Sebagian kita
mungkin senang akan pujian manusia. Sebagian kita pun mungkin selalu
mengharapkan komentar baik dari orang lain. Sepintas, mungkin kita berpikir hal
tersebut tidak masalah. Tetapi, jika kita mau untuk merenungi lebih dalam,
justru pujian seringkali menipu kita. Ya, menipu kita. Manisnya buaian
kata-kata indah, tidak jarang melenakan dan membuat kita semakin merasa “besar,
tinggi, ujub dan sombong”. Padahal, keadaan kita yang sesungguhnya sangat jauh
dari pujian tersebut. Begitu pula, kita
pun sering memuji orang lain di hadapannya. Entah dengan motivasi apa ketika
kita memuji manusia. Semuanya terpulang kepada niat-niat kita ketika memujinya.
Di balik pujian-pujian lisan kita, tahukah kita bagaimana syariat Islam mengaturnya?
Berikut kami tuliskan beberapa perkara yang mesti untuk kita pahami. Selamat
membaca…
Beramal Dengan
Ikhlas, Tidak Untuk Pujian
Ikhlas
adalah salah satu syarat diterimanya suatu amalan, di samping amalan tersebut
harus sesuai tuntunan Nabi r. Tanpa
ikhlas, amalan menjadi sia-sia belaka. Ibnul Qayyim rahimahullah dalam
kitabnya Al Fawa-id memberikan nasehat yang sangat indah tentang ikhlas,
beliau rahimahullah berkata, “Amalan yang dilakukan tanpa disertai
ikhlas dan tanpa mengikuti tuntunan Nabi r bagaikan seorang
musafir yang membawa bekal berisi pasir. Bekal tersebut hanya memberatkan,
namun tidak membawa manfaat apa-apa.”
Allah I berfirman, artinya : “Padahal mereka
tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan
kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan
salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”
(QS. Al-Bayyinah: 5).
Nabi r bersabda, artinya :
“Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman : “Aku sama sekali tidak butuh
pada sekutu dalam perbuatan syirik. Barangsiapa yang menyekutukan-Ku dengan
selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya (maksudnya: tidak menerima
amalannya) dan perbuatan syiriknya.”(HR. Muslim no. 2985).
Abul
Qosim Al-Qusyairi rahimahullah mengatakan, “Ikhlas adalah menjadikan
niat hanya untuk Allah I dalam
melakukan amalan ketaatan. Jadi, amalan ketaatan tersebut dilakukan dalam
rangka mendekatkan diri kepada Allah I.
Sehingga yang dilakukan bukanlah ingin mendapatkan perlakuan baik dan pujian
dari makhluk atau yang dilakukan bukanlah di luar mendekatkan diri kepada
Allah.” Beliau rahimahullah juga mengatakan, “Ikhlas adalah membersihkan
amalan dari komentar manusia.”
Hudzaifah
Al-Mar’asiy rahimahullah mengatakan, “Ikhlas adalah kesamaan perbuatan
seorang hamba antara zhahir (lahiriyah) dan batin.” Berkebalikan dengan
riya'. Riya’ adalah amalan zhahir (yang tampak) lebih baik dari amalan
batin yang tidak ditampakkan. Sedangkan ikhlas, minimalnya adalah sama antara
lahiriyah dan batin”.
Dzun Nuun
menyebutkan tiga tanda ikhlas : (pertama) tetap merasa sama antara pujian dan
celaan orang lain, (kedua) melupakan amalan kebajikan yang dulu pernah
diperbuat, dan (ketiga) mengharap balasan dari amalan di akhirat (dan bukan di
dunia).
Al-Fudhail
bin ‘Iyadh rahimahullah mengatakan, “Meninggalkan amalan karena manusia
adalah riya’. Beramal karena manusia termasuk kesyirikan. Sedangkan ikhlas
adalah engkau terselamatkan dari dua hal tadi.”
Memuji
Orang Lain, (Sebenarnya) Menzhaliminya
Tahukah kita bahwa
ketika kita memuji orang lain, bisa jadi hal tersebut menjadi bumerang baginya.
Bahkan “menyembelihnya!”. Masya Allah. Coba kita perhatikan beberapa
riwayat berikut ini.
Dari Abu Bakrah t,
ia menceritakan bahwa ada seorang pria yang disebutkan di hadapan Rasulullah r, lalu seorang
hadirin memuji orang tersebut. Rasulullah r lalu bersabda,
artinya : “Celaka engkau, engkau telah memotong leher temanmu (berulang
kali beliau mengucapkan perkataan itu). Jika salah seorang di antara kalian
terpaksa memuji, maka ucapkanlah, ”Saya kira si fulan demikian
kondisinya". Adapun yang mengetahui kondisi sebenarnya adalah Allah dan
janganlah mensucikan seorang di hadapan Allah.” (HR.
Bukhari
dalam
Kitab Asy-Syahadat, Bab Idza Dzakara Rajulun Rajulan).
Abu Musa tberkata,
“Rasulullah r
mendengar seorang pria berlebih-lebihan dalam memuji seorang. Rasulullah r lalu bersabda,
artinya : “Kalian telah membinasakan atau mematahkan punggung orang itu.”(HR.
Bukhari dalam Kitab Al-Adab, Bab Maa Yukrahu Minat Tamaduh).
Dari Ibrahim
At-Taimiy t dari ayahnya, ia
berkata, “Kami duduk bersama Umar t,
lalu
ada seorang pria memuji orang lain yang berada di hadapannya. Umar t
lalu
berkata, artinya : “Engkau telah menyembelih orang itu, semoga Allah
menyembelihmu”.
Dalam kesempatan
lain, Umar t berkata, “Pujian itu adalah
penyembelihan”.
Dari beberapa
riwayat di atas, kita memahami bahwa (secara asal) pujian tidaklah dianjurkan
bahkan dalam kondisi-kondisi tertentu menjadi tercela, karena pujian sama
dengan menzhalimi orang yang dipuji (bahkan dalam riwayat–riwayat yang ada
menggunakan istilah “menyembelih”). Apalagi jika ternyata orang yang dipuji
merasa senang akan pujian yang diberikan kepadanya. Sebagaimana perkataan Imam
Muhammad (guru imam Bukhari) rahimahullah, beliau berkata, “(hal
itu berlaku) apabila ia senang akan pujian yang diberikan kepadanya”.
Olehnya, jika kita
pun terpaksa memuji seseorang maka
kalimat yang dapat diucapkan adalah ”Saya kira si fulan demikian
kondisinya” atau kalimat lainnya yang semakna dengannya.
Celaan Bagi Orang
yang Doyan Memuji
Dalam banyak
riwayat, juga dijelaskan tentang celaan bagi orang-orang yang kerap (baca : doyan)
memuji orang lain. Bahkan bentuk celaan bagi mereka adalah bolehnya (baca :
perintah) menyiramkan pasir ke wajah orang-orang tersebut. Wallahul
musta’an. Coba kita perhatikan beberapa riwayat berikut ini.
Dari Abu Ma'mar t,
ia berkata, “Ada seorang pria berdiri memuji salah seorang gubernur. Miqdad t
lalu
menyiramkan pasir ke wajahnya dan berkata, “Kami diperintahkan oleh Rasulullah r untuk menyiramkan
pasir ke wajah orang-orang yang memuji.” (HR. Bukhari. Lihat Ash-Shahihah
(912), Muslim. Lihat Kitab Az Zuhd, hal. 68).
Dari Atha' Ibnu Abi
Rabah t bahwa ada seorang pria memuji orang lain
di hadapan Ibnu Umar t. Ibnu Umar t lalu
menyiramkan pasir pada mulutnya dan berkata, “Rasulullah r bersabda, “Jika
kalian melihat orang-orang yang doyan memuji maka siramkanlah pasir ke wajahnya
.” (HR.
Bukhari. Lihat Ash-Shahihah (912).
Dari Mihjan
Al-Aslamy t berkata, “Raja' berkata, ”Saya berjalan
bersama Mihjan pada suatu hari hingga kami sampai di masjid milik penduduk
Basrah. Pada saat itu Buraidah (Ibnul Hushaib) sedang duduk di salah satu pintu
masjid. Pada masjid itu terdapat seorang pria bernama Sukbah sedang
melaksanakan shalat dalam tempo yang terhitung lama. Ketika kami tiba di pintu
masjid –di mana Buraidah sedang duduk disana-, Buraidah berkata -Buraidah
adalah seorang yang suka bergurau-, “Wahai Mihjan, apakah engkau shalat seperti
shalatnya Sukbah?” Mihjan tidak menjawabnya tetapi dia lalu pulang. Raja’
berkata, ”Mihjan lalu berkata, “Sesungguhnya Rasulullah r pernah memegang
tanganku lalu kami pergi bersama hingga menaiki gunung Uhud. Kemudian beliau
menatap kota Madinah, beliau lalu bersabda, “Kota ini (Madinah) terancam
bahaya. Dia ditinggalkan oleh penghuninya dalam keadaan makmur. Dajjal
mendatanginya lalu mendapati malaikat pada setiap pintunya, maka dia tidak
dapat memasukinya.” Beliau lalu turun kembali. Ketika kami sampai di
masjid, Rasulullah r melihat seorang
pria melaksanakan shalat, sujud dan ruku'. Rasulullah r lalu bertanya
kepadaku, “Siapa dia?” Saya berkata dengan nada memujinya, ”Wahai
Rasulullah, dia adalah fulan dan kondisinya demikian ...” Beliau r lalu bersabda, “Cukup,
jangan engkau memperdengarkan pujianmu sehingga engkau membinasakannya.” (Lihat
Kitab Ash-Shahihah (1635)).
Jangan Tertipu
dengan Pujian Orang Lain
Ibnu ‘Ajibah rahimahullah
mengatakan, “Janganlah engkau tertipu dengan pujian orang lain yang
menghampirimu. Sesungguhnya mereka yang memuji tidaklah mengetahui dirimu
sendiri kecuali yang nampak saja bagi mereka. Sedangkan engkau sendiri yang
mengetahui isi hatimu. Ada ulama yang mengatakan, “Barangsiapa yang begitu
girang dengan pujian manusia, syaithan pun akan merasuk dalam hatinya.” (Lihat Iqazhul
Himam Syarh Matn Al Hikam, Ibnu ‘Ajibah, hal. 159, Mawqi’ Al-Qaraq,
Asy Syamilah).
Jika Pujian Itu
Tidak Kita Harapkan
Terkadang seseorang
dalam amalnya telah berupaya maksimal untuk mengikhlaskannya semata-mata untuk
Allah I dan mengaharapkan
ridhaNya. Namun, setelah amalan tersebut dilakukan, sebagian manusia justru
memujinya, yang sebelumnya tentu ia tidak harapkan. Dalam kasus seperti ini,
Abu Dzar t pernah menanyakannya kepada Rasulullah r. Dia berkata :
“Wahai Rasulullah, seorang pria yang mengamalkan suatu amalan untuk dirinya,
lalu manusia memuji dan menyanjungnya serta mencintainya”. Maka beliau r mengatakan, “Itu adalah berita gembira
bagi seorang mukmin yang disegerakan.” (HR. Muslim dan
Ahmad).
Imam An-Nawawi rahimahullah
mengatakan, “Ini pertanda bahwa Allah ridha dan mencintainya. Akhirnya makhluk
pun turut menyukai orang tersebut.”
Rasulullah r bersabda, artinya :
“Barangsiapa yang
kalian puji dengan kebaikan, maka ia berhak mendapatkan surge. Dan barangsiapa
yang kalian puji dengan keburukan, maka ia berhak mendapatkan neraka. Kalian
adalah saksi-saksi Allah di muka bumi-Nya” (HR. Bukhari dan
Muslim).
Syaikh Musnid
Al-Qahthany dalam kitabnya Al-Istiqamah, Fadailuha wa Muawwiqatuha berkata,
“(ketika) hal ini (pujian) tidaklah menjadi tujuan dan ambisi utama seorang
insan sebab seorang mukmin yang ikhlas tentu tidak mengharapkan dengan amalnya
selain kerinduan untuk melihat wajah Allah I dan
kebahagiaan akhirat. Namun jika ada manusia yang melihat atau mendengarkan
amalan itu sementara ia sendiri tetap dalam keikhlasannya, maka itu merupakan
salah satu tanda diterimanya amal itu di sisi Allah I”.
Begitu pula,
terkadang seseorang lebih bersemangat melakukan ibadah di hadapan orang-orang
yang rajin beribadah, dibandingkan ketika ia bersendiri. Padahal ia sudah
berupaya untuk ikhlas kepada Allah I dan
tidak mengharapkan pujian dari orang-orang. Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah
mengatakan, “Terkadang seseorang menginap di rumah orang yang suka
bertahajjud, lalu ia pun ikut melaksanakan tahajjud pada kebanyakan malam.
Padahal kebiasannya hanya melakukan shalat malam selama satu jam saja. Pada
saat itu, ia menyesuaikan dirinya dengan mereka. Ia pun turut berpuasa ketika
mereka berpuasa. Jika bukan karena orang yang ahli ibadah tadi, tentu ia tidak
akan bersemangat seperti ini”.
Sebagian orang
mungkin menyangka bahwa amalan semacam ini adalah riya’ (ingin dilihat
atau dipuji orang lain). Namun, sangkaan ini adalah keliru karena semacam ini
bukanlah riya’. Kemudian Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah juga berkata,
“Dia perlu menguji dirinya dengan melaksanakan ibadah di suatu tempat, di mana
ia dapat melihat orang lain namun orang lain tidak menyaksikannya. Jika ia
merasa tenang ketika itu, maka berarti ia telah beribadah ikhlas karena Allah I. Namun jika dirinya tidak tenang, maka
berarti apa yang ia lakukan di hadapan ahli ibadah lainnya adalah amalan riya’.
Amalan lainnya, silakan dianalogikan semisal dengan ini.”
Begitu juga,
misalnya seseorang mendapatkan ketenaran, namun tanpa dicari-cari. Artinya
sejak ia beramal, tidak pernah ia mencari ketenaran. Namun setelah ia beramal,
baru ia terkenal dan tenar. Imam Al-Ghozali rahimahullah mengatakan,
“Yang tercela adalah apabila seseorang mencari ketenaran. Namun jika ia tenar
karena karunia Allah I tanpa ia
cari-cari, maka itu tidaklah tercela.”
Doa Ketika Dipuji
Orang Lain
Dalam hal ini, kita
patut meneladani sikap Abu Bakr Ash-Shidiq t tatkala
beliau dipuji oleh orang lain. Beliau t mengucapkan
do’a,
“Allahumma anta a’lamu minni bi nafsiy, wa anaa a’lamu bi nafsii minhum.
Allahummaj ‘alniy khoirom mimmaa yazhunnuun, wagh-firliy maa laa ya’lamuun, wa
laa tu-akhidzniy bimaa yaquuluun (Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan
diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada
mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka
sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan
janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka)” (Lihat Jaami’ul
Ahadits, Jalaluddin As Suyuthi, 25/145, Asy Syamilah).
Demikian yang dapat
kami tuliskan. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar