Berkumpul bersama sanak keluarga tercinta dalam kehidupan dunia
adalah sebuah reuni yang akan selalu dirindukan oleh manusia. Tak terkecuali
Anda dan kami pastinya. Seorang suami akan merasa bahagia jika bisa bertemu
istri dan anak-anaknya. Begitu pula sebaliknya, seorang anak akan merasa
bahagia jika bisa bertemu dengan ibu-bapaknya. Dan tentunya, kebahagiaan dalam kebersamaan ini diharapkan
terjadi selamanya. Bahkan, tidak hanya di dunia, tetapi juga berlanjut sampai
di akhirat nanti. Inilah reuni terindah di surga-Nya kelak. Bukan begitu?
Pertanyaannya, bisakah kita
mewujudkan harapan ini? Kalau bisa, bagaimanakah caranya? Ikuti
pembahasannya dalam edisi kali ini. Semoga para pembaca memperoleh manfaat.
Selamat membaca!
***
Masuk surga adalah cita-cita dan harapan tertinggi setiap orang
beriman. Di sanalah semua kebahagiaan dan kenikmatan yang diinginkannya
tersedia. Tidak ada kenikmatan yang melebihi nikmat-nikmat di sana. Karenanya,
ia merasa ringan dan senang dalam mengemban perintah dan menjauhi larangan
dalam Islam. Allah I berfirman dalam sebuah hadits
qudsi, artinya : “Aku persiapkan untuk hamba-hamba-Ku yang shalih, kenikmatan yang tidak
pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga dan tidak pernah
terlintas dalam hati manusia” (HR. Bukhari).
Kebahagiaan di surga tentunya akan semakin sempurna, jika kelak
seorang mukmin dikumpulkan bersama keluarga besarnya dari kalangan bapak, ibu,
pasangan dan anak keturunan mereka. Bisakah seperti itu?
Dalam sebuah ayatNya yang mulia, Allah I berfirman, artinya : “Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridaan Tuhannya,
mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada
mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan
kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),
(yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan
orang-orang yang shalih dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya,
sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu”
(QS. Al-Ra’du: 22-23).
Imam Ibnu Katsir rahimahullah
berkata ketika menafsirkan penggalan
ayat ; “yang mereka masuk ke dalamnya
bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya
dan anak cucunya”, maksudnya adalah
“bahwa Allah I mengumpulkan mereka bersama orang-orang yang
mereka cintai di dalamnya (surga ‘Adn);
yaitu bapak-bapak, istri-istri, dan anak-anak mereka dari kalangan orang-orang
beriman yang berhak masuk Surga”.
Ayat ini dikuatkan ayat lain dari doa malaikat pemikul ‘arsy Allah
I untuk hamba-hamba beriman, agar kaum mukminin dimasukkan ke dalam
surga bersama orang-orang shalih dari bapak-bapak mereka, pasangan-pasangan
mereka, dan keturunan-keturunan mereka. Mereka berdoa (artinya) : “Ya
Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga Adn yang telah Engkau
janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka,
dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Ghaafir: 8).
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata dalam Fatawa
Nuur 'Alaa al-Darb, “Apabila
seseorang masuk surga, apakah ia akan berjumpa dengan kerabat-kerabatnya? Ya,
ia akan berjumpa dengan kerabat-kerabatnya dan orang-orang yang membuat hatinya
senang, berdasarkan firman Allah, “Dan di
dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap
(dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya” (QS. Al-Zukhruf: 71)”.
Dari beberapa ayat dan penjelasan dari penafsiran ulama di atas,
telah jelas bahwa seorang mukmin memiliki kesempatan untuk berkumpul kembali
dengan anggota keluarganya di surga kelak.
Semoga kita bisa meraihnya. Amin
Derajat
yang Sama di Surga
Sekarang timbul pertanyaan, bagaimana jika derajat amalan seorang
anak dan orang tua tidak sama? Secara nalar, tentu saja derajat mereka di surga
akan berbeda. Bagaimana mereka bisa dikumpulkan di satu tempat yang sama?
Bisakah?
Menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Supaya hati
mereka bahagia karena dapat berkumpul dengan mereka, diangkatlah derajat mereka
yang lebih rendah kepada derajat yang lebih tinggi sebagai pemberian dan kebaikan
dari Allah I , tanpa dikurangi derajat orang
yang lebih tinggi”.
Beliau rahimahullah
kemudian menyebutkan firman Allah I :
“Dan orang-orang yang beriman, dan yang
anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu
mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal
mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan
apa yang dikerjakannya” (QS. Al-Thuur: 21), lalu mengatakan, “Maksudnya
adalah bahwa (Kami) kumpulkan mereka semua agar bahagia hati mereka dengan berkumpul
di tempat yang bersebelahan, yakni Kami (Allah) samakan (kumpulkan) setiap
mereka di satu tempat, supaya mereka bahagia. Kami tidak kurangi yang
derajatnya tinggi sehingga sama dengan yang derajatnya rendah, tetapi kami
angkat yang amalnya kurang lalu kami samakan ia dengan yang banyak amalnya,
sebagai karunia dan pemberian dari Kami”.
Ibnu Abbas t
juga berkata dalam menafsirkan ayat ini, “Sesungguhnya Allah akan mengangkat
(meninggikan derajat) anak-anak seorang mukmin pada tingkatannya walau amal
mereka ada di bawahnya supaya gembira hatinya”.
Lajnah al-Daimah (Komite Fatwa Arab Saudi) berkaitan persoalan ini
menguatkan kesimpulan di atas dengan Fatwa Nomor 2/409 : “bahwa Allah Azza wa Jalla mengabarkan bahwa dengan karunia, pemberian,
dan kemurahan-Nya, akan mempertemukan anak-anak keturunan kaum mukminin dengan
bapak-bapak mereka dalam satu tempat walau amal mereka tidak mencapai derajat
amal bapak-bapak mereka. Allah Azza wa
Jalla mengabarkan bahwa dengan
karunia, pemberian, dan kemurahan-Nya akan mempertemukan anak-anak keturunan
kaum mukminin dengan bapak-bapak mereka dalam satu tempat”.
Jadi, dengan karunia Allah I ,
seseorang akan berkumpul bersama anak-anaknya di satu manzilah (kedudukan) jika sebelumnya seorang anak berada di bawah
manzilah (tingkatan)-nya. Said bin Jubair t mengatakan, “Tatkala seorang
mukmin memasuki surga maka ia akan menanyakan tentang bapaknya, anak-anaknya
dan saudara-saudaranya dimanakah mereka? Maka dikatakan kepadanya bahwa mereka
semua tidak sampai pada derajatmu di surga. Maka orang mukmin tersebut menjawab
‘Sesungguhnya pahala amal kebaikanku ini untukku dan untuk mereka.’ Maka mereka
(keluarganya) dipertemukan pada satu kedudukan dengannya.” (Tafsir Ibn Katsir,
4/73).
Demikianlah karunia Allah I yang
dilimpahkan kepada orang-orang beriman, di mana karunia Surga kepada anak
keturunan karena berkah dari amal shalih orang tua mereka dan karunia yang
Allah I berikan kepada para orang tua
disebabkan berkah keshalihan dan doa anak keturunan mereka. Sebagaimana yang
disebutkan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah t
bahwa Rasulullah r bersabda,
artinya : “Sesungguhnya seorang lelaki
terangkat derajatnya di Surga,lalu ia
berkata : “Darimanakah ini kuperoleh?“ Dikatakan kepadanya : “Dari istigfar
anakmu untuk dirimu“ (HR. Ibnu Majah). Dan sabda Nabi r lainnya, artinya : “Apabila seorang
anak Adam mati, terputuslah seluruh amalnya kecuali dari tiga perkara; shadaqah
jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang selalu mendoakannya.” (HR.
Muslim).
Agar
Reuni Indah Itu Bisa Terwujud
Perlu dicatat, bahwa yang membuat mereka berkumpul di surga bukan
semata karena nasabnya. Bukan itu. Tetapi, berkumpul di surga bisa terwujud
karena adanya iman dan amal shalih yang menjadikan mereka masuk surga.
Jika kita kembali melihat beberapa firman Allah I yang
mulia terkait hal ini, maka setidaknya ada dua syarat agar kita bisa berkumpul
bersama dalam kebahagiaan di akhirat kelak, yaitu:
Pertama, firman Allah I dalam
QS. At-Thuur: 21 ini memberikan pemahaman, bahwa agar orang tua dan anak dapat
berkumpul dalam kebahagiaan di Surga, maka syaratnya harus memiliki kesamaan
visi dan misi dalam keimanan. Jika salah satu dari anggota keluarga berbeda,
maka tempatnya akan berbeda pula dan tentunya tidak mungkin dapat bertemu. Satu di surga dan yang
lainnya di neraka. Na’udzubillah.
Kedua, agar bisa dipertemukan di Surga adalah adanya kesamaan
dalam beramal shalih. Hal ini sebagaimana tercermin dari doa para malaikat kepada Allah I dalam
QS. Ghaafir : 8. Berdasarkan ayat ini, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa
kesamaan amal shalih antara suami, istri dan keturunannya menjadi modal utama
untuk bisa bertemu di surga. Seluruh anggota keluarga sama-sama menghidupkan
semangat untuk terus bermal shalih. Dan, tentunya amal shalih ini merupakan
manifestasi atau penterjemahan dari kesamaan visi dan misi keimanan.
Sehingga, jika kita ingin dan berharap agar kebahagiaan bersama
berlanjut sampai di akhirat kelak, maka salah satu caranya tiada lain berupaya
semaksimal mungkin untuk menjadikan diri sendiri dan anggota keluarga memiliki
iman dan amal shalih.
Kisah Nabi Nuh ‘alahissalam
dan anaknya memberikan gambaran lebih lanjut, bahwa ketidaksamaan visi iman dan
amal shalih akan mengakibatkan terputusnya hubungan keturunan. Nabi Nuh ‘alahissalam,
berusaha mendidik anaknya untuk beriman dan beramal shalih. Namun anaknya
durhaka dan memilih jalan lain. Saat banjir melanda, nabi Nuh ‘alahissalam bermunajat, “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk
keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah
Hakim yang seadil-adilnya" (QS. Hud : 45). Tetapi, apa jawaban Allah I?
Allah I berfirman: “Hai
Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan
diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu
janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui
(hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan
termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan" (QS. Hud : 46).
Karenanya, seorang mukmin haruslah berusaha untuk men-shalih-kan
orang-orang dekat dan dicintainya khususnya kepada isteri dan anak-anaknya
melalui nasihat, dakwah, mengajak kepada kebaikan, memerintahkan yang ma'ruf
dan mencegah dari yang munkar.
Juga, seorang mukmin harus meminta kepada-Nya agar ia dikumpulkan
bersama ibu-bapaknya di dalam Jannah, memohon ampunan bagi keduanya agar
derajat mereka terangkat di Jannah.
Sungguh kebahagiaan yang sempurna, ketika kita
dipertemukan dengan isteri dalam rupa nan indah, dengan suami dalam wajah yang
menawan, dengan anak –anak yang menyejukkan pandangan, serta ibu-bapak dengan
cahaya indah di wajah mereka.
Ya Allah, kumpulkanlah kami di surga-Mu bersama
orang-orang yang kami cintai, dan lindungilah kami dari adzab neraka. Amin.
Wallahu
a’lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar