April 06, 2012

Canda di Panggung Hiburan

Jenuhnya suasana dan penatnya pikiran akibat dari kesibukan harian, telah memunculkan banyak gagasan untuk menghilangkannya, misalnya dengan menghadirkan hiburan. Tidak bisa ditampik, saat - saat tertentu, hidup memang membutuhkan suasana rileks dan santai untuk mengendurkan urat saraf, memulihkan gairah dan semangat baru. Untuk itu semua, maka didesainlah berbagai hiburan, mulai dari kelas bergengsi hingga tingkat remeh-temeh.

Dunia kesenian dan panggung hiburan saat ini sangat bervariasi. Mulai dari tayangan sinetron religi, pentas dangdut, konser nasyid, film komedi, festival gambus hingga manggungnya para pelawak. Semuanya bertujuan untuk menghibur para penontonnya. Bahkan akhirnya para ustadz setengah artis dengan tampilan nyentrik, juga ikut ambil bagian.

Ironisnya, muatan hiburan jarang ditakar dengan norma Islam, hingga hiburan yang disebut islamipun banyak yang melenceng dari aturan agama, bahkan lebih cenderung bebas dan bias, jauh dari kendali syariat.

Canda Tidak Dilarang

Selingan hidup untuk mengusir bosan dan capek dengan canda dan tawa merupakan sifat bawaan manusia, sebagai bumbu pergaulan dan garam kehidupan. Bercanda dan tertawa boleh - boleh saja, asal masih dalam bingkai syariat, tidak mengandung muatan dusta, memuat pelecehan dan penghinaan. Karena Nabipun r kadang bercanda dengan sebagian sahabatnya.

Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Nabi r pernah bercanda ketika memanggil shahabatnya : “Hai yang mempunyai dua telinga “ [HR. At-Tirmidzi dalam Asy-Syamail no. 235. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani].

Nabi r juga pernah berkata kepada seorang perempuan tua : “Tidak ada perempuan tua yang masuk surga”. Kemudian beliau r membaca ayat, artinya : “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari itu) dengan langsung. Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan “ [QS. Al-Waaqi’ah : 35-36] [HR. Tirmidzi ; Dihasankan oleh Syaikh al-Albani].
Dari Anas t diriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki menemui Nabi r  dan berkata : “Wahai Rasulullah, bawalah aku jalan-jalan”. Beliau r berkata : “Kami akan membawamu berjalan-jalan menaiki anak unta”. Laki-laki itu pun menukas : “Apa yang bisa kuperbuat dengan anak unta?”. Beliau r  berkata : ”Bukankah setiap unta adalah anak ibunya?” [HR. Abu Dawud no. 4998. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani].

Dari Abu Hurairah t diriwayatkan bahwa ia berkata : “Orang-orang bertanya : ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau juga mengajak kami bercanda?’. Beliau menjawab : (Ya, tapi) tidaklah aku hanya mengatakan sesuatu kecuali kebenaran (tanpa berdusta)[HR. At-Tirmidzi no. 1990; Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani].

Demikianlah gaya canda beliau, berkelakar tapi serius, bercanda bersih dari kedustaan, tertawa tetapi jauh dari kehinaan, berhumor ria namun tidak sampai menghilangkan muru’ah dan wibawa. Bahkan canda dan humor beliau r berbalas surga dan menebar keutamaan.

Bilamana Bercanda

Dari beberapa riwayat tentang canda Rasulullah r maka terkumpul padanya tiga perkara :
·     Tidak berdusta / tidak mengada-ada.
·     Dilakukan terhadap wanita, anak-anak, dan kalangan pria yang lemah yang butuh bimbingan.
·     Jarang dilakukan (kadang-kadang).
Tiga perkara di atas hendaknya diperhatikan oleh kaum muslimin - baik bagi orang awam, para da’i, dan para pemimpin dalam bermuamalah terhadap sesama.

Jangan Sampai Terjadi

Hendaknya mereka yang bercanda tanpa norma, segera bertaubat kepada Allah ta’ala. Rasulullah r mengancam mereka dengan sabdanya :
وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ، لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ، وَيْلٌ لَهُ، وَيْلٌ لَهُ
Neraka Wail bagi orang yang berbicara lalu berdusta untuk melucu (membuat orang tertawa); neraka Wail baginya, neraka Wail baginya [HR. Abu Dawud dalam no. 4990 dan dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani].

Dari Abu Hurairah t, ia berkata bahwa Rasulullah r bersabda, artinya : Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu kalimat; tidak diucapkan kecuali untuk membuat orang lain tertawa, maka ia terhempas ke dalam jurang jahannam sedalam antara langit dan bumi. Dan sungguh terpelesetnya lisan, lebih berat daripada seseorang terpeleset kakinya” [Shahih, diriwayatkan Imam Muhammad at-Tibrizi dalam Miskatul- Mashabih, Bab : Mizah (4835), (3/1360)].

Menimbang Dampak Dunia Lawak

Kebanyakan tema yang diangkat para pelawak ialah kosong dari kenyataan, cenderung bombastis dan tidak mendidik.
Yang penting, target opini dari para pemirsa tercapai, rating acara menanjak dan dukungan dari kalangan umum melonjak.

Kadang antara pelawak saling melempar hinaan, ledekan dan ejekan untuk menciptakan suasana segar.

Padahal setiap kalimat dari lisan kita pasti akan dihisab Allah I  dengan mudah, dan tercatat secara akurat dalam catatan malaikat, sebagaimana Allah I  telah berfirman, artinya : “Ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” [QS. Qaaf :17-18].

Dari Sahl bin Sa’ad t, ia berkata bahwa Rasulullah r bersabda:
مَنْ يَضْمَنْ لِيْ مَا بَيْنَ لِحْبَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ
Barang siapa yang menjaminku mampu menjaga apa yang ada diantara dua bibirnya dan di antara kakinya, maka aku akan jamin surga” [HR. Bukhari].

Dari Abu Hurairah t, dari Nabi r bersabda, artinya :”Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat tentang sesuatu yang diridhai Allah, yang tidak ia sadari, maka Allah mengangkat dengannya beberapa derajat. Dan sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat tentang sesuatu yang dimurkai Allah, yang tidak ia sadari, ternyata menghempaskan dirinya dengannya ke dalam jahannam[HR. Bukhari].

Melawak, Jangan Hina Simbol Islam

Tema obrolan para pelawak pada umumnya kurang berfaidah dan sia-sia belaka. Padahal, termasuk tanda kebaikan Islam seseorang, yaitu meninggalkan sesuatu yang kurang berguna dan tidak bermanfaat, sebagaimana sabda Nabi r  menyebutkan, artinya : Di antara pertanda kebaikan Islam seseorang, ialah meninggalkan apa yang tidak penting baginya”  [HR. Tirmidzi].

Dari Abu Hurairah t, ia berkata bahwa Rasulullah r  bersabda :
لَوْ تَغْلَمُوْنَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيْلاً وَلَبَكَيْتُمْ كَشِيْرًا
Jika kalian mengetahui apa yang aku ketahui, maka kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis” [HR. Tirmidzi ; Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani].

Adakalanya seorang pelawak dengan seenaknya membuat guyonan yang melecehkan simbol dan syiar Islam.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah berkata :
Perbuatan mengolok-ngolok Allah, Rasul-Nya dan agama Islam untuk membuat orang lain tertawa, walaupun hanya sekedar bercanda, merupakan kekufuran dan kemunafikan. Perbuatan ini seperti pernah terjadi pada jaman Rasulullah r , mereka yang mengatakan,”Kami belum penah melihat seperti para pembaca (al-Qur‘an) di antara kami, yang lebih buncit perutnya, lebih berdusta lisannya, dan pengecut saat berhadapan dengan musuh”. Maksudnya, ialah Rasulullah dan para sahabatnya. Lalu turunlah ayat tentang mereka, yang artinya: “Jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. [QS. at-Taubah : 65].

Namun Rasulullah r berkata kepada mereka sebagaimana yang diperintahkan Allah I : Katakanlah : “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman” [QS. at-Taubah : 65-66].

Jadi, bahasan materi rububiyah, kerasulan, wahyu dan agama merupakan materi agama yang terhormat. Seorang pun tidak boleh bermain-main dengan itu. Perbuatan tersebut adalah penghinaan terhadap Allah, para rasul-Nya, kitab-kitab-Nya dan syariat-syariat-Nya. Maka barangsiapa melakukan perbuatan tersebut, hendaknya bertaubat kepada Allah. [Majmu’ Fatawa wa Rasail Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin (2/ 156-157)].

Termasuk pula dalam hal ini, melawak dengan mengolok – olok gaya atau ciri dari seorang yang shalih, ustadz atau kyai.

Dalam hal ini, Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah berkata :
Mengolok-olok orang-orang yang konsisten dan istiqamah dalam menjalankan perintah Allah I dan Rasul-Nya, dikarenakan konsistensi mereka merupakan perbuatan haram dan sangat membahayakan pelakunya. Karena dikhawatirkan, ejekan tersebut berangkat dari sikap ketidaksukaannya terhadap keistiqamahan mereka dalam menjalankan agama Allah I , maka ia serupa dengan yang disebutkan Allah I dalam firman-Nya [dalam QS. at-Taubah : 65-66].

Oleh karena itu, orang yang suka mengolok - olok komunitas atau kelompok yang menebarkan kebenaran hendaklah berhati-hati, karena mereka yang diejek dan diolok-olok adalah termasuk para ahli agama yang dimaksudkan dalam firman Allah I , artinya :  “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat”, padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orangorang mukmin. Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan [QS. al-Muthaffifin : 29-36].

Wallahul-Muwaffiq

[ Maraji’ : Majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XI/1428H/2007M dan artikel “Adab Dalam Bercanda dan Berkelakar”, Oleh : Ust. Abul –Juzaa’].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...