Baru saja,
presiden baru Indonesia beserta seluruh menterinya dilantik. Presiden dan para pembantunya
adalah pemimpin kita. Semua adalah ketentuan Allah I dengan
hikmahNya yang agung. Kepemimipinan dan kekuasaan adalah hak Allah I
untuk
menganugerahkannya kepada hamba-hambaNya yang Ia pilih. Allah I berfirman, artinya : “Katakanlah:
"Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang
yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau
kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang
yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya
Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS. Al-Baqarah
: 26 ).
Semua kita
sepakat, kepemimpinan yang diharapkan adalah kepemimpinan yang dapat membawa
kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyatnya. Terlebih lagi bagi kemashlahatan
agama ini. Namun, ketika kita berhajat untuk itu, pertanyaan yang muncul
kemudian ; Apakah yang dapat kita berikan kepada para pemimpin untuk mewujudkan
itu semua? Apa dukungan kita kepada mereka? Sebenarnya, tidak perlu banyak
Saudaraku. Pemberian yang dapat kita berikan kepada mereka adalah doa. Ya, cuma
doa, beberapa kalimat yang kita panjatkan kehadirat Sang Raja Diraja Allah I
kepada
mereka semua. Tentu saja, dengan niat ikhlas hanya untuk mengharapkan ridhaNya.
Nah, pada
kesempatan ini kami akan menuliskan beberapa poin-poin tentang wajibnya taat
kepada para pemimpin dan mendoakan kebaikan kepada mereka. Selamat membaca,
semoga bermanfaat.
Wajibnya Taat
Kepada Pemimpin
Allah I
memerintahkan
kepada setiap muslim agar taat kepada pemimpin sebagaimana dalam firmanNya,
artinya : “Hai orang-orang yang
beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya) dan ulil amri di antara kalian”
(QS. An-Nisa : 59).
Waliyyul amri
(ulil amri) yang dimaksud dalam nash (dalil) di atas adalah sebagaimana
dikatakan oleh Imam Ahmad rahimahullah, "Tahukah kamu apakah imam
itu? Yaitu kaum muslimin berkumpul atasnya, dan semua mengatakan, “Inilah Imam
(pemimpin)." (Lihat Masail al-Imam Ahmad 2/185 Riwayat
Ibnu Hani).
Demikian juga,
Rasulullah r
memerintahkan agar selalu taat kepada pemimpin. Sebagaimana dalam hadits yang
diriwayatkan dari Ubadah bin Shamit t bahwasanya
dia berkata : “Rasulullah menyeru kami membai'atnya. Di antara yang diambil
atas kami bahwa kami berbai'at untuk mendengar dan taat dalam keadaan yang
lapang dan sempit, dalam keadaan sulit dan mudah, dan atas sikap egois kami,
dan agar kami tidak merebut kekuasaan
dari pemiliknya. Beliau r
bersabda, “Kecuali jika kalian melihat kekufuran yang jelas dan nyata yang
kalian punya bukti di hadapan Allah” (Shahih Muslim:1709).
Dalam
kesempatan lainnya, Nabi r
juga memerintahkan, “Wajib bagi seorang muslim untuk mendengar dan taat
(kepada penguasa) dalam perkara yang ia senangi dan ia benci kecuali apabila
diperintah (dalam hal) kemaksiatan. Apabila diperintah kemaksiatan maka tidak
perlu mendengar dan taat” (HR. Bukhari no. 7144 dan Muslim no. 1839).
Imam Ibnu
Baththal rahimahullah berkata: "Para fuqaha (ahli fiqih) telah sepakat atas wajibnya taat
kepada pemimpin yang telah menguasai keadaan, wajibnya berjihad bersamanya.
Bahwasanya ketaatan kepadanya lebih baik daripada memberontak kepadanya karena
dengan ketaatan akan bisa menjaga
tertumpahnya darah dan menenangkan keadaan. Mereka tidak mengecualikan dari hal
ini kecuali jika telah terjadi kekufuran yang jelas dari penguasa” (Lihat
Fathul Bari 13/7).
Larangan
Mencela Waliyyul Amri dan Sabar Atas Kezhalimannya
Melanggar
kehormatan para waliyyul amri dan mencaci mereka adalah kesalahan yang besar
dan dosa yang mungkar. Syari'at Islam telah melarang hal ini dan mencela
pelakunya. Mari kita simak hadits-hadits berikut ini.
Diriwayatkan
dari Anas bin Malik t bahwasanya dia berkata, “Telah
melarang kami para pembesar kami dari para sahabat Rasulullah r, mereka
berkata: “Janganlah kalian mencaci para penguasa kalian dan janganlah curang
kepada mereka dan membenci mereka, dan bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah
karena sesungguh perkara itu adalah dekat." (Diriwayatkan
oleh Ibnu Abi Ashim di dalam As-Sunnah 2/488 dan dishahihkan oleh Syaikh
al-Albani rahimahullah).
Diriwayatkan
dari Hudzaifah bin Yaman t bahwasanya
Rasulullah r
bersabda : “Akan datang sepeninggalku para pemimpin yang tidak mengambil
petunjuk dengan petunjukku dan tidak mengambil sunnah dengan sunnahku, dan akan
tegak di tengah-tengah kalian para laki-laki yang hati mereka adalah hati setan
di dalam jasad manusia”. Saya (Hudzaifah) berkata, “Bagaimana saya berbuat
jika saya mendapat hal itu?" Rasulullah r bersabda, “Hendaknya
engkau mendengar dan taat kepada penguasa walaupun dia memukul punggungmu dan
mengambil hartamu” (Shahih Muslim 6/20).
Diriwayatkan
dari Abu Bakrah t bahwasanya
Rasulullah r
bersabda : “Penguasa adalah naungan
Allah di muka bumi, barang siapa
menghinakannya maka Allah akan menghinakannya dan barang siapa memuliakannya
maka Allah akan memuliakannya." (HR. Ibnu Abi Ashim di dalam As-Sunnah
2/492 dan dishahihkan oleh Syaikh
al-Albani
rahimahullah).
Maka, telah
jelas bagi kita, mencaci pemimpin apalagi melaknatnya adalah terlarang.
Mencaci, mencela, apalagi melaknat pemimpin bukanlah ciri Ahlu Sunnah
(kaum muslimin). Imam Al- Barbahari rahimahullah berkata : “Jika engkau
melihat seseorang mendoakan kejelekan bagi pemerintah maka ketahuilah bahwa ia
adalah pengikut hawa nafsu. Dan jika engkau mendengar seseorang mendoakan
kebaikan bagi pemerintah maka ketahuilah bahwa ia adalah Ahlus Sunnah, Insya
Allah.” (Lihat
Kitab Syarhus Sunnah halaman 116-117).
Nasehat dan
Doa Kepada Pemimpin
Nasehat kepada
para pemimpin, baik ketika mereka terjatuh ke dalam kesalahan atau tidak,
adalah sebuah keniscayaan. Nasehat
kepada pemimpin kaum muslimin adalah dengan membantu mereka dalam kebenaran,
menaati mereka dalam hal yang ma'ruf, mengingatkan mereka dalam kebenaran,
menasihati mereka dengan cara yang halus dan lembut, menjauhi perlawanan kepada
mereka, mendo'akan kebaikan kepada mereka dan mengajak orang lain untuk
melakukan hal yang sama. (Lihat Kitab Shiyanatu Shahih
Muslim 1/221-222). Jika tidak mampu melakukan itu semua,
jangan lupa untuk mendoakan mereka. Itulah yang nampak mudah bagi setiap kita.
Jika ada yang
bertanya, mengapa doa kepada pemimpin menjadi penting dan hendaknya tidak
dilupakan? Mari kita simak perkataan yang indah dari Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah,
beliau berkata : “Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, aku akan
tujukan doa tersebut pada pemimpinku.” Ada yang bertanya pada Fudhail, “Mengapa
bisa begitu?” Ia menjawab, “Jika aku tujukan doa tersebut pada diriku saja,
maka itu hanya bermanfaat untukku. Namun jika aku tujukan untuk pemimpinku,
maka rakyat dan negara akan menjadi baik.” Sungguh, jawaban yang sangat brilian
dan tepat. Mari kita renungkan.
Apalagi, jika
ternyata waliyyul amri mendengar dan mengetahui bahwa rakyatnya mendoakan
kebaikan kepadanya, maka tentu saja dia akan senang sekali dan hal ini
membuatnya mencintai rakyatnya dan mengupayakan apa saja yang membahagiakan
mereka. Ketika Imam Ahmad rahimahullah menulis surat kepada Khalifah
al-Mutawakkil, maka sebelum diserahkan kepadanya beliau memusyawarahkannya
dengan Ibnu Khaqan (seorang menteri al-Mutawakkil). Ibnu Khaqan berkata kepada
beliau, “Seyogyanya surat ini ditambah degan doa kebaikan untuk khalifah karena
dia senang dengannya." Maka Imam Ahmad menambahkannya dengan do'a kebaikan
kepada khalifah. (Lihat Kitab As-Sunnah oleh Abdullah bin Ahmad bin
hambal 1/133-134).
Maka, kaum
muslimin yang ingin menegakkan kewajiban nasehat dan menempuh jalan para
pendahulu (salaf) yang shalih, sepantasnyalah bagi mereka untuk mengkhususkan
bagi waliyyul amri, do'a do'a
kebaikan pada sebagian doa-doa mereka. Duhai, seandainya orang-orang yang masih
saja asyik menjatuhkan kehormatan para waliyyul amri berhenti dari apa yang
mereka lakukan dan menggantinya dengan doa-doa kebaikan, maka tentu ini lebih
baik, ketimbang menyibukan diri dengan
pelanggaran-pelanggaran atas kehormatan pemimpin yang tidak membawa perbaikan
yang justru semakin menyesakan dada dan memperbanyak dosa. Al-Hafizh Abu Ishaq
As-Sabi'i rahimahullah berkata : “Tidaklah suatu kaum mencaci penguasa
mereka kecuali mereka diharamkan dari kebaikan." (Diriwayatkan
oleh Ibnu Abdil Barr di dalam At-Tamhid 21/287).
Oleh karena
itu, sekali lagi, mari kita doakan mereka. Doakan agar mereka dapat mengemban
amanah dengan baik. Mereka baik, insya Allah kita juga yang akan baik.
“Ya Allah, jadikanlah
pemimpin kami orang yang baik. Berikanlah taufik kepada mereka untuk
melaksanakan perkara terbaik bagi diri mereka, bagi Islam, dan kaum muslimin.
Ya Allah, bantulah mereka untuk menunaikan tugasnya, sebagaimana yang Engkau
perintahkan, wahai Rabb semesta alam. Ya Allah, jauhkanlah mereka dari teman
dekat yang jelek dan teman yang merusak. Juga dekatkanlah orang-orang yang baik
dan pemberi nasihat yang baik kepada mereka, wahai Rabb semesta alam. Ya Allah,
jadikanlah pemimpin kaum muslimin sebagai orang yang baik, di mana pun mereka
berada.”
Wallahu a’lam.
Maraji’:
Majalah Al-Furqon Edisi 5 Thn. 11 1432/2011 ; Majalah
Salafy Edisi XXX Thn. 1420/1999 ; http://rumaysho.com/jalan-kebenaran/doa-untuk-pemimpin-negeri-7206; dan lainnya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar