengan sabdanya, “Orang-orang miskin yang beriman akan masuk surga mendahului orang-orang kaya selama setengah hari (di akhirat), (yang setara) dengan lima ratus tahun (di dunia). (HR. an-Nasai dan Ibnu Mâjah dengan sanad yang hasan). Hal ini terjadi karena sang kaya harus menjalani hisab yang panjang, sepanjang rentetan kekayaannya. Wal-‘iyaadzu-billaah.

Memberi, Rezeki Tak Akan Berkurang

Jangan sampai ada di antara kita lagi yang masih merasa bahwa memberi dan membantu akan mengurangi rezeki. Tidak, sama sekali tidak. Kita tak perlu takut kalah kaya dengan membuat orang lain kaya. Kita tak perlu takut kalah terhormat dengan membuat orang lain terhormat. Kita tak perlu takut kalah pintar dengan membuat orang lain pintar. Kita tak perlu takut kalah populer dengan membuat orang lain populer. Bahkan rezeki akan semakin berlimpah saat kita terus menerus memberi, membantu dan memberdayakan orang lain.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, “Allah Ta’ala berfirman padaku, ‘Berinfaklah kamu, niscaya Aku akan berinfak (memberikan ganti) kepadamu”. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  juga bersabda, “Pemberian Allah selalu cukup, dan tidak pernah berkurang walaupun mengalir siang dan malam. Adakah terpikir olehmu, sudah berapa banyakkah yang diberikan Allah sejak terciptanya langit dan bumi? Sesungguhnya apa yang ada di Tangan Allah, tidak pernah berkurang karenanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rezeki, Itu Soal Rasa

Rezeki adalah ketetapan. Cara menjemputnya adalah ujian yang menentukan rasa kehidupan. Karena rezeki itu (hanyalah) sola rasa. Betapa banyak kasur yang empuk dapat dibeli, tapi tidur yang nyenyak tak kunjung dicapai. Ini karena nyenyak adalah rezeki. Nyenyak dapat saja terkarunia di alas koran yang lusuh dan bukan di ranjang kencana yang teduh. Betapa banyak hidangan yang mahal dapat dipesan, tapi kelezatan tak kunjung dapat dirasakan. Ini karena lezatnya makan adalah rezeki. Ia dapat saja terkarunia di wadah daun pisang bersahaja dan bukan di piring emas dan gelas berhias permata.

Jadi, ketika rezeki itu sedikit, jangan pernah merasa bahwa Allah Ta’ala sedang menyakiti. Jangan, saudaraku! Rezeki itu bukan hanya dalam bentuk materi. Tetapi rezeki itu lebih kepada rasa nikmat terhadap pemberian yang memang wajib untuk disyukuri.  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, “Bukanlah yang dinamakan kekayaan itu dengan banyaknya barang, akan tetapi kekayaan (yang sesungguhnya) adalah kekayaan hati.”. Inilah konsep rezeki yang seyogyanya kita renungi. Wallahu a’lam.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...