Doa orangtua untuk anaknya adalah
salah satu doa yang makbul dan didengar Allah I. “Ada tiga
doa yang pasti akan terkabul, tidak diragukan lagi: doa orangtua, doa orang
yang bepergian, dan doa orang yang dizhalimi.” (HR. Abu Dawud.
Dihasankan oleh Syaikh Al-Albani). Demikian pesan dari Sang Nabi r.
Semestinya orangtua senantiasa
mengalirkan doa kebaikan bagi anak-anaknya. Orangtua juga mesti meneguhkan
kesabaran jika menjumpai penyimpangan pada anak-anaknya. Bukan malah mengutuk
atau mendoakan kejelekan bagi mereka.
Sesuatu yang sudah lazim untuk
diketahui, orangtua harus membimbing anak-anaknya. Mereka butuh diarahkan,
diajari, ditegur dan diluruskan bila mereka salah atau lupa. Semua itu tak lain
untuk kebaikan masa depan si anak; masa depan di dunia dan masa depan di
akhirat dan tentu juga untuk orangtua.
Memang, mencetak seorang anak menjadi
anak shalih yang selalu menyenangkan hati bukanlah semata hasil kerja keras
orangtua dan pendidik. Semua usaha yang ditempuh hanyalah merupakan sebab-sebab
yang dilakukan untuk mencapai tujuan itu. Adapun yang membuat hati si anak
terbuka untuk menerima pengarahan serta bimbingan orangtua dan orang-orang yang
mendidiknya adalah Allah I. Allah I berfirman kepada Nabi-Nya r, artinya : “Sesungguhnya
engkau takkan bisa memberikan hidayah (taufik) kepada orang yang engkau cintai,
akan tetapi Allah memberikan hidayah kepada siapa pun yang Dia kehendaki, dan
Dia Maha Mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS.
Al-Qashash: 56).
Dalam ayat-Nya ini, Allah I memberitahukan
kepada Rasulullah r bahwa beliau –terlebih
lagi kepada selain beliau– tidak akan mampu memberikan hidayah kepada
seseorang, walaupun dia orang yang paling dicintai. Tak seorang pun mampu
memberikan hidayah taufik dan menancapkan iman dalam hati seseorang. Ini
semata-mata ada di tangan Allah I. Dialah yang
memberi hidayah pada siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui, siapa yang
pantas mendapatkan hidayah dari-Nya hingga nanti Dia berikan hidayah, dan siapa
yang tidak layak mendapatkannya hingga Dia biarkan orang itu dalam
kesesatannya. (Lihat
Taisirul Karimir Rahman, hal. 620).
Cobalah renungkan, bagaimana upaya
Nabiyullah Nuh ‘alaihissalam dalam mengembalikan umatnya pada tauhid.
Selama 950 tahun beliau mengajak mereka, dengan berbagai cara, untuk meninggalkan
penyembahan berhala dan hanya menyembah Allah I semata. Namun,
anak beliau sendiri tidak mau menyambut seruan mulia sang ayah, bahkan hingga
saat-saat akhir kehidupan umat yang durhaka itu. Air bah yang meluap
menenggelamkan semua yang ada. Nabi Nuh ‘alaihissalam memanggil anaknya
yang enggan turut naik ke bahtera “Wahai anakku! Naiklah bahtera ini bersama
kami dan janganlah kamu bersama orang-orang kafir” (QS. Hud: 42).
Namun, apalah daya bila Allah I tidak
menghendaki, si anak ini tidak mendapatkan petunjuk. Tetap dengan
kesombongannya dia menolak ajakan ayahnya, hingga berakhir dengan kebinasaan,
ditelan oleh gelombang air bah yang datang. Menyaksikan anaknya turut
tenggelam, timbul rasa iba sang ayah, hingga Nabi Nuh ‘alaihissalam pun
berdoa kepada Rabbnya. Namun Allah I memperingatkan
Nabi Nuh ‘alaihissalam dan menyatakan bahwa anaknya bukanlah orang yang
beriman sehingga termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. Allah I berfirman,
artinya : “Dan Nuh pun menyeru Rabbnya, ‘Wahai Rabbku, sesungguhnya anakku
termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji-Mu adalah janji yang benar, dan
Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.’ Allah berfirman, ‘Wahai Nuh,
sesungguhnya dia bukan termasuk keluargamu (yang diselamatkan), sesungguhnya
amalannya bukanlah amalan yang shalih. Maka janganlah engkau meminta kepada-Ku
sesuatu yang tidak engkau ketahui. Sesungguhnya Aku peringatkan engkau agar
jangan termasuk orang-orang yang jahil.” (QS. Hud: 45-46).
Demikianlah keadaannya. Seorang nabi
pun tidak dapat menyelamatkan anaknya dari kekafiran bila si anak tidak
dibukakan hatinya untuk menerima keimanan.
Di sisi lain, sangatlah mudah bagi
Allah I untuk memberikan petunjuk pada hamba
yang Dia kehendaki, walaupun hamba itu dikepung oleh kaum yang berbuat syirik
atau pelaku dosa. Allah I kisahkan tentang kekasih-Nya, Ibrahim
‘alaihissalam ketika Allah I berikan taufik
kepadanya untuk bertauhid. Allah I berfirman,
artinya : “Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda
keagungan yang ada di langit dan di bumi, agar dia termasuk orang-orang yang
yakin. Ketika malam telah gelap, dia melihat bintang, lalu berkata, ‘Inilah
rabbku’. Tetapi tatkala bintang itu tenggelam, dia berkata, ‘Aku tidak suka
pada yang tenggelam’. Kemudian ketika dia melihat bulan terbit, dia berkata,
‘Inilah rabbku’. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata, ‘Sesungguhnya
jika Rabbku tidak memberi petunjuk padaku, pasti aku termasuk orang-orang yang
sesat. Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata,
‘Inilah rabbku, ini lebih besar’. Tatkala matahari itu terbenam, dia pun
berkata, ‘Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian
persekutukan! Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan
langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah
termasuk orang-orang yang menyekutukan-Nya’.” (QS. Al-An’am:
75-79).
Hanya Allah I yang dapat
memberikan hidayah dan melindungi seorang anak dari kejelekan. Oleh karena itu,
semestinya orangtua menyadari bahwa tak boleh semata bersandar pada hasil usaha
mereka. Namun mereka harus menengadahkan tangan dan memohon kepada Allah I.
Dalam Kitab-Nya yang mulia, Allah I menyebutkan
doa seorang yang telah mencapai umur 40 tahun : “Wahai Rabbku, tunjukilah
aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau karuniakan kepadaku dan kepada
kedua orangtuaku, dan untuk melakukan amal shalih yang Engkau ridhai, dan
berikanlah kebaikan kepadaku dengan kebaikan anak keturunanku.” (QS. Al-Ahqaf:
15).
Tatkala dia berdoa untuk kebaikan dirinya,
dia mendoakan pula anak keturunannya agar Allah I memberikan
kebaikan pada segala keadaan mereka. Disebutkan dalam ayat ini bahwa kebaikan
anak cucu akan kembali manfaatnya bagi kedua orangtua mereka, berdasarkan
firman-Nya وَأَصْلِحْ لِي.
(Taisirul
Karimir Rahman, hal. 781).
Demikian yang dimohon oleh hamba-hamba
Ar-Rahman dalam doa mereka : ”Rabbana hablana min azwajina qurrata a’yun
waj’alna lilmuttaqina imama” (Wahai Rabb kami, anugerahkanlah bagi kami
pasangan-pasangan hidup dan keturunan sebagai penyejuk mata kami, dan
jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa)” (QS. Al-Furqan:
74).
Nabiyullah Zakariyya ‘alaihissalam
ketika memohon keturunan kepada Allah I pun meminta
agar Allah I menjadikan anaknya nanti sebagai anak
yang shalih, yang mendapatkan keridhaan Allah I. Beliau ‘alaihissalam
berdoa : “Maka anugerahkanlah bagiku
dari sisi-Mu seorang anak yang akan mewarisiku dan mewarisi keluarga Ya’qub,
dan jadikanlah dia, wahai Rabbku, seorang yang diridhai.” (QS. Maryam:
5-6).
Allah I pun
mengabulkan permohonan Nabi Zakariyya ‘alaihissalam dengan memberikan
seorang anak yang shalih. Allah I berfirman,
artinya : “Wahai Zakariyya, sesungguhnya Kami memberimu kabar gembira dengan
lahirnya seorang anak yang bernama Yahya, yang belum pernah Kami menciptakan
seseorang yang serupa dengannya.” (QS. Maryam: 7).
Begitu pula Nabi Ibrahim ‘alaihissalam,
kekasih Allah I. Beliau ‘alaihissalam berdoa
untuk kebaikan dirinya dan putranya Isma’il ‘alaihissalam beserta
keturunan mereka tatkala membangun fondasi Baitullah. Beliau ‘alaihissalam
berdoa: “Wahai Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang-orang yang berserah
diri kepada-Mu dan jadikanlah pula keturunan kami sebagai orang-orang yang
berserah diri kepada-Mu.” (QS. Al-Baqarah: 128).
Beliau ‘alaihissalam juga
berdoa: “Wahai Rabbku, jadikanlah aku dan keturunanku sebagai orang-orang
yang senantiasa mendirikan shalat. Wahai Rabbku, kabulkanlah doaku.” (QS. Ibrahim:
40).
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga
memohon kepada I agar menjaga diri dan keturunan
beliau dari kemaksiatan terbesar kepada Allah I, yaitu
kesyirikan. Beliau ‘alaihissalam memohon : “Dan jauhkanlah diriku
beserta anak keturunanku dari penyembahan berhala.” (QS. Ibrahim:
35).
Demikianlah yang dilakukan oleh para
nabi. Mereka mendoakan anak cucu mereka agar meraih masa depan yang baik dan
terhindar dari hal-hal yang membinasakan.
Rasulullah r, nabi dan rasul Allah I yang paling mulia, mencontohkan pula hal ini.
‘Umar bin Abi Salamah, putra Ummu Salamah radhiyallahu ‘anhuma
menuturkan :
“Ketika turun ayat ini kepada Nabi r: ‘Sesungguhnya Allah ingin
menghilangkan dosa-dosa dari diri kalian wahai ahlul bait, dan menyucikan
kalian sesuci-sucinya’ di rumah Ummu Salamah, maka Nabi r memanggil Fathimah, Hasan dan Husain lalu
menyelubungi mereka dengan kain, dan ‘Ali di belakang beliau lalu beliau
selubungi pula dengan kain. Kemudian beliau r berdoa, ‘Ya
Allah, mereka adalah ahlu baitku (keluarga), maka hilangkanlah dosa-dosa dari
mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya’.” (HR. Tirmidzi.
Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).
Beliau r pernah pula mendoakan cucu
beliau, Al-Hasan bin ‘Ali radhiyallahu 'anhuma. Diceritakan oleh
Al-Bara` bin ‘Azib t : “Aku pernah
melihat Nabi r dalam keadaan
menggendong Al-Hasan di atas pundak beliau. Beliau r mengatakan, ‘Ya Allah,
sesungguhnya aku mencintainya, maka cintailah dia’.” (HR. Bukhari
dan Muslim).
Beliau r juga seringkali mendoakan
anak-anak para shahabat radhiyallahu 'anhum. Usamah bin Zaid t menceritakan :
“Beliau r pernah
memelukku bersama Al-Hasan lalu mendoakan, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku
mencintai mereka berdua, maka cintailah mereka’.” (HR. Bukhari).
Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu
‘anhuma mengisahkan pula saat Rasulullah r mendoakannya, setelah dia
mengambilkan air wudhu untuk beliau. Dengan doa Rasulullah r ini, Allah I memberikan
ilmu yang luas kepadanya. Beliau menceritakan : “Pernah suatu ketika Rasulullah
r masuk ke tempat buang air. Lalu
kuletakkan air wudhu untuk beliau. (Ketika selesai) beliau pun bertanya, “Siapa
yang meletakkan ini?” Lalu beliau r diberitahu
(bahwa aku yang melakukannya). Kemudian beliau r mendoakan, ‘Ya Allah,
berikanlah dia pemahaman terhadap agama” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dan, betul, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu
‘anhuma menjadi salah seorang ulama di kalangan shahabat. Sampai-sampai
‘Umar ibnul Khaththab t menempatkannya
bersama para tokoh shahabat ketika Ibnu ‘Abbas masih belia (Fathul Bari,
7/127).
Dalam kehidupan shahabat, ada Ummu
Sulaim bintu Milhan radhiyallahu 'anha, ibu Anas bin Malik t, yang begitu
besar keinginannya agar anaknya mendapatkan kehidupan yang baik di dunia dan
akhirat. Dia serahkan sang anak untuk melayani Rasulullah r dan meminta doa beliau r untuk anaknya. Anas bin Malik t menceritakan :
“Nabi r pernah masuk
ke rumah kami dan di situ hanya ada aku, ibuku dan Ummu Haram bibiku. Ibuku
mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, ini pelayan kecilmu. Doakanlah dia’. Kemudian
beliau r memohonkan untukku segala kebaikan, dan di
akhir doa beliau untukku, beliau berkata, ‘Ya Allah, banyakkanlah harta dan
anaknya, serta berikanlah barakah kepadanya” (HR. Muslim).
Dan, kembali, Allah I mengabulkan
doa beliau r, hingga Anas
bin Malik t mengatakan
tentang dirinya, “Hartaku sungguh banyak, sementara anak cucuku mencapai
sekitar seratus orang sekarang” (HR. Muslim).
Olehnya, apabila orangtua merasakan
beban kesempitan dan kesusahan karena ulah anak-anak, hendaknya berlapang dada
dan memaafkan, serta mendoakan agar si anak mendapatkan kebaikan. Tidak lain
adalh doa kebaikan kepada mereka. Ya, doa kebaikan. Doa kebaikanlah yang semestinya
dipanjatkan, bukan cacian atau bahkan doa kejelekan. Nabi r melarang kita mendoakan
kejelekan terhadap anak-anak.
Bisa jadi, seseorang menepati saat
dikabulkannya doa, hingga dikabulkan permohonannya. Ini banyak terjadi ketika
marah. Saat marah, terkadang orang mendoakan kejelekan untuk dirinya, atau
kadang pada anaknya. Dia katakan, ‘Semoga Allah I membinasakanmu!’
atau ‘Semoga Allah I memberikan balasan yang jelek
kepadamu!’, ataupun yang semisal itu. Sampai-sampai ada yang mendoakan anaknya
agar mendapat laknat! Nas`alullahal ‘afiyah. (Syarh
Riyadhish Shalihin, 4/33).
Jabir t mengatakan bahwa Rasulullah r pernah bersabda : “Jangan
mendoakan kejelekan bagi diri kalian, jangan berdoa kejelekan bagi anak-anak
kalian, dan jangan pula berdoa kejelekan bagi harta kalian. Jangan sampai ia
bertepatan dengan saat Allah yang jika diminta suatu permintaan saat itu pasti
akan Dia kabulkan.” (HR.
Muslim).
Akibatnya, bukan semakin baik si anak,
namun semakin rusak. Semakin jauh dari kebenaran dan semakin suram pula masa
depannya. Tak ada kebahagiaan hidupnya di dunia, terancam pula kehidupannya di
akhirat kelak. Na’udzu billahi min dzalik.
Cukup sudah bagi kita, para orangtua,
teladan yang termaktub dalam Kitab dan Sunnah. Semestinya kita menyadari, segala
kebaikan anak kita, Allah I lah yang
memberikannya.
Mari memulai untuk melazimi doa.
Jangan pernah bosan untuk berdoa bagi mereka, anak-anak kita. Bisa jadi, keburukan
perangai mereka, karena pelitnya kita mendoakannya. Tanamkan dalam benak kita sejak
saat ini, “Doaku sepanjang masa untukmu anakku”.
Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar