Februari 17, 2015

Doaku Sepanjang Masa

Doa orangtua untuk anaknya adalah salah satu doa yang makbul dan didengar Allah I. “Ada tiga doa yang pasti akan terkabul, tidak diragukan lagi: doa orangtua, doa orang yang bepergian, dan doa orang yang dizhalimi.” (HR. Abu Dawud. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albani). Demikian pesan dari Sang Nabi r.

Semestinya orangtua senantiasa mengalirkan doa kebaikan bagi anak-anaknya. Orangtua juga mesti meneguhkan kesabaran jika menjumpai penyimpangan pada anak-anaknya. Bukan malah mengutuk atau mendoakan kejelekan bagi mereka.

Sesuatu yang sudah lazim untuk diketahui, orangtua harus membimbing anak-anaknya. Mereka butuh diarahkan, diajari, ditegur dan diluruskan bila mereka salah atau lupa. Semua itu tak lain untuk kebaikan masa depan si anak; masa depan di dunia dan masa depan di akhirat dan tentu juga untuk orangtua.


Memang, mencetak seorang anak menjadi anak shalih yang selalu menyenangkan hati bukanlah semata hasil kerja keras orangtua dan pendidik. Semua usaha yang ditempuh hanyalah merupakan sebab-sebab yang dilakukan untuk mencapai tujuan itu. Adapun yang membuat hati si anak terbuka untuk menerima pengarahan serta bimbingan orangtua dan orang-orang yang mendidiknya adalah Allah I. Allah I   berfirman kepada Nabi-Nya r, artinya : “Sesungguhnya engkau takkan bisa memberikan hidayah (taufik) kepada orang yang engkau cintai, akan tetapi Allah memberikan hidayah kepada siapa pun yang Dia kehendaki, dan Dia Maha Mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashash: 56).

Dalam ayat-Nya ini, Allah I memberitahukan kepada Rasulullah r bahwa beliau –terlebih lagi kepada selain beliau– tidak akan mampu memberikan hidayah kepada seseorang, walaupun dia orang yang paling dicintai. Tak seorang pun mampu memberikan hidayah taufik dan menancapkan iman dalam hati seseorang. Ini semata-mata ada di tangan Allah I. Dialah yang memberi hidayah pada siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui, siapa yang pantas mendapatkan hidayah dari-Nya hingga nanti Dia berikan hidayah, dan siapa yang tidak layak mendapatkannya hingga Dia biarkan orang itu dalam kesesatannya. (Lihat Taisirul Karimir Rahman, hal. 620).

Cobalah renungkan, bagaimana upaya Nabiyullah Nuh ‘alaihissalam dalam mengembalikan umatnya pada tauhid. Selama 950 tahun beliau mengajak mereka, dengan berbagai cara, untuk meninggalkan penyembahan berhala dan hanya menyembah Allah I semata. Namun, anak beliau sendiri tidak mau menyambut seruan mulia sang ayah, bahkan hingga saat-saat akhir kehidupan umat yang durhaka itu. Air bah yang meluap menenggelamkan semua yang ada. Nabi Nuh ‘alaihissalam memanggil anaknya yang enggan turut naik ke bahtera “Wahai anakku! Naiklah bahtera ini bersama kami dan janganlah kamu bersama orang-orang kafir” (QS. Hud: 42).

Namun, apalah daya bila Allah I tidak menghendaki, si anak ini tidak mendapatkan petunjuk. Tetap dengan kesombongannya dia menolak ajakan ayahnya, hingga berakhir dengan kebinasaan, ditelan oleh gelombang air bah yang datang. Menyaksikan anaknya turut tenggelam, timbul rasa iba sang ayah, hingga Nabi Nuh ‘alaihissalam pun berdoa kepada Rabbnya. Namun Allah I memperingatkan Nabi Nuh ‘alaihissalam dan menyatakan bahwa anaknya bukanlah orang yang beriman sehingga termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. Allah I berfirman, artinya : “Dan Nuh pun menyeru Rabbnya, ‘Wahai Rabbku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji-Mu adalah janji yang benar, dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.’ Allah berfirman, ‘Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukan termasuk keluargamu (yang diselamatkan), sesungguhnya amalannya bukanlah amalan yang shalih. Maka janganlah engkau meminta kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui. Sesungguhnya Aku peringatkan engkau agar jangan termasuk orang-orang yang jahil.” (QS. Hud: 45-46).

Demikianlah keadaannya. Seorang nabi pun tidak dapat menyelamatkan anaknya dari kekafiran bila si anak tidak dibukakan hatinya untuk menerima keimanan.

Di sisi lain, sangatlah mudah bagi Allah I untuk memberikan petunjuk pada hamba yang Dia kehendaki, walaupun hamba itu dikepung oleh kaum yang berbuat syirik atau pelaku dosa. Allah I kisahkan tentang kekasih-Nya, Ibrahim ‘alaihissalam ketika Allah I berikan taufik kepadanya untuk bertauhid. Allah I berfirman, artinya : “Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan yang ada di langit dan di bumi, agar dia termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malam telah gelap, dia melihat bintang, lalu berkata, ‘Inilah rabbku’. Tetapi tatkala bintang itu tenggelam, dia berkata, ‘Aku tidak suka pada yang tenggelam’. Kemudian ketika dia melihat bulan terbit, dia berkata, ‘Inilah rabbku’. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata, ‘Sesungguhnya jika Rabbku tidak memberi petunjuk padaku, pasti aku termasuk orang-orang yang sesat. Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata, ‘Inilah rabbku, ini lebih besar’. Tatkala matahari itu terbenam, dia pun berkata, ‘Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan! Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang menyekutukan-Nya’.” (QS. Al-An’am: 75-79).

Hanya Allah I yang dapat memberikan hidayah dan melindungi seorang anak dari kejelekan. Oleh karena itu, semestinya orangtua menyadari bahwa tak boleh semata bersandar pada hasil usaha mereka. Namun mereka harus menengadahkan tangan dan memohon kepada Allah I.

Dalam Kitab-Nya yang mulia, Allah I menyebutkan doa seorang yang telah mencapai umur 40 tahun : “Wahai Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau karuniakan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku, dan untuk melakukan amal shalih yang Engkau ridhai, dan berikanlah kebaikan kepadaku dengan kebaikan anak keturunanku.” (QS. Al-Ahqaf: 15).

Tatkala dia berdoa untuk kebaikan dirinya, dia mendoakan pula anak keturunannya agar Allah I memberikan kebaikan pada segala keadaan mereka. Disebutkan dalam ayat ini bahwa kebaikan anak cucu akan kembali manfaatnya bagi kedua orangtua mereka, berdasarkan firman-Nya وَأَصْلِحْ لِي. (Taisirul Karimir Rahman, hal. 781).

Demikian yang dimohon oleh hamba-hamba Ar-Rahman dalam doa mereka : ”Rabbana hablana min azwajina qurrata a’yun waj’alna lilmuttaqina imama” (Wahai Rabb kami, anugerahkanlah bagi kami pasangan-pasangan hidup dan keturunan sebagai penyejuk mata kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa)” (QS. Al-Furqan: 74).

Nabiyullah Zakariyya ‘alaihissalam ketika memohon keturunan kepada Allah I pun meminta agar Allah I menjadikan anaknya nanti sebagai anak yang shalih, yang mendapatkan keridhaan Allah I. Beliau ‘alaihissalam berdoa :  “Maka anugerahkanlah bagiku dari sisi-Mu seorang anak yang akan mewarisiku dan mewarisi keluarga Ya’qub, dan jadikanlah dia, wahai Rabbku, seorang yang diridhai.” (QS. Maryam: 5-6).

Allah I pun mengabulkan permohonan Nabi Zakariyya ‘alaihissalam dengan memberikan seorang anak yang shalih. Allah I berfirman, artinya : “Wahai Zakariyya, sesungguhnya Kami memberimu kabar gembira dengan lahirnya seorang anak yang bernama Yahya, yang belum pernah Kami menciptakan seseorang yang serupa dengannya.” (QS. Maryam: 7).

Begitu pula Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, kekasih Allah I. Beliau ‘alaihissalam berdoa untuk kebaikan dirinya dan putranya Isma’il ‘alaihissalam beserta keturunan mereka tatkala membangun fondasi Baitullah. Beliau ‘alaihissalam berdoa: “Wahai Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang-orang yang berserah diri kepada-Mu dan jadikanlah pula keturunan kami sebagai orang-orang yang berserah diri kepada-Mu.” (QS. Al-Baqarah: 128).

Beliau ‘alaihissalam juga berdoa: “Wahai Rabbku, jadikanlah aku dan keturunanku sebagai orang-orang yang senantiasa mendirikan shalat. Wahai Rabbku, kabulkanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40).

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga memohon kepada I agar menjaga diri dan keturunan beliau dari kemaksiatan terbesar kepada Allah I, yaitu kesyirikan. Beliau ‘alaihissalam memohon : “Dan jauhkanlah diriku beserta anak keturunanku dari penyembahan berhala.” (QS. Ibrahim: 35).

Demikianlah yang dilakukan oleh para nabi. Mereka mendoakan anak cucu mereka agar meraih masa depan yang baik dan terhindar dari hal-hal yang membinasakan.
Rasulullah r, nabi dan rasul Allah I  yang paling mulia, mencontohkan pula hal ini. ‘Umar bin Abi Salamah, putra Ummu Salamah radhiyallahu ‘anhuma menuturkan :
“Ketika turun ayat ini kepada Nabi r: ‘Sesungguhnya Allah ingin menghilangkan dosa-dosa dari diri kalian wahai ahlul bait, dan menyucikan kalian sesuci-sucinya’ di rumah Ummu Salamah, maka Nabi r  memanggil Fathimah, Hasan dan Husain lalu menyelubungi mereka dengan kain, dan ‘Ali di belakang beliau lalu beliau selubungi pula dengan kain. Kemudian beliau r berdoa, ‘Ya Allah, mereka adalah ahlu baitku (keluarga), maka hilangkanlah dosa-dosa dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya’.” (HR. Tirmidzi. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).

Beliau r pernah pula mendoakan cucu beliau, Al-Hasan bin ‘Ali radhiyallahu 'anhuma. Diceritakan oleh Al-Bara` bin ‘Azib t : “Aku pernah melihat Nabi r dalam keadaan menggendong Al-Hasan di atas pundak beliau. Beliau r mengatakan, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku mencintainya, maka cintailah dia’.(HR. Bukhari dan Muslim).

Beliau r juga seringkali mendoakan anak-anak para shahabat radhiyallahu 'anhum. Usamah bin Zaid t menceritakan : “Beliau r pernah memelukku bersama Al-Hasan lalu mendoakan, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku mencintai mereka berdua, maka cintailah mereka’.” (HR. Bukhari).

Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengisahkan pula saat Rasulullah r mendoakannya, setelah dia mengambilkan air wudhu untuk beliau. Dengan doa Rasulullah r ini, Allah I memberikan ilmu yang luas kepadanya. Beliau menceritakan : “Pernah suatu ketika Rasulullah r masuk ke tempat buang air. Lalu kuletakkan air wudhu untuk beliau. (Ketika selesai) beliau pun bertanya, “Siapa yang meletakkan ini?” Lalu beliau r diberitahu (bahwa aku yang melakukannya). Kemudian beliau r mendoakan, ‘Ya Allah, berikanlah dia pemahaman terhadap agama(HR. Bukhari dan Muslim).

Dan, betul, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjadi salah seorang ulama di kalangan shahabat. Sampai-sampai ‘Umar ibnul Khaththab t menempatkannya bersama para tokoh shahabat ketika Ibnu ‘Abbas masih belia (Fathul Bari, 7/127).

Dalam kehidupan shahabat, ada Ummu Sulaim bintu Milhan radhiyallahu 'anha, ibu Anas bin Malik t, yang begitu besar keinginannya agar anaknya mendapatkan kehidupan yang baik di dunia dan akhirat. Dia serahkan sang anak untuk melayani Rasulullah r dan meminta doa beliau r untuk anaknya. Anas bin Malik t menceritakan : “Nabi r pernah masuk ke rumah kami dan di situ hanya ada aku, ibuku dan Ummu Haram bibiku. Ibuku mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, ini pelayan kecilmu. Doakanlah dia’. Kemudian beliau r  memohonkan untukku segala kebaikan, dan di akhir doa beliau untukku, beliau berkata, ‘Ya Allah, banyakkanlah harta dan anaknya, serta berikanlah barakah kepadanya” (HR. Muslim).

Dan, kembali, Allah I mengabulkan doa beliau r, hingga Anas bin Malik t mengatakan tentang dirinya, “Hartaku sungguh banyak, sementara anak cucuku mencapai sekitar seratus orang sekarang” (HR. Muslim).

Olehnya, apabila orangtua merasakan beban kesempitan dan kesusahan karena ulah anak-anak, hendaknya berlapang dada dan memaafkan, serta mendoakan agar si anak mendapatkan kebaikan. Tidak lain adalh doa kebaikan kepada mereka. Ya, doa kebaikan. Doa kebaikanlah yang semestinya dipanjatkan, bukan cacian atau bahkan doa kejelekan. Nabi r melarang kita mendoakan kejelekan terhadap anak-anak.

Bisa jadi, seseorang menepati saat dikabulkannya doa, hingga dikabulkan permohonannya. Ini banyak terjadi ketika marah. Saat marah, terkadang orang mendoakan kejelekan untuk dirinya, atau kadang pada anaknya. Dia katakan, ‘Semoga Allah I membinasakanmu!’ atau ‘Semoga Allah I memberikan balasan yang jelek kepadamu!’, ataupun yang semisal itu. Sampai-sampai ada yang mendoakan anaknya agar mendapat laknat! Nas`alullahal ‘afiyah. (Syarh Riyadhish Shalihin, 4/33).

Jabir t mengatakan bahwa Rasulullah r pernah bersabda : “Jangan mendoakan kejelekan bagi diri kalian, jangan berdoa kejelekan bagi anak-anak kalian, dan jangan pula berdoa kejelekan bagi harta kalian. Jangan sampai ia bertepatan dengan saat Allah yang jika diminta suatu permintaan saat itu pasti akan Dia kabulkan.” (HR. Muslim).

Akibatnya, bukan semakin baik si anak, namun semakin rusak. Semakin jauh dari kebenaran dan semakin suram pula masa depannya. Tak ada kebahagiaan hidupnya di dunia, terancam pula kehidupannya di akhirat kelak. Na’udzu billahi min dzalik.

Cukup sudah bagi kita, para orangtua, teladan yang termaktub dalam Kitab dan Sunnah. Semestinya kita menyadari, segala kebaikan anak kita, Allah I lah yang memberikannya.

Mari memulai untuk melazimi doa. Jangan pernah bosan untuk berdoa bagi mereka, anak-anak kita. Bisa jadi, keburukan perangai mereka, karena pelitnya kita mendoakannya. Tanamkan dalam benak kita sejak saat ini, “Doaku sepanjang masa untukmu anakku”.

Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...