Dunia ini fana. Manusia hidup di dunia sekejap saja. Toh,
kehidupan dunia yang hanya sementara ini nyatanya telah menjebak banyak manusia,
tenggelam mencari kesenangan yang seolah tidak ada habisnya. Setelah terpenuhi
satu keinginan, akan muncul keinginan yang lain, begitu seterusnya. Hingga akhirnya,
kehidupan akhirat yang kekal abadi pun kemudian terlupakan. Segala cara akan
ditempuh demi menggapai keinginan akan kesenangan atas segala hal yang bersifat
duniawi, tidak peduli lagi baik-buruk, halal-haram, dosa dan neraka. Yang
penting dapat hidup senang bergelimang harta dan memiliki kedudukan dan tahta.
Apalagi saat ini, ketika harga terus
melonjak naik, sementara lapangan pekerjaan makin susah, “Jangankan mencari
yang halal, mencari yang haram saja susah, “ demikian kebanyakan orang sering
mengeluh.
Seandainya manusia mengetahui betapa kehidupan akhirat itulah
sebenar-benar kehidupan, kehidupan yang tidak ada lagi kematian, tentu mereka
akan mengambil apa-apa yang ada dalam kehidupan dunia ini sedikit saja dan
seperlunya. Sayangnya, kesadaran akan hal ini tidak dimiliki semua orang.
Hingga mereka menjadi sedemikian rakus. Ibaratnya, seluruh isi dunia ini pun
masih kurang untuk memuaskan keserakahannya.
Kita tentu berlindung kepada Allah I dari
sifat rakus dan selalu merasa kurang ini,
sehingga tidak terjerumus melakukan tindakan-tindakan yang dilarang
karena memperturutkan hasrat duniawi.
Padahal, jika kita ingin merenung, sesungguhnya antara harta dan
ketenangan hati, adalah dua hal yang berbeda, yang tak ada hubungannya. Banyak
orang berlimpah harta tapi tak mampu merasakan kebahagiaan dan ketenangan. Ia
mampu menyewa hotel dan membeli tempat tidur yang mewah, namun tak bisa membeli
rasa nyenyak. Sementara di saat yang sama, banyak orang bisa bahagia dan tenang
meskipun dengan harta yang terbatas. Di jalan, banyak kita saksikan tukang
becak bisa mendengkur menikmati tidurnya, meski badannya tak cukup untuk duduk
di kendaraan sederhana itu.
Itulah keadaan kita dan itu nyata. Sedikit yang mau bersyukur.
Telah banyak diberi nikmat malah dikata masih sedikit dan kurang. Padahal
sebaik-baik hamba adalah yang mau bersyukur baik ketika diberi sedikit atau pun banyak. Namun yang sedikit
saja jarang kita mau syukuri, apalagi yang banyak.
Allah Ta’ala berfirman, artinya
: “Sangat sedikit sekali di antara
hamba-Ku yang mau bersyukur.” (QS. Saba’: 13). Syaikh Abu Bakr Al Jazairi
berkata, “Ini adalah pengkabaran yang sesuai kenyataan. Sungguh Maha Benar
Allah. Sungguh yang benar-benar mensyukuri nikmat Allah amatlah sedikit di
setiap waktu dan tempat. Kebanyakan berada dalam hati yang lalai, di sisi lain
karena begitu jahil terhadap Rabbnya.”
Ujian
Adalah Sunnatullah
Merupakan sunnatullah bahwasanya Allah Ta’ala telah menentukan
ujian dan cobaan bagi para hambaNya. Mereka akan diuji dengan berbagai macam
ujian, baik dengan sesuatu yang disenangi oleh jiwa berupa kemudahan dalam
hidup atau kelapangan rizki, dan juga akan diuji dengan perkara yang tidak
mereka sukai, berupa kemiskinan, kesulitan, musibah atau yang lainnya.
Allah Ta’ala berfirman, artinya : “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan
(yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.” (QS.
Al-Anbiya: 35)
Abdullah ibnu ‘Abbas t mengatakan, “Maksudnya, Kami akan
menguji kalian dengan kesulitan dan kesenangan, kesehatan dan penyakit,
kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan dan maksiat, serta petunjuk
dan kesesatan. (Lihat Tafsir ath-Thabari, IX/26, no. 24588).
Inilah sunnatullah yang berlaku pada para hambaNya. Oleh karena
itulah, kita melihat manusia ini berbeda kondisi kehidupannya. Ada yang hidup
dengan harta yang melimpah, fasilitas dan kedudukan. Ada juga yang ditakdirkan
hidup sederhana lagi pas-pasan. Bahkan ada juga yang hidup fakir miskin dan
tidak punya apa-apa.
Segala nikmat yang Allah I berikan
kepada kita adalah ujian bagi kita, apakah kita akan menjadi hamba-Nya yang
bersyukur ataukah menjadi orang yang kufur. Sungguh benar apa yang diucapkan
oleh Nabi Sulaiman ‘alaihis salam
tatkala mendapatkan nikmat, beliau mengatakan : “Ini termasuk karunia dari Rabb-ku untuk mengujiku, apakah aku
bersyukur ataukah mengingkari (nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka
sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Dan barangsiapa
yang ingkar, maka sesungguhnya Rabb-ku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (QS.
An-Naml: 40).
Hakikat
Syukur
Syukur adalah akhlaq yang mulia, yang muncul karena kecintaan dan
keridha’an yang besar terhadap Sang Pemberi Nikmat. Syukur tidak akan mungkin
bisa terwujud jika tidak diawali dengan keridha’an. Seseorang yang diberikan
nikmat oleh Allah I walaupun sedikit, tidak mungkin
akan bersyukur kalau tidak ada keridha’an. Orang yang mendapatkan penghasilan
yang sedikit, hasil panen yang minim atau pendapatan yang pas-pasan, tidak akan
bisa bersyukur jika tidak ada keridha’an. Demikian pula orang yang diberi
kelancaran rizki dan harta yang melimpah, akan terus merasa kurang dan tidak
akan bersyukur jika tidak diiringi keridha’an.
Syukur itu, sebenarnya
tidaklah cukup hanya dengan mengucapkan “alhamdulillah”. Namun hendaknya
seorang hamba bersyukur dengan hati, lisan dan anggota badannya. Sebagaimana
yang dikatakan oleh Ibnu Qudamah rahimahullah,
“Syukur (yang sebenarnya) adalah dengan hati, lisan dan anggota badan. (Lihat
Minhajul Qasidin, hal. 305).
Ibnu Qayyim rahimahullah melengkapi
hakikat syukur tersebut dengan menjelaskan bahwa syukur kepada Allah itu adalah
tampaknya bekas nikmat Allah I
pada lisan sang hamba dalam bentuk pujian dan pengakuan, di dalam
hatinya dalam bentuk kesaksian dan rasa cinta, dan pada anggota tubuhnya dalam
bentuk patuh dan taat. (Ibn Qayyim al-Jauziyah, Tahdzib Madarij al-Salikin oleh Abdul
Mun`im al`IzzĂ®, hal. 348)
Beliau rahimahullah
lebih lanjut juga menjelaskan bahwa syukur itu mempunyai 5 (lima) pilar pokok
yang apa bila salah satunya tidak terpenuhi maka syukur menjadi batal dan
dianggap belum bersyukur. Lima pilar pokok itu adalah : (i) kepatuhan orang
yang bersyukur kepada Pemberi nikmat (yaitu Allah I);
(ii) mencintaiNya; (iii) mengakui nikmat dari-Nya; (iv) memuji-Nya atas
nikmat-Nya; dan (v) tidak menggunakan nikmat yang diberikan-Nya untuk sesuatu
yang tidak Dia suka.
Makanya, Saudaraku :
1. Tidaklah
seorang hamba dianggap bersyukur kepada Allah I
ketika ia masih saja bermaksiat dan tidak patuh terhadap berbagai perintah dan
laranganNya;
2. Tidaklah
seorang hamba dianggap bersyukur kepada Allah I
ketika ia masih menjadikan cinta kepada makhluk di atas cinta kepadaNya;
3. Tidaklah
seorang hamba dianggap bersyukur kepada Allah I
ketika ia masih merasa bahwa nikmat-nikmat yang telah ia rasakan dan nikmati
adalah hasil usaha dan jerih payahnya sendiri. Sementara, keyakinan bahwa
nikmat tersebut semata-mata datangnya dari Allah I dan bukan dari selain-Nya adalah wajib dan mutlak.
Allah I berfirman,
artinya : “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah
(datangnya)…” (QS. An-Nahl: 53).
Meskipun bisa jadi, kita mendapatkan nikmat itu melalui teman, aktivitas jual
beli, bekerja atau yang lainnya, semuanya itu adalah hanyalah perantara untuk
mendapatkan nikmat. Orang yang
menisbatkan bahwa nikmat yang ia peroleh berasal dari Allah Ta’ala, ia adalah
hamba yang bersyukur. Selain mengakui dan meyakini bahwa nikmat-nikmat itu
berasal dari Allah Ta’ala hendaklah ia mencintai nikmat-nikmat yang ia peroleh;
4. Tidaklah
seorang hamba dianggap bersyukur kepada Allah I
ketika ia masih kikir untuk selalu menyanjung dan memuji namaNya dalam
lisannya. Lisannya hendaknya senantiasa mengucapkan kalimat thayyibbah sebagai bentuk pujian
terhadap Allah Ta’ala. Hamba yang bersyukur kepada Allah Ta’ala ialah hamba
yang bersyukur dengan lisannya. Allah I
sangat senang apabila dipuji oleh hamba-Nya. Allah I
cinta kepada hamba-hamba-Nya yang senantiasa memuji Allah Ta’ala. “Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah
kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)”. (QS. Adh-Dhuha:
11). Seorang hamba yang setelah makan mengucapkan
rasa syukurnya dengan berdoa, maka ia telah bersyukur. Sebagaimana sabda
Rasulullah r,
artinya : “Barang siapa yang makan makanan kemudian mengucapkan:
“Alhamdulillaahilladzii ath’amanii haadzaa wa rozaqoniihi min ghairi haulin
minnii wa laa quwwah” (Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini,
dan merizkikan kepadaku tanpa daya serta kekuatan dariku), maka diampuni
dosanya yang telah lalu.” (HR. Tirmidzi. Syaikh Al-Albani
mengatakan bahwa hadits ini hasan). Terdapat pula
dalam hadits riwayat Anas bin Malik t, Nabi r
bersabda, artinya : “Sesungguhnya Allah Ta’ala sangat suka kepada hamba-Nya yang
mengucapkan tahmid (alhamdulillah) sesudah makan dan minum” (HR.
Muslim). Bahkan, ketika tertimpa musibah atau melihat
sesuatu yang tidak menyenangkan, maka sebaiknya tetaplah kita memuji Allah I.
Dari Aisyah radhiallahu anha,
kebiasaan Rasulullah r
jika menyaksikan hal-hal yang beliau sukai adalah mengucapkan “Alhamdulillah alladzi bi ni’matihi tatimmus
shalihat”. Sedangkan jika beliau r
menyaksikan hal-hal yang tidak menyenangkan beliau mengucapkan “Alhamdulillah ‘ala kulli hal.” (HR
Ibnu Majah. Syaikh Al-Albani menilai hadits ini hasan).
5. Dan,
tidaklah seorang hamba dianggap bersyukur kepada Allah ketika ia dengan tenang
dan nyaman, menggunakan berbagai karunia dan nikmat Allah I
kepadanya untuk bermaksit dan melanggar aturan-aturanNya. Wallahul-musta’an. Sesungguhnya
orang yang bersyukur kepada Allah Ta’ala akan menggunakan nikmat Allah untuk
beramal shalih, tidak digunakan untuk bermaksiat kepada Allah. Ia gunakan
matanya untuk melihat hal yang baik, lisannya tidak untuk berkata kecuali yang
baik, dan anggota badannya ia gunakan untuk beribadah kepada Allah Ta’ala.
Bersyukur, Itu Perintah Allah I
Allah I
berfirman, artinya : “Ingatlah
kepada-Ku, Aku juga akan ingat kepada kalian. Dan bersyukurlah kepada-Ku,
janganlah kalian kufur.” (QS. Al-Baqarah: 152)
Pada ayat tersebut Allah I
memerintahkannya secara khusus. Allah
I berfirman yang artinya, “Maka
bersyukurlah kepada-Ku.” Setelah perintah bersyukur, Allah I juga
berfirman : “Dan janganlah kalian kufur”.
Yang dimaksud dengan kata ‘kufur’ di sini adalah yang menjadi lawan dari kata
syukur. Sehingga kufur di sini bermakna tindakan mengingkari nikmat dan
menentangnya, tidak menggunakannya dengan baik. Dan bisa jadi maknanya lebih
luas daripada itu, sehingga ia mencakup banyak bentuk pengingkaran.
Pengingkaran yang paling besar adalah kekafiran kepada Allah, kemudian diikuti
oleh berbagai macam perbuatan kemaksiatan yang beraneka ragam jenisnya dari
yang berupa kemusyrikan sampai yang ada di bawah-bawahnya.” (Lihat
Taisir Karimir Rahman, hal. 74)
Olehnya, marilah kita menjadi orang-orang yang senantiasa
bersyukur kepadaNya. Janganlah hidup ini kita penuhi dengan keluh kesah yang tidak
berkesudahan. Yakinlah, segala nikmat dan ujian adalah pilihan terbaik Allah I untuk
hambaNya. Syukuri apa yang ada. Masih
banyak orang-orang yang lebih susah dari kita. Semoga Allah I
memberikan kita kekuatan untuk selalu bersyukur kepadaNya. Wallahu
a’lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar