Masa muda,
kata sebagian orang adalah waktu masa untuk bersenang-senang, masa untuk hidup
foya-foya. Sebagian lagi mengatakan, “Kecil dimanja, muda foya-foya, tua kaya
raya, dan mati masuk surga.” Inilah guyonan sebagian pemuda masa kini, bahkan
sejak dulu. Wallahul musta’an.
Bagaimana
mungkin waktu muda foya-foya, tanpa amalan sholeh, lalu mati bisa masuk surga?
Subhanallah, sungguh hal ini dapat kita katakan mustahil. Surga adalah “barang
dagangan” Allah I yang
tidak murah. Ia hanya dapat diraih dengan rahmat Allah I dengan sebab utama beramal shalih dan
bertaqwa kepadaNya. Tidak dengan foya-foya, lalai membuang waktu. Apalagi hidup
dengan gelimang maksiat dan durhaka kepadaNya, naudzubillah.
Para pembaca
yang semoga dirahmati Allah I,
edisi kali ini akan membahas sedikit nasehat bagi para pemuda (dan tentu juga
bagi kaum muslimin secara umum) tentang pemanfaatan waktu muda, waktu luang,
dan kehidupan di dunia secara maksimal untuk ubudiyah kepada Allah I menuju kebahagiaan di negeri akhirat
kelak.
Semoga
bermanfaat.
Wahai Pemuda,
Hidup di Dunia Hanyalah Sementara
Rasulullah r pernah
menasehati seorang sahabat yang tatkala itu berusia muda (berumur sekitar 12
tahun) yaitu Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma. Beliau r memegang
pundaknya lalu bersabda (artinya) : “Hiduplah engkau di dunia ini
seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara.” (HR. Bukhari).
Sungguh,
nasehat yang agung dari Sang Nabi r kepada
sahabat yang masih berusia belia. Negeri asing dan tempat pengembaraan yang
dimaksudkan dalam hadits ini adalah dunia dan negeri tujuan dan kampung
sesungguhnya adalah akhirat (surga). Hadits ini mengingatkan kita dengan
kematian sehingga tidak berpanjang angan-angan, terus mempersiapkan diri untuk
negeri akhirat dengan amal shalih.
Betapa indah
perkataan Ibnu Qayyim rahimahullah ketika
menyebutkan bahwa kerinduan, kecintaan dan harapan seorang muslim kepada surga
adalah karena surga merupakan tempat tinggalnya semula. Seorang muslim sekarang
adalah tawanan musuh-
musuhnya dan
diusir dari negeri asalnya karena iblis telah menawan bapak mereka, Adam ‘Alaihissalam.
Dalam hadits
lainnya, Rasulullah r
bersabda (artinya) : “Apa peduliku
dengan dunia?! Tidaklah aku tinggal di dunia melainkan seperti musafir yang
berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu musafir tersebut
meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi no. 2551. Syaikh
Al-Albani menilai Shahih).
Ali bin Abi
Thalib t
juga memberi petuah kepada kita : “Dunia itu akan pergi menjauh. Sedangkan
akhirat akan mendekat. Dunia dan akhirat tesebut memiliki anak. Jadilah
anak-anak akhirat dan janganlah kalian menjadi anak dunia. Hari ini (di dunia)
adalah hari beramal dan bukanlah hari perhitungan (hisab), sedangkan besok (di
akhirat) adalah hari perhitungan (hisab) dan bukanlah hari beramal.” (HR.
Bukhari secara mu’allaq).
Manfaatkan
Waktu Muda, Sebelum Datang Waktu Tua
Lakukanlah
lima hal sebelum terwujud lima hal yang lain. Dari Ibnu ‘Abbas t,
Rasulullah r
bersabda (artinya) : “Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara : [1] Waktu
mudamu sebelum datang waktu tuamu, [2] Waktu sehatmu sebelum datang waktu
sakitmu, [3] Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, [4] Masa luangmu
sebelum datang masa sibukmu, [5] Hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR.
Al-Hakim. Syaikh Al-Albani menilai Shahih).
Waktu mudamu
sebelum datang waktu tuamu, maksudnya :
“Lakukanlah ketaatan ketika dalam kondisi kuat untuk beramal (yaitu di waktu
muda), sebelum datang masa tua renta.”
Waktu sehatmu
sebelum datang waktu sakitmu, maksudnya :
“Beramallah di waktu sehat, sebelum datang waktu yang menghalangi untuk beramal
seperti di waktu sakit.”
Masa luangmu
sebelum datang masa sibukmu, maksudnya: “Manfaatkanlah kesempatan (waktu luangmu)
di dunia ini sebelum datang waktu sibukmu di akhirat nanti. Dan awal kehidupan
akhirat adalah di alam kubur.”
Masa kayamu
sebelum datang masa kefakiranmu, maksudnya :
”Bersedekahlah dengan kelebihan hartamu sebelum datang bencana yang dapat merusak
harta tersebut, sehingga akhirnya engkau menjadi fakir di dunia maupun
akhirat.”
Hidupmu
sebelum datang kematianmu, maksudnya: “Lakukanlah sesuatu yang manfaat untuk
kehidupan sesudah matimu, karena siapa pun yang mati, maka akan terputus
amalannya.”
Al-Munawi rahimahullah
mengatakan, “Lima hal ini (waktu muda, masa sehat masa luang, masa kaya dan
waktu ketika hidup) barulah seseorang betul-
betul
mengetahui nilainya setelah kelima hal tersebut hilang.” (Lihat
At-Taisir Bi Syarh Al Jami’ Ash-Shogir, 1/356)
Benarlah kata
Al-Munawi rahimahullah. Seseorang baru ingat kalau dia diberi nikmat
sehat, ketika dia merasakan sakit. Dia baru ingat diberi kekayaan, setelah
jatuh miskin. Dan dia baru ingat memiliki waktu semangat untuk beramal di masa
muda, setelah dia nanti berada di usia senja yang sulit beramal. Penyesalan
tidak ada gunanya jika seseorang hanya melewati masa tersebut dengan sia-sia.
Pemuda Shalih,
Naungan Baginya di Hari Kiamat
Rasulullah r pernah
menyebutkan tujuh golongan yang mendapatkan naungan ‘Arsy Allah I di hari Kiamat kelak, di mana tidak
ada naungan di hari itu kecuali naungan dari Allah I
semata. Salah satu dari tujuh golongan yang beliau sebutkan adalah “pemuda
yang tumbuh besar dalam beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR.
Bukhari dan Muslim).
Syaikh Salim
bin ‘Ied al-Hilali mengatakan, “Hadits ini menunjukkan keutamaan pemuda yang
tumbuh dalam ketaatan kepada Rabb-nya, dimana dia tidak mau mendekati
kemaksiatan dan tidak juga mengerjakan perbuatan keji.” (Bahjatun
Nazhirin, penjelasan hadits no. 376).
Taqwa di Masa
Muda, Bermanfaat di Masa Tua
Dalam surat At-Tiin,
Allah I telah
bersumpah dengan tiga tempat diutusnya para Nabi ‘Ulul Azmi yaitu [1] Baitul
Maqdis yang terdapat buah tin dan zaitun –tempat diutusnya Nabi ‘Isa ‘alaihis
salam, [2] Bukit Sinai yaitu tempat Allah I berbicara langsung dengan Nabi Musa ‘alaihis
salam, [3] Negeri Mekah yang aman, tempat diutus Nabi kita Muhammad r .
Setelah
bersumpah dengan tiga tempat tersebut, Allah Ta’ala pun berfirman (artinya) : “Sesungguhnya
Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami
kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya. Kecuali orang-orang yang
beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada
putus-putusnya.” (QS. At-Tiin 95 : 4-6).
Maksud ayat
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”
ada empat pendapat. Di antara pendapat tersebut adalah “Kami telah menciptakan
manusia dengan sebaik-baiknya sebagaimana di waktu muda yaitu masa kuat dan
semangat untuk beramal.” Pendapat ini dipilh oleh ‘Ikrimah rahimahullah.
“Kemudian Kami
kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya”. Menurut Ibnu ‘Abbas,
‘Ikrimah, Ibrahim dan Qotadah, juga Adh-Dhohak,
yang dimaksudkan dengan bagian ayat ini adalah “dikembalikan ke masa tua renta
setelah berada di usia muda, atau dikembalikan di masa-masa tidak semangat
untuk beramal setelah sebelumnya berada di masa semangat untuk beramal”. Masa
tua adalah masa tidak semangat untuk beramal. Seseorang akan melewati masa
kecil, masa muda, dan masa tua. Masa kecil dan masa tua adalah masa sulit untuk
beramal, berbeda dengan masa muda.
An-Nakha’i rahimahullah
mengatakan, “Jika seorang mukmin berada di usia senja dan pada saat itu
sangat sulit untuk beramal, maka akan dicatat untuknya pahala sebagaimana amal
yang dulu dilakukan pada saat muda. Inilah yang dimaksudkan dengan firman Allah
(yang artinya): bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.”
Maka, usia
muda adalah masa fit (semangat) untuk beramal. Oleh karena itu, manfaatkanlah
dengan sebaik-baiknya. Janganlah disia-siakan. Jika engkau masih berada di usia
muda, maka janganlah katakan: jika berusia tua, baru aku akan beramal.
Dalam buku Fiqh
Madzhab Syafi’i, Matan Abi Syuja’ diceritakan mengenai penulis matan yaitu
Al-Qadhi Abu Syuja’. Perlu diketahui bahwa beliau adalah di antara ulama yang
meninggal dunia di usia sangat tua. Umur beliau ketika meninggal dunia adalah
160 tahun (433-596 Hijriyah). Beliau terkenal sangat dermawan dan zuhud. Beliau
sudah diberi jabatan sebagai qodhi pada usia belia yaitu 14 tahun. Keadaan
beliau di usia senja (di atas 100 tahun), masih dalam keadaan sehat wal afiat.
Begitu pula ketika usia senja semacam itu, beliau masih diberikan kecerdasan.
Tahukah Anda apa rahasianya? Beliau tidak punya tips khusus untuk rutin
olahraga atau yang lainnya (meskipun ini juga penting tentunya).
Namun perhatikan apa tips beliau, “Aku selalu menjaga anggota badanku ini dari
bermaksiat pada Allah di waktu mudaku, maka Allah pun menjaga anggota badanku
ini di waktu tuaku.”
Ibnu Rajab rahimahullah
juga pernah menceritakan bahwa sebagian ulama ada yang sudah berusia di atas
100 tahun. Namun ketika itu, mereka masih diberi kekuatan dan kecerdasan.
Diceritakan juga bahwa
di antara ulama tersebut pernah melompat dengan lompatan yang amat jauh. Kenapa
bisa seperti itu? Ulama tersebut mengatakan, “Anggota badan ini selalu aku jaga
agar jangan sampai berbuat maksiat di kala aku muda. Balasannya, Allah menjaga
anggota badanku ini di waktu tuaku.” Namun ada orang yang sebaliknya, sudah
berusia senja, jompo dan biasa mengemis pada manusia. Para ulama pun mengatakan
tentang orang tersebut, “Inilah orang yang selalu melalaikan hak Allah di waktu
mudanya, maka Allah pun melalaikan dirinya di waktu tuanya.”
Semoga Allah I memperbaiki keadaan segenap pemuda
yang membaca risalah ini. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah kepada mereka
ke jalan yang lurus.
Wallahu A’lam.
*) Risalah ini sengaja kami tulis teruntuk kepada sebagian
saudara/saudari/adik-adik kami para pemuda/pemudi dan remaja muslim yang baru
saja menapaki salah satu episode lembaran kehidupan mereka yang bertajuk “Ujian
Nasional”. Semoga
titik ini menjadi bagian dalam proses introspeksi berkesinambungan memandang
masa depan kelak yang tidak pasti. Apakah menjadi pemuda/pemudi Islam yang
bermanfaat bagi agama dan umat? Ataukah sebaliknya?
Kami rasa,
kalian sendiri yang bisa menjawabnya kelak...
“Aku tidak
bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan
tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada
Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.”
(QS. Hud : 88).
Barakallahu
fikum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar