Februari 24, 2015

Menebar Kasih Sayang

Siapa yang tak mengakui kebaikan hati seorang Yusuf alaihissalam yang tidak menaruh dendam sedikitpun kepada saudara-saudaranya yang telah mencoba mencelakainya. Kebersihan hati Yusuf itulah yang akhirnya secara tidak langsung menghantarkannya kepada kejayaan diri. Seorang Sulaiman alaihissalam yang dengan segala kebesarannya, masih menghormati makhluk kecil, semut, dan memerintahkan derap dan langkah para pasukannya untuk tidak mengganggu atau bahkan menginjak sekelompok semut yang mereka lewati.

Rasulullah Muhammad r adalah panutan yang tidak pernah sedikitpun mengajarkan kepada ummatnya untuk melakukan kejahatan, ketidakadilan, tindak kesemena-menaan bahkan kezhaliman. Islam dengan segala ajaran kasih sayang dan kedamaiannya, justru mengutamakan perbuatan baik terhadap manusia sebagai perwujudan dari rahmatan lil ‘aalamiin-nya ajaran yang disempurnakan oleh beliau r, setelah para Nabi Allah I  sebelumnya yang juga telah mengajarkan hakikat Islam.


Ada sebuah kisah dari seorang panglima perang besar kaum muslimin bernama Amru bin Ash t yang begitu mulia hatinya. Saat fajar, sebelum berangkat melakukan penyerbuan ke wilayah musuh yang menentang Islam, para pasukan terheran karena hanya tinggal tenda Sang Panglima (Amru bin Ash t) yang masih utuh belum dikemas. Ada apa gerangan? Mengapa tenda belum juga dikemas dan menunda keberangkatan padahal pasukan telah bersiap ke medan perang? Ternyata, oh, ternyata, seekor burung tengah bertengger di atas tendanya sementara mengerami telurnya. Mungkin bagi sebagian kita ini sepele. Ya, bahkan sangatlah sepele. Namun, tahukah kita ada apa di balik itu? Ternyata, kejadian itu sungguh mengherankan dua orang penyusup dari pasukan musuh yang menyamar bergabung dalam pasukan Amru bin Ash t. Tugas penyusupan keduanya adalah untuk memata-matai beliau t karena para pembesar dan masyarakatnya mendengar berita tentang kekejaman Panglima Amru bin Ash t beserta pasukannya yang konon katanya gemar membunuh, menyiksa dan menganiaya orang. Rupanya, dari kejadian tersebut mereka tak menemukan anggapan itu. Pikir mereka, bagaimana mungkin dikatakan kejam jika terhadap seekor burung pun sang Panglima sangat mengasihi.

Begitulah, menjadi seorang muslim, berarti pada dirinya seharusnya tertanam sifat-sifat kebaikan, cinta dan kasih sayang. Jika seorang muslim tak memiliki sifat di atas, tentulah karena ia tidak sepenuhnya mengamalkan ajaran nabinya Rasulullah r . Sebaliknya, mereka yang meski berbuat baik dan penuh kasih seperti Bunda Theresia dan Mahatma Gandhi, amalnya akan terputus dan tak diperhitungkan dihadapan Allah I  kelak karena mereka bukan muslim dan tak mengimani Allah I . Oleh karenanya, perbaikilah segala sifat yang tak mencerminkan kebaikan dan kasih sayang itu, karena Rasulullah r menegaskan dalam sabdanya, artinya : Sesungguhnya Allah hanya menyayangi hamba-hambaNya yang penyayang (HR. Thabrani. Dihasankan (dinilai baik) oleh Syaikh Albani).

Begitu pula, Rasulullah r bersabda artinya : “Para pengasih dan penyayang dikasihi dan di sayang oleh Ar-Rahmaan (Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang), rahmatilah (apa-apa) yang ada di bumi niscaya kalian akan dirahmati oleh Dzat yang ada di langit(HR. Abu Dawud dan Tirmidz. Dishahihkan (dinilai kuat/valid ) oleh Syaikh Albani).

Kata “man/apa-apa yang” dalam sabda Nabi r ini adalah bentuk isim maushul yang dalam kadiah ilmu Ushul Fiqh memberikan makna keumuman. Artinya bahwa Nabi r tidak hanya memerintahkan kita untuk merahmati (menyayangi) orang-orang khusus atau orang-orang yang shaleh saja, namun Nabi r  memerintahkan kita untuk merahmati seluruh manusia dan bahkan makhluk lainnya seperti hewan atau tumbuhan termasuk di dalamnya.

Imam Al-Munawi rahimahullah berkata, Sabda Nabi (rahmatilah yang ada di bumi) dengan konteks keumuman, mencakup seluruh jenis makhluk, maka mencakup rahmat kepada orang baik, orang fajir, orang yang berbicara, orang yang bisu, hewan dan burung” (Lihat Faidhul Qadir 1/605).

Dalam sebuah riwayat, seseorang pernah berkata : “Wahai Rasulullah, aku menyembelih seekor kambing lantas aku merahmatinya”, Rasulullah r berkata, “Bahkan seekor kambing jika engkau merahmatinya maka Allah akan merahmati engkau, bahkan seekor kambing jika engkau merahmatinya maka Allah akan merahmati engkau” . Rasulullah r mengucapkannya dua kali (HR. Bukhari. Dishahihkan (dinilai kuat/valid) oleh Syaikh Albani).

Makanya, orang yang menyembelih seekor kambing tanpa ada rasa rahmat dengan mengasah parangnya di hadapan kambing tersebut misalnya, atau menyembelihnya dengan parang yang tidak tajam sehingga menyakiti kambing tersebut, tentu tidak sama dengan seseorang yang menyembelih kambing namun dengan rasa rahmat kepada sang kambing, sehingga ia berusaha menyembelih kambing tersebut dengan sebaik-baiknya. Rasulullah r bersabda, artinya : Barangsiapa yang merahmati meskipun seekor sembelihan maka Allah akan merahmatinya pada hari kiamat” (HR. Bukhari. Dihasankan (dinilai baik) oleh Syaikh Albani).

Bahkan, hingga binatang yang dalam Islam haram untuk dikonsumsi seperti anjing. Dalam sebuah riwayat hadits disebutkan, “Tatkala ada seekor anjing yang hampir mati karena kehausan berputar-putar mengelilingi sebuah sumur yang berisi air, tiba-tiba anjing tersebut dilihat oleh seorang wanita pezina dari kaum Bani Israil, maka wanita tersebut melepaskan khufnya (melepas sepatunya untuk turun ke sumur dan mengisi air ke sepatu tersebut) lalu memberi minum kepada anjing tersebut. Maka Allah pun mengampuni wanita tersebut karena amalannya itu” (HR. Bukhari dan Muslim).

Subhanallah, jika merahmati seekor hewan saja niscaya akan mendatangkan rahmat dan kasih sayang Allah I    maka bagaimana lagi jika kita merahmati makhluk-Nya yang paling mulia yaitu manusia?

Sungguh, rahmat dan kasih sayang-Nya teramat kita butuhkan di dunia, terlebih di akhirat kelak! Bagaimana jalan untuk mendapatkannya? Ya, dengan cara merahmati, mencintai dan menyayangi sesama. Rasulullah r bersabda, artinya : “Apabila Allah mencintai seorang hamba-Nya, Dia menyeru kepada Jibril: “Sesungguhnya Allah mencintai si fulan maka cintailah dia.” Maka Jibril mencintai hamba itu lalu berseru kepada penduduk langit : “Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah dia.” Maka seluruh penduduk langit (pun) mencintai hamba itu, kemudian orang itu pun dijadikan bisa diterima oleh penduduk bumi” (HR. Bukhari).

Merahmati Seorang Pelaku Dosa

Perintah Allah I untuk menebarkan kasih sayang berlaku umum bahkan mencakup seorang pelaku kemaksiatan sebagaimana perkataan Imam Al-Munawi rahimahullah di atas. Bukankah kita kasihan tatkala melihat seseorang yang terjerumus dalam kemaksiatan? Kasihan dengan kehidupannya yang penuh dengan kegelapan dunia, terlebih-lebih lagi jika akhirnya masuk ke dalam neraka jahannam. Bagaimana hati ini tidak tergerak untuk kasihan dan merahmatinya? Bukankah sebagian kita dahulu juga seperti itu? Bukankah sering kita menanti-nanti ada yang mendakwahi kita dan mengajak ke jalan lurus tatkala itu? Sungguh hati ini sangat sedih jika ternyata orang-orang shalih malah menjauhi mereka para pelaku kemaksiatan dan hanya bisa mencemooh tanpa berusaha mendakwahi mereka.

Dalam sebuah kisah tentang pengakuan seorang remaja dalam sebuah acara Idzaa’atul Qur’an Al-Karim, Radio Dakwah di Arab Saudi,  seorang remaja bercerita bahwa ia dahulunya adalah seorang pecandu morfin selama bertahun-tahun dan ibunya selalu melarangnya untuk mengkonsumsi morfin. Akan tetapi, teguran sang ibu tidak pernah ia hiraukan. Hingga bertahun-tahun berlalu, sang ibu tidak bosan-bosannya menasehati dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, adapun ia juga tidak bosan-bosannya tidak menghiraukan teguran sang ibu. Hingga akhirnya pada suatu hari di hari Jum’at setelah Ashar (yang merupakan waktu mustajab untuk berdoa sebagaimana pendapat sebagian ulama) maka sang ibu pun berdoa : “Ya Allah sadarkanlah putraku atau cabutlah nyawanya agar ia berhenti dari kemaksiatannya“. Ternyata Allah I mengabulkan doa sang ibu dan menyadarkannya dari kemaksiatan ini, hingga akhirnya iapun meninggalkan heroin. Di akhir tuturannya, sang pemuda berkata, “Saya sering lewat di depan mesjid tatkala adzan dikumandangkan dan saya tidak shalat, akan tetapi tidak seorang pun dari jama’ah masjid yang menegurku, bertahun-tahun lamanya, tidak seorang pun dari mereka yang menegurku”.

Kisah ini, seharusnya membuat kita terhentak, betapa kita begitu kikir untuk menebar kasih sayang dan rahmat kepada mereka, saudara-saudara kita, yang belum sempat menggapai manisnya hidayah seperti yang telah kita rasakan sekarang. Olehnya, mari sayangi dan rahmati mereka yang masih asyik dengan kemaksiatan, dengan mendekatinya dan mendakwahinya semampu kita dengan cara yang selembut-lembutnya.

Termasuk pula para pelaku bid’ah (menyelisihi sunnah Rasulullah r dalam hal-hal yang tidak ada contoh dan perintah dari beliau r dalam beragama). Ketahuilah, kebanyakan para pelaku bid’ah di sekitar kita adalah orang-orang yang belum berilmu dan paham dengan agama mereka. Bahkan banyak di antara mereka yang hanya mewarisi bid’ah yang dilakukan secara turun temurun.

Meskipun, di sini kita tidak berbicara tentang gembong-gembong bid’ah yang mengikuti hawa nafsu mereka sehingga nekad menolak atau mempelintir dalil-dalil Al-Qur’an dan Sunnah demi melarisakan bid’ah mereka. Akan tetapi, di sini kita berbicara tentang mayoritas saudara-saudara kita yang terjerumus ke dalam bid’ah karena kejahilan dan ketidaktahuan mereka.

Syaikh Utsaimin rahimahullah berkata tentang para pelaku bid’ah, “Para pelaku khurafat (bid’ah) tersebut kasihan mereka, jika kita memandang mereka dengan pandangan takdir (bahwasanya semua terjadi dengan taqdir Allah) maka kita kasihan mereka dan kita memohon kepada Allah keselamatan bagi mereka. Jika kita memandang mereka dengan pandangan syari’at maka wajib bagi kita melawan (mendakwahi) mereka dengan hujjah (argumentasi dan penjelasan yang baik) agar mereka kembali kepada jalan yang lurus” (Lihat Al-Qaul Al-Mufid 1/65).

Namun, perlu diingat, apa yang kita tuliskan ini bukan berarti bahwa kita ridha dengan kemaksiatan dan perilaku bid’ah yang ada. Bukan itu. Jelas, kita tetap membenci kemaksiatan dan bid’ah tersebut karena hal-hal tersebut adalah penyelisihan terhadap ajaran agama Islam yang mulia ini. Namun, di sisi lain, hendaknya kita tetap menimbang antara maslahat dan mudharat, dengan melihat para pelaku kemaksiatan dan bid’ah sebagai saudara muslim yang masih punya hak untuk didakwahi dan diluruskan dengan nasehat yang baik dan bijak. Bukankah Nabi r bersabda, artinya : “Tidaklah beriman salah seorang dari kalian hingga ia menyukai bagi saudaranya apa yang dia sukai untuk dirinya” ? Bukankah seorang muslim yang terjerumus dalam kemaksiatan atau bid’ah juga masih merupakan saudara kita sesama muslim? Bukankah kita senang jika kita berada di atas ketaatan kepada Allah? Maka hendaknya kita juga senang jika saudara-saudara kita juga demikian.

Wallahu a’lam.

Tulisan ini dibuat sebagai ungkapan keprihatinan terhadap kondisi saat ini di mana kasih sayang tidak lagi diagungkan apalagi dijaga dalam ukhuwah kaum muslimin. Di saat, sebagian muslim telah merasa puas dengan keshalihannya sendiri, hingga tidak lagi merasa kasihan kepada sebagian saudaranya yang belum merasakan manisnya keimanan. Di saat, sebagian muslim juga begitu senang menjatuhkan kehormatan dan mencari-cari kesalahan saudaranya, demi terwujudnya kepentingan sesaat mereka karena rasa kasih sayang yang telah hilang. Hingga akhirnya, kekuatan barisan kaum muslimin yang bisa lahir dari rasa saling mengasihi, menjadi runtuh. Sementara di pihak lain, musuh-musuh Islam terlihat semakin gigih menghancurkan dan merongrong agama ini. Wallahul musta’an.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...