Kita semua tahu dan sadar bahwa
kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) mungkin akan membawa kesulitan bagi
rakyat banyak. Mengapa? Ya, sederhana saja. Jika BBM naik, semua kebutuhan
pokok akan ikut naik. Maka, “semakin “tercekik”lah rakyat yang sebagian
besarnya berada di bawah garis kemiskinan”, begitu katanya.
Demikianlah kebanyakan orang hari
ini dalam menghadapi masalah ini. Semua ingin agar suaranya didengar oleh
penguasa. Kebijakan ini semoga berubah, itu harapannya. Namun, adakah yang
berpikir, mengapa pemimpin kita memilih jalan untuk menaikkan BBM? Adakah yang
mau merenung, apa betul pemimpin kita ingin menyengsarakan bahkan membunuh
rakyatnya sendiri? Wallahul Musta’an.
Taat Kepada Penguasa
Inilah prinsip yang menjadi
warisan para pendahulu (salaf) kita yang shalih, orang-orang yang meniti jalan
para sahabat Nabi radhiallahu anhum. Mari kita renungkan hadits
dari Rasulullah r, artinya : “Saya memberi wasiat
kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah ‘azza wa jalla, tetap mendengar
dan ta’at walaupun yang memerintah kalian seorang hamba sahaya (budak) dari
Habasyah” [HR. Abu
Daud dan Tirmidzi. Imam Tirmidzi : hadits ini hasan shahih].
Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu
Rajab rahimahulllah, sebagian ulama menyebutkan bahwa penyebutan budak
Habasyah dalam hadits di atas adalah permisalan saja. Sebenarnya, tidak mungkin
seorang budak menjadi pemimpin [Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 120].
Saking besarnya hak pemimpin
untuk ditaati, sampai pun jika pemimpin itu berasal dari budak (meskipun ini
tidak mungkin), maka tetap harus ditaati. Wallahu a’lam.
Bahkan, jika sekiranya penguasa
itu berbuat zhalim, kita pun wajib taat kepadanya. Rasulullah r bersabda, artinya : “Nanti
setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak mendapat petunjukku (dalam
ilmu) dan tidak pula melaksanakan sunnahku (dalam amal). Nanti akan
ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun
jasadnya adalah jasad manusia. “ Sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, apa
yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?” Beliau r
bersabda, artinya : ”Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun
mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at
kepada mereka” [HR. Muslim].
Lihatlah, bukankah pemimpin yang
disebutkan dalam hadits ini adalah pemimpin yang zhalim? Sampai ia menyiksa
rakyatnya sendiri, memukul dan mengambil harta mereka? Ini jelas kezhaliman.
Namun, lihatlah apa kata Rasulullah r , “Dengarlah dan ta’at kepada
pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah
mendengar dan ta’at kepada mereka”.
Subhanallah. Prinsip
ini mungkin dilupakan oleh sebagian kita. Sebagian kita tidak bersabar dengan
kebijakan kenaikan BBM. Seharusnya, ketaatan itu tetap ada, meskipun penguasa
tersebut melakukan kebijakan yang nampak “zhalim” dengan menaikkan harga BBM
misalnya. Wallahul musta’an.
Ketaatan Itu Tidaklah Mutlak
Namun, kita pun harus ingat. Ketataan
itu tidaklah mutlak. Menaati mereka bersifat muqayyad (terikat). Ya,
terikat hanyalah dalam yang ma’ruf, bukan perkara maksiat.
Kita dapat memahami hal ini dari
firman Allah I, artinya : “Hai orang-orang
yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di
antara kamu” [QS. An Nisa’: 59].
Para ulama menerangkan bahwa kata
ulil amri (penguasa) dalam ayat ini tidak diulang dengan kata “أَطِيعُوا” (athii’uw/taatilah). Ini menunjukkan bahwa ketaatan
pada penguasa itu ada selama bersesuaian dengan ketaatan kepada Allah I dan Rasul-Nya r .
Dalam haditsnya, Rasulullah r bersabda,artinya : “Tidak ada
kewajiban ta’at dalam rangka bermaksiat (kepada Allah). Ketaatan hanyalah dalam
perkara yang ma’ruf (bukan maksiat)” [HR. Bukhari].
Rasulullah r juga bersabda, artinya : “Seorang muslim wajib mendengar dan taat
dalam perkara yang dia sukai atau benci selama tidak diperintahkan untuk
bermaksiat. Apabila diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban
mendengar dan taat” [HR. Bukhari].
Maslahat Taat Kepada Penguasa
Ketahuilah, banyak maslahat yang
dapat kita peroleh ketika kita menaati keputusan penguasa. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah
pernah berkata, “Mereka (penguasa) mengurusi lima perkara untuk
kemaslahatan kita : shalat Jum’at,
shalat jama’ah, shalat ‘ied, penjagaan tabal batas dan hukum had (yaitu
hukuman yang ditegakkan kepada para pelaku maksiat seperti pezina dengan
hukuman rajam, pencuri dengan hukuman potong tangan dan lainnya). Semua perkara
tersebut tidaklah bisa tegak kecuali dengan penegakan dari penguasa meskipun
mereka suka melampaui batas dan berbuat zhalim. Demi Allah, maslahat ketika
taat pada penguasa itu lebih besar dibanding mafsadat (kerusakan) yang
ditimbulkan. Menaati penguasa adalah suatu keselamatan dan berlepas diri dari
mereka adalah suatu kekufuran (kebinasaan)” [Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal
Hikam, 2: 117].
Ibnu Abil Izz rahimahullah
berkata, “Hukum mentaati pemimpin adalah wajib, walaupun mereka berbuat zhalim
(kepada kita). Jika kita keluar dari menaati mereka maka akan timbul kerusakan
yang lebih besar dari kezhaliman yang mereka perbuat. Bahkan bersabar terhadap
kezhaliman mereka dapat melebur dosa-dosa dan akan melipat gandakan pahala.
Allah Ta’ala tidak menjadikan mereka berbuat zhalim selain disebabkan karena
kerusakan yang ada pada diri kita juga. Ingatlah, yang namanya balasan sesuai
dengan amal perbuatan yang dilakukan (al-jaza’ min jinsil ‘amal). Oleh
karena itu, hendaklah kita bersungguh-sungguh dalam istighfar dan taubat serta
berusaha mengoreksi amalan kita” [Syarh Aqidah Ath Thahawiyah, hal. 381, terbitan Darul
‘Aqidah].
Ibnu Rajab rahimahullah
berkata, “Mendengar dan menaati penguasa kaum muslimin mengandung maslahat
dunia, mudahnya urusan hamba, dan bisa menolong hamba dalam menaati Allah” [Lihat Jaami’ul
‘Ulum wal Hikam, 2: 117].
Taruhlah jika menaikkan BBM itu
termasuk “kezhaliman”, tidak ada pilihan lain, sekali lagi kita tetap taat. Tapi
bagaimana jika tidak? Kami berperasangka baik bahwa pemerintah sudah
menimbang-nimbang adanya maslahat di balik itu semua. Itu pun insya Allah telah
melalui kajian ilmiah yang kita pun mungkin tidak memahaminya. Kami yakin,
tidak mungkin pemimpin berniat untuk
menyengsarakan rakyatnya sendiri. Itulah perasangka baik kami. Wallahu
a’lam.
Tidak Berdemonstrasi
Sudah menjadi ma’ruf (kita
ketahui bersama) dan lazim, “demonstrasi” sering dilakukan oleh sebagian
saudara kita, mahasiswa. Sudah menjadi ma’ruf juga bahwa demonstrasi
tersebut seringkali mengakibatkan jalanan macet, terjadi kerusuhan, korban
jiwa, luka-luka, capek menghabiskan tenaga serta tidak pula mendapatkan
keuntungan. Semuanya adalah kerugian bagi masyarakat luas. Mungkin, tidak
berlebihan jika kita mengatakan bahwa kerusakan dari demonstrasi lebih besar
dibanding kita mau menerima kenaikan BBM.
Olehnya, nasehat kita kepada
sebagian saudara-saudara kita adalah berhentilah berdemostrasi!
Tidak Menyebarkan ‘Aib Penguasa
Ketika kita berbuat salah,
kemudian kita ditegur di depan orang banyak, apakah kita bisa menerima nasehat
semacam itu? Kemungkinan (besar) jawabannya adalah tidak. Begitu halnya dengan
penguasa. Ketika ia dijelek-jelekkan di depan khalayak, disematkan kepada
mereka gelar-gelar yang tidak enak didengar telinga, pastilah tidak ada
penguasa yang bisa menerima nasehat semacam itu.
Sungguh, syariat Islam yang mulia
telah mengatur bahwa nasehat yang terbaik adalah nasehat “empat mata”, bukan di
khalayak ramai.
Rasulullah r bersabda, artinya : “Barangsiapa
yang hendak menasihati pemerintah dengan suatu perkara maka janganlah ia
tampakkan di khalayak ramai. Akan tetapi hendaklah ia mengambil tangan penguasa
(raja) dengan empat mata. Jika ia menerima maka itu (yang diinginkan) dan kalau
tidak, maka sungguh ia telah menyampaikan nasihat kepadanya. Dosa bagi dia dan
pahala baginya (orang yang menasihati).” [HR. Ahmad 3: 403. Syaikh Syu’aib
Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dilihat dari jalur lain].
Bersabarlah, wahai Saudaraku!
Solusi utama untuk menghadapi
kenaikan BBM ini adalah berperasangka baik kepada penguasa dan bersabarlah.
Bukankah Nabi r
pernah mengingatkan kita, artinya :
“Barangsiapa melihat sesuatu pada pemimpinnya sesuatu yang tidak ia
sukai, maka bersabarlah. Karena barangsiapa yang melepaskan diri satu jengkal
saja dari jama’ah, maka ia mati seperti matinya jahiliyah” [HR.
Bukhari dan Muslim].
Bersabar, tidaklah ada batasnya.
Perkataan sebagian orang “sabar itu ada batasnya”, itu keliru. Mengapa? Hal ini
karena pahala bagi mereka yang mampu bersabar itu tidak terhingga, tidak ada
batasnya, bahkan hingga surga. Derajat pahala terus ada sesuai dengan tingkat
dan derajat kesabaran.
Jika kita tidak bersabar terhadap
keputusan penguasa, kita akan kehilangan pahala besar berupa surga bagi orang
yang mau bersabar.
Ingatlah janji Allah, “Sesungguhnya
orang-orang yang bersabar, ganjaran bagi mereka adalah tanpa hisab (tak
terhingga)” [QS. Az Zumar: 10].
Imam Al-Auza’i rahimahullah
mengatakan bahwa ganjarannya tidak bisa ditakar dan ditimbang. Ibnu Juraij rahimahullah
mengatakan bahwa pahala bagi orang yang bersabar tidak bisa dihitung sama
sekali, akan tetapi ia akan diberi tambahan dari itu. Maksudnya, pahala mereka
tak terhingga. Sedangkan As- Sudi rahimahullah mengatakan bahwa balasan
bagi orang yang bersabar adalah surga [Lihat Tafsir Al-Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu
Katsir, 7: 89].
Berpikir Rasional, Cari Solusi
Setelah kita bersabar, marilah
mencoba untuk mencari solusi. Kami lebih cenderung dengan solusi yang
ditawarkan oleh seorang tokoh Indonesia dalam sebuah kesempatan. Beliau
berkata, “Intinya, untuk melawan kenaikan harga BBM yang pernah, sedang, dan
akan terus terjadi itu, tak ada jalan terbaik kecuali kita “musuhi” BBM. Kalau
setiap kenaikan BBM didemo, kita hanya akan terampil berdemo. Tapi kalau
BBM-nya yang kita “musuhi”, kita akan lebih kreatif mencari jalan keluar bagi
bangsa ini ke depan. Kelak, kita bersikap begini: biarkan dia naik terus
menggantung sampai setinggi Monas! Kalau kita tidak lagi menggunakannya, mau
apa dia! Kalau sudah tahu bahwa seumur hidup kita akan terjerat BBM seperti itu
mengapa kita tidak mencari jalan lain?”.
Mengapa kita tidak mencoba
mengembangkan ilmu pengetahuan untuk mencari sumber-sumber energi lain selain
BBM? Sungguh, masih terlalu banyak ilmuwan kaum muslimin yang kompeten untuk
hal ini. Mengapa kita tidak memberdayakan mereka? Tidakkah kita harus takut
kepada yang menciptakan alam semesta ini? Berapa kali Allah I mengatakan “Afalaa ta’qiluuun (apakah kalian tidak
berfikir)?”.
Penutup
Akhirnya, kita harus yakin bahwa keresahan dan kesedihan yang dialami kaum
muslimin karena naiknya BBM adalah ujian dari Allah I
dan penghapus dosa. Nabi r bersabda, artinya : “Jika ada
yang menimpa seorang muslim, baik berupa rasa capek, sakit, kebingunan,
kesedihan, kezhaliman orang lain, kesempitan hati, sampai duri yang menancap di
badannya maka Allah akan jadikan semua itu sebagai penghapus dosa-dosanya.” [HR. Bukhari].
Hendaknya setiap kita
menginstrospeksi diri bahwa setiap ujian dan musibah adalah buah dari perbuatan
kita sendiri. Allah I berfirman,
artinya : “Segala bentuk
musibah yang menimpa kalian, semuanya disebabkan ulah tangan (maksiat) kalian.
Dan Allah telah memberi ampunan untuk banyak dosa.” [QS. As-Syura: 30].
Kita harus yakin pula bahwa di
balik kesulitan ini, akan ada kemudahan yang akan datang. Ingatkah kita akan
firman Allah I , artinya : “Karena
sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” [QS. Alam Nasyrah: 5]? Kemudian
diulangi lagi (artinya) : “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”
[QS. Alam
Nasyrah: 6].
Abdullah bin Mas’ud t pernah
berkata, “Seandainya kesulitan masuk ke dalam suatu lubang, maka kemudahan pun
akan mengikutinya karena Allah Ta’ala
berfirman (yang artinya), “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada
kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” [Dikeluarkan
oleh Ath-Thabari, 24: 496].
Wallahu a’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar