Siapa yang tak
mengakui kebaikan hati seorang Yusuf alaihissalam yang tidak menaruh
dendam sedikitpun kepada saudara-saudaranya yang telah mencoba mencelakainya.
Kebersihan hati Yusuf itulah yang akhirnya secara tidak langsung
menghantarkannya kepada kejayaan diri. Seorang Sulaiman alaihissalam yang dengan
segala kebesarannya, masih menghormati makhluk kecil, semut, dan memerintahkan
derap dan langkah para pasukannya untuk tidak mengganggu atau bahkan menginjak
sekelompok semut yang mereka lewati.
Rasulullah Muhammad r adalah panutan yang tidak
pernah sedikitpun mengajarkan kepada ummatnya untuk melakukan kejahatan,
ketidakadilan, tindak kesemena-menaan bahkan kezhaliman. Islam dengan segala
ajaran kasih sayang dan kedamaiannya, justru mengutamakan perbuatan baik
terhadap manusia sebagai perwujudan dari rahmatan lil ‘aalamiin-nya
ajaran yang disempurnakan oleh beliau r, setelah
para Nabi Allah I
sebelumnya yang juga telah mengajarkan
hakikat Islam.
Ada sebuah kisah dari seorang panglima
perang besar kaum muslimin bernama Amru bin Ash t yang begitu mulia hatinya. Saat
fajar, sebelum berangkat melakukan penyerbuan ke wilayah musuh yang menentang
Islam, para pasukan terheran karena hanya tinggal tenda Sang Panglima (Amru bin
Ash t) yang masih
utuh belum dikemas. Ada apa gerangan? Mengapa tenda belum juga dikemas dan
menunda keberangkatan padahal pasukan telah bersiap ke medan perang? Ternyata,
oh, ternyata, seekor burung tengah bertengger di atas tendanya sementara
mengerami telurnya. Mungkin bagi sebagian kita ini sepele. Ya, bahkan sangatlah
sepele. Namun, tahukah kita ada apa di balik itu? Ternyata, kejadian itu
sungguh mengherankan dua orang penyusup dari pasukan musuh yang menyamar
bergabung dalam pasukan Amru bin Ash t. Tugas
penyusupan keduanya adalah untuk memata-matai beliau t karena para
pembesar dan masyarakatnya mendengar berita tentang kekejaman Panglima Amru bin
Ash t beserta
pasukannya yang konon katanya gemar membunuh, menyiksa dan menganiaya
orang. Rupanya, dari kejadian tersebut mereka tak menemukan anggapan itu. Pikir
mereka, bagaimana mungkin dikatakan kejam jika terhadap seekor burung pun sang
Panglima sangat mengasihi.
Begitulah, menjadi seorang muslim,
berarti pada dirinya seharusnya tertanam sifat-sifat kebaikan, cinta dan kasih
sayang. Jika seorang muslim tak memiliki sifat di atas, tentulah karena ia
tidak sepenuhnya mengamalkan ajaran nabinya Rasulullah r . Sebaliknya, mereka yang
meski berbuat baik dan penuh kasih seperti Bunda Theresia dan Mahatma Gandhi,
amalnya akan terputus dan tak diperhitungkan dihadapan Allah I kelak karena
mereka bukan muslim dan tak mengimani Allah I .
Oleh karenanya, perbaikilah segala sifat yang tak mencerminkan kebaikan dan
kasih sayang itu, karena Rasulullah r menegaskan dalam sabdanya, artinya : “Sesungguhnya
Allah hanya menyayangi hamba-hambaNya yang penyayang”
(HR. Thabrani. Dihasankan (dinilai baik) oleh Syaikh
Albani).
Begitu
pula, Rasulullah r bersabda artinya : “Para pengasih dan penyayang dikasihi
dan di sayang oleh Ar-Rahmaan (Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang),
rahmatilah (apa-apa) yang ada di bumi niscaya kalian akan dirahmati oleh Dzat
yang ada di langit” (HR. Abu Dawud dan
Tirmidz. Dishahihkan (dinilai kuat/valid ) oleh Syaikh Albani).
Kata “man/apa-apa yang” dalam
sabda Nabi r ini adalah
bentuk isim maushul yang dalam kadiah ilmu Ushul Fiqh memberikan
makna keumuman. Artinya bahwa Nabi r tidak
hanya memerintahkan kita untuk merahmati (menyayangi)
orang-orang khusus atau orang-orang yang shaleh
saja, namun Nabi r memerintahkan kita untuk merahmati seluruh
manusia dan bahkan makhluk lainnya
seperti hewan atau tumbuhan termasuk di dalamnya.
Imam Al-Munawi rahimahullah
berkata, “Sabda
Nabi (rahmatilah yang ada di bumi) dengan konteks keumuman, mencakup
seluruh jenis makhluk, maka mencakup rahmat kepada orang baik, orang fajir,
orang yang berbicara, orang yang bisu, hewan dan burung” (Lihat Faidhul Qadir 1/605).
Dalam
sebuah riwayat, seseorang pernah berkata : “Wahai Rasulullah, aku menyembelih
seekor kambing lantas aku merahmatinya”, Rasulullah r berkata, “Bahkan seekor kambing jika engkau merahmatinya maka Allah
akan merahmati engkau, bahkan seekor kambing jika engkau merahmatinya maka
Allah akan merahmati engkau” . Rasulullah r mengucapkannya dua kali (HR. Bukhari.
Dishahihkan (dinilai kuat/valid) oleh Syaikh Albani).
Makanya,
orang yang menyembelih seekor kambing tanpa ada rasa rahmat dengan mengasah
parangnya di hadapan kambing tersebut misalnya, atau menyembelihnya dengan
parang yang tidak tajam sehingga menyakiti kambing tersebut, tentu tidak sama
dengan seseorang yang menyembelih kambing namun dengan rasa rahmat kepada sang
kambing, sehingga ia berusaha menyembelih kambing tersebut dengan sebaik-baiknya.
Rasulullah
r bersabda, artinya : “Barangsiapa yang merahmati
meskipun seekor sembelihan maka Allah akan merahmatinya pada hari kiamat” (HR. Bukhari.
Dihasankan (dinilai baik) oleh Syaikh Albani).
Bahkan, hingga binatang yang dalam
Islam haram untuk dikonsumsi seperti anjing. Dalam sebuah riwayat hadits
disebutkan, “Tatkala ada seekor anjing yang hampir mati karena kehausan
berputar-putar mengelilingi sebuah sumur yang berisi air, tiba-tiba anjing
tersebut dilihat oleh seorang wanita pezina dari kaum Bani Israil, maka wanita
tersebut melepaskan khufnya (melepas sepatunya untuk turun ke sumur dan mengisi
air ke sepatu tersebut) lalu memberi minum kepada anjing tersebut. Maka Allah
pun mengampuni wanita tersebut karena amalannya itu” (HR. Bukhari
dan Muslim).
Subhanallah, jika
merahmati seekor hewan saja niscaya akan mendatangkan rahmat dan kasih sayang
Allah I
maka bagaimana lagi jika kita merahmati makhluk-Nya yang paling mulia
yaitu manusia?
Sungguh, rahmat dan kasih sayang-Nya
teramat kita butuhkan di dunia, terlebih di akhirat kelak! Bagaimana jalan
untuk mendapatkannya? Ya, dengan cara merahmati, mencintai dan menyayangi
sesama. Rasulullah r bersabda,
artinya : “Apabila Allah mencintai seorang hamba-Nya, Dia menyeru kepada
Jibril: “Sesungguhnya Allah mencintai si fulan maka cintailah dia.” Maka Jibril
mencintai hamba itu lalu berseru kepada penduduk langit : “Sesungguhnya Allah
mencintai si fulan, maka cintailah dia.” Maka seluruh penduduk langit (pun)
mencintai hamba itu, kemudian orang itu pun dijadikan bisa diterima oleh
penduduk bumi” (HR.
Bukhari).
Merahmati Seorang Pelaku Dosa
Perintah Allah I untuk
menebarkan kasih sayang berlaku umum bahkan mencakup seorang pelaku kemaksiatan
sebagaimana perkataan Imam Al-Munawi rahimahullah di atas. Bukankah kita
kasihan tatkala melihat seseorang yang
terjerumus dalam kemaksiatan? Kasihan dengan
kehidupannya yang penuh dengan kegelapan dunia, terlebih-lebih lagi jika akhirnya masuk ke dalam
neraka jahannam. Bagaimana
hati ini tidak tergerak untuk kasihan dan merahmatinya? Bukankah sebagian kita
dahulu juga seperti itu? Bukankah sering
kita menanti-nanti ada yang mendakwahi kita dan mengajak ke jalan lurus tatkala itu? Sungguh
hati ini sangat sedih jika ternyata orang-orang shalih
malah menjauhi mereka para pelaku kemaksiatan dan hanya
bisa mencemooh tanpa berusaha mendakwahi mereka.
Dalam
sebuah kisah tentang pengakuan seorang remaja dalam sebuah acara Idzaa’atul
Qur’an Al-Karim, Radio Dakwah di Arab Saudi, seorang remaja bercerita bahwa ia dahulunya
adalah seorang pecandu morfin selama bertahun-tahun dan ibunya selalu
melarangnya untuk mengkonsumsi morfin. Akan tetapi, teguran sang ibu tidak
pernah ia hiraukan. Hingga bertahun-tahun berlalu, sang ibu tidak
bosan-bosannya menasehati dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, adapun ia
juga tidak bosan-bosannya tidak menghiraukan teguran sang ibu. Hingga akhirnya
pada suatu hari di hari Jum’at setelah Ashar (yang merupakan waktu mustajab
untuk berdoa sebagaimana pendapat sebagian ulama) maka sang ibu pun berdoa :
“Ya Allah sadarkanlah putraku atau cabutlah nyawanya agar ia berhenti dari
kemaksiatannya“. Ternyata Allah I mengabulkan doa sang ibu dan
menyadarkannya dari kemaksiatan ini, hingga akhirnya iapun meninggalkan heroin.
Di akhir tuturannya, sang pemuda berkata, “Saya sering lewat di depan mesjid
tatkala adzan dikumandangkan dan saya tidak shalat, akan tetapi tidak seorang
pun dari jama’ah masjid yang menegurku, bertahun-tahun lamanya, tidak seorang
pun dari mereka yang menegurku”.
Kisah ini,
seharusnya membuat kita terhentak, betapa kita begitu kikir untuk menebar kasih
sayang dan rahmat kepada mereka, saudara-saudara kita, yang belum sempat
menggapai manisnya hidayah seperti yang telah kita rasakan sekarang. Olehnya, mari
sayangi dan rahmati mereka yang masih asyik dengan kemaksiatan, dengan
mendekatinya dan mendakwahinya semampu kita dengan cara yang
selembut-lembutnya.
Termasuk pula para pelaku bid’ah
(menyelisihi sunnah Rasulullah r
dalam hal-hal yang tidak ada contoh dan perintah dari beliau r dalam beragama). Ketahuilah, kebanyakan
para pelaku bid’ah di sekitar kita adalah
orang-orang yang belum berilmu dan paham
dengan agama mereka. Bahkan banyak di antara mereka yang hanya mewarisi bid’ah
yang dilakukan secara turun temurun.
Meskipun,
di sini kita tidak
berbicara tentang gembong-gembong bid’ah yang mengikuti hawa nafsu mereka
sehingga nekad menolak atau mempelintir dalil-dalil Al-Qur’an dan Sunnah demi
melarisakan bid’ah mereka. Akan tetapi, di sini kita berbicara tentang
mayoritas saudara-saudara kita yang terjerumus ke dalam bid’ah karena kejahilan
dan ketidaktahuan mereka.
Syaikh Utsaimin rahimahullah berkata tentang para
pelaku bid’ah, “Para pelaku khurafat (bid’ah) tersebut kasihan mereka,
jika kita memandang mereka dengan pandangan takdir (bahwasanya semua terjadi
dengan taqdir Allah) maka kita kasihan mereka dan kita memohon kepada Allah
keselamatan bagi mereka. Jika kita memandang mereka dengan pandangan syari’at maka
wajib bagi kita melawan (mendakwahi) mereka dengan hujjah
(argumentasi dan penjelasan yang baik) agar mereka
kembali kepada jalan yang lurus” (Lihat Al-Qaul
Al-Mufid 1/65).
Namun, perlu diingat, apa yang kita
tuliskan ini bukan berarti bahwa kita ridha dengan kemaksiatan dan perilaku
bid’ah yang ada. Bukan itu. Jelas, kita tetap membenci kemaksiatan dan bid’ah
tersebut karena hal-hal tersebut adalah penyelisihan terhadap ajaran agama
Islam yang mulia ini. Namun, di sisi lain, hendaknya kita tetap menimbang
antara maslahat dan mudharat, dengan melihat para pelaku kemaksiatan dan bid’ah
sebagai saudara muslim yang masih punya hak untuk didakwahi dan diluruskan
dengan nasehat yang baik dan bijak. Bukankah Nabi r bersabda, artinya : “Tidaklah
beriman salah seorang dari kalian hingga ia menyukai bagi saudaranya apa yang
dia sukai untuk dirinya” ? Bukankah seorang muslim yang terjerumus dalam
kemaksiatan atau bid’ah juga masih merupakan saudara kita sesama muslim?
Bukankah kita senang jika kita berada di atas ketaatan kepada Allah? Maka
hendaknya kita juga senang jika saudara-saudara kita juga demikian.
Wallahu a’lam.
Tulisan ini dibuat sebagai ungkapan
keprihatinan terhadap kondisi saat ini di mana kasih sayang tidak lagi
diagungkan apalagi dijaga dalam ukhuwah kaum muslimin. Di saat, sebagian muslim
telah merasa puas dengan keshalihannya sendiri, hingga tidak lagi merasa
kasihan kepada sebagian saudaranya yang belum merasakan manisnya keimanan. Di
saat, sebagian muslim juga begitu senang menjatuhkan kehormatan dan
mencari-cari kesalahan saudaranya, demi terwujudnya kepentingan sesaat mereka
karena rasa kasih sayang yang telah hilang. Hingga akhirnya, kekuatan barisan
kaum muslimin yang bisa lahir dari rasa saling mengasihi, menjadi runtuh.
Sementara di pihak lain, musuh-musuh Islam terlihat semakin gigih menghancurkan
dan merongrong agama ini. Wallahul musta’an.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar