Juni 19, 2014

Menyambut Ramadhan Mulia

Dalam kehidupan dengan tuntunan Islam, kita tentu tahu bagaimana anjuran agama Islam dalam menyambut tamu. Iya kan? Kita juga tahu bagaimana mempersiapkan kedatangannya dalam rangka memuliakan dan melayaninya secara baik. Dalam menyambutnya, kita akan berusaha memperindah pemandangan yang ada di rumah, mengumpulkan seluruh keluarga dan menyiapkan berbagai macam hidangan. Terlebih lagi jika tamu tersebut adalah tamu yang sangat kita hormati. Tentu, persiapan yang kita lakukanpun akan semakin besar dan optimal.

Nah, di depan kita bersama, beberapa pekan ke depan, tamu besar nan agung akan datang menghampiri kita semua, kaum muslimin, insya Allah. Siapa dia? Tentunya, dia bukan pejabat tinggi. Bukan pula raja. Juga bukan seorang kaya raya. Namun dia adalah tamu yang lebih agung dari itu semua. Dia adalah bulan suci Ramadhan.


Bila waktunya tiba, ia akan datang menemui setiap perindunya. Sudah berabad-abad lamanya. Dan ia masih saja begitu. Mengikuti kehendak Rabb-nya, ia penuh setia hadir di tengah-tengah setiap jiwa yang tak kunjung habis dahaga kerinduannya. Dahaga kerinduan untuk melewati setiap detaknya. Samudra kecintaan demi melewati malam-malamnya yang syahdu, yang langit luasnya memantulkan setiap baris Kalamullah , yang setiap jengkal udaranya mengantarkan do’a-do’a para hamba menembus tiap lapis langit.

Siangnya memancarkan panas yang melelehkan dosa-dosa hamba, sedangkan malam-malam semerbaknya mengangkat mereka begitu dekat pada Sang Rabb. Sungguh, kebaikannya tak pernah berubah. Sebagaimana ia telah menjadi sebab membubung tingginya derajat generasi shalih terdahulu, maka seperti itu pula ia pada hari-hari yang tidak lama lagi akan datang, insya Allah.

Sebagai orang beriman, kiranya kita tidak lalai dalam menyambutnya, apalagi saat dia telah benar-benar hadir dalam hari-hari kehidupan kita kelak. Ingatlah, hari-harinya adalah musim ketaatan. Menyia-nyiakannya adalah kerugian yang termata besar. Padahal Allah I menyuruh kita untuk berlomba-lomba dalam menyambut dan mengisinya. Allah I berfirman, artinya : “dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS.Muthaffifin:26) .

Bagaimana sikap yang baik menyambut bulan ini? Ibarat bumi yang kering menyambut turunnya hujan, ibarat seorang yang sedang sakit menyambut datangnya dokter dan ibarat seseorang yang menunggu kekasihnya yang sudah lama dinanti, berikut beberapa poin yang dapat kami tuliskan bagi para pembaca sekalian. Semoga Allah I senantiasa memberikan taufiqNya. Selamat membaca.

Pertama, hendaknya kita berdoa kepada Allah I, agar Dia I kembali memberikan kesempatan kepada kita bertemu dengan bulan Ramadhan dalam kondisi sehat wal afiat, sehingga kita bisa melaksanakan ibadah dengan optimal baik berupa puasa, shalat, tilawah, sedekah, dzikir dan amalan-amalan lainnya. Sebagaiamana kebiasaan para salaf (ulama terdahulu) yang senantiasa memohon kepada Allah I agar diberikan karunia (perjumpaan dengan) bulan Ramadhan dan berdoa agar Allah I menerima amal mereka. Jika telah masuk awal Ramadhan mereka berdoa kepada Allah I dengan doa : “Ya Allah karuniakan kepada kami pada bulan ini keamanan, keimanan, keselamatan dan keislaman dan berikan kepada kami taufik agar mampu melakukan amalan yang engkau cintai dan ridhai”. Sungguh, semua amal shalih yang kita lakukan semata-mata hanyalah karena kasih sayang dan pertolongan dari Allah I
Kedua, bersyukur dan memuji Allah I atas karunia Ramadhan yang kembali diberikan kepada kita. Imam Nawawi rahimahullah dalam kitab Adzkarnya berkata : ”Dianjurkan bagi setiap orang yang mendapatkan kebaikan dan diangkat dari dirinya keburukan untuk bersujud kepada Allah I sebagai tanda syukur, dan memuji Allah I dengan pujian yang sesuai dengan keagungannya”. Dan kita pun sadar bahwa di antara nikmat terbesar yang diberikan Allah I kepada seorang hamba adalah ketika dia diberikan kemampuan untuk melakukan ibadah dan ketaatan. Maka, ketika Ramadhan telah tiba dan kita dalam kondisi yang aman, sehat wal afiat, dan mampu melaksanakan segala bentuk ketaatan, maka kita wajib memuji Allah I sebagai bentuk syukur kita kepadaNya.

Ketiga, bergembira dengan kedatangan bulan Ramadhan. Rasulullah r selalu memberikan kabar gembira kepada para shahabatnya setiap kali bulan Ramadhan datang. Sebagaimana dalam sebuah hadits, Rasulullah r bersabda, artinya : “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah, Allah telah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa, pada bulan itu Allah membuka pintu-pintu syurga dan menutup pintu-pintu neraka” [HR.Ahmad]. Para salaf (ulama terdahulu) di kalangan sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in dan generasi setelahnya, sangat gembira dengan kedatangannya, bahkan bagi mereka tidak ada kegembiraan yang paling besar selain kegembiraan karena kedatangan bulan Ramadhan sebagai nikmat dari Allah I bagi para hambaNya, bulan kebaikan dan turunnya rahmat dari Allah I.
Keempat, merancang agenda-agenda ukhrawi yang tepat agar mendapatkan manfaat bulan Ramadhan. Hal ini menjadi penting karena banyak di antara kaum muslimin, ketika mereka merencanakan agenda yang bersifat duniawi, maka mereka akan mengaturnya dengan sangat detil dan rapih. Tetapi, hal ini tidak terjadi pada agenda-agenda yang bersifat ukhrawi. Ini adalah gambaran bahwa kaum muslimin kurang memperhatikan waktu-waktu yang berharga dalam memperbaiki hubungannya dengan Sang Pencipta. Di antara agenda yang dapat dilaksanakan yaitu memanfaatkan Ramadhan dengan program-program ketaatan yang teratur dan terarah seperti program hafalan qur’an, sedekah harian, tilawah al-qur’an dan lainnya.

Kelima, bertekad mengisi waktu-waktu Ramadhan dengan ketaatan. Barangsiapa jujur kepada Allah I maka Allah akan membantunya dalam melaksanakan agenda-agendanya dan memudahkannya melaksanakan aktifitas-aktifitas kebaikan. Sebagaimana firman Allah I, artinya : “Tetapi jikalau mereka benar terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka”. (QS.Muhamad : 21). Tekadkan dalam sanubari kita untuk memaksimalkan setiap waktu di dalamnya, karena bisa jadi ramadhan kali ini adalah yang terakhir bagi kita.

Keenam, mengerti dan memahami hukum-hukum Ramadhan. Wajib bagi setiap mukmin dalam menyembah Allah I dilandasi dengan ilmu yang benar. Tidak ada alasan bagi setiap mukmin, tidak mengetahui ilmu yang berkenaan dengan hal-hal yang telah diwajibkan kepadanya. “Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim”, demikian pesan nabi kita, Muhammad r. Puasa Ramadhan adalah sebuah kewajiban bagi setiap mukmin yang telah memenuhi syarat-syaratnya. Maka, hukum untuk mengilmuinya pun menjadi wajib. Wajib bagi seorang hamba untuk mengetahui syarat-syaratnya, rukun-rukunya, pembatal-pembatalnya, dan lainnya sebelum Ramadhan datang, agar puasanya benar dan diterima oleh Allah I. Hendaknya kita belajar dan bertanya kepada para ahli ilmu. Allah I berfirman, artinya : “Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui”.(QS.Al-Anbiya’ : 7).

Bekal ini amat penting agar ibadah kita menuai manfaat, berfaedah, dan tidak asal-asalan. Umar bin ‘Abdul ‘Aziz rahimahullah berkata : “Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan.". Tidak tahu akan hukum puasa, bisa jadi puasa kita rusak. Tidak tahu apa saja hal-hal yang disunnahkan saat puasa, kita bisa kehilangan pahala yang banyak. Tidak tahu jika maksiat bisa mengurangi pahala puasa, bisa jadi hanya mendapatkan  lapar dan dahaga saja saat puasa.

Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Miftah Daris Sa’adah berkata, “Orang yang beribadah tanpa adanya ilmu bagai orang yang berjalan tanpa ada penuntun. Sudah dimaklumi bahwa orang yang demikian akan mendapatkan kesulitan dan susah untuk selamat. Jika pun ia bisa selamat,  namun itu jarang. Menurut orang yang berakal, ia tetap saja tidak terpuji bahkan pantas untuk medapat celaan”.

Ketujuh, menyambut Ramadhan dengan memperbanyak taubat kepada Allah I. Inilah yang banyak dianjurkan oleh para ulama kita. Sebelum memasuki bulan Ramadhan, perbanyaklah taubat dan istighfar. Ingatlah bahwa syarat taubat yang dijelaskan oleh para ulama sebagaimana dinukil oleh Ibnu Katsir rahimahullah  adalah menghindari dosa untuk saat ini, menyesali dosa yang telah lalu, bertekad tidak melakukannya lagi di masa akan datang. Dan jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka ia harus menyelesaikannya atau mengembalikannya [Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 14:61]. Inilah yang disebut dengan taubat nashuha, taubat yang tulus dan murni. Jika bukan di bulan Ramadhan, kapan lagi kita bertaubat? Allah I berfirman, artinya : “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS.An Nuur: 31). Mengapa taubat menjadi penting? Karena ibadah dan amal shalih hanya mampu dikerjakan dengan hati yang bersih dan kuat, sementara dosa-dosa membuat hati kita kotor dan jiwa menjadi lemah.

Kedelapan, mempersiapkan jiwa dan ruhiyah kita dengan bacaan dan penelaahan melalui buku serta artikel. Juga dengan menghadiri majelis ilmu yang membahas tentang keutamaan puasa serta hukum dan hikmahnya. Semua ini untuk membangun kesiapan ruhiyah agar kita siap untuk melaksanakan berbagai macam ketaatan pada bulan Ramadhan.

Begitu pula, untuk menyiapkan ruhiyah dalam menyambutnya, dianjurkan untuk mulai membiasakan amalan-amalan yang akan menghidupkan bulan ini, seperti memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban, Sya’ban sebagaimana yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiallahu anha bahwa beliau r banyak berpuasa di bulan tersebut. Begitu juga para salaf dahulu sudah mulai memperbanyak bacaan al-qur’an sejak bulan Sya’ban. Salamah bin Kuhail rahimahullah berkata,  “Dahulu kami menyebut bulan Sya’ban sebagai bulan para pembaca Al-Qur’an. Amru bin Qais rahimahullah ketika masuk bulan Sya’ban beliau menutup tokonya dan menyibukkan dengan membaca al-qur’an. Inilah cara para salaf dahulu menyambut bulan Ramadhan yang mulia ini. Hal ini semua menjadi penting karena jiwa manusia sangat dipengaruhi dengan kebiasan-kebiasannya.

Akhirnya, semoga Allah I menunjuki kita kepada sikap terbaik dalam menyambut bulan berkah. Lalu memberikan taufiqNya kepada kita untuk bisa memakmurkan Ramadhan dengan semestinya sehingga saat keluar darinya terampuni pula semua dosa-dosa kita. Amin. Wallahu a’lam.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...