Maret 01, 2012

Yang Terlupa Dalam Memberi Nasehat

Agama adalah nasehat. Begitulah kalimat yang telah dituturkan oleh qudwah kita Rasulullah r . Hal ini menunjukkan betapa tinggi dan agungnya sebuah nasehat dalam Islam. Bahkan nasehat merupakan salah satu wujud nyata dari hadits nabi r yang artinya : “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hal ini karena nasehat adalah mencintai untuk sesama muslim apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri, membimbingnya kepada kebaikan, menunjukinya kepada kebenaran apabila ia keliru, mengingatkannya bila lupa dan menjadikannya seorang saudara.

Memberi nasehat juga merupakan salah satu kewajiban seorang muslim terhadap muslim lainnya. Rasulullah r bersabda, artinya : Jika dia minta nasehat kepadamu berilah nasehat (HR. Muslim).

Dari pengertian ini maka nasehat jelas bukanlah mencari-cari kesalahan orang lain. Apabila ia keliru, ditutupi aibnya. Itulah nasehat yang akan mempererat tali ukhuwah dan memperkokoh bangunan iman. Rasulullah r bersabda, artinya : “Seorang mukmin bagi mukmin yang lainnya adalah bagaikan sebuah bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya.(HR. Bukhari dan Muslim).

Demikianlah, nasehat sekali lagi menduduki tempat yang agung dan mulia. Namun perlu diingat bahwa keagungan dan kemuliaannya hanya dapat diraih ketika dilaksanakan dalam wujudnya yang sempurna sesuai dengan adab dan aturan sebagaimana contoh dari Rasululllah r.


Hari ini kita banyak mendapati, banyaknya “nasehat” yang sebenarnya bukanlah nasehat. Para pelantun “nasehat” tidak lagi memperhatikan adab dan akhlak dalam bernasehat. Mereka melupakannya. Bahkan nasehat tersebut telah  dicampur-adukkan dengan celaan, hinaan dan olok-olokan. Yang meyedihkan lagi, “nasehat” tersebut dijadikan sebagai wasilah (sarana) untuk mencapai tujuan tertentu. Mungkin balas dendam, hasad, mempermalukan dan tujuan lainnya. Wallahul Musta’an.

PERINTAH UNTUK MENJAGA LISAN

Rasulullah r bersabda, artinya : “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.(HR. Bukhari dan Muslim).
Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah menjelaskan bahwa, “Apabila seseorang ingin berbicara maka hendaklah ia berpikir terlebih dahulu. Jika diperkirakan perkataanya tidak akan membawa mudharat maka silakan dia berbicara. Akan tetapi apabila diperkirakan apakah akan membawa mudharat atau tidak (ragu-ragu) maka hendaknya ia tak usah bicara. Orang yang berakal seharusnya lebih banyak mempergunakan telinga dari pada mulutnya. Dia perlu menyadari bahwa dia diberi dua telinga dan satu mulut adalah supaya dia lebih banyak mendengar daripada bicara. Seringkali orang menyesal di kemudian hari karena perkataan yang diucapkannya.
Dan sesungguhnya Rasulullah r bersabda, artinya : Sesungguhnya seorang mukmin yang mengucapkan suatu perkataan yang tidak dipikirkan apa akibatnya akan membuatnya terjerumus dalam api neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak  antara timur dan barat. (HR. Bukhari dan Muslim).
Adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Demikianlah adanya. Kita terkadang melihat seseorang tampak wara’ dalam menjaga makanan, pakaian dan pergaulannya. Namun apabila berbicara, ada hal yang seharusnya tidak disertakan dalam ucapannya namun ia sertakan juga. Adalakanya ia berusaha tetap jujur, namun ia memperbagus ucapannya agar dipuji sebagai orang yang fasih…”
BERBURUK SANGKA DAN MENCARI-CARI KESALAHAN
Allah Ta’ala berfirman, artinya : “Hai orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain. Janganlah kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12).
Abu Qilabah Abdullah bin Yazid Al-Jurmi rahimahullah berkata, “Apabila ada tindakan saudaramu yang tidak kamu sukai, maka berusaha keraslah mencarikan alasan untuknya. Maka katakanlah kepada dirimu sendiri; saya kira saudaraku itu mempunyai alasan yang tepat sehingga melakukkan perbuatan tersebut”.
ETIKA DALAM MEMBERI NASEHAT
Berkaitan dengan cara menasehati orang yang melakukan kesalahan, perlu diperhatikan beberapa etika berikut :
1. Ikhlas. Hendaknya ikhlas di dalam memberikan nasehat, tidak mengharap apa pun di balik nasehat selain keridhaan Allah I  dan terlepas dari kewajiban. Dan hendaknya nasehat tersebut bukan untuk tujuan riya` atau mendapat perhatian orang atau popularitas atau menjatuhkan orang yang diberi nasehat dan maksud buruk lainnya.
2. Cara yang baik. Hendaknya nasehat dengan cara yang baik dengan tutur kata yang lembut dan mudah hingga dapat berpengaruh kepada orang yang dinasehati dan mau menerimanya. Allah I  berfirman, artinya : “Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasehat yang baik dan debatlah ia dengan cara yang lebih baik” (QS. An-Nahl :  125).
3. Saat sendirian. Hendaknya orang yang dinasehati itu di saat sendirian, karena yang demikian itu lebih mudah ia terima.
Imam Syafi'i rahimahullah berkata dalam sebuah syairnya : "Hendaklah engkau mendatangiku untuk memberi nasehat ketika aku sendirian. Hindarilah memberikan nasehat kepadaku di tengah khalayak ramai. Karena sesungguhnya memberi nasehat di hadapan banyak orang sama saja dengan memburuk-burukkan, saya tidak suka mendengarnya. Jika engkau menyalahi saya dan tidak mengikuti ucapanku maka jangalah engkau kaget apabila nasehatmu tidak ditaati." (Lihat Diwan Asy- Syafi'i, hal. 56).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata :Perlu diketahui bahwa nasehat itu adalah pembicaraan yang dilakukan secara rahasia antaramu dengannya, karena apabila engkau menasehatinya secara rahasia dengan empat mata, maka sangat membekas pada dirinya, dan dia tahu bahwa engkau pemberi nasehat,  tetapi apabila engkau bicarakan dia di hadapan orang banyak,
maka besar kemungkinan bangkit kesombongannya yang menyebabkan ia berbuat dosa dengan tidak menerima nasehat" (Lihat Syarah Riyadhus Shalihin, juz 4 hal. 483).
4. Pahami isi nasehatnya. Hendaknya pemberi nasehat mengerti betul dengan apa yang ia nasehatkan, dan hendaknya ia berhati-hati dalam menukil pembicaraan agar tidak dipungkiri, dan hendaklah ia memerintah berdasarkan ilmu; karena yang demikian itu lebih mudah untuk diterima. Termasuk pula bahwa nasehat tersebut bukanlah celaan atau olok – olokan.
Apabila berita yang didengar tentang saudaranya masih samar, maka hendaknya dia mengemukakan prasangka baik sebagaimana yang diucapkan oleh Amirul Mukminin Umar bin Khattab berkata: “Janganlah engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu yang mukmin kecuali dengan persangkaan yang baik. Dan hendaklah engkau selalu membawa perkataan saudaramu tersebut kepada persangkaan yang baik.”
Berkata Al-Fudhail : “Seorang mukmin menutupi aib dan menasehati, sedangkan seorang yang keji membukanya dan menjelek-jelekkan.
5. Lihat kondisi. Hendaknya orang yang memberi nasehat memperhatikan kondisi orang yang akan dinasehatinya. Maka hendaknya tidak menasehatinya di saat ia sedang kalut, atau di saat ia sedang bersama rekan-rekannya atau kerabatnya. Dan hendaklah pemberi nasehat mengetahui perasaan, kedudukan, pekerjaan dan problem yang dihadapi orang yang akan dinasehati itu.
6. Jadi teladan. Hendaknya pemberi nasehat menjadi teladan bagi orang yang akan dinasehati, agar jangan tergolong orang yang bisa menyuruh orang lain berbuat kebaikan sedangkan ia lupa terhadap diri sendiri. Allah I berfirman, artinya : Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan (QS. Ash-shaff : 2-3).
7. Sabar. Hendaknya pemberi nasehat sabar terhadap kemungkinan yang menimpanya. Luqman berkata kepada anaknya: “Wahai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang ma`ruf dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan sabarlah terhadap apa yang menimpamu”. (QS. Luqman : 17). Luqman menyuruh anaknya untuk sabar terhadap kemungkinan yang terjadi karena ia memerintah orang lain mengerjakan kebaikan dan mencegah perbuatan munkar.
SIKAP ULAMA SALAF TERHADAP KESALAHAN SAUDARANYA
Ibnu Abbas t berkata: “Setiap aku mendengarkan kabar yang tidak mengenakkan dari saudaraku sesama muslim, pasti aku sikapi dengan salah satu dari tiga hal; apabila derajatnya lebih tinggi dariku, kukenali kedudukannya; Apabila ia sejajar denganku, aku berbuat baik kepadanya; seandainya ia lebih rendah dariku, aku tidak akan menyusahkannya. Barangsiapa yang tidak menyukai sikap seperti itu, ingat bumi Allah sangat luas.”
Raja bin Haiwah rahimahullah berkata : “Barangsiapa bersahabat dengan orang yang menurutnya tidak tercela, akan sedikit shahabat yang dimilikinya. Barangsiapa yang hanya mengharapkan keikhlasan dari shahabatnya, ia akan banyak mendongkol. Barangsiapa yang mencela shahabat atas setiap dosa yang dilakukannya, maka ia akan banyak musuh.”
Demikian. Semoga bermanfaat dan menjadi pencerahan kepada kita semua khususnya kepada para juru dakwah, para penasehat ummat. Wallahu Waliyyut-taufiq.
Maraji’ :

Nasehat Bukan Celaan, Ibnu Rajab Al-Hambali ;
Etika Muslim Sehari-Hari, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Menyikapi Fenomena Tahdzir dan Hajr , Abdul Muhsin Abbad,.
Panduan Akhlak Salaf, Abdul Aziz bin Nashir Al-Jalil ;
Minhajul Muslim, Abu Bakar Jabir Al-Jazairi



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...