Desember 17, 2015

Jangan Gadaikan Aqidahmu!

Memasuki pertengahan hingga akhir bulan Desember setiap tahunnya, kita akan merasakan atmosfir yang terbentuk di sekitar kita yang ditujukan untuk memperingati dan menyambut datangnya perayaan Natal. Di jalan-jalan, penuh dengan slogan ucapan Selamat Natal. Di pusat perbelanjaan, kita disuguhi dengan pernak-pernik perayaan Natal seperti Santa Klaus, lagu-lagu rohani Kristen, dekorasi pohon Natal yang dihiasi dengan hiasan sedemikian rupa dan lainnya. Media, juga tidak lupa untuk mem-blow up perayaan Natal ini. Disuguhilah masyarakat Indonesia dengan film-film, sinetron-sinetron, atau tayangan-tayangan lainnya bernuansa Natal. 

Inilah fakta yang memprihatinkan dari sebuah bangsa yang mengatasnamakan dirinya sebgai Negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Namun ironisnya, ia menjelma sebagai bangsa yang terlihat begitu mengagungkan kebudayaan-kebudayaan asing di luar Islam yang katanya dianggap sebagai budaya maju dan modern. Hingga akhirnya, budaya-budaya asing, sebut saja Tahun Baru, Valentine Day, April Mob dan lainnya, begitu mudah masuk dan diterima di negeri ini.

***
Natal merupakan perayaan yang seharusnya dikhususkan hanya untuk kaum Nasrani saja. Tapi di Indonesia, ini berbeda. Dengan budaya latah, ikut-ikutan dan pemikiran-pemikiran ‘nyeleneh’ dari segelintir orang maka Natal kerap diopinikan sebagai sebuah ritual bersama bagi seluruh rakyat Indonesia, tanpa melihat ia seorang yang beragama Nasrani atau tidak.

Entah karena ketidaktahuan atau kesengajaan yang dilakukan dengan berbagai tujuan politis dan jabatan, sebagian pejabat dan orang-orang katanya terkemuka di negeri ini juga menyeru untuk ikut meramaikannya.  

Akhirnya, umat muslim pun diseru untuk mengucapkan “Selamat Natal” dan bila perlu juga ikut merayakan dan memfasilitasi perayaannya. Ya, semua itu dibungkus dengan pujian menyesatkan bahwa umat muslim adalah umat yang toleransinya tinggi dan benar-benar berperan nyata dalam menjaga kerukunan antarumat beragama. Celakanya, jika umat muslim tidak melakukannya maka cap anti non-muslim dan intoleran pun dilekatkan dengan sangat kuat. Laa hawla wa laa quwwata illa billah.
Sayangnya, sebagian besar kaum muslimin tidak sadar. Mempromosikan perayaan ini dengan model sedemikian rupa dan memberlakukannya untuk dan agar diikuti oleh semua rakyat Indonesia baik ia beragama Nasrani atau bukan, hakikatnya adalah tindakan intoleran terhadap umat muslim. Ya, umat muslim-lah yang justru disikapi intoleran oleh penganut agama lainnya.

Padahal, jika kita mau merujuk kepada sunnah Nabawiyah, ucapan selamat, ikut merayakan dan mendukung hari raya Natal adalah terlarang dalam agama ini.

Dalam sebuah hadits, Nabi r bersabda, “Sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya, maka ini adalah hari raya kita (Idul Fithri dan Idul Adha).” [HR. Bukhari].  Jika merujuk pada hadits ini, berarti setiap kaum di zaman Rasulullah r hidup -ketika hadits ini diucapkan-, telah memiliki hari raya masing-masing, termasuk Ahlul Kitab (Nasrani dan Yahudi). Jika hari raya mereka sudah saat itu, apakah ada dari sunnah Nabi r, para Khulafaur Rasyidin, serta Ijma’ para sahabat radhiallahu anhum, di masa hidup mereka pernah mengucapkan “Selamat Natal”? Atau apakah mereka pernah (sekedar) mengucapkan, “Selamat Hari Raya Ahli Kitab”? Tentu, kita tidak akan menemukannya. 

Jadi, andaikan ada yang membolehkan ucapan “Selamat Natal”, maka jelas hal tersebut adalah perbuatan baru dalam syariat; atau –dapat dikatakan- sebagai unsur luar agama yang hendak diislamisasikan.

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “selamat” berarti terhindar dari bencana, aman sentosa; sejahtera tidak kurang suatu apa; sehat; tidak mendapat gangguan, kerusakan dsb; beruntung; tercapai maksudnya; tidak gagal. Dengan makna dan definisi seperti itu, maka ucapan selamat berarti doa . Adapun kata “natal”, sebagaimana yang kita pahami, adalah istilah untuk sebuah perayaan kelahiran Yesus Kristus (Nabi Isa Al-Masih Alaihis Salam) yang dalam pandangan umat Nasrani saat ini, ia adalah anak Tuhan sebagai bagian dalam konsep atau ajaran Trinitas.

Jika demikian pengertiannya, bagaimana bisa seorang muslim yang bertolak belakang dan jelas berbeda pemahamannya mengenai Nabi Isa Alaihis Salam mendoakan kaum Nasrani keselamatan atas apa yang mereka pahami tadi? Padahal dengan sangat jelas dan tegas Allah I menyatakan mereka sebagai orang kafir, sebagaimana firman-Nya, artinya : “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan : “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa (QS. Al Maidah :73).

Bahkan, Ibnul Qayyim rahimahullah pernah berkata, “Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah I. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah I dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.” [Lihat Ahkam Ahli Dzimmah, 1:441].

Mengapa beliau rahimahullah mengatakan bahwa ucapan ini lebih dibenci daripada ucapan selamat kepada maksiat lainnya? Jawabannya, karena ucapan “Selamat Natal” adalah pengakuan selamat atas kesyirikan, sementara syirik adalah sebesar-besar dosa. Wallahul Musta‟an.

Sebagian orang mungkin akan berkata bahwa ucapan “Selamat Natal” tidak ada kaitannya dengan perasaan ridha terhadap akidah orang kafir. Namun, ketahuilah, bagi seorang ulama atau orang yang berilmu yang bersih hatinya dan kuat imannya, mungkin ucapan “Selamat Natal” itu tak akan menodai keimanannya, tetapi bagaimana dengan orang awam dari kalangan muslimin? Siapakah yang bisa menjamin bahwa mereka tak akan terjerumus lebih jauh lantaran telah dibukanya pintu-pintu menuju pengakuan terhadap kebenaran agama lain itu? Jika kita membolehkan ucapan “Selamat Natal”, berarti kita akan membolehkan juga ucapan-ucapan selamat yang lain yang berkaitan dengan hari-hari raya orang Nasrani dan Yahudi itu? Misalnya, “Selamat Paskah”, “Selamat Misa Kudus”,“Selamat Barnispah” (hari raya Yahudi), dan lainnya. Bahkan hal ini bisa berkembang lebih jauh, menjadi “Selamat Hari Raya Nyepi”, “Selamat Hari Raya Galungan”, “Selamat Imlek”, “Selamat Hari Raya Komunis”, dan seterusnya. Jika demikian cara berpikirnya, ya hancur agama ini. Masya Allah, laa hawla wa laa quwwata illa billah.

Setidaknya, ada 4 (empat) alasan mengapa Islam melarang umatnya untuk mengucapkan “Selamat Natal” apalagi ikut merayakannya :

Pertama, hari Natal bukanlah perayaan kaum muslimin. Rasulullah r telah menjelaskan dengan sangat tegas bahwasanya perayaan bagi kau muslimin hanya ada dua, yakni ketika Idul Fitri dan Idul Adha. Anas bin Malik t berkata : “Ketika Rasulullah r datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa Jahiliyah. Maka beliau r berkata : “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian yaitu hari raya kurban (Idul Adha) dan hari raya Idul Fitri[HR. Ahmad].

Kedua, mengucapkan “Selamat Natal” dan ikut merayakannya bahkan memfasilitasinya saja sama dengan menyetujui kekufuran orang-orang yang merayakan natal.

Ketiga, merupakan sikap loyal (wala’) yang salah dan keliru. Loyal tidaklah sama dengan berbuat baik. Wala’ memiliki arti loyal, menolong, atau memuliakan orang yang kita cintai, sehingga apabila kita wala’ terhadap seseorang, akan tumbuh rasa cinta kepada orang tersebut. Oleh karena itulah, kekasih-kekasih Allah I disebut pula sebagai wali-wali Allah I.

Ketika kita mengucapkan “Selamat Natal”, hal itu tentu dapat menumbuhkan rasa cinta kita perlahan-lahan kepada mereka. Mungkin sebagian kita mengingkari, yang diucapkan hanya sekedar lisan saja. Namun, seorang muslim secara tegas diperintahkan untuk mengingkari sesembahan-sesembahan orang kafir (QS. Al-Mumtahanah : 4). Bahkan Rasulullah r pun dengan jelas mencontohkan kepada kita bagaimana beliau r dengan tegas mengingkari patung-patung sesembahan orang-orang kafir jahiliyah dan menghina dan menyampaikan bahwa yang patut disembah hanyalah Allah I  dan Dia I tidak perlu suatu perantara apapun.

Keempat, aktivitas mengucapkan “Selamat Natal”dan ikut merayakannya atau sekedar memfasilitasinya adalah aktivitas menyerupai orang kafir. Padahal Rasulullah r dengan tegas telah melarang kaum muslim untuk menyerupai kaum kafir. Sabda Rasulullah r : “ Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” [HR. Ahmad dan Abu Dawud].

Alasan terpaksa karena pekerjaan atau takut dipecat menjadi alasan klasik yang kerap kali menjadi pembenaran untuk sebagian kaum muslimin demi melakukan aktivitas menyerupai kaum kafir tadi. Padahal rezeki setiap manusia bahkan hingga binatang dan tumbuhan, semuanya di tangan Allah I. Justru apakah demi beberapa lembar uang kita rela menggadaikan aqidah kita hingga kemudian kehilangan tempat di surga dan masuk ke neraka Allah I  yang siksanya luar biasa pedihnya. Sungguh, Allah I pasti akan mempermudah jalan hambaNya yang berusaha sekuat tenaga untuk taat pada aturanNya, termasuk mempermudah rezekinya.

Dengan pelarangan ini, bukan berarti Islam tidak toleran terhadap agama yang lain. Islam (hanyalah) melakukan sebuah tindakan penjagaan aqidah umatnya yang memang menjadi ruh dan pondasi dari agama itu sendiri. Islam tidak akan pernah memaksakan keyakinannya kepada pemeluk agama lain, bahkan sekedar mengganggunya. Karena sesungguhnya, tidak ada paksaan untuk masuk Islam dan meyakininya. Bahkan dalam sistem negara Islam yakni Khilafah Islamiyah yang menerapkan aturan Islam secara menyeluruh, mereka-mereka yang beragama selain Islam menerima perlakuan yang baik dan penghargaan yang luar biasa. Diperbolehkan bagi mereka melaksanakan keyakinan beragama mereka tanpa ada gangguan sedikitpun , tentunya dengan aturan tertentu. Karena itu Islam adalah agama yang toleran dan paling menghargai agama selain Islam, namun tentu menolak pemahaman Pluralisme yang merupakan pemahaman sesat dan tak layak diterima. Wallahu a’lam.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...