Januari 31, 2014

Mendadak Ngustadz

Sebuah hal menarik di sebuah negeri entah berantah, semua bisa dibuat serba instan. Dengan modal keterampilan mengolah kata atau retorika, seseorang bisa dengan mudah “diustadzkan”.

Dengan modal kitab al-Qur'an dan terjemahannya, seseorang bisa langsung menafsirkan al-Qur'an  al-Karim. Dengan sedikit modal bahasa arab, ditambah laptop atau smartphone, seseorang langsung dapat membuka pengajian dan akhirnya tanpa sungkan berfatwa pada masalah-masalah yang memerlukan kompetensi fiqih tingkat tinggi.

Mereka berfatwa pada masalah-masalah yang seandainya ditanyakan kepada Umar bin Khattab t, niscaya beliau akan mengumpulkan ahli Badr (para sahabat yang ikut perang Badr) untuk mencari jawabannya.

Fenomena terakhir yang muncul, seorang mentalis (mungkin paranormal) yang tiba-tiba tampil sebagai mufassir. Konon tafsirnya “luar biasa”. Ya, benar saja, karena memang keluar dari yang biasa. 


Hari ini, banyak orang, kecuali yang dirahmati Allah I, merasa kurang jika tidak bicara soal agama, tak peduli apa latar belakang pendidikannya (formal maupun non-formal). Bahkan, menjadi sesuatu yang “wah” dan akan mendapat apresiasi tinggi apabila ada orang “bicara” bukan pada bidangnya.

Dengan gelar “Prof. DR.” seseorang bebas untuk bicara di bidang apa saja yang diinginkan. Sang awam, menanggapinya dengan ketakjuban dan penerimaan, meskipun sungguh terkadang “bicara”nya tidak didasari dengan ilmu. Padahal, “Ilmu itu adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kamu mengambil agamamu”, kata Ibnu Sirin rahimahullah.

Sebenarnya, secara umum, apapun latar belakang pendidikan seseorang tak jadi masalah, hanya saja hendaklah kita mengenali kapasitas diri. Setiap bidang punya ahlinya. Apalagi dalam perkara atau bidang agama. Semuanya harus didasari dengan ilmu yang shahih. Wallahu a’lam.

Orang-orang shalih terdahulu (salaf) sangat takut untuk mengomentari sesuatu dalam agama tanpa ilmu. Mereka takut jika akhirnya tergelincir meski sejengkal dari manhaj rabbani.

Abu Bakar ash-Shiddiq t berkata : “Bumi mana yang akan aku pijak, dan langit mana yang akan menaungiku, jika aku berkata tentang ayat dari kitab Allah dengan ra’yu (pendapat) ku atau dengan apa yang aku tidak tahu”.

Ibnu Asakir rahimahullah meriwayatkan dalam Tarikh Dimasyq, bahwa Atha Ibnu Rabah rahimahullah pernah ditanya tentang sesuatu. Beliau rahimahullah menjawab : “Aku tidak tahu”,kemudian  penanya tadi berkata : “Tidakkah engkau mau mengutarakan pendapat pribadimu dalam masaalah ini?” Atha rahimahullah menjawab : "Aku malu kepada Allah, jika orang-orang di muka bumi ini beragama dengan pendapatku". 

Bandingkan sifat kehati-hatian salaf dengan sifat sebagian orang saat ini, yang ilmunya (mungkin saja) tidak sampai sepersepuluh dari ilmu mereka, namun nampak layaknya seorang mujtahid (ahli ijtihad) yang begitu mudah menghukumi sesuatu dalam agama.

Sejatinya, fenomena  ini bukanlah hal yang mustaghrab (patut dianggap aneh). Sebab Rasulullah r telah jauh-jauh hari mengabarkan akan munculnya fenomena ini. Beliau r bersabda, artinya : “Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah).

Dan kita sepakat bahwa agama adalah urusan terpenting, urusan kaum muslimin, masyarakat luas. Hadits di atas  menunjukkan pentingnya kejujuran dan mengandung peringatan dari bahaya kedustaan.

Rasulullah r bersabda, artinya : “Wajib atas kalian untuk bersikap jujur, karena kejujuran akan menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan itu akan menuntun ke surga. Apabila seseorang terus menerus bersikap jujur dan berjuang keras untuk senantiasa jujur maka di sisi Allah dia akan dicatat sebagai orang yang shiddiq. Dan jauhilah kedustaan, karena kedustaan itu akan menyeret kepada kefajiran, dan kefajiran akan menjerumuskan ke dalam neraka. Apabila seseorang terus menerus berdusta dan mempertahankan kedustaannya maka di sisi Allah dia akan dicatat sebagai seorang pendusta.” [HR. Muslim].

Selain itu, hadits ini juga menunjukkan pentingnya menjaga amanah dan memperingatkan dari bahaya mengkhianati amanah.

Rasulullah r  bersabda, artinya : “Apabila amanah telah disia-siakan maka tunggulah datangnya hari kiamat.” Lalu ada yang bertanya, “Bagaimana amanah itu disia-siakan?”. Maka beliau menjawab, “Apabila suatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya maka tunggulah kiamatnya.” [HR. Bukhari]. 

Pilar Dakwah Seorang Da’i

Dakwah, adalah satu ibadah yang sangat agung, ladang untuk menuai pahala, dan tugas sangat mulia yang Allah I embankan di pundak para rasul dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat.

Namun, banyak yang tidak memahami makna dan tujuan dakwah yang sebenarnya, sehingga tidak mengajak kepada Allah I tetapi justru mengajak kepada selain-Nya.

Seorang ustadz dan dai’ hendaknya memahami pilar-pilar dakwah ilallah sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah I dan RasulNya r dan menjadikannya sebagai dasar dan penyokong dakwahnya. Di antara pilar tersebut adalah :

Pertama, seorang dai, hendaklah membekali diri dengan ilmu.

Allah I berfirman kepada Nabi-Nya, artinya : "Katakanlah: "Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata". [QS. Yusuf : 108].

Makna dari "bashirah" adalah ilmu serta pengetahuan yang sempurna terhadap apa yang ia dakwahkan.

Allah I berfirman, artinya : “Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” [QS. Al-Isra`: 36].

Allah I  juga berfirman, artinya : “Janganlah kalian mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram.” untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” [QS. An-Nahl: 116].

Kedua, hendaklah tujuan utamanya adalah ikhlas karena Allah I  dan hanya untuk meraih ridha Allah I semata, serta memberikan manfaat kepada orang lain. Bukan karena riya', sum'ah, ingin mendapat ketenaran dan keinginan pribadi dan lainnya.

Allah I berfirman, artinya : "Aku mengajak (kamu) kepada Allah" [QS. Yusuf : 108].

Apabila seseorang berdakwah tanpa landasan ilmu maka bisa jadi dia menyangka telah menyeru kepada kebaikan, namun pada kenyataannya dia telah menyeru kepada kesalahan dan kebid'ahan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : "Jika hal itu (ilmu dan fiqih) menjadi tolak ukur seluruh amal shalih, maka wajib bagi pelaku amar ma’ruf nahi munkar untuk memenuhi kriteria tersebut dalam dirinya, dan tidak dikatakan amal shalih apabila dilakukan tanpa ilmu dan fiqih, sebagaimana pernyataan Umar bin Abdil Aziz : “Orang yang menyembah Allah tanpa ilmu, maka kerusakan yang ditimbulkannya lebih besar dari kemaslahatan yang dihasilkannya”.

Beliau rahimahullah melanjutkan, “Ini sangat jelas, karena niat dan amal yang tidak disertai ilmu merupakan kebodohan, kesesatan dan (bentuk) pengikutan terhadap hawa nafsu, maka dari itu ia harus mengetahui kema’rufan dan kemunkaran dan dapat membedakan keduanya serta harus memiliki ilmu tentang apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang.” [Secara ringkas dari Majmu’ Fatawa 28 hal: 135-137. Jilid: 14 bagian ke dua hal: 78, cetakan Daarul Wafaa'].

Ketiga, memulai dengan yang terpenting. Masalah terpenting di dalam agama Islam adalah masalah aqidah.

Oleh sebab itu, seorang dai hendaklah memulai dakwahnya dengan menjelaskan aqidah yang benar sebelum dia menyampaikan yang lainnya. Inilah yang diwasiatkan Rasulullah r ketika beliau mengutus Mu'adz bin Jabal t ke Yaman. Beliau r  bersabda, artinya : "Sesunguhnya engkau akan mendatangi satu kaum dari Ahli Kitab, maka ajaklah mereka kepada syahadat La Ilaha Illallah wa Anna Muhammadar-Rasulullah. Kalau mereka menerima, sampaikanlah bahwa Allah mewajibkan shalat lima waktu sehari semalam. Kalau mereka menerima, sampaikanlah bahwa Allah mewajibkan zakat yang diambil dari orang-orang kaya dan dibagikan untuk orang miskin" [HR. Bukhari].

Keempat, berusaha mengamalkan ilmu yang ia miliki sebelum menyampaikan kepada orang lain.

Allah I  berfirman, artinya : "Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?" [QS. al-Baqarah : 44].

Allah I  juga berfirman, artinya : "Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan" [QS. ash-Shaf : 2-3].

Kelima, berhias diri dengan kesabaran. Seorang dai hendaklah bersabar atas gangguan yang ia dapatkan di jalan dakwah. Allah I berfirman mengisahkan tentang perkataan Luqman kepada anaknya: "Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)" [QS. Luqman : 17].

Demikian yang dapat kami tuliskan. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

Maraji :

·       Majalah As-Sunnah Edisi 06-07/Tahun XII/1429H/2008M
·       http://muslim.or.id/manhaj/hati-hati-dengan-ruwaibidhah.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...