Pernahkah
Anda menangis? Tentu pernah, entah untuk alasan apa. Mungkin karena terluka ?
terkena musibah? patah hati? menangis hanya karena mengikuti sebuah alur cerita
dalam film dan buku yang menyedihkan? atau bahkan menangis tanpa makna?
Entahlah, biarlah hati Anda yang menjawabnya. Beragam tangisan, beragam kondisi
hati.
Namun,
pernahkah Anda menangis karena takut kepada Allah I ? Menangis karena menyesali dosa – dosa yang
telah banyak dilakukan? Menangis karena begitu banyak kewajiban dan sunnah
dalam agama yang telah ditinggalkan? Semoga saja Anda telah pernah
melakukannya. Karena sungguh air mata yang tumpah karena takut kepada Rabb Sang
Kuasa adalah mahal. Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata:
“Menangis itu ada 10 macam, yakni 9 karena selain Allah dan satu karena Allah.
Bila menangis karena Allah itu datang sekali dalam setahun, maka itu sudah
terbilang banyak.” [Hilyatul Auliya' 7/11].
Anjuran
Menangis Karena Allah
Nabi r bersabda, artinya : “Tidak akan masuk neraka
seseorang yang menangis karena merasa takut kepada Allah sampai susu [yang
telah diperah] bisa masuk kembali ke tempat keluarnya.” (HR. Tirmidzi
[1633]). Rasulullah r bersabda,
artinya : “Ada tujuh golongan yang
akan dinaungi oleh Allah pada hari ketika tidak ada naungan kecuali
naungan-Nya; [salah satunya] ... seorang
yang mengingat Allah di kala sendirian sehingga kedua matanya mengalirkan air
mata (menangis).” (HR. Bukhari [629] dan Muslim [1031]).
Rasulullah r bersabda, artinya : “Ada dua buah mata yang tidak
akan tersentuh api neraka; mata yang menangis karena merasa takut kepada Allah,
dan mata yang berjaga-jaga di malam hari karena menjaga pertahanan kaum
muslimin dalam [jihad] di jalan Allah.” (HR. Tirmidzi [1639], disahihkan
Syaikh al-Albani dalam Sahih Sunan at-Tirmidzi [1338]).
Nabi r bersabda,artinya : “Tidak ada yang lebih dicintai
oleh Allah selain dua jenis tetesan air dan dua bekas [pada tubuh]; yaitu
tetesan air mata karena perasaan takut kepada Allah, dan tetesan darah yang
mengalir karena berjuang [berjihad] di jalan Allah. Adapun dua bekas itu
adalah; bekas/luka pada tubuh yang terjadi akibat bertempur di jalan Allah dan
bekas pada tubuh yang terjadi karena mengerjakan salah satu kewajiban yang
diberikan oleh Allah.” (HR. Tirmidzi [1669] disahihkan oleh Syaikh
al-Albani dalam Sahih Sunan at-Tirmidzi [1363]).
Tangisan
Rasulullah r
Ibnu Mas’ud t mengatakan;
suatu ketika Nabi r berkata kepadaku, “Bacakanlah
al-Qur’an kepadaku.” Maka kukatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah
saya bacakan al-Qur’an kepada anda sementara al-Qur’an itu diturunkan kepada
anda?”. Maka beliau menjawab, “Sesungguhnya aku senang mendengarnya dibaca oleh
selain diriku.” Maka akupun mulai membacakan kepadanya surat an-Nisaa’. Sampai
akhirnya ketika aku telah sampai ayat ini (yang artinya), “Lalu bagaimanakah
ketika Kami datangkan saksi bagi setiap umat dan Kami jadikan engkau sebagai
saksi atas mereka.” (QS. an-Nisaa’ : 40). Maka beliau berkata, “Cukup, sampai
di sini saja.” Lalu aku pun menoleh kepada beliau dan ternyata kedua mata
beliau mengalirkan air mata.” (HR. Bukhari [4763] dan Muslim [800]).
Dari
Ubaidullah bin Umair rahimahullah, suatu saat dia pernah bertanya kepada
Aisyah radhiyallahu ’anha, “Kabarkanlah kepada kami tentang sesuatu yang
pernah engkau lihat yang paling membuatmu kagum pada diri Rasulullah r ?”. Maka
‘Asiyah pun terdiam lalu mengatakan, “Pada suatu malam, beliau (nabi) berkata,
‘Wahai Aisyah, biarkanlah malam ini aku sendirian untuk beribadah kepada
Rabbku.’ Maka aku katakan, ‘Demi Allah, sesungguhnya saya sangat senang dekat
dengan anda. Namun saya juga merasa senang apa yang membuat anda senang.’
Aisyah menceritakan, ‘Kemudian beliau bangkit lalu bersuci dan kemudian
mengerjakan shalat.’ Aisyah berkata, ‘Beliau terus menerus menangis sampai-sampai
basahlah bagian depan pakaian beliau!’. Aisyah mengatakan, ‘Ketika beliau duduk
[dalam shalat] maka beliau masih terus menangis sampai-sampai jenggotnya pun
basah oleh air mata!’. Aisyah melanjutkan, ‘Kemudian beliau terus menangis
sampai-sampai tanah [tempat beliau shalat] pun menjadi ikut basah [karena
tetesan air mata]!”. Lalu datanglah Bilal untuk mengumandangkan adzan shalat
(Subuh). Ketika dia melihat Rasulullah r menangis, Bilal pun berkata, ‘Wahai
Rasulullah, anda menangis? Padahal Allah telah mengampuni dosa anda yang telah
berlalu maupun yang akan datang?!’. Maka Nabi pun menjawab, ‘Apakah aku tidak
ingin menjadi hamba yang pandai bersyukur?! Sesungguhnya tadi malam telah turun
sebuah ayat kepadaku, sungguh celaka orang yang tidak membacanya dan tidak
merenungi kandungannya! Yaitu ayat (yang artinya), “Sesungguhnya dalam
penciptaan langit dan bumi….dst sampai selesai” (QS. Ali Imran : 190).” (HR.
Ibnu Hiban [2/386] dan selainnya. Disahihkan Syaikh al-Albani dalam Sahih
at-Targhib [1468] dan ash-Shahihah [68]).
Tangisan
Para Sahabat y dan
Orang – Orang Shalih
Mu’adz bin
Jabal t suatu
ketika pernah menangis tersedu-sedu. Kemudian ditanyakan kepadanya, “Apa yang
membuatmu menangis?”. Maka beliau menjawab, “Karena Allah ‘azza wa jalla
hanya mencabut dua jenis nyawa. Yang satu akan masuk surga dan satunya akan
masuk ke dalam neraka. Sedangkan aku tidak tahu akan termasuk golongan manakah
aku di antara kedua golongan itu?”.
Abdullah bin
Umar radhiyallahu ’anhuma mengatakan, “Sungguh, menangis karena takut
kepada Allah itu jauh lebih aku sukai daripada berinfak uang seribu dinar!”.
Abu Hurairah
t menangis pada saat
sakitnya [menjelang ajal]. Maka ditanyakan kepadanya, “Apa yang membuatmu
menangis?!”. Maka beliau menjawab, “Aku bukan menangis gara-gara dunia kalian
[yang akan kutinggalkan] ini. Namun, aku menangis karena jauhnya perjalanan
yang akan aku lalui sedangkan bekalku teramat sedikit, sementara bisa jadi
nanti sore aku harus mendaki jalan ke surga atau neraka, dan aku tidak tahu
akan ke manakah digiring diriku nanti?”.
Abdussalam
(mantan budak Maslamah bin Abdul Malik) berkata, “Umar bin Abdul Aziz pernah
menangis, lalu Fathimah ikut menangis. Namun mereka tidak tahu apa yang membuat
mereka menangis. Ketika mereka selesai menangis, Fathimah bertanya, “Ya Amirul
Mukminin, mengapa anda menangis?” Umar menjawab, “Fathimah, aku teringat hari
dimana manusia dipisahkan dari hadapan Allah; satu kelompok di dalam Surga dan
kelompok lainnya di dalam Neraka.” Kemudian ia berteriak dan pingsan. [Hilyatul
Auliya' 5/269].
Suatu kali,
seorang tabi'in, Muhammad bin Munkadir menunaikan shalat malam, tiba-tiba ia
menangis dan isakan tangisnya semakin tak mampu ditahannya. Sehingga
keluarganya terkejut dan bertanya kepadanya, "Apa yang menyebabkan kamu
menangis? Muhammad bin Munkadir tak mampu menjawab, dan masih dalam keadaan
menangis. Akhirnya mereka berinisiatif meminta tolong kepada Abu Hazim yang
dikenal sebagai seorang ulama yang juga teman Muhammad bin Munkadir untuk
menasehatinya. Tak lama kemudian, Abu Hazim datang sementara Muhammad bin
Munkadir masih menangis. Abu Hazim berkata, "Wahai saudaraku, apa yang
menyebabkan anda menangis? Anda telah membuat khawatir keluarga anda. Apakah
karena suatu penyakit? Atau apa yang sebenarnya menimpa anda?" Dia
menjawab, "Sungguh bacaanku sampai pada suatu ayat dalam kitab Allah -azza
wa jalla- lalu saya menangis". Abu Hazim bertanya, "Ayat yang manakah
itu?", Dia menjawab, "Firman Allah yang artinya,"Dan jelaslah
bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan" (QS.
Az-Zumar : 47).
Mendengar
ayat tersebut dibacakan, Abu Hazim turut menangis bersamanya, bahkan keduanya
makin larut dalam tangisan. Sehingga ada anggota keluarga berkata kepada Abu
Hazim, "Kami mengundang anda supaya menghilangkan kesedihannya namun
ternyata anda membuatnya semakin larut dalam kesedihan".
Subhanallah, begitulah
keadaan ulama sejati, ilmu dan amalnya menambah rasa takut kepada Allah I
Nasehat Para
Ulama
Qasamah bin
Zuhair berkata, “Abu Musa pernah berkhutbah di kota Bashrah. Ia berkata, “Wahai
manusia, menangislah. Jika kalian tidak bisa menangis, maka berusahalah untuk
menangis. Karena penghuni Neraka akan menangis dengan mengeluarkan air mata
sampai habis. Kemudian mereka akan menangis dengan mengeluarkan air mata darah.
Bahkan seandainya di situ dilepaskan beberapa perahu, pastilah akan bisa
berjalan.” [Hilyatul Auliya' 1/261].
Ka’ab bin
al-Ahbar berkata, “Sungguh, aku lebih suka menangis karena Allah, lalu air
mataku mengalir di atas pipiku,
daripada bersedekah dengan emas seberat timbanganku.” [Hilyatul Auliya' 5/366]
Yazid bin
Maisaroh berkata, “Tangisan itu berasal dari tujuh hal: gembira, sedih, cemas,
sakit, riya’, syukur, dan tangisan karena takut kepada Allah. Inilah
tangisan yang tetesan air matanya bisa memadamkan api sebesat gunung.”
[Hilyatul Auliya' 5/235]
Shalih
al-Murri berkata, “Tangisan itu bisa diundang dengan cara memikirkan dosa, jika
direspons positif oleh hati. Jika tidak, maka alihkan kepada kengerian dan
kedahsyatan hari Kiamat, jika direspons positif. Jika tidak, maka tawarkanlah
kepadanya untuk berguling-guling di antara nampan-nampan api (Neraka).”
Kemudian ia pun menangis dan pingsan. Dan orang-orang pun berteriak histeris.
[Hilyatul Auliya' 6/167]
Suatu malam
al-Hasan al-Bashri rahimahullah terbangun dari tidurnya lalu menangis
sampai-sampai tangisannya membuat segenap penghuni rumah kaget dan terbangun.
Maka mereka pun bertanya mengenai keadaan dirinya, dia menjawab, “Aku teringat
akan sebuah dosaku, maka aku pun menangis.”
Subhanalah, kalau
al-Hasan al-Bashri saja menangis sedemikian keras karena satu dosa saja
yang diperbuatnya, lalu bagaimanakah lagi dengan orang yang mengingat bahwa
jumlah dosanya tidak dapat lagi dihitung dengan jari tangan dan jari kaki? Laa
haula wa laa quwwata illa billah! Alangkah jauhnya akhlak kita dibandingkan
dengan akhlak para salafush shalih? Tidakkah dosamu membuatmu menangis dan
bertaubat kepada Rabbmu? “Apakah mereka tidak mau bertaubat kepada Allah dan
meminta ampunan kepada-Nya? Sementara Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.”
(lihat QS. al-Maa’idah : 74).
Aina nahnu
min haa’ulaa’i?
Aina nahnu
min akhlaqis salaf?
Di mana kita
dibanding mereka?
Di mana kita
dibanding akhlak para salaf?
Ya Allah,
kumpulkanlah kami bersama mereka kelak di Surga-Mu. Amin
Wallahu a’lam.
Maraji’ :
·
1000 Hikmah
Ulama Salaf, Bab : Menangis Karena Allah, Penerbit Elba.
·
al-Buka’ min
Khas-yatillah, Asbabuhu wa Mawani’uhu wa Thuruq Tahshilihi, hal. 4-13
; Abu Thariq Ihsan bin Muhammad bin ‘Ayish al-’Utaibi, tanpa penerbit ; http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/di-mana-air-matamu.html
·
Majalah Ar-Risalah
; Rubrik Tadzkirah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar