Mei 08, 2014

Jika Harus Memuji

Sebagian kita mungkin senang akan pujian manusia. Sebagian kita pun mungkin selalu mengharapkan komentar baik dari orang lain. Sepintas, mungkin kita berpikir hal tersebut tidak masalah. Tetapi, jika kita mau untuk merenungi lebih dalam, justru pujian seringkali menipu kita. Ya, menipu kita. Manisnya buaian kata-kata indah, tidak jarang melenakan dan membuat kita semakin merasa “besar, tinggi, ujub dan sombong”. Padahal, keadaan kita yang sesungguhnya sangat jauh dari pujian tersebut.  Begitu pula, kita pun sering memuji orang lain di hadapannya. Entah dengan motivasi apa ketika kita memuji manusia. Semuanya terpulang kepada niat-niat kita ketika memujinya. Di balik pujian-pujian lisan kita, tahukah kita bagaimana syariat Islam mengaturnya? Berikut kami tuliskan beberapa perkara yang mesti untuk kita pahami. Selamat membaca…


Beramal Dengan Ikhlas, Tidak Untuk Pujian

Ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya suatu amalan, di samping amalan tersebut harus sesuai tuntunan Nabi r. Tanpa ikhlas, amalan menjadi sia-sia belaka. Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Al Fawa-id memberikan nasehat yang sangat indah tentang ikhlas, beliau rahimahullah berkata, “Amalan yang dilakukan tanpa disertai ikhlas dan tanpa mengikuti tuntunan Nabi r bagaikan seorang musafir yang membawa bekal berisi pasir. Bekal tersebut hanya memberatkan, namun tidak membawa manfaat apa-apa.”
Allah I berfirman, artinya : “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5).

Nabi r bersabda, artinya : “Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman : “Aku sama sekali tidak butuh pada sekutu dalam perbuatan syirik. Barangsiapa yang menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya (maksudnya: tidak menerima amalannya) dan perbuatan syiriknya.”(HR. Muslim no. 2985).

Abul Qosim Al-Qusyairi rahimahullah mengatakan, “Ikhlas adalah menjadikan niat hanya untuk Allah I dalam melakukan amalan ketaatan. Jadi, amalan ketaatan tersebut dilakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah I. Sehingga yang dilakukan bukanlah ingin mendapatkan perlakuan baik dan pujian dari makhluk atau yang dilakukan bukanlah di luar mendekatkan diri kepada Allah.” Beliau rahimahullah juga mengatakan, “Ikhlas adalah membersihkan amalan dari komentar manusia.”

Hudzaifah Al-Mar’asiy rahimahullah mengatakan, “Ikhlas adalah kesamaan perbuatan seorang hamba antara zhahir (lahiriyah) dan batin.” Berkebalikan dengan riya'. Riya’ adalah amalan zhahir (yang tampak) lebih baik dari amalan batin yang tidak ditampakkan. Sedangkan ikhlas, minimalnya adalah sama antara lahiriyah dan batin”.

Dzun Nuun menyebutkan tiga tanda ikhlas : (pertama) tetap merasa sama antara pujian dan celaan orang lain, (kedua) melupakan amalan kebajikan yang dulu pernah diperbuat, dan (ketiga) mengharap balasan dari amalan di akhirat (dan bukan di dunia).

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah mengatakan, “Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya’. Beramal karena manusia termasuk kesyirikan. Sedangkan ikhlas adalah engkau terselamatkan dari dua hal tadi.”

Memuji Orang Lain, (Sebenarnya) Menzhaliminya

Tahukah kita bahwa ketika kita memuji orang lain, bisa jadi hal tersebut menjadi bumerang baginya. Bahkan “menyembelihnya!”. Masya Allah. Coba kita perhatikan beberapa riwayat berikut ini.

Dari Abu Bakrah t, ia menceritakan bahwa ada seorang pria yang disebutkan di hadapan Rasulullah r, lalu seorang hadirin memuji orang tersebut. Rasulullah r lalu bersabda, artinya : “Celaka engkau, engkau telah memotong leher temanmu (berulang kali beliau mengucapkan perkataan itu). Jika salah seorang di antara kalian terpaksa memuji, maka ucapkanlah, ”Saya kira si fulan demikian kondisinya". Adapun yang mengetahui kondisi sebenarnya adalah Allah dan janganlah mensucikan seorang di hadapan Allah.” (HR. Bukhari dalam Kitab Asy-Syahadat, Bab Idza Dzakara Rajulun Rajulan).
Abu Musa tberkata, “Rasulullah r mendengar seorang pria berlebih-lebihan dalam memuji seorang. Rasulullah r lalu bersabda, artinya : “Kalian telah membinasakan atau mematahkan punggung orang itu.(HR. Bukhari dalam Kitab Al-Adab, Bab Maa Yukrahu Minat Tamaduh).

Dari Ibrahim At-Taimiy t dari ayahnya, ia berkata, “Kami duduk bersama Umar t, lalu ada seorang pria memuji orang lain yang berada di hadapannya. Umar t lalu berkata, artinya : “Engkau telah menyembelih orang itu, semoga Allah menyembelihmu”.

Dalam kesempatan lain, Umar t berkata, “Pujian itu adalah penyembelihan”.

Dari beberapa riwayat di atas, kita memahami bahwa (secara asal) pujian tidaklah dianjurkan bahkan dalam kondisi-kondisi tertentu menjadi tercela, karena pujian sama dengan menzhalimi orang yang dipuji (bahkan dalam riwayat–riwayat yang ada menggunakan istilah “menyembelih”). Apalagi jika ternyata orang yang dipuji merasa senang akan pujian yang diberikan kepadanya. Sebagaimana perkataan Imam Muhammad (guru imam Bukhari) rahimahullah, beliau berkata, “(hal itu berlaku) apabila ia senang akan pujian yang diberikan kepadanya”.

Olehnya, jika kita pun terpaksa memuji seseorang maka  kalimat yang dapat diucapkan adalah ”Saya kira si fulan demikian kondisinya” atau kalimat lainnya yang semakna dengannya.

Celaan Bagi Orang yang Doyan Memuji

Dalam banyak riwayat, juga dijelaskan tentang celaan bagi orang-orang yang kerap (baca : doyan) memuji orang lain. Bahkan bentuk celaan bagi mereka adalah bolehnya (baca : perintah) menyiramkan pasir ke wajah orang-orang tersebut. Wallahul musta’an. Coba kita perhatikan beberapa riwayat berikut ini.

Dari Abu Ma'mar t, ia berkata, “Ada seorang pria berdiri memuji salah seorang gubernur. Miqdad t lalu menyiramkan pasir ke wajahnya dan berkata, “Kami diperintahkan oleh Rasulullah r untuk menyiramkan pasir ke wajah orang-orang yang memuji.” (HR. Bukhari. Lihat Ash-Shahihah (912), Muslim. Lihat Kitab Az Zuhd, hal. 68).

Dari Atha' Ibnu Abi Rabah t bahwa ada seorang pria memuji orang lain di hadapan Ibnu Umar t. Ibnu Umar t lalu menyiramkan pasir pada mulutnya dan berkata, “Rasulullah r bersabda, “Jika kalian melihat orang-orang yang doyan memuji maka siramkanlah pasir ke wajahnya .” (HR. Bukhari. Lihat Ash-Shahihah (912).

Dari Mihjan Al-Aslamy t berkata, “Raja' berkata, ”Saya berjalan bersama Mihjan pada suatu hari hingga kami sampai di masjid milik penduduk Basrah. Pada saat itu Buraidah (Ibnul Hushaib) sedang duduk di salah satu pintu masjid. Pada masjid itu terdapat seorang pria bernama Sukbah sedang melaksanakan shalat dalam tempo yang terhitung lama. Ketika kami tiba di pintu masjid –di mana Buraidah sedang duduk disana-, Buraidah berkata -Buraidah adalah seorang yang suka bergurau-, “Wahai Mihjan, apakah engkau shalat seperti shalatnya Sukbah?” Mihjan tidak menjawabnya tetapi dia lalu pulang. Raja’ berkata, ”Mihjan lalu berkata, “Sesungguhnya Rasulullah r pernah memegang tanganku lalu kami pergi bersama hingga menaiki gunung Uhud. Kemudian beliau menatap kota Madinah, beliau lalu bersabda, “Kota ini (Madinah) terancam bahaya. Dia ditinggalkan oleh penghuninya dalam keadaan makmur. Dajjal mendatanginya lalu mendapati malaikat pada setiap pintunya, maka dia tidak dapat memasukinya.” Beliau lalu turun kembali. Ketika kami sampai di masjid,  Rasulullah r melihat seorang pria melaksanakan shalat, sujud dan ruku'. Rasulullah r lalu bertanya kepadaku, “Siapa dia?” Saya berkata dengan nada memujinya, ”Wahai Rasulullah, dia adalah fulan dan kondisinya demikian ...” Beliau r lalu bersabda, “Cukup, jangan engkau memperdengarkan pujianmu sehingga engkau membinasakannya.” (Lihat Kitab Ash-Shahihah (1635)).

Jangan Tertipu dengan Pujian Orang Lain

Ibnu ‘Ajibah rahimahullah mengatakan, “Janganlah engkau tertipu dengan pujian orang lain yang menghampirimu. Sesungguhnya mereka yang memuji tidaklah mengetahui dirimu sendiri kecuali yang nampak saja bagi mereka. Sedangkan engkau sendiri yang mengetahui isi hatimu. Ada ulama yang mengatakan, “Barangsiapa yang begitu girang dengan pujian manusia, syaithan pun akan merasuk dalam hatinya.” (Lihat Iqazhul Himam Syarh Matn Al Hikam, Ibnu ‘Ajibah, hal. 159, Mawqi’ Al-Qaraq, Asy Syamilah).

Jika Pujian Itu Tidak Kita Harapkan

Terkadang seseorang dalam amalnya telah berupaya maksimal untuk mengikhlaskannya semata-mata untuk Allah I dan mengaharapkan ridhaNya. Namun, setelah amalan tersebut dilakukan, sebagian manusia justru memujinya, yang sebelumnya tentu ia tidak harapkan. Dalam kasus seperti ini, Abu Dzar t pernah menanyakannya kepada Rasulullah r. Dia berkata : “Wahai Rasulullah, seorang pria yang mengamalkan suatu amalan untuk dirinya, lalu manusia memuji dan menyanjungnya serta mencintainya”. Maka beliau r  mengatakan, “Itu adalah berita gembira bagi seorang mukmin yang disegerakan.(HR. Muslim dan Ahmad).

Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Ini pertanda bahwa Allah ridha dan mencintainya. Akhirnya makhluk pun turut menyukai orang tersebut.”

Rasulullah r bersabda, artinya :

“Barangsiapa yang kalian puji dengan kebaikan, maka ia berhak mendapatkan surge. Dan barangsiapa yang kalian puji dengan keburukan, maka ia berhak mendapatkan neraka. Kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi-Nya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Syaikh Musnid Al-Qahthany dalam kitabnya Al-Istiqamah, Fadailuha wa Muawwiqatuha berkata, “(ketika) hal ini (pujian) tidaklah menjadi tujuan dan ambisi utama seorang insan sebab seorang mukmin yang ikhlas tentu tidak mengharapkan dengan amalnya selain kerinduan untuk melihat wajah Allah I dan kebahagiaan akhirat. Namun jika ada manusia yang melihat atau mendengarkan amalan itu sementara ia sendiri tetap dalam keikhlasannya, maka itu merupakan salah satu tanda diterimanya amal itu di sisi Allah I”.

Begitu pula, terkadang seseorang lebih bersemangat melakukan ibadah di hadapan orang-orang yang rajin beribadah, dibandingkan ketika ia bersendiri. Padahal ia sudah berupaya untuk ikhlas kepada Allah I dan tidak mengharapkan pujian dari orang-orang. Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah mengatakan, “Terkadang seseorang menginap di rumah orang yang suka bertahajjud, lalu ia pun ikut melaksanakan tahajjud pada kebanyakan malam. Padahal kebiasannya hanya melakukan shalat malam selama satu jam saja. Pada saat itu, ia menyesuaikan dirinya dengan mereka. Ia pun turut berpuasa ketika mereka berpuasa. Jika bukan karena orang yang ahli ibadah tadi, tentu ia tidak akan bersemangat seperti ini”.

Sebagian orang mungkin menyangka bahwa amalan semacam ini adalah riya’ (ingin dilihat atau dipuji orang lain). Namun, sangkaan ini adalah keliru karena semacam ini bukanlah riya’. Kemudian Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah juga berkata, “Dia perlu menguji dirinya dengan melaksanakan ibadah di suatu tempat, di mana ia dapat melihat orang lain namun orang lain tidak menyaksikannya. Jika ia merasa tenang ketika itu, maka berarti ia telah beribadah ikhlas karena Allah I. Namun jika dirinya tidak tenang, maka berarti apa yang ia lakukan di hadapan ahli ibadah lainnya adalah amalan riya’. Amalan lainnya, silakan dianalogikan semisal dengan ini.”

Begitu juga, misalnya seseorang mendapatkan ketenaran, namun tanpa dicari-cari. Artinya sejak ia beramal, tidak pernah ia mencari ketenaran. Namun setelah ia beramal, baru ia terkenal dan tenar. Imam Al-Ghozali rahimahullah mengatakan, “Yang tercela adalah apabila seseorang mencari ketenaran. Namun jika ia tenar karena karunia Allah I tanpa ia cari-cari, maka itu tidaklah tercela.”

Doa Ketika Dipuji Orang Lain

Dalam hal ini, kita patut meneladani sikap Abu Bakr Ash-Shidiq t tatkala beliau dipuji oleh orang lain. Beliau t mengucapkan do’a, “Allahumma anta a’lamu minni bi nafsiy, wa anaa a’lamu bi nafsii minhum. Allahummaj ‘alniy khoirom mimmaa yazhunnuun, wagh-firliy maa laa ya’lamuun, wa laa tu-akhidzniy bimaa yaquuluun (Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka)” (Lihat Jaami’ul Ahadits, Jalaluddin As Suyuthi, 25/145, Asy Syamilah).

Demikian yang dapat kami tuliskan. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...