Oktober 31, 2014

Mendoakan Pemimpin

Baru saja, presiden baru Indonesia beserta seluruh menterinya dilantik. Presiden dan para pembantunya adalah pemimpin kita. Semua adalah ketentuan Allah I dengan hikmahNya yang agung. Kepemimipinan dan kekuasaan adalah hak Allah I untuk menganugerahkannya kepada hamba-hambaNya yang Ia pilih. Allah I berfirman, artinya : “Katakanlah: "Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS. Al-Baqarah : 26 ).


Semua kita sepakat, kepemimpinan yang diharapkan adalah kepemimpinan yang dapat membawa kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyatnya. Terlebih lagi bagi kemashlahatan agama ini. Namun, ketika kita berhajat untuk itu, pertanyaan yang muncul kemudian ; Apakah yang dapat kita berikan kepada para pemimpin untuk mewujudkan itu semua? Apa dukungan kita kepada mereka? Sebenarnya, tidak perlu banyak Saudaraku. Pemberian yang dapat kita berikan kepada mereka adalah doa. Ya, cuma doa, beberapa kalimat yang kita panjatkan kehadirat Sang Raja Diraja Allah I kepada mereka semua. Tentu saja, dengan niat ikhlas hanya untuk mengharapkan ridhaNya.

Nah, pada kesempatan ini kami akan menuliskan beberapa poin-poin tentang wajibnya taat kepada para pemimpin dan mendoakan kebaikan kepada mereka. Selamat membaca, semoga bermanfaat.

Wajibnya Taat Kepada Pemimpin

Allah I memerintahkan kepada setiap muslim agar taat kepada pemimpin sebagaimana dalam firmanNya, artinya :  “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya) dan ulil amri di antara kalian” (QS. An-Nisa : 59).

Waliyyul amri (ulil amri) yang dimaksud dalam nash (dalil) di atas adalah sebagaimana dikatakan oleh Imam Ahmad rahimahullah, "Tahukah kamu apakah imam itu? Yaitu kaum muslimin berkumpul atasnya, dan semua mengatakan, “Inilah Imam (pemimpin)." (Lihat Masail al-Imam Ahmad 2/185 Riwayat Ibnu Hani).
Demikian juga, Rasulullah r memerintahkan agar selalu taat kepada pemimpin. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan dari Ubadah bin Shamit t bahwasanya dia berkata : “Rasulullah menyeru kami membai'atnya. Di antara yang diambil atas kami bahwa kami berbai'at untuk mendengar dan taat dalam keadaan yang lapang dan sempit, dalam keadaan sulit dan mudah, dan atas sikap egois kami, dan agar kami tidak  merebut kekuasaan dari pemiliknya. Beliau r bersabda, “Kecuali jika kalian melihat kekufuran yang jelas dan nyata yang kalian punya bukti di hadapan Allah” (Shahih Muslim:1709).

Dalam kesempatan lainnya, Nabi r juga memerintahkan, “Wajib bagi seorang muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa) dalam perkara yang ia senangi dan ia benci kecuali apabila diperintah (dalam hal) kemaksiatan. Apabila diperintah kemaksiatan maka tidak perlu mendengar dan taat(HR. Bukhari no. 7144  dan Muslim no. 1839).

Imam Ibnu Baththal rahimahullah berkata: "Para fuqaha  (ahli fiqih) telah sepakat atas wajibnya taat kepada pemimpin yang telah menguasai keadaan, wajibnya berjihad bersamanya. Bahwasanya ketaatan kepadanya lebih baik daripada memberontak kepadanya karena dengan ketaatan akan  bisa menjaga tertumpahnya darah dan menenangkan keadaan. Mereka tidak mengecualikan dari hal ini kecuali jika telah terjadi kekufuran yang jelas dari penguasa” (Lihat Fathul Bari 13/7).

Larangan Mencela Waliyyul Amri dan Sabar Atas Kezhalimannya
Melanggar kehormatan para waliyyul amri dan mencaci mereka adalah kesalahan yang besar dan dosa yang mungkar. Syari'at Islam telah melarang hal ini dan mencela pelakunya. Mari kita simak hadits-hadits berikut ini.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik t bahwasanya dia berkata, “Telah melarang kami para pembesar kami dari para sahabat Rasulullah r, mereka berkata: “Janganlah kalian mencaci para penguasa kalian dan janganlah curang kepada mereka dan membenci mereka, dan bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah karena sesungguh perkara itu adalah dekat." (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ashim di dalam As-Sunnah 2/488 dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah).

Diriwayatkan dari Hudzaifah bin Yaman t bahwasanya Rasulullah r bersabda : “Akan datang sepeninggalku para pemimpin yang tidak mengambil petunjuk dengan petunjukku dan tidak mengambil sunnah dengan sunnahku, dan akan tegak di tengah-tengah kalian para laki-laki yang hati mereka adalah hati setan di dalam jasad manusia”. Saya (Hudzaifah) berkata, “Bagaimana saya berbuat jika saya mendapat hal itu?" Rasulullah r bersabda, “Hendaknya engkau mendengar dan taat kepada penguasa walaupun dia memukul punggungmu dan mengambil hartamu” (Shahih Muslim 6/20).

Diriwayatkan dari Abu Bakrah t bahwasanya Rasulullah r bersabda :  “Penguasa adalah naungan Allah di  muka bumi, barang siapa menghinakannya maka Allah akan menghinakannya dan barang siapa memuliakannya maka Allah akan memuliakannya." (HR.  Ibnu Abi Ashim di dalam As-Sunnah 2/492 dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah).
Maka, telah jelas bagi kita, mencaci pemimpin apalagi melaknatnya adalah terlarang. Mencaci, mencela, apalagi melaknat pemimpin bukanlah ciri Ahlu Sunnah (kaum muslimin). Imam Al- Barbahari rahimahullah berkata : “Jika engkau melihat seseorang mendoakan kejelekan bagi pemerintah maka ketahuilah bahwa ia adalah pengikut hawa nafsu. Dan jika engkau mendengar seseorang mendoakan kebaikan bagi pemerintah maka ketahuilah bahwa ia adalah Ahlus Sunnah, Insya Allah.” (Lihat Kitab Syarhus Sunnah halaman 116-117).

Nasehat dan Doa Kepada Pemimpin

Nasehat kepada para pemimpin, baik ketika mereka terjatuh ke dalam kesalahan atau tidak, adalah sebuah keniscayaan.  Nasehat kepada pemimpin kaum muslimin adalah dengan membantu mereka dalam kebenaran, menaati mereka dalam hal yang ma'ruf, mengingatkan mereka dalam kebenaran, menasihati mereka dengan cara yang halus dan lembut, menjauhi perlawanan kepada mereka, mendo'akan kebaikan kepada mereka dan mengajak orang lain untuk melakukan hal yang sama. (Lihat Kitab Shiyanatu Shahih Muslim 1/221-222). Jika tidak mampu melakukan itu semua, jangan lupa untuk mendoakan mereka. Itulah yang nampak mudah bagi setiap kita.

Jika ada yang bertanya, mengapa doa kepada pemimpin menjadi penting dan hendaknya tidak dilupakan? Mari kita simak perkataan yang indah dari Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah, beliau berkata : “Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, aku akan tujukan doa tersebut pada pemimpinku.” Ada yang bertanya pada Fudhail, “Mengapa bisa begitu?” Ia menjawab, “Jika aku tujukan doa tersebut pada diriku saja, maka itu hanya bermanfaat untukku. Namun jika aku tujukan untuk pemimpinku, maka rakyat dan negara akan menjadi baik.” Sungguh, jawaban yang sangat brilian dan tepat. Mari kita renungkan.

Apalagi, jika ternyata waliyyul amri mendengar dan mengetahui bahwa rakyatnya mendoakan kebaikan kepadanya, maka tentu saja dia akan senang sekali dan hal ini membuatnya mencintai rakyatnya dan mengupayakan apa saja yang membahagiakan mereka. Ketika Imam Ahmad rahimahullah menulis surat kepada Khalifah al-Mutawakkil, maka sebelum diserahkan kepadanya beliau memusyawarahkannya dengan Ibnu Khaqan (seorang menteri al-Mutawakkil). Ibnu Khaqan berkata kepada beliau, “Seyogyanya surat ini ditambah degan doa kebaikan untuk khalifah karena dia senang dengannya." Maka Imam Ahmad menambahkannya dengan do'a kebaikan kepada khalifah. (Lihat Kitab As-Sunnah oleh Abdullah bin Ahmad bin hambal 1/133-134).

Maka, kaum muslimin yang ingin menegakkan kewajiban nasehat dan menempuh jalan para pendahulu (salaf) yang shalih, sepantasnyalah bagi mereka untuk mengkhususkan bagi  waliyyul amri, do'a do'a kebaikan pada sebagian doa-doa mereka. Duhai, seandainya orang-orang yang masih saja asyik menjatuhkan kehormatan para waliyyul amri berhenti dari apa yang mereka lakukan dan menggantinya dengan doa-doa kebaikan, maka tentu ini lebih baik, ketimbang  menyibukan diri dengan pelanggaran-pelanggaran atas kehormatan pemimpin yang tidak membawa perbaikan yang justru semakin menyesakan dada dan memperbanyak dosa. Al-Hafizh Abu Ishaq As-Sabi'i rahimahullah berkata : “Tidaklah suatu kaum mencaci penguasa mereka kecuali mereka diharamkan dari kebaikan." (Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr di dalam At-Tamhid 21/287).

Oleh karena itu, sekali lagi, mari kita doakan mereka. Doakan agar mereka dapat mengemban amanah dengan baik. Mereka baik, insya Allah kita juga yang akan baik.

“Ya Allah, jadikanlah pemimpin kami orang yang baik. Berikanlah taufik kepada mereka untuk melaksanakan perkara terbaik bagi diri mereka, bagi Islam, dan kaum muslimin. Ya Allah, bantulah mereka untuk menunaikan tugasnya, sebagaimana yang Engkau perintahkan, wahai Rabb semesta alam. Ya Allah, jauhkanlah mereka dari teman dekat yang jelek dan teman yang merusak. Juga dekatkanlah orang-orang yang baik dan pemberi nasihat yang baik kepada mereka, wahai Rabb semesta alam. Ya Allah, jadikanlah pemimpin kaum muslimin sebagai orang yang baik, di mana pun mereka berada.”

Wallahu a’lam.

Maraji’:
Majalah Al-Furqon Edisi 5 Thn. 11 1432/2011 ; Majalah Salafy Edisi XXX Thn. 1420/1999 ; http://rumaysho.com/jalan-kebenaran/doa-untuk-pemimpin-negeri-7206; dan lainnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...