April 08, 2015

Syukuri Apa yang Ada

Dunia ini fana. Manusia hidup di dunia sekejap saja. Toh, kehidupan dunia yang hanya sementara ini nyatanya telah menjebak banyak manusia, tenggelam mencari kesenangan yang seolah tidak ada habisnya. Setelah terpenuhi satu keinginan, akan muncul keinginan yang lain, begitu seterusnya. Hingga akhirnya, kehidupan akhirat yang kekal abadi pun kemudian terlupakan. Segala cara akan ditempuh demi menggapai keinginan akan kesenangan atas segala hal yang bersifat duniawi, tidak peduli lagi baik-buruk, halal-haram, dosa dan neraka. Yang penting dapat hidup senang bergelimang harta dan memiliki kedudukan dan tahta. Apalagi saat ini, ketika  harga terus melonjak naik, sementara lapangan pekerjaan makin susah, “Jangankan mencari yang halal, mencari yang haram saja susah, “ demikian kebanyakan orang sering mengeluh.


Seandainya manusia mengetahui betapa kehidupan akhirat itulah sebenar-benar kehidupan, kehidupan yang tidak ada lagi kematian, tentu mereka akan mengambil apa-apa yang ada dalam kehidupan dunia ini sedikit saja dan seperlunya. Sayangnya, kesadaran akan hal ini tidak dimiliki semua orang. Hingga mereka menjadi sedemikian rakus. Ibaratnya, seluruh isi dunia ini pun masih kurang untuk memuaskan keserakahannya.
Kita tentu berlindung kepada Allah I dari sifat rakus dan selalu merasa kurang ini,  sehingga tidak terjerumus melakukan tindakan-tindakan yang dilarang karena memperturutkan hasrat duniawi.

Padahal, jika kita ingin merenung, sesungguhnya antara harta dan ketenangan hati, adalah dua hal yang berbeda, yang tak ada hubungannya. Banyak orang berlimpah harta tapi tak mampu merasakan kebahagiaan dan ketenangan. Ia mampu menyewa hotel dan membeli tempat tidur yang mewah, namun tak bisa membeli rasa nyenyak. Sementara di saat yang sama, banyak orang bisa bahagia dan tenang meskipun dengan harta yang terbatas. Di jalan, banyak kita saksikan tukang becak bisa mendengkur menikmati tidurnya, meski badannya tak cukup untuk duduk di kendaraan sederhana itu.

Itulah keadaan kita dan itu nyata. Sedikit yang mau bersyukur. Telah banyak diberi nikmat malah dikata masih sedikit dan kurang. Padahal sebaik-baik hamba adalah yang mau bersyukur baik ketika diberi  sedikit atau pun banyak. Namun yang sedikit saja jarang kita mau syukuri, apalagi yang banyak.  

Allah Ta’ala berfirman, artinya  : “Sangat sedikit sekali di antara hamba-Ku yang mau bersyukur.” (QS. Saba’: 13).  Syaikh Abu Bakr Al Jazairi berkata, “Ini adalah pengkabaran yang sesuai kenyataan. Sungguh Maha Benar Allah. Sungguh yang benar-benar mensyukuri nikmat Allah amatlah sedikit di setiap waktu dan tempat. Kebanyakan berada dalam hati yang lalai, di sisi lain karena begitu jahil terhadap Rabbnya.”

Ujian Adalah Sunnatullah

Merupakan sunnatullah bahwasanya Allah Ta’ala telah menentukan ujian dan cobaan bagi para hambaNya. Mereka akan diuji dengan berbagai macam ujian, baik dengan sesuatu yang disenangi oleh jiwa berupa kemudahan dalam hidup atau kelapangan rizki, dan juga akan diuji dengan perkara yang tidak mereka sukai, berupa kemiskinan, kesulitan, musibah atau yang lainnya.

Allah Ta’ala berfirman, artinya : “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya: 35)

Abdullah ibnu ‘Abbas t mengatakan, “Maksudnya, Kami akan menguji kalian dengan kesulitan dan kesenangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan dan maksiat, serta petunjuk dan kesesatan. (Lihat Tafsir ath-Thabari, IX/26, no. 24588).

Inilah sunnatullah yang berlaku pada para hambaNya. Oleh karena itulah, kita melihat manusia ini berbeda kondisi kehidupannya. Ada yang hidup dengan harta yang melimpah, fasilitas dan kedudukan. Ada juga yang ditakdirkan hidup sederhana lagi pas-pasan. Bahkan ada juga yang hidup fakir miskin dan tidak punya apa-apa.

Segala nikmat yang Allah I berikan kepada kita adalah ujian bagi kita, apakah kita akan menjadi hamba-Nya yang bersyukur ataukah menjadi orang yang kufur. Sungguh benar apa yang diucapkan oleh Nabi Sulaiman ‘alaihis salam tatkala mendapatkan nikmat, beliau mengatakan : Ini termasuk karunia dari Rabb-ku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur ataukah mengingkari (nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Rabb-ku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (QS. An-Naml: 40).

Hakikat Syukur

Syukur adalah akhlaq yang mulia, yang muncul karena kecintaan dan keridha’an yang besar terhadap Sang Pemberi Nikmat. Syukur tidak akan mungkin bisa terwujud jika tidak diawali dengan keridha’an. Seseorang yang diberikan nikmat oleh Allah I walaupun sedikit, tidak mungkin akan bersyukur kalau tidak ada keridha’an. Orang yang mendapatkan penghasilan yang sedikit, hasil panen yang minim atau pendapatan yang pas-pasan, tidak akan bisa bersyukur jika tidak ada keridha’an. Demikian pula orang yang diberi kelancaran rizki dan harta yang melimpah, akan terus merasa kurang dan tidak akan bersyukur jika tidak diiringi keridha’an.
Syukur itu,  sebenarnya tidaklah cukup hanya dengan mengucapkan “alhamdulillah”. Namun hendaknya seorang hamba bersyukur dengan hati, lisan dan anggota badannya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Qudamah rahimahullah, “Syukur (yang sebenarnya) adalah dengan hati, lisan dan anggota badan. (Lihat Minhajul Qasidin, hal. 305).

Ibnu Qayyim rahimahullah melengkapi hakikat syukur tersebut dengan menjelaskan bahwa syukur kepada Allah itu adalah tampaknya bekas nikmat Allah I pada lisan sang hamba dalam bentuk pujian dan pengakuan, di dalam hatinya dalam bentuk kesaksian dan rasa cinta, dan pada anggota tubuhnya dalam bentuk patuh dan taat. (Ibn Qayyim al-Jauziyah, Tahdzib Madarij al-Salikin oleh Abdul Mun`im al`IzzĂ®, hal. 348)

Beliau rahimahullah lebih lanjut juga menjelaskan bahwa syukur itu mempunyai 5 (lima) pilar pokok yang apa bila salah satunya tidak terpenuhi maka syukur menjadi batal dan dianggap belum bersyukur. Lima pilar pokok itu adalah : (i) kepatuhan orang yang bersyukur kepada Pemberi nikmat (yaitu Allah I); (ii) mencintaiNya; (iii) mengakui nikmat dari-Nya; (iv) memuji-Nya atas nikmat-Nya; dan (v) tidak menggunakan nikmat yang diberikan-Nya untuk sesuatu yang tidak Dia suka.

Makanya, Saudaraku :
1.    Tidaklah seorang hamba dianggap bersyukur kepada Allah I ketika ia masih saja bermaksiat dan tidak patuh terhadap berbagai perintah dan laranganNya;
2.    Tidaklah seorang hamba dianggap bersyukur kepada Allah I ketika ia masih menjadikan cinta kepada makhluk di atas cinta kepadaNya;
3.    Tidaklah seorang hamba dianggap bersyukur kepada Allah I ketika ia masih merasa bahwa nikmat-nikmat yang telah ia rasakan dan nikmati adalah hasil usaha dan jerih payahnya sendiri. Sementara, keyakinan bahwa nikmat tersebut semata-mata datangnya dari Allah I  dan bukan dari selain-Nya adalah wajib dan mutlak. Allah I berfirman, artinya :  “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)…” (QS. An-Nahl: 53). Meskipun bisa jadi, kita mendapatkan nikmat itu melalui teman, aktivitas jual beli, bekerja atau yang lainnya, semuanya itu adalah hanyalah perantara untuk mendapatkan nikmat. Orang yang menisbatkan bahwa nikmat yang ia peroleh berasal dari Allah Ta’ala, ia adalah hamba yang bersyukur. Selain mengakui dan meyakini bahwa nikmat-nikmat itu berasal dari Allah Ta’ala hendaklah ia mencintai nikmat-nikmat yang ia peroleh;
4. Tidaklah seorang hamba dianggap bersyukur kepada Allah I ketika ia masih kikir untuk selalu menyanjung dan memuji namaNya dalam lisannya. Lisannya hendaknya senantiasa mengucapkan kalimat thayyibbah sebagai bentuk pujian terhadap Allah Ta’ala. Hamba yang bersyukur kepada Allah Ta’ala ialah hamba yang bersyukur dengan lisannya. Allah I sangat senang apabila dipuji oleh hamba-Nya. Allah I cinta kepada hamba-hamba-Nya yang senantiasa memuji Allah Ta’ala. “Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)”. (QS. Adh-Dhuha: 11). Seorang hamba yang setelah makan mengucapkan rasa syukurnya dengan berdoa, maka ia telah bersyukur. Sebagaimana sabda Rasulullah r, artinya : “Barang siapa yang makan makanan kemudian mengucapkan: “Alhamdulillaahilladzii ath’amanii haadzaa wa rozaqoniihi min ghairi haulin minnii wa laa quwwah” (Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini, dan merizkikan kepadaku tanpa daya serta kekuatan dariku), maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Tirmidzi. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Terdapat pula dalam hadits riwayat Anas bin Malik t, Nabi r bersabda, artinya :  “Sesungguhnya Allah Ta’ala sangat suka kepada hamba-Nya yang mengucapkan tahmid (alhamdulillah) sesudah makan dan minum” (HR. Muslim). Bahkan, ketika tertimpa musibah atau melihat sesuatu yang tidak menyenangkan, maka sebaiknya tetaplah kita memuji Allah I. Dari Aisyah radhiallahu anha, kebiasaan Rasulullah r jika menyaksikan hal-hal yang beliau sukai adalah mengucapkan “Alhamdulillah alladzi bi ni’matihi tatimmus shalihat”. Sedangkan jika beliau r menyaksikan hal-hal yang tidak menyenangkan beliau mengucapkan “Alhamdulillah ‘ala kulli hal.” (HR Ibnu Majah. Syaikh Al-Albani menilai hadits ini hasan).
5. Dan, tidaklah seorang hamba dianggap bersyukur kepada Allah ketika ia dengan tenang dan nyaman, menggunakan berbagai karunia dan nikmat Allah I kepadanya untuk bermaksit dan melanggar aturan-aturanNya. Wallahul-musta’an. Sesungguhnya orang yang bersyukur kepada Allah Ta’ala akan menggunakan nikmat Allah untuk beramal shalih, tidak digunakan untuk bermaksiat kepada Allah. Ia gunakan matanya untuk melihat hal yang baik, lisannya tidak untuk berkata kecuali yang baik, dan anggota badannya ia gunakan untuk beribadah kepada Allah Ta’ala.
Bersyukur, Itu Perintah Allah I

Allah I berfirman, artinya : “Ingatlah kepada-Ku, Aku juga akan ingat kepada kalian. Dan bersyukurlah kepada-Ku, janganlah kalian kufur.” (QS. Al-Baqarah: 152)

Pada ayat tersebut Allah I   memerintahkannya secara khusus. Allah I berfirman yang artinya, “Maka bersyukurlah kepada-Ku.” Setelah perintah bersyukur, Allah I juga berfirman : “Dan janganlah kalian kufur”. Yang dimaksud dengan kata ‘kufur’ di sini adalah yang menjadi lawan dari kata syukur. Sehingga kufur di sini bermakna tindakan mengingkari nikmat dan menentangnya, tidak menggunakannya dengan baik. Dan bisa jadi maknanya lebih luas daripada itu, sehingga ia mencakup banyak bentuk pengingkaran. Pengingkaran yang paling besar adalah kekafiran kepada Allah, kemudian diikuti oleh berbagai macam perbuatan kemaksiatan yang beraneka ragam jenisnya dari yang berupa kemusyrikan sampai yang ada di bawah-bawahnya.” (Lihat Taisir Karimir Rahman, hal. 74)

Olehnya, marilah kita menjadi orang-orang yang senantiasa bersyukur kepadaNya. Janganlah hidup ini kita penuhi dengan keluh kesah yang tidak berkesudahan. Yakinlah, segala nikmat dan ujian adalah pilihan terbaik Allah I untuk hambaNya. Syukuri apa yang ada.  Masih banyak orang-orang yang lebih susah dari kita. Semoga Allah I memberikan kita kekuatan untuk selalu bersyukur kepadaNya.  Wallahu a’lam.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...