Februari 24, 2012

Keshalihanku Untukmu,Anakku ...

Setiap kita pasti menginginkan kiranya Allah I menganugerahkan anak – anak yang shalih. Anak – anak yang bertakwa, mampu berbakti kepada rabbnya, rasulnya, agama dan orangtua.

Namun, sudahkah kita berupaya maksimal untuk itu? Sudahkah kita membentuk keshalihan dalam pribadi sebagai orangtua atau calon orangtua (bagi yang belum dan akan menjadi orangtua)? Tahukah kita bahwa harapan dan cita - cita besar itu sangat ditentukan oleh keadaan dan kualitas kita sebagai orangtua ? Alangkah ironi, ketika kita berharap anak menjadi shalih dan bertakwa, sedangkan kita sendiri berkubang dalam maksiat dan dosa.

Dalam beberapa ayat dalam al-Qur’an dan sunnah nabawiyyah, ternyata keshalihan dan kebaikan orangtua memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan dan kebaikan anak – anak mereka, di dunia bahkan di akhirat. Demikian pula amal buruk dan dosa-dosa besar yang dilakukan oleh kedua orang tua memiliki dampak negatif terhadap pendidikan anak.

Mengapa demikian? Pertama,  ketika si anak membuka matanya di muka bumi ini, yang pertama kali ia lihat adalah ayah dan bundanya. Manakala ia melihat orangtuanya berhias akhlak mulia serta tekun beribadah, niscaya itulah yang akan terekam dengan kuat di benaknya. Dan insya Allah  itupun juga yang akan ia praktekkan dalam kesehariannya. Pepatah mengatakan: “buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”. Betapa banyak ketakwaan pada diri anak disebabkan ia mengikuti ketakwaan kedua orangtuanya atau salah seorang dari mereka. Ingat karakter dasar manusia, terutama anak kecil, yang suka meniru!


Kedua, karena keberkahan amal-amal shalih tersebut dan pahala yang Allah limpahkan kepada pelakunya. Demikian pula akibat buruk yang ditimbulkan oleh perbuatan-perbuatan jelek dan balasan dari Allah serta hukumanNya yang ditimpakan kepada pelakunya. Bisa jadi bentuk balasan dan pahala Allah atau hukuman dan azabnya menimpa anak-anak.

Untuk yang pertama dalam bentuk Allah memperbaiki anak-anak itu, menjaga dan melindungi mereka, melapangkan rizki dan keselamatan kepada mereka, sedangkan yang kedua atau dalam bentuk penyimpangan dan pembelotan anak-anak itu dari jalan kebenaran, turunnya bencana, wabah dan penyakit, atau berbagai macam problematika hidup yang menimpa mereka.

Dalam sebuah kisah, ketika Nabi Musa dan Khidhir ‘alaihimassalam melewati sebuah negeri, keduanya meminta makanan dan memohon jamuan sebagaimana layaknya seorang tamu kepada penduduk negeri tersebut, akan tetapi mereka semua menolaknya, lalu keduanya menemukan sebuah rumah yang hampir roboh tiangnya, lalu Khidhir ‘alaihissalam menegakkannya kembali, setelah itu Nabi Musa alaihissalam berkata, “... Jika engkau mau, niscaya engkau mengambil upah untuk itu..” (QS. al-Kahfi : 77).

Dan jawaban Khidhir kepada Musa adalah,
Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang Ayahnya adalah seorang yang saleh, Maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya"  (QS. al-Kahfi: 82).

Dalam menafsirkan firman Allah Idan kedua orang tuanya adalah orang shalih”, Ibnu Katsir rahimahullah berkata : “Ayat di atas menjadi dalil bahwa keshalihan seseorang berpengaruh kepada anak cucunya di dunia dan akhirat berkat ketaatan dan syafaatnya kepada mereka, maka mereka terangkat derajatnya di surga agar kedua orang tuanya senang dan berbahagia sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Al-Qur`ân dan as-Sunnah”. [Tafsîr Ibnu Katsir, 5/ 141].

Allah I telah memerintahkan kepada kedua orang tua yang khawatir terhadap masa depan anak-anaknya agar selalu bertakwa, beramal shalih, beramar ma’ruf nahi mungkar dan berbagai macam amal ketaatan lainnya, sehingga dengan amalan-amalan itu Allah akan menjaga anak cucunya. Allah I berfirman, artinya: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” (QS. an-Nisaa : 9).

Syaikh Siddiq Hasan Khan rahimahullah berkata : “Sesungguhnya Allah mengangkat derajat anak cucu seorang mukmin, meskipun amalan mereka di bawahnya, agar orang tuanya tenang dan bahagia, dengan syarat mereka dalam keadaan beriman dan telah berumur baligh bukan masih kecil. Meskipun anak-anak yang belum baligh tetap dipertemukan dengan orang tua mereka”.[ Lihat Tafsîr Fathul-Bayan, Siddiq Hasan Khan, 6/434].

Dari Said bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas t, berkata : “Allah Azza wa Jalla mengangkat derajat anak cucu seorang mukmin setara dengannya, meskipun amal perbuatan anak cucunya di bawahnya, agar kedua orang tuanya tenang dan bahagia.

Allah I berfirman, artinya : “Dan orang-orang yang beriman dan yang anak keturunan mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, akan Kami pertemukan anak keturunan mereka itu dengan mereka dan Kami tidak mengurangi pahala amalan mereka sedikit pun. Setiap orang terikat dengan apa yang diusahakannya (QS. Ath-Thur: 21).
Dalam firman-Nya ini Allah I mengabarkan tentang keutamaan-Nya, kedermawananNya, anugerahNya, kelembutanNya terhadap makhluk-makhlukNya serta kebaikanNya, bahwa orang-orang yang beriman apabila anak keturunan mereka mengikuti mereka dalam keimanan, maka Allah I  akan mempertemukan anak keturunan itu dengan ayah mereka yang shalih, walaupun amalan anak keturunan itu tidak bisa menyamai amalan ayah mereka, untuk menyenangkan hati ayah mereka dengan adanya anak keturunan itu di sisinya. Maka Allah I  menghimpun mereka dalam bentuk yang paling baik, dengan mengangkat derajat orang yang kurang sempurna amalannya di sisi orang yang sempurna amalannya, tanpa mengurangi pahala amalan dan derajat orang yang sempurna amalannya tersebut. (Tafsir Ibnu Katsir, 7/332).

Ibnu Syahin meriwayatkan, bahwasanya Haritsah bin Nu`man t datang kepada Nabi r namun ia sedang berbicara dengan seseorang hingga ia duduk tidak mengucapkan salam, maka Jibril Alaihissallam berkata : “Ketahuilah bila orang ini mengucapkan salam, maka aku akan menjawabnya?” Nabi r berkata kepada Jibril: “Kamu kenal dengan orang ini?” Jibril Alaihissallam menjawab: “Ya, ia termasuk delapan puluh orang yang sabar pada waktu perang Hunain yang telah dijamin rizki oleh Allah bersama anak-anak mereka nanti di surga”. [HR. Thabrani dalam al-Kaba`ir 3/227/(3225), dan lainnya].

Diriwayatkan dari sebagian salaf bahwa dia berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, sungguh aku akan menambah shalat (sunnah) yang aku lakukan untuk kebaikanmu.” Sebagian ulama berkata, “Maknanya adalah aku akan memperbanyak melakukan shalat dan memperbanyak berdo’a untukmu di dalam shalat tersebut.”
Oleh karena itu wahai para orangtua (dan juga calon orangtua), bertaqwalah kepada Allah I .

Bersihkanlah makanan, minuman, dan pakaian kalian wahai para orang tua, Anda mengangkat kedua tangan kepada Allah, berdoa kepadaNya dengan tangan dan jiwa yang bersih lagi suci, sehingga Allah mengabulkan permohonan kalian demi anak-anak kalian, “... Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Maidah : 27).

Wahai para ayah! Layakkah Anda mengangkat kedua tangan kepada Allah I ,sedangkan kedua tangan itu berlumuran darah orang-orang yang tidak bersalah, kotor karena memukul, melakukan kezhaliman dan menipu manusia? Pantaskah bagi Anda berdo’a kepada Allah I demi kebaikan anak-anak dengan mengangkat kedua tangan seperti itu?!

Pantaskah Anda memohon kepada Rabb Anda dengan mulut-mulut yang kotor dengan memakan harta-harta yang haram, kebohongan, namimah, ghibah, merusak kehormatan orang lain, dan mencaci maki bahkan penuh dengan kesyirikan atau menuduh seorang wanita yang terjaga lagi tidak tahu-menahu dengan perbuatan keji?

Apakah Anda meyakini bahwa doa yang Anda panjatkan akan terkabul sedangkan makanan Anda haram, pakaian Anda haram dan Anda pun tumbuh dari sesuatu yang haram?! Merupakan kewajiban atas kalian para orang tua untuk menumbuhkan ketakwaan kepada Allah dan banyak melakukan kebaikan sehingga Allah I  menerima segala permohonan yang kalian panjatkan untuk anak-anak kalian.

Rasulullah r bersabda, artinya : “Seseorang melakukan perjalanan, rambutnya acak-acakan, badannya penuh dengan debu, dia mengangkat kedua tangannya ke langit seraya berdo’a, ‘Ya Rabb! Ya Rabb!’ Sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dia tumbuh dengan barang yang haram, maka bagaimana mungkin permohonannya dikabulkan.” (HR. Muslim).

Ketahuilah, jika kedua orang tua membaca al-Qur-an, khususnya surat al-Baqarah dan al-Mu’awwidzatain an-Naas dan al-Falaq dan yang semisalnya, maka para Malaikat akan turun kepadanya untuk mendengarkan al-Qur-an, sedangkan setan akan lari, dan tidak diragukan bahwa turunnya para Malaikat disertai dengan turunnya ketenangan dan rahmat, semua ini tentu saja memiliki pengaruh yang sangat nyata terhadap kebaikan dan keselamatan anak-anak. 
Sebaliknya jika para orang tua meninggalkan al-Qur-an dan lalai dengan tidak berdzikir kepada Allah, maka syaitan akan turun dan menyerang rumah-rumah yang kosong dari dzikir kepada Allah.

Setan akan menyerang rumah-rumah yang penuh dengan suara musik yang berisik, alat-alat musik yang tidak berguna dan gambar-gambar yang diharamkan. Hal ini tentu saja sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak-anak. Kondisi tersebut akan mendorong mereka untuk melakukan kemaksiatan dan mengajak mereka untuk berbuat kerusakan. Maka jangan remehkan dampak keshalihan diri terhadap keshalihan anak.
Akhirnya, kita memohon kiranya Allah I senantiasa memberikan taufiqNya kepada kita sekalian sehingga mampu mewujudkan keshalihan dan ketaqwaan, demi cita – cita anugerah anak yang shalih.

Semoga Allah kelak mengumpulkan kita di surgaNya bersama para nabi, para syuhada, orang – orang shalih dan keluarga yang kita sayangi. Sebagaimana doa para malaikat yang memikul ‘Arsy dan para malaikat yang di sekeliling ‘Arsy bagi orang-orang yang beriman :
Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana “ (QS. Al-Mu’min/Ghafir : 8).

Wallahu a’lam.

Maraji’ :
§ Tarbiyatul Abna’, Syaikh Musthafa Al Adawi, Penerbit Media Hidayah
§ Artikel : “Pengaruh Lingkungan Terhadap Pendidikan Anak”, Majalah As- Sunnah Edisi 03/Tahun XII
§ Artikel : “Jurus Jitu Mendidik Anak”, Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...