Manusia. Sebenarnya ia adalah makhluk yang
beruntung. Tidak semua makhluk ciptaan Allah I
seperti ia. Penciptaannya sempurna. Ia sebenarnya ditakdirkan menjadi makhluk
yang paling terhormat. Namun, sayang seribu sayang. Kenyataan yang menyedihkan,
makhluk yang satu ini masih saja terombang-ambing oleh dirinya sendiri. Ia
seperti tak pernah mengerti benar mengapa ia hidup. Ya, ia tak tahu apa tujuan
yang hendak dicapai dalam mengarungi lautan kehidupannya. Dan engkau pasti
sudah paham siapa makhluk itu. Dia adalah kita.
Di tengah kegalauan kita ini, kami ingin mengajak
pembaca sekalian membaca torehan tinta Ibnu Qudamah Al-Maqdisy rahimahullah tentang kita berikut ini.
Ia mengatakan,
“Sesungguhnya pernah terbetik dalam pikiranku untuk
mempermisalkan dunia dan para penghuninya dengan para penumpang di sebuah
bahtera yang terdampar di sebuah pulau disebabkan angin lautan yang sangat
kencang menghantam mereka. Pulau itu sendiri adalah tambang segala permata dan
batuan mulia ; yaqut, zamrud, zabarjah, mutiara, intan dan emas serta bebatuan
indah lainnya dan tanaman yang beraroma harum semerbak.
Di pulau itu juga terdapat sungai-sungai yang
mengalir dan aneka taman. Akan tetapi di sana juga ada sebuah wilayah yang
hanya menjadi kekuasaan seorang raja. Tempat itu dikelilingi dan dibatasi oleh
pagar dan tembok yang melindungi perbendaharaan kekayaan sang raja beserta
semua keluarga dan budak-budaknya.
Maka tatkala para penumpang bahtera itu turun di
pulau itu, kepada mereka diumumkan, “Kalian akan tinggal di pulau ini hanya
dalam sehari semalam. Karenanya gunakanlah waktu kalian yang amat singkat ini
untuk sedapat-dapatnya mengumpulkan mutiara-mutiara berharga yang bertebaran”.
Orang-orang yang memiliki cita-cita tinggi dan tekad
yang kuat pun segera memilih dan mengambil mutiara-mutiara berharga yang
dimaksud. Mereka bersungguh-sungguh dan serius dalam bekerja. Bila keletihan,
mereka akan segera mengingat betapa berharganya nilai mutiara-mutiara yang
telah mereka dapatkan. Mereka juga segera menguatkan hati mereka dengan
mengingat betapa singkatnya waktu yang disediakan buat mereka untuk tinggal di
pulau itu.
Mereka meninggalkan segala kesenangan, lalu
melanjutkan kesungguhan dan pekerjaan mereka. Bila rasa kantuk mulai menyerang
mereka, mereka kembali mengingat itu semua hingga kenikmatan tidur itupun
sirna. Keletihannya pergi.
Adapula sekelompok penumpang yang lain, mereka
mengumpulkan beberapa mutiara saja lalu beristirahat dan tidur bila waktu rehat
dan tidur tiba.
Sedangkan penumpang yang lainnya sama sekali tidak
menyentuh mutiara-mutiara itu sedikitpun. Mereka lebih memilih bersenang-senang
dan berleha-leha. Di antara mereka ada yang memilih membangun rumah, istana dan
bangunan yang megah. Adapula yang sekedarnya saja mengumpukan bejana dan batuan
tak bernilai. Mereka benar-benar hanya menyibukkan diri mereka dengan menikmati
kelezatan-kelezatan, mendengarkan hikayat-hikayat serta alunan musik yang
membuai. Bagi mereka, “Biji padi yang dapat dituai hari ini lebih baik daripada
permata yang dijanjikan kelak”.
Jenis penumpang ketiga ini mulai melirik wilayah
kekuasaan sang raja. Mereka pun mulai membuat celah dan masuk secara paksa ke
dalam wilayah itu. Mereka menghancurkan pintu-pintunya, merampas apa saja yang
ada di situ dan berbuat tidak senonoh terhadap budak dan anak-anak sang raja.
Dan lonceng tanda keberangkatanpun dibunyikan.
Panggilan untuk para penumpang pun dikumandangkan agar mereka bergegas. Mereka
yang telah mengumpulkan begitu banyak mutiara dan menyimpannya menyambut
panggilan itu dengan suka cita. Mereka sama sekali tidak merasa sedih, kecuali
karena tidak lagi bisa mengumpulkan permata dan intan yang lebih banyak lagi.
Sedangkan kelompok penumpang yang kedua, kesedihan
mereka semakin bertambah sebab mereka tidak sungguh-sungguh mengumpulkan
permata-permata berharga itu. Begitu banyak kelalaian mereka. Semakin sedihlah
mereka karena mereka akan meninggalkan rumah yang telah mereka bangun. Mereka
akhirnya berangkat tanpa membawa bekal apapun. Menempuh perjalanan yang
menakutkan.
Perjalanan bahtera itupun akhirnya berakhir juga di
kota tujuan paling akhir. Segera diumumkan kepada seluruh penghuni kota, “Kini
telah tiba suatu kaum yang dahulu pernah singgah di sebuah pulau tambang emas
dan permata”. Para penduduk kota berduyun-duyun menyambut mereka. Dan saat sang
raja melihat mereka, ia bertitah, “Perlihatkanlah
barang bawaan kalian padaku!”.
Para penumpang yang telah berhasil mengumpulkan
permata di pulau itu menunjukkan bawaan mereka kepada sang raja. Raja senang.
Ia memuji mereka seraya berkata, “Kalian adalah orang-orang khususku, ahli
majelis dan kecintaanku. Kalian boleh mendapatkan apa saja yang kalian inginkan
dari kemurahanku”. Sang raja kemudian mengangkat mereka menjadi raja-raja
seraya memberikan kepada mereka apa yang mereka inginkan. Bila mereka meminta, mereka
akan diberi.
Kepada mereka disampaikan, “Ambillah apa yang
kalian inginkan dan putuskanlah apa yang kalian kehendaki !”. Merekapun segera
mengambil istana-istana, rumah-rumah tinggi dan mewah, bidadari-bidadari,
taman-taman dan wilayah kekuasaan. Berjalan diiringi para budak dan pengawal
yang setia mengawal mereka.
Mereka menjadi penguasa yang selalu mengunjungi, menemani
dan memandang sang raja yang diagungkan. Bila mereka meminta sesuatu, raja akan
segera memberinya. Bahkan sebelum mereka memintanya pun sang rajalah yang akan
terlebih dahulu memberikan kepada mereka.
Adapun kelompok penumpang kedua, saat mereka
ditanya, “Dimanakah gerangan barang bawaan kalian?” Mereka menjawab, “Kami tidak
mempunyai barang bawaan”. Raja pun berkata, “Celakalah kalian! Bukankah kalian
telah berada di tambang emas dan permata?”. “Iya, tentu saja. Namun kami lebih
memilih untuk berleha-leha dan tidur di sana”, jawab mereka. “Kami disibukkan
untuk membangun rumah dan tempat tinggal”, jawab yang lain. “Sementara kami
disibukkan hanya untuk mengumpulkan bebatuan dan kerang," ujar yang lain
lagi.
Maka, dikatakanlah kepada mereka, “Kalian sungguh
celaka! Tidakkah kalian mengetahui betapa singkatnya masa tinggal kalian di
pulau itu? Dan betapa berharganya nilai permata yang ada di sana? Bukankah
kalian mengetahui bahwa pulau itu bukanlah tempat tinggal kalian yang
sesungguhnya? Bukankah kalian telah diberikan peringatan dan nasehat oleh para
pembawa nasehat?” “Tentu, demi Allah! Kami sungguh mengetahuinya, tapi kami
pura-pura bodoh. Kami telah dibangunkan namun kami pura-pura tidur. Kami
mendengarkan namun kami pura-pura tuli dan tidak mendengarkan”, jawab mereka.
Mereka hanya bisa menggigit jari dengan penuh penyesalan.
Menangisi kelalaian mereka. Terdiam menyesal dan kebingungan.
Sedangkan kelompok yang ketiga, mereka lebih galau
lagi. Mereka telah merusak wilayah kekuasaan raja di pulau itu. Mereka datang
seraya memikul dosa-dosa di atas punggung mereka. Putus asa. Diam membisu.
Penuh kebingungan dan kelimpungan.
Sang raja yang diagungkan murka kepada mereka. Raja
pun mengusir dan menjauhkan mereka dari istananya. “Jika mereka bersabar (menderita adzab) maka nerakalah tempat diam
mereka, dan jika mereka mengemukakan alasan-alasan, maka tidaklah mereka
termasuk orang yang diterima alasannya”. (QS Fushshilat : 24).
Saudaraku, tidakkah engkau merasakan bahwa yang
dikisahkan oleh Ibnu Qudamah rahimahullah
di atas itu sesungguhnya adalah
kita sendiri? Bukankah penumpang bahtera itu adalah kita dan bukan
siapa-siapa?. Tetapi, dimanakah permata-permata itu? Atau mungkin kita sekarang
ini sibuk membangun istana di pulau dunia ini? Bahkan mungkin kita telah
mengoyak dan melanggar batas-batas kekuasaan Sang Raja di pulau ini?
Masih ada waktu, Saudaraku. Panggilan perjalanan
itu belumlah dibunyikan. Kita hanya perlu menentukan tujuan hidup di “pulau”
dunia ini. Penentuan itulah yang akan mengubah paradigma kita tentang dunia.
Apakah ia hanya tempat persinggahan, atau justru di sinilah tujuan akhir kita
berlabuh.
Ingat, tujuan kita adalah kebahagiaan negeri
akhirat sana. Allah I
berfirman, “Barang siapa yang menghendaki
keuntungan di akhirat akan Kami tambah Keuntungan itu baginya dan barang siapa
yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari
Keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat” (QS.
Syura : 20).
Jadi, tentukanlah tujuan hidupmu sekarang! Lalu,
istiqamahlah mengejarnya!
Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar