Hari-hari yang
indah dan didambakan itu kini akan kembali datang kepada kita. Hari-hari yang
terdapat pada bulan yang sangat istimewa bagi Sang Pemiliknya dan bagi siapapun
yang mengetahui keistimewaannya.
Tamu nan agung
yang selalu dinanti-nanti oleh semua orang yang merindukannya, dia adalah bulan
Ramadhan nan agung.
Benarkah kita
merindukannya?
Apabila benar kita
rindu, sungguh kita akan mencium bau Ramadhan dari jauh. Ya, seperti Ya'qub Alaihissalam
mencium bau anaknya, Yusuf Alaihissalam, karena kerinduan yang menggelora.
Jika benar kita
rindu Ramadhan, sungguh kita akan membuat persiapan menyambutnya. Layaknya,
seseorang yang merindukan kedatangan kekasih yang telah lama pergi.
Allah I berfirman (artinya) : “Dan jika
mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan
itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka. Maka Allah melemahkan
keinginan mereka. Dan dikatakan kepada mereka, "Tinggallah kamu bersama
orang-orang yang tinggal itu.” (QS. At-Taubah: 46).
Ibnul Qayyim rahimahullah
berkata, “Berhati-hatilah terhadap perkara :
Kewajiban
telah datang, tetapi kalian tidak siap untuk menjalankannya, sehingga kalian
mendapat hukuman berupa kelemahan untuk memenuhinya dan kehinaan dengan tidak
mendapatkan pahalanya….”.
Allah I berfirman (artinya) : “Maka jika
Allah mengembalikanmu kepada suatu golongan dari mereka, kemudian mereka minta
izin kepadamu untuk keluar (pergi berperang), maka katakanlah, "Kamu tidak
boleh keluar bersamaku selamanya dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku.
Sesungguhnya kamu telah rela tidak pergi berperang kali yang pertama. Karena
itu, duduklah bersama orang-orang yang tidak ikut berperang” (QS.
At-Taubah: 83).
Dalam tafsir
ayat ini, disebutkan bahwa setelah Nabi Muhammad r menyelesaikan perang Tabuk dan kembali ke
Madinah lalu bertemu segolongan orang-orang munafik yang tidak ikut perang,
mereka meminta izin kepada beliau r untuk ikut berperang pada peperangan yang
lain, maka Nabi Muhammad r dilarang
oleh Allah I untuk
mengabulkan permintaan mereka, karena mereka sejak awal tidak mau berperang
sebagai hukuman bagi mereka, di samping itu ikut sertanya mereka menimbulkan
mafsadat.
Maka,
seyogyanya kita berhati-hati jangan sampai mengalami nasib seperti ini, yaitu
menjadi orang yang tidak berhak menjalankan perintah Allah I yang penuh berkah. Seringnya kita
mengikuti hawa nafsu, akan menyebabkan kita tertimpa hukuman, berupa
tertutupnya hati dari hidayah. Wallahul Musta’an.
Allah I
berfirman (artinya) : “Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan
penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Qur'an)
pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya “ (QS. Al An'am: 110).
Bersiaplah Menyambutnya
Itulah
sebabnya, persiapan dalam menyambut kedatangan Ramadhan menjadi teramat penting,
sehingga kita tidak dihukum dengan tidak berdayanya kita dalam melakukan
kebaikan dan kehinaan karena ketidakmampuan untuk menambah ketaatan.
Mari kita
renungkan kembali ayat-ayat di atas. Allah I tidak
menyukai keberangkatan mereka (dalam perang) lalu Allah I lemahkan mereka. Karena tidak ada
persiapan dari mereka dan niat mereka pun tidak lurus.
Namun, apabila
seseorang bersiap untuk menunaikan suatu amal, dan ia bangkit menghadap Allah I dengan kerelaan hati, maka Allah I tidak menolak hambaNya yang datang
menghadapNya. Sehingga dahulu, generasi salafush shaleh selalu mempersiapkan
diri-diri mereka dalam menyambut Ramadhan dengan sebaik-baiknya, bahkan sejak 6
bulan sebelumnya.
Antara Rajab,
Sya'ban dan Ramadhan
Buatlah
persiapan menyambut Ramadhan. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata : “Saya
sama sekali belum pernah melihat Rasulullah r berpuasa dalam satu bulan, sebanyak yang beliau
lakukan di bulan Sya'ban. Di dalamnya, beliau berpuasa sebulan penuh” (HR.
Muslim).
Aisyah radhiyallahu
‘anha juga berkata, “Rasulullah r berpuasa
hingga kami mengatakan beliau r tidak
pernah berbuka, dan beliau berbuka hingga kami mengatakan bahwa beliau r tidak pernah
puasa. Namun Rasulullah r tidak pernah berpuasa sebulan penuh, kecuali
pada bulan Ramadhan. Dan aku tidak pernah melihat satu bulan yang paling banyak
beliau berpuasa kecuali pada bulan Sya’ban.” (HR. Muslim).
Karenanya,
bersiaplah dengan banyak berpuasa, agar jiwa terbiasa dengan puasa. Lakukanlah
shalat malam di bulan Sya'ban. Perbanyakanlah membaca Al- Qur'an. Perbanyaklah
dzikir kepada Allah I sebagai
pengantar memasuki Ramadhan.
Sebagian ulama
mengatakan bahwa Rajab adalah bulan persemaian. Sya'ban adalah bulan pengairan.
Adapun Ramadhan, ia adalah bulan memetik buah. Agar buah dapat dipetik di bulan
Ramadhan, harus ada benih yang disemai, dan ia harus diairi sampai menghasilkan
buah yang rimbun.
Perbarui
Taubat
Persiapan lain
untuk menyambut Ramadhan adalah taubat. Semoga Allah I mengaruniakan taubat nasuha kepada kita agar
Ia ridha. Karena taubat wajib dilakukan seorang hamba setiap saat.
Allah I berfirman (artinya) : “Dan bertaubatlah
kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung”
(QS.
An-Nur: 31).
Kita harus
memiliki rasa takut yang besar, jika kita tetap tidak terbebas dari api neraka
meski telah melewati Ramadhan.
Bagaimana
nasib Bani Israil, tatkala mereka tidak menghormati perintah Allah I untuk tidak mencari ikan di hari
Sabtu? Allah I akhirnya mengubah mereka menjadi kera.
Sebagaiman
firmanNya (artinya) : “Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa
yang dilarang mereka mengerjakannya, kami katakan kepadanya, "Jadilah kamu
kera yang hina." (QS. Al A'raf: 166).
Secara fitrah,
hati manusia membenci kemaksiatan. Tetapi sebagaimana diketahui, fitrah bisa
berubah-ubah. Karenanya, sebelum Ramadhan datang, kita harus berusaha
mengembalikan fitrah ini ke dalam hati bila ia telah hilang, atau memperkuatnya
bila telah melemah.
Dengannya,
seseorang menjadi enggan bermaksiat kepada Allah I,
khususnya setelah merasakan kondisi keimanan di tengah ibadah puasa. Agar hati
terlatih bersikap enggan terhadap maksiat sebelum Ramadhan datang.
Seseorang
harus berbaur dengan nilai-nilai ruhiyah yang tinggi, agar hati mengingkari dan
berhati-hati atas segala bentuk maksiat, baik lisan, penglihatan, perasaan,
maupun anggota badan. Ia juga harus berbaur dengan perenungan Al-Qur'an dan
pemahaman dzikir, mencoba merasakan kelezatan munajat dan tunduk di hadapan
Allah I.
Kesiapan
seseorang untuk menyambut Ramadhan ditandai dengan sikap enggan terhadap
maksiat. Hal ini bisa dilakukan dengan memperbanyak puasa dan membaca Al-Qur'an.
Orang yang berakal tidak akan terbayang untuk melakukan maksiat ketika sibuk
dengan ketaatan.
Tuntut Ilmu
Ramadhan
Bekal ini amat
utama agar ibadah kita menuai manfaat, berfaedah, dan tidak asal-asalan.
Seorang shaleh,kahlifah dan ulama, Umar bin ‘Abdul ‘Aziz rahimahullah
berkata, “Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan
membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan”.
Tidak tahu
akan hukum puasa, bisa jadi puasa kita rusak. Tidak tahu apa saja hal-hal yang
disunnahkan saat puasa, kita bisa kehilangan pahala yang banyak. Tidak tahu
jika maksiat bisa mengurangi pahala puasa, bisa jadi hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja saat puasa.
Latih Kepekaan
Pancaindera
Biasakanlah
pancaindera kita dengan ketaatan. Latih mata untuk melihat mushaf, hindarkan
dari memandang yang haram. Latih telinga mendengar Al-Qur'an dan mendengarkan
ilmu. Hindarkan dari mendengar
nyanyian-nyanyian haram, perkataan dusta, keji, dan kotor. Biasakan
lidah memperbanyak dzikir, beramar ma’ruf dan nahi mungkar, berkata jujur dan
menyampaikan nasihat kepada kaum mukmin.
Manusia akan
bertanggung jawab atas anggota badan dan inderanya ini pada hari kiamat.
Allah I
berfirman (artinya) : “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu
tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan
dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (QS.
Al Isra': 36).
Hal ini
penting wahai Saudaraku. Mengapa? Karena, jika pancaindera telah terbiasa, ia
akan tunduk dan kita pun akan mudah mengendalikannya. Insya Allah.
Akhirnya, kita
berdoa, semoga kita tidak termasuk orang-orang yang diharamkan mendapatkan
berkah Ramadhan karena Ramadhan telah di depan mata, namun kita belum melakukan
persiapan. Semoga Allah I
memudahkan kita menjalankan berbagai bentuk ibadah di bulan ini. Ya Allah,
tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah.. Amin.
Maraji’ : Asraarul
Muhibbiin fii Ramadhan, Syekh Muhammad Husain Ya'qub ; Panduan
Ramadhan Mubarak, Infokom DPD WI Gowa dll.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar