Dalam kehidupan
dengan tuntunan Islam, kita tentu tahu bagaimana anjuran agama Islam dalam
menyambut tamu. Iya kan? Kita juga tahu bagaimana mempersiapkan kedatangannya
dalam rangka memuliakan dan melayaninya secara baik. Dalam menyambutnya, kita
akan berusaha memperindah pemandangan yang ada di rumah, mengumpulkan seluruh
keluarga dan menyiapkan berbagai macam hidangan. Terlebih lagi jika tamu
tersebut adalah tamu yang sangat kita hormati. Tentu, persiapan yang kita
lakukanpun akan semakin besar dan optimal.
Nah, di depan kita
bersama, beberapa pekan ke depan, tamu besar nan agung akan datang menghampiri
kita semua, kaum muslimin, insya Allah. Siapa dia? Tentunya, dia bukan pejabat
tinggi. Bukan pula raja. Juga bukan seorang kaya raya. Namun dia adalah tamu
yang lebih agung dari itu semua. Dia adalah bulan suci Ramadhan.
Bila waktunya tiba, ia akan datang menemui setiap perindunya. Sudah
berabad-abad lamanya. Dan ia masih saja begitu. Mengikuti kehendak Rabb-nya, ia
penuh setia hadir di tengah-tengah setiap jiwa yang tak kunjung habis dahaga
kerinduannya. Dahaga kerinduan untuk melewati setiap detaknya. Samudra
kecintaan demi melewati malam-malamnya yang syahdu, yang langit luasnya
memantulkan setiap baris Kalamullah , yang setiap jengkal udaranya mengantarkan
do’a-do’a para hamba menembus tiap lapis langit.
Siangnya memancarkan panas yang melelehkan dosa-dosa hamba, sedangkan
malam-malam semerbaknya mengangkat mereka begitu dekat pada Sang Rabb. Sungguh,
kebaikannya tak pernah berubah. Sebagaimana ia telah menjadi sebab membubung
tingginya derajat generasi shalih terdahulu, maka seperti itu pula ia pada
hari-hari yang tidak lama lagi akan datang, insya Allah.
Sebagai orang
beriman, kiranya kita tidak lalai dalam menyambutnya, apalagi saat dia telah
benar-benar hadir dalam hari-hari kehidupan kita kelak. Ingatlah, hari-harinya
adalah musim ketaatan. Menyia-nyiakannya adalah kerugian yang termata besar.
Padahal Allah I menyuruh kita
untuk berlomba-lomba dalam menyambut dan mengisinya. Allah I berfirman, artinya : “dan untuk yang
demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS.Muthaffifin:26) .
Bagaimana sikap yang baik menyambut bulan ini? Ibarat
bumi yang kering menyambut turunnya hujan, ibarat seorang yang sedang sakit
menyambut datangnya dokter dan ibarat seseorang yang menunggu kekasihnya yang
sudah lama dinanti, berikut beberapa poin yang dapat kami tuliskan bagi para
pembaca sekalian. Semoga Allah I
senantiasa memberikan taufiqNya. Selamat membaca.
Pertama,
hendaknya kita berdoa kepada Allah I,
agar Dia I kembali memberikan
kesempatan kepada kita bertemu dengan bulan Ramadhan dalam kondisi sehat wal
afiat, sehingga kita bisa melaksanakan ibadah dengan optimal baik berupa puasa,
shalat, tilawah, sedekah, dzikir dan amalan-amalan lainnya. Sebagaiamana
kebiasaan para salaf (ulama terdahulu) yang senantiasa memohon kepada Allah I agar diberikan karunia (perjumpaan dengan)
bulan Ramadhan dan berdoa agar Allah I menerima
amal mereka. Jika telah masuk awal Ramadhan mereka berdoa kepada Allah I dengan doa : “Ya Allah karuniakan
kepada kami pada bulan ini keamanan, keimanan, keselamatan dan keislaman dan
berikan kepada kami taufik agar mampu melakukan amalan yang engkau cintai dan
ridhai”. Sungguh, semua amal shalih yang kita lakukan semata-mata hanyalah
karena kasih sayang dan pertolongan dari Allah I.
Kedua,
bersyukur dan memuji Allah I atas
karunia Ramadhan yang kembali diberikan kepada kita. Imam Nawawi rahimahullah
dalam kitab Adzkarnya berkata : ”Dianjurkan bagi setiap orang yang
mendapatkan kebaikan dan diangkat dari dirinya keburukan untuk bersujud kepada
Allah I sebagai tanda
syukur, dan memuji Allah I dengan
pujian yang sesuai dengan keagungannya”. Dan kita pun sadar bahwa di antara
nikmat terbesar yang diberikan Allah I kepada
seorang hamba adalah ketika dia diberikan kemampuan untuk melakukan ibadah dan
ketaatan. Maka, ketika Ramadhan telah tiba dan kita dalam kondisi yang aman,
sehat wal afiat, dan mampu melaksanakan segala bentuk ketaatan, maka kita wajib
memuji Allah I sebagai bentuk
syukur kita kepadaNya.
Ketiga,
bergembira dengan kedatangan bulan Ramadhan. Rasulullah r selalu memberikan
kabar gembira kepada para shahabatnya setiap kali bulan Ramadhan datang.
Sebagaimana dalam sebuah hadits, Rasulullah r bersabda, artinya
: “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah, Allah
telah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa, pada bulan itu Allah membuka
pintu-pintu syurga dan menutup pintu-pintu neraka” [HR.Ahmad]. Para salaf
(ulama terdahulu) di kalangan sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in dan generasi
setelahnya, sangat gembira dengan kedatangannya, bahkan bagi mereka tidak ada
kegembiraan yang paling besar selain kegembiraan karena kedatangan bulan
Ramadhan sebagai nikmat dari Allah I bagi
para hambaNya, bulan kebaikan dan turunnya rahmat dari Allah I.
Keempat,
merancang agenda-agenda ukhrawi yang tepat agar mendapatkan manfaat bulan
Ramadhan. Hal ini menjadi penting karena banyak di antara kaum muslimin, ketika
mereka merencanakan agenda yang bersifat duniawi, maka mereka akan mengaturnya
dengan sangat detil dan rapih. Tetapi, hal ini tidak terjadi pada agenda-agenda
yang bersifat ukhrawi. Ini adalah gambaran bahwa kaum muslimin kurang
memperhatikan waktu-waktu yang berharga dalam memperbaiki hubungannya dengan
Sang Pencipta. Di antara agenda yang dapat dilaksanakan yaitu memanfaatkan
Ramadhan dengan program-program ketaatan yang teratur dan terarah seperti
program hafalan qur’an, sedekah harian, tilawah al-qur’an dan lainnya.
Kelima,
bertekad mengisi waktu-waktu Ramadhan dengan ketaatan. Barangsiapa jujur kepada
Allah I maka Allah akan
membantunya dalam melaksanakan agenda-agendanya dan memudahkannya melaksanakan
aktifitas-aktifitas kebaikan. Sebagaimana firman Allah I,
artinya : “Tetapi jikalau mereka benar terhadap Allah, niscaya yang demikian
itu lebih baik bagi mereka”. (QS.Muhamad : 21). Tekadkan dalam sanubari
kita untuk memaksimalkan setiap waktu di dalamnya, karena bisa jadi ramadhan
kali ini adalah yang terakhir bagi kita.
Keenam,
mengerti dan memahami hukum-hukum Ramadhan. Wajib bagi setiap mukmin dalam
menyembah Allah I
dilandasi dengan ilmu yang benar. Tidak ada alasan bagi setiap mukmin, tidak
mengetahui ilmu yang berkenaan dengan hal-hal yang telah diwajibkan kepadanya.
“Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim”, demikian pesan nabi kita,
Muhammad r. Puasa
Ramadhan adalah sebuah kewajiban bagi setiap mukmin yang telah memenuhi
syarat-syaratnya. Maka, hukum untuk mengilmuinya pun menjadi wajib. Wajib bagi
seorang hamba untuk mengetahui syarat-syaratnya, rukun-rukunya,
pembatal-pembatalnya, dan lainnya sebelum Ramadhan datang, agar puasanya benar
dan diterima oleh Allah I.
Hendaknya kita belajar dan bertanya kepada para ahli ilmu. Allah I berfirman, artinya : “Maka tanyakanlah
olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui”.(QS.Al-Anbiya’
: 7).
Bekal ini amat penting agar ibadah
kita menuai manfaat, berfaedah, dan tidak asal-asalan. Umar bin ‘Abdul ‘Aziz rahimahullah
berkata : “Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia
akan membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan.". Tidak
tahu akan hukum puasa, bisa jadi puasa kita rusak. Tidak tahu apa saja hal-hal
yang disunnahkan saat puasa, kita bisa kehilangan pahala yang banyak. Tidak
tahu jika maksiat bisa mengurangi pahala puasa, bisa jadi hanya
mendapatkan lapar dan dahaga saja saat
puasa.
Ibnul Qayyim rahimahullah
dalam Miftah Daris Sa’adah berkata, “Orang yang beribadah
tanpa adanya ilmu bagai orang yang berjalan tanpa ada penuntun. Sudah dimaklumi
bahwa orang yang demikian akan mendapatkan kesulitan dan susah untuk selamat.
Jika pun ia bisa selamat, namun itu jarang.
Menurut orang yang berakal, ia tetap saja tidak terpuji bahkan pantas untuk
medapat celaan”.
Ketujuh,
menyambut Ramadhan dengan memperbanyak taubat kepada Allah I. Inilah yang
banyak dianjurkan oleh para ulama kita. Sebelum memasuki bulan Ramadhan,
perbanyaklah taubat dan istighfar. Ingatlah bahwa syarat taubat yang dijelaskan
oleh para ulama sebagaimana dinukil oleh Ibnu Katsir rahimahullah adalah menghindari dosa untuk saat ini,
menyesali dosa yang telah lalu, bertekad tidak melakukannya lagi di masa akan
datang. Dan jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka ia
harus menyelesaikannya atau mengembalikannya [Lihat Tafsir Al-Qur’an
Al-‘Azhim, 14:61]. Inilah yang disebut dengan taubat nashuha, taubat
yang tulus dan murni. Jika bukan di bulan Ramadhan, kapan lagi
kita bertaubat? Allah I
berfirman, artinya : “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai
orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS.An Nuur: 31). Mengapa
taubat menjadi penting? Karena ibadah dan amal shalih hanya mampu dikerjakan
dengan hati yang bersih dan kuat, sementara dosa-dosa membuat hati kita kotor
dan jiwa menjadi lemah.
Kedelapan,
mempersiapkan jiwa dan ruhiyah kita dengan bacaan dan penelaahan melalui buku
serta artikel. Juga dengan menghadiri majelis ilmu yang membahas tentang keutamaan
puasa serta hukum dan hikmahnya. Semua ini untuk membangun kesiapan ruhiyah
agar kita siap untuk melaksanakan berbagai macam ketaatan pada bulan Ramadhan.
Begitu pula, untuk
menyiapkan ruhiyah dalam menyambutnya, dianjurkan untuk mulai membiasakan
amalan-amalan yang akan menghidupkan bulan ini, seperti memperbanyak puasa
sunnah di bulan Sya’ban, Sya’ban sebagaimana yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiallahu
anha bahwa beliau r banyak
berpuasa di bulan tersebut. Begitu juga para salaf dahulu sudah mulai
memperbanyak bacaan al-qur’an sejak bulan Sya’ban. Salamah bin Kuhail rahimahullah
berkata, “Dahulu kami menyebut bulan
Sya’ban sebagai bulan para pembaca Al-Qur’an. Amru bin Qais rahimahullah
ketika masuk bulan Sya’ban beliau menutup tokonya dan menyibukkan dengan
membaca al-qur’an. Inilah cara para salaf dahulu menyambut bulan Ramadhan yang
mulia ini. Hal ini semua menjadi penting karena jiwa manusia sangat dipengaruhi
dengan kebiasan-kebiasannya.
Akhirnya, semoga
Allah I menunjuki kita
kepada sikap terbaik dalam menyambut bulan berkah. Lalu memberikan taufiqNya
kepada kita untuk bisa memakmurkan Ramadhan dengan semestinya sehingga saat
keluar darinya terampuni pula semua dosa-dosa kita. Amin. Wallahu a’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar