November 12, 2014

Menjadi Perindu Malam

Malam adalah saat yang penuh dengan keheningan dan ketenangan. Malam adalah waktu yang tepat untuk beristirahat, menghilangkan kelelahan dan kepenatan menjalani hiruk pikuk dunia di siang hari.

Namun, di balik keheningan dan kesejukannya, al-Quran sebagai kalam Allah I dalam beberapa ayatNya ketika berbicara tentang malam, justru tidak berbicara tentang istirahat atau berdiam diri. Akan tetapi, berbicara tentang aktivitas, sebuah kerja dan amal yang agung. Apakah itu?

Di dalam al-Qur’an, Allah I memerintahkan mengisi sebagian malam dengan ibadah dalam berbagai varian aktivitasnya seperti membaca al-Quran, sujud, rukuk, bertasbih, berdzikir, beristighfar, bermunajat, dan berdoa, khususnya dengan qiyamullail.


Allah I berfirman, artinya : “Hai orang yang berselimut (Muhammad). Bangunlah (untuk shalat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil, (yaitu) separuhnya atau kurang dari sedikit dari itu. Atau lebih dari (seperdua) itu, dan bacalah Alquran dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat untuk khusyu dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.'” (QS. al-Muzzammil : 1-6).


Manusia yang merindukan ketinggian dan kejayaan, niscaya menjadi para perindu –perindu malam. Betapa tidak, mereka menjadikan malam sebagai sumber energi menghadapi perjuangan dan kelelahan siang. Energi jiwa dengan menguatkan ikatan dengan Allah I  Sang Penguasa. Energi raga dan pemikiran dengan menghirup kesegaran udaranya. Malam dijadikan madrasah untuk meneguhkan tekad, semangat, dan membuktikan kesungguhan yang meyakinkan.

Lihatlah sejarah generasi awal nan gemilang umat ini. Bagi mereka, malam dijadikan sebagai ajang pembuktian keikhlasan,kesungguhan pengabdian, kesungguhan beramal walau tak seorang manusia pun yang menyaksikannya. Pantas saja, bila para panglima perang Islam di zaman Rasulullah r memilih kualitas tentaranya dengan parameter seberapa besar perhatian mereka terhadap qiyamullail. Menyelami sejarah mereka, kita akan menemukan sebuah kerinduan yang 'aneh'. Kerinduan pada malam. Secara khusus kerinduan pada akhir malam. Suatu saat di mana mereka menuntaskan kerinduan yang bertalu-talu sepanjang hari.

Begitulah kerinduan pada malam, begitu menguasai jiwa-jiwa mereka. Kerinduan itu bahkan membawa mereka pada sebuah padang kesedihan bila malam-malam itu akan segera berakhir. ketika pagi akan menyingsing dalam hitungan beberapa saat saja. Salah seorang di antara mereka,  Imam Sufyan Ats-Tsaury rahimahullah pernah curhat kepada kita, "Bila saat malam tiba, aku sungguh merasa gembira dan bila saat pagi tiba, sungguh aku merasa sedih."

Masya Allah, itu curhat beliau rahimahullah.  Kalau kita, curhatnya seperti apa?

Qiyamullail dan Keutamaannya

Qiyamullail atau yang biasa juga disebut shalat tahajjud atau shalat malam adalah salah satu ibadah yang agung dan mulia yang disyari’atkan oleh Allah I sebagai ibadah nafilah (tambahan) atau ibadah sunnah.

Akan tetapi, bila seorang hamba mengamalkannya dengan penuh kesungguhan da mengharapkan pahala, maka ia memiliki banyak keutamaan.

Mereka yang menunaikannya, berarti telah mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana dalam firman-Nya, artinya : “Dan pada sebagian malam hari, shalat tahajjudlah kamu sebagai ibadah nafilah bagimu, mudah-mudahan Rabb-mu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra’:79).

Qiyamullail adalah shalat yang paling afdhal setelah shalat fardhu. Rasulullah r bersabda, artinya : “Shalat yang paling utama sesudah shalat fardhu adalah qiyamul lail (shalat di tengah malam)” (HR. Bukhari dan Muslim).

Tidak salah, jika shalat malam menjadi wasiat yang pertama kali Rasulullah r  sampaikan kepada penduduk Madinah ketika beliau memasukinya. Beliau r  bersabda, artinya : “Wahai manusia! Sebarkanlah salam, berilah makan, sambunglah silaturahmi, dan shalatlah di malam hari ketika orang lain sedang tidur, niscaya kalian akan masuk Surga dengan selamat.” [HR. Ahmad (V/451), at-Tirmidzi (no. 2485), Ibnu Majah (no. 1334, 3251), al-Hakim (III/13), ad-Darimi (I/340), dan selainnya].

Qiyamullail itu juga adalah kebiasaan orang-orang shalih dan kemuliaan bagi yang mengerjakannya.  Allah I berfirman, artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam taman-taman surga dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan oleh Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu (di dunia) adalah orang-orang yang berbuat kebaikan, (yakni) mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (QS. Adz-Dzariyat : 15-18).

Rasulullah r bersabda, artinya : “Hendaklah kalian melakukan shalat malam karena ia adalah kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian, ia sebagai amal taqarrub bagi kalian kepada Allah, menjauhkan dosa, dan penghapus kesalahan.” (HR. Tirmidzi (no. 3549), al-Hakim (I/308), dan al-Baihaqi (II/502).

Rasululah r juga bersabda, artinya : “Malaikat Jibril mendatangiku, lalu berkata, ‘Wahai Muhammad, hiduplah sekehendakmu karena kamu akan mati, cintailah seseorang sekehendakmu karena kamu akan berpisah dengannya, dan beramallah sekehendakmu karena kamu akan diberi balasan, dan ketahuilah bahwa kemuliaan seorang Mukmin itu ada pada shalat malamnya dan tidak merasa butuh terhadap manusia”. (HR. al-Hakim (IV/325), dishahihkannya dan disepakati adz-Dzahabi).

Sehingga, ketika ia telah menjadi kebiasaan, sebagian ulama memandang makruh hukumnya meninggalkan shalat malam bagi yang telah terbiasa mengerjakannya. Rasulullah r pernah menasihati Abdullah ibnu Umar t : “Wahai Abdullah, janganlah engkau menjadi seperti fulan, ia kerjakan shalat malam, lalu ia meninggalkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah r kemudian bersabda kepada sahabat beliau tersebut (Abdullah bin Umar t), artinya : “Sebaik-baik lelaki adalah Abdullah (yakni Abdullah bin Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhuma) seandainya ia shalat di waktu malam.” (HR Muslim). Sesudah nabi r bersabda demikian, ia tidak banyak tidur di waktu malam. Sebagian besar malamnya ia pergunakan untuk shalat dan memohon ampun kepada Allah Ta’ala. Terkadang ia melakukannya hingga menjelang sahur.

Barangsiapa yang menunaikan qiyamullail, dia akan terpelihara dari gangguan setan, dan akan bangun di pagi hari dalam keadan segar dan bersih jiwanya. Sebaliknya, barangsiapa yang meninggalkan qiyamullail, ia akan bangun di pagi hari dalam keadan jiwanya dililit kekalutan (kejelekan) dan malas untuk beramal shalih.

Suatu hari pernah diceritakan kepada Rasulullah r tentang orang yang tidur semalam suntuk tanpa mengingat untuk shalat, maka beliau r menyatakan: “Orang tersebut telah dikencingi setan di kedua telinganya.” (Muttafaqqun ‘alaih).

Rasulullah r juga menceritakan : “Setan mengikat pada tengkuk setiap orang diantara kalian dengan tiga ikatan (simpul) ketika kalian akan tidur. Setiap simpulnya ditiupkanlah bisikannya (kepada orang yang tidur itu): “Bagimu malam yang panjang, tidurlah dengan nyenyak.” Maka apabila (ternyata) ia bangun dan menyebut nama Allah Ta’ala (berdoa), maka terurailah (terlepas) satu simpul. Kemudian apabila ia berwudhu, terurailah satu simpul lagi. Dan kemudian apabila ia shalat, terurailah simpul yang terakhir. Maka ia berpagi hari dalam keadaan segar dan bersih jiwanya. Jika tidak (yakni tidak bangun shalat dan ibadah di malam hari), maka ia berpagi hari dalam keadaan kotor jiwanya dan malas (beramal shalih)” (Muttafaqqun ‘alaih).

Di malam hari itu ada satu waktu dimana Allah I akan mengabulkan doa orang yang berdoa. Allah I akan memberi sesuatu bagi orang yang meminta kepada-Nya, dan Allah I akan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya bila ia memohon ampunan kepadaNya. Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah r dalam sabda beliau, artinya : “Di waktu malam terdapat satu saat dimana Allah akan mengabulkan doa setiap malam.” (HR Muslim No. 757).

Dalam riwayat lain disebutkan oleh beliau r, artinya : “Rabb kalian turun setiap malam ke langit dunia tatkala lewat tengah malam, lalu Ia berfirman: “Adakah orang yang berdoa agar Aku mengabulkan doanya?” (HR. Bukhari 3/25-26).

Dalam riwayat lain juga disebutkan, bahwa Allah I juga berfirman, artinya : “Barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku mengampuninya, siapa yang memohon (sesuatu) kepada-Ku, niscaya Aku pun akan memberinya, dan siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkannya.” Hal ini terus terjadi sampai terbitnya fajar” (Tafsir Ibnu Katsir 3/54).

Kesungguhan Salafus-Shalih Menegakkan Qiyamullail

Disebutkan dalam sebuah riwayat, bahwa tatkala orang-orang sudah terlelap dalam tidurnya, Ibnu Mas’ud t justru mulai bangun untuk shalat tahajjud, sehingga terdengar seperti suara dengungan lebah (yakni Al-Qur’an yang beliau baca dalam shalat lailnya seperti dengungan lebah, karena beliau membaca dengan suara pelan tetapi bisa terdengar oleh orang yang ada disekitarnya), sampai menjelang fajar menyingsing.

Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah ditanya : “Mengapa orang-orang yang suka bertahajjud itu wajahnya paling bercahaya dibanding yang lainnya?” Beliau rahimahullah menjawab : “Karena mereka suka berduaan bersama Allah Yang Maha Rahman, maka Allah menyelimuti mereka dengan cahaya-Nya.”

Abu Sulaiman rahimahullah berkata: “Malam hari bagi orang yang setia beribadah di dalamnya, itu lebih nikmat daripada permainan mereka yang suka hidup bersantai-santai. Seandainya tanpa adanya malam, sungguh aku tidak suka tinggal di dunia ini.”

Al-Imam Ibnu Al-Munkadir rahimahullah menyatakan : “Bagiku, kelezatan dunia ini hanya ada pada tiga perkara, yakni qiyamul lail, bersilaturrahmi dan shalat berjamaah.”

Al-Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah juga pernah menegaskan : “Sesungguhnya orang yang telah melakukan dosa, akan terhalang dari qiyamullail.” Ada seseorang yang bertanya: “Aku tidak dapat bangun untuk untuk qiyamullail, maka beritahukanlah kepadaku apa yang harus kulakukan?” Beliau rahimahullah menjawab :
“Jangan engkau bermaksiat (berbuat dosa) kepadaNya di waktu siang, niscaya Dia akan membangunkanmu di waktu malam.”(Kitab Tazkiyyatun Nufus, karya Dr. Ahmad Farid).
Sungguh, beruntunglah orang-orang yang telah diberi taufik oleh Allah I hingga ia mampu merasakan kelezatannya. Sungguh, merugilah orang-orang yang dijauhkan dari taufikNya hingga ia terus saja terlelap melewati malam-malamnya tanpa munajat dan khalwat (berdua-dua-an) bersama Rabbnya.

Semoga, kita semua termasuk di antara hamba-hamba-Nya yang diberi keutamaan menunaikan qiyamullail secara istiqamah. Menjadi perindu-perindu malamNya. Wallahu waliyyut-taufiq. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...