Alhamdulillah, washshalatu wassalamu
‘ala rasulillah, wa ba’ad.
Pembaca yang budiman, pada edisi kali ini kami akan mengajak Anda sekalian
untuk menyelami samudera kehidupan sosok seorang ulama rabbani abad ini. Beliau
bernama Syaikh Abdul Aziz bin
Abdullah bin Baz rahimahullah.
Beliau lahir di kota Riyadh pada bulan
Dzulhijah 1330 H/1909 M dan wafat 27 Muharram 1420 H / 13 Mei 1999 M. Semoga
Allah I merahmatinya. Amin.
Kita tidak akan menyebutkan biografi
beliau secara khusus -meskipun insya Allah pada kesempatan berikutnya kami akan
berusaha menuliskannya-, tetapi yang akan kami tuliskan adalah rangkaian
perikehidupan akan keindahan akhlak dan sejarah emas beliau selama hidupnya.
Semoga kita dapat mengambil pelajaran
dan teladan dari beliau. Selamat membaca.
Kesederhanaan
Syaikh Ibnu Baz adalah seorang yang
sangat tidak perhatian dengan dunia sebagaimana yang bisa kita ketahui dari
keadaan beliau. Terlebih jika kita tahu bahwa beliau itu tidak memiliki rumah.
DR. Zahrani pernah berupaya untuk meminta izin kepada beliau untuk membeli
rumah yang biasa beliau tempati jika berada di Mekah karena rumah tersebut
biasanya cuma disewa. Komentar beliau, “Palingkan pandanganmu dari topik ini. Sibukkan dirimu untuk
mengurusi kepentingan kaum muslimin”.
Suatu ketika Raja Faishal berkunjung
ke kota Madinah dan Syaikh Ibnu Baz ketika itu adalah rektor Universitas Islam Madinah. Ketika itu raja
Faishal berkunjung ke rumah Syaikh Ibnu Baz.
Saat itu raja Faishal berkata kepada
beliau,
“Kami akan bangunkan rumah yang layak
untukmu”.
Menanggapi hal tersebut, beliau hanya
diam dan tidak berkomentar. Akhirnya rumah pun dibangun. Ketika panitia
pembangunan mau membuat surat kepemilikan rumah atas nama Syaikh Ibnu Baz
beliau berkata, “Jangan.
Buatlah surat kepemilikan rumah tersebut atas nama rektor Universitas Islam
Madinah sehingga jika ada rektor baru penggantiku maka inilah rumah kediamannya”.
Daya Ingat yang Tinggi
Ada orang yang bercerita
bahwa dia bertemu dan mengucapkan salam kepada Syaikh Ibnu Baz setelah lima
belas tahun ternyata Syaikh Ibnu Baz masih ingat dengan namanya.
Akan tetapi yang lebih mengherankan
adalah kemampuan beliau untuk menghafal jilid dan halaman buku. Bahkan beliau
bisa mengoreksi beberapa buku dengan bermodalkan hafalan beliau.
Syaikh Syinqithi, penulis Adhwa-ul Bayan, itu tergolong guru Syaikh Ibnu Baz.
Beliau adalah seorang pakar dalam ilmu syar’i dengan kekuatan hafalan yang
tidak tertandingi. Syaikh Ibnu Baz sering menghadiri
ceramah-ceramah yang disampaikan oleh Syaikh
Syinqithi. Beliau kagum dengan cepatnya Syaikh Syinqithi dalam penyampaiannya.
Dalam salah satu kaset Syaikh Ibnu Baz mengungkapkan kekagumannya dengan
mengatakan, “Maa syaallah. Maa sya Allah”.
Satu hari Syaikh Syinqithi sejak usai
shalat Shubuh sampai watu dhuha mencari-cari sebuah hadits yang dinyatakan oleh
Ibnu Katsir ada dalam sunan Abu Daud. Beliau bolak-balik kitab sunan Abu Daud
namun beliau tidak kunjung mendapatkannya. Ketika aku sedang asyik mencari tiba-tiba ada
orang yang mengetuk pintu. Aku lantas berdiri dan membuka pintu”.
Ternyata Syaikh Ibnu Baz yang datang
bertamu. Ketika Ibnu Baz masih di depan pintu dan belum masuk ke dalam rumah,
Syaikh Syinqithi berkata, “Ya
Syekh Abdul Aziz, Ibnu Katsir menyebutkan bahwa hadits yang bunyinya demikian
dan demikian itu ada di Sunan Abu Daud. Sejak usai shalat Shubuh kucari-cari
hadits tersebut namun tidak kudapatkan. Di manakah hadits tersebut?”.
Syaikh Ibnu Baz berkata, “Ada…ada
di kitab ini halaman sekian”.
Senantiasa Membimbing Manusia
Ada yang menuturkan bahwa dia suatu
hari membaca al Qur’an di dekat Syaikh Ibnu Baz dan bacaannya keliru. Mendengar
hal tersebut, beliau berkata, “Bukan demikian, perbaiki bacaan al
Qur’anmu”. Lalu beliau sendiri yang mengoreksi bacaan orang
tersebut. Setelah itu beliau berpesan, “Simakkan bacaan al Qur’anmu pada
seorang guru al Qur’an sehingga engkau bisa memperbaiki bacaanmu. Jangan terus
menerus seperti ini”.
Suatu hari Syaikh Ibnu Baz berkata
kepada orang yang ada di dekatnya, “Apakah engkau rutin membaca al Qur’an
dengan target tertentu setiap harinya?”. Orang tersebut berkata, “Aku tidak rutin membaca membaca al Qur’an. Kadang aku membaca dan
sekali membaca langsung dengan kadar yang banyak”. Ibnu Baz
berkata, “Jangan demikian. Rutinkan membaca al Qur’an.
Bukankah jika dalam sehari engkau membaca sebanyak satu juz maka dalam sebulan
engkau bisa mengkhatamkan al Qur’an?!. Tiap hari engkau harus punya target yang
jelas. Jangan sekedar asal-asalan”.
Teladan dalam
Kedermawanan
Muhammad bin Baz, kakak
beliau, bercerita bahwa saudara kandungnya yaitu Syaikh Abdul Aziz bin Baz dulu
ketika kecil suka meminta kepada ibunya tambahan porsi makan siang dan makan
malam kemudian dibagikan kepada teman-teman ngajinya.
Karena hal ini, sang kakak pernah
menegur adiknya, “Mengapa kau lakukan hal ini terus menerus? Engkau selalu
meminta tambahan porsi makan siang dan makan malam kepada ibu. Sedangkan engkau
sendiri tahu keadaan ekonomi kita yang pas-pasan bahkan serba kekurangan?!”.
Jawaban Ibnu Baz ketika
itu, “Sesungguhnya Allah itu Maha Pemurah. Allah pasti akan melapangkan rizkiNya
untuk kita”.
Ada seorang perempuan yang berkirim
surat kepada beliau. Isinya perempuan ini bercerita bahwa dia adalah seorang perempuan
yang memiliki cacat fisik. Karena tidak ada seorang pun yang berminat untuk
menikahinya. Lalu perempuan ini meminta bantuan agar bisa membeli rumah. Dengan
pertimbangan seorang perempuan yang memiliki rumah sendiri kemungkinan besar
akan ada lelaki yang mau menikahinya karena rumah yang dia miliki.
Setelah surat tersebut dibacakan
kepada beliau, beliau berkata, “Tidak masalah”. Beliau lantas meminta
sekretaris beliau untuk mengirimkan lebih dari 400 ribu Real guna
membelikan rumah untuk perempuan tersebut dengan tujuan agar bisa segera
menikah.
Ada seorang di Filipina yang masuk
Islam. Setelah masuk Islam, masyarakat di sekelilingnya mengintimidasinya.
Bahkan rumahnya pun dirobohkan. Akhirnya orang ini berkirim surat kepada Syaikh
Ibnu Baz. Dalam suratnya, orang ini berkata, “Sungguh aku tidak mengetahui di
dunia ini orang yang bisa kukirimi surat melainkan dirimu”. Syaikh pun membalas
surat tersebut. Di samping itu beliau kirimkan uang sejumlah sepuluh ribu real
untuk membantu orang tersebut membangun rumah.
Suatu ketika sopir
pribadi beliau, Syahin Abdurrahman dan juru masak beliau, Nashir Ahmad Kholifah
bercerita bahwa suatu ketika Syaikh Ibnu Baz pergi ke tempat kediaman beliau di
Mekkah. Beliau masuk rumah pada saat waktu
makan malam namun beliau tidak mendengar suara orang-orang yang biasa datang ke
rumah beliau untuk makan siang dan makan malam.
Beliau bertanya kepada salah seorang
yang menemani beliau, “Mengapa hari ini, tidak ada orang-orang yang datang?
Aku tidak mendengar suara mereka?”.
Orang yang ditanya menjawab, “Satpam
melarang mereka”. Mendengar hal tersebut, beliau marah dan melarang satpam
melakukan hal ini. Beliau perintahkan satpam agar mempersilahkan semua orang
yang ada untuk makan malam di rumah beliau.
Suatu ketika ada orang yang datang ke
kantor mufti dan mengucapkan salam kepada Syaikh Ibnu Baz. Orang tersebut
adalah orang Afrika yang tidak dikenal identitasnya. Ibnu Baz berkata
kepadanya, “Engkau bisa tinggal bersama kami. Engkau jadi tamu kami”.
Beliau tampak ceria dan menyambut
orang tersebut lalu beliau minta gaharu atau cendana untuk mewangikan ruangan
sebagaimana kebiasaan beliau ketika ada tamu.
Orang tersebut berkata, “Kami ingin
singgah di tempat Anda”. Jawaban beliau, “Silahkan, silahkan”. Orang tersebut berkata, “Ya Syaikh,
hari ini kami bisa makan siang bersamamu?”. Jawaban beliau, “Silahkan, hari ini
bahkan meski setiap hari”.
Semangat Mendapatkan Shaf Pertama
Syaikh Ibnu Baz pernah menceritakan
suatu hal yang menarik yang terjadi ketika beliau muda dan di awal-awal
menuntut ilmu agama. Beliau sendiri menuturkan hal ini, “Ada sebuah kejadian
yang pernah kualami sendiri. Sampai hari ini aku masih terkesan dengan kejadian
tersebut. Kejadian ini terjadi ketika aku masih muda. Aku tergolong orang yang
selalu berada di shaf pertama dalam shalat berjamaah. Suatu ketika aku telat
datang ke masjid disebabkan membaca beberapa buku yang membahas beberapa
permasalahan penting sehingga melalaikan aku dari shalat. Karena terlambat aku
tidak mendapatkan shaf pertama dan aku tertinggal beberapa rakaat. Yang menjadi
imam masjid adalah hakim kota Riyadh yaitu Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu
Syaikh dan beliau adalah salah seorang guru tempatku untuk menimba ilmu.
Setelah beliau salam, beliau melihatku masih mengerjakan shalat di ujung shaf
karena tertinggal beberapa rakaat. Realita ini sangat mengesankan diri beliau.
Akhirnya beliau menyampaikan kultum.
Salah satu poin yang beliau sampaikan adalah, “Sebagian
orang sibuk dengan aktivitasnya sehingga menjadi makmum masbuk”.
Mendengar kalimat tersebut aku
mengerti bahwa akulah yang beliau maksudkan. Sejak saat itu aku tidak pernah
telat dalam shalat berjamaah. Inilah sebuah peristiwa yang tak akan pernah
terlupa dalam hidupku”.
Sungguh kondisi kita dalam masalah
terlambat shalat berjamaah sangat memprihatinkan. Sering kali hal ini terjadi
pada orang-orang yang mengerti ilmu agama. Duh! seandainya yang
menyebabkan kita telat shalat berjamaah adalah kesibukan untuk mentelaah
kitab-kitab para ulama dan mengkaji beberapa permasalahan yang penting.
Menghormati Syiar Adzan
Saat beliau berada di kantor beliau
sebagai seorang mufti lalu terdengar adzan maka beliau hentikan aktivitas
beliau. Jika saat muadzin selesai ada pegawai kantor yang datang dan
mengatakan, “Wahai Syaikh ada permasalahan demikian dan demikian”, niscaya
beliau akan berkata, “Engkau tidak menirukan ucapan
muadzin?! Engkau tidak mendengarkan adzan?! Engkau masih bekerja ketika ada
suara adzan?!”.
Semangat dalam Menerapkan Sunnah
Pada suatu hari-meski kisah ini sebenarnya
mengandung guyonan -sebuah gelas berisi jus disuguhkan kepada beliau. Beliau
lantas meminumnya. Setelah beliau selesai minum sebuah gelas kedua pun
disuguhkan kepada beliau. Beliau mengatakan, “Perutku
sudah tidak muat”. Akan tetapi orang yang menyuguhkan terus
mendesak beliau agar minum. Setelah gelas kedua beliau minum beliau
mengatakan-dengan nada guyon-, “Tuangkan untuk yang ketiga”. Beliau ingin agar
berakhir dengan bilangan ganjil.
Ketika beliau sakit yang mengantarkan
beliau kepada kematian, jika pelayan beliau ingin memasangkan sepatu atau kaos
kaki namun salah karena mendahulukan kaki kiri maka beliau menolak dan
menjauhkan kaki beliau hingga pelayan tersebut memulai dengan kaki kanan.
Maraji’ : Ma’alim Tarbawiyyah min Sirah al Imam Abdul Aziz bin Baz karya Muhammad
ad-Duhaim ; ww.ustadzaris.com dan lainnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar