Lazimnya,
perempuan biasanya ingin tampil cantik, dan senang dipuji kecantikannya. Sementara laki-laki lazimnya senang memandang kecantikan
perempuan. Keinginan naluriah itu ada
pada manusia. Rasulullah r pun memberitahukan, bahwa perempuan
dikawini karena empat hal: kecantikannya, hartanya, nasabnya, dan juga
agamanya.
Nabi r memerintahkan
untuk mengutamakan faktor agama, jika rumah tangganya mau selamat. Toh, faktor
cantik tidak dilarang untuk dijadikan sebagai pertimbangan. Sebab, itu memang
naluriah laki-laki normal. Al-Quran juga menjelaskan, salah satu syahwat dunia
adalah kecintaan kepada perempuan, anak-anak, harta perniagaan,emas dan perak,
sawah ladang, dan peternakan. (QS 3:14).
Islam bukanlah
agama yang membunuh naluri manusia, sehingga melarang pemeluknya untuk menikah
dengan alasan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah I. Tapi, Islam juga bukan agama yang
memerintahkan umatnya untuk mengumbar nafsu syahwatnya.
Islam adalah
agama yang sesuai dengan fitrah manusia.
Islam menunjung tinggi prinsip keadilan.Islam tidak membunuh hawa nafsu,
tetapi mengendalikan dan mengatur hawa nafsu, sesuai dengan konsep Sang
Pencipta, agar manusia meraih kebahagiaan (sa’adah); bukan sekedar
meraih kepuasan syahwat jasmaniah.
Peradaban
Barat yang mencengkeram pemikiran manusia modern saat ini, adalah peradaban
yang secara ekstrim memuja ‘materi’. Unsur-unsur fisik dieksploitasi untuk
kepuasan syahwat secara berlebihan.
Sementara unsur “jiwa” (nafs) diabaikan, dan diserahkan kepada kendali
syahwat.
Peradaban Barat
modern adalah peradaban yang memuja “kekuasaan, kekayaan, kecantikan, dan
kepopuleran” (power, wealth, beauty, popularity). Dalam posisi seperti inilah, aspek kecantikan
perempuan mendapatkan tempatnya.
Para desainer
dan juru gambar berusaha keras bagaimana mengeksploitasi dan mendandani tubuh
perempuan agar “memuaskan”, menarik, dan membangkitkan
syahwat laki-laki. Para manajer eksploitasi syahwat itu tahu persis,
bagian-bagian mana dati tubuh perempuan yang harus dibuka dan bagian mana yang
harus ditutup, agar – kata mereka – tampak indah, cantik, dan menarik. Wallahul Musta’an.
Dunia industri
kapitalis yang tidak peduli halal-haram
pun tak lupa memanfaatkan (mengeksploitasi) tubuh perempuan agar menjadi daya
tarik konsumen, meskipun terkadang, tak ada hubungan antara produk dan tubuh
perempuan. Misal, ditampilkannya perempuan seksi untuk mengiklankan produk ban
dan cat pengkilat mobil. Tentu,
perancang iklan itu paham betul, bahwa tampilnya perempuan cantik dengan pakaian ala kadarnya bisa
membangkitkan minat (syahwat) pembeli.
Itulah
sebenarnya tujuan utama kegiatan kontes kecantikan (yang disebut sebagai ajang Miss World itu). Yakni,
eksploitasi tubuh perempuan untuk keuntungan bisnis tertentu. Ironisnya,
kegiatan bisnis ini dikemas dengan jargon-jargon sosial bahkan pendidikan.
Seolah-olah,
kontes kecantikan perempuan adalah untuk mengangkat harkat dan martabat
perempuan. Padahal, semua itu adalah
bohong belaka. Praktik kontes perempuan lebih merupakan bentuk eksploitasi
terhadap perempuan. Pakaian yang ala kadarnya
– biasanya berupa bikini dan sejenisnya – disyaratkan untuk dikenakan pada sesi
tertentu agar tubuh kontestan dapat dilihat dan diukur dengan jelas.
Substansi dari
kontes kecantikan yang mengumbar dan mengeksploitasi keindahan tubuh perempuan
adalah pola pikir dan kegiatan yang keliru. Dalam istilah Islam, itu disebut
hal yang bathil dan mungkar. Kata Rasulullah r (artinya)
: “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran maka ubahlah dengan
tangannya, jika dia tidak mampu maka ubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu
maka ubahlah dengan hati, dan demikia itu adalah selemah-lemahnya iman. [HR. Muslim].
Tentu saja
orang bisa melihat pada sisi yang berbeda. Tergantung pada cara pandangnya
terhadap realitas (worldview). Seorang yang berpaham materialisme dan
sekulerisme tidak mempersoalkan masalah moral terhadap kontes semacam ini.
Haram-halal, berdosa atau berpahala, ibadah atau maksiat, bukanlah hal penting
bagi kaum materialis. Bagi mereka yang
terpenting adalah kelimpahan materi, ketenaran, dan puja-pujian terhadap
kecantikannya.
Hawa nafsu
telah dijadikan Tuhan. Orang seperti ini, dikhawatirkan sudah
tertutup mata, telinga, dan hatinya dari kebenaran. (QS.
45:23). Al-Quran menyebutkan, bahwa
orang yang merasa benar dan merasa telah berbuat baik, padahal amalnya sesat
dan salah, adalah manusia yang paling merugi amalnya. (QS.
18:103-104).
Kecantikan bagi
seorang perempuan adalah karunia dan sekaligus ujian Allah I bagi
si perempuan. Harusnya, kecantikannya digunakan untuk beribadah dan dakwah.
Ironisnya, biasa kita saksikan, perempuan-perempuan yang terjebak oleh bujuk
rayu setan agar mengeksploitasi kecantikan dan kemolekan tubuhnya untuk
menggoncang-goncang syahwat lawan jenisnya. Dan itu tentu ada imbalan yang
menggiurkan, berupa kemikmatan hidup duniawi.
Untuk tampil
cantik – tepatnya untuk dikatakan cantik – sebagian perempuan mau melakukan tindakan hina dengan membuka
auratnya. Padahal, jika direnungkan dengan
hati tulus ikhlas, jika jutaan orang sudah memuji-muji kecantikannya, apakah si
perempuan akan bahagia? Seorang yang
menggantungkan hidupnya pada pujian manusia, tidaklah akan pernah meraih
bahagia sejati.
Segala puji
hanya layak dipanjatkan kepada Allah I . Sebab. kecantikan, ketampanan, ketenaran, kekayaan, kekuasaan,
dapat diraih seseorang hanya karena atas ijin dan karunia Allah I .
Jika Allah I menghendaki, dalam sekejap, semua kecantikan yang
dipuja-puja itu bisa sirna.
Si empunya
kecantikan sepatutnya mau berpikir, bahwa tak lama lagi, kecantikannya akan
pudar . Kecantikan yang diumbar dan ‘dijualnya’ akan sirna. Puji-pujian itu pun
akan hilang. Bersamaan dengan itu,
muncullah perempuan-perempuan yang lebih cantik dan lebih menarik dari dia.
Sungguh kasihan, jika seorang menggantungkan kebahagiannya pada pujian orang.
Sebab, itu tak kan diraihnya. Pujian manusia bisa buat puas sementara waktu.
Bukan kebahagiaan yang hakiki yang hanya bisa diraih oleh orang – orang yang bertaqwa.
Martabat Perempuan
Suatu ketika, seorang
sahabat perempuan Nabi r bernama
Asma’ binti Yazid radhiallahu anha mengajukan
aspirasi kaumnya kepada Rasulullah r. Ketika itu, Asma’ mendatangi Rasulullah r ,
saat beliau sedang berkumpul dengan sejumlah sahabat laki-laki. Belia berkata kepada
Rasulullah r :
“Demi Allah yang menjadikan ayah dan ibuku tebusanmu wahai Rasulullah,
aku adalah perwakilan seluruh muslimah. Tiada satu pun diantara mereka saat ini
kecuali berpikiran yang sama dengan aku. Sungguh Allah telah mengutusmu kepada
kaum laki-laki dan perempuan, lalu kami beriman dan mengikutimu. Kami kaum hawa
terbatas aktivitasnya, menunggui rumah kalian para suami, dan yang mengandungi
anak-anak kalian.
Sementara
kalian kaum lelaki dilebihkan atas kami dengan shalat berjamaah, shalat jumat,
menengok orang sakit, mengantar jenazah,
bisa haji berulang-ulang, dan jihad di jalan Allah. Pada saat kalian haji,
umrah atau berjihad, maka kami yang jaga harta kalian, menjahit baju kalian dan
mendidik anak-anak kalian. Mengapa kami tidak bisa menyertai kalian dalam semua
kebaikan itu?”
Rasul r melihat-lihat
para sahabatnya dan berkata, “Tidakkah kalian dengar ucapan perempuan yang
bertanya tentang agamanya lebih baik dari Asma’?”
“Tidak wahai
Rasul,” jawab sahabat.
Beliau r lalu bersabda, “Kembalilah wahai Asma’ dan
beritahukan kaummu bahwa melayani suami kalian, meminta keridhaannya, dan
menyertainya ke mana pun ia pergi pahalanya setara dengan apa yang kalian
tuntut”. Asma’ lalu pergi keluar seraya bertahlil dan bertakbir kegirangan.
[Abu Nu’aim al-Asbahani dalam kitab
Ma’rifat al-Shahabah (Vol.22/420)].
Aspirasi Asma’
berbeda secara substansial dengan aspirasi kaum pegiat kesetaraan gender saat
ini. Asma’ tidak menuntut kesetaraan secara nominal; bahwa perempuan dan
laki-laki harus sama-sama aktif di ruang publik untuk kemajuan pembangunan.
Perempuan yang aktif mendidik anak-anaknya di rumah dengan sungguh-sungguh tidak
dianggap telah berpartisipasi dalam pembangunan. Yang dituntut oleh Asma’
adalah kesetaraan substansial, bukan kesetaraan nominal. Peran bisa berbeda.
Tapi,peluang untuk meraih pahala dari Allah I adalah sama besarnya.
Karena itulah,
setelah Rasulullah r memberitahukan
bahwa istri yang taat dan diridhai suami serta menyertai suaminya, mendapatkan
pahala yang sama dengan pahala suaminya, maka Asma’ bertakbir kegirangan. Asma’
tidak menuntut peran yang sama dengan laki-laki. Yang dituntut adalah pahala
dari Allah I.
Sungguh berbeda
tuntutan Asma’ dengan aktivis gender yang tidak menggunakan logika pahala dan
ibadah saat merumuskan paham “kesetaraan gender” sekuler.
Seorang muslim
pasti memiliki cara pandang yang khas terhadap “martabat perempuan”. Cara
pandang muslim berlandaskan pada prinsip keadilan dalam Islam. Islam mengajarkan pemeluknya agar berperilaku adil
kepada seluruh umat manusia tanpa
memandang harta, kedudukan atau jenis kelamin.
Allah I telah
menegaskan, bahwa (artinya) : ”Sesungguhnya orang yang
paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di
antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” [QS. 49 : 13].
Dengan ayat ini,
ajaran Islam secara tegas menetapkan bahwa
nilai kemuliaan seorang manusia diukur dari iman, ketinggian akhlak dan perbuatan-perbuatan
baiknya.
Menyimak
kekeliruan dan ketidakberadaban kontes-kontes kecantikan, kita berharap tidak
ada orang muslim yang ikut-ikutan mendukung berbagai jenis kontes kecantikan,
semisal kontes Miss World.
Jadi, kontes Miss
World bukanlah hanya soal baju, tapi soal penetapan dan pemberian
penghargaan martabat perempuan yang keliru. Tidaklah tepat jika ada pemimpin
daerah yang menyetujui acara semacam itu, hanya karena pada kontes kali ini
tidak lagi diperagakan parade
bikini. Andaikan kontes Miss
World menggunakan mukena sekali pun,
kontes semacam itu tetap keliru, sebab martabat utama perempuan tidak dinilai
berdasarkan unsur utama kecantikan fisiknya.
Tulisan ini
hanyalah sekedar bentuk taushiyah atau nasehat kepada
sesama muslim yang masih terlibat dalam acara Miss
World dan sejenisnya.
Cobalah
bayangkan, andaikan di hari akhir nanti, penyelenggara acara kontes atau
pemimpin daerah yang menyetujui acara itu, ditanya oleh Allah I! Apa jawab mereka? Apakah mereka merasa
telah beramal shalih, karena berhasil mendatangkan devisa?
Rasulullah r bersabda (artinya) :
“Dua golongan ahli neraka yang belum pernah saya lihat sebelumnya: para
lelaki yang membawa cambuk di tangannya seperti ekor sapi yang digunakan untuk
mencambuk manusia, dan perempuan-perempuan yang berpakaian tetapi telanjang,
sesat dan menyesatkan. Kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka
tidak akan masuk surga, bahkan tidak mencium baunya” [HR Muslim].
Semoga
bermanfaat bagi yang mau mengikuti petunjuk-Nya.
Maraji’ :
· Sepatutnya Kontes Miss World Dibatalkan? : Penistaan
Martabat Perempuan, Oleh : Dr. Adian
Husaini.
· Jurnal Islamia-Republika edisi 18 April 2013.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar