November 19, 2014

BBM Naik, Sabarlah!

Kita semua tahu dan sadar bahwa kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) mungkin akan membawa kesulitan bagi rakyat banyak. Mengapa? Ya, sederhana saja. Jika BBM naik, semua kebutuhan pokok akan ikut naik. Maka, “semakin “tercekik”lah rakyat yang sebagian besarnya berada di bawah garis kemiskinan”, begitu katanya.

Demikianlah kebanyakan orang hari ini dalam menghadapi masalah ini. Semua ingin agar suaranya didengar oleh penguasa. Kebijakan ini semoga berubah, itu harapannya. Namun, adakah yang berpikir, mengapa pemimpin kita memilih jalan untuk menaikkan BBM? Adakah yang mau merenung, apa betul pemimpin kita ingin menyengsarakan bahkan membunuh rakyatnya sendiri? Wallahul Musta’an.


Taat Kepada Penguasa

Inilah prinsip yang menjadi warisan para pendahulu (salaf) kita yang shalih, orang-orang yang meniti jalan para sahabat Nabi radhiallahu anhum. Mari kita renungkan hadits dari  Rasulullah r, artinya : “Saya memberi wasiat kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah ‘azza wa jalla, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintah kalian seorang hamba sahaya (budak) dari Habasyah” [HR. Abu Daud dan Tirmidzi. Imam Tirmidzi : hadits ini hasan shahih].

Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab rahimahulllah, sebagian ulama menyebutkan bahwa penyebutan budak Habasyah dalam hadits di atas adalah permisalan saja. Sebenarnya, tidak mungkin seorang budak menjadi pemimpin [Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 120].

Saking besarnya hak pemimpin untuk ditaati, sampai pun jika pemimpin itu berasal dari budak (meskipun ini tidak mungkin), maka tetap harus ditaati. Wallahu a’lam.

Bahkan, jika sekiranya penguasa itu berbuat zhalim, kita pun wajib taat kepadanya. Rasulullah r bersabda, artinya : “Nanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak mendapat petunjukku (dalam ilmu) dan tidak pula melaksanakan sunnahku (dalam amal). Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia. “ Sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?” Beliau r  bersabda, artinya : ”Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka” [HR. Muslim].

Lihatlah, bukankah pemimpin yang disebutkan dalam hadits ini adalah pemimpin yang zhalim? Sampai ia menyiksa rakyatnya sendiri, memukul dan mengambil harta mereka? Ini jelas kezhaliman. Namun,  lihatlah apa kata Rasulullah r , “Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka”.

Subhanallah. Prinsip ini mungkin dilupakan oleh sebagian kita. Sebagian kita tidak bersabar dengan kebijakan kenaikan BBM. Seharusnya, ketaatan itu tetap ada, meskipun penguasa tersebut melakukan kebijakan yang nampak “zhalim” dengan menaikkan harga BBM misalnya. Wallahul musta’an.

Ketaatan Itu Tidaklah Mutlak

Namun, kita pun harus ingat. Ketataan itu tidaklah mutlak. Menaati mereka bersifat muqayyad (terikat). Ya, terikat hanyalah dalam yang ma’ruf, bukan perkara maksiat.

Kita dapat memahami hal ini dari firman Allah I, artinya : “Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” [QS. An Nisa’: 59].

Para ulama menerangkan bahwa kata ulil amri (penguasa) dalam ayat ini tidak diulang dengan kata “أَطِيعُوا” (athii’uw/taatilah). Ini menunjukkan bahwa ketaatan pada penguasa itu ada selama bersesuaian dengan ketaatan kepada Allah I  dan Rasul-Nya r .

Dalam haditsnya, Rasulullah r bersabda,artinya : “Tidak ada kewajiban ta’at dalam rangka bermaksiat (kepada Allah). Ketaatan hanyalah dalam perkara yang ma’ruf (bukan maksiat)” [HR. Bukhari].

Rasulullah r juga bersabda, artinya  : “Seorang muslim wajib mendengar dan taat dalam perkara yang dia sukai atau benci selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat. Apabila diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar dan taat” [HR. Bukhari].

Maslahat Taat Kepada Penguasa

Ketahuilah, banyak maslahat yang dapat kita peroleh ketika kita menaati keputusan penguasa. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah berkata, “Mereka (penguasa) mengurusi lima perkara untuk kemaslahatan kita :  shalat Jum’at, shalat jama’ah, shalat ‘ied, penjagaan tabal batas dan hukum had (yaitu hukuman yang ditegakkan kepada para pelaku maksiat seperti pezina dengan hukuman rajam, pencuri dengan hukuman potong tangan dan lainnya). Semua perkara tersebut tidaklah bisa tegak kecuali dengan penegakan dari penguasa meskipun mereka suka melampaui batas dan berbuat zhalim. Demi Allah, maslahat ketika taat pada penguasa itu lebih besar dibanding mafsadat (kerusakan) yang ditimbulkan. Menaati penguasa adalah suatu keselamatan dan berlepas diri dari mereka adalah suatu kekufuran (kebinasaan)” [Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 117].

Ibnu Abil Izz rahimahullah berkata, “Hukum mentaati pemimpin adalah wajib, walaupun mereka berbuat zhalim (kepada kita). Jika kita keluar dari menaati mereka maka akan timbul kerusakan yang lebih besar dari kezhaliman yang mereka perbuat. Bahkan bersabar terhadap kezhaliman mereka dapat melebur dosa-dosa dan akan melipat gandakan pahala. Allah Ta’ala tidak menjadikan mereka berbuat zhalim selain disebabkan karena kerusakan yang ada pada diri kita juga. Ingatlah, yang namanya balasan sesuai dengan amal perbuatan yang dilakukan (al-jaza’ min jinsil ‘amal). Oleh karena itu, hendaklah kita bersungguh-sungguh dalam istighfar dan taubat serta berusaha mengoreksi amalan kita” [Syarh Aqidah Ath Thahawiyah, hal. 381, terbitan Darul ‘Aqidah].

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Mendengar dan menaati penguasa kaum muslimin mengandung maslahat dunia, mudahnya urusan hamba, dan bisa menolong hamba dalam menaati Allah” [Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 117].

Taruhlah jika menaikkan BBM itu termasuk “kezhaliman”, tidak ada pilihan lain, sekali lagi kita tetap taat. Tapi bagaimana jika tidak? Kami berperasangka baik bahwa pemerintah sudah menimbang-nimbang adanya maslahat di balik itu semua. Itu pun insya Allah telah melalui kajian ilmiah yang kita pun mungkin tidak memahaminya. Kami yakin, tidak mungkin pemimpin  berniat untuk menyengsarakan rakyatnya sendiri. Itulah perasangka baik kami. Wallahu a’lam.

Tidak Berdemonstrasi

Sudah menjadi ma’ruf (kita ketahui bersama) dan lazim, “demonstrasi” sering dilakukan oleh sebagian saudara kita, mahasiswa. Sudah menjadi ma’ruf juga bahwa demonstrasi tersebut seringkali mengakibatkan jalanan macet, terjadi kerusuhan, korban jiwa, luka-luka, capek menghabiskan tenaga serta tidak pula mendapatkan keuntungan. Semuanya adalah kerugian bagi masyarakat luas. Mungkin, tidak berlebihan jika kita mengatakan bahwa kerusakan dari demonstrasi lebih besar dibanding kita mau menerima kenaikan BBM.

Olehnya, nasehat kita kepada sebagian saudara-saudara kita adalah berhentilah berdemostrasi!

Tidak Menyebarkan ‘Aib Penguasa

Ketika kita berbuat salah, kemudian kita ditegur di depan orang banyak, apakah kita bisa menerima nasehat semacam itu? Kemungkinan (besar) jawabannya adalah tidak. Begitu halnya dengan penguasa. Ketika ia dijelek-jelekkan di depan khalayak, disematkan kepada mereka gelar-gelar yang tidak enak didengar telinga, pastilah tidak ada penguasa yang bisa menerima nasehat semacam itu.
Sungguh, syariat Islam yang mulia telah mengatur bahwa nasehat yang terbaik adalah nasehat “empat mata”, bukan di khalayak ramai.

Rasulullah r bersabda, artinya : “Barangsiapa yang hendak menasihati pemerintah dengan suatu perkara maka janganlah ia tampakkan di khalayak ramai. Akan tetapi hendaklah ia mengambil tangan penguasa (raja) dengan empat mata. Jika ia menerima maka itu (yang diinginkan) dan kalau tidak, maka sungguh ia telah menyampaikan nasihat kepadanya. Dosa bagi dia dan pahala baginya (orang yang menasihati).” [HR. Ahmad 3: 403. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dilihat dari jalur lain].

Bersabarlah, wahai Saudaraku!

Solusi utama untuk menghadapi kenaikan BBM ini adalah berperasangka baik kepada penguasa dan bersabarlah. Bukankah  Nabi r  pernah mengingatkan kita, artinya :  “Barangsiapa melihat sesuatu pada pemimpinnya sesuatu yang tidak ia sukai, maka bersabarlah. Karena barangsiapa yang melepaskan diri satu jengkal saja dari jama’ah, maka ia mati seperti matinya jahiliyah [HR. Bukhari dan Muslim].

Bersabar, tidaklah ada batasnya. Perkataan sebagian orang “sabar itu ada batasnya”, itu keliru. Mengapa? Hal ini karena pahala bagi mereka yang mampu bersabar itu tidak terhingga, tidak ada batasnya, bahkan hingga surga. Derajat pahala terus ada sesuai dengan tingkat dan derajat kesabaran.

Jika kita tidak bersabar terhadap keputusan penguasa, kita akan kehilangan pahala besar berupa surga bagi orang yang mau bersabar.
Ingatlah janji Allah, “Sesungguhnya orang-orang yang bersabar, ganjaran bagi mereka adalah tanpa hisab (tak terhingga)” [QS. Az Zumar: 10].

Imam Al-Auza’i rahimahullah mengatakan bahwa ganjarannya tidak bisa ditakar dan ditimbang. Ibnu Juraij rahimahullah mengatakan bahwa pahala bagi orang yang bersabar tidak bisa dihitung sama sekali, akan tetapi ia akan diberi tambahan dari itu. Maksudnya, pahala mereka tak terhingga. Sedangkan As- Sudi rahimahullah mengatakan bahwa balasan bagi orang yang bersabar adalah surga [Lihat Tafsir Al-Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 7: 89].

Berpikir Rasional, Cari Solusi

Setelah kita bersabar, marilah mencoba untuk mencari solusi. Kami lebih cenderung dengan solusi yang ditawarkan oleh seorang tokoh Indonesia dalam sebuah kesempatan. Beliau berkata, “Intinya, untuk melawan kenaikan harga BBM yang pernah, sedang, dan akan terus terjadi itu, tak ada jalan terbaik kecuali kita “musuhi” BBM. Kalau setiap kenaikan BBM didemo, kita hanya akan terampil berdemo. Tapi kalau BBM-nya yang kita “musuhi”, kita akan lebih kreatif mencari jalan keluar bagi bangsa ini ke depan. Kelak, kita bersikap begini: biarkan dia naik terus menggantung sampai setinggi Monas! Kalau kita tidak lagi menggunakannya, mau apa dia! Kalau sudah tahu bahwa seumur hidup kita akan terjerat BBM seperti itu mengapa kita tidak mencari jalan lain?”.

Mengapa kita tidak mencoba mengembangkan ilmu pengetahuan untuk mencari sumber-sumber energi lain selain BBM? Sungguh, masih terlalu banyak ilmuwan kaum muslimin yang kompeten untuk hal ini. Mengapa kita tidak memberdayakan mereka? Tidakkah kita harus takut kepada yang menciptakan alam semesta ini? Berapa kali Allah I mengatakan “Afalaa ta’qiluuun (apakah kalian tidak berfikir)?”.

Penutup

Akhirnya, kita harus yakin bahwa  keresahan dan kesedihan yang dialami kaum muslimin karena naiknya BBM adalah ujian dari Allah I dan penghapus dosa. Nabi r bersabda, artinya : “Jika ada yang menimpa seorang muslim, baik berupa rasa capek, sakit, kebingunan, kesedihan, kezhaliman orang lain, kesempitan hati, sampai duri yang menancap di badannya maka Allah akan jadikan semua itu sebagai penghapus dosa-dosanya.” [HR. Bukhari].

Hendaknya setiap kita menginstrospeksi diri bahwa setiap ujian dan musibah adalah buah dari perbuatan kita sendiri. Allah I berfirman, artinya : “Segala bentuk musibah yang menimpa kalian, semuanya disebabkan ulah tangan (maksiat) kalian. Dan Allah telah memberi ampunan untuk banyak dosa.” [QS. As-Syura: 30].

Kita harus yakin pula bahwa di balik kesulitan ini, akan ada kemudahan yang akan datang. Ingatkah kita akan firman Allah I , artinya : “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” [QS. Alam Nasyrah: 5]? Kemudian diulangi lagi (artinya) : “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan[QS. Alam Nasyrah: 6].

Abdullah bin Mas’ud t pernah berkata, “Seandainya kesulitan masuk ke dalam suatu lubang, maka kemudahan pun akan mengikutinya  karena Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan[Dikeluarkan oleh Ath-Thabari, 24: 496]. 

Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...