Banjir, salah
satu bentuk bencana alam yang saat ini melanda sebagian wilayah negeri kita
tercinta, Indonesia. Sebut saja, Jakarta, Manado, Subang dan beberapa wilayah
lainnya.
Dalam
menyikapi kondisi ini, kebanyakan manusia hanya menjadikan perkara-perkara
lahiriyah yang kasat mata sebagai barometer dalam menilai fenomena banjir ini.
Kebanyakan
manusia menilai bahwa banjir (hanya) terjadi karena tersumbatnya sungai
sebagai aliran air, bobolnya tanggul, curah hujan yang tinggi, dan lainnya.
Salahkah? Hal
ini jelas tidak salah dan sah-sah saja. Namun sayangnya, pernahkah kita
tergerak untuk memahami hakekat yang tersembunyi dari setiap kejadian yang
tampak secara kasat mata? Sadarkah kita bahwa kerusakan yang nampak secara
kasat mata terkadang disebabkan oleh kerusakan yang tidak kasat mata dan kerap lebih
parah dan fatal akibat buruknya?
Allah I
berfirman (artinya) : “Mereka hanya mengetahui ynag lahir (nampak) dari
kehidupan dunia, sedangkan terhadap (kehidupan) akhirat mereka lalai” (QS.
Ar-Ruum : 70).
Dalam sebuah
firmanNya, Allah I juga telah
mengingatkan kita (artinya) : “Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan
akibat perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka
sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang
benar)” (QS.
Ar-Ruum : 41).
Dalam ayat
yang mulia di atas, Allah I menyatakan
bahwa penyebab utama semua kerusakan yang di muka bumi dengan berbagai
bentuknya adalah karena perbuatan buruk dan maksiat yang dilakukan oleh
manusia.
Imam Abul 'Aliah
ar-Riyahi rahimahullah bekata : “Barangsiapa yang bermaksiat kepada
Allah di muka bumi berarti dia telah berbuat kerusakan di muka bumi, karena
bumi dan langit itu baik karena sebab ketataan (kepada Allah I) [Dinukil oleh Imam Ibnu Kastir dalam tafsir beliau
(3/576)].
Dalam ayat
lain, Allah I
berfirman (artinya) : “Dan musibah apa saja yang menimpa kamu maka itu
disebabkan oleh perbuatan (dosa)mu sendiri” (QS. Asy-Syuura
: 30).
Syaikh
Abdurrahman As-Sa'di rahimahullah menafsirkan ayat ini dan berkata :
“Allah I memberitakan bahwa semua musibah yang menimpa manusia, baik pada diri,
harta maupun anak-anak mereka, serta pada apa yang mereka sukai, tidak lain
sebabnya adalah perbuatan – perbuatan buruk (maksiat) yang pernah mereka
lakukan” [Lihat Tafsir Karimir Rahman hal. 759].
Tak terkecuali
dalam hal ini, musibah dan kerusakan yang terjadi dalam rumah tangga, hubungan
tidak harmonis antara suami isteri, pertengkaran, kedurkahan anak dan lainnya.
Makanya sebagian salaf (ulama terdahulu) pernah berkata : “Sungguh ketika aku
bermaksiat kepada Allah I ,
maka aku melihat (pengaruh buruk) perbuatan maksiat tersebut pada tingkah laku
isteriku” [Dinukil
oleh Ibnul Qayyim dalam al-Da'u wad Dawa' hal.68].
Imam Ibnu
Katsir rahimahullah berkata : “Tujuan Allah I
menciptakan manusia dan menempatkan mereka di bumi serta melimpahkan rezeki
kepada mereka agar bisa menopang mereka dalam melaksanakan ketaatan dan
beribadah kepada Allah I. Jika
mereka melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ketaatan kepada Allah I
(maksiat) berarti mereka telah berusaha merusak dan menghancurkan tujuan utama
penciptaan bumi” [Lihat Tafsir Karimir Rahman hal.42].
Makanya,
kematian seorang pelaku maksiat merupakan sebab utama penurunan angka kerusakan
di bumi. Rasulullah r bersabda
(artinya) : “(Kematian) seorang hamba yang fajir (banyak berbuat maksiat)
akan menjadikan manusia, negeri pepohonan dan binatang terlepas (terhindar dari
kerusakan akibat perbuatan maksiatnya)” [HR. Bukhari
dan Muslim].
Syirik dan
Bid'ah Adalah Sebab Kerusakan Terbesar
Apakah bentuk
maksiat dan kezhaliman terbesar? Jawabannya adalah syirik. Karena ia adalah
dosa yang paling besar di sisi Allah I , maka
kerusakan yang ditimbulkannya pun sangat besar, bahkan menjadi sebab utama
kerusakan di muka bumi.
Imam Qatadah
dan As-Suddi rahimahumallahu berkata : “Kerusakan (yang sesungguhnya)
adalah perbuatan syirik. Inilah kerusakan
yang paling besar” [Dinukil oleh Imam Qurtubi
dalam tafsir beliau 14/40].
Demikian
pula perbuatan bid'ah. Semua seruan dakwah yang bertentangan dengan
petunjuk Rasulullah r pada hakekatnya merupakan sebab terjadinya kerusakan di
bumi.
Imam Abu
Bakar Ibnu 'Ayyasy al-Kufi rahimahullah ketika ditanya tentang makna
firman Allah I (artinya) : “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di
bumi, sesudah Allah memperbaikinya...”(QS. Al-A'raf : 56), beliau mengatakan
: “Sesungguhnya Allah mengutus Nabi Muhammad r kepada umat
manusia, (ketika) mereka dalam keadaan rusak. Lalu Allah I memperbaiki
(keadaan) mereka dengan (petunjuk yang dibawa) Nabi Muhammad r. Sehingga orang yang mengajak (manusia) kepada selain
petunjuk yang dibawa Nabi r berarti dia temasuk orang-orang
yang melakukan kerusakan di bumi” [Lihat Tafsir
Ibni Abi Hatim ar-Razi 6/74].
Taqwa, Sebab Kesejahteraan dan Keselamatan
Solusi
utama untuk menghindari dan memperbaiki kerusakan atau bencana di muka bumi
adalah bertaubat dengan benar (nashuha) dan kembali kepada ketaatan kepada Allah I Sang Penguasa.
Rasulullah
r bersabda
(artinya) : “Orang yang telah bertaubat (dengan sungguh-sungguh) dari
perbuatan dosa seperti orang yang tidak punya dosa (sama sekali)” [HR. Ibnu Majah No.4250, dihasankan oleh Syaikh al-Albani].
Inilah
makna yang diisyaratkan dalam firman Allah I di atas : “..supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari
(akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar-Ruum : 41).
Maka,
ketika manusia kembali kepada petunjuk Allah I dan RasulNya r, keberkahan di langit dan di bumi akan hadir bagi kelangsungan hidup
manusia.
Ingatkah
kita tentang berita Nabi di akhir zaman nanti, ketika Nabi Isa alaihissalam
turun, belau akan berhukum dengan syariat yang suci ini pada masa tersebut.
Beliau akan membunuh babi, mematahkan salib dan menghapus jizyah (upeti)
sehingga tidak ada pilihan lain kecuali masuk Islam. Dan di zaman itu, tatkala
Allah I telah membinasakan Dajjal dan para pengikutnya serta
Ya'juj dan Ma'juj, maka dikatakanlah kepada bumi, “Keluarkanlah berkahmu”. Maka
satu buah delima bisa dimakan oleh sekelompok besar manusia dan mereka bisa
berteduh di bawah naungan kulitnya. Dan susu seekor unta mampu mencukupi
sekumpulan manusia. Semua itu tidak lain disebabkan berkah penerapan syariat
Muhammad r. Maka setiap kali keadilan ditegakkan, akan semakin
banyaklah berkah dan kebaikan.
Ibnu
Qayyim rahimahullah mengatakan : “Rasullullah r pernah
melewati kampung kaum Tsamud, beliau melarang
mereka (para sahabat) melewati kampung tersebut kecuali dengan menangis. Beliau juga melarang
meminum airnya, menimba sumur-sumurnya, hingga beliau memerintahkan agar
menggunakan air yang mereka bawa untuk mengadon gandum, karena maksiat kaum
Tsamud ini telah memengaruhi air di sana. Sebagaimana halnya pengaruh dosa yang
mengakibatkan berkurangnya hasil panen buah-buahan”.
Imam Ahmad
rahimahullah telah menyebutkan dalam Musnadnya, bahwa telah
ditemukan dalam gudang milik Bani Umayyah sebutir gandum yang besarnya seperti
sebutir kurma. Gandum itu ditemukan dalam sebuah kantung yang bertuliskan “Biji
gandum ini tumbuh pada masa keadilan ditegakkan”.
Subhanallah, padahal biji gandum mungkin
besarnya tidak sebesar biji beras. Tetapi karena keberkahannya, sehingga biji
gandum dapat tumbuh hingga sebesar biji kurma. Masya Allah.
Barangkali
ada yang masih ragu dan bertanya, adakah hubungan antara
maksiat dan fenomena kerusakan atau perubahan alam?
Jawabnya, ada
dan bisa saja terjadi. Salah satu buktinya adalah Hajar Aswad. Tahukah kita
apa warna dari Hajar Aswad saat ini? Hitam, bukan? Padahal Rasulullah r bersabda
(artinya) : “Hajar Aswad turun dari syurga lebih putih daripada salju, lalu
menjadi hitam karena dosa-dosa anak Adam” [HR. Tirmidzi I/166,
dishahihkan oleh Syaikh al-Albani].
Mari Menjaga Lingkungan
Setelah
bertaubat dan kembali ke jalan Allah I maka wajib bagi kita untuk selanjutnya menjaga dan melestarikan
lingkungan. Hal ini tidak hanya untuk kebaikan di dunia tetapi juga kebaikan di
akhirat. Rasulullah r bersabda (artinya) : “Muslim mana saja yang menanam sebuah pohon lalu
ada orang atau hewan yang memakan dari pohon tersebut, niscaya akan dituliskan
baginya sebagai pahala sedekah” [HR. Bukhari].
Semoga
Allah I senantiasa menjaga negeri kita dari bencana dan musibah,
tentu setelah kita menjaga hak-hak Allah I. “Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu”, demikian pesan Sang
Nabi r kepada
kita semua.
Wallahul Muwaffiq.
Maraji' : Majalah As-Sunnah Edisi No.1/Tahun XIV Rabi' Ats-Tsani
1431 H/2010 M dan lainnya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar