April 26, 2013

Muda Foya-Foya, Mati Masuk Surga ?

Masa muda, kata sebagian orang adalah waktu masa untuk bersenang-senang, masa untuk hidup foya-foya. Sebagian lagi mengatakan, “Kecil dimanja, muda foya-foya, tua kaya raya, dan mati masuk surga.” Inilah guyonan sebagian pemuda masa kini, bahkan sejak dulu. Wallahul musta’an.

Bagaimana mungkin waktu muda foya-foya, tanpa amalan sholeh, lalu mati bisa masuk surga? Subhanallah, sungguh hal ini dapat kita katakan mustahil. Surga adalah “barang dagangan” Allah I yang tidak murah. Ia hanya dapat diraih dengan rahmat Allah I dengan sebab utama beramal shalih dan bertaqwa kepadaNya. Tidak dengan foya-foya, lalai membuang waktu. Apalagi hidup dengan gelimang maksiat dan durhaka kepadaNya, naudzubillah.

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah I, edisi kali ini akan membahas sedikit nasehat bagi para pemuda (dan tentu juga bagi kaum muslimin secara umum) tentang pemanfaatan waktu muda, waktu luang, dan kehidupan di dunia secara maksimal untuk ubudiyah kepada Allah I menuju kebahagiaan di negeri akhirat kelak.

Semoga bermanfaat.


Wahai Pemuda, Hidup di Dunia Hanyalah Sementara

Rasulullah r pernah menasehati seorang sahabat yang tatkala itu berusia muda (berumur sekitar 12 tahun) yaitu Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma. Beliau r memegang pundaknya lalu bersabda (artinya) : “Hiduplah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara.” (HR. Bukhari).

Sungguh, nasehat yang agung dari Sang Nabi r kepada sahabat yang masih berusia belia. Negeri asing dan tempat pengembaraan yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah dunia dan negeri tujuan dan kampung sesungguhnya adalah akhirat (surga). Hadits ini mengingatkan kita dengan kematian sehingga tidak berpanjang angan-angan, terus mempersiapkan diri untuk negeri akhirat dengan amal shalih.

Betapa indah perkataan Ibnu Qayyim rahimahullah ketika menyebutkan bahwa kerinduan, kecintaan dan harapan seorang muslim kepada surga adalah karena surga merupakan tempat tinggalnya semula. Seorang muslim sekarang adalah tawanan musuh-
musuhnya dan diusir dari negeri asalnya karena iblis telah menawan bapak mereka, Adam ‘Alaihissalam.

Dalam hadits lainnya, Rasulullah r bersabda (artinya) :  “Apa peduliku dengan dunia?! Tidaklah aku tinggal di dunia melainkan seperti musafir yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu musafir tersebut meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi no. 2551. Syaikh Al-Albani menilai Shahih).

Ali bin Abi Thalib t juga memberi petuah kepada kita : “Dunia itu akan pergi menjauh. Sedangkan akhirat akan mendekat. Dunia dan akhirat tesebut memiliki anak. Jadilah anak-anak akhirat dan janganlah kalian menjadi anak dunia. Hari ini (di dunia) adalah hari beramal dan bukanlah hari perhitungan (hisab), sedangkan besok (di akhirat) adalah hari perhitungan (hisab) dan bukanlah hari beramal.” (HR. Bukhari secara mu’allaq).

Manfaatkan Waktu Muda, Sebelum Datang Waktu Tua

Lakukanlah lima hal sebelum terwujud lima hal yang lain. Dari Ibnu ‘Abbas t, Rasulullah r bersabda (artinya) : “Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara : [1] Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, [2] Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, [3] Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, [4] Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, [5] Hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Hakim. Syaikh Al-Albani menilai Shahih).

Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, maksudnya : “Lakukanlah ketaatan ketika dalam kondisi kuat untuk beramal (yaitu di waktu muda), sebelum datang masa tua renta.”

Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, maksudnya : “Beramallah di waktu sehat, sebelum datang waktu yang menghalangi untuk beramal seperti di waktu sakit.”

Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, maksudnya: “Manfaatkanlah kesempatan (waktu luangmu) di dunia ini sebelum datang waktu sibukmu di akhirat nanti. Dan awal kehidupan akhirat adalah di alam kubur.”

Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, maksudnya : ”Bersedekahlah dengan kelebihan hartamu sebelum datang bencana yang dapat merusak harta tersebut, sehingga akhirnya engkau menjadi fakir di dunia maupun akhirat.”

Hidupmu sebelum datang kematianmu, maksudnya: “Lakukanlah sesuatu yang manfaat untuk kehidupan sesudah matimu, karena siapa pun yang mati, maka akan terputus amalannya.”

Al-Munawi rahimahullah mengatakan, “Lima hal ini (waktu muda, masa sehat masa luang, masa kaya dan waktu ketika hidup) barulah seseorang betul-
betul mengetahui nilainya setelah kelima hal tersebut hilang.” (Lihat At-Taisir Bi Syarh Al Jami’ Ash-Shogir, 1/356)

Benarlah kata Al-Munawi rahimahullah. Seseorang baru ingat kalau dia diberi nikmat sehat, ketika dia merasakan sakit. Dia baru ingat diberi kekayaan, setelah jatuh miskin. Dan dia baru ingat memiliki waktu semangat untuk beramal di masa muda, setelah dia nanti berada di usia senja yang sulit beramal. Penyesalan tidak ada gunanya jika seseorang hanya melewati masa tersebut dengan sia-sia.

Pemuda Shalih, Naungan Baginya di Hari Kiamat

Rasulullah r pernah menyebutkan tujuh golongan yang mendapatkan naungan ‘Arsy Allah I di hari Kiamat kelak, di mana tidak ada naungan di hari itu kecuali naungan dari Allah I semata. Salah satu dari tujuh golongan yang beliau sebutkan adalah “pemuda yang tumbuh besar dalam beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali mengatakan, “Hadits ini menunjukkan keutamaan pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Rabb-nya, dimana dia tidak mau mendekati kemaksiatan dan tidak juga mengerjakan perbuatan keji.” (Bahjatun Nazhirin, penjelasan hadits no. 376).

Taqwa di Masa Muda, Bermanfaat di Masa Tua

Dalam surat At-Tiin, Allah I telah bersumpah dengan tiga tempat diutusnya para Nabi ‘Ulul Azmi yaitu [1] Baitul Maqdis yang terdapat buah tin dan zaitun –tempat diutusnya Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, [2] Bukit Sinai yaitu tempat Allah I berbicara langsung dengan Nabi Musa ‘alaihis salam, [3] Negeri Mekah yang aman, tempat diutus Nabi kita Muhammad r .

Setelah bersumpah dengan tiga tempat tersebut, Allah Ta’ala pun berfirman (artinya) : “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” (QS. At-Tiin 95 : 4-6).

Maksud ayat “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” ada empat pendapat. Di antara pendapat tersebut adalah “Kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya sebagaimana di waktu muda yaitu masa kuat dan semangat untuk beramal.” Pendapat ini dipilh oleh ‘Ikrimah rahimahullah.

“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya”. Menurut Ibnu ‘Abbas, ‘Ikrimah, Ibrahim dan Qotadah, juga Adh-Dhohak, yang dimaksudkan dengan bagian ayat ini adalah “dikembalikan ke masa tua renta setelah berada di usia muda, atau dikembalikan di masa-masa tidak semangat untuk beramal setelah sebelumnya berada di masa semangat untuk beramal”. Masa tua adalah masa tidak semangat untuk beramal. Seseorang akan melewati masa kecil, masa muda, dan masa tua. Masa kecil dan masa tua adalah masa sulit untuk beramal, berbeda dengan masa muda.

An-Nakha’i rahimahullah mengatakan, “Jika seorang mukmin berada di usia senja dan pada saat itu sangat sulit untuk beramal, maka akan dicatat untuknya pahala sebagaimana amal yang dulu dilakukan pada saat muda. Inilah yang dimaksudkan dengan firman Allah (yang artinya): bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.”

Maka, usia muda adalah masa fit (semangat) untuk beramal. Oleh karena itu, manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya. Janganlah disia-siakan. Jika engkau masih berada di usia muda, maka janganlah katakan: jika berusia tua, baru aku akan beramal.

Dalam buku Fiqh Madzhab Syafi’i, Matan Abi Syuja’ diceritakan mengenai penulis matan yaitu Al-Qadhi Abu Syuja’. Perlu diketahui bahwa beliau adalah di antara ulama yang meninggal dunia di usia sangat tua. Umur beliau ketika meninggal dunia adalah 160 tahun (433-596 Hijriyah). Beliau terkenal sangat dermawan dan zuhud. Beliau sudah diberi jabatan sebagai qodhi pada usia belia yaitu 14 tahun. Keadaan beliau di usia senja (di atas 100 tahun), masih dalam keadaan sehat wal afiat. Begitu pula ketika usia senja semacam itu, beliau masih diberikan kecerdasan. Tahukah Anda apa rahasianya? Beliau tidak punya tips khusus untuk rutin olahraga atau yang lainnya (meskipun ini juga penting tentunya). Namun perhatikan apa tips beliau, “Aku selalu menjaga anggota badanku ini dari bermaksiat pada Allah di waktu mudaku, maka Allah pun menjaga anggota badanku ini di waktu tuaku.”

Ibnu Rajab rahimahullah juga pernah menceritakan bahwa sebagian ulama ada yang sudah berusia di atas 100 tahun. Namun ketika itu, mereka masih diberi kekuatan dan kecerdasan.

Diceritakan juga bahwa di antara ulama tersebut pernah melompat dengan lompatan yang amat jauh. Kenapa bisa seperti itu? Ulama tersebut mengatakan, “Anggota badan ini selalu aku jaga agar jangan sampai berbuat maksiat di kala aku muda. Balasannya, Allah menjaga anggota badanku ini di waktu tuaku.” Namun ada orang yang sebaliknya, sudah berusia senja, jompo dan biasa mengemis pada manusia. Para ulama pun mengatakan tentang orang tersebut, “Inilah orang yang selalu melalaikan hak Allah di waktu mudanya, maka Allah pun melalaikan dirinya di waktu tuanya.”

Semoga Allah I memperbaiki keadaan segenap pemuda yang membaca risalah ini. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah kepada mereka ke jalan yang lurus.

Wallahu A’lam.

*) Risalah ini sengaja kami tulis teruntuk kepada sebagian saudara/saudari/adik-adik kami para pemuda/pemudi dan remaja muslim yang baru saja menapaki salah satu episode lembaran kehidupan mereka yang bertajuk “Ujian Nasional”. Semoga titik ini menjadi bagian dalam proses introspeksi berkesinambungan memandang masa depan kelak yang tidak pasti. Apakah menjadi pemuda/pemudi Islam yang bermanfaat bagi agama dan umat? Ataukah sebaliknya?

Kami rasa, kalian sendiri yang bisa menjawabnya kelak...

Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Hud : 88).

Barakallahu fikum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...