Jenuhnya suasana dan
penatnya pikiran akibat dari kesibukan harian, telah memunculkan banyak gagasan
untuk menghilangkannya, misalnya dengan menghadirkan hiburan. Tidak bisa
ditampik, saat - saat tertentu, hidup
memang membutuhkan suasana rileks dan
santai untuk mengendurkan urat saraf, memulihkan gairah dan semangat baru.
Untuk itu semua, maka didesainlah berbagai hiburan, mulai dari kelas bergengsi
hingga tingkat remeh-temeh.
Dunia kesenian dan
panggung hiburan saat ini sangat bervariasi. Mulai dari tayangan
sinetron religi, pentas dangdut, konser nasyid, film komedi, festival gambus
hingga manggungnya para pelawak. Semuanya bertujuan untuk menghibur para penontonnya.
Bahkan akhirnya para ustadz setengah artis dengan tampilan nyentrik, juga ikut ambil bagian.
Ironisnya, muatan
hiburan jarang ditakar dengan norma Islam, hingga hiburan yang disebut
islamipun banyak yang melenceng dari aturan agama, bahkan lebih cenderung bebas
dan bias, jauh dari kendali syariat.
Selingan hidup untuk
mengusir bosan dan capek dengan canda dan tawa merupakan sifat bawaan manusia,
sebagai bumbu pergaulan dan garam kehidupan. Bercanda
dan tertawa boleh - boleh saja, asal masih dalam bingkai syariat, tidak
mengandung muatan dusta, memuat pelecehan dan penghinaan. Karena Nabipun r kadang
bercanda dengan sebagian sahabatnya.
Dalam beberapa
riwayat disebutkan bahwa Nabi r pernah bercanda
ketika memanggil shahabatnya : “Hai yang
mempunyai dua telinga “ [HR.
At-Tirmidzi dalam Asy-Syamail no. 235. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani].
Nabi r juga
pernah berkata kepada seorang perempuan tua : “Tidak ada perempuan tua yang masuk surga”. Kemudian beliau r membaca
ayat, artinya : “Sesungguhnya Kami menciptakan
mereka (bidadari-bidadari itu) dengan langsung. Dan Kami jadikan mereka
gadis-gadis perawan “ [QS. Al-Waaqi’ah : 35-36] [HR. Tirmidzi ; Dihasankan
oleh Syaikh al-Albani].
Dari Anas t
diriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki menemui Nabi r dan berkata :
“Wahai Rasulullah, bawalah aku jalan-jalan”. Beliau r berkata
: “Kami akan membawamu berjalan-jalan menaiki anak
unta”.
Laki-laki itu pun menukas : “Apa yang bisa kuperbuat dengan anak unta?”. Beliau r berkata :
”Bukankah setiap unta adalah anak ibunya?”
[HR.
Abu Dawud no. 4998. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani].
Dari Abu Hurairah t diriwayatkan
bahwa ia berkata : “Orang-orang bertanya : ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau
juga mengajak kami bercanda?’. Beliau menjawab : ”(Ya, tapi) tidaklah aku hanya mengatakan sesuatu kecuali kebenaran
(tanpa berdusta)“ [HR. At-Tirmidzi no.
1990; Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani].
Demikianlah gaya
canda beliau, berkelakar tapi serius, bercanda bersih dari kedustaan, tertawa
tetapi jauh dari kehinaan, berhumor ria namun tidak sampai menghilangkan
muru’ah dan wibawa. Bahkan canda dan humor beliau r berbalas
surga dan menebar keutamaan.
Bilamana Bercanda
Dari beberapa
riwayat tentang canda Rasulullah r maka terkumpul
padanya tiga perkara :
· Tidak
berdusta / tidak mengada-ada.
· Dilakukan
terhadap wanita, anak-anak, dan kalangan pria yang lemah yang butuh bimbingan.
· Jarang
dilakukan (kadang-kadang).
Tiga perkara di atas
hendaknya diperhatikan oleh kaum muslimin - baik bagi orang awam, para da’i,
dan para pemimpin dalam bermuamalah terhadap sesama.
Jangan Sampai
Terjadi
Hendaknya mereka yang
bercanda tanpa norma, segera bertaubat kepada Allah ta’ala. Rasulullah r mengancam
mereka dengan sabdanya :
وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ، لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ،
وَيْلٌ لَهُ، وَيْلٌ لَهُ
“Neraka Wail bagi orang yang berbicara lalu berdusta untuk melucu
(membuat orang tertawa); neraka Wail baginya, neraka Wail baginya“
[HR. Abu Dawud dalam no. 4990 dan dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani].
Dari Abu Hurairah t, ia
berkata bahwa Rasulullah r bersabda, artinya :
“Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan
suatu kalimat; tidak diucapkan kecuali untuk membuat orang lain tertawa, maka
ia terhempas ke dalam jurang jahannam sedalam antara langit dan bumi. Dan
sungguh terpelesetnya lisan, lebih berat daripada seseorang terpeleset kakinya” [Shahih,
diriwayatkan Imam Muhammad at-Tibrizi dalam Miskatul- Mashabih, Bab : Mizah (4835), (3/1360)].
Menimbang Dampak
Dunia Lawak
Kebanyakan tema yang
diangkat para pelawak ialah kosong dari kenyataan, cenderung bombastis dan
tidak mendidik.
Yang penting, target
opini dari para pemirsa tercapai, rating acara menanjak dan dukungan dari
kalangan umum melonjak.
Kadang antara
pelawak saling melempar hinaan, ledekan dan ejekan untuk menciptakan suasana
segar.
Padahal setiap
kalimat dari lisan kita pasti akan dihisab Allah I dengan mudah, dan tercatat secara akurat dalam
catatan malaikat, sebagaimana Allah I telah berfirman, artinya : “Ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di
sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang
diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.”
[QS. Qaaf :17-18].
Dari Sahl bin Sa’ad t, ia
berkata bahwa Rasulullah r bersabda:
مَنْ يَضْمَنْ لِيْ مَا بَيْنَ لِحْبَيْهِ وَمَا بَيْنَ
رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ
“Barang siapa yang menjaminku mampu menjaga apa yang ada diantara dua
bibirnya dan di antara kakinya, maka aku akan jamin surga” [HR.
Bukhari].
Dari Abu Hurairah t, dari
Nabi r bersabda,
artinya :”Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu
kalimat tentang sesuatu yang diridhai Allah, yang tidak ia sadari, maka Allah
mengangkat dengannya beberapa derajat. Dan sesungguhnya seorang hamba berbicara
dengan satu kalimat tentang sesuatu yang dimurkai Allah, yang tidak ia sadari, ternyata menghempaskan dirinya dengannya ke dalam jahannam “ [HR.
Bukhari].
Melawak, Jangan Hina
Simbol Islam
Tema obrolan para
pelawak pada umumnya kurang berfaidah dan sia-sia belaka. Padahal, termasuk
tanda kebaikan Islam seseorang, yaitu meninggalkan sesuatu yang kurang berguna
dan tidak bermanfaat, sebagaimana sabda Nabi r menyebutkan, artinya
: “Di antara pertanda kebaikan Islam seseorang,
ialah meninggalkan apa yang tidak penting baginya” [HR. Tirmidzi].
Dari Abu Hurairah t, ia
berkata bahwa Rasulullah r bersabda :
لَوْ تَغْلَمُوْنَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيْلاً
وَلَبَكَيْتُمْ كَشِيْرًا
“Jika kalian mengetahui apa yang aku ketahui, maka kalian akan sedikit
tertawa dan banyak menangis” [HR. Tirmidzi ; Dishahihkan oleh Syaikh
al-Albani].
Adakalanya seorang
pelawak dengan seenaknya membuat guyonan yang melecehkan simbol dan syiar
Islam.
Syaikh Muhammad bin
Shalih al-’Utsaimin rahimahullah berkata :
Perbuatan
mengolok-ngolok Allah, Rasul-Nya dan agama Islam untuk membuat orang lain
tertawa, walaupun hanya sekedar bercanda, merupakan kekufuran dan kemunafikan.
Perbuatan ini seperti pernah terjadi pada jaman Rasulullah r , mereka
yang mengatakan,”Kami belum penah melihat seperti para pembaca (al-Qur‘an) di
antara kami, yang lebih buncit perutnya, lebih berdusta lisannya, dan pengecut
saat berhadapan dengan musuh”. Maksudnya, ialah Rasulullah dan para sahabatnya.
Lalu turunlah ayat tentang mereka, yang artinya: “Jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu),
tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan
bermain-main saja”. [QS. at-Taubah : 65].
Namun
Rasulullah r berkata
kepada mereka sebagaimana yang diperintahkan Allah I : “ Katakanlah : “Apakah dengan
Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu
minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman” [QS. at-Taubah : 65-66].
Jadi, bahasan materi
rububiyah, kerasulan, wahyu dan agama merupakan materi agama yang terhormat.
Seorang pun tidak boleh bermain-main dengan itu. Perbuatan tersebut adalah penghinaan
terhadap Allah, para rasul-Nya, kitab-kitab-Nya dan syariat-syariat-Nya. Maka
barangsiapa melakukan perbuatan tersebut, hendaknya bertaubat kepada Allah. [Majmu’
Fatawa wa
Rasail Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin (2/
156-157)].
Termasuk pula dalam
hal ini, melawak dengan mengolok – olok gaya atau ciri dari seorang yang
shalih, ustadz atau kyai.
Dalam hal ini, Syaikh
Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah berkata :
Mengolok-olok
orang-orang yang konsisten dan istiqamah dalam menjalankan perintah Allah I dan Rasul-Nya, dikarenakan konsistensi
mereka merupakan perbuatan haram dan sangat membahayakan pelakunya. Karena
dikhawatirkan, ejekan tersebut berangkat dari sikap ketidaksukaannya terhadap
keistiqamahan mereka dalam menjalankan agama Allah I , maka ia serupa dengan yang disebutkan
Allah I dalam
firman-Nya [dalam QS. at-Taubah : 65-66].
Oleh karena itu,
orang yang suka mengolok - olok komunitas atau kelompok yang menebarkan
kebenaran hendaklah berhati-hati, karena mereka yang diejek dan diolok-olok
adalah termasuk para ahli agama yang dimaksudkan dalam firman Allah I , artinya : “Sesungguhnya
orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan
orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang beriman lalu di hadapan
mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang
berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila
mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu
benar-benar orang-orang yang sesat”, padahal orang-orang yang berdosa itu tidak
dikirim untuk penjaga bagi orangorang mukmin. Maka pada hari ini, orang-orang
yang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan
sambil memandang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang
dahulu mereka kerjakan” [QS. al-Muthaffifin : 29-36].
Wallahul-Muwaffiq
[ Maraji’ : Majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XI/1428H/2007M dan artikel “Adab Dalam Bercanda dan
Berkelakar”, Oleh : Ust. Abul –Juzaa’].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar