Adalah
wajib bagi seorang mukmin dan mukminah untuk menaati Rasulullah r,
mengagungkan sunnah-sunnahnya, mendahulukan perkataan dan petunjuk beliau r
di atas perkataan, petunjuk dan jalan selain beliau r.
Kita sepakat itu, karena Allah I
langsung yang memerintahkannya melalui firmanNya, artinya : “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang
mu`min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya
telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain)
tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka
sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata." (QS. Al-Ahzaab:36).
Ketaatan
kita kepada sunnah dan jalan Rasulullah r
adalah di antara manifestasi atau perwujudan ketaatan kita kepada Allah I.
Sebagaimana firmanNya, artinya : “Barangsiapa
yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah." (QS.
An-Nisa : 80). Bagaimana mungkin kita dapat mencari contoh dalam agama dan
kehidupan dari selain beliau r,
sementara Allah I
sendiri sebagai pemilik kesempurnaan dan pencipta seluruh makhluk telah
memberikan pernyataan yang jelas dan tegas bahwa “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang
baik bagi kalian (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (QS.
Al-Ahzaab:21)? Jika masih ada yang bertanya, apakah ada contoh atau panutan
hidup yang langsung direkomendasi oleh penciptanya? Jawabannya, jelas ; pasti
tidak ada!
Maka,
menaati setiap perintah Rasulullah r
sebagaimana yang tersebut dalam sunnah-sunnah beliau r
adalah hal yang paling bijak bagi kita. Mendurhakainya, berpaling dari
petunjuknya, tentu saja adalah sikap yang tidak “mengasihani” diri sendiri.
Mengapa? Hal ini karena kedurhakaan terhadap sunnah-sunnah beliau r
adalah sebab datangnya adzab dari Allah I.
Kita taat, kita selamat. Demikianlah yang akan terjadi. Coba kita perhatikan
baik-baik ayat ini : “Maka hendaklah
orang-orang yang menyalahi perintah Rasul, takut akan ditimpa fitnah atau
ditimpa 'adzab yang pedih.” (QS. An-Nuur:63).
Namun, di hari-hari ini, kita sungguh merasa ironi terhadap sikap sebagian saudara-saudara muslim yang masih memilih sikap yang tidak “mengasihani” diri sendiri, dengan meninggalkan sunnah-sunnah Rasulullah r, meremehkannya dan bahkan mengolok-olok saudara-saudara mereka yang berusaha berjalan di atasnya, wal’iyadzu billah. Dan yang lebih menyedihkan lagi adalah bahwa sebagian mereka adalah orang-orang yang terjun dalam kancah dakwah.
Benarlah,
apa yang telah diisyaratkan oleh Rasul r akan datangnya zaman ini bahkan sejak
beliau r masih hidup, beliau r
bersabda, artinya : “Sungguh-sungguh aku
akan dapati salah seorang dari kalian bertelekan (tidur-tiduran) di atas
dipannya, (lalu) datang kepadanya sebuah perintah dari perintahku atau larangan
dari laranganku lalu dia mangatakan: ‘Saya tidak tahu itu, apa yang kami
dapatkan dalam kitab Allah yang kami ikuti”(HR.
Ahmad, Abu Dawud, dan lainnya, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihul
Jami’, 7172).
Jauh-jauh
hari sebelumnya, Rasulullah r sudah memerintahkan untuk “menggigit”
sunnah-sunnah beliau dengan gigi geraham yang paling kuat. Sebagaimana dalam
haditsnya, artinya : “Saya wasiatkan
kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat walaupun yang memimpin
kalian adalah seorang budak karena sesungguhnya barangsiapa yang hidup
sepeninggalku ia akan melihat perbedaan yang banyak, maka wajib atas kalian bepegang
teguh dengan sunnahku dan sunnah para Al-Khulafa Ar-Rasyidin, gigitlah dengan
gigi-gigi geraham kalian dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru
karena sesungguhnya semua bid’ah itu sesat.” (HR.
Ahmad, Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’, 2549). Tujuannya apa? Ya, untuk kewaspadaan
ketika zaman yang disinyalir itu datang.
Makna Sunnah
Nabi r
Sebelum lebih jauh, ada baiknya kami sampaikan makna sunnah sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama. Sunnah Nabi r adalah petunjuk dan jalan yang ditempuh oleh Rasulullah r. Di dalamnya mencakup perkara-perkara yang hukumnya wajib maupun sunnah (tidak wajib), yang berkaitan dengan akidah, ibadah, muamalah dan akhlak.
Para
ulama salaf (terdahulu) mengatakan bahwa sunnah berarti mengamalkan al-Qur’an
dan hadits serta mengikuti para pendahulu yang shalih serta ber-ittiba’ (berteladan) dengan jejak
mereka. (Lihat Al-Hujjah fii Bayanil Mahajjah, 2/428, Ta’zhimus-sunnah, 18).
Ibnu
Rajab rahimahullah menjelaskan bahwa
yang dimaksud dengan as-sunnah pada
asalnya adalah jalan yang ditempuh dan itu meliputi sikap berpegang teguh
dengan apa yang dijalani oleh Nabi r dan para khalifahnya baik keyakinan,
amalan, maupun ucapan. Dan inilah makna as-sunnah
secara sempurna (Lihat
Kitab Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, hadits
no. 28).
Inilah yang kami maksud dalam pembahasan ini, sehingga kami tidak terpaku pada istilah “sunnah” menurut ahli fikih atau “sunnah” menurut ahli ushul fikih, tetapi mencakup itu semua.
Sikap Tegas Ulama Terhadap Penentang Sunnah
Para
ulama bersikap tegas terhadap setiap orang yang mendurhakai dan meremehkan
sunnah nabiNya r.
Berikut beberapa ungkapan para ulama terhadap mereka :
Imam
Syafi'iy rahimahullah pernah berkata
: “Telah diriwayatkan tentang hal tersebut demikian dan demikian dari Nabi r.
Maka ada orang yang bertanya berkata : “Wahai Abu ‘Abdillah (panggilan Imam Syafi'iy
rahimahullah), apakah kamu berkata
(berpendapat) dengannya?”. Maka Imam Syafi'iy rahimahullah gemetar (karena marah) dan nampak urat lehernya,
kemudian beliau rahimahullah berkata :
“Wahai Anda, bumi manakah yang akan kupijak dan langit manakah yang akan
menaungiku apabila aku telah meriwayatkan suatu hadits dari Nabi r
kemudian aku tidak berkata dengannya?! “Ya (kata beliau rahimahullah), wajib bagiku (mengambil hadits tersebut) dengan
pendengaran dan penglihatan”. (Lihat Kitab Shifatush Shafwah 2/256).
Berkata Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah : “Barangsiapa yang menolak suatu hadits Nabi r, maka dia berada di pinggir jurang kehancuran” (Lihat Kitab Thabaqaatul Hanaabilah 2/15, Al-Ibaanah 1/260).
Ganjaran Meremehkan Sunnah
Sejarah selalu menjadi berharga bagi setiap orang yang mampu menangkap hikmah di dalamnya atau mau berusaha untuk menjadikannya sebagai pelajaran hidup. Sejarah telah mencatat beberapa kasus penentangan, kedurhakaan dan peremehan sunnah oleh sebagian manusia, langsung mendapat balasan kehinaan dari Allah I tidak lama setelah mereka melakukannya. Ini di dunia, belum nanti di akhirat.
Beberapa
kisah sejarah tentang orang-orang yang meremehkan sunnah Rasulullah r
:
· Dari Ibnu Abbas t,
Nabi r bersabda,
artinya : “Janganlah kalian mengetuk
pintu para wanita (istri-istri) pada waktu malam hari”. Suatu ketika
Rasulullah r (pernah)
pulang dari sebuah safar bersama dengan para anggota kafilah. Dua orang dari
kafilah tersebut, bersembunyi-sembunyi berjalan meninggalkan kafilah, pulang
menemui istrinya masing-masing. Padahal, mereka telah mendengar pesan sabda
Nabi r sebelumnya.
Lalu, apa yang mereka dapatkan? Akhirnya, kedua orang tersebut mendapatkan
seorang pria sedang bersama dengan isteri-isterinya” (HR.
Bukhari dan Muslim).
Namun, ada catatan dari Imam An-Nawawiy rahimahullah, beliau berkata : “Adapun bila safarnya dekat, istrinya pun mengharapkan kedatangannya pada malam hari, maka pulang malam pun boleh. Begitu pula apabila telah ada informasi awal (melalui telpon, surat, SMS, atau lainnya –red-) yang memberitahu akan kedatangannya kepada isteri dan keluarganya, hal ini pun tidak mengapa.” (Lihat Kitab Syarh Shahiih Muslim 13/71-72).
·
Dari
Salamah bin Al-Akwa' t,
bahwasanya seseorang pernah makan di sisi Rasulullah r
dengan tangan kirinya. Maka beliau r
berkata : “Makanlah dengan tangan
kananmu!” Orang itu berkata : “Saya tidak bisa”. Maka beliau r
berkata : “Kamu tidak akan bisa.” Padahal,
tidak ada yang menghalangi orang tersebut (untuk makan dengan tangan kanannya)
melainkan hanya kesombongan. Maka apa yang terjadi pada orang ini? Berkata
Salamah bin Al-Akwa' t : “Maka
orang itu pun (akhirnya) tidak bisa mengangkat tangan (kanan)nya ke mulutnya.”
(HR. Muslim no.2021).
·
Dari
Abu Hurairah t, Nabi r
bersabda, artinya : “Tatkala seseorang
berjalan dengan sombong di waktu pagi dan petang, maka Allah menenggelamkannya
ke dalam bumi, dia dalam keadaan terbolak-balik di dalamnya sampai hari
kiamat.” (Musnad Ahmad no.7074). Maka
berkatalah seorang pemuda kepada Abu Hurairah t dalam
keadaan sedang bergurau : “Wahai Abu Hurairah apakah seperti ini jalannya orang
yang ditenggelamkan ke bumi itu (sambil menirukan gaya jalannya orang yang
diceritakan dalam hadits tersebut)?” Maka Abu Hurairah tmemukul
orang tersebut dengan tangannya sehingga membekas yang hampir-hampir mematahkan
tulangnya (Sunan Ad-Darimiy no.437).
·
Dari
'Abdurrahman bin Harmalah t,
dia berkata : “Sa'id bin Al-Musayyab t berkata
kepada seseorang: “Janganlah engkau pergi sehingga engkau shalat terlebih
dahulu, karena sesungguhnya Rasulullah r
telah bersabda : “Tidaklah keluar dari
masjid setelah panggilan (adzan) melainkan dia seorang munafiq, kecuali
seseorang yang keperluannya menjadikan dia harus keluar, sedangkan dia
berkeinginan untuk kembali lagi ke masjid tersebut!” Maka orang itu pun
berkata: “Sesungguhnya teman-temanku telah berada di Al-Hurrah (menungguku)?” Dia menyampaikan
alas an yang ia buat-buat. Lalu Abdurrahman bin Harmalah berkata : “Orang itu
pun akhirnya keluar. Maka belum selesai Sa'id menyayangkan atas kepergian orang
tersebut dengan menyebut-nyebutnya, tiba-tiba dikabarkan bahwa orang tersebut
telah terjatuh dari kendaraannya sehingga pahanya patah” (Lihat
Kitab Sunan Ad-Darimiy no.446).
·
Dari
Abu Yahya As-Saajii dia berkata : “Kami berjalan di gang-gang Bashrah menuju ke
rumah salah seorang ahlul hadits, maka aku mempercepat jalanku dan ada
seseorang di antara kami yang jelek dalam agamanya, kemudian berkata :
“Angkatlah kaki-kaki kalian dari sayap-sayapnya para malaikat, jangan (sampai) kalian
mematahkannya”. Orang ini mengolok-olok mereka. Sebagaimana yang kita pahami
dari hadits-hadits Nabi r
bahwa di antara keutamaan majelis ilmu adalah turut sertanya atau hadirnya
malaikat dalam majelis mulia tersebut. Setelah orang tersebut menyampaikan
celaannya, akhirnya orang tersebut tidak bisa (lagi) melangkah dari tempatnya
sehingga kering kedua kakinya dan kemudian jatuh." (Lihat
Kitab Bustaanul 'Aarifiin, Al-Imam
An-Nawawiy hal.92).
·
Berkata
Abu Abdillah Muhammad bin Isma'il At-Taimiy : “Aku pernah membaca di dalam
sebagian kisah-kisah, bahwasanya pernah ada seorang ahlul bid'ah tatkala
mendengar sabda Nabi r : “Apabila salah seorang di antara kalian
bangun dari tidurnya, maka janganlah dia mencelupkan tangannya ke dalam bejana
sehingga dia mencucinya terlebih dahulu, karena dia tidak mengetahui di mana
tangannya (semalam) bermalam!" (HR.
Bukhari dan Muslim). Maka orang tersebut berkata
dengan nada mengejek, “Aku mengetahui di mana tanganku bermalam (yaitu) di atas
tempat tidur!” Akhirnya, apa yang terjadi? Ketika dia bangun (di pagi hari),
tangannya sungguh telah masuk ke dalam duburnya sampai ke pergelangan
tangannya. Wallahul-musta’an.
·
Berkata
Al-Qadhiy Abu Thayyib menceritakan tentang seorang pemuda Khurasan yang
mengatakan : “Abu Hurairah tidak bisa diterima haditsnya ....”. Orang ini
berkata seakan-akan meragukan dan menolak hadits dari sahabat tersebut. Maka
belum selesai orang itu dari perkataannya, tiba-tiba seekor ular yang besar
dari jatuh atas atap masjid tersebut dan tepat di atas kepala orang tersebut.
Manusia kaget, melompat kemudian lari
karena ular tersebut. Pemuda itu pun lari darinya, sementara ular tersebut
terus mengejarnya. Maka orang-orang mengatakan kepadanya
: “Bertaubatlah, bertaubatlah!” Dan pemuda itu pun berkata : “Aku
bertaubat!" Maka akhirnya ular itu pun lenyap dan tidak terlihat
bekas-bekasnya.” (Lihat Kitab Siyar A'laamin Nubalaa` 2/618).
Olehnya, jika belum mampu menghidupkan sunnah, mari
berdoa kepada Allah I kiranya Ia I memberikan hidayah dan taufiqNya untuk kita. Jangan meremehkannya,
apalagi mengolok-oloknya. Diam atau tawaqquf
(diam dan berhenti serta tidak mempermasalahkannya dengan akalnya), itulah yang lebih selamat. Dan kepada
saudara-saudara muslim yang sudah berupaya untuk istiqamah di atas
sunnah-sunnah NabiNya r, perhatikan kabar hembira dari beliau r : “Sesungguhnya di belakang kalian ada
hari-hari kesabaran. Bagi orang di jaman itu yang berpegang (dengan sunnah)
dengan kalian yang berada di atasnya pada hari ini, mereka akan mendapat pahala
lima puluh orang dari kalian." Mereka bertanya: "Wahai Nabi Allah,
bukan lima puluh dari mereka?" Beliau menjawab: "Tidak, akan tetapi
lima puluh dari kalian." (HR.
Al-Marwaziy, At-Tirmidziy, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Al-Hakim dan ia
berkata : shahih sanadnya). Subhanallah,
50 kali pahala sahabat! Mari berlomba!
Wallahu a’lam.
Maraji’ :
Kitab Ta'zhiimus Sunnah, Abdul Qayyum
bin Muhammad bin Nashir As-Sahaibaniy.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar