Juni 28, 2013

Perindu – Perindu Ramadhan

Hari-hari yang indah dan didambakan itu kini akan kembali datang kepada kita. Hari-hari yang terdapat pada bulan yang sangat istimewa bagi Sang Pemiliknya dan bagi siapapun yang mengetahui keistimewaannya.

Tamu nan agung yang selalu dinanti-nanti oleh semua orang yang merindukannya, dia adalah bulan Ramadhan nan agung.

Benarkah kita merindukannya?

Apabila benar kita rindu, sungguh kita akan mencium bau Ramadhan dari jauh. Ya, seperti Ya'qub Alaihissalam mencium bau anaknya, Yusuf Alaihissalam, karena     kerinduan yang menggelora.

Jika benar kita rindu Ramadhan, sungguh kita akan membuat persiapan menyambutnya. Layaknya, seseorang yang merindukan kedatangan kekasih yang telah lama pergi.

Allah I berfirman (artinya) : “Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka. Maka Allah melemahkan keinginan mereka. Dan dikatakan kepada mereka, "Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.” (QS. At-Taubah: 46).
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Berhati-hatilah terhadap perkara :
Kewajiban telah datang, tetapi kalian tidak siap untuk menjalankannya, sehingga kalian mendapat hukuman berupa kelemahan untuk memenuhinya dan kehinaan dengan tidak mendapatkan pahalanya….”.

Allah I berfirman (artinya) : “Maka jika Allah mengembalikanmu kepada suatu golongan dari mereka, kemudian mereka minta izin kepadamu untuk keluar (pergi berperang), maka katakanlah, "Kamu tidak boleh keluar bersamaku selamanya dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku. Sesungguhnya kamu telah rela tidak pergi berperang kali yang pertama. Karena itu, duduklah bersama orang-orang yang tidak ikut berperang” (QS. At-Taubah: 83).

Dalam tafsir ayat ini, disebutkan bahwa setelah Nabi Muhammad r  menyelesaikan perang Tabuk dan kembali ke Madinah lalu bertemu segolongan orang-orang munafik yang tidak ikut perang, mereka meminta izin kepada beliau r  untuk ikut berperang pada peperangan yang lain, maka Nabi Muhammad r dilarang oleh Allah I untuk mengabulkan permintaan mereka, karena mereka sejak awal tidak mau berperang sebagai hukuman bagi mereka, di samping itu ikut sertanya mereka menimbulkan mafsadat.

Maka, seyogyanya kita berhati-hati jangan sampai mengalami nasib seperti ini, yaitu menjadi orang yang tidak berhak menjalankan perintah Allah I yang penuh berkah. Seringnya kita mengikuti hawa nafsu, akan menyebabkan kita tertimpa hukuman, berupa tertutupnya hati dari hidayah. Wallahul Musta’an.

Allah I  berfirman (artinya) : “Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Qur'an) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya “  (QS. Al An'am: 110).

Bersiaplah Menyambutnya

Itulah sebabnya, persiapan dalam menyambut kedatangan Ramadhan menjadi teramat penting, sehingga kita tidak dihukum dengan tidak berdayanya kita dalam melakukan kebaikan dan kehinaan karena ketidakmampuan untuk menambah ketaatan.

Mari kita renungkan kembali ayat-ayat di atas. Allah I tidak menyukai keberangkatan mereka (dalam perang) lalu Allah I lemahkan mereka. Karena tidak ada persiapan dari mereka dan niat mereka pun tidak lurus.

Namun, apabila seseorang bersiap untuk menunaikan suatu amal, dan ia bangkit menghadap Allah I dengan kerelaan hati, maka Allah I tidak menolak hambaNya yang datang menghadapNya. Sehingga dahulu, generasi salafush shaleh selalu mempersiapkan diri-diri mereka dalam menyambut Ramadhan dengan sebaik-baiknya, bahkan sejak 6 bulan sebelumnya.

Antara Rajab, Sya'ban dan Ramadhan

Buatlah persiapan menyambut Ramadhan. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata : “Saya sama sekali belum pernah melihat Rasulullah r  berpuasa dalam satu bulan, sebanyak yang beliau lakukan di bulan Sya'ban. Di dalamnya, beliau berpuasa sebulan penuh” (HR. Muslim).

Aisyah radhiyallahu ‘anha juga berkata, “Rasulullah r berpuasa hingga kami mengatakan beliau r tidak pernah berbuka, dan beliau berbuka hingga kami mengatakan bahwa beliau r tidak pernah puasa. Namun Rasulullah r  tidak pernah berpuasa sebulan penuh, kecuali pada bulan Ramadhan. Dan aku tidak pernah melihat satu bulan yang paling banyak beliau berpuasa kecuali pada bulan Sya’ban.” (HR. Muslim).

Karenanya, bersiaplah dengan banyak berpuasa, agar jiwa terbiasa dengan puasa. Lakukanlah shalat malam di bulan Sya'ban. Perbanyakanlah membaca Al- Qur'an. Perbanyaklah dzikir kepada Allah I sebagai pengantar memasuki Ramadhan.

Sebagian ulama mengatakan bahwa Rajab adalah bulan persemaian. Sya'ban adalah bulan pengairan. Adapun Ramadhan, ia adalah bulan memetik buah. Agar buah dapat dipetik di bulan Ramadhan, harus ada benih yang disemai, dan ia harus diairi sampai menghasilkan buah yang rimbun.

Perbarui Taubat

Persiapan lain untuk menyambut Ramadhan adalah taubat. Semoga Allah I  mengaruniakan taubat nasuha kepada kita agar Ia ridha. Karena taubat wajib dilakukan seorang hamba setiap saat.

Allah I  berfirman (artinya) : “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung” (QS. An-Nur: 31).

Kita harus memiliki rasa takut yang besar, jika kita tetap tidak terbebas dari api neraka meski telah melewati Ramadhan.

Bagaimana nasib Bani Israil, tatkala mereka tidak menghormati perintah Allah I untuk tidak mencari ikan di hari Sabtu? Allah I  akhirnya mengubah mereka menjadi kera.

Sebagaiman firmanNya (artinya) : “Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, kami katakan kepadanya, "Jadilah kamu kera yang hina." (QS. Al A'raf: 166).

Secara fitrah, hati manusia membenci kemaksiatan. Tetapi sebagaimana diketahui, fitrah bisa berubah-ubah. Karenanya, sebelum Ramadhan datang, kita harus berusaha mengembalikan fitrah ini ke dalam hati bila ia telah hilang, atau memperkuatnya bila telah melemah.

Dengannya, seseorang menjadi enggan bermaksiat kepada Allah I, khususnya setelah merasakan kondisi keimanan di tengah ibadah puasa. Agar hati terlatih bersikap enggan terhadap maksiat sebelum Ramadhan datang.

Seseorang harus berbaur dengan nilai-nilai ruhiyah yang tinggi, agar hati mengingkari dan berhati-hati atas segala bentuk maksiat, baik lisan, penglihatan, perasaan, maupun anggota badan. Ia juga harus berbaur dengan perenungan Al-Qur'an dan pemahaman dzikir, mencoba merasakan kelezatan munajat dan tunduk di hadapan Allah I.
Kesiapan seseorang untuk menyambut Ramadhan ditandai dengan sikap enggan terhadap maksiat. Hal ini bisa dilakukan dengan memperbanyak puasa dan membaca Al-Qur'an. Orang yang berakal tidak akan terbayang untuk melakukan maksiat ketika sibuk dengan ketaatan.

Tuntut Ilmu Ramadhan

Bekal ini amat utama agar ibadah kita menuai manfaat, berfaedah, dan tidak asal-asalan. Seorang shaleh,kahlifah dan ulama, Umar bin ‘Abdul ‘Aziz rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan”. 

Tidak tahu akan hukum puasa, bisa jadi puasa kita rusak. Tidak tahu apa saja hal-hal yang disunnahkan saat puasa, kita bisa kehilangan pahala yang banyak. Tidak tahu jika maksiat bisa mengurangi pahala puasa, bisa jadi hanya mendapatkan  lapar dan dahaga saja saat puasa.

Latih Kepekaan Pancaindera

Biasakanlah pancaindera kita dengan ketaatan. Latih mata untuk melihat mushaf, hindarkan dari memandang yang haram. Latih telinga mendengar Al-Qur'an dan mendengarkan ilmu. Hindarkan dari mendengar  nyanyian-nyanyian haram, perkataan dusta, keji, dan kotor. Biasakan lidah memperbanyak dzikir, beramar ma’ruf dan nahi mungkar, berkata jujur dan menyampaikan nasihat kepada kaum mukmin.
Manusia akan bertanggung jawab atas anggota badan dan inderanya ini pada hari kiamat.

Allah I  berfirman (artinya) : “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (QS. Al Isra': 36).

Hal ini penting wahai Saudaraku. Mengapa? Karena, jika pancaindera telah terbiasa, ia akan tunduk dan kita pun akan mudah mengendalikannya. Insya Allah.

Akhirnya, kita berdoa, semoga kita tidak termasuk orang-orang yang diharamkan mendapatkan berkah Ramadhan karena Ramadhan telah di depan mata, namun kita belum melakukan persiapan. Semoga Allah I memudahkan kita menjalankan berbagai bentuk ibadah di bulan ini. Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah.. Amin.

Maraji’ : Asraarul Muhibbiin fii Ramadhan, Syekh Muhammad Husain Ya'qub ; Panduan Ramadhan Mubarak, Infokom DPD WI Gowa dll.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...