Juni 02, 2009

Pernahkah Anda Merasa (Bernasib) Sial?

Ketika Anda ditimpa musibah berupa bencana alam, kecelakaan, penyakit, kematian dan lainnya, pernahkah Anda merasa telah bernasib sial? Pernahkah Anda merasa bahwa musibah dan bala’ itu datang karena Anda telah melihat sesuatu? Atau karena adanya sesuatu?. Semoga saja tidak, Saudaraku.

Mengapa? Karena jika Anda merasa bahwa musibah dan bala’ yang menimpa Anda, lantaran merasa bernasib sial karena telah melihat hewan tertentu, bertepatan dengan waktu tertentu, atau kejadian tertentu, maka ketahuilah Saudarku, Anda telah melakukan tathayyur?

Apakah tathayyur itu?

Secara bahasa, Tathayyur (تَطَيُّر) atau disebut juga dengan Thiyarah (طِيَرَة), diambil dari kata Thair (burung). Secara istilah, tathayyur adalah anggapan bahwa suatu keberuntungan atau kesialan itu didasarkan pada kejadian tertentu, waktu, atau tempat tertentu.

Kata Tathayyur diambil dari kata Thair yang berarti burung, karena dalam kehidupan bangsa Arab masa jahiliyah orang - orang menggantungkan nasib pada seekor burung. Jika salah seorang dari mereka akan keluar rumah untuk suatu urusan maka mereka melepaskan seekor burung dan membiarkannya. Apabila burung tersebut terbang ke arah kanan maka bagi mereka itu pertanda keberuntungan dan petunjuk untuk melanjutkan perjalanan. Apabila melihat burung tersebut terbang ke arah kiri maka itu pertanda sial dan akhirnya mereka membatalkan perjalanannya. Itulah mengapa,

Hukum Tathayyur

Tidak syak lagi, hukum tathayyur adalah haram, karena hal itu merupakan kesyirikan yang nyata . Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, artinya : “Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al A’raf: 131). Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wasallam bersabda : “Thiyyarah itu perbuatan syirik, thiyyarah itu perbuatan syirik, tidak ada seorangpun di antara kita kecuali (telah terjadi dalam hatinya sesuatu dari hal ini), hanya saja Allah Subhanahu Wa Ta’ala bisa menghilangkannya dengan tawakkal kepadaNya.” (HR Abu Dawud dan At Tirmidzi).

Perbuatan ini digolongkan ke dalam perbuatan syirik karena beberapa hal, di antaranya :
1. Seseorang yang berthiyarah berarti dia meninggalkan tawakkalnya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Padahal tawakkal merupakan salah satu jenis ibadah yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala perintahkan kepada hamba-Nya. Segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, semuanya di bawah pengaturan dan kehendak-Nya, keselamatan, kesenangan, musibah, dan bencana, semuanya datang dari Allah Azza Wa Jalla. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, artinya : “Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Rabbku dan Rabbmu, tidak ada suatu makhluk pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya (menguasai sepenuhnya).” (QS. Hud: 56).
2. Seseorang yang bertathayyur berarti dia telah menggantungkan sesuatu kepada perkara yang tidak ada hakekatnya (tidak layak untuk dijadikan tempat bergantung). Ketika seseorang menggantungkan keselamatan atau kesialannya kepada bulan Muharram atau bulan-bulan yang lain, ketahuilah bahwa pada hakekatnya bulan Muharram itu tidak bisa mendatangkan manfaat atau menolak mudharat. Hanya Allah-lah satu-satunya tempat bergantung. Sebagaimana firmanNya, artinya : “Allah adalah satu-satunya tempat bergantung.” (QS. Al Ikhlash: 2).

Fenomena dan Bentuk Tathayyur,
Dulu dan Kini

Sejak dahulu, orang-orang mempunyai anggapan bahwa kesialan itu dapat disebabkan oleh adanya makhluk tertentu yang menurut mereka membawa sial.

Kaum Tsamud telah bertathayyur, mereka merasa sial dengan keberadaan Nabi Shaleh ‘alahi salam di tengah-tengah mereka, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, artinya : Mereka menjawab: "Kami mendapat nasib yang malang, disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu". Shaleh berkata : "Nasibmu ada pada sisi Allah, (bukan kami yang menjadi sebab), tetapi kamu kaum yang diuji". (QS. an-Naml: 47). Demikian pula dengan Bani Israil, sebagaimana firman Allah dalam surat al A'raf 130-131.

Tathayyur terus berlanjut hingga pada masa Arab Jahiliyah dengan berbagai macam bentuknya. Di antara mereka ada yang beranggapan sial dengan adanya jenis burung tertentu, bagaimana cara terbangnya, atau dengan angin, bintang ataupun dengan suara orang serta binatang tertentu.

Setelah Nabi Shallahu ’Alaihi Wa Sallam diutus dengan membawa wahyu maka beliau jelaskan bahwa kepercayaan tathayyur tersebut adalah batil. Rasulullah Shallahu ’Alaihi Wa Sallam bersabda : “Tidak ada thiyarah (sial karena burung) dan tidak ada kesialan (karena makhluk tertentu)." Beliau menjelaskan bahwa kepercayaan semacam ini timbul hanya berdasarkan persangkaan orang-orang (sama sekali tidak mempunyai dasar yang masuk akal). Beliau ajarkan bahwa apa yang mereka peroleh atau apa yang menimpa mereka tidak lain karena (takdir) yang telah ditetapkan Allah untuknya.

Di masa kini pengaruh - pengaruh tathayyur masih begitu kental dan terasa, terbukti dengan banyaknya corak dan ragam bentuk tathayyur yang melanda umat hari ini.

Di mulai dari menjamurnya paranormal alias dajjal yang mengklaim mengetahui perkara ghaib. Diantara mereka ada yang meramal dengan bintang, membaca telapak tangan ataupun dengan cara lainnya yang pada dasarnya merupakan pelecehan terhadap keberadan akal manusia.

Tak ketinggalan negara - negara yang katanya disebut sebagai negara maju, modern atau negara industri, di mana mereka lebih menyandarkan kepada hal-hal yang bersifat materi dan logika (akal) ternyata masyarakatnya banyak yang lari kepada dukun dan tukang ramal, bahkan hal itu telah menjadi keyakinan yang menancap pada kebanyakan masyarakatnya.

Padahal banyak hadits shahih yang menjelaskan haramnya perbuatan semacam itu, di antaranya : Dari Shafiyyah bin Abi Ubaid, dari salah seorang isteri Nabi diriwayatkan bahwa beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Barangsiapa yang mendatangi peramal, menanyakan kepadanya sesuatu, lalu mempercayainya, shalatnya tidak akan diterima empat puluh hari lamanya."

Dari Muawiyyah bin Al-Hakam -Radhiallahu 'anhu-- diriwayatkan bahwa ia pernah berkata kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Wahai Rasulullah, saya ini orang yang baru masuk Islam. Allah telah mengaruniaku ajaran Islam ini. Di antara kami ada kalangan lelaki yang sering mendatangi para peramal. Di antara kami juga ada orang-orang yang suka meramal dengan cara terbang seekor burung." Beliau berkata:"Jangan datangi mereka." Aku berkata: "Itu hanya perasaan yang ada dalam hati mereka." Beliau bersabda: "Jangan percayai mereka." (HR. Muslim)

Dari Aisyah -Radhiallahu 'anha-- diriwayatkan bahwa sebagian kaum muslimin bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang para peramal. Beliau berkomentar: "Mereka itu tidak ada apa-apanya." Mereka berkata: "Wahai Rasulullah, terkadang mereka membicarakan suatu hal, ternyata hal itu betul-betul terjadi." Beliau berkata: "Itu adalah kata-kata yang dicuri jin dari (berita langit), lalu dibisikkan ke telinga walinya (para dukun), lalu para peramal itu mencampurkannya dengan seratus kebohongan.." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah -Radhiallahu 'anhu-diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Barangsiapa yang mendatangi dukun dan mempercayai ucapannya, atau menyetubuhi wanita di bagian duburnya, berarti telah kafir dengan wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam." (HR. Abu Dawud).

Dan salah bentuk ”kreatifitas” paranormal di negara kita akhir – akhir ini adalah pelayanan peramalan dan keuntungan nasib melalui media handphone. Orang – orang cukup mengirim nama dan beberapa identitas yang diperlukan melalui Short Message Service (SMS), dan paranormal akan memberikan peruntungan dan arah hidup mereka, harus berbuat apa dan meninggalkan hal – hal apa saja untuk kemashlahatan dan keselamatan hidupnya.
Pada sebagian masyarakat suku jawa (dan mungkin juga pada suku lainnya), bulan Muharram (Suro) dianggap sebagai bulan pantangan untuk keperluan hajatan. Bahkan kebanyakan mereka meyakininya sebagai prinsip dari agama Islam. Mereka menganggap bulan ini sebagai bulan sial untuk sebuah hajatan. Wal hasil, ketika hendak mengadakan hajatan, mereka memilih hari/bulan yang dianggap sebagai hari/bulan baik yang bisa mendatangkan keselamatan atau barakah.

Apa dasar mereka menentukan bulan suro sebagai pantangan untuk hajatan? Kebanyakan mereka sebatas ikut-ikutan (mengekor) sesuai tradisi yang biasa berjalan di suatu tempat. Ketika ditanyakan kepada mereka, “Mengapa Anda berkeyakinan seperti ini ?” Niscaya mereka akan menjawab bahwa ini adalah keyakinan para pendahulu atau sesepuh yang terus menerus diwariskan kepada generasi setelahnya. Sehingga tidak jarang kita dapati generasi muda muslim nurut saja dengan “apa kata orang tua”, demikianlah kenyataannya.

Sebagian orang juga punya keyakinan bahwa angka tertentu dapat membawa sial. Jika memiliki angka itu maka mereka berasumsi bahwa sial bakal menimpa. Di antara angka "keramat" itu adalah angka tiga belas (13). Sehingga di sebuah salah satu maskapai penerbangan internasional membuang angka 13 pada salah sheet atau tempat duduk penumpang di dalam pesawat.

Ada pula bentuk tathayyur yang merupakan warisan kaum Yahudi, yakni merasa sial apabila melihat wanita yang sedang dalam masa ‘iddah atau haidh. Ada juga sebagian masyarakat yang bertathayyur dengan burung gagak atau burung hantu (dan burung perkutut).

Tak ketinggalan orang rafidhah (syi'ah), mereka merasa sial dengan angka sepuluh. Menurut penjelasan syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahwa orang syiah membenci angka sepuluh disebabkan kebencian mereka terhadap shahabat pilihan yaitu sepuluh shahabat yang dijamin masuk surga. (lihat Minhaj as Sunnah an Nabawiyah 1/38-39).

Walhasil, hampir seluruh aspek kehidupan sehari-hari masih kita dapati adanya unsur tathayyur, baik disadari atau tidak.

Bagaimana Menghilangkannya?

Sesungguhnya syariat yang Allah turunkan ini tidaklah memberatkan hamba-Nya. Ketika Allah dan Rasul-Nya melarang perbuatan tathayyur, maka diajarkan pula bagaimana cara menghindarinya.

Abdullah bin Mas’ud, salah seorang shahabat Rasulullah telah membimbing kita bahwa tathayyur ini bisa dihilangkan dengan tawakkal kepada Allah. Tawakkal yang sempurna, dengan benar-benar menggantungkan diri kepada Allah dalam rangka mendapatkan manfaat atau menolak mudharat, dan mengiringinya dengan usaha. Sehingga apapun yang menimpa seseorang, baik kesenangan, kesedihan, musibah, dan yang lainnya, dia yakin bahwa itu semua merupakan kehendak-Nya yang penuh dengan keadilan dan hikmah.

Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari Ibnu ‘Amr, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Barangsiapa yang mengurungkan hajatnya (kepentingannya) karena thiyarah, maka dia telah berbuat syirik.” Para sahabat bertanya: “Lalu apakah sebagai tebusannya?” Beliau menjawab: “Hendaklah dia mengucapkan :

اللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ وَ لاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ وَ لاَ إِلهَ غَيْرُكَ

“Ya Allah, tidaklah kebaikan itu datang kecuali dari-Mu, dan tidaklah kesialan itu datang kecuali dari-Mu, dan tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau.” (HR. Ahmad).

Tinggalkan Tathayyur, Masuk Jannah Tanpa Hisab dan Tanpa Adzab

Salah satu keyakinan Ahlussunnah adalah bahwa orang yang mentauhidkan Allah dan membersihkan diri dari segala kesyirikan, ia pasti akan masuk ke dalam Al Jannah. Hanya saja sebagian dari mereka akan merasakan adzab sesuai dengan kehendak Allah dan tingkat kemaksiatan yang dilakukannya.

Namun di antara mereka ada sekelompok orang yang dijamin masuk ke dalam Al Jannah secara langsung, tanpa dihisab dan tanpa diadzab. Jumlah mereka adalah 70.000 orang, dan tiap-tiap 1.000 orang darinya membawa 70.000 orang. Siapakah mereka? Mereka adalah orang-orang yang telah disifati oleh Rasulullah dalam sabdanya : “Mereka adalah orang-orang yang tidak minta diruqyah, tidak minta dikay (suatu pengobatan dengan menempelkan besi panas ke tempat yang sakit), tidak melakukan tathayyur, dan mereka bertawakkal kepada Rabbnya.” (HR. Bukhari dan Msulim).

Meraka dimasukkan ke dalam Jannah tanpa dihisab dan tanpa diadzab karena kesempurnaan tauhid mereka. Ketika ditimpa kesialan atau kesusahan tidak disandarkan kepada hari/bulan tertentu atau tanda-tanda tertentu, namun mereka senantiasa menyerahkan semuanya kepada Allah.

Wallahu A’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...