Mei 14, 2015

Reuni di Surga

Berkumpul bersama sanak keluarga tercinta dalam kehidupan dunia adalah sebuah reuni yang akan selalu dirindukan oleh manusia. Tak terkecuali Anda dan kami pastinya. Seorang suami akan merasa bahagia jika bisa bertemu istri dan anak-anaknya. Begitu pula sebaliknya, seorang anak akan merasa bahagia jika bisa bertemu dengan ibu-bapaknya. Dan tentunya,  kebahagiaan dalam kebersamaan ini diharapkan terjadi selamanya. Bahkan, tidak hanya di dunia, tetapi juga berlanjut sampai di akhirat nanti. Inilah reuni terindah di surga-Nya kelak. Bukan begitu?

Pertanyaannya, bisakah kita  mewujudkan harapan ini? Kalau bisa, bagaimanakah caranya? Ikuti pembahasannya dalam edisi kali ini. Semoga para pembaca memperoleh manfaat. Selamat membaca!


***
Masuk surga adalah cita-cita dan harapan tertinggi setiap orang beriman. Di sanalah semua kebahagiaan dan kenikmatan yang diinginkannya tersedia. Tidak ada kenikmatan yang melebihi nikmat-nikmat di sana. Karenanya, ia merasa ringan dan senang dalam mengemban perintah dan menjauhi larangan dalam Islam. Allah I berfirman dalam sebuah hadits qudsi, artinya :  “Aku persiapkan untuk hamba-hamba-Ku yang shalih, kenikmatan yang tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia” (HR. Bukhari).

Kebahagiaan di surga tentunya akan semakin sempurna, jika kelak seorang mukmin dikumpulkan bersama keluarga besarnya dari kalangan bapak, ibu, pasangan dan anak keturunan mereka. Bisakah seperti itu?

Dalam sebuah ayatNya yang mulia, Allah I  berfirman, artinya : “Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang shalih dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu” (QS. Al-Ra’du: 22-23).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata ketika menafsirkan  penggalan ayat ; “yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya”,  maksudnya adalah “bahwa Allah I  mengumpulkan mereka bersama orang-orang yang mereka cintai di dalamnya (surga ‘Adn);  yaitu bapak-bapak, istri-istri, dan anak-anak mereka dari kalangan orang-orang beriman yang berhak masuk Surga”.

Ayat ini dikuatkan ayat lain dari doa malaikat pemikul ‘arsy Allah I untuk hamba-hamba beriman, agar kaum mukminin dimasukkan ke dalam surga bersama orang-orang shalih dari bapak-bapak mereka, pasangan-pasangan mereka, dan keturunan-keturunan mereka. Mereka berdoa (artinya)  : “Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Ghaafir: 8).

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata dalam Fatawa Nuur 'Alaa al-Darb,  “Apabila seseorang masuk surga, apakah ia akan berjumpa dengan kerabat-kerabatnya? Ya, ia akan berjumpa dengan kerabat-kerabatnya dan orang-orang yang membuat hatinya senang, berdasarkan firman Allah, “Dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya” (QS. Al-Zukhruf: 71)”.

Dari beberapa ayat dan penjelasan dari penafsiran ulama di atas, telah jelas bahwa seorang mukmin memiliki kesempatan untuk berkumpul kembali dengan anggota keluarganya di surga kelak.  Semoga kita bisa meraihnya. Amin

Derajat yang Sama di Surga

Sekarang timbul pertanyaan, bagaimana jika derajat amalan seorang anak dan orang tua tidak sama? Secara nalar, tentu saja derajat mereka di surga akan berbeda. Bagaimana mereka bisa dikumpulkan di satu tempat yang sama? Bisakah?

Menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Supaya hati mereka bahagia karena dapat berkumpul dengan mereka, diangkatlah derajat mereka yang lebih rendah kepada derajat yang lebih tinggi sebagai pemberian dan kebaikan dari Allah I , tanpa dikurangi derajat orang yang lebih tinggi”.

Beliau rahimahullah kemudian menyebutkan firman Allah I : “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka.  Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya” (QS. Al-Thuur: 21), lalu mengatakan, “Maksudnya adalah bahwa (Kami) kumpulkan mereka semua agar bahagia hati mereka dengan berkumpul di tempat yang bersebelahan, yakni Kami (Allah) samakan (kumpulkan) setiap mereka di satu tempat, supaya mereka bahagia. Kami tidak kurangi yang derajatnya tinggi sehingga sama dengan yang derajatnya rendah, tetapi kami angkat yang amalnya kurang lalu kami samakan ia dengan yang banyak amalnya, sebagai karunia dan pemberian dari Kami”.

Ibnu Abbas t juga berkata dalam menafsirkan ayat ini, “Sesungguhnya Allah akan mengangkat (meninggikan derajat) anak-anak seorang mukmin pada tingkatannya walau amal mereka ada di bawahnya supaya gembira hatinya”.

Lajnah al-Daimah (Komite Fatwa Arab Saudi) berkaitan persoalan ini menguatkan kesimpulan di atas dengan Fatwa Nomor 2/409 : “bahwa Allah Azza wa Jalla  mengabarkan bahwa dengan karunia, pemberian, dan kemurahan-Nya, akan mempertemukan anak-anak keturunan kaum mukminin dengan bapak-bapak mereka dalam satu tempat walau amal mereka tidak mencapai derajat amal bapak-bapak mereka. Allah Azza wa Jalla  mengabarkan bahwa dengan karunia, pemberian, dan kemurahan-Nya akan mempertemukan anak-anak keturunan kaum mukminin dengan bapak-bapak mereka dalam satu tempat”.

Jadi, dengan karunia Allah I , seseorang akan berkumpul bersama anak-anaknya di satu manzilah (kedudukan) jika sebelumnya seorang anak berada di bawah manzilah (tingkatan)-nya. Said bin Jubair t mengatakan, “Tatkala seorang mukmin memasuki surga maka ia akan menanyakan tentang bapaknya, anak-anaknya dan saudara-saudaranya dimanakah mereka? Maka dikatakan kepadanya bahwa mereka semua tidak sampai pada derajatmu di surga. Maka orang mukmin tersebut menjawab ‘Sesungguhnya pahala amal kebaikanku ini untukku dan untuk mereka.’ Maka mereka (keluarganya) dipertemukan pada satu kedudukan dengannya.” (Tafsir Ibn Katsir, 4/73).

Demikianlah karunia Allah I yang dilimpahkan kepada orang-orang beriman, di mana karunia Surga kepada anak keturunan karena berkah dari amal shalih orang tua mereka dan karunia yang Allah I berikan kepada para orang tua disebabkan berkah keshalihan dan doa anak keturunan mereka. Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah t bahwa Rasulullah r bersabda, artinya : “Sesungguhnya seorang lelaki terangkat derajatnya di Surga,lalu  ia berkata : “Darimanakah ini kuperoleh?“ Dikatakan kepadanya : “Dari istigfar anakmu untuk dirimu“ (HR. Ibnu Majah). Dan sabda Nabi  r lainnya, artinya : “Apabila seorang anak Adam mati, terputuslah seluruh amalnya kecuali dari tiga perkara; shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang selalu mendoakannya.” (HR. Muslim).

Agar Reuni Indah Itu Bisa Terwujud

Perlu dicatat, bahwa yang membuat mereka berkumpul di surga bukan semata karena nasabnya. Bukan itu. Tetapi, berkumpul di surga bisa terwujud karena adanya iman dan amal shalih yang menjadikan mereka masuk surga.

Jika kita kembali melihat beberapa firman Allah I yang mulia terkait hal ini, maka setidaknya ada dua syarat agar kita bisa berkumpul bersama dalam kebahagiaan di akhirat kelak, yaitu:

Pertama, firman Allah I dalam QS. At-Thuur: 21 ini memberikan pemahaman, bahwa agar orang tua dan anak dapat berkumpul dalam kebahagiaan di Surga, maka syaratnya harus memiliki kesamaan visi dan misi dalam keimanan. Jika salah satu dari anggota keluarga berbeda, maka tempatnya akan berbeda pula dan tentunya tidak  mungkin dapat bertemu. Satu di surga dan yang lainnya di neraka. Na’udzubillah.

Kedua, agar bisa dipertemukan di Surga adalah adanya kesamaan dalam beramal shalih. Hal ini sebagaimana tercermin dari  doa para malaikat kepada Allah I dalam QS. Ghaafir : 8. Berdasarkan ayat ini, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa kesamaan amal shalih antara suami, istri dan keturunannya menjadi modal utama untuk bisa bertemu di surga. Seluruh anggota keluarga sama-sama menghidupkan semangat untuk terus bermal shalih. Dan, tentunya amal shalih ini merupakan manifestasi atau penterjemahan dari kesamaan visi dan misi keimanan.

Sehingga, jika kita ingin dan berharap agar kebahagiaan bersama berlanjut sampai di akhirat kelak, maka salah satu caranya tiada lain berupaya semaksimal mungkin untuk menjadikan diri sendiri dan anggota keluarga memiliki iman dan amal shalih.

Kisah Nabi Nuh ‘alahissalam dan anaknya memberikan gambaran lebih lanjut, bahwa ketidaksamaan visi iman dan amal shalih akan mengakibatkan terputusnya hubungan keturunan.  Nabi Nuh ‘alahissalam, berusaha mendidik anaknya untuk beriman dan beramal shalih. Namun anaknya durhaka dan memilih jalan lain. Saat banjir melanda, nabi Nuh ‘alahissalam bermunajat, “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya" (QS. Hud : 45). Tetapi, apa jawaban Allah I? Allah I berfirman:  “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan" (QS. Hud : 46).

Karenanya, seorang mukmin haruslah berusaha untuk men-shalih-kan orang-orang dekat dan dicintainya khususnya kepada isteri dan anak-anaknya melalui nasihat, dakwah, mengajak kepada kebaikan, memerintahkan yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar.

Juga, seorang mukmin harus meminta kepada-Nya agar ia dikumpulkan bersama ibu-bapaknya di dalam Jannah, memohon ampunan bagi keduanya agar derajat mereka terangkat di Jannah.
Sungguh kebahagiaan yang sempurna, ketika kita dipertemukan dengan isteri dalam rupa nan indah, dengan suami dalam wajah yang menawan, dengan anak –anak yang menyejukkan pandangan, serta ibu-bapak dengan cahaya indah di wajah mereka.

Ya Allah, kumpulkanlah kami di surga-Mu bersama orang-orang yang kami cintai, dan lindungilah kami dari adzab neraka. Amin.

Wallahu a’lam.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...